• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

E. Produk Akhir Komik dan Pembahasan

2. Pembahasan

dibahas secara lebih rinci pada KD berikutnya. Pada KD yang peneliti angkat materi ini hanya dijelaskan secara garis besar sebagai pengantar sebelum memasuki KD selanjutnya. Setelah dilakukan revisi pada produk awal sesuai komentar validator, maka produk akhir selesai dibuat dan dapat digunakan dalam pembelajaran.

Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti mengembangkan media pembelajaran berupa komik berbasis digital. Komik yang dikembangkan membawa materi klasifikasi makhluk hidup. Komik yang dikembangkan disajikan dalam bentuk pdf. Format yang dipilih diharapkan dapat memudahkan media untuk disebar, dan dapat diakses tanpa memerlukan banyak kuota internet. Media komik yang sudah dikembangkan dapat digunakan baik saat pembelajaran jarak jauh maupun pembelajaran tatap muka.

Pembelajaran jarak jauh yang membatasi guru dan siswa untuk berinteraksi secara langsung menuntut guru untuk menggunakan media pembelajaran yang bervariasi. Media yang bervariasi akan mempertahankan minat belajar siswa yang tidak dapat guru pantau secara langsung. Selain media pembelajaran yang telah banyak beredar saat ini seperti video maupun artikel pada website, diperlukan media lain sebagai variasi. Sesuai penjelasan Ginting (dikutip dalam Utariyanti et al., 2015), buku pembelajaran saat ini yang umumnya dalam bentuk textbook masih belum bisa meningkatkan minat baca siswa. Variasi media pembelajaran yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang ditemukan adalah komik pembelajaran berbasis digital.

Komik merupakan suatu kartun yang menampilkan berbagai karakter dan memerankan cerita. Urutan komik tersusun secara runtut dalam bentuk cerita bergambar yang dibuat dengan tujuan untuk menghibur pembacanya (Maxtuti et al, 2013). Komik menggunakan bahasa yang sederhana, bahasa yang biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Komik pembelajaran berbasis digital diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi. Komik pembelajaran berbasis

digital dapat diakses dimana saja dan memerlukan kuota internet yang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan media pembelajaran berupa video yang umum digunakan selama pembelajaran jarak jauh.

Komik pembelajaran berbasis digital yang dikembangkan terdiri dari 9 halaman. Komik pembelajaran dinilai menggunakan lembar validasi berisi aspek-aspek yang dinilai. Dua penilaian utama komik yang dikembangkan adalah pada segi media dan materi. Hasil penilaian akhir diperoleh dari skor rata-rata kedua komponen tersebut. Penilaian validasi aspek media menunjukkan skor rata-rata keseluruhan sebesar 3,87 sedangkan pada aspek materi memperoleh skor 3,81.

Selisih antara skor aspek media dan materi sebesar 0,06. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa produk yang telah dikembangkan sedikit lebih unggul dari segi media.

Hasil validasi yang diperoleh berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh keempat validator. Berdasarkan hasil data kualitatif dan kuantitatif menunjukkan aspek yang memperoleh skor paling rendah adalah aspek penyajian dan desain serta aspek isi. Masukan yang diterima di antaranya, pertama 6 warna dasar perlu dimaksimalkan. Menurut Wijaya et al. (2013), pewarnaan yang dibuat dalam komik memiliki banyak teknik, mulai dari minimalis hingga sanggat detail tergantung komik yang dibuat. Hal ini terlihat dari adanya jenis komik hitam putih dan komik berwarna. Jenis komik yang dibuat merupakan komik yang bertujuan sebagai media pembelajaran sehingga komik harus berwarna agar tingkat realisasi gambar bisa lebih tinggi dan lebih menarik sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa.

Jenis warna yang dipilih dapat berupa warna yang terang maupun gelap menyesuaikan kondisi suasana baik lingkungan maupun ekspresi dari tokoh.

Jumlah warna yang dipilih tidak memengaruhi komik yang dibuat, hal yang lebih memengaruhi gambar agar lebih hidup adalah gradasi atau shading. Gradasi warna umumnya terdiri dari gradasi dua jenis warna atau lebih. Tujuan dari dibuatnya gradasi adalah agar gambar yang diwarnai lebih menarik dan tidak monoton (Santoso, 2016). Pada komik yang dikembangkan Teknik pewarnaan yang dipilih adalah Soft Cell-Shading, yaitu pewarnaan bayangan dilakukan dengan menggunakan warna-warna yang ada pada beberapa bahkan seluruh bagian dibuat bergradasi (Wijaya et al, 2013). Gradasi yang digunakan sebanyak dua sampai tiga gradasi. Menanggapi masukan dari validator peneliti mengerti bahwa komik terasa monoton pada beberapa bagian khususnya pada adegan dalam ruangan. Hal ini karena latar belakang dari tokoh merupakan tembok. Untuk menambah daya tarik, peneliti merevisi komik dengan menambahkan dekorasi berupa tempat buku, vas bunga, dan lukisan untuk menambah ragam warna pada latar belakang berupa tembok.

