• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecantikan wajah merupakan salah satu aspek yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia.31 Kontur fasial sendiri telah diketahui dapat berubah akibat perawatan ortodonti maka perubahan tersebut seharusnya telah diantisipasi dan diperkirakan sejak awal dalam membentuk sebuah rencana perawatan yang komprehensif. Jaringan lunak memainkan peranan yang besar dalam keseluruhan estetis fasial seorang individu.32 Para ortodontis juga telah lama menyadari bahwa posisi horizontal dari bibir, sebagai bagian dari jaringan lunak, merupakan salah satu aspek dalam estetis fasial. Posisi bibir mempengaruhi keseluruhan aspek dalam keseimbangan fasial. Oleh karena itu, evaluasi dari bibir dalam rencana perawatan menjadi sangat penting oleh karena posisi tersebut dapat berubah oleh tindakan perawatan ortodonti tersebut.24 Penelitian ini dilakukan guna mengetahui garis referensi dengan konsistensi terbaik diantara sekian banyak garis-garis referensi yang telah diperkenalkan untuk mengevaluasi posisi anteroposterior dari bibir atas dan bibir bawah sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam rencana perawatan pada suku Batak kelak.24 Penelitian ini dilakukan pada sefalometri lateral dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Suku Batak dan garis referensi yang memiliki nilai koefisien varians atau dispersi terendah diantara garis-garis lainnya merupakan garis referensi dengan konsistensi terbaik.

Beberapa ahli telah mencoba membuat acuan penilaian profil jaringan lunak, seperti garis estetik Ricketts, garis Holdaway dan lain sebagainya.33 Beberapa garis- garis referensi telah diperkenalkan untuk mengevaluasi posisi anteroposterior dari bibir atas dan bibir bawah, antara lain adalah kelima garis referensi yang diuji pada penelitian ini yaitu garis E Ricketts, garis B Burstone, garis S Steiner (S1), garis S Sushner (S2) dan garis H Holdaway.11 Hasil pengukuran diolah datanya dengan menggunakan system kompurisasi dan difokuskan pada nilai koefisien dari setiap

garis dimana telah dikatakan sebelumnya bahwa garis referensi dengan nilai koefisien varians terendah merupakan garis referensi dengan konsistensi terbaik.24

Sebelum dilakukan uji analitik pada data-data hasil pengukuran, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas pada seluruh data dengan uji Kolgomorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk. Hal ini bertujuan untuk mengetahui uji analitik yang tepat dalam pengolahan data pada tahap selanjutnya. Jika hasil data uji normalitas menunjukkan data terdistribusi normal (p>0,05) maka uji analitik dilanjutkan dengan uji t- independen sedangkan jika terlihat bahwa data tidak terdistribusi normal maka uji analitik akan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil uji normalitas data sebagaimana yang terlihat pada tabel 1 menunjukkan nilai distribusi data normal (p>0,05) sehingga dilanjutkan dengan uji t-independen.

Tabel berikutnya yakni tabel 2 menunjukkan hasil uji t-independen terhadap data-data hasil pengukuran. Masing-masing garis referensi yang diuji pada penelitian ini ditarik ke dua posisi berbeda yakni masing-masing garis referensi tersebut ditarik menuju bibir bawah (Li) dan bibir atas (Ls) terkecuali pada garis referensi Holdaway yang hanya diukur jaraknya terhadap bibir bawah (Li). Hasil uji t-independen menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna pada nilai garis E terhadap bibir bawah (E-Li) dengan garis E terhadap bibir atas (E-Ls). Demikian pula halnya antara nilai garis B terhadap bibir bawah (B-Li) dengan garis B terhadap bibir atas (B-Ls) dan juga antara nilai garis Steiner (S1) terhadap bibir bawah (S1-Li) dengan garis Steiner (S1) terhadap bibir atas (S1-Ls). Hasil uji t-independen tidak memiliki perbedaan bermakna jika p>0,05 dan memiliki perbedaan bermakna jika nilai p<0,05. Pada uji t-independen nilai garis E (0,380:0,381), garis B (0,183: 0,183), garis S1 (0,065:0,066) maka terbukti tidak ada perbedaan bermakna antara nilai pengukuran menuju bibir bawah (Li) dengan pengukuran menuju bibir atas (Ls). Sedangkan pada nilai garis Sushner (S2) terhadap bibir bawah (S2-Li) dan garis Sushner (S2) terhadap bibir atas (S2-Ls) terdapat perbedaan bermakna karena nilai uji t-independen menunjukkan nilai 0,001 pada pengukuran terhadap bibir bawah (Li) maupun terhadap bibir atas (Ls).

