• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan Provinsi Sumatera Utara. Rumah Sakit Pirngadi didirikan tanggal 11 Agustus 1928 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Setelah bangsa Indonesia merdeka, pada tanggal 17 Agustus 1950, Rumah Sakit Pirngadi diambil alih dan diurus oleh Pemerintah Pusat/Kementerian Kesehatan di Jakarta. Pada tanggal 27 Desember 2001, Rumah Sakit Pirngadi diserahkan kepemilikannya dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada Pemerintah Kota Medan. RSUD Dr. Pirngadi merupakan RS tipe B yang menampung pelayanan rujukan dari rumah sakit kabupaten.

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 30 Agustus 2021 hingga 30 September 2021. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder berupa data rekam medis pasien kanker payudara periode 2018-2019. Dari 250 pasien kanker payudara periode 2018-2019, diperoleh sampel yang memenuhi kriteria penelitian sebanyak 71 buah rekam medis.

Adapun karakteristik sampel yang diambil yaitu usia, ukuran tumor, metastasis kelenjar getah bening, metastasis jauh, riwayat keluarga, riwayat penggunaan hormon, klasifikasi histopatologis, derajat histopatologis dan status reseptor estrogen. Data rekam medis yang telah dikumpulkan kemudian diolah sehingga didapatkan hasil penelitian seperti yang dipaparkan pada Tabel 4.1-4.19.

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi sampel berdasarkan usia.

Kelompok Usia Jumlah (n) Persentase (%)

≤ 25 tahun 0 0

26-45 tahun 21 29.6

46-55 tahun 31 43.7

≥ 56 tahun 19 26.8

Total 71 100

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa dari 71 kasus kanker payudara di RSUD. Dr. Pirngadi Medan Tahun 2018-2019, sebagian besar pasien berada pada kelompok usia 46-55 tahun yaitu sebanyak 31 orang (43.7%) dan tidak ditemukan pasien pada kelompok usia ≤25 tahun.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di RSUD dr.

Soegiri Kabupaten Lamongan yang menyatakan bahwa lebih dari sebagian responden berusia 41-55 tahun yaitu 29 orang (58%) dan tidak satu pun ditemukan responden yang berusia 10-18 tahun (Sulistiyowati, 2012). Penelitian ini juga didukung oleh Winters et.al (2017) yang menyatakan bahwa di negara-negara Asia dan Afrika puncak usia saat diagnosis kanker payudara adalah 40-50 tahun dan untuk di seluruh dunia penyakit ini mencapai puncaknya sekitar usia 60 tahun dengan kemiringan yang tajam yaitu dimulai pada usia 40 tahun. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan epidemiologi yang tercatat bahwa wanita berusia lebih dari 50 tahun mempunyai kemungkinan berkembang menderita kanker payudara lebih besar (Ashariati, 2019). Peningkatan kasus mulai pada usia 40 tahun disebabkan oleh pemeriksaan mamografi rutin yang dilakukan oleh pasien (Johnson et al., 2018).

Seiring dengan bertambahnya usia pasien, maka secara fisiologis risiko menderita kanker payudara lebih besar dikarenakan daya tahan tubuhnya sudah lemah dan mengalami penurunan sehingga rentan terhadap kanker payudara.

Untuk itu, dianjurkan bagi wanita yang berumur >40 tahun untuk menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat untuk menurunkan risiko terjadinya kanker payudara (Sari dan Gumayesty, 2016).

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi sampel berdasarkan ukuran tumor.

Ukuran Tumor Jumlah (n) Persentase (%)

Tumor < 2 cm 19 26.8

Tumor 2-5 cm 21 29.6

Tumor > 5 cm 8 11.3

Ukuran berapapun dengan ekstensi ke dinding

dada/ulserasi kulit

23 32.4

Total 71 100

Berdasarkan tabel 4.2 diperoleh bahwa ukuran tumor payudara yang paling banyak ditemukan adalah tumor dengan ukuran berapapun dengan ekstensi ke dinding dada/adanya ulserasi kulit yaitu sebanyak 23 orang (32.4%).

