Gaya Kepemimpinan Tokoh Pemimpin dalam Program Air Bersih PLPBK
Pada dasarnya, tokoh pemimpin merupakan orang yang telah dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin dalam rangka mencapai suatu tujuan. Tokoh pemimpin ini dipilih karena tokoh pemimpin memiliki karakter yang arif dan sudah begitu dikenal oleh warga komunitas. Berbicara tokoh pemimpin dalam rangka program pemberdayaan masyarakat pada komunitas terdapat asumsi bahwa tokoh pemimpin harus mampu melibatkan partisipasi masyarakat atau warga komunitas selama pelaksanaan program. Biasanya tokoh pemimpin tersebut merupakan orang lokal yang lahir dan besar di dalam komunitas tersebut. Tokoh pemimpin dalam program ini adalah SGT (50 tahun). Tokoh pemimpin SGT merupakan pemimpin lokal yang lahir dan besar di Desa Tugu Jaya. Pada program air bersih PLPBK, tokoh pemimpin SGT menjabat sebagai Ketua Tim Pelaksana Pembangunan atau disingkat TPP. Sebelum menjadi Ketua TPP, tokoh pemimpin SGT merupakan mantan Ketua RW 06 di Desa Tugu Jaya. Tokoh pemimpin SGT dikenal baik oleh warga komunitas Desa Tugu Jaya, sebagai sosok yang memiliki kepemimpinan yang bagus dan aktif selama di karang taruna. Sewaktu muda, tokoh pemimpin SGT sering tergabung di dalam acara-acara kepemudaan.
“Pak SGT memang bagus kerjanya. Alhamdulillah di lurah sebelumnya juga dia yang pegang. Ikut kepemudaan dari dulu dia, disegani juga sama para warga.”(SS, 57 tahun, mantan Ketua RW 01)
Tokoh SGT sangat dikenal, terutama pada RW 02. Hal ini disebabkan RW 02 merupakan RW yang paling banyak mendapatkan manfaat dari program air bersih PLPBK. Warga komunitas RW 02 juga termasuk aktif dalam pelaksanaan program ini. Hal tersebut membuat warga komunitas RW 02 memiliki kedekatan dengan tokoh SGT. Peranan tokoh pemimpin SGT lebih banyak dirasa warga komunitas ketimbang Kepala Desa Tugu Jaya saat itu disebabkan pendekatan kepada warga lebih sering dilakukan oleh tokoh SGT ketimbang tokoh-tokoh formal di dalam desa. Pendekatan yang dilakukan pun tidak sebatas pada RW-RW yang mendapatkan manfaat dari program air bersih PLPBK tetapi kepada RW-RW lain juga sehingga warga menaruh harapan kepada sosok SGT.
“Alhamdulillah diterima baik sama warga sini. Biasanya Pak SGT itu sudah dekat sekali dengan para warga di kampung ini dan banyak sodaranya. Jadi saking dekatnya, warga udah biasa saja gitu, seperti sodara sendiri.” (DNJ, 63 tahun, Ketua RW 09)
Adanya tokoh pemimpin SGT membuat warga komunitas Desa Tugu Jaya percaya bahwa sosok SGT sudah dirasa tepat menjadi Ketua TPP (Tim Pelaksana Pembangunan) pada pelaksanaan program air bersih PLPBK.
”Nah lihat sikap Pak SGT kayak gitu, respon masyarakat bagus. Yah makanya lihat atasannya kerja, masyarakat yang gak mau turun juga jadi kerja bareng, malu gitu mas. Jadinya kerja beresnya lebih cepet. Masyarakat merespon, Ketua RT/RW juga datang ke balai desa buat rapat. Kalau gak ada rapat di balai desa, masyarakat kumpul di rumah koordinator.”(ARY, 57 tahun, Ketua RW 03)
Tokoh SGT tergabung dalam BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) Tugu Jaya Mandiri selama kurang lebih 10 tahun. BKM Tugu Jaya Mandiri merupakan lembaga masyarakat yang mewadahi dan menindaklanjuti segala bentuk bantuan program dari pemerintah untuk Desa Tugu Jaya. Hal ini membuat tokoh pemimpin SGT sudah memahami tata cara pelaksanaan suatu program pemberdayaan untuk Desa Tugu Jaya.