Masukan lainnya dari salah satu validator guru adalah kurangnya gambar objek kurang dan lebih banyak dialog, hal ini bertolak belakang dengan masukan dari validator materi yang mengatakan bahwa dialog antar tokoh masih kurang.

Menurut Wardani (2017), tata letak teks harus disusun secara proporsional agar tidak menutupi tokoh yang ada, sehingga berpengaruh pada letak balon kata pada panel. Peneliti perlu memperhatikan ukuran panel dan jumlah kata yang diucapkan oleh tokoh, agar ilustrasi yang ditunjukkan cukup dan materi dapat tersampaikan

dengan baik. Menanggapi masukan dari kedua validator, peneliti merevisi komik dengan menambahkan beberapa panel, agar dialog bisa bertambah tanpa menutupi panel, karena ukuran balon teks yang akan bertambah. Dialog yang ditambahkan berupa pertanyaan-pertanyaan antar tokoh yang dapat mengundang rasa ingin tahu siswa. Penambahan panel juga akan menambah jumlah ilustrasi, peneliti juga menambah contoh gambar sesuai dengan masukan dari beberapa validator.

Penambahan contoh dalam bentuk ilustrasi tetap menyesuaikan ukuran halaman.

Perbaikan ini sekaligus merevisi masukan dari validator mengenai materi yang masih kurang lengkap. Materi yang masih kurang lengkap di antaranya, arti, penemu, dan aturan binomial nomenklatur, perbedaan takson dan taksonomi,

Masukan selanjutnya adalah perlu ditambahkan karakter humoris dalam cerita. Menurut Ambarwati (2014), humor dalam cerita bukan hanya mampu melepaskan ketegangan yang dihadapi anak dalam kehidupan sehari-hari, namun bisa juga memicu kemampuan berpikir logis. Dalam komik digital yang dikembangkan, tokoh yang ditujukan bersifat humoris pada awalnya adalah Yara.

Yara merupakan tokoh yang lugu, sehingga menimbulkan kesan humor dalam dialog antar tokoh. Setelah menerima masukan, peneliti menyadari bahwa karakter Yara masih belum cukup menampilkan kesan humoris. Sebagai tindak lanjut dari masukan validator, peneliti mengubah satu tokoh lagi agar berkarakter humoris yaitu Kenzo. Kenzo memiliki karakter yang sangat percaya diri dan cenderung ceplas-ceplos dalam bertutur kata. Peneliti juga menambah dialog humor antar tokoh untuk menambah kesan humoris agar dialog dalam komik tidak monoton.

Koreksi lainnya adalah kesalahan ketik dan ejaan bahasa Indonesia.

Kesalahan yang dibuat di antaranya kesalahan penulisan nama hari, kata berulang, kata “di-“, pemilihan kata yang kurang tepat. Waridah (2013) mengatakan, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa bersejarah. Penulisan nama hari pada komik belum tepat karena masih menggunakan huruf kecil. Penulisan nama hari telah diperbaiki menyesuaikan ejaan bahasa Indonesia yang benar. Selanjutnya kata berulang seharusnya disatukan menggunakan tanda baca “ - ” (cerita-cerita), kesalahan yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan menuliskan kata berulang menggunakan tanda baca “ ” ” (cerita”). Penulisan kata berulang telah diperbaiki menyesuaikan aturan penulisan tanda baca. Kesalahan lainnya adalah penulisan kata “di-” yang masih kurang tepat.

Awalan “di-” seharusnya dipisah saat menyatakan tempat, dan disatukan jika kata

“di” sebagai awalan kata kerja pasif. Penulisan kata “di” yang kurang tepat adalah kata “diluar” yang seharusnya ditulis terpisah “di luar”. Kesalahan penulisan selanjutnya adalah kesalahan penulisan “dibandingkan sama” yang seharusnya ditulis “dibandingkan dengan”. Bahasa yang digunakan dalam komik ini merupakan bahasa sehari-hari, namun karena tujuannya sebagai komik pembelajaran makan pemilihan kata yang digunakan harus tetap menggunakan bahasa yang baik dan benar. Koreksi lainnya adalah masih ditemukan beberapa kesalahan ketik yang harus diperbaiki. Penulisan nama tingkatan takson masih belum menggunakan seragam sehingga perlu direvisi dengan menyeragamkan bahasa yang digunakan menjadi bahasa Inggris.

