biasanya hanya dihadiri oleh kalangan terbatas keluarga dekat, tidak dimeriahkan dalam bentuk resepsi walimatul ursy secara terbuka untuk umum.
Sementara Pernikahan siri sering diartikan oleh masyarakat umum dengan berbagai pengertian. Sehingga definisi dari Nikah Siri bermacam-macam yaitu:
1. Pernikahan tanpa wali. Pernikahan semacam ini dilakukan secara rahasia (siri) dikarenakan pihak wali perempuan tidak setuju atau karena menganggap absah pernikahan tanpa wali atau hanya karena ingin memuaskan nafsu syahwat belaka tanpa mengindahkan lagi ketentuan-ketentuan syariat.
2. Pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan negara. banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak mencatatkan pernikahannya di lembaga pencatatan sipil negara. Ada yang karena faktor biaya, alias tidak mampu membayar administrasi pencatatan, ada pula yang disebabkan karena takut ketahuan melanggar aturan yang melarang pegawai negeri nikah lebih dari satu dan lain sebagainya.
3. Pernikahan yang dirahasiakan karena pertimbangan-pertimbangan tertentu. misalnya karena takut mendapatkan stigma negatif dari masyarakat yang terlanjur menganggap tabu pernikahan siri atau karena pertimbangan-pertimbangan rumit yang memaksa seseorang untukmerahasiakan pernikahannya.
Pernikahan di bawah tangan biasa disebut dengan Nikah Siri (Rahasia) atau nikah urfi berdasarkan adat.54 Nikah siri atau nikah di bawah tangan pada sebagian masyarakat, terutama sebagian umat Islam Indonesia Nikah siri atau nikah di bawah tangan pada sebagian masyarakat, terutama sebagian umat Islam Indonesia sudah cukup banyak dikenal. Nikah sirri merupakan jenis pernikahan dimana akad atau transaksinya (antara laki-laki dan perempuan) tidak dihadiri oleh para saksi, tidak dipublikasikan (i’lan), tidak tercatat secara resmi, oleh petugas pemerintah, baik oleh Petugas Pencacat Nikah (PPN), atau di Kantor Urusan Agama (KUA).
Masyarakat Indonesia umumnya masih mengikuti adat kebiasaan yang berlaku dahulu, yaitu dengan menganggap bahwa pernikahan itu sudah cukup dilakukan hanya melalui para pemuka agama.Dari sudut pandang fiqih, pernikahan tersebut dipandang sah, tetapi apabila terjadi perselisihan maka tidak dapat diselesaikan melalui Pengadilan Agama.Dengan demikian, madharatnya lebih banyak dari pada manfaatnya.55
Pernikahan yang tidak tercacat, akan menimbulkan dampak bagi istri dan anaknya. Posisi mereka sangat lemah didepan hukum. Bagi istri, tidak dianggap sebagai istri, karena tidak memiliki akta nikah, ia juga tidak
54 Muhammad Mutawwali Sya’rawi, Fikih Wanita, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), hal. 54
55 Ali Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga Dalam Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2003), hal. 39
berhak atas nafkah dan waris jika terjadi perceraian atau suaminya meninggal. Tragisnya anak yang dilahirkan juga tidak dianggap sah.
Jadi yang dimaksud dengan perkawinan siri di sini adalah pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan negara.
2. Hukum Nikah Siri
Dalam hukum perkawinan tidak disebutkan secara khusus tentang pernikahan siri. Namun sebagai kenyataan, pernikahan siri dapat dikaitkan dengan pelanggaran seseorang terhadap kewajiban untuk mencatatkan pernikahannya secara resmi di lembaga pencatat nikah.
