BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Meski terkesan datar, novel Ibuk, merupakan novel sederhana yang menginspirasi bagi pembacanya. Tidak hanya menitikberatkan perjuangan seorang ibu, tetapi juga perjuangan sebuah keluarga untuk terus berjuang tanpa mengenal putus asa. Adalah Tinah yang kelak menjadi ibu yang luar biasa bagi kelima anaknya, Isa, Nani, Bayek, Rini dan Mira. Bayek, anak laki satu-satunya dalam keluarga itu kelak akan mengubah nasib. Tidak hanya nasib dirinya sendiri. Tapi juga nasib Ibuk, Bapak, dan semua saudara perempuannya.
Bayek anak ketiga dari lima bersaudara, hasil perkawinan antara gadis desa yang lugu si Tinah dan Sim sang playboy pasar. Tinah dan Sim berasal dari keluarga yang sederhana. Karena cinta mereka yang kuat, mereka berani melakukan pelayaran hidup bersama Isa, Nani, Bayek, Rini dan Mira. Tinah yang berperan sebagai Ibuk selalu merelakan apapun demi kebahagian keluarga sederhana mereka. Begitu pula dengan Bapak yang selalu gigih membanting tulang untuk menghidupi anak-anak dan istrinya. Keluarga sederhana itu tidak pernah mengeluh atas kekurangan mereka. Walaupun hanya dengan nasi goreng terasi, tempe dan empal seadanya, anak-anak Ibuk terus tumbuh menjadi anak yang mandiri, pintar dan begitu memaknai arti kehidupan mereka yang seadanya.
Waktu kecil, Ibuk berhenti sekolah karena jatuh sakit. Ibuk pun tak tamat SD. Begitu pula dengan Bapak, Bapak hanya mengenyam pendidikan sampai SMP. Hal ini membuat Ibuk bertekad untuk mengubah takdir anak-anaknya kelak. Ibuk ingin anak-anaknya sekolah sampai jenjang yang lebih tinggi, sampai sarjana. Tidak seperti kedua orangtua mereka yang berpendidikan rendah. Ibuk berusaha menjadi yang terbaik untuk kelima anaknya. Ibuk selalu memasak di dapur kecil mereka tiap hari. Suatu ketika, Ibuk memandang dapur rumah. Dapur ini penuh jelaga. Begitu juga kehidupan, namun anak-anak Ibuk telah menerangi hidup Ibuk. Mereka adalah
harta Ibuk. Kini saatnya, semua yang keluar dari rahim Ibuk hidup bahagia tanpa jelaga. Hingga di suatu pagi yang cerah, ketika matahari dengan hangat menyinari bumi dan awan-awan tampak cantik di tempatnya, Ibuk bertemu dengan Mbah Carik. Nenek tua yang dipercaya sebagai orang pintar. Mbah Carik melihat Bayek, anak laki-laki Ibuk satu-satunya berjalan di belakang Ibuk seraya berkata “Nah, sabar, sekarang hidupmu susah. Kelak anak lanangmu itu yang membahagiakan keluarga kalian”.
Pekerjaan Bapak adalah menarik angkot. Dengan ketekunan Ibuk menyisihkan uang, akhirnya keluarga Bayek dapat membeli angkot tua sendiri. Namun, angkot tua itu ternyata mendatangkan kesusahan. Uang yang harusnya dapat disetor Bapak untuk belanja Ibuk, malah habis untuk membetulkan kerusakan-kerusakan yang terus muncul di angkot tua itu. Keadaan itu membuat Ibuk sedih dan menangis sesenggukan. Melihat Ibuk seperti itu, Bayek pun berjanji kalau sudah besar akan membahagiakannya, janji Bayek dalam hati.
Berkat kegigihan dan keuletan, anak-anak Ibuk terus maju mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, dengan bantuan sana-sini, pinjaman dari Bang Udin dan keseriusan janji Ibuk mengantarkan Bayek pada langkah kesuksesan. Empat tahun Bayek mengenyam pendidikan di IPB Bogor jurusan Statistika dengan beasiswa. Setelah lulus, berkat doa Ibuk, Bayek bekerja di Jakarta selama tiga tahun. Doa Ibuk mampu menguatkan keteguhan hati Bayek untuk terus melangkah maju tanpa mengenal lelah. Hingga pada suatu hari, Bayek mendapatkan apresiasi atas kerjanya selama ini. Tawaran bekerja di New York. Dengan restu keluarga Bayek di kampung, Bayek melangkah menuju pelayaran hidupnya. Dia ingin membangun kebahagian untuk dirinya dan keluarga tercintanya. Dan itu dia mulai dari New York.
New York memberikan banyak pelajaran untuk hidup Bayek. Manis pahit kehidupan dia rasakan disana. Hingga pada akhirnya setelah 9 musim panas dan 10 musim dingin yang Bayek lalui disana, Bayek memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Sudah cukup dia membahagiakan keempat saudara perempuannya, Bapak dan tak luput pula Ibuk yang selalu memberi semangat dalam perjalan hidup Bayek.
Tuhan Maha Adil. Kebahagiaan tidak akan sepenuhnya ada. Kesedihan itu datang ketika Sabtu 4 Februari 2012 Bapak dipanggil Tuhan. Sungguh terpukul hati Ibuk, perempuan tangguh itu sangat kehilangan. Kehilangan belahan jiwanya yang selama 40 tahun belakangan selalu menemani Ibuk membangun keluarganya dengan segala suka duka. Perjalanan cinta yang sederhana namun kokoh. Cinta mereka yang tak pernah luntur. Cinta Ibuk yang menyelamatkan keluarga. Demikianlah kisah yang diceritakan dalam novel Ibuk,. Novel ini merupakan novel yang sangat menginspirasi dan memotivasi.
B. Hasil Penelitian 1. Struktur Novel Ibuk, Karya Iwan Setyawan
a. Tema
Tema adalah gagasan pokok dan utama yang mendasari sebuah cerita. Tema berperan sangat penting dalam sebuah cerita, karena tema merupakan latar belakang sebuah penceritaan. Dari seluruh cerita pada novel Ibuk, karya Iwan Setyawan ini permasalahan yang menonjol adalah tentang keprihatinan, kerja keras dan sebuah kesederhanaan. Dari ketiga permasalahan yang menonjol tersebut, menjadikan novel ini sebagai novel yang dapat menginspirasi dan memotivasi, karena banyak hal-hal yang dapat diteladani di dalam novel ini.
Novel Ibuk, karya Iwan Setyawan ini bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga pada zaman dulu hingga masa sekarang. Diceritakan, Tinah, seorang gadis kecil yang hidup sederhana bersama orang tua dan saudara-saudaranya di Gang Buntu kota Batu di Jawa Timur. Tinah tidak dapat menamatkan SD nya kerena menjelang ujian ia sakit. Kegiatannya sehari-hari ikut berdagang baju bekas Mbok Pah, neneknya, di pasar Batu. Tinah diasuh oleh Mbok Pah, sampai pada suatu hari, ia berkenalan dengan seorang kenek angkot. Abdul Hasyim namanya atau akrab dipanggil Sim. Dengan bermodalkan cinta dan keberanian mereka memutuskan untuk hidup berumah tangga. Kehidupan rumah tangga mereka pada awalnya dipenuhi dengan lika-liku. Permasalahan
yang sering muncul yakni perekonomian rumah tangga. Sim yang hanya seorang kenek angkot dan Tinah seorang ibu rumah tangga sering dibuat kewalahan oleh kebutuhan-kebutuhan rumah tangga. Pada awalnya masih belum terasa, namun setelah mereka mempunyai lima orang anak, yakni Isa, Nani, Bayek, Rini, dan Mira, beratnya biaya hidup semakin dirasakan oleh mereka.