Adam Malik Medan periode 2017-2018 yang menunjukkan bahwa mayoritas pasien kanker payudara adalah ukuran tumor berapapun dengan ekstensi ke dinding dada/ulserasi kulit sebanyak 49 orang (59.8%). Namun, data penelitian ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Erić et al (2018) yang menemukan bahwa mayoritas ukuran tumor pasien kanker payudara adalah 2-5 cm, kemudian diikuti dengan ukuran < 2 cm dan diikuti dengan ukuran tumor > 5 cm serta tumor dengan segala ukuran dengan ekstensi ke dinding dada/ulserasi kulit. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan jumlah populasi dan karakteristik dari tiap individu.

Ukuran tumor memiliki korelasi dengan metastasis kelenjar getah bening pada pasien kanker payudara. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wetan (2019) menunjukkan angka insiden keterlibatan KGB aksila tertinggi terjadi pada pasien dengan ukuran tumor berapapun dengan esktensi ke dinding dada/ulserasi kulit yaitu sebesar 86%. Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Li et al (2020) menunjukkan bahwa proporsi kasus meninggal pada pasien kanker payudara meningkat 70% pada pasien dengan ukuran tumor berapapun disertai adanya ekstensi ke dinding dada atau ulserasi kulit.

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi sampel berdasarkan metastasis kelenjar getah bening.

Metastasis Kelenjar Getah banyak ditemukan pasien tidak mengalami metastasis ke kelenjar getah bening sebanyak 41 orang (57.7%)

Data penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kakarala et al (2010) yang menunjukkan bahwa dari pasien kanker payudara di India dan Pakistan, diperoleh mayoritas pasien tidak mengalami metastasis kelenjar getah bening yaitu sebanyak 597 orang (59.5%). Begitu juga di Afrika-Amerika, data penelitian menjelaskan bahwa mayoritas pasien kanker payudara juga tidak mengalami adanya metastasis kelenjar getah bening yaitu sebanyak 16.291 orang (60.4%). Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sofi et al (2012) yang menjelaskan bahwa penderita kanker payudara lebih banyak ditemukan tidak mengalami metastasis kelenjar getah bening daripada yang mengalami adanya keterlibatan kelenjar getah bening, serta penelitian yang dilakukan oleh Nguyen et al (2008) menjelaskan bahwa dari 793 kasus kanker payudara, sebanyak 494 orang (62.2%) tidak mengalami metastasis kelenjar getah bening.

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi sampel berdasarkan metastasis jauh.

Metastasis Jauh Jumlah (n) Persentase (%)

Tidak Ada 59 83.1

Ada 12 16.9

Total 71 100

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa dari 71 kasus kanker payudara di RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 2018-2019, didapatkan sebagian besar pasien tidak mengalami adanya metastasis jauh sebanyak 59 orang (83.1%) dan pasien yang mengalami metastasis jauh hanya sebanyak 12 orang (16.9%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Savci-Heijink et al (2015) yang menunjukkan bahwa lebih sering dijumpai penderita kanker payudara yang tidak mengalami metastasis jauh. Selain itu, data penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan di RS. Peruvian yang menjelaskan bahwa dari 1198 kasus kanker payudara, sebanyak 1142 orang (95.3%) tidak mengalami metastasis jauh (M0) (Vallejos et al., 2010).

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi sampel berdasarkan riwayat keluarga.

Riwayat Keluarga Jumlah (n) Persentase (%)

Tidak Ada 60 84.5

Ada 11 15.5

Total 71 100

adanya riwayat keluarga terhadap kejadian kanker payudara sebanyak 60 orang (84.5%) dan hanya ditemukan 11 orang (15.5%) yang memiliki riwayat keluarga Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di RSUP Dr.