Abdul Gani didalam bukunya Irfan islami, menjelaskan bahwa perkawinan sirri sebenarnya tidak sesuai dengan "maqashid syariah”, karena ada beberapa tujuan syari'ah yang dihilangkan, diantaranya Perkawinan itu harus diumumkan (diketahui khalayak ramai), adanya perIindungan hak untuk wanita, untuk kemaslahatan manusia, Adanya persyaratan dalam pernikahan poligami harus mendapat izin dari isteri pertama.56
Nikah siri yang dikenal oleh masyarakat Indonesia sekarang ini ialah pernikahan yang dilakukan dengan memenuhi rukun dan syarat yang ditetapkan agama, tetapi tidak dilakukan dihadapan pegawai pencatat nikah sebagai aparat resmi pemerintah atau perkawinan yang tidak dicatatkan oleh Kantor Urusan Agama bagi yang beragama Islam atau di kantor catatan sipil bagi yang tidak beragama Islam, sehingga tidak mempunyai akta nikah yang dikeluarkan oleh pemerintah. Perkawinan yang demikian di kalangan masyarakat selain dikenal dengan istilah nikah siri ataudikenal juga dengan sebutan nikah di bawah tangan.
Firman Allah dalam Surat Ar-Rum Ayat 21:
56 Irfan Islami, “Perkawinan Di Bawah Tangan (Nikah Sirri) dan Akibat Hukumnya”.
Adil, Vol. 8 No. 1 2017, hal. 77-78
ۡن ِ م ۡمُكَل َقَلَخ ۡنَا ٖۤ هِتٰيٰا ۡنِم َو اَهۡيَلِا ا ٖۤۡوُنُك ۡسَتِ ل اًجا َو ۡزَا ۡمُكِسُفۡنَا
ًةَم ۡح َر َّو ًةَّد َوَّم ۡمُكَنۡيَب َلَعَج َو ٍم ۡوَقِ ل ٍتٰيٰ َلَ َكِل ٰذ ۡىِف َّنِا ؕ َن ۡو ُرَّكَفَتَّي
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Surat Ar-Rum Ayat 21)
Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia pertama kali di bumi ialah nenek moyang manusia yang bernama Adam, tatkala NabiAdam sedang tidur nyenyak seorang diri di dalam janatum na’im dicabut tuhan satu diantara tulang rusuknya sebelah kiri, lalu dijelmakan menjadi seorang yang akan menjadi temannya,terutama pada hal kelamin yaitu pada adam diberi kelaki- lakian dan pada istri yang diambil pada bagiah adam itu diciptakan perempuan lalu keduanya dikawinkan, teranglah bahwa yang diambil dari badannya untuk jadi istrinya itu hanya nabi adam saja.
Dari ayat dan hadist di atas menjelaskan bahwa manusiadiperintahkan oleh Allah untuk menikah karena perkawinan itu adalah dapat menghalangi mata dari kepada hal-hal yang tidak diizinkan syara’ dan menjaga kehormatan diri dari terjatuh dari kerusakan seksual.
Jika dilihat dari keterangan diatas, maka secara hukum Islam, nikah sirri tidak ada persoalannya yang terpenting rukn dan syarat-syaratnya secara menurut aturan agama Islam. Sementara secara hukum positif, nikah sirri tidak diperbolehkan bahkan pernikahan sirri atau pernikahan tanpa melibatkan pencatatan hukum dinyatakan sebagai pelanggar hukum, sebab hal itu dapat melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946, yang menyatakan bahwa setiap pernikahan harus diawasi oleh pegawai
pencatat pernikahan, dan itu disertai sanksi berupa denda dan kurungan badan.57
B. Kasus Nikah Siri Di Desa Golo Sepang Pada Masa Pandemi 1. Praktik Nikah Siri di Desa Golo Sepang
Nikah siri merupakan peristiwa nikah yang yang tidak diakui oleh lembaga pencatat nikah, seperti Kantor Urusan Agama (KUA) yang bertugas sebagai lembaga utama yang memiliki wewenang mengurusi masalah agama selain mengurusi masalah perkawinan, Kantor Urusan Agama (KUA) juga mengurusi masalah keagamaan lainnya diantaranya tentang mengurus dan membina masjid, zakat, wakaf, baitul mal, ibadah sosial, kependudukan dan pengembangan keluarga sakinah. Jika dilihat dari keterangan di Bab sebelumnya terkait temuan peneliti dilsaat wawancara, maka nikah siri dimasa pandemi ini mutlak berdampak dari pandemi itu sendiri.