Permasalahan ekonomi rumah tangga itu semakin terasa ketika anak-anak mereka menginjak usia sekolah. Bukan saja mengurus kebutuhan untuk makan sehari-hari, tetapi mereka juga harus mulai memikirkan biaya sekolah. Tak jarang untuk menutupi semua kebutuhan itu, Tinah yang belakangan dipanggil dengan sebutan Ibuk, harus menggadaikan barang-barang yang ia miliki, mulai dari cangkir, kain jarik sampai perhiasan, bahkan sampai meminjam uang kepada tukang kredit barang-barang peralatan rumah tangga. Kehidupan rumah tangga mereka dipenuhhi dengan keprihatinan. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut
“Yang penting, pastiin ada uang buat makan besok ya, Pak!” Kata Ibuk selalu memastikan. Dari uang belanja ini, Ibuk berusaha untuk menyisakan sebagian untuk membayar SPP dan keperluan sekolah. Bapak terkadang juga memakai uang tabungan Ibuk untuk memperbaiki angkot yang rusak atau ketika kena tilang polisi (Setyawan, 2012:46) Buku baru. “Ah, kamu coba peke buku bekas kakakmu, Yek! Yang penting besok bawa buku dulu. Buku baru nanti saja kalau ada rezeki, ya. Insya Allah, Ibuk belikan di toko buku pelajar. Sabaro sik, Le.” Sepatu jebol. “Nan, coba minta lem ke Bapakmu! Jik iso digawe iku!” kata Ibuk sembari memeriksa sepatu Bata yang belum setahun dipakai Nani (Setyawan, 2012:59).
Dari kutipan di atas, dapat dilihat betapa keluarga Ibuk dalam keadaan yang sangat prihatin, namun dengan usaha yang keras, akhirnya Sim yang belakangan dipanggil Bapak, dapat membeli angkot sendiri dari uang tabungan yang dikumpulkan selama ini. Ia dapat menarik angkotnya sendiri.
Namun, permasalahan tidak sampai di situ saja. Angkot tua yang mereka beli sering rusak. Setoran uang belanja untuk kebutuhan sehari-hari
sering tidak ada. Uang sekolah sering menunggak. Tetapi Ibuk selalu berusaha untuk membuat dapur mengepul. Entah bagaimana caranya. Ibuk selalu mempunyai cara untuk mengaturnya. Mulai dari menghemat sabun, shampoo, air dan listrik. Anak-anak ibuk selalu diajarkan untuk disiplin dan hemat. Makan sehari-hari juga dengan lauk yang seadanya. Kadang kalau ada rezeki lebih, bisa makan enak.
Hidup keluarga Ibuk dipenuhi dengan perjuangan dan kerja keras. Untungnya semua anak Bapak dan Ibuk rajin dan pintar. Keprihatinan tidak hanya sampai di situ saja, sampai pada saat Bayek diterima kuliah di IPB Bogor, Ibuk memutuskan untuk menjual angkot mereka yang saat itu sebagai sumber nafkah keluarga. Hingga saat itu Bapak harus menjadi sopir truk. Tetapi itu semua tidak memutuskan harapan mereka. Mereka terus berjuang dan bekerja keras. Usaha keras mereka tidak sia-sia, setelah lulus dari IPB dengan IP yang membanggakan, akhirnya Bayek diterima kerja di NYC. Inilah yang menjadi sebuah awal keadaan perekonomian yang baru di keluarga Ibuk.
Semenjak Bayek bekerja di NYC, perekonomian keluarganya berangsur-angsur membaik. Hutang-hutang tetangga untuk biaya kuliah Bayek dapat Bayek ganti dengan uang gajinya. Selain membahagiakan kedua orang tuanya, Bayek juga menyenangkan keempat saudaranya. Ia membantu kuliah kakak dan adiknya. Membantu biaya pernikahan dan membelikan rumah untuk saudaranya. Bukan itu saja, ia yang tak tega melihat Bapak menjadi supir truk, membuatkan usaha kos untuk Bapak. Kerja keras Bayeklah yang telah membawa perubahan di keluarganya. Keprihatinan dan kesederhanaan hidup merekalah yang membawa mereka pada keadaan yang lebih baik.
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa tema utama novel Ibuk, karya Iwan Setyawan adala perjuangan dalam mengarungi hidup yang tidak mudah, demi untuk mencapai impian dan cita-cita hidup yang lebih baik dengan segenap keprihatinan dan kesederhanaan serta dengan kerja keras.
Pengalaman tokoh dalam novel ini mengajarkan bahwa segala sesuatu dapat kita raih dengan perjuangan, keprihatinan, kerja keras dan tentunya dengan doa.
b. Tokoh dan Penokohan
Penokohan pada novel Ibuk, karya Iwan Setyawan meliputi tokoh sentral dan tokoh tambahan. Terdapat delapan belas tokoh yang muncul dalam novel Ibuk, karya Iwan Setyawan. Satu tokoh utama, enam tokoh utama tambahan dan yang lainnya tokoh sampingan sebagai pendukung cerita. Tokoh sentral atau tokoh utama dari novel ini adalah Ibuk, karena tokoh tersebut mempunyai peran yang penting dalam cerita dan menentukan gerak tokoh lain, sedangkan tokoh utama tambahan dalam novel ini adalah Bapak, Isa, Nani, Bayek, Rini, dan Mira. Tokoh sampingan yang mendukung cerita yakni Mbok Pah, Mak Gini, Bapak Mun, Mbak Gik, Cak Ali, Mbak Ati, Bang Udin, Mbah Carik, Pak Lurah, Rachel, dan Lek Giono.
Tokoh-tokoh yang dimunculkan oleh pengarang dalam novel ini sebagian besar dilukiskan secara eksplisit baik dari kondisi fisik maupun psikisnya. Tokoh yang diciptakan pengarang hampir semua bersifat mendukung cerita atau protagonis.
1. Tinah (Ibuk)
Ibuk adalah tokoh utama yang paling penting dalam cerita ini. Sosok Ibuk dikenal sebagai perempuan yang lugu dan lembut. Hidupnya dipenuhi dengan kesederhanaan. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
Tinah tumbuh menjadi gadis lugu. Ia tidak banyak bergaul di pasar. Rambut panjangnya diikat karet gelang. Tanpa poni. Anting-anting emas kecil menggantung di telinga, memberikan sedikit kemewahan di wajahnya yang sederhana (Setyawan, 2012:2).
Selain itu, Ibuk adalah perempuan pekerja keras dan rajin. Sebagai ibu rumah tangga, ia tak pernah lelah untuk selalu mengurus keluarganya. Semua pekerjaan rumah mulai dari memasak, mencuci, dan mengasuh kelima anaknya,
ia lakukan sendiri. Ia adalah pribadi yang tabah dalam menghadapi keadaan keluarganya dalam hal ini adalah perekonomian yang selalu menghimpit. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
Ibuk sudah bangun dari jam 4 tadi pagi. Ia langsung menuju dapur, mencuci piring kotor semalam, membuatkan kopi untuk Bapak, dan mencuci pakaian di belakang rumah (Setyawan, 2012:40).
Setelah mengerjakan PR, baru mereka tidur siang. Jam 2 siang rumah mereka sepi. Gang Buntu juga sepi. Ibuk masih sibuk di dapur. Selalu ada yang ia kerjakan. Entah itu mencuci piring, menata peralatan dapur, mengepel lantai dapur, membersihkan lemari, menyiapkan bumbu buat masak besok, atau menyetrika baju. Isa menemani Mira yang tertidur di kamar Ibuk. Setelah melihat lima anaknya sudah kenyang, melihat mereka tidur siang, Ibuk baru menikmati makan siangnya (Setyawan, 2012:51).
