• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pokok-pokok Temun dan Pembahasan 1.Pokok-pokok Temuan

PENYAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN

O. Pokok-pokok Temun dan Pembahasan 1.Pokok-pokok Temuan

Potensi yang dimiliki oleh Kota Bengkulu telah disadari oleh Pemerintah Daerah dan kemudian dijadikan salah satu kebijakan yang strategis oleh Gubernur Bengkulu, yaitu menjadikan kota Bengkulu

commit to user

tersebut sebagai kawasan wisata yang diharapkan mampu menyedot bukan saja wisatawan local, tetapi juga wisatawan nasional serta manca Negara. Komodifikasi upacara religi tabot dapat dijadikan sebagai salah satu aset nasional maupun internasional. Pokok-pokok temuan penelitian sebagai berikut :

a. Komodifikasi upacara religi tabot tidak dapat dipisahkan dari peran Dinas Pariwisata Bengkulu yang bekerja sama dengan Keluarga Keturunan Tabot untuk menjadikan tabot sebagai salah satu pendukung perkembangan pariwisata di Bengkulu.

b. Dengan adanya komodifikasi upacara religi tabot, terdapat sedikit perubahan yang terjadi. Upacara Tabot bukan lagi hanya milik keluarga keturunan tabot saja akan tetapi menjadi salah satu aset yang dapat diakses oleh masyarakat luas dan para wisatawan sebagai komoditas pariwisata yang sangat menarik untuk dikunjungi.

c. Upacara tabot yang dulu merupakan upacara tradisional yang diadakan untuk mengenang kisah kepahlawan Hussein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW, yang wafat dalam peperangan di padang Karbala, Irak. Kini diubah menjadi Festival Tabot yang dapat menarik wisatawan untuk meningkatkan perkembangan pariwisata Bengkulu. Selain itu juga bertujuan untuk melestarikan budaya daerah yang semakin lama semakin terkikis.

d. Untuk lebih menarik para wisatawan upacara Tabot dibuat dengan menggunakan bahan-bahan baru yang lebih menarik dengan tetap

commit to user

mempertahankan tradisi-tradisi lama. Selain itu, festival tabot dibuat dalam rangkaian acara yang didalamnya terdapat pameran, bazar dan yang terpenting adalah menggelar permainan rakyat.

e. Dengan adanya media komunikasi pemasaran yang digunakan sebagai ajang promosi upacara religi tabot kepada masyarakat yaitu media cetak dan elektronik baik lokal maupun Nasional. Selain itu, juga dengan membuat selebaran dalam bentuk Leaflet. Akan tetapi gambaran promosi tersebut kurang menggambarkan upacara religinya dan lebih menggambarkan festival yang penuh dengan pesta kemeriahan.

f. Komodifikasi Upacara Religi Tabot sebagai ajang pengembangan pariwisata Bengkulu memunculkan perbedaan pendapat antara masyarakat dan wisatawan. Dari sisi lain, kebijakan pengembangan pariwisata tabot yang dibuat oleh Dinas Pariwisata yang bekerja sama dengan Keluarga Keturunan Tabot mengenai sasaran yaitu meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke kota Bengkulu yang dapat menambah jumlah pendapatan asli daerah. Akan tetapi perlu juga diperhatikan aspek kebudayaan yang sedikit tergeser maknanya.

2. Pembahasan

Mengingat pokok-pokok temuan dalam penelitian secara keseluruhan saling terkait maka pembahasan tidak dilakukan sendiri-sendiri.

commit to user

a. Pariwisata sebagai Multi-disciplinary Approach

Menurut pakar pariwisata, Nyoman.S.Pandit “pariwisata” adalah segala sesuatu yang berhubungan bergeraknya manusia dan benda yang membawa dinamika di dalam kehidupan. Pariwisata tidak bisa dipisahkan dengan masalah ekonomi, sosial, budaya, keamanan dan lain sebagainya. Oleh karena itu kepariwisataan dikembangkan dengan pendekatan yang besifat multi disiplin (multi-disciplinary appoach). Dari segi ekonomi, pariwisa dapat membantu meningkatkan pendapatan asli daerah dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung dan ingin menikmati produk yang dipasarkan.

