• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanda-tanda Semiotik dalam Novel Ibuk, Karya Iwan Setyawan

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 38-51)

Sesuatu dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain. Hal itu sejalan dengan pendapat Mukarovsky yang menyebutkan karya sastra khususnya dan karya seni umumnya sebagai fakta semiotik. Dalam novel Ibuk, karya Iwan Setyawan ini banyak ditemukan tanda-tanda yang mewakili makna yang akan disampaikan oleh pengarang. teknik analisis tanda menggunakan teknik heuristik dan hermeneutik. Tanda-tanda tersebut terlihat dalam kutipan berikut.

a. Kajian Secara Fisik 1. Sampul

Sampul novel Ibuk, berwarna cokelat dengan motif batik yang sedikit samar-samar, dan bergambarkan seorang perempuan dengan pakaian batik, juga dipenuhi tulisan-tulisan tegak bersambung yang tidak beraturan. Perempuan itu digambarkan sederhana dengan rambut digelung di belakang. Terlihat perempuan itu sedang meracik sesuatu, seperti sedang memasak. Perempuan itu mengilustrasikan seorang Ibu.

Judul novel itu tertulis “ibuk,”. Di sini ibu adalah seseorang yang telah melahirkan seorang anak. Dalam novel ini, seorang ibu tersebut dipanggil dengan “Ibuk” karena pada umumnya orang jawa yang bahasa kesehariannya menggunakan bahasa jawa glotalnya sangat terlihat, sehingga sebutan ibu menjadi Ibuk. Sampul Novel Ibuk, sederhana tapi memikat, representasi dari isi novelnya. Jenis font dan jarak antar paragraf yang pas membuat nyaman untuk membacanya.

b. Analisis Unsur Representamen, Object, dan Interpretant

1. Representamen, ground, tanda itu sendiri, sebagai perwujudan gejala umum:

a. Qualisigns, terbentuk oleh kualitas, tanda ini berdasarkan suatu sifat, sebagai contoh adalah sifat dari warna. Hal itu nampak dalam kutipan berikut.

Baju putihnya yang usang tak mengurangi ketampanannya (Setyawan, 2012:4)

Seragam putih Isa tak terlihat putih lagi (Setyawan, 2012:55) Dari kutipan di atas ditampilkan sebuah tanda baju putih yang tak lagi berwarna putih dan sudah usang. Hal itu menunjukkan betapa baju putih itu sudah tidak baru lagi dan warnanya sudah berubah. Tanda ini identik dengan keprihatinan, dimana tokoh tersebut tidak dapat membeli baju yang baru, yang berwarna lebih cerah. Warna putih biasanya diidentikkan juga dengan kebaikan, kebersihan dan kesucian. Hal itu nampak dalam kutipan berikut.

Dan Ngatinah, seorang gadis desa yang lugu dan berhati putih, telah memberikan hatinya menjadi seorang istri (Setyawan, 2012:26).

Dalam kutipan di atas disebutkan Ngatinah adalah seorang yang berhati putih, yang dimaksudkan putih di sini adalah sebuah tanda bahwa Ngatinah mempunya hati yang bersih, baik dan suci, hal itu dapat menjelaskan bahwa Ngatinag adalah orang yang tidak neko-neko. Warna merah juga mempunya tanda tertentu. Warna merah biasanya diidentikkan dengan beberapa hal, seperti keberanian, kemarahan, ketegasan, dan perasaan cinta. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.

Ah, matanya memerah. Uangnya belum cukup untuk membayar buku dan kalender Bayek (Setyawan, 2012:62).

Warna merah pada mata berarti menandakan ada sesuatu yang sedang dirasakan, dalam kutipan di atas, Ibuk tidak dapat mengambil rapor Bayek karena uangnya belum cukup, hal itu membuat matanya memerah yang menandakan ada kesedihan yang mendalam dan menahan untuk

menangis. Warna merah pada wajah sering diidentikkan dengan perasaan marah dan malu. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut

Tinah duduk di kursi rotan dekat Mbok Pah yang segera memberi isyarat agar ia menjabat tangan Sim. Keringat dingin Sim menempel di tangan Tinah. Wajah Tinah sedikit memerah. Mulutnya terkunci (Setyawan, 2012:8)

Dari kutipan di atas, dapat dijelaskan bahwa tanda yang dapat di ambil dari muka Tinah yang merah adalah Tinah sedang merasakan perasaan malu dan tersipu. Perasaan malu Tinah dari kutipan di atas dikarenakan gejolak perasaannya yang saat itu dia masih remaja dan ada seorang lelaki yang sedang mengunjunginya. Hal itu membuat perasaan Tinah menjadi gugup sehingga mukanya memerah.

b. Sinsigns, tokens, terbentuk melalui realitas fisik. Sebuah tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.