Tokoh Ibuk juga merupakan tokoh yang religius. Ia selalu beribadah (Sholat) dengan rajin dan juga mengaji. Ia juga selalu mengingatkan anak-anaknya untuk rajin sholat dan berdoa. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
Tiga tahun bayek di Jakarta. Tiga tahun sudah ia berusaha membangun hidup baru. Tiga tahun penuh tantangan. Ibuk menjaga Bayek lewat doa (Setyawan, 2012:143).
“Alhamdulillah, Le. Kamu hati-hati ya. Jangan lupa salat,” pesan Ibuk (Setyawan, 2012:161)
Dari kutipan-kutipan di atas, dapat disimpulkan tokoh Ibuk mempunyai watak yang lembut, keibuan, rajin bekerja mengurus keluarga, dan pekerja keras. 2. Sim (Bapak)
Sim adalah adalah seorang pemuda berumur 23 tahun. Semenjak putus SMP, Sim menjadi kenek angkot. Ia digambarkan sebagai tokoh yang playboy. Ia dikenal punya banyak pacar. Saat berpacaran dengan anak juragan angkotnya, ia dengan beraninya mendekati Tinah. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
Namun malam harinya, ya, malam harinya, entah darimana Sim mendapatkan alamat Tinah, playboy pasar bernama lengkap Abdul Hasyim itu mengetuk rumah Mbok Pah. Padahal saat itu ia sudah punya
pacar di Malang! Namanya Suci, dan ia bukan pacar pertama. Betapa beraninya! Betapa nekatnya! (Setyawan, 2012:7).
Sejak kecil. Sim diasuh oleh orang tua angkatnya di Malang. Ia belum pernah melihat orang tua kandungnya di Jogja. Semenjak orang tua angkatnya meninggal, Sim tinggal bersama kakak angkatnya ia tidak dapat menamatkan SMP nya dan bekerja menjadi sopir angkot dengan kakak iparnya. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Sim belum pernah melihat wajah orang tua kandungnya yang tinggal di Yogya. Ketika berumur 3 bulan Sim diasuh oleh saudara bapaknya di Malang. Ketika kelas dua SMP, orang tua angkatnya meninggal dunia. Sim tak bisa meneruskan sekolah lagi. Semenjak itu ia menjadi kenek angkot untuk menghidupi dirinya. Di usia yang masih belia, Sim sudah mencari makan sendiri, sudah mandiri (Setyawan, 2012:10).
Sifat playboy Sim ternyata juga diberengi dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Semenjak memutuskan untuk menikahi Tinah, Sim menjadi suami yang penuh tanggung jawab bagi keluarganya. Semenjak anak-anaknya lahir, tanggung jawab Sim sebagai bapak semakin besar. Ia juga merupakan suami yang penuh kerja keras. Pekerjaannya sebagai sopir angkot membuatnya harus bekerja banting tulang mencari rupiah untuk keluarganya. Berangkat pagi-pagi buta dan pulang larut malam telah menjadi kebiasaannya setiap hari. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Sebelum ayam berkokok, Bapak sudah terbangun. Ia masih mengenakan baju yang dipakai tadi malam. Sandal jepit swallow warna biru tua menanti di depan pintu rumahnya. Ia segera menghidupkan mesin mobil.
Pukul 10 Bapak kembali kerumah. Tak seperti biasanya. “Nah, ini segera ke sekolah Bayek. Bayar uang buku dan minta rapornya,” kata Bapak. Ia menyerahkan beberapa lembar uang lima ratusan dan seribuan yang ia kumpulkan sejak pagi (Setyawan, 2012:69).
Jam 11 malam Bapak masih di jalan. Bapak belum pulang
Jam 11.30 malam, Ibuk terbangun dan menyusui Mira. Bapak belum pulang juga. Makan malam sudah disiapkan Ibuk di atas meja marmer semenjak jam 8 tadi. Nasi di bakul warna putih sudah dingin. Ibuk
menengok jam dinding satu-satunya di ruang tamu dan kembali tidur (Setyawan, 2012:109).
Di hari pertama kerja, Bayek mengingat Bapak yang tak pernah berhenti berjuang dalam hidup. Berpuluh-puluh tahun Bapak menelusuri jalanan untuk menghidupi keluarga. Ia tidak pernah berhenti. Ia tidak pernah menyerah. Terus berjuang untuk anak-anak dan keluarga. Tidak lulus SMP, beliau menjadi kenek angkot. Setelah menjadi kenek angkot, Bapak ingin menjadi sopir angkot. Menjadi sopir angkot untuk orang lain saja tidak cukup, Bapak mencoba menabung untuk membeli angkot bekas. Ia tidak pernah berhenti berjuang menghidupi kelima anaknya. Dengan apa pun yang ia miliki. Hidup Bapak penuh dengan gelombang besar. Tidak mudah, tapi Bapak selalu memikul tanggung jawab dengan berani (Setyawan, 2012:141).
Bapak adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab. Ia adalah pejuang keluarga. Ia juga sangat mencintai semua anak-anaknya dan juga cucu-cucunya. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Bapak juga yang mengantar-jemput cucu-cucunya ke sekolah. Bapak bisa bolak-balik sampai lima-enam kali dari Gang Buntu ke sekolah. Ketika pembantu di salah satu rumah anaknya sedang libur, Bapaklah yang membantu memandikan dan menyiapkan sarapan untuk cucu-cucunya. Ibu mereka harus berangkat kerja di pagi hari. Bapak selalu bangun sebelum azan subuh berkumandang dan membersihkan rumah. Ia kemudian jalan pagi bersama Ibuk. Tiap bulan, Bapak mengurusi tagihan listrik, air, internet di semua rumah anak-anaknya. Ia juga yang selalu siap siaga ketika ada atap yang bocor, tabung LPG yang sudah kosong, membeli susu buat cucu, membuang sampah, atau menghijaukan taman di rumah anak-anaknya (Setyawan, 2012:242-243).
Dari kutipan-kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa sifat tokoh Bapak adalah seorang yang tangguh, bertanggung jawab, pekerja keras dan penyayang.
3. Isa
Isa adalah anak perempuan pertama Bapak dan Ibuk. Ia adalah gadis kecil yang baik. Perawakannya mirip dengan Ibuk. Isa adalah gadis yang pintar.
Ia sering menjadi guru les bagi adik-adiknya. Ia sangat rajin belajar. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
Setelah makan siang, Isa langsung mengerjakan PR dan mempersiapkan buku-buku untuk pelajaran besok. Nani dan Bayek mengikuti kebiasaan ini (Setyawan, 2012:51).
Tak banyak yang mereka lalukan di ruang tamu. Isa mengerjakan PR dengan tekun. Adik-adiknya kadang mengerubutinya. Mereka ingin tahu apa dan bagaimana Isa mengerjakan PR-nya (Setyawan, 2012:74). Isa adalah gadis yang rajin. Setiap hari ia membantu Ibuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Ia adalah gadis yang pekerja keras. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
Setengah jam setelah Bayek dan Rini menghabiskan makan siang, Nani dan Isa pulang dari sekolah. Seperti biasa, Nani membersihkan rumah dulu. Ia menyapu lantai dan mengepel. Isa membersihkan kaca jendela dan meja kaca kecil di ruang tamu (Setyawan, 2012:50).
Isa juga merupakan anak yang sangat berbakti pada orang tuanya. Ia sangat mencintai kedua orang tuanya. Seiring bertambahnya umur, sifat kedewasaannya semakin terlihat. Tamat SMA, Isa tidak langsung kuliah, Ia bekerja sebagai guru les untuk membantu biaya hidup keluarga dan sekolah adik-adiknya.
Dari berbagai kutipan di atas, dapat disimpulkan Isa adalah anak yang rajin dan pekerja keras. Ia juga gadis yang pandai. Ia sangat berbakti dan menyayangi orang tuanya. Ia juga peduli terhadap adik-adiknya.