Dengan adanya pengembangan objek wisata, masyarakat lokal merasakan dampak yang sangat nyata. Kemeriahan yang mengirngi adanya pariwisata membuka mata masyarakat untuk memanfaatkan sarana prasarana guna mendapatkan penghasilan. Hal ini membantu program pemerintah dengan adanya lahan pekerjaan yang baru, seperti jasa parkir, jasa WC umum, dagang, dan lain sebagainya.

Dari segi budaya, pariwisata memainkan peran yang sangat mendalam sebagai sarana untuk melestarikan budaya nenek moyang dan meningkatkan kecintaan akan daerah. Mengingat industri kepariwisataan merupakan salah satu bidang yang kompleks, maka sektor ini tidak dapat dipandang hanya dari satu sisi positifnya, yaitu seperti mengharapkan datangnya perolehan pendapatan, tetapi sisi

commit to user

negatifnya juga harus diperhitungkan (De Kadt Dalam Nugroho, 2001).

b. Pariwisata Bengkulu dalam Perspektif Teori Kritis

Teori kritis adalah upaya untuk meneliti bukan hanya pada kenyataan yang parsial, melainkan seluruh totalitas yang berpengaruh (Narwaya, 2005 : 178). Jadi proyek Teori Kritis adalah upaya untuk memberi perlawanan kesadaran terhadap dominasi, cara teknologis ini. Teori kritis tidak berupaya mencari kebenaran sebuah fakta, apalagi membiarkannya dalam kondisi apa adanya. Teori ini berupaya menjelaskan fakta dalam rangka emansipasi terhadap kondisi masyarakat.

Komodifikasi pariwisata juga memberikan pengaruh negatif, yang terkadang tanpa disadari oleh pemerintah dalam hal ini dinas pariwisata. Proses komodifikasi tidak lepas dari kepentingan pihak-pihak yang mempunyai pengaruh dominan. Hegemoni merupakan proses dominasi, dimana sekumpulan pemikiran merongrong atau menekan yang lain (Littlejohn, 2001 : 211). Ini merupakan proses melalui mana sebuah kelompok menjalankan kepemimpinan atas yang lain.

Adanya tanggapan negatif dari masyarakat menunjukkan bahwa proses komodifikasi upacara religi tabot terdapat kebijakan yang tidak seimbang. Terdapat beberapa unsur yang kurang mendapat perhatian, hal ini terjadi karena terdapat pemusatan sasaran dalam

commit to user

pengembangan pariwisata yaitu dapat menarik wisatawan sebanyak mungkin.

Ideologi mendistorsikan realitas yang sebenarnya guna memuluskan kepentingan dari kelas yang berkuasa (the rulling class). Ideologi menjadi pemalsuan dan serentak menjadi distorsi dari realitas sosial yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakat sehingga kelas yang dikuasai dapat dikelabuhi begitu saja (Littlejohn, 2001). Seiring dengan perubahan zaman yang semakin modern dan otonomi daerah dengan adanya keleluasaan untuk mengembangkan potensi yang ada di daerah yang salah satunya mengembangkan pariwisata menjadikan tabot sebagai komoditas pariwisata.

Upacara Religi Tabot yang merupakan tradisi ritual yang penuh dengan upacara-upacara sakral kini sudah kehilangan makna. Sejak beberapa tahun terakhir harus diakui memang sudah bergeser menjadi sekedar pesta tahunan masyarakat Bengkulu. Unsur-unsur budaya yang terdapat dalam upacara tabot sedikit terkikis dengan adanya komodifikasi upacara religi tabot yang lebih mengutamakan keindahan yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan tanpa memperhatikan makna budaya yang melekat di dalamnya.