Wahidin Sudirohusodo periode 2016-2017 yang menunjukkan bahwa berdasarkan data rekam medik, pasien lebih banyak ditemukan tidak memiliki riwayat keluarga kejadian kanker payudara yaitu sebanyak 116 orang (76.8%), sedangkan yang memiliki riwayat keluarga hanya 35 orang (23.2%). Penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau yang menyatakan bahwa lebih banyak ditemukannya pasien tanpa adanya riwayat keluarga yaitu sebanyak 107 orang (65.2%). Namun penelitian ini sedikit berbeda dengan yang dilakukan di RS Kanker Dharmais Jakarta yang menyatakan bahwa wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara memiliki risiko lebih besar 6.44 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara dibandingkan dengan ibu yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara (Rianti et al., 2012). Perbedaan ini terjadi karena perbedaan pada karakteristik sampel yang memiliki gaya hidup dan riwayat lainnya yang berbeda, sehingga kejadian kanker payudara ini kemungkinan dapat disebabkan oleh faktor-faktor lain.

Tabel 4.6 Distribusi frekuensi sampel berdasarkan riwayat penggunaan hormon.

Riwayat Penggunaan Hormon

Jumlah (n) Persentase (%)

Tidak Ada 67 94.4

Ada < 8 tahun 2 2.8

Ada ≥ 8 tahun 2 2.8

Total 71 100

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui bahwa dari 71 kasus kanker payudara di RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 2018-2019, hampir keseluruhan pasien tidak memiliki riwayat penggunaan hormon yaitu sebanyak 67 orang (94.4%).

Hasil penelitian ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan di kota Padang yang menyatakan bahwa pasien dengan riwayat kontrasepsi hormonal lebih banyak ditemukan pada kejadian kanker payudara yaitu sebanyak 78 orang (60.5%) dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki riwayat kontrasepsi

hormonal. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh faktor lain seperti adanya perbedaan karakteristik pasien yang memiliki gaya hidup yang berbeda ataupun lebih dominan menggunakan kontrasepsi non hormonal.

Pemakaian kontrasepsi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan risiko kejadian kanker payudara menjadi semakin meningkat (Depkes RI, 2014).

Risiko peningkatan kanker payudara tersebut juga terjadi pada perempuan yang menggunakan terapi hormon, seperti hormon eksogen. Hormon eksogen dapat menyebabkan terjadinya peningkatan risiko kejadian kanker payudara. Oleh karena itu, wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal dianjurkan untuk beralih mengggunakan kontrasepsi non hormonal agar dapat mengurangi risiko kanker payudara (Sari dan Gumayesty, 2016).

Tabel 4.7 Distribusi frekuensi sampel berdasarkan indeks massa tubuh.

Indeks Massa Tubuh Jumlah (n) Persentase (%)

< 18.5 2 2.8

18.5-22.9 22 31

23-24.9 17 23.9

≥25 30 42.3

Total 71 100

Berdasarkan distribusi frekuensi sampel berdasarkan indeks massa tubuh pada tabel 4.7, ditemukan bahwa pasien dengan indeks massa tubuh ≥25 yang paling banyak ditemukan yaitu sebanyak 30 orang (42.3%).

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di RSUP. H.

Adam Malik periode 2018 yang menunjukkan bahwa pasien penderita kanker payudara mayoritas memiliki indeks massa tubuh obesitas yaitu sebanyak 42 orang (40.8%). Data penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sun et.al (2017) yang menyatakan bahwa semakin meningkatnya asupan lemak makanan dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara. Gaya hidup modern yang mengandung terlalu banyak dan kelebihan asupan lemak, terutama lemak jenuh dapat meningkatkan mortalitas dan prognosis yang buruk pada pasien kanker payudara. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh tingkat sirkulasi estrogen yang lebih tinggi dilepaskan oleh jaringan adiposa pada wanita usia lanjut dengan IMT tinggi (Winters et al., 2017).

dilakukan di RSUD Achmad Arifin Provinsi Riau yang menunjukkan bahwa kasus yang obesitas hanya ditemukan sebanyak 5 orang (6.10%). Perbedaan tersebut kemungkinan dapat disebabkan oleh penimbangan berat badan dan tinggi badan yang dilaksanakan hanya saat penelitian atau saat pasien telah menderita kanker payudara yang berdampak kepada penurunan berat badan pasien karena pasien mengalami stress.