4. Nani
Nani adalah anak perempuan kedua Bapak dan Ibuk. Sama halnya dengan Isa, Nani juga merupakan gadis yang rajin dan pekerja keras. Ia juga anak yang sangat pintar. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Cahaya mulai menerangi rumah Ibuk. Isa masih memberikan les privat. Rini bekerja membantu adik Ibuk yang menjadi bidan desa. Nani bahkan bisa melanjutkan S2 (Setyawan 2012:140)
Nani mulai belajar berdagang. Ia menjual pisang goreng, keripik atau Citos di sekolah…(Setyawan, 2012:118)
Dari kutipan di atas, Nani adalah seorang gadis yang pandai dan juga pekerja keras. Nani adalah gadis yang berbakti pada orang tuanya. Ia sangat rajin membantu Ibuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Ia adalah anak yang tangguh. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Bayek dan Rini bermain dengan Mira. Nani, anak Ibuk yang paling gagah, membersihkan got di depan rumah di tengah hujan deras. Nani mengepel lantai rumah, bocoran air hujan membuat rumah becek (Setyawan, 2012:74-75).
Nani adalah anak yang rajin membatu Ibuk. Dari kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan, Nani adalah anak yang rajin juga pintar. Ia juga anak yang berbakti pada orang tuanya.
5. Bayek
Bayek adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga Bapak dan Ibuk. Sebagai anak laki-laki, semasa kecilnya Bayek dapat dibilang cukup manja. Ia juga anak yang penyendiri di sekolahnya. Ia tidak bisa jauh dari keluarganya. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Bayek anak penyendiri. Ia selalu merasa takut akan dunia di luar sana. Rumahnya begitu nyaman. Ia merasa terlindung oleh kehangatan saudara dan orangtuanya. Rini malah sudah bisa ditinggal Ibuk di kelas (Setyawan, 2012:43).
Bayek masih belum bisa bermain dengan teman-teman barunya. Ia masih ingin menempel dengan Ibuk. Jam 9 pagi, Ibuk meninggalkan Bayek sejenak dan menjemput Rini. Jarak sekolah Bayek dan TK Rini hanya lima menit jalan kaki. Kadang Bayek merengek keluar kelas dan ikut Ibuk menjemput Rini. Baru sekitar jam 10, mereka meninggalkan areal sekolah (Setyawan, 2012:44).
Begitulah Bayek. Tak hanya malam itu saja ia merengek minta dibelikan sepatu baru. Siang pulang sekolah, bangun tidur di sore hari, malam hari sebelim tidur, dan begitu lagi besoknya. Tiga minggu sudah Bayek meminta sepatu baru. Tiga minggu pula Ibuk harus bersabar menghadapi permintaan Bayek (Setyawan, 2012:92).
Di Bogor Bayek berjuang melawan rasa takut, rasa kangen akan rumah kecil di gang Buntu. Hampir setiap hari Bayek menelepon Ibuk. Ibuk selalu meguatkannya. Seminggu di Bogor, Bayek bahkan sudah sangat ingin pulang (Setyawan, 2012:134).
Dari kutipan di atas, kita tahu bahwa Bayek adalah anak yang sedikit manja dan tidak bisa berpisah lama dari orang tuanya, terutama Ibuk. Bayek adalah anak yang rajin. Ia sering membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Ia juga anak yang pandai. Ia selalu mendapat rangking yang baik. Bahkan saat kuliah di IPB Bogor, ia lulus dengan IPK yang bagus dan merupakan lulusan terbaik. Dalam dunia kerja, Bayek juga sering mendapat penghargaan di kantornya. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Bayek melewati tahun pertama di SMP Negeri 1 Batu dengan lancar. Ia bahkan meraih ranking 1 di semester 2. Tubuh Bayek masih sekecil waktu kelas 6 SD. Seragamnya terlihat kebesaran. Ia masih penyendiri, masih penakut. Masih selalu merengek kalau minta apa-apa, apalagi buku (Setyawan, 2012:125).
Ini sudah menjadi kebiasaan Bayek setiap pulang sekolah. Ia langsung menyapu ruang tamu, mengepel lantai, dan mengelap kaca jendela. Bayek tidak akan menyentuh makan siang sebelum semua terlihat bersih. Berkilau. Bayek meniru kebiasaan Isa dan Nani (Setyawan, 2012:87).
Sewaktu wisuda, Bayek memberi kejutan kepada Ibuk dan Isa yang datang ke Bogor untuk menghadiri upacara wisudanya. Upacara kemenangan atas perjuangan empat tahun keluarganya. Ibuk terlihat bangga sekali melihat Bayek memakai baju toga. Tak disangka, anak lelaki satu-satunya yang di tahun pertama dulu sudah ingin kembali ke Batu sekarang menjadi sarjana.
“Dan, lulusan terbaik dari jurusan MIPA, Bayek Setyawan dari jurusan Statistika dengan IPK 3.52”! seru pembawa acara memanggil Bayek (Setyawan, 2012:136).
Di bulan keempat Bayek mendapat kejutan. Ia menerima penghargaan “Employee of the Month” di rapat mingguan bersama semua rekan sekantornya. Di Indonesia dulu ia pernah mendapat penghargaan yang
sama, setelah dua tahun bekerja. Malam itu juga Bayek menelepon Ibuk dan membagikan kabar gembiranya (Setyawan, 2012:152).
Kutipan di atas menujukkan Bayek adalah anak yang pandai dan berprestai di sekolah maupun dalam pekerjaan, ia juga anak yang rajin. Bayek juga sangat berbakti pada orang tuanya dan sangat menyayangi semua keluarganya. Semenjak lulus kuliah, ia diterima bekerja di Jakarta. Setelah itu perjalanan karirnya dilanjutkan ke NYC. Ini adalah awal kesuksesannya. Ia adalah anak yang pekerja keras. Ia melalukan itu semua untuk membahagiakan keluarga-keluarganya. Dengan gajinya ia berusaha untuk membahagiakan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Dengan kerja kerasnya, Bayek mendapatkan jabatan yang bagus di kantornya. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Malu kalau aku tak bisa bekerja keras seperti Bapak. Malu kalau aku tidak bisa membahagiakan beliau kelak, janji Bayek untuk Bapaknya. Bayek bertekad untuk maju. Ia tak keberatan bekerja lebih lama dari rekan kerja lain. Kadang Bayek lembur sampai jam 10 bahkan jam 2 pagi. Bayek juga sering bekerja di akhir pekan dan membaca buku Statistika lagi (Setyawan, 2012:142).
“Buk, aku sudah nabung banyak. Kebetulan, bonus juga lumayan tahun ini. Bosku apik, Buk. Aku barusan transfer buat bangun rumah kita, Buk.” (Setyawan, 2012:175).
Setelah satu setengah tahun di SoHo, Bayek berpikir untuk kembali ke Indonesia dan bekerja di Jakarta atau Singapura. Tapi ia juga berpikir, misinya belum selesai. Tiba-tiba sebuah kejutan datang dari atasannya. Sesuatu yang besar dalam perjalanan karirnya. Bayek dipromosikan menjadi Director Internal Client Management (Setyawan, 2012:218). Dari kutipandi atas, dijelaskan Bayek adalah pekerja keras, ia tidak mudah menyerah, ia juga selalu berusaha untuk membahagiakan Ibuknya. Beyek juga sangat religius. Sebagai orang Islam, ia termasuk muslim yang taat. Ia selalu menjalankan perintah agama dan taat beribadah. hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Air mata Bayek meleleh setelah salat Isya. Terlintas bayangan orang-orang yang terjebak dalam gedung saat pesawat menabrak (Setyawan, 2012:158).