Dalam postmodern, kapitalisme yang cepat secara virtual semuanya menjadi iklan yang sulit untuk dilihat secara kritis karena ini tertutup dalam ilusi bahwa industri budaya mempertemukan kita

commit to user

dengan realita. Menurut teorisi kritis, bahwa budaya bukan lagi sesuatu yang terpisah, satu wilayah ekspresi dari pengalaman di mana pemahaman kritis dapat diraih. Mahzhab Frankfurt menyatakan bahwa seni adalah pelabuhan terakhir bagi ide-ide kritis maupun bagi ekspresi dan pengalaman kecantikan dan kepuasan, sehingga meramalkan akan datangnya satu masyarakat yang lebih baik. Melalui ilusi praktis (Schein), budaya menahan komodifikasinya sendiri, mempresentasikan ekspresi dan pengalaman yang tidak terkontaminasi oleh logika kapital dan mempertahankan kemampuan untuk berbeda dan berpikir kritis. Adorno dalam Aesthetic Theory dan Marcuse dalam Aesthetis Dimension (dalam Agger 2003 : 183) menjelaskan fungsi kritis seni dan budaya serta meratapi penyerapan budaya ke dalam siklus komodikasi dan hegemoni.

Habermas mengemukakan perubahan dari paradigma kesadaran yang menyetujui dualis barat atas subjek dan objek komunikasi ke paradigma komunikasi. Habermas percaya bahwa hanya dengan refleksi diri dan komunikasi, orang dapat benar-benar mengontrol nasib mereka dan merestrukturisasi masyarakat secara duniawi. Habermas berpandangan bahwa orang menghumanisasi dirinya melalui interaksi. Hanya melalui interaksi dan komunikasi orang dapat menguasai masyarakat, membentuk gerakan sosial dan meraih kekuasaan.

commit to user

Komunikasi, terutama melalui media memainkan peran khusus dalam mempengaruhi budaya tertentu melalui penyebaran informasi. Media sangat penting karena mereka menampilkan langsung cara memandang realita. Meskipun media menggambarkan ideologi secara eksplisit dan langsung, suara yang menentang akan selalu ada sebagai bagian dari perjuangan dialektis antar kelompok dalam masyarakat. Media tetap saja dikuasai oleh ideologi yang berkuasa, oleh sebab itu mereka menghadapi suara-suara yang menentang dari dalam kerangka ideologi yang dominan, yang mendatangkan pengaruh pada pendefinisian kelompok-kelompok sebagai ”batas”. Ironi dari media terutama televisi adalah bahwa mereka menampilkan ilusi keragaman dan objektivitas, sementara dalam kenyataannya mereka merupakan instrumen-instruemen yang jelas dari tatanan yang dominan. Para produser mengendalikan isi media melalui cara-cara tertentu untuk menyandikan pesan-pesan. Bagi Hall dan koleganya (dalam pendekatan postrukturalis), interpretasi teks-teks media selalu terjadi dalam perjuangan untuk memegang kendali ideologi. Dengan demikian sasaran utama studi budaya adalah untuk mengekspos bagaimana ideologi dari kelompok yang kuat dipertahankan dengan sungguh-sungguh dan bagaimana ideologi tersebut bisa ditentang untuk menumbangkan sistem kekuasaan yang menekan hak-hak kelompok tertentu.

commit to user

Komodifikasi upacara religi tabot dapat terjadi dengan adanya jalinan komunikasi. Dimana pesan yang disampaikan kepada komunikan yaitu para wisatawan dapat tepat pada sasaran. Pesan yang dibuat harus menyentuh perasaan dan menggambarkan secara garis besar pariwisata yang dipasarkan. Dalam hal ini Dinas Pariwisata sebagai komunikator komodifikasi upacara tabot lebih menonjolkan acara pelengkap dari pada acara sakral yang terdapat dalam rangkaian upacara tabot.

Pada awalnya memang komunikan memerlukan sebuah pesan yang dapat menyentuh perasaan. Akan tetapi hal ini juga harus dilengkapi dengan gambaran fakta yang terdapat dalam pariwisata tersebut, dan pada akhirnya para wisatawan bukan hanya mempunyai sekedar ketertarikan untuk melihat tetapi juga mempunyai keinginan untuk lebih mengenal dan mempelajari pariwisata yang ditawarkan. Sehingga budaya yang ada dapat dilestarikan demikian juga Upacara Religi Tabot.