Keterangan yang termuat pada hasil wawancara pertama peneliti menganalisis bahwa jumlah yang melakukan nikah siri di masa Pendemi terdata sebanyak 12 orang dengan keterangan dampak dari pandemi, sementara sebelum masa penduduk di dihitung dari tahun 2017 sampai dengan 2018 sebanyak 5 orang. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang memuat aturan disaat pandemi, seperti yang dirasakan oleh Ibu Erna selaku pelaku nikah siri, keteranganya saat mereka ingin melakukan pendaftaran, saat itu ada terkena positif Corona, maka tim gugus tugas
57Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 pasal 1
percepatan penanganan Covid-19 melakukan batasan kegiatan warga Desa Golo Sepang, dan melakukan kerjasama dengan pemerintah kecamatan.
Upaya yang dilakukan oleh gugus tugas percepatan penanganan covid 19 yang diketuai oleh badan Nasional penanggulangan bencana (BNPB) merupakan upaya yang tepat agar virus Corona tidak menyebar ke mana-mana.
Pada hari Jumat 13 Maret 2020 diteken oleh presiden Joko Widodo Keppres nomor 7 tahun 2020 tentang gugus tugas percepatan penanganan covid 19.
Dalam rangka penerapan protokol kesehatan dan sebagai pencegahan penyebaran virus Corona di modal laut dan ASDP, tarif penumpang semakin besar karena biaya repites yang cukup mahal dan diwajibkan oleh dinas perhubungan setempat. Harga awal revitize ialah hal itu membuat masyarakat merasa kesulitan biaya ketika hendak melakukan penyerangan.
Inilah salah satu alasan terjadinya nikah siri proses pemenuhan persyaratan yang sangat sulit dijangkau seperti yang dirasakan oleh Ibu Yanti dan dengan pasangannya bapak Sadam, yang di mana salah satu dari mereka berdomisili di luar daripada Desa Golo Sepang untuk itu harus melakukan penyerangan nya di desa sementara belum belum mencukupi. Maka salah satu solusi bagi mereka adalah melakukan nikah siri.
Jika dilihat dari kenyataan dan pengalaman yang sudah pernah terjadi, nikah siri walaupun tanpa adanya pandemi tetap terjadi.Akan tetapi yang perlu diteliti, mengapa lonjakan angka nikah siri pada masa pandemi di
Desa Golo Sepang meningkat dan berbeda dengan sebelum masa pandemi.
Selain dilihat dari angka lonjakan nikah siri yang berbeda itu, alasan dari pelaku nikah siri di masa pandemi pun berbeda-beda yang dipengaruhi oleh dampak pandemi covid 19 itu sendiri, diantaranya tidak ingin dipersulit oleh ketentuan dan aturan yang berlaku di masa pandemi. Mulai dari tukang ojek, nelayan, petani, pedagang, dan lainnya, semua pendapatan mereka menurun drastis bahkan tidak mendapatkan hasil dari apa yang mereka kerjakan berupa apa penghasilan.
Nikah siri yang terjadi di Desa Golo Sepang alasannya dipengaruhi oleh pandemi, hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara yang sudah dilakukan oleh peneliti.
Untuk itu dari hasil analisis peneliti melalui wawancara dan observasi yang sudah dilakukan antara ketentuan dan aturan yang berlaku dimasa pandemi dan menurunnya pendapatan masyarakat dimasa pandemi merupakan alasan yang paling mendasar mengapa terjadinya nikah siri.
Dalam hukum di Indonesia semua pernikahan harus didaftarkan di Kantor Urusan Agama(KUA). Sehingga apabila di kemudian hari terdapat hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan keluarga maka dapat dengan mudah mendapat pelayanan karena memang sudah terdaftar. Pernikahan yang sah apabila memenuhi rukun dan syarat nikah terkait dengan hukum agama maupun menurut hukum yang berlaku di negara Indonesia.
