• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan 1. Struktur Novel Ibuk Karya Iwan Setyawan

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 77-82)

Unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Ibuk karya Iwan Setyawan antara lain: (1) tema, (2) penokohan, (3) alur, (4) latar, (5) sudut pandang. Unsur intrinsik tersebut merupakan hal utama yang membangun cerita dalam novel.

a. Tema

Melalui cerita pengarang dan dialog-dialog yang dilontarkan oleh para tokoh pada novel Ibuk, yang diangkat dengan tokoh Ibuk sebagai tokoh utama dalam novel ini bertemakan kesederhanaan dalam keprihatinan dan kerja keras. Keprihatinan dan kesederhanaan Ibuk dalam menjalani hidup sudah ia alami semasa kecil. Saat itu ia tidak dapat menamatkan SD dan ikut neneknya berjualan pakaian bekas di pasar. Saat beranjak dewasa dan memutuskan untuk menikah, keluarga Ibuk masih sangat dipenuhi dengan keprihatinan dan kesederhanaan. Kelima anak Ibuk mau tidak mau juga harus mengenyam keprihatinan dan kesederhanaan yang sama. Mereka diajarkan hidup mandiri, disiplin, dan penuh kerja keras. Usaha keras dan perjuangan keluarga mereka menuai sukses. Semua anak Ibuk dapat lulus SMA bahkan melanjutkan di bangku kuliah dan ada yang sampai S2. Tentu itu dengan perjuangan yang tidak mudah. Namun dengan kerja keras yang dilakukan para tokoh, akhirnya semua tujuan dapat tercapai dan sukses dapat diraih. Jadi, tema utama dalam novel Ibuk adalah sebuah kesederhanaan, keprihatinan, dan kerja keras demi menatap masa depan yang lebih baik. kesesuaian pendapat antara pengarang dengan penulis tentang tema novel Ibuk sejalan dengan pendapat Waluyo (2002:24-25) yang mengemukakan bahwa tema cerita bersifat objektif, lugas, dan khusus.

b. Penokohan

Terdapat delapan belas tokoh yang terlibat dalam penceritaan di novel Ibuk, karya Iwan Setyawan. Namun dari sekian tokoh yang ada, tokoh sentral atau tokoh utama hanya ada satu orang, yakni Tinah atau Ibuk. Tokoh ini sangat mempengaruhi jalannya cerita. Ibuk adalah tokoh yang selalu ditampilkan di

setiap bagian cerita. Selain itu ada enam tokoh yang berperan sebagai tokoh utama tambahan. Tokoh-tokoh tersebut yakni, Sim atau Bapak dan kelima anaknya, Isa, Nani, Bayek, Rini dan Mira. Mereka juga sebagai tokoh penentu jalannya cerita, namun keberadaannya tidak lebih penting dari tokoh Ibuk. Selain itu ada sebelas tokoh tambahan yang mendukung jalannya cerita. Hampir semua tokoh dalam novel Ibuk, berwatak protagonis. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Waluyo (2002:14) yang menyatakan bahwa tokoh sentral merupakan tokoh yang paling menentukan jalannya cerita.

c. Alur

Alur merupakan rangkaian jalannya cerita. Dalam novel Ibuk alur cerita disusun secara tidak teratur. Alur yang terjadi adalah alur campuran yakni maju dan mundur. Pada awal penceritaan, alur berjalan teratur dan maju, namun di tengah-tengah penceritaan, tokoh Ibuk kembali menceritakan kejadian yang sudah lampau yaitu saat ia menceritakan bagaimana proses pembangunan rumahnya dahulu kepada lima anaknya. Setelah cerita selesai, alur kembali menuju alur maju sampai akhir cerita.