“Dia aktif selama di BKM. Dia sebagai ketua pelaksana program ini ke masyarakat, menjelaskan masalah lingkungan, masalah ekonomi juga. SGT orangnya berpengaruh di mata masyarakat, ke tokoh-tokoh juga. Jadi banyak yang berharap sama dia pada program ini. Turun langsung dia. Disamping itu, dia melakukan pendekatan-pendekatan ke tiap RT/RW.”(MAP, 67 tahun, mantan Kepala Desa Tugu Jaya)
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tokoh pemimpin SGT merupakan tokoh pemimpin lokal di Desa Tugu Jaya. Pada program pemberdayaan masyarakat, tokoh pemimpin lokal dirasa paling memiliki pengaruh di mata warga komunitas ketimbang pemimpin yang berasal dari luar. Hal ini disebabkan pemimpin lokal sudah memiliki kedekatan yang kuat dengan warga komunitas dan paling mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh warga komunitas. Pemimpin lokal dirasa paling mengetahui potensi dan permasalahan yang terdapat di dalam komunitas dengan mampu menyesuaikan dengan kehidupan sosial warga komunitas. Keterlibatan pemimpin lokal dalam kehidupan sosial warga dapat menempatkan posisinya untuk mengajak warga komunitas berpartisipasi selama pelaksanaan program. Hal ini juga dapat memperluas segala bentuk bantuan dari warga komunitas baik dari segi material, tenaga maupun usulan selama pelaksanaan program. Tokoh pemimpin telah menerapkan suatu gaya kepemimpinan tertentu. Gaya kepemimpinan inilah yang paling dirasakan oleh warga komunitas dibanding gaya kepemimpinan lainnya. Berikut adalah penilaian dari 60 responden terhadap gaya kepemimpinan tokoh pemimpin SGT, selaku Ketua TPP (Tim Pelaksana Pembangunan) dalam program air bersih PLPBK yang ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah dan persentase responden berdasarkan gaya kepemimpinan tokoh pemimpin dalam program air bersih PLPBK
Kategori Gaya Kepemimpinan
Gaya Kepemimpinan
Instruktif Konsultatif Partisipatif Delegatif n % n % n % n % Rendah 60 100.0 16 26.7 4 6.7 58 96.7 Tinggi 0 0.0 44 73.3 56 93.3 2 3.3 Total 60 100.0 60 100.0 60 100.0 60 100.0
Hasil Tabel 6 menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan instruktif memiliki persentase terbesar pada kategori rendah sebesar 100 persen sedangkan pada gaya kepemimpinan partisipatif memiliki persentase terbesar pada kategori tinggi sebesar yaitu 93.3 persen. Gaya kepemimpinan konsultatif memiliki presentase terbesar pada kategori tinggi sebesar 73.3 persen dan gaya kepemimpinan delegatif memiliki presentase terbesar pada kategori rendah sebesar 96.7 persen. Hal ini menunjukkan gaya kepemimpinan instruktif paling tidak tampak dan gaya kepemimpinan partisipatif paling dirasakan oleh warga komunitas dalam kepribadian tokoh pemimpin, maka dapat diketahui bahwa gaya kepemimpinan yang telah diterapkan oleh tokoh pemimpin SGT adalah gaya kepemimpinan partisipatif dan berkolaborasi dengan gaya kepemimpinan konsultatif.