Pesan dalam komunikasi pemasaran tidak semua sama dalam bidang pariwisata (Wahab, 1992). Seiring dengan proses komodifikasi Upacara Religi Tabot pada dasarnya komunikasi pemasaran oleh Dinas Pariwisata Bengkulu itu cenderung meningkatkan prestise. Komodifikasi Upacara Religi Tabot ditujukan untuk mengingkatkan jumlah wisatawan yang nantinya dapat menambah pendalapata asli daerah. Pemasaran pariwisata yang tergolong dalam pariwisata budaya

commit to user

ini bahkan lebih dimotivasi oleh kemauan yang kuat untuk mengetahui darpada sekedar untuk melihat-lihat. Karen bagi wisatawan yang mempunyai minat khusus terhadap kebudayaan, yaitu Upacara Religi Tabot akan tanggap terhadap apa yang dilihatnya dan mengidentifikasi dirinya sendiri berdasr pesan-pesan yang terungkap oleh bergabai tulisan maupun atraksi upacara.

Komodifikasi upacara tabot sebenarnya mempunyai prospek yang bagus guna melestarikan kebudayaan sehingga tradisi yang sudah berlangsung dari jaman nenek moyang dapat terus diadakan setiap tahunnya. Anggaran untuk biaya upacara adat Tabot berasal dari dana APBD kota Bengkulu yang kemudian dana ini diserahkan kepada Kerukunan Keluarga Tabot (KKT) untuk digunakan dalam pelaksanaan Tabot.

Habermas peduli akan dominasi kepentingan teknis dalam masyarakat kapitalis kontemporer, dimana publik dan swasta saling berkait. Idealnya, publik dan swasta harus seimbang. Haberas menilai komunikasi sebagai suatu yang esensial bagi emansipasi, karena bahasa merupakan alat untuk memenuhi kepentingan emansipatif tersebut. Kompetensi komunikais diperlukan untuk bisa berpartisipasi aktif dalam pembuatan keputusan. Komunikasi pemasaran meliputi tiga tujuan utama, yaitu untuk menyebarkan informasi (komunikasi informatif), mempengaruhi untuk melakukan pembelian atau menarik

commit to user

konsumen (komunikasi persuasif), dan mengingatkan khalayak untuk melakukan pembelian ulang (komunikasi mengingatkan kembali).

Pemasaran pariwisata sebenarnya timbul karena adanya gejala kompetisi dan persaingan yang bebas diantara berbagai resort atau daerah tujuan wisata dan perusahaan yang bergerak dibidang industri ini, baik sejenis maupun bukan sejenis sehingga publisitas juga ikut bersaing. Media komunikasi pemasaran juga lebih memungkinkan terjadinya daya ingat yang lebih tinggi mengingat masyarakat setiap hari bahkan setiap detik disuguhi melalui berbagai bentuk. Seiring laju perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan semakin beragamnya bentuk media komunikasi pemasaran.

Semua pesan komunikasi pemasaran membutuhkan instrument atau media untuk melakukan transmisi. Dinas Pariwisata menggunakan media untuk melakukan promosi kepada para wisatawan. Dinas Pariwisata melakulan periklanan baik melalui media cetak maupun elektronik sehingga masyarakat umum dapat leluasa mengakses upacara tabot sehingga para wisatawan dapat dengan mudah mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu Dinas Pariwisata juga mengajak masyarakat sekitar untuk turut serta memeriahkan upacara Tabot.

commit to user

97 BAB V PENUTUP

P. Kesimpulan

Sesuai dengan visi pengembangan pariwisata Bengkulu yaitu “Terwujudnya percepatan transpormasi potensi sumberdaya wisata alam dan budaya provinsi bengkulu yang berakar pada nilai-nilai agama, adat istiadat dan lingkungan hidup yang secara nyata mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan turut serta memajukan perekonomian daerah yang mandiri”. Dinas pariwisata membuat program pengembangan potensi pariwisata sebagai komoditas pariwisata. Salah satunya yaitu komodifikasi upacara religi tabot.