Di kalangan masyarakat Desa Golo Sepang, terjadinya nikah siri yang sering dianggap sama dengan nikah dibawah tangan. Sementara
mennurut Bapak Muhammad Hasan selaku Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Boleng mengatakan bahwa nikah siri yang disembunyikan nikahnya seorang laki-laki dan seorang perempuan yaitu dengan sengaja melarang wali maupun saksi untuk diceritakan kepada orang lain, biasanya digunakan untuk menutupi aib atau masalah.
Sementara itu nikah dibawah tangan adalah nikahnya seorang laki-laki dan perempuan yang memenuhi hukum agama tetapi tidak ada pencatatan baroqah dan luput dari perlindungan hukum yang berwenang serta perkawinan siri tidak mempunyai kekuatan hukum tetap.
Berdasarkan hasil wawancara terkait jumlah nikah siri sebelum dan saat masa pandemi berlangsung, wawancara dilakukan bersama Kepala KUA Kecamatan Boleng dan dibuktikan dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat melalui wawancara dengan tokoh agama (orang yang dipercayakan dimasyarakat dalam menangani persoalan keagamaan).
Jumlah nikah siri sebelum masa Pandemi tidak sama dengan dimasa pandemi, jumlah nikah siri dimasa pandemi lebih banyak yang melakukan nikah siri, sedangkan sebelum masa pandemi sangat minim.
Hal ini dibuktikan melalui hasil wawancara bersama Bapak Hassanudin, selalu kepala KUA Kecamatan Boleng, berikut penuturannya:
"Semenjak saya menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Boleng, saya tau betul bagaimana Masyarakat Desa Golo Sepang, apalagi yang menjadi fokusnya adalah yang masyarakat muslimnya, dari tahun 2017 sampai dengan sekarang bahwa nikah siri
dimasa pandemi ada peningkatan yang terhitung dari awal tahun 2020 sampai dengan 2021. Dari data yang saya dapatkan bersama teman-teman penghulu, bahwa jumlah yang nikah siri dari tahun 2017 sampai dengan awal tahun 2019, terhitung tahun 2017 ada dua orang, tahun 2018 ada dua orang dan tahun 2019 sebelum memasuki pandemi terdapat 1 orang. Sedangkan masa di masa pandemi, terhitung ada 12 kasus nikah siri.58
Wawancara kedua bersama tokoh agama yaitu Bapak, Musleh.
Berikut penuturannya:
Sejujurnya jika ditanya peristiwa nikah siri dari sebelum pandemi saya ada sedikit lupa-lupa nak, hanya jarang saya temukan tapi kalau untuk dimasa pamdemi, saya selaku tokoh agama yang sering menghadiri kegiatan saat nikahana, baik nikah siri maupun tidak, saya hitung-hitung ada 10 lebih orang, ya kurang lebih 11 atau 12 orang yang melakukan nikah siri di masa Pandemi.59
Pada kenyataan yang ada di lingkungan KUA Kecamatan Boleng, nikah siri pada masa Pendemi Covid-19 memang banyak terjadi di masyarakat dengan berbagai alasan dan faktor yang menyebabkan nikah siri itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara secara langsung di lapangan, terdapat berbagai macam alasan atau yang melatarbelakangi seseorang
58Wawancara dengan Bapak Hasanudin, selaku kepala KUA di Kecamatan Boleng, wawancara pada 8 November 2021 pada pukul 08.20 WITA
59Wawancara dengan Bapak Musleh, selaku Tokoh Agama di Kecamatan Boleng, wawancara pada 9 November 2021 pada pukul 09.00 WITA
untuk melakukan nikah siri dimasa pandemi Covid-19, diantaranya adalah sebagai berikut:
Pandemi Covid-19, memberi dampak secara global dan bahkan sampai kepelosok Desa, yang diawali dengan mematuhi protokol kesehatan sampai diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan (PPKM), (PPKM) Level satu sampai dengan level empat.Berbagai macam aturan dibuat untuk meminimalisirkan meningkatnya jumlah yang terkena dampak dari pandemi covid-19.Dengan pemberlakuan aturan selama masa pandemi covid-19, sehingga kegiatan masyarakat sangat dibatasi, banyak pekerjaan yang penghasilannya menurun, baik di darat maupun di laut. Kualitas pelayanan di setiap kantor dan instansi pun ikut dibatasi.