Jalannya sedikit terburu-buru menuju warung langganan yang terletak sekitar lima kios dari kios kecil Mbok Pah (Setyawan, 2012:4-5)

Tanda dalam kutipan di atas dapat dilihat dalam langkah Sim yang terburu-buru menuju warung langganannya. Tanda itu mempunyai makna bahwa Sim ingin segera sampai di warung langganannya untuk sarapan karena ia sudah lapar.

c. Legisigns, types, merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi, dan sebuah kode. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.

“Nah, kamu sudah pernah nonton film belum?” Tanya Sim sebelum pulang.

Tinah menggelengkan kepala sambil menyenderkan badan di sudut pintu ruang tamu (Setyawan, 2012:13).

Tanda yang diperoleh dari kutipan di atas yakni saat Tinah menggelengkan kepala. Menggelengkan kepala sering dilakukan untuk mengungkapkan pernyataan “tidak” atau “belum”. Hal itulah yang ingin diungkapkan oleh Tinah kepada Sim, bahwa ia belum pernah menonton film. Tanda fisik yang lain dapat dijumpai dalam kutipan berikut.

Muka Bayek semakin muram (Setyawan, 2012:90).

Muka bayek cemberut, matanya memandang jauh ke malam yang makin larut. (Setyawan, 2012:91).

Tanda yang diperoleh dari kutipan di atas yakni muka yang muram dan cemberut. Muka yang muram dan cemberut mempunya makna sebuah masalah telah terjadi pada diri tokoh, dan itu membuatnya marah atau kesal. Hal itu juga yang nampak pada tokoh Bayek yang keinginannya tidak terpenuhi sehingga membuat ia merasa kesal, dan terlukiskan dengan tanda pada wajahnya yang terlihat muram dan cemberut. Sebuah tanda juga merupakan isyarat, seperti berjabat tangan, hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.

Tinah duduk di kursi rotan dekat Mbok Pah yang segera memberi isyarat agar ia menjabat tangan Sim (Setyawan, 2012:8).

Tanda yang tergambar dalam kutipan di atas adalah berjabat tangan. Berjabat tangan adalah sebuah tanda bahwa tokoh tersebut menghormati seseorang. Berjabat tangan biasanya diartikan dengan makna penerimaan, yakni bahwa seseorang diterima dengan baik oleh orang lain.

2. Object (designatum, denotatum, referent), yaitu apa yang diacu:

a. Ikon, Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara penanda dengan petandanya.

Selepas menerima telepon dari Bayek, Ibuk masuk ke kamar. Ia duduk sebentar di sudut ranjang kemudian mencari foto Bayek di bawah tumpukan baju di lemari tua. Matanya masih basah. Beberapa menit kemudian, Ibuk kembali ke ruang tamu,

membawa foto wisuda Bayek dan ditaruhnya di atas TV. Matanya kini sembab (Setyawan, 2012:144).

Dari kutipan di atas, foto merupakan sebuah penanda yang serupa dengan bentuk objeknya.

b. Indeks, Indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausal (Sebab-akibat) antara penanda dan petandanya. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.

Asap mengepul di atas dapur rumah bambu Mak Gini dan Bapak Mun (Setyawan, 2012:53).

Asap dari dapur masih mengepul di sela-sela genting dan dinding rumah (Setyawan, 2012:55).

Dari kutipan di atas yang merupakan tanda adalah adanya asap. Adanya asap berarti menandakan adanya api. Dari kutipan di atas menandakan di rumah Mak Gini sedang ada aktivitas menggunakan api yaitu memasak.

Mereka bermain-main dengan abab, uap udara yang diembuskan dari mulut mereka, yang bergumpal keluar seperti kabut kecil. Rini bahkan menirukan gaya Bapak yang sedang merokok.

“Tuh, asap keluar juga dari mulutku,” khayal Rini (Setyawan, 2012:55-56).