Dari kutipan-kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa Bayek semasa kecilnya mempunyai sifat yang manja, namun ia juga anak yang rajin dan pandai. Ia adalah pekerja keras dan seorang yang religius.
6. Rini
Rini adalah anak perempuan keempat Bapak dan Ibuk. Sama halnya dengan kakak-kakaknya, ia juga anak yang rajin dan pintar. Ia juga anak yang sangat berbakti pada orang tuanya. Rini adalah anak yang sangat mencintai kedua orang tuanya. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Air mata Ibuk tumpah ketika mencium pipi suaminya. Air matanya menetes di pipi Bapak. Isa mencium Bapak dan memeluknya. Demikian juga Nani, Rini, dan semua cucunya. Mereka semua terisak-isak. Rini memeluk kaki Bapak erat.
“Rin, kamu jangan nangis, Kamu pulang dulu Rin,” ucap pelan Bapak sambil melempar tisu ke Rini. Rini sesenggukan, pergi ke luar kamar (Setyawan, 2012:268).
“Kamu coba cari tiket yang paling pagi, Yek. Bapak sudah kritis ini,” kata Nani mencoba menenangkan Bayek. Jerit tangis Rini terdengar memanggil-manggil Bapak. Bayek kini tahu, Bapaknya telah berpulang. Ia segera berangkat ke bandara, jam 4 pagi (Setyawan, 2012:273). Dari kutipan di atas terlihat Rini adalah anak yang sangat mencintai Bapaknya. Ia tidak tega melihat Bapaknya dalam keadaan sakit sehingga ia selalu meneteskan air mata jika melihat Bapak. Apalagi saat Bapak berpulang, Rini adalah anak yang sulit untuk tabah. Ia bahkan menangis menjerit-jerit karena merasa sangat kehilangan Bapaknya.
7. Mira
Mira adalah anak perempuan kelima Bapak dan Ibuk. Sebagai anak terakhir, Mira bukanlah gadis yang manja. Sama halnya dngan kakak-kakaknya, Mira juga merupakan gadis yang rajin dan pekerja keras. Hal itu dapat dilihat
dalam kutipan berikut. Mira adalah gadis yang pintar. Ia juga gadis yang sangat berbakti dan menyayangi orang tuanya. Saat Mira menikah, ia tinggal jauh dari orang tua yakni di Karawang mengikuti suaminya. Walaupun jauh dari orang tua, Mira selelu menyempatkan telepon ke rumah. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Sudah menjadi kebiasaan anak-anak Ibuk selalu meminta doa. Isa dan adik-adiknya baru berangkat ke sekolah setelah Ibuk menjawab, iya, Ibuk doakan, semoga semua bisa mengerjakan ujian dengan lancar. Semua dapat nilai bagus (Setyawan, 2012:131).
Dua cucu Ibuk, anak Mira, tinggal di karawang. Hampir setiap hari mereka menelepon Ibuk dan Bapak. Kadang, Arti, cucu yang paling kecil, masih belum setahun, hanya bisa merengek di telepon. Ibuk dan Bapak kadang mengunjungi mereka meskipun tak sering (Setyawan, 2012:245).
Kutipan di atas menunjukkan Mira adalah anak yang berbakti pada orang tuanya. Dari kutipan-kutipan di atas, dapat diambil kesimpulan Mira adalah gadis yang rajin, pekerja keras, dan juga pandai. Ia juga gadis yang sangat berbakti pada orang tuanya.
8. Mbok Pah
Mbok Pah adalah nenek Ibuk. Ia yang mengasuh Ibuk semenjak putus sekolah. Sehari-hari pekerjaan Mbok Pah adalah sebagai pedagang baju bekas di pasar Batu. Mbok Pah sangat peduli dan sayang terhadap Tinah. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
“Nah, entar kalau kamu sudah gede, kamu yang ngurus kios kecil ini ya,” kata Mbok Pah.
Tinah hanya diam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Mbok Pah mengajarinya mulai dari cara membuka kios, melipat baju, sampai tawar menawar (Setyawan, 2012:2).
“Nah, ini ada sedikit rezeki buat membantu pernikahanmu nanti,” kata Mbok Pah yang tergeletak lemas di dipan kayu. “sebentar lagi kamu akan menikah, Nah. Doakan Mbok bisa menemanimu,” mata Mbok Pah menatap Tinah dalam-dalam.
Itulah pesan terakhir Mbok Pah. Ia tak lagi bisa mengucapkan sepatah kata pun. Kondisinya semakin lemah. Mbok Pah meninggal seminggu kemudian (Setyawan, 2012:24).
Mbok Pah adalah nenek yang perhatian terhadap cucunya. Sakit pun ia masih memikirkan masa depan cucunya. Dari kutipan di atas, terlihat Mbok Pah adalah nenek yang sangat peduli dengan cucunya. Bahkan di sakit kerasnya ia masih sangat peduli dengan Tinah dan memikirkan masa depan Tinah.
9. Mak Gini
Mak Gini adalah ibu dari Tinah (Ibuk). Sehari-hari Mak Gini bekerja di pegadaian. Ia adalah ibu yang baik. Ia peduli dengan anak-anaknya dan selalu giat bekerja untuk menghidupi keluarga dan anak-anaknya. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
Ketika itu Ibuk hanya melihat bagaimana Mak Gini membesarkannya dan saudara-saudaranya. Mak Gini menyusui semua anaknya dengan air susunya sendiri, memasak tiap pagi, dan memastikan anaknya tidak kelaparan. Mak Gini pun bekerja untuk menambah nafkah keluarga. Hidup begitu sederhana. Mereka makan bersama di dapur berlantai tanah, di depan tungku perapian yang menjadi tempat memasak, juga untuk menghangatkan diri dari udara dingin Kota Batu. Di dapur inilah kebersamaan itu tumbuh. Rezeki yang didapat hari ini untuk makan besok. Kalau kurang, Mak Gini menjual atau menggadaikan barangnya. Mak Gini menjauhi hutang (Setyawan, 2012:29-30).
Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan Mak Gini adalah Ibu yang bertanggung jawab pada anak dan keluarganya. Sebagai ibu, ia juga masih bekerja membantu suaminya untuk mencari nafkah bagi keluarga. Mak Gini adalah perempuan tangguh dan ulet.
10. Bapak Mun
Bapak Mun, adalah suami Mak Gini. Ia adalah ayah Ibuk. Sehari-hari pekerjaannya sebagai tukang reparasi jam di pasar Batu. Ia adalah kakek yang sangat menyayangi cucu-cucunya. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
Nani dan Isa berdiri di depan pintu dapur. Kedua cucunya ini lebih mengerti dari pada Bayek dan Rini. Bapak Mun yang rambutnya telah
dipenuhi uban baru bisa menikmati makan siangnya setelah membagikan uang jajan kepada cucu-cucunya. Setelah makan siang, ia menghabiskan sore hari di ruang tamu. Di malam hari Bapak Mun menikmati kesendirian di kursi rotan, tenggelam dalam keheningan malam (Setyawan, 2012:114).
Bapak Mun selalu memberi jatah jajan pada cucu-cucunya. Meskipun tak banyak, namun itu membuat cucu-cucunya merasa senang. Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa Bapak Mun adalah kakek yang menyayangi cucu-cucunya. Ia selalu memberikan jatah uang jajan untuk semua cucu-cucu-cucunya. 11. Cak Ali
Cak Ali adalah penjual tempe di pasar batu. Kios tempenya di pasar batu berdekatan dengan kios baju bekas Mbok Pah. Dari sinilah tumbuh kesukaan Cak Ali pada Tinah (Ibuk). Cak Ali adalah orang yank baik, hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
Di sebelah kios Mbok Pah ada penjual tempe, Cak Ali namanya. Matanya tak pernah terlepas dari Tinah. Ia sering memberi tempe untuk Tinah sebelum menutup kiosnya. Tinah kadang membawakan sarapan untuk Cak Ali. Tempe goreng atau sambal goreng tempe masakannya. Tapi Tinah pemalu, ia jarang sekali berbincang dengan pemuda itu. Ia selalu tenggelam di balik tumpukan baju dagangan Mbok Pah hingga sore hari. Makan siang pun di balik tumpukan baju itu. Cak Ali pernah menawarkan untuk mengantar Tinah pulang dengan sepeda pancalnya, tapi Tinah memilih pulang berjalan kaki dengan Mbok Pah (Setyawan, 2012:3).