Tabel 4.8 Distribusi frekuensi sampel berdasarkan klasifikasi histopatologis.

Klasifikasi Histopatologis Jumlah (n) Persentase (%)

Duktal Invasif 65 91.5

Duktal in Situ 1 1.4

Lobular Invasif 4 5.6

Lobular in Situ 0 0

Tipe Lainnya 1 1.4

Total 71 100

Berdasarkan tabel 4.8 diperoleh bahwa tipe histopatologi kanker payudara yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini adalah duktal invasif yaitu sebanyak 65 orang (91.5%). Sementara itu, tipe histopatologi lobular in situ tidak ditemukan pada penelitian ini.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di RSUP Sanglah Denpasar yang mendapatkan hasil gambaran histopatologi terbanyak yaitu karsinoma duktal invasif sebesar 84% diikuti oleh karsinoma lobular invasif sebesar 10.60% dan karsinoma tipe lain ditemukan sebanyak 5.40%. Penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan di Malaysia yang juga menunjukkan hal serupa yaitu dengan gambaran karsinoma duktal invasif sebesar 89,7% dan karsinoma lobular invasif sebesar 3% serta penelitian yang dilakukan oleh Aizhan Abiltayeva dimana proporsi karsinoma duktal invasif sebesar 72,7%, tipe lobular 13,4%, dan tipe lain 13,8%. Hal tersebutkan disebabkan karena tumor ganas payudara jenis karsinoma duktal invasif memiliki faktor risiko yang kompleks, kanker jenis ini sangat berhubungan erat dengan pajanan hormon estrogen dan juga akibat adanya mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 (Suarfi et al., 2019).

Tabel 4.9 Distribusi frekuensi sampel berdasarkan derajat histopatologis.

Derajat Histopatologis Jumlah (n) Persentase (%)

Grade 1 12 16.9

Grade 2 45 63.4

Grade 3 14 19.7

Total 71 100

Berdasarkan distribusi frekuensi berdasarkan derajat histopatologis pada tabel 4.9, didapatkan bahwa sebagian besar pasien memiliki derajat histopatologis grade 2 yaitu sebanyak 45 orang (63.4%).

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di RS. Cipto Mangunkusumo yang menunjukkan bahwa berdasarkan derajat histopatologis ditemukan pasien dengan derajat sedang (grade 2) lebih sering dijumpai yaitu sebanyak 1053 kasus (40%) dibandingkan dengan pasien yang memiliki derajat keganasan rendah dan tinggi. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Minckwitz et al (2012), yaitu didapatkan derajat keganasan terbanyak adalah derajat sedang (grade 2), serta penelitian yang dilakukan di RSUP. H. Adam Malik periode 2017-2018 yang menyatakan bahwa pasien kanker payudara jenis duktal invasif yang terbanyak terdapat pada grade 2 yaitu sebanyak 42 pasien (51.2%).

Tabel 4.10 Distribusi frekuensi sampel berdasarkan status reseptor estrogen.

Reseptor Estrogen Jumlah (n) Persentase (%)

Positif 28 39.4

Negatif 43 60.6

Total 71 100

Berdasarkan tabel 4.10 diketahui bahwa dari 71 kasus kanker payudara di RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 2018-2019, sebagian besar pasien memiliki status reseptor estrogen negatif yaitu sebanyak 43 orang (60.6%) dan hanya ditemukan 28 orang (39;4%) dengan status reseptor estrogen positif.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di RSUP dr.

Kariadi Semarang yang menemukan bahwa sebanyak 314 pasien kanker payudara (70,4%) memiliki status hormonal reseptor estrogen negatif (Firasi dan Yudhanto, 2016). Prevalensi dari ekspresi reseptor estrogen positif pada pasien kanker

barat (Ahmed et al., 2011).