Dinas Pariwisata bekerja sama dengan Kerukunan Keluarga Tabot bekerja sama melakukan pengembangan komodifikasi Tabot menjadi komoditas yang menarik wisatawan dengan membuat Festival Tabot. Proses komodifikasi diawali dengan pembukaan upacara tabot oleh Pemerintah Daerah Bengkulu. Tabot sebagai kebutuhan masyarakat Bengkulu telah memenuhi persyaratan, keaslian (Originality), kelangkaan (Scarsity), keutuhan (Wholesomeness) sebagai asset yang sangat berharga untuk dikemas lebih baik secara professional dalam perkembangan kepariwisataan di Bengkulu.

Dalam proses komodifikasi, tradisi dalam perayaan Tabot sudah menjadi “seni pertunjukan” tersendiri yang unik karena didalamnya

commit to user

terdapat serangkaian acara seperti, bazar, pameran, dan berbagai lomba sehingga Tabot menjadi asset kekayaan budaya bagi masyarakat di Propinsi Bengkulu. Upacara religi tabot yang dahulu kala hanya milik warga bengkulu yaitu Kerukunan Keluarga Tabot kini dengan mudah dapat diakses oleh masyarakat luas. Masyarakat luas dapat ikut serta memeriahkan Festival Tabot dengan menghadiri pameran, bazar maupun pertunjukkan-pertunjukkan yang terdapat dalam rangkaian Festival Tabot.

Media komunikasi pemasaran yang dilakukan melalui media cetak dan elektronik, serta membuat selebaran atau leflet, sehingga proses komodifikasi upacara Tabot menjadi semakin mudah karena masyarakat luas dapat dengan mudah mengakses informasi mengenai Tabot. Akan tetapi, komodifikasi upacara religi tabot juga memunculkan perbedaaan versi pendapat dari masyarakat. Dari satu sisi komodifikasi upacara religi tabot tepat sasaran yaitu dapat meningkatkan jumlah wisatawan, akan tetapi unsur kesakralan budaya yang terkandung didalamnya juga harus mendapat perhatian.

Q. Implikasi

1. Seiring dengan perkembangan jaman, berbagai upacara religi yang hidup di masyarakat dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu yaitu untuk komoditas pariwisata yang dibuat semenarik mungkin agar dapat meningkatkan jumlah wisatawan.

commit to user

2. Dalam pendekatan teori kritis, dominasi ideologi memainkan peranan penting dalam proses komodifikasi. Masyarakat merasakan terjadinya perubahan dari komodifikasi pariwisata yang lebih menguntungkan bagi pihak-pihak yang mempunyai kekuasaan.

3. Media sebagai alat komunikasi pemasaran mempunyai perngaruh yang kuat dalam prosess komodifikasi. Melalui komunikasi pemasaran, sebuah ideologi dominan mampu mendistorsi upacara religi dalam masyarakat.

R. Saran

Dalam mengembangkan pariwisata hendaknya pemerintah memperhatikan berbagai faktor yang dipengaruhi. Melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk ikut terlibat dalam upacara ritual tabot agar suasana upacara ritual Tabot tersebut ”dimiliki” pula oleh seluruh masyarakat Bengkulu dari berbagai macam kalangan. Keterlibatan masyarakat no keluarga Tabot dalam upacara tersebut mungkin dapat diwujudkan dalam bentuk (semacam) segi tontonan (Entertainment) saja yang dikaitkan dengan pelaksanaan upacara tersebut tanpa merubah arti / makna upacara ritual Tabot yang akan dilaksanakan. Dalam hal ini mungkin Kelurahan dapat diikut sertakan mengirimkan wakil-wakilnya untuk berperan serta dalam mengikuti setiap prosesi Tabot sekaligus ikut terlibat dalam penampilan-penampilan seni budaya lainnya sebagai hiburan dan daya tarik sendiri dalam sesi upacara ritual yang dilaksanakan.

commit to user

Pengembangan pariwisata melalui komodifikasi upacara religi tabot perlu dievaluasi kembali dengan adanya tanggapan dari masyrakat yang beraneka ragam. Dan segala bentuk tanggapan dari masyarakat yang beraneka ragam hendaknya mendapatkan pemecahan dan perlu disikapi secara bijaksana sehingga pengembangan pariwisata tersebut mendapat dukungan yang penuh dari berbagai pihak.

commit to user

101