Sim tak lagi menemui Suci, anak juragannya di Malang. Kini ada gadis desa lugu yang selalu menghangatkan dan menyegarkan hidup Sim yang sendiri. Cak Ali masih sering memberi tempe kepada Tinah maskipun ia tahu, sang playboy pasar telah memenangkan hati Tinah (Setyawan, 2012:15).
Dari kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan Cak Ali adalah orang yang baik. ia selalu memberi Tinah tempe, kerena ia menyukai Tinah. Ia tidak merasa sakit hati walaupun pada akhirnya Tinah lebih memilih Sim, sang playboy pasar. Cak Ali tetap bersikap baik padanya.
12. Mbak Gik
Mbak Gik adalah kakak angkat Sim (Bapak). Semenjak orang tua angkat Bapak meninggal, Bapak tinggal dengan Mbak Gik. Mbak Gik adalah orang yang baik. Seusai Bapak menikah dengan Ibuk, Mbak Gik mengizinkan mereka untuk sementara menumpang di rumahnya, Mbak Gik juga sering memberikan nasihat pada Sim, hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
“Aku tinggal di jalan Darsono, Desa Ngaglik. Sama kakak angkatku, Mbak Gik. Baru empat tahun ini. Sebelumnya aku di Malang, ikut orang tua angkat. Setelah mereka meninggal, baru ikut kakak angkat di Batu,” jelas Sim (Setyawan, 2012:9).
Hari demi hari, Sim berusaha membulatkan tekadnya. Ia ingin segera menanyakan Ngatinah kepada keluarganya. Ia ingin meminang Tinah. Orangtua kandung Sim jauh di Yogya dan ia sendiri belum pernah bertemu mereka. Sementara, orang tua angkatnya yang tinggal di Malang telah tiada. Sim hanya bisa meminta tolong kepada kakak angkatnya, Mbak Gik.
“Sim, orang berumah tangga itu nggak gampang. Kamu sudah siap tah punya istri dan anak kelak? Kamu kan baru saja bisa narik angkot sendiri?” Tanya Mbak Gik.
“Si Ngatinah iki wonge apikan. Gak macem-macem. Bisa hidup susah seperti aku,” jawab Sim.
“Lah! Ya jangan sampai diajak hidup susah Sim…,” timpal Mbak Gik (Setyawan, 2012:23).
Dari kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa Mbak Gik adalah orang yang baik. ia suka menolong terhadap sesama. Ia juga sering menasihati hal-hal yang baik pada Sim. Walaupun sebagai kakak tiri, tapi Mbak Gik juga menganggap Sim sebagai adik kandungnya sendiri.
13. Mbak Ati
Mbak Ati adalah rekan Bayek yang tinggal di NYC. Ia jugalah yang membantu Bayek saat awal-awal kedatangannya di NYC. Mbak Ati memberikan tumpangan di apartemennya. Ia membantu Bayek dalam segala hal, mulai dari berbelanja dan mengantarkannya jalan-jalan di kota yang asing bagi Bayek. hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Dari ruang tamu apartemen yang dia tumpangi inilah Bayek memulai hidup baru. Mbak Ati, yang membuka jalan Bayek di Amerika, memperkenalkan kehidupan di New York mulai dari grocery shopping sampai jadi tourist guide selama beberapa bulan pertama. Mbak Ati juga yang membimbing Bayek memulai karirnya di sana (Setyawan, 2012:148).
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa Mbak Ati adalah orang yang baik, ia suka menolong. Ia membimbing Bayek, rekannya untuk menemukan karir di negeri yang asing bagi Bayek. ia juga memberikan apartemennya untuk Bayek dapat menginap.
14. Pak Lurah
Dalam novel ini, pak lurah diceritakan sebagai orang yang tegas. ia bahkan tidak segan-segan menegur warganya yang tidak menjalankan tugas dengan baik. hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
“Wah, saya tidak bisa tanda tangani ini, Bu,” kata Pak Lurah singkat setelah melihat semua surat pengantar.
“Loh, bukanya semua sudah lengkap, Pak,” jawab Ibuk. Ketiga anaknya diam menunggu di depan kantor.
“Begini. Saya dengar ketua RT di sana, Pak Hasyim, suami Ibu, tidak melaksanakan tugas sebagai ketua RT sebagaimana mestinya,” kata Pak Lurah Berkopiah hitam.
“Pak, suami saya mesti kerja narik angkot siang malam. Ia hanya bisa mengurusi kampung setelah bekerja. Gotong royong masih rutin. Pengajian juga masih jalan,” balas Ibuk dengan tegas.
“Harusnya, Pak Hasyim lebih bisa mengurusi kampungnya,” kilah Pak Lurah.
…..
“Lain kali, Pak Hasyim mesti melaksanakan tugasnya dengan benar ya Bu,” kata Pak Lurah sambil membubuhkan tanda tangan dan kemudian stempel kelurahan.
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bawa Pak Lurah adalah orang yang sangat tegas. Semua warganya harus menjalankan tugas dengan baik, tidak peduli latar belakangnya apa. Namun, dibalik ketegasannya, beliau juga orang
yang baik karena tetap mau memberikan tanda tangannya untuk surat keterangan yang akan digunakan untuk keringanan biaya SPP.
15. Rachel
Rachel adalah rekan kerja Bayek di NYC. Ia berasal dari Thailand. Rachel sangat dekat dengan Bayek. Mereka sering menghabiskan waktu istirahat dengan makan siang bersama. Rachel adalah orang yang baik. Ia sering memberi nasihat pada Bayek. Hal itu dalap dilihat dalam kutipan berikut.
Siang hari, Bayek dan Rachel makan siang di restoran Korea di Mercer Street yang terletak satu blok di sebelah gedung kantor mereka. Mereka sering makan siang di tempat kecil ini sambil membicarakan keluarga masing-masing, kehidupan di Manhattan, atau pernak-pernik pekerjaan (Setyawan, 2012:181-182).
Semenjak hari itu Bayek mencoba untuk lebih mengerti rekan-rekan kerjanya, terutama anak buahnya. Ia bukan lagi Bayek yang pertama kali datang ke New York beberapa tahun yang lalu. Ia sekarang mempunyai anak buah yang tersebar di berbagai wilayah. Bayek mendengarkan Rachel. Bayek mendengarkan lagi hatinya. New York dipenuhi orang-orang dari berbagai belahan dunia dan mereka membawa budaya yang berbeda dalam keseharian dan dalam kerja (Setyawan, 2012:190-191).
Kepergian Rachel mengguncang Bayek. Semenjak di Pleasantville dulu Rachel adalah salah satu orang paling dekat dengan hidupnya. Mereka tahu hidup satu sama lain. Selain sebagai partner in crime di tempat kerja, Rachel dan Bayek juga sering bertemu di luar urusan kantor. Bayek memperkenalkan Rachel ke teman-teman Indonesianya. Demikian juga Rachel. Ia sering mengajak Bayek berkumpul dengan teman-teman Thailandnya. Mungkin dalam beberapa tahun belakangan ini, Bayek juga mempunyai hati untuk Rachel tapi ia tak berani mengungkapkan. Mungkin Bayek tak ingin merusak persahabatan mereka (Setyawan, 2012:213:214).