Reseptor estrogen merupakan suatu penanda biologi yang paling penting dalam kanker payudara. Ekspresi reseptor estrogen dapat menjadi suatu respon prediktif terhadap terapi hormonal sehingga meningkatkan prognosis terhadap penyakit kanker payudara. Tumor dengan reseptor estrogen negatif menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan dan proliferasi tumor yang lebih agresif serta angka kekambuhan yang tinggi (Sari et al., 2018). Prinsip aktivitas biologi dari estrogen yaitu mempengaruhi pertumbuhan, diferensiasi dan fungsi fisiologi pada beberapa organ reproduksi seperti kelenjar payudara, uterus dan ovarium (Rahman et al., 2012).

Tabel 4.11 Profil reseptor estrogen berdasarkan usia.

Usia Reseptor Estrogen Total

ER + ER -

26-45 tahun 8 (38.1%) 13 (61.9%) 21 (100%)

46-55 tahun 13 (41.9%) 18 (58.1%) 31 (100%)

≥ 56 tahun 7 (36.8%) 12 (63.2%) 19 (100%)

Total 28 (39.4%) 43 (60.6%) 71 (100%)

Berdasarkan tabel 4.11 dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berada pada kelompok usia 46-55 tahun memiliki status protein reseptor estrogen negatif yaitu sebanyak 18 orang (58.1%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Prastyo dan Nafiah (2019) yang menyatakan bahwa status hormonal reseptor estrogen negatif lebih banyak ditemukan yaitu pada wanita menopause dan post menopause.

Pasien kanker payudara dengan reseptor estrogen negatif cenderung memiliki derajat diferensiasi buruk. Secara umum, konsentrasi ER lebih rendah atau negatif pada wanita premenopause daripada post menopause (Payne et al., 2008).

Sedangkan pada wanita post menopause cenderung memiliki ER positif. Hal tersebut disebabkan karena semakin bertambahnya usia seseorang maka paparan estrogen yang dialami kemungkinan akan lebih banyak (Suparman, 2014).

Menurut asumsi peneliti, reseptor estrogen negatif lebih banyak ditemukan pada pasien di RSUD. Dr. Pirngadi Medan karena sebagian besar pasien merupakan

wanita premenopause dan dapat juga disebabkan oleh usia menarche dini yang mempengaruhi ekspresi protein reseptor estrogen.

Bertambahnya umur menjadi salah satu faktor risiko terjadinya kanker payudara, yang kemungkinan disebabkan oleh adanya pajanan hormonal dalam waktu lama terutama hormon estrogen dan juga degenerasi fungsi organ ataupun sel-sel tubuh serta ada pengaruh dari faktor risiko lain yang memerlukan waktu untuk menginduksi terjadinya kanker (Sihombing dan Sapardin, 2014). Anders et.al (2010) menyatakan bahwa kejadian kanker payudara pada usia 40 tahun ditemukan sebesar 40%, usia 30 tahun sekitar 20% dan pada usia 20 tahun hanya 2%. Penyebab terjadinya kanker payudara belum diketahui secara pasti, namun dasarnya adalah pertumbuhan sel yang tidak normal dalam kelenjar payudara (Sihombing dan Sapardin, 2014).

Tabel 4.12 Profil reseptor estrogen berdasarkan ukuran tumor.

Ukuran Tumor Reseptor Estrogen Total

ER + ER -

Tumor < 2 cm 7 (36.8%) 12 (63.2%) 19 (100%)

Tumor 2-5 cm 5 (23.8%) 16 (76.2%) 21 (100%)

Tumor > 5 cm 3 (37.5%) 5 (62.5%) 8 (100%)

Ukuran berapapun dengan ekstensi ke dinding

dada/ulserasi kulit

13 (56.5%) 10 (43.5%) 23 (100%)

Total 28 (39.4%) 43 (60.6%) 71 (100%)

Tabel 4.12 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki tumor dengan segala ukuran dengan ekstensi ke dinding dada/ulserasi kulit dengan status protein reseptor estrogen positif yaitu sebanyak 13 orang (56.5%).

Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Shaikh et al (2016) yang menunjukkan bahwa dari 118 kasus kanker payudara ditemukan mayoritas penderita kanker payudara dengan ukuran tumor berapapun dan terdapat ekstensi ke dinding dada/ulserasi kulit cenderung memiliki ekspresi protein reseptor estrogen positif. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sohail et.al (2020) yang menyebutkan bahwa penderita

estrogen negatif. Namun, penelitian ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik yang menunjukkan bahwa ekspresi reseptor estrogen negatif lebih banyak ditemukan pada ukuran tumor berapapun dengan ekstensi ke dinding dada/ulserasi kulit. Menurut asumsi peneliti, pasien di RSUD.

Dr. Pirngadi Medan memiliki status reseptor estrogen positif lebih banyak disebabkan oleh pengaruh reseptor estrogen yang merupakan reseptor intranuklear yang dapat mempengaruhi faktor transkripsi sehingga akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan sel ukuran tumor yang semakin besar seiring dengan peningkatan jumlah reseptor.

Menurut American Joint Committee on Cancer, klasifikasi TNM (Tumor, Nodul dan Metastasis) digunakan untuk mengkategorikan stadium tumor pada diagnosis primer. Status reseptor estrogen dianggap menjadi salah satu kriteria yang dapat diterima secara luas dan sebagai penentu dalam implikasi untuk terapi endokrin (Shaikh et al., 2016). Tumor dengan reseptor estrogen positif pada umumnya berdiferensiasi lebih baik dibandingkan dengan status reseptor estrogen negatif. Terapi hormonal adjuvan dianjurkan untuk semua wanita dengan ekspresi reseptor estrogen positif tanpa memandang usia, status menopause, derajat, stadium dan status kelenjar getah bening atau ukuran tumor.

Tabel 4.13 Profil reseptor estrogen berdasarkan metastasis kelenjar getah bening.

Metastasis KGB Reseptor Estrogen Total

ER + ER -

Tidak Ada 15 (36.6%) 26 (63.4%) 41 (100%)

Ke KGB aksila ipsilateral dapat digerakkan 10 (45.5%) 12 (54.5%) 22 (100%) Ke KGB aksila ipsilateral terfiksir,

berkonglomerasi

2 (66.7%) 1 (33.3%) 3 (100%)

Ke KGB infraklavikular

ipsilateral/supraklavikular dengan/tanpa metastasis KGB aksila/mamaria interna

1 (25%) 3 (75%) 4 (100%)

Tidak dapat dinilai 0 (0%) 1 (100%) 1 (100%)

Total 28 (39.4%) 43 (60.6%) 71 (100%)

Berdasarkan tabel 4.13 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien tidak mengalami metastasis kelenjar getah bening memiliki status protein reseptor estrogen negatif yaitu sebanyak 26 orang (63.4%).

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sohail et.al (2020) yang menunjukkan bahwa penderita kanker payudara yang tidak mengalami metastasis lebih banyak ditemukan memiliki ekspresi reseptor estrogen negatif. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bharti et.al (2020) yang menjelaskan bahwa dari 101 kasus kanker payudara diketahui sebanyak 58.41% kasus tidak mengalami mengalami metastasis kelenjar getah bening dan penurunan ekspresi reseptor estrogen positif sangat berkaitan dengan meningkatnya jumlah metastasis aksila. Namun, penelitian ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sofi et.al (2012) yang menjelaskan bahwa penderita kanker payudara yang tidak mengalami metastasis kelenjar getah bening cenderung memiliki ekspresi protein reseptor estrogen positif. Menurut asumsi peneliti, pasien lebih banyak tidak mengalami metastasis kelenjar getah bening disebabkan oleh keberadaan reseptor estrogen cenderung mendorong pada derajat keganasan dari penyakit, bukan terhadap terjadinya metastasis, sehingga pasien juga cenderung memiliki reseptor estrogen negatif karena derajat histopatologi yang ditemukan sebagian besar berdiferensiasi sedang hingga buruk.