Penjabaran alur dalam novel Ibuk, meliputi lima tahap plot yang menjalin sebuah cerita. Hal itu sependapat dengan Nurgiyantoro (2005:149-150) yang membagi alur menjadi lima bagian yaitu: (1) tahap situation; (2) tahap generating circimtances; (3) tahap rising action; (4) tahap climax; (5) tahap denouement.

d. Latar/Setting

Latar yang dilukiskan dalam novel Ibuk, meliputi tiga latar yaitu latar waktu, latar tempat dan latar sosial. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Nurgiyantoro (2005:227) yang membedakan latar ke dalam tiga unsur pokok yaitu latar waktu, latar tempat, dan latar sosial. Latar tempat pada mulanya terjadi di Kota Batu di jawa Timur dengan spesifikasi di pasar Batu, rumah Mbak Gik, pasar malam, SD Ngaglik, pegadaian, kelurahan, rumah sakit, toko sepatu, hutan bambu, pemakaman, Jakarta, Bogor di IPB, karawang, dan di NYC di kantor

Bayek, di apartemen, di jalanan kota. Latar waktu yang muncul antara lain pagi, siang, sore, malam, tanggal, hari, minggu, bulan, tahun, musim, sebelum ayam berkokok dan sehabis salat. Latar suasana yang ditampilkan yakni suasana khas pedesaan zaman dulu yang penuh dengan kesederhanaan dan juga suasana pedesaan di zaman masa kini.

e. Sudut Pandang

Sudut pandang dalam novel Ibuk menggunakan sudut pandang orang ketiga diaan, pengarang sebagai tokoh sampingan, yakni orang yeng bercerita dalam hal ini adalah tokoh sampingan yang menceritakan peristiwa yang bertalian terutaman dengan tokoh utama cerita. Sesekali peristiwa dalam penceritaan menyangkut dirinya sebagai pencerita. Cara penyampaiannya dengan sapaan “Aku” dalam menceritakan bagian yang menyangkut tentang dirinya, namun dalam novel ini tokoh aku tidak berinteraksi dengan tokoh lain, ia hanya menunjukkan dirinya sebagai bagian dari salah satu tokoh yakni Bayek. pada dasarnya tokoh aku sebagai orang ketiga yang mengamati peristiwa dari jauh tentang tokoh utama cerita.

2. Tanda-Tanda Semiotik Novel Ibuk Karya Iwan Setyawan

Dalam novel Ibuk, tanda-tanda yang ditemukan berupa representamen dan object yang meliputi qualisigns, sinsigns, legisign, ikon, indeks dan simbol. Qualisigns merupakan tanda yang berdasarkan suatu sifat. Dalam novel Ibuk ditemukan tanda ini yang berupa sifat warna, yakni warna putih yang sudah usang menunjukkan keprihatinan, warna putih yang berarti bersih dan berarti kebaikan, warna merah pada mata yang menunjukkan adanya kesedihan, dan warna merah pada wajah yang menunjukkan adanya perasaan malu.

Sinsigns merupakan penanda yang bertalian dengan kenyataannya. Sinsign dalam novel Ibuk, ditemukan berupa langkah kaki yang terburu-buru merupakan sebuah pernyataan individual yang tidak dilambangkan. Legisigns merupakan penanda yang bertalian dengan kaidah yang biasanya berupa gerakan atau

isyarat. Dalam novel Ibuk, ini ditemukan beberapa tanda itu seperti gelengan kepala yang bermakna “tidak” atau “belum”, muka yang muram dan cemberut yang bermakna kesal, juga sbuah jabatan tangan yang berarti penerimaan seseorang terhadap orang lain.

Ikon dalan novel Ibuk, ini ditemukan dalam bentuk foto, yakni foto Bayek. Foto merupakan ikon karena foto merupakan penanda yang serupa dengan bentuk objeknya. Indeks merupakan sebuah tanda yang merupakan sebab-akibat. Dalam novel Ibuk, ini ditemukan tanda indeks berupa asap yang menandakan adanya api, dan sebuah uap yang menyerupai asap yang keluar dari mulut yang menandai bahwa ada suhu udara yang begitu dingin. Simbol ditemukan paling banyak, simbol kesedihan dan rasa haru ditandai dengan air mata, simbol kebahagiaan ditandai dengan bunga dan cahaya, simbol yang menunjukkan waktu ditandai dengan kokok ayam dan matahari, simbol kegugupan ditandai dengan keringat dingin dan tarikan napas panjang, simbol perpisahan ditandai dengan sebuah ciuman dan air mata, simbol usia yang sudah tua ditandai dengan rambut yang penuh uban dan simbol kekecewaan yang ditandai dengan tundukan kepala.

3. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Ibuk Karya Iwan Setyawan a. Nilai Pendidikan Agama/Religius

Dalam novel Ibuk, nilai pendidikan yang dapat diambil yaitu diajarkan untuk selalu berdoa, apapun keadaannya baik itu sedih gembira, senang ataupun susah, selalu taat menjalankan perintah agama di manapun kita berada, senantiasa bersyukur atas anugerah Tuhan, karena hanya dengan pertolongan Tuhan, keselamatan hidup kita terjamin, dan juga berbakti pada orang tua, karena bakti pada orang tua adalah salah satu cara menghormati Tuhan.

b. Nilai Pendidikan Moral

Dalam novel Ibuk, nilai moral yang dapat dipetik yakni tentang kesederhanaan, kesadaran diri, kerja keras, meminta restu pada orang tua,

keteguhan hati dan komitmen, tanggung jawab dan keprihatinan. Itu semua merupakan perbuatan moral yang patut untuk dicontoh. Kesederhanaan sangat penting diterapkan dalam masyarakat, dengan bersikap sederhana dan tidak berlebihan, hidup akan menjadi lebih bersahaja. Kesadaran diri, kerja keras , keteguhan hati dan komitmen membuat kita belajar akan perjuangan untuk menggapai tujuan dan sukses yang diinginkan dan membuat kita lebih menjadi pribadi yang bertanggung jawab, dan yang paling utama adalah meminta restu pada orang tua, karena orang tua adalah tumpuan bagi anak-anaknya.

c. Nilai Pendidikan Sosial

Nilai pendidikan sosial yang dapat dipetik dalam novel Ibuk antara lain adalah kepedulian terhadap sesama, saling membantu sesama manusia, saling menghargai sesama manusia. Manusia adalah makluk sosial, sehingga dalam menjalani hidupnya tidak dapat sendiri. Manusia selalu membutuhkan bantuan orang lain. Saling membantu sesama manusia adalah salah satu perbuatan yang mencerminkan sifat sosial sebagai manusia, dimana siapapun saja dianjurkan untuk saling membantu, juga kepeduliah terhadap sesama. Manusia harus mempunyai rasa kepedulian terhadap sesama, karena kita hidup di dunia memang terdiri dari beragam suku, ras, agama, dan budaya, dengan saling memahami, maka akan terhindar dari segala perselisihan dan akan tercermin sikap saling menghargai sesama manusia.

d. Nilai Pendidikan Budaya

Nilai-nilai budaya daerah memang perlu untuk dilestarikan selagi budaya itu baik dan tidak menyalahi aturan-aturan keagamaan. Nilai budaya yang diangkat dalam novel ini yaitu budaya masyarakat jawa zaman dahulu yaitu gadis yang berumur tujuh belas tahun harus segera menikan, namun saat ini, agaknya budaya itu sudah tidak banyak yang menerapkan, dan hanya di bagian-bagian daerah yang masih sangat primitif dan pandangan orang-orang tertrntu. Selain itu adalah budaya selamatan yang dilakukan untuk mengucap

syukur karena telah mendapatkan anugerah dari Tuhan. Hal yang patut untuk diteladani yakni kita harus selalu mengucap syukur atas segala anugerah yang diberikan Tuhan.

4. Kesesuaian Novel Ibuk, Karya Iwan Setyawan sebagai Materi Pembelajaran Apresiasi Sastra di SMA

Penyusunan materi pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tidak terlepas dari kurikulum, karena kurikulum adalah acuan yang menjadi pedoman guru untuk menentukan pokok-pokok materi yang akan diberikan pada siswa. Kurikulum yang berlaku saat ini adalah kurikulum 2013. Kurikulum ini masih sangat baru. Dalam kurikulum ini, pembelajaran sastra mendapatkan porsi yang lebih kecil dibandingkan pembelajaran bahasa. Sehingga guru harus pandai-pandai untuk memberikan pembelajaran sastra semaksimal mungkin. Dalam pembelajaran sastra di kelas XII kegiatan siswa meliputi memahami strukur dan kaidah teks novel, membandingkan teks novel, menganalisis teks novel, mengevaluasi teks novel berdasarkan kaidah-kaidah, menginterpretasi teks novel, memproduksi teks novel, menyunting teks novel, dan mengonversi teks novel ke dalam bentuk lain.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 77-82)

Dokumen terkait