Kutipan di atas menjelaskan betapa Bayek begitu dekat dengan Rachel. Dari kutipan-kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa Rachel adalah orang yang sangat peduli dengan Bayek. Ia baik pada Bayek. Sering memberikan nasihat-nasihat tentang hidup juga untuk pekerjaannya. Bayek pun selalu mendengarkan
nasihat Rachel, dan benar, nasihat-nasihat Rachel membuat hidupnya lebih baik. Karena kedekatan mereka berdua, kepergian Rachel untuk kembali ke negara asalnya sangat mengguncang Bayek. Tidak akan ada lagi teman sedekat Rachel. Bahkan karena kepedulian Rachel pada Bayek, sempat membuat Bayek menyukainya. Namun Bayek enggan mengungkapkan, karena takut akan merusak persahabatan mereka.
16. Lek Giyono
Lek Giyono adalah tetangga Bapak dan Ibuk di Gang Buntu. Dalam hidupnya, Lek Giyono pernah dibantu oleh Bapak. Ia merasa berhutang budi pada Bapak. Saat Bapak meninggal, Lek giyono juga yang menjemput Bayek ke bandara. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
“Yek, Bapak kamu itu amalnya banyak. Satu hal yang saya nggak akan pernah lupa. Bapakmu dulu pernah mengajari saya menyetir,” kata Lek Giyono sambil menarik napas panjang.
“Dia mengajari saya nyetir, sampai saya bisa narik angkot sendiri. Saat itu, setelah berminggu-minggu narik angkot, saya nabrak mobil dan hampir dipecat sama juragan. Bapakmu bilang, kalau Giono dipecat, saya juga keluar,” kata lek Giono (Setyawan, 2012:274).
Dari kutipan di atas, kita tahu bahwa watak Lek Giyono adalah orang yang baik. ia tak pernah melupakan jasa orang yang pernah menolongnya menyelamatkan pekerjaannya.
17. Bang Udin
Bang Udin adalah tukang kredit langganan di kampung Ibuk. Ia biasa menjajakan dagangannya yang berupa peralatan dapur dan pelanggannya biasanya membayar dengan cara mencicil. Ibuk sering meminjam uang pada Bang Udin. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
“Mbak Nah lagi setrika ya?” sapa Bang Udin yang tiba-tiba muncul di depan pintu ruang tamu.
“Ah, silakan masuk Bang. Langsung ke dapur saja!” jawab Ibuk.
Bayek dan Nani sibuk mengerjakan PR, tidak menghiraukan kedatangan Bang Udin, tukang kredit asli Bandung. Dari Bang Udin, Ibuk selalu
berbelanja peralatan dapur. Ibuk membayar dengan cicilan setiap hari. Mulai dari dandang, bak kecil untuk mandi, sampai penggorengan. “Ini pembayaran untuk hari ini Bang,” kata Ibuk memberikan uang seribu lima ratus rupiah. Bang Udin mencatat pembayaran itu dan pamit lewat pintu belakang. Ibuk kembali menyetrika baju.
“Ah…Ada yang lupa,” desah Ibuk beberapa menit setelah Bang Udin meninggalkan rumah,”Nan, tolong panggilkan Bang Udin lagi!”
….
“Bang Udin, saya tadi kelupaan. Sebelumnya minta maaf ya. Cicilan kemarin belum lunas semua, tapi…” Ibuk menghela napas sejenak. “Sepatu Nani jebol. Dan saya mau pinjam lagi sama Bang Udin. Bisa kan?” Pinta Ibuk dengan sungkan.
“Insya Allah ada, Mbak Nah. Butuh berapa?” Tanya Bang Udin.
Ada sedikit kelegaan di wajah Ibuk. “Lima belas ribu ya, Bang.” (Setyawan, 2012:87-88).
“Nah ini buat bayar SPP Bayek dan Rini besok. Untuk belanja, kamu hutang dulu ke Bang Udin,” kata Bapak (Setyawan, 2012:117).
Dari kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan Bang Udin adalah orang yang baik. Ia banyak membantu Ibuk. Bang Udin selalu memberikan pinjaman jika Ibuk memerlukannya, dan ia juga tidak mengharuskan untuk segera membayarkan. Ibuk melunasi hutangnya dengan cicilan setiap hari.
18. Mbah Carik
Mbah Carik adalah nenek tua yang yang tinggal di Gang Buntu. Rumahnya dekan dengan rumah Ibuk. Ia baik pada Ibuk juga pada semua orang. Mbah Carik adalah orang yang disegani di Gang Buntu. Ia suka memberi petuah-petuah dan nasihat-nasihat. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Mbah Carik dikenal sebagai orang pintar di Gang Buntu. Dia konon bisa menyembuhkan beberapa penyakit dan juga bisa membaca orang. Meskipun sudah berumur dan rambutnya putih beruban, Mbah Carik terlihat cantik dan segar. Ia selalu mengunyah sirih. Di usia senjanya Mbah carik sangat disegani. Seseorang yang selalu didengar oleh semua orang. Rumahnya selalu dikunjungi oleh tamu-tamu yang datang untuk memohon doa restu, mencari obat untuk penyakit, atau hanya ingin berbincang tentang hidup. Mbah Carik jarang keluar rumah. Hanya sekali atau dua kali dalam seminggu. Ia berjalan-jalan di sekitar Gang Buntu. “Nah, gimana kabarmu? Yo opo anak-anakmu?” sapa Mbah
Carik setiap kali melewati rumah Ibuk. Mbah Carik sering ke dapur. Ia mengamati Ibuk memasak sambil memberikan petuah-petuah yang bijak. Selain Ibuk, Mbah Carik selalu menyentuh hati orang-orang yang ia jumpai di sepanjang perjalanan (Setyawan, 2012:80).
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa Mbah Carik adalah orang yang dituakan di Gang Buntu. Mbah Carik sangat disegani dan dihormati oleh masyarakat sekitar, hal itu dilakukan karena Mbag Carik dianggap orang pintar yang dapat menyembuhkan beberapa penyakit, juga Mbah Carik sering memberikan petuah-petuah bagi orang-orang disekitarnya. Ia baik pada semua orang.
c. Alur
Alur yang digunakan dalam novel Ibuk, karya Iwan Setyawan adalah alur campuran (maju-mundur). Kisah demi kisah tidak selalu diceritakan secara kronologis namun terkadan ada flash-back kejadian masa lalu tokoh, karena pada novel ini bercerita kehidupan sebuah keluarga yang bergerak maju. Cerita ini berawal dari tahap pengenalan. Pada tahap pengenalan. Pengarang mengenalkan karakter tokoh utama, yaitu seorang tokoh yang bernama Tinah.
Baru setelah itu dimunculkan tokoh-tokoh lain yang mendukung jalannya cerita. Mulai dari Mbok Pah, nenek Tinah, yang mengasuh Tinah semenjak ia putus sekolah, Sim Seorang kenek angkot yang berhasil memenangkan hati Tinah dan akhirnya mereka menikah. Kemudian lahirlah kelima anak mereka. Setelah itu masih banyak tokoh-tokoh yang dimunculkan sebagai pendukung cerita. Pada awalnya penceritaan berjalan maju, namun saat-saat di tengah penceritaan, ingatan Tinah yang belakangan disebut dengan panggilan Ibuk, kembali menceritakan zaman dulu, dan akhirnya kembali ke masa kini. Hal itu dapat dilihat kutipan berikut.
“Iya, nggak apa-apa. Padahal dulu bocornya nggak sebanyak ini, Nduk. Entar ya, Ibuk cerita bagaimana kita membangun rumah ini,” jawab Ibuk.