Masukan lainnya yang diberikan oleh validator media adalah mengenai jenis huruf dan perlu ditambahkannya nomor halaman. Komik digital umumnya menggunakan berbagai jenis huruf, namun untuk komik pembelajaran, pemilihan jenis huruf harus lebih diperhatikan. Jenis huruf yang dipilih untuk komik pembelajaran yang baik adalah tidak menggunakan huruf hias, tidak menggunakan variasi huruf yang berlebihan (Amelia, 2018). Huruf hias dan variasi huruf yang berlebihan dapat membuat pembaca tidak dapat membaca dengan fokus. Menurut Sari et al. (2013), jenis huruf yang baik juga jika memiliki karakteristik yang lugas, tebal batang huruf yang sama, dan tidak memiliki kait pada kedua kakinya. Komik pembelajaran khususnya biologi baiknya tidak menggunakan huruf kait karena dapat menimbulkan salah tangkap oleh siswa khususnya pada tulisan yang dicetak miring. Jenis huruf sebelumnya adalah “Ink Free” yang kemudian diubah menjadi jenis huruf “Segoe UI”. Revisi selanjutnya adalah, halaman diberikan nomor untuk memudahkan pembaca mengetahui atau mencari halaman tertentu.

Koreksi selanjutnya dari validator materi yang memberi masukkan bahwa topik klasifikasi tumbuhan seharusnya diletakkan di awal sub materi pengenalan klasifikasi 5 kingdom. Sistem klasifikasi yang pertama adalah sistem dua kingdom yang dikembangkan oleh Aristoteles. Sistem ini mengelompokkan makhluk hidup ke dalam dua kelompok yaitu kelompok tumbuhan (kingdom Plantae) dan kelompok hewan (kingdom Animalia) (Qurrotul, 2009). Atas masukan validator materi kingdom Plantae baiknya diletakkan di awal sub materi klasifikasi 5 kingdom, dengan tujuan untuk menggugah rasa ingin tahu siswa. Masukan dari validator guru mengenai mencantumkan ilustrasi dari masing-masing filum untuk

mengetahui jumlah anggota filum paling sedikit tidak ditindaklanjuti. Masukan tidakditindak lanjuti karena akan dibahas lebih mendetail pada KD selanjutnya.

Hasil skor dari semua aspek berkontribusi memengaruhi perbandingan skor.

Pengembangan produk komik pembelajaran berbasis digital mendapatkan hasil kualifikasi sangat layak dengan skor rata-rata keseluruhan sebesar 4,84. Hasil yang diperoleh menunjukkan produk yang dikembangkan layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran setelah dilakukan revisi berdasarkan masukan dari validator.

b. Keunggulan Produk

Pengembangan produk komik pembelajaran berbasis digital memiliki keunggulan yang berorientasi membantu guru dalam menambah variasi media pembelajaran. Komik yang dikembangkan dapat digunakan dalam pembelajaran jarak jauh maupun tatap muka. Keunggulan komik pembelajaran berbasis digital di antaranya dapat diakses menggunakan komputer maupun handphone berbasis IOS dan android. Komik pembelajaran dapat disebarluaskan menggunakan berbagai platform contohnya Whatsapp, Google Classroom, email, dan platform sejenis lainnya.

Keunggulan lain dari komik pembelajaran berbasis digital adalah ukuran file yang tidak terlalu besar sehingga dapat menghemat kuota internet. Komik yang bersifat digital memudahkan siswa mengaksesnya di mana saja dan kapan saja dan hanya perlu mengunduh satu kali saja. Komik yang bergambar diharapkan dapat meningkatkan daya tarik siswa untuk belajar. Komik juga dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang akan memudahkan siswa untuk memahami materi yang sedang dipelajari.

Keterbatasan waktu yang dialami guru dalam pembelajaran jarak jauh dapat diringankan dengan menggunakan komik pembelajaran, sehingga guru dapat meminta siswa mempelajari materi terlebih dahulu sebelum bersama-sama membahas materi pada saat melakukan pertemuan virtual. Komik juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran tatap muka.

Dokumen terkait