Dari kutipan di atas, asap yang keluar dari mulut juga menandakan suatu makna yakni bahwa daerah tempat tinggal para tokoh merupakan daerah yang sangat dingin, hingga mengakibatkan uap yang menyerupai asap keluar dari mulut.

c. Simbol, Simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya, hubungannya bersifat arbitrer atau mana suka. Tanda-tanda yang merupakan simbol seperti dalam kutipan berikut, seperti bendera.

“Ibuk hampir lupa! Ketika membangun rumah ini, Ibuk mendapat wejangan dari wong pinter di Gang Buntu (Setyawan, 2012:79).

Dia sudah punya kios sendiri buat jualan tempe, loh. Wis mateng wong-e (Setyawan, 2012:3).

Dari kutipan di atas sebuah tanda dengan menggunakan kata “mateng” yang berarti sudah masak dan “pinter” yang berarti pintar, dalam hal ini seseorang yang dikatakan mateng berarti sudah mapan. Sudah mempunyai pekerjaan dan penghasilah tetap. Kata “pinter” dalam bahasa jawa yang berarti orang yang pintar. Makna yang ingin disampaikan bukanlah orang yang mempunyai kemampuan akademik yang baik, namun makna yang terkandung dalam ungkapan “wong pinter” adalah seseorang yang dianggap mempunyai ilmu mistis dan dapat menyembuhkan beberapa penyakit tanpa melalui langkah medis. Sebuah air mata yang menetes dari mata juga merupakan sebuah simbol yang mengisyaratkan sebuah tanda, hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.

“Mbah, bagaimana kalau Bayek tidak bangun sampai Zuhur?” Tanya Ibuk. Air mata Ibuk menetes di pipi Bayek (Setyawan, 2012:84)

Ada air mata di sudut mata Bayek. Ia diam. Hening di ruang tamu. Bayek dan kakak adiknya tahu bagaimana Bapak dulu bekerja keras dari hari ke hari untuk membeli angkot itu (Setyawan, 2012:134).

Ibuk menyelamatkan kami. Aku ingin ibuk bahagia, ikrar Bayek. matanya berkaca-kaca di depan layar komputer tempatnya bekerja (Setyawan, 2012:143).

Beberapa keluarga korban terlihat diwawancarai di TV. Air mata mulai menggenang di sudut mata Ibuk. Nani mengelus-elus pundak Ibuk (Setyawan, 2012:160).

“Yek, gimana Bapakmu?” Tanya Ibuk kepada Bayek yang baru nyekar ke makam Bapak.

“Bapak kangen Buk. Pingin ngurusi cucu lagi,” kata Bayek bercanda. Ibuk dan Bayek tersenyum tapi mata mereka berkaca-kaca (Setyawan, 2012:283).

Dari kutipan di atas, air mata merupakan sebuah tanda yang mempunyai makna suatu kesedihan. Para tokoh mengekspresikan kesedihan mereka dengan air mata. Sebuah elusan pada pundak juga menandakan kepedulian seseorang terhadap seseorang yang tengah mengalami kesedihan. Sebuah senyuman yang dibarengi dengan air mata ternyata juga belum cukup untuk menutupi kesedihan itu. Walaupun Ibuk dan Bayek tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca karena air mata, itu merupakan kesedihan yang berusaha mereka tutup-tutupi dengan sebuah senyuman. Air mata ternyata tidak selalu bermakna kesedihan. Sebuah perasaan haru juga sering diekspresikan dengan air mata. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut

Air mata Ibuk menetes mendengar tangis bayi pecah (Setyawan, 2012:31).

“Aku barusan transfer buat bangun rumah kita Buk”. Air mata Ibuk mengalir di tengah kebahagiaan, “Le, jangan banyak-banyak.” (Setyawan, 2012:175-176).

Dari kutipan di atas menunjukkan air mata merupakan sebuah tanda yang menunjukkan rasa keharuan. Rasa haru juga sering diluapkan dengan air mata. Sebuah keadaan yang menunjukkan waktu juga sering disimbolkan dengan berbagai tanda alam. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.

Matahari perlahan muncul dari balik Gunung Semeru dan terangnya mulai mewarnai tubuh Gunung Arjuno yang gagah (Setyawan, 2012:39).