Hujan belum reda. Matahari mulai merangkak ke ufuk barat hendak tenggelam tapi sinarnya masih kelihatan di balik awan yang mulai gelap. Ibuk menyalakan lampu di ruang tamu. Semua anaknya telah berkumpul di sana. Mira di gendongannya. “Begini ceritanya…” (Setyawan, 2012:76).
Mulai dari kutipan itu, Ibuk mulai menceritakan zaman-zaman membangun rumahnya dulu. Zaman yang begitu membutuhkan perjuangan. Saat anak ibuk nomer satu sampai tiga masih kecil-kecil dan juga saat itu Ibuk hamil anak keempat. Perjuangan Ibuk begitu keras, dalam keadaan hamil, Ibuk bolak-balik menggotong air dari sumur tetangga dan menyiapkan makanan untuk semua tukang. Proses pembangunan rumah berjalan selama tiga bulan. Akhirnya Ibuk mengakhiri ceritanya, dan alur cerita kembali ke masa kini. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Ah, begitulah rumah ini dibangun. Ibuk mengakhiri ceritanya. Hujan mulai reda. Mata Ibuk menerawang ke langit-langit (Setyawan, 2012:79).
Selesai bercerita tentang masa lalunya saat membangun rumah kecil mereka, Ibuk mengingat seseorang yang memberinya wejangan saat proses pembangunan rumah berlangsung. Orang itu adalah Mbah carik. Disini Ibuk kembali akan menceritakan sosok Mbah Carik pada anak-anaknya. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
“Ibuk hampir lupa! Ketika membangun rumah ini, Ibuk mendapat wejangan dari wong pinter di Gang Buntu. Tentang si Bayek,” kata Ibuk setelah mematikan lampu di dapur.
Anak-anak bengong. Mereka tidak mengerti apa yang baru saja Ibuk katakan.
“Besok malam ya, Ibuk cerita tentang Mbah Carik,”janji Ibuk.
Besok malanmya ingatan Ibuk mulai menerawang lagi ke kejadian yang sudah lampau. Hal inilah yang membuat alur kembali mundur. Malam itu sesuai janjinya pada anak-anak, Ibuk menceritakan Mbah Carik yang memberikan
wejangan saat membangun rumah mereka. Beginilah wejangan Mbah Carik kala itu.
“Nah, kamu ini hamil kok angkat-angkat air,” sapa Mbah Carik. Ibuk yang sedang hamil Rini mengangkat air di dua ember plastik warna merah dari rumah Lek Sanik ke rumah kecil yang sedang dibangun. “Mboten nopo-nopo, Mbah. Sudah tiap hari seperti ini,”kata Ibuk menarik napas panjang. Bayek di belakang Ibuk, menarik-narik daster batiknya.
“Nah, Nah…Sing ati-ati yo,”Pesan Mabah Carik sambil menepuk pundak Ibuk. “Yang sabar dulu ya. Hidupmu sekarang susah. Tapi percaya aku, Nah. Anak lanang yang ada dibelakangmu itu kelak akan membahagiakanmu,” pesan Mbah Carik. Raut wajahnya kalem. “Ke sini Le, Mbah cium!” (Setyawan, 2012:81).
Begitulah seterusnya Ibuk mulai menceritakan Mbah Carik. Mbah Carik adalah orang yang sangat disegani di gang Buntu. Setelah menceritakan semua tentang Mbah Carik, Ibuk mengakhiri ceritanya. Alur cerita kemudian berjalan maju. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Begitulah Mbah Carik. Ibuk menceritakan pada anak-anaknya. ….
Ibuk kemudian pergi ke dapur. Di pintu menuju dapur, ia melihat deretan sepatu anaknya. Sepatu Nani sudah mau jebol.
Mulai dari itu, alur cerita kembali bergerak maju sampai akhir cerita. Pengarang mulai menceritakan kehidupan keluarga Ibuk. Kejadian demi kejadian diceritakan runtut, mulai dari kelima anak-anaknya yang selesai sekolah, masuk kuliah, dan Bayek, anak laki-laki Bapak dan Ibuk kerja di NYC, anak-anak perempuan semua menikah, sampai Bayek kembali ke Indonesia, dan pada akhir cerita, diceritakan Bapak berpulang. Sebuah ending cerita yang mengharukan, namun juga sarat akan nilai-nilai yang dapat dipetik dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sebuah cerita yang penuh inspirasi dan memotivasi.
1. Tahap situation (penyituasian)
Pada tahap ini, pengarang melukiskan tokoh dan situasi cerita. Pada awalnya tokoh utama dimunculkan dengan ciri-cri fisiknya, begitu juga situasi yang melatarinya. Hal itu napak dalam kutipan berikut.
Anak kecil itu duduk sendiri di sudut ranjang sambil melipat seragam warna kuning dan hijau pelan-pelan. Ia kemudian menyimpan ke dalam lemari. Ada kekecewaan di matanya yang bening. Besok ia tidak akan kembali ke sekolahnya di Taman Siswa Batu. Matanya menerawang ke sandal jepit yang biasa ia pekai ke sekolah. Air matanya menetes. Anak itu, Tinah, harus mengubur harapan untuk menyelesaikan sekolah. Ia tak pernah kembali ke sekolah. Buat anak perempuan, tidak apa-apa tidak sekolah, kata Mak Gini, ibunya. Tinah kehilangan harapan (Setyawan, 2012:1).
Pagi yang biasa. Pagi yang ramai di pasar Batu. Di depan kios Mbok Pah, jajaran angkot mulai menurunkan penumpang. Sebagian besar adalah ibu-ibu yang akan berbelanja Hampir semua memakai sandal jepit dan menenteng tas kresek kosong. Para sopir angkot dan kenek pun banyak yang turun untuk sarapan. Salah satunya, anak muda berusia sekitar 23 tahun. Seorang kenek yang telah lebih dari setahun datang dan pergi bersama angkotnya di pasar Batu. Ia terlihat berbeda dari sopir atau kenek lain. Pakaiannya selalu rapi. Tatapan matanya melankolis tapi tajam. Badannya tidak tinggi tapi gagah, gayanya flamboyan. Alisnya tebal dan bibirnya penuh. Ia dekat dengan semua orang, dari ibu-ibu sampai preman. Ia dicap sebagai playboy pasar (Setyawan, 2012:4).
Kutipan di atas adalah pengenalan awal tokoh dan situasi dalam novel Ibuk. Pengarang mengenalkan tokoh dengan ciri-ciri fisiknya dan situasi yang melatarinya.
2. Tahap generating circimtantes (pemunculan konflik)
Pada tahap ini, pengarang mulai memunculkan peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan terjadinya konflik. Salah satunya adalah konflik batin yang dialami oleh tinah tentang percintaannya dengan kenek angkot. Permasalahan yang munncul adalah, Mbok Pah menginginkan Tinah memilih laki-laki yang lebih mapan. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
“Nah…masa’ kamu gak mau orang yang sudah mateng dan sebaik dia?” kata Mbok Pah meyakinkan. “Apa kamu masih pilih Sim itu? Ganteng iya, tapi Mbok rasa dia belum mateng, Nah. Belum siap. Masa’ kamu mau nunggu?
Tinah, terdiam. Mbok Pah merasa kasihan juga melihat cucunya kebingungan. “Gini Nah, kamu pikirkan ya. Iki serius. Iki uripmu. Mbok suka sama Sim, tapi Mbok juga belum yakin. Lek Hari entar malam mau kerumah, mau nanya ke kamu langsung.”
Tinah masih terdiam. Ia tak berani menyangkal Mboknya. Ia teringat permintaan Sim setelah pulang dari Pujon kemarin.
Nah…kamu mau gak hidup susah sama aku. Kita, hidup berdua.
“Mbok aku gak mau pilih-pilih,” Jawab