Pernyataan diatas itulah yang menjadi alasan orang untuk menikah secara siri, karena banyaknya batasan-batasan yang diberlakukan di pandemi Covid-19, sehingga pada akhirnya masyarakat memutuskan untuk memilih menikah siri. Hal itu dibuktikan dengan adanya wawancara dengan pelaku yang melakukan nikah siri dimasa pandemi, diantaranya:
Wawancara pertama Ibu Erna dengan pasangannya bernama bapak Sira yang menikah pada 8 Mei 2020. Ibu Erna selaku pelaku yang nikah siri dengan berdomisili di Desa Golo Sepang, sedangkan bapak Sira berdomisili di luar dari Desa Golo Sepang.
Dari keterangan Ibu Erna terkait alasannya melakukan nikah siri, dikarenakan saat itu sedang dihadapkan dengan pandemi covid-19 yang penuh dengan aturan. Berikut penuturannya:
Saya nikah siri itu dek dikarenakan saat itu ada anak pondok yang positif terkena covid, Setelah divonis positif, kegiatan pun semua diperketat termasuk persiapan syarat pendaftaran saya.Karena saat itu pemerintah setempat menyuruh masyarakat untuk berdiam diri dirumah dan tidak boleh melakukan aktivitas, Sementara saya sudah menentukan hari nikah bersama dengan suami saya saat itu.Akan tetapi saat itu hari nikah kami sudah tepat pada hari yang sudah ditentukan sementara persiapan syarat untuk daftar nikah belum sepenuhnya terpenuhi.Akhirnya saya berpikir lebih baik nikah siri saja dulu dari pada malu-maluin keluarga yang sudah terlanjur tahu hari nikahnya kami, toh nanti juga bisa di buat buku nikahnya.60
Wawancara kedua dengan Ibu Yanti dengan pasangannya bernama Saddam yang menikah pada bulan 16 Juni 2021.Wawancara dilakukan pada pukul 20.00 WITA. Ibu Yanti merupakan salah satu masyarakat yang berdomisili di Desa Golo Sepang, sedangkan suami Ibu Yanti berdomisili di luar dari Desa Golo Sepang. Dari hasil wawancara yang sudah dilakukan, adapun alasan Ibu Yanti melakukan nikah siri dikarenakan kelengkapan berkas sebagai syarat untuk melakukan nikah secara sah di kantor urusan agama yang masih kurang mendukung dalam hal
60 Wawancara dengan Ibu Erna pada 9 November 2021 pukul 08.40 WITA
administrasinya. Dari kurangnya kelengkapan berkas tersebut ada upaya pencapaian dari Ibu Yanti dan suaminya untul memenuhi kelengkapan berkas yang kurang tersebut, akan tetapi lagi-lagi saat itu dihadapkan dengan covid 19 yang memberi dampak susahnya biaya transportasi yang dikarenakan pemasukan setiap hari sangat sedikit. Berikut penuturannya:
Saya nikah siri itu dek dikarenakan akta cerai saya ada di sape, saat itu saya membawa akta cerai itu ke sape, akan tetapi saat saya balik ke Desa Golo Sepang akta cerai itu saya lupa di sape, saya berupaya untuk ke sape mengambil akta cerai tersebut akan tetapi saat itu pemberlakuan repid test sudah diberlakukan dengan biaya 250.000 perorangnya, Sementara saat itu saya lagi enggak bisa kerja sehingga pemasukan tidak ada, akhirnya suami saya meminta saya untuk menikah siri saja.61
Wawancara ke-3 dengan bapak samsudin yang pasangannya bernama Ibu Lila menikah secara siri pada tanggal 22 Juli 2020.