Ayam mulai berkokok. Cahaya matahari menyelinap melalui jendela di dapur yang telah Ibuk buka sebelum azan Subuh berkumandang (Setyawan, 2012:40).

Sebelum ayam berkokok, Bapak sudah terbangun (Setyawan, 2012:69).

Warna pagi mulai merona di balik Gunung Semeru (Setyawan, 2012:69).

Hujan belum reda. Matahari mulai merangkak ke ufuk barat hendak tenggelam tapi sinarnya masih kelihatan di balik awan yang mulai gelap (Setyawan, 2012:76).

Bapak kemudian menghidupkan TV hitam putih di ruang tamu tapi yang ada tinggal lagu “Indonesia Raya” (Setyawan, 2012:69).

Dari beberapa kutipan diatas mengandung tanda-tanda yang bermaksud menunjukkan suatu makna berupa waktu, seperti matahari mulai muncul merupakan tanda pagi hari telah datang, ayam mulai berkokok merupakan sebuah tanda yang bermakna hari hampir pagi, warna pagi mulai merona bermakna bahwa matahari mulai terbit dan menandakan pagi telah datang, juga matahari mulai merangkak ke ufuk barat berati menandakan bahwa matahari mulai tenggelam dan hari mulai malam, sedangkan tanda yang terakhir yakni sebuah TV tinggal memutar lagu Indonesia Raya menyampaikan makna bahwa malam telah larut. Sebuah simbol kebahagiaan juga diungkapkan melalui tanda-tanda sebagai ekspresi kebahagiaan. Tanda-tanda tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut.

“Bapak Mun, jatah yang kemarin belum dikasih ya? Jadi jatah hari ini dobel!” seru Bayek dengan wajah berbunga-bunga (Setyawan, 2012:113).

Matanya bersinar-sinar melihat kedua anaknya makan dengan lahap (Setyawan, 2012:47).

“Wah, gak percaya Isa bisa masuk SMA!” ucap ibuk dengan Bangga. Wajah Ibuk merekah. Satu jalan terjal telah ia lalui bersama Bapak (Setyawan, 2012:121).

Dari beberapa kutipan di atas terdapat tanda-tanda sebagai ekspresi ungkapan kebahagiaan, seperti wajah yang berbunga-bunga, wajah yang merekah dan mata yang bersinar. Kebahagiaan sering

disimbolkan dengan hal-hal yang indah, seperti bunga yang sedang merekah, dan sebuah sinar. Sebuah tanda yang menunjukkan perjuangan juga dijumpai dalam novel Ibuk. Seperti terlihat dalam kutipan beikut.

Membesarkan lima orang anak membutuhkan napas yang panjang (Setyawan, 2012:37-38).

Selama menjadi sopir pribadi, Bapak lebih bisa bernapas (Setyawan, 2012:95).

Hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian, dan keraguan. Akan penuh dengan perjuangan. Dan itu yang akan membuat rumah indah (Setyawan, 2012:79). Dari kutipan di atas tanda-tanda yang dimunculkan yaitu napas. Napas yang panjang disini mempunyai makna perjuangan yang tidak mudah, jadi dalam membesarkan lima orang anak dengan keadaan ekonomi yang tidak menentu, membuat Ibuk dan Bapak melalui perjuangan yang tidak mudah. Begitu juga dalam kutipan kedua, bernapas dalam kutipan itu bermakna bahwa Bapak bisa sedikit longgar. Tenaganya tidak terkuras di jalanan seperti saat menjadi sopir angkot. Bapak bisa sedikit bersantai. Pada kutipan yang terakhir, makna yang ingin disampaikan melalui tanda hidup adalah membangun rumah untuk hati yakni, sebuah kehidupan adalah perjalanan untuk mengarungi hidup. Selalu ada senang, sedih, duka, bahagia, dan kekecewaan. Namun itu semua adalah sebuah cambukan yang akan membuat hati lebih tabah menerima segala keadaan dan membuat hati kita semakin kokoh bagaikan membangun sebuah rumah. Tanda-tanda yang dimunculkan sebagai sebuah ungkapan dalam mengarungi kehidupan juga terlihat dalam kutipan berikut.

Bukan hanya nasi goreng, mereka juga berbagi hati (Setyawan, 2012:96).