Tokoh pemimpin SGT menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif pada pelaksanaan program air bersih PLPBK. Gaya kepemimpinan partisipatif menjadi sangat jelas dalam membangun hubungan kerja dengan warga komunitas. Tokoh pemimpin SGT bersama-sama warga komunitas terlibat di dalam musyawarah maupun terjun ke lapangan. Selain itu, tokoh pemimpin SGT menggunakan gaya kepemimpinan konsultatif untuk menanyakan kebutuhan warga komunitas di dalam program dan mengetahui kondisi warga komunitas di lapangan. Gaya kepemimpinan konsultatif ini memberikan kesempatan kepada warga komunitas untuk memberi masukan dan keluhan kepada tokoh pemimpin SGT. Penerapan gaya kepemimpinan konsultatif oleh tokoh pemimpin SGT menekankan kesempatan bagi warga komunitas untuk berinteraksi secara langsung dengan tokoh pemimpin SGT. Hal ini dilakukan agar terciptanya kenyamanan dengan warga komunitas serta terpenuhinya kebutuhan warga komunitas.
Pada pelaksanaan program, tokoh pemimpin SGT membangun hubungan sosial yang baik dengan para warga komunitas dimana tokoh pemimpin SGT menginginkan warga komunitas terlibat dalam pelaksanaan program air bersih PLPBK seperti pemasangan pipa langsung dari gunung. Tokoh pemimpin SGT pun membagi pemasangan pipa per wilayah sesuai dengan kemampuan warga komunitas di wilayah tersebut. Hal ini membuktikan tokoh pemimpin SGT tidak selalu mendelegasikan sepenuhnya pelaksanaan program air bersih PLBK kepada warga komunitas. Kemudian hal lain yang perlu dibahas dalam memahami gaya kepemimpinan tokoh pemimpin SGT adalah dalam pengambilan keputusan. Pada
pengambilan keputusan, tokoh pemimpin SGT menanyakan terlebih dahulu apakah air bersih dibutuhkan di lingkungan tersebut.
“Ditanya dulu ke warganya. Yah instalasi dari usaha warga juga. Jadi pas pemasangan suka nanya dia ‘mau gak nih (airnya)?’”(HSN, 47 tahun,responden)
Tokoh pemimpin SGT mengajak warga komunitas yang tinggal di lingkungan tersebut untuk bermusyawarah. Musyawarah dilakukan guna keputusan dalam program tidak hanya berasal dari usulan tokoh pemimpin SGT namun kesepakatan bersama-sama dengan warga komunitas, sehingga manfaat dari program dapat tepat sasaran dan memenuhi kebutuhan warga komunitas. Tokoh pemimpin SGT juga mengajak warga komunitas untuk membuat jalur air bersih di rumah-rumah warga agar bisa dijangkau sampai lingkungan itu.
Gaya Kepemimpinan Konsultatif
Gaya kepemimpinan konsultatif merupakan gaya kepemimpinan dari tokoh pemimpin dengan cara berkonsultasi kepada warga komunitas sebelum melaksanakan program. Hal ini dilakukan guna mempertimbangkan semua masukan atau usulan dari warga komunitas atau warga komunitas. Program air bersih PLPBK merupakan program pemberdayaan warga komunitas berbasis komunitas dimana warga komunitas menentukan sendiri kebutuhan apa yang paling mendesak untuk segera dipenuhi. Gaya kepemimpinan konsultatif dirasa perlu untuk dilakukan. Seorang tokoh pemimpin akan bias dalam mengetahui kebutuhan warga komunitasnya jika tidak berkonsultasi atau berdiskusi dengan warga komunitas terlebih dahulu. Hasil pada Tabel 7 telah menunjukkan gaya kepemimpinan konsultatif menjadi salah satu gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh tokoh pemimpin SGT dengan persentase sebesar 73.3 persen.