Wawancara ini dilakukan pada pukul 14.34 WITA.
Dari hasil wawancara yang sudah dilakukan, bapak samsudin melakukan nikah siri dipengaruhi faktor biaya yang kurang mendukung.
Berikut penuturannya:
Saya nikah siri itu dek karena saat itu saya kekurangan biaya. Saya hanya tukang ojek yang di mana selama pandemi pendapatan saya sangat menurun. Sementara saat itu saya sangat ingin menikah, syukur-syukur
61Wawancara dengan Bapak Saddam dengan Ibu Yanti pada 9 November 2020 pada pukul 11.12 WITA
Ibu Lila istri saya sekarang mau menikah dengan saya tanpa mempersulit saya, Hanya, saya saat itu ingin sekali menikah secara sah, tapi mau bagaimana, saya tidak punya biaya untuk daftar dan biaya untuk memenuhi syarat-syarat berkas yang sudah ditentukan oleh pihak KUA.62
Wawancara Keempat Bapak Tile 29 tahun yang menikah pada 21 Desember 2019. Berikut penuturannya:
"Saya melakukan nikah siri itu Nak, karena kelengkapan berkas saya sangat banyak yang kurang, diantaranya KTP saya hilang, saya coba lakukan perbaikan ulang di kanto catatan sipil, tapi dikantor catatan sipil semenjak virus Corona, pelayanan mereka berubah yang awalnya pelayanan setiap hari kerja, tapi semenjak Corona berubah menjadi seminggu dua kali, pihak kantor catatan sipil membuat jadwal tersendiri untuk setiap desa yang ada diwilaya kabupaten Manggarai Barat, Berapa kali saya bolak balik selama 2 bulan ke kantor catatan sipil tapi tidak menemukan hasil, mana lagi jarak kantor catatan sipil dengan rumah saya jauh sekali, jalannya yang rusaklah, uang untuk nikah semakin habis. Dari pada menunggu lama, lebih saya nikah siri saja".63
Sedangkan Saji umur 21 tahun memutuskan untuk nikah siri karena dibatasinya kegiatan masyarakat disaat adanya zona merah, berikut ini pengungkapannya:
"Sebenarnya saya nikah siri itu dek karena saat itu ada 2 orang anak kampung bawah yang baru balik dari pondok yang ada di Jawa itu
62 Wawancara dengan Bapak Samsudin pada 9 November 2020 pada pukul 13.30 WITA
63Wawancara dengan Bapak Tile pada 9 November 2020 pada pukul 14.11 WITA
dek yang terkena positif Corona, disaat anak-anak itu positif Corona yang diumumkan oleh satgas covid-19, sementara anak itu sudah sudah berkeliaran di lingkungan kita ini, sebelum itu keluarga saya dengan keluarga istri saya sudah memantapkan hari pernikah saya. Tapi saat kami ingin pergi melakukan pendaftaran, kami ditakutkan dengan teejangkitnya virus corona itu, akhirnya karena sudah terlanjur ditetapkan harinya dan tidak mau ribet mengurus syarat ini itu di KUA, lebih baik nikah dengan mengahdirkan beberapa orang saja, yang penting ada wali dan saksinya.Tidak mengapa nikah siri aja dulu, nanti bisa kok diurus."64
Kepala kantor urusan agama KUA kecamatan Boleng yang bernama Bapak Muhammad Hasanudin, S.Ag memang membenarkan banyak nikah siri disaat pandemi yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di daerahnya, yang mana masyarakat melakukan hal tersebut dengan beberapa permasalahan diantaranya: pertama, menurunnya pendapatan masyarakat di masa pandemi, sehingga untuk biaya proses pendaftarkan nikah di kantor urusan agama tidak bisa di lakukan. Hal ini dituturkan oleh Bapak Muli 26 tahun "Semenjak virus Corona, hasil pendapatan jualan ikan saya menurun drastis, bahkan hampir setiap hari banyak yang dibawa pulang karena tidak terlaku jual, saat itu saya sedang tahap proses menabung untuk persiapan lamaran, tapi saat pandemic berlangsung, tabungan saya berkurang dan habis dengan seiring