Lima orang anak pada suatu pagi. Kicau burung pun tak terdengar. Sebuah pesta kehidupan yang dipimpin seorang perempuan sederhana tapi perkasa (Setyawan, 2012:42).

Dari kutipan di atas makna dari ungkapan berbagi hati adalah berbagi kasih sayang. Kata hati sering diidentikkan dengan sebuah kasih sayang dan perasaan. Pada kutipan kedua makna yang ingin disampaikan dari ungkapan “sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh perempuan sederhana tapi perkasa” yakni, sebuah perjalanan kehidupan sebuah rumah tangga yang beranggotakan tujuh orang dengan tokoh Ibuk sebagai ibu rumah tangga yang bertanggung jawab terhadap kelima anak-anaknya, walaupun ia adalah seorang ibu yang sederhana, namun juga merupakan perempuan yang perkasa karena mampu bertahan di tengah gejolak perekonomian keluarga yang terus menghimpit. Sebuah tanda juga digunakan untuk mengungkapkan perpisahan. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.

“Nah, Nah, ke sini Nah. Ambungen aku, Nah…,” kata Bapak terbata-bata setelah melihat foto-foto itu (Setyawan, 2012:268). “Ni, Ni…itu foto siapa di sampul buku Yasin?” Tanya Bapak setelah mereka membaca Yasin.

“Ni, pasang foto bapak ya nanti…,”kata Bapak dengan lirih (Setyawan, 2012:268).

Rini bangun kembali untuk memeriksa Bapak. Tangannya masih memegang tangan Bapak. Ia melihat wajah Bapak. Ada air mata yang meleleh di mata kiri Bapak. Rini kemudian memerikasa napasnya. Bapak yang tidur di sampingnya sudah tidak bernapas lagi…(Setyawan, 2012:271).

Kutipan-kutipan di atas mengandung tanda-tanda yang diungkapkan sebagai makna perpisahan. Pada kutipan pertama, Bapak yang meminta Ibuk untuk menciumnya, itu merupakan ungkapan perpisahan dari Bapak, kerena saat itu Bapak sedang sakit keras, dan ia

merasa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Kutipan kedua juga menandakan bahwa Bapak merasa umurnya tidak akan lama lagi, yakni dari permintaannya pada anaknya untuk memasang fotonya pada buku Yasin. Kutipan di atas juga mengandung makna perpisahan yang menandakan sebuah kesedihan, yakni saat Bapak sudah tidak bernapas yang berarti menandakan bahwa Bapak sudah meninggal, dan air mata di sudut kiri matanya menandakan perpisahan dengan keluarganya dalam kesedihan. Sebuah simbol berupa tanda-tanda juga dimunculkan pengarang dalam kutipan-kutipan berikut ini.

Kusaksikan tangan-tangan politik mulai kotor, meraih kemenangan demi kepentingan sendiri. Pemimpin saling berebut nasi (Setyawan, 2012:106).

Makna yang terkandung dalam kutipan di atas yakni tangan-tangan politik yang kini sudah dipenuhi dengan kejahatan yang dilambangkan dengan kata “kotor”, kejahatan berupa korupsi, dan kejahatan lainnya, juga para pemimpin bangsa yang saling berebut kekuasaan yang dilambangkan dengan berebut nasi, yakni nasi diibaratkan sebagai sumber penghidupan. Simbol yang menunjukkan usia juga nampak dalam kutipan berikut.

Bapak Mun yang rambutnya telah dipenuhi uban baru bisa menikmati makan siang setelah membagikan uang jajan kepada cucu-cucunya (Setyawan, 2012:114).

Dari kutipan di atas, Bapak Mun digambarkan sebagai seseorang yang rambutnya sudah dipenuhi uban. Rambut yang penuh uban berarti menyimbolkan seseorang yang sudah tua. Data itu diperkuat dengan pernyataan pengarang yang menyebutkan cucu Bapak Mun. Novel Ibuk, juga menampilkan sebuah tanda yang mewakili perasaan gugup. Hal itu nampak dalam kutipan berikut.

Bayek mulai bertanya, bagaimana kalau aku adalah mereka? Keringat dingin pun menetes. Di Batu orang tak pernah mati sendiri! pikir Bayek (Setyawan, 2012:200).

“Yek, how can I say this,” kata Rachel sambil menarik napas panjang. Mata Bayek terperangah. Jarang-jarang Rachel bicara seserius ini (Setyawan, 2012:212).