Konfigurasi dari jaringan lunak wajah dipengaruhi oleh sejumlah variabel seperti ketebalan jaringan lunak, interrelasi skeletal maupun konfigurasi dental. Analisis dari jaringan lunak yang menutupi jaringan keras dentofasial memberi informasi penting dalam diagnosis dan rencana perawatan dalam bidang ortodonti. Akan tetapi Andersen et al mengatakan bahwa masih sedikit studi yang terfokus pada analisis pada jaringan lunak.32 Walaupun demikian, beberapa analisis telah diperkenalkan untuk mengevaluasi posisi bibir dan pengaruhnya pada profil fasial. Diantara yang paling umum adalah garis E Rickett, garis B Burstone, garis S Steiner, garis S Sushner dan garis H Holdaway yang dibandingkan konsistensinya dalam penelitian ini.11

Dalam hasil penelitian ini, ditemukan bahwa garis B Burstone (Nilai koefisien varians 39,69% dan 30,89%) dan garis S2 Sushner (Nilai koefisien varians 32,26% dan 28,59%) memiliki dispersi koefisien variasi terendah yang mana berarti kedua garis tersebut dapat dianggap sebagai garis referensi terbaik dalam menilai posisi horizontal bibir dalam analisis profil. Hasil ini sesuai dengan penelitian Naidu dan Hsu yang juga mendapatkan hasil bahwa garis B dan S2 merupakan garis dengan dispersi koefisien varians terendah dalam penelitiannya masing-masing dibandingkan dengan garis-garis referensi lainnya.

Dalam sudut lingkup penanganan klinis, semakin anterior letak dari sebuah garis referensi, maka semakin mudah untuk digunakan oleh klinisi. Dalam kategori tersebut, garis E Rickett dan garis H Holdaway memenuhi syarat. Dalam aspek reabilitas sebuah garis referensi, garis-garis yang melewati hidung sangatlah dipercaya karena dikatakan dalam sebuah pernyataan bahwa hidung harus diikut sertakan dalam menilai estetis. Garis S Steiner dan garis B Burstone berada dalam kategori ini. Dengan demikian, hanya garis S2 Sushner yang tidak termasuk dalam kategori apapun yang disebutkan pada kalimat-kalimat sebelumnya. Dalam penilaian ini, garis B Burstone lebih dapat diterima dibandingkan dengan garis S Sushner.11,24

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa garis E Rickett merupakan garis dengan nilai koefisien varians terbesar (Nilai koefisien varians 153,06% dan 1070,32%) dan dapat dikatakan sebagai garis yang paling kurang konsisten untuk

menilai posisi horizontal bibir. Hasil ini bertentangan dengan hasil penelitian Naidu yang mendapatkan garis H Holdaway sebagai garis dengan nilai koefisien varians terendah sedangkan pada penelitian ini garis Holdaway (Nilai koefisien varians 85,45%) berada di pertengahan diantara garis-garis referensi lainnya. Hal ini mungkin dapat disebabkan oleh perbedaan jaringan lunak antar ras sebagaimana yang dikemukakan dalam penelitian Tyasingsih bahwa jaringan lunak (bibir) populasi Batak asli lebih protrusif sehingga mungkin mengakibatkan perbedaan jarak yang berujung pada perbedaan hasil. Nilai koefisien varians yang sangat tinggi terlihat pada garis E Rickett terhadap bibir atas (E-Ls mm) sebagaimana yang ditunjukkan pada tabel 4, merupakan pengaruh dari uji statistikal yang diakibatkan oleh nilai mean yang negatif (-0,2483) pada tabel 3 dan 4. Nilai yang tinggi ini juga ditemui pada penelitian yang dilakukan oleh Hsu dan dijelaskan dengan alasan serupa.24

Pada penelitian Sutter dikatakan bahwa terdapat berbagai karateristik fasial dan setiap ras dan suku memiliki ciri tersendiri. Oleh karena itu, antar penelitian satu dengan yang lain dapat terdapat perbedaan-perbedaan.35 Enlow, Nanda juga menyatakan bahwa banyak faktor-faktor yang mempengaruhi analisis wajah. Faktor- faktor tersebut antara lain adalah jenis kelamin, ras dan lain sebagainya.36 Pada pembahasan diatas, terlihat adanya persamaan dan perbedaan antara hasil penelitian ini dengan penelitian lain seperti penelitian Naidu maupun Hsu yang juga membandingkan konsistensi kelima garis-garis referensi tersebut. Persamaan ditunjukkan pada hasil dimana garis B Burstone dan garis S2 Sushner yang keluar sebagai garis dengan nilai koefisien varians terendah dan perbedaan terletak pada urutan konsistensi ketiga garis referensi lainnya yakni antara garis S Steiner, garis H Holdaway dan garis E Rickett. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh pernyataan sebelumnya bahwa karateristik masing-masing ras dan suku berbeda. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi adanya perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian lain juga dapat dikarenakan perbedaan besar sampel.

Dokumen terkait