Pada pelaksanaannya, tokoh pemimpin SGT lebih banyak mengarahkan daripada memerintah. Warga komunitas diberikan kesempatan untuk berpendapat atau hanya sekedar memberikan masukan. Masukan yang disampaikan oleh warga komunitas ditampung dengan baik dan yang nantinya keputusan akhir tetap di tangan SGT. Tokoh pemimpin SGT juga sering menanyakan apa yang dibutuhkan para warga komunitas selama pelaksanaan program. Disinilah terjadi komunikasi dua arah antara pemimpin dan warga komunitas. Namun tidak semua warga komunitas dapat berinteraksi secara langsung dengan tokoh pemimpin SGT. Biasanya tokoh pemimpin SGT menanyakan kebutuhan yang belum terpenuhi dalam pelaksanaan program kepada perwakilan-perwakilan di setiap RT atau RW. Hal itu tentu tidak membatasi hubungan tokoh pemimpin SGT dengan para warga komunitas.
“Masukan sering dari warga, pemasangan instalasi dari usaha warga sama dia juga. Pas pemasangan suka nanya dia, ‘masih butuh apa disini?’”(AJH, 46 tahun, responden)
Gaya Kepemimpinan Delegatif
Gaya kepemimpinan delegatif termasuk pada kategori rendah dengan presentase sebesar 96.7 persen. Gaya kepemimpinan delegatif merupakan gaya kepemimpinan dimana tokoh pemimpin menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan program kepada warga komunitas. Peran tokoh pemimpin menjadi pasif disebabkan berjalannya program sudah diserahkan kepada warga komunitas. Program air bersih PLPBK sendiri dilaksanakan di empat lokasi atau kampung yang membutuhkan. Hal ini membuat tokoh pemimpin SGT tidak mampu mengurusi semua lokasi pembangunan. Akhirnya tokoh pemimpin SGT beserta perwakilan setiap RT/RW menyekapati dibentuknya kepanitiaan dalam program. Namun selama pelaksanaan tidak sepenuhnya dilepaskan oleh SGT begitu saja.
“Emang SGT gak bisa mantauin semua, soalnya masang paralon, pipa itu dari gunung langsung dan di banyak lokasi. Jadi dibagi-bagi ke warga, diserahin juga tuh ke RT/RW buat ngurusin air ini. Tapi gak sepenuhnya SGT lepas tangan, dia bareng warga masang-masang.” (UPN, 46 tahun, responden)
Pernyataan diatas menunjukkan tokoh pemimpin SGT memang menyerahkan pelaksanaan program kepada warga komunitas. Akan tetapi, tidak sepenuhnya SGT lepas tangan dari pelaksanaan program. Tokoh pemimpin SGT juga tidak hanya sekedar memberikan saran tetapi ikut terjun ke lapangan juga. Tokoh pemimpin SGT dapat dikatakan tidak pasif selama program berlangsung. Pada pengambilan keputusan, tokoh pemimpin SGT memberikan wewenang kepada para warga komunitas untuk mengambil keputusan yang mereka perlukan saat program air bersih PLPBK berlangsung.
Gaya Kepemimpinan Instruktif
Gaya kepemimpinan instruktif merupakan gaya kepemimpinan yang dirasa warga komunitas tidak diterapkan oleh tokoh pemimpin SGT selama pelaksanaan program air bersih PLPBK. Seluruh responden atau warga komunitas masuk pada kategori rendah dalam penilaian gaya kepemimpinan instruktif. Pada gaya kepemimpinan ini, tokoh pemimpin mempengaruhi warga komunitas dengan cara memerintah tanpa adanya proses komunikasi dua arah antara pemimpin dan warga komunitas atau warga komunitas. Pemimpin membatasi berhubungan dengan warga komunitas dan cenderung hanya memerintah saja (top down).
“Dia orangnya gak sombong dek. Semua untuk warga. Gak pernah ngebatasi hubungan sama warganya.”(EN, 35 tahun, responden)
Hubungan sosial tokoh pemimpin SGT dengan warga komunitas bisa dikatakan harmonis disebabkan pada kesehariannya, tokoh pemimpin SGT sering ikut
terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan ataupun bila ada acara kematian. Warga komunitas pun merasa sudah sangat dekat dengan tokoh pemimpin SGT. Warga komunitas juga jarang melihat hanya tokoh pemimpin SGT yang merumuskan rancangan dalam program ini. Tokoh pemimpin SGT sangat memperhatikan para warga komunitas yang membutuhkan manfaat dari program air bersih PLPBK.
Tingkat Kohesi Sosial
Kohesi sosial dapat dipahami sebagai kesatuan dari warga komunitas dalam komunitasnya. Kesatuan yang menunjukkan adanya rasa komunitas (sense of community) yang dimiliki warga komunitas dan aksi kolektif warga komunitas dalam suatu kegiatan. Kegiatan yang dimaksud adalah program air bersih PLPBK. Kohesi sosial dalam sebuah komunitas dapat terjadi ketika warga komunitas masih saling peduli dan saling percaya satu sama lainnya. Kepercayaan (trust) inilah yang menjadi salah satu faktor yang memperkuat kohesi sosial dan menjadikan kesatuan tidak tercerai-berai. Kohesi sosial juga dapat meningkat seiring dengan tingginya rasa komunitas (sense of community) antar warga komunitas dan keterlibatan aksi kolektif warga komunitas.
Tabel 7. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat kohesi sosial Tingkat Kohesi
Sosial Frekuensi (n) Persentase (%) Rendah 11 18.3 Tinggi 49 81.7 Total 60 100.0
Hasil dari Tabel 7 menunjukkan tingkat kohesi sosial pada warga komunitas di Desa Tugu Jaya masih tergolong tinggi dengan persentase terbesar pada kategori tinggi sebesar 81.7 persen. Presentase tersebut menjelaskan bahwa warga komunitas memiliki rasa komunitas (sense of community) yang kuat selama tinggal di dalam komunitas atau lingkungan tempat mereka tinggal. Keterlibatan dalam aksi kolektif warga komunitas selama pelaksanaan program air bersih PLPBK juga cukup sering atau intens. Kohesi sosial ini sangat penting guna memperkuat kebersamaan warga komunitas dalam mencapai tujuan yang telah disepakati bersama selama program air bersih PLPBK ini.
Sense of Community
Rasa komunitas atau sense of community merupakan perasaan saling memiliki warga komunitas selama tinggal di dalam komunitas. Adapun perasaan sense of community mampu memunculkan keyakinan warga komunitas untuk menetap di dalam komunitas. Sense of community juga menimbulkan perasaan yang saling menghubungkan antar warga komunitas. Perasaan inilah yang membentuk kesadaran warga komunitas untuk menjadikan komunitasnya lebih baik lagi. Berdasarkan data
yang diperoleh dari 60 responden, menunjukkan bahwa sense of community warga komunitas Desa Tugu Jaya dominan tinggi. Hasil tersebut menggambarkan warga komunitas merasa terpenuhi kebutuhan pentingnya melalui komunitas tempat mereka tinggal.
Warga komunitas merasa masih memiliki kesamaan nilai-nilai dengan warga komunitas lainnya dalam komunitas seperti kesamaan nilai kepercayaan ataupun nilai moral. Kesamaan nilai itu pula yang membuat kebutuhan yang muncul menjadi sama seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan. Warga komunitas juga merasa saling terhubung. Rasa saling terhubung membuat warga komunitas dapat menyelesaikan masalah di antara mereka secara kekeluargaan. Tingginya rasa keterhubungan ini yang membuat warga komunitas beranggapan bahwa komunitasnya adalah bagian dari identitas dirinya. Berikut adalah tabel frekuensi dan persentase rasa komunitas (sense of community) dari para responden atau warga komunitas.
Tabel 8. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat sense of community
Sense of Community Frekuensi (n) Persentase (%)
Rendah 0 0.0 Sedang 13 21.7 Tinggi 47 78.3 Total 60 100.0
Hasil dari Tabel 8 menunjukkan bahwa seluruh responden masih memiliki rasa komunitas. Hal ini terlihat dari tidak adanya warga komunitas yang masuk pada kategori rendah. Rasa komunitas yang dimiliki warga komunitas masuk pada kategori sedang dan kategori tinggi. Adapun warga komunitas dengan rasa komunitas yang tinggi sebanyak 47 responden (78.3 persen) dan sebanyak 13 responden (21.7 persen) masuk pada kategori sedang. Hasil ini juga menunjukkan bahwa rasa komunitas yang dimiliki warga komunitas masih kuat sehingga rasa kebersamaan dan sikap saling peduli masih sangat terasa. Rasa komunitas (sense of community) sendiri mempunyai empat dimensi persepsi yaitu pemenuhan kebutuhan, keterlibatan menjadi anggota, pengaruh dan berbagi hubungan emosional. Berikut adalah frekuensi dan presentase setiap indikator pada rasa komunitas (sense of community).
Tabel 9. Jumlah dan persentase responden berdasarkan indikator pada sense of community
Kategori Sense of Community Sense of Community Pemenuhan Kebutuhan Keterlibatan
menjadi Anggota Pengaruh
Berbagi Kontak Emosional n % n % n % n % Rendah 17 28.3 2 3.3 18 30.0 0 0.0 Tinggi 43 71.7 58 96.7 42 70.0 60 100.0 Total 60 100.0 60 100.0 60 100.0 60 100.0
Hasil dari Tabel 9 menunjukkan indikator berbagi kontak emosional memiliki persentase terbesar pada kategori tinggi sebesar 100 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa warga komunitas sering berbagi perasaan suka duka dan peristiwa-peristiwa penting di dalam komunitas. Selain itu, warga komunitas menikmati kebersamaan dengan para warga komunitas lainnya selama tinggal di dalam komunitas atau lingkungan mereka tempat tinggal. Kemudian persentase terbesar selanjutnya terdapat pada indikator keterlibatan menjadi anggota sebesar 96.7 persen. Warga komunitas merasa sering meluangkan atau menghabiskan banyak waktu untuk menjadi bagian dari komunitasnya dengan terlibat banyak kegiatan di dalam komunitasnya. Indikator pemenuhan kebutuhan juga masuk pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 71.7 persen. Hasil ini juga menunjukkan bahwa warga komunitas mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya seperti membeli sayur mayur sehingga tidak perlu lagi keluar dari komunitas.
a. Pemenuhan Kebutuhan
Indikator ini menggambarkan warga komunitas merasa telah menjadi bagian dari komunitas atau lingkungan tempat mereka tinggal. Warga komunitas menilai kebutuhan mereka dapat terpenuhi selama tinggal di dalam komunitas. Faktor komunitas atau lingkungan juga menjadi bagian dari penilaian sense of community dimana lingkungan tempat mereka tinggal mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari warga komunitas. Kemudian penilaian warga komunitas terhadap rasa nyaman selama menjadi bagian dari komunitas dan dapat saling membicarakannya ketika ingin menyelesaikan suatu masalah. Berikut adalah grafik frekuensi tinggi dan rendah dari 60 responden pada indikator Pemenuhan Kebutuhan
Gambar 3. Grafik frekuensi rendah dan tinggi indikator Pemenuhan Kebutuhan
2: Adanya kesamaan nilai-nilai sebagian besar warga di dalam komunitas 3: Komunitas dapat memenuhi kebutuhan para warga
4: Warga komunitas merasa nyaman menjadi bagian dari komunitas
5: Jika terdapat masalah di komunitas, warga komunitas dapat saling membicarakannya 6: Adanya kesamaan kebutuhan para warga komunitas
Keterangan
Rendah untuk jawaban dengan skor 1 dan 2 Tinggi untuk jawaban dengan skor 3 dan 4
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, sebanyak 37 responden (61.7 persen) menilai kebutuhan warga komunitas dapat terpenuhi selama tinggal di dalam komunitas atau lingkungan tempat mereka tinggal. Hal tersebut diperkuat pada item 3 dimana frekuensi terbesar masuk pada kategori tinggi sebanyak 32 responden (53.3 persen). Kemudian pada item 2 menunjukkan sebanyak 38 responden (63.3 persen) masuk pada kategori tinggi. Warga komunitas melihat terdapat kesamaan nilai-nilai dengan sebagian besar warga di lingkungannya. Nilai-nilai tersebut berupa nilai-nilai kepercayaan ataupun nilai-nilai moral. Item 4 menunjukkan mayoritas warga komunitas telah merasa nyaman menjadi bagian dari komunitas sebanyak 52 responden (86.7 persen). Item 5 menunjukkan sebanyak 36 responden (60.0 persen) lebih memilihi untuk membicarakan masalahnya (pribadi atau umum) dengan suami atau istrinya terlebih dahulu ketimbang dengan warga komunitas lain. Pada item 6 menunjukkan sebanyak 44 responden (73.3 persen) menyatakan warga di lingkungan tempat mereka tinggal mempunyai kesamaan kebutuhan seperti papan, sandang dan pangan.
b. Keterlibatan menjadi Anggota
Indikator ini mengenai kepercayaan dan keterikatan warga komunitas dengan komunitasnya. Pada indikator ini dapat terlihat bahwa warga komunitas saling percaya dan mengenali sebagian besar warga komunitas lain yang tinggal di dalam komunitas atau lingkungan tempat mereka tinggal. Warga komunitas masih memiliki pemahaman lingkungan tempat mereka tinggal tersebut telah menjadi bagian dari identitas diri mereka. Warga komunitas juga menilai ada kesamaan simbol-simbol ekspresi di dalam komunitasnya. Berikut adalah grafik frekuensi tinggi dan rendah dari 60 responden pada indikator Keterlibatan menjadi Anggota.
0 10 20 30 40 50 60 70 6 5 4 3 2 1 Tinggi Rendah
Gambar 4. Grafik frekuensi rendah dan tinggi indikator Keterlibatan menjadi Anggota
1: Warga komunitas dapat saling mempercayai 2: Warga komunitas dapat saling mengenali 3: Hampir semua warga dapat mengenali saya
4: Komunitas memiliki kesamaan simbol-simbol ekspresi
5: Warga komunitas menghabiskan waktu dan tenaga untuk menjadi bagian dari komunitas 6: Komunitas menjadi bagian dari identitas diri
Keterangan
Rendah untuk jawaban dengan skor 1 dan 2 Tinggi untuk jawaban dengan skor 3 dan 4
Pada indikator keterlibatan menjadi anggota, terlihat 5 dari 6 item memiliki frekuensi lebih dari 50 responden pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa warga komunitas dapat saling mempercayai dan saling mengenali satu sama lain sebagai warga komunitas. Berdasarkan data diatas, sebanyak 52 responden (86.7 persen) pada item 1 menilai warga komunitas dapat mempercayai para warga komunitas lain di dalam komunitas atau lingkungan tempat mereka tinggal. Item 2 dan 3 memperjelas bahwa warga komunitas memang sudah saling mengenali sejak lama dengan frekuensi sebanyak 56 responden pada item 2 dan 57 responden pada item 3. Pada item 4 sebanyak 38 responden (63.3 persen) menilai komunitas atau lingkungan tempat mereka tinggal masih memiliki kesamaan simbol-simbol ekspresi.
“Pengajian sih kalau disini. Banyak yang bilang dari nenek moyang dulu, disini pusat pesantren.” (DDN, 52 tahun, responden)
Pernyataan diatas menjelaskan bahwa di dalam komunitas atau lingkungan mereka tinggal masih ditemui kesamaan simbol-simbol seperti pengajian. Pada item 5 sebanyak 52 responden (86.7 persen) menyatakan sering menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk menjadi bagian dari lingkungan tempat mereka tinggal. Hal ini dipertegas pada item 6 yang menunjukkan sebanyak 59 responden (98.3 persen)
merasa lingkungan atau komunitas mereka telah menjadi bagian dari identitas diri. Sebagian besar warga komunitas memang sejak kecil atau sudah puluhan tahun tinggal di dalam lingkungan tersebut sehingga rasa komunitas (sense of community)