Dari kutipan di atas, sebuah tanda yang dialami tokoh berupa keringat dingin yang muncul merupakan keadaan di mana seseorang sedang gugup dan dalam ketakutan. Hal itulah yang dialami tokoh Bayek bahwa ia sedang dalam keadaan gugup dan ketakutan karena cerita dari rekan-rekan kerjanya tentang kematian karena bunuh diri. Kegugupan juga dialami tokoh Rachel, kali ini ia menandakan kegugupannya dengan sebuah tarikan napas panjang. Hal itu ia lakukan karena ada sebuah pembicaraan yang membuatnya tidak tahu harus dengan cara apa untuk mengungkapkannya. Hal itulah yang membuat Rachel menjadi gugup. Sebuah tanda berupa kekecewaan juga nampak dalam kutipan berikut.

Di sesi terapi pertama, Bapak diantar ke dokter dengan kursi roda. Wajahnya selalu menunduk selama perjalanan menuju mobil, dari rumah ke Gang Buntu (Setyawan, 2012:265).

Dari kutipan di atas sebuah tanda yang dimunculkan yaitu berupa tundukan kepada Bapak. Bapak menundukkan kepala karena ia merasa kecewa. Ia yang dulu gagah dan sebagai pejuang dalam keluarga, kini harus menyerah duduk di kursi roda. Pengarang dalam novel ini juga menyuguhkan sebuah puisi yang sarat makna. Berikut adalah kutipan puisinya.

Sajak Musim Gugur

Malam-malam berguguran… Kenangan berguguran… Hanya sajak ini yang tumbuh

Kau selalu berdiri, ketika matahari mengoyak langit Ketika panas, mengoyak-ngoyak hidup!

Kau pernah ajak aku berjalan

Melalui pagi dan senja, berbasah hujan Melalui kali. Luka dan suka mengalir di sana Tanpa jeda

Bertahan! Kau harus bertahan…

Jangan gugur sebelum musim dingin tiba Ini kuberikan napasku!

(Setyawan, 2012:264).

Makna keseluruhan yang ingin disampaikan pengarang dalam puisinya adalah sebuah puisi yeng bertemakan kesedihan. Judul “Sajak Musim Gugur” dipilih karena musim gugur sering diidentikkan dengan sebuah kesedihan dan kepiluan. Diceritakan, puisi itu dibuat oleh tokoh Bayek saat Bapak tengah sakit keras, dan saat itu ia harus meninggalkan rumah untuk suatu pekerjaan. Bait pertama bermakna hari-hari yang dilewati penuh dengan kesedihan, kenangan-kenangan menyisakan kesedihan, hanya puisi ini yang membuatnya indah. Bait kedua ingin mengungkapkan bahwa Bapak adalak laki-laki yang kuat, yang selalu berdiri melawan rintangan dan kesulitan yang diibaratkan dengan ungkapan “matahari mengoyak langit, katika panas mengoyak hidup”. Bait ketiga juga menceritakan bagaimana perjuangan Bapak sebagai kepala rumah tangga yang mengajarkan anak-anaknya untuk hidup dalam perjuangan untuk menghadapi permsalahan-permasalahan hidup yang semakin kompleks, yang dalam puisi dilukisakan dengan berbasah hujan dan luka. Pada bait terakhir, berisi harapan Bayek agar Bapak dapat bertahan dalam sakitnya, jangan sampai meninggal sebelum Bapak merasakan kebahagiaan, dan ia akan selalu memberikan kasih sayang dan cintanya pada Bapak yang diungkapkan dengan kata-kata “ini kuberikan napasku”.

3. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Ibuk, Karya Iwan Setyawan a. Nilai Pendidikan Religius

Nilai religius merupakan nilai yang mengarah pada Ketuhanan. Nilai religius ini sangat berhubungan dengan agama dan kepercayaan. Karena agama merupakan suatu keyakinan atau kepercayaan yang dianut oleh seseorang dan seseorang tersebut menjadikannya sebagai pegangan dalam hidup. Nilai keagamaan ini akan menuntun manusia ke arah kehidupan yang lebih baik dan menyelaraskan kehidupan manusia. Nilai-nilai religius merupakan tuntunan dalam mengarungi hidup. Karya sastra merupakan hasil

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 38-51)

Dokumen terkait