Pada studi yang melibatkan 1075 kasus tumor <1 cm, menunjukkan bahwa pasien berusia dibawah 50 tahun memiliki risiko 7 kali lipat untuk mengalami metastasis ke kelenjar getah bening. Hal tersebut diduga karena pengaruh status hormonal, banyaknya faktor pertumbuhan yang memicu angiogenesis dan adanya mutasi genetik yang menyebabkan semakin muda usia saat didiagnosis kanker payudara, semakin rendah angka survival pada wanita diatas 40 tahun. Demikian pula dengan meningkatnya ukuran tumor, maka risiko metastasis kelenjar getah bening aksila juga meningkat (Wetan, 2019).

Metastasis Jauh Reseptor Estrogen Total

ER + ER -

Tidak Ada 20 (33.9%) 39 (66.1%) 59 (100%)

Ada 8 (66.7%) 4 (33.3%) 12 (100%)

Total 28 (39.4%) 43 (60.6%) 71 (100%)

Berdasarkan tabel 4.14 diperoleh bahwa sebagian besar pasien tidak mengalami metastasis jauh memiliki status protein reseptor estrogen negatif yaitu sebanyak 39 orang (66.1%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hoefnagel et al (2010) yang menunjukkan bahwa penderita kanker payudara yang tidak mengalami metastasis jauh lebih sering dijumpai memiliki ekspresi reseptor estrogen negatif dan yang mengalami metastasis jauh cenderung memiliki reseptor estrogen positif. Menurut asumsi peneliti, pasien di RSUD. Dr. Pirngadi Medan lebih banyak ditemukan memiliki prognosis yang buruk berdasarkan derajatnya sehingga juga cenderung memiliki reseptor estrogen negatif. Pasien juga sebagian besar tidak mengalami metastasis jauh disebabkan oleh penyebaran dan pertumbuhan sel kanker melibatkan banyak proses dan membutuhkan waktu yang lama.

Penyebaran metastasis menggambarkan interaksi kompleks yang melibatkan intravasasi tumor, sirkulasi, ekstravasasi, proliferasi dan angiogenesis. Metastasis paru-paru dan tulang telah dilaporkan dan status reseptor estrogen telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyebaran ke daerah tertentu. Meskipun pasien dengan reseptor estrogen negatif lebih minoritas pada penderita yang mengalami metastasis jauh, namun pasien memiliki prognosis jauh lebih buruk dibandingkan dengan yang memiliki reseptor estrogen positif. Hal tersebut dapat disebabkan oleh tingginya risiko peningkatan penyebaran kanker ke organ lainnya (Kennecke et al., 2010).

Tabel 4.15 Profil reseptor estrogen berdasarkan riwayat keluarga.

Riwayat Keluarga Reseptor Estrogen Total

ER + ER -

Tidak Ada 24 (40%) 36 (60%) 60 (100%)

Ada 4 (36.4%) 7 (63.6%) 11 (100%)

Total 28 (39.4%) 43 (60.6%) 71 (100%)

Tabel 4.15 menunjukkan bahwa status reseptor estrogen berdasarkan ada dan tidaknya riwayat keluarga keduanya dominan memiliki status reseptor estrogen negatif yaitu masing-masing sebanyak 7 orang (63.6%) dan 36 orang (60%).

Penelitian ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan di RSUD Dr.

Wahidin Sudirohusodo yang menunjukkan bahwa pasien kanker payudara baik tanpa ataupun adanya faktor risiko riwayat keluarga, keduanya lebih banyak memiliki status hormonal reseptor estrogen positif. Menurut asumsi peneliti, perbedaan hasil penelitian ini disebabkan oleh pasien di RSUD. Dr. Pirngadi Medan mengalami penyakit kanker payudara bukan karena adanya riwayat dari keluarga yang pernah menderita, namun disebabkan oleh faktor risiko lain seperti adanya paparan estrogen yang kronis sehingga reseptor mengalami downregulation sehingga juga mempengaruhi status reseptor estrogen cenderung ditemukan negatif.

Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor yang paling penting karena kanker dapat dipengaruhi oleh kelainan genetika. Beberapa keluarga memiliki

Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor yang paling penting karena kanker dapat dipengaruhi oleh kelainan genetika. Beberapa keluarga memiliki

Dokumen terkait