64Wawancara dengan Bapak Saji pada 9 November 2020 pada pukul 15.28 WITA
berjalannya waktu, yam au tidak mau saya nikah siri saja, karena tidak ribet dan tidak membutuhkan banyak biaya.65
2. Faktor Penyebab Terjadinya Nikah Siri pada Masa Pandemi di Desa Golo Sepang
Jika dilihat dari Praktik Nikah Siri yang sudah dilakukan oleh masyarakat di Desa Golo Sepang, maka faktor penyebab terjadinya siri yang dilakukan diakibatkan, antara lain:
a. Rendahnya kesadaran hukum masyarakat Desa Golo Sepang akan pentingnya mencatatkan pernikahannya
b. Banyaknya aturan yang diberlakukan ketika hendak melakukan pendaftaran pernikahan saat pandemi, sehingga masyarakat memilih jalan yang mudah menurut pandangan dan anggapan mereka.
c. Kurangnya pendapatan masyarakat pada masa pandemic di Desa Golo Sepang dalam mencari uang, sehingga biaya nikah tidak tercukupi.
d. Dibatasinya pelayanan masyarakat saat pandemic oleh beberapa lembaga, seperti Kantor Dinas Catatan Sipil yang menyediakan hari tertentuk untuk setiap wilayah kecematan melakukan keperluan penyelesaian masalah administrasi. Sementara yang menjadi syarat utama yang diminta oleh pihak KUA adalah KTP, KK, dan lain sebagiannya.
3. Peran Kantor Urusan Agama Dalam Mengatasi Nikah Siri pada Masa Pandemi di Desa Golo Sepang
Adapun Peran Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Boleng
65Wawancara dengan Bapak Muli pada 10 November 2020 pada pukul 13.30 WITA
yang memiliki 1 salah satu Desa, yaitu Desa Golo Sepang yang jumlah tertinggi dalam hal masyarakat yang melakukan nikah siri di masa pandemi Covid-19 diantara Desa yang ada diwilayah Kecamatan Boleng. Hal-hal yang dilakukan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Boleng sebelum melakukan kegiatan, yaitu mempersiapkan tempat cuci tangan dikantor, mempersiapkan handsanitizer, mengontrol jarak ketika sedang berkegiatan, memakai masker. Selepas dari beberapa ketentuan tidak dijalankan oleh masyarakat sebagai upaya dalam mengatasi covid-19 maka tidak akan dilaksanakannya proses kegiatan. Akan tetapi jika semuanya sudah lengkap maka kegiatan dalam meminimalisir jumlah nikah siri dilakukan, diantaranya adalah:
Pertama, melakukan penyuluhan-penyuluhan pencatatan pernikahan dan keluarga bahagia yang dilakukan oleh badan penasehat, pembinaan dan pelestarian perkawinan (BP4) di kantor urusan agama kepada calon pengantin dan wali. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan tidak terlepas adanya control dari pihak kepala KUA itu sendiri dalam memantau apakah masyarakat setempat mematuhi protocol kesehatan atau tidak 66
Kedua, melakukan sosialisasi dengan langsung mendatangi masyarakat secara individu dan kelompok, dengan bentuk sosialisasi tentang pentingnya pencatatan pernikahan dan dampak buruknya terhadap keluarga, ibu dan anak melalui seminar-seminar dan pengajian-pengajian yang diadakan oleh kua Kecamatan Boleng melalui perwakilannya di
66Hasil wawancara dengan Bapak Muhammad Hasanudin selaku Kepala KUA Kecamatan Boleng pada 10 November 2021 pukul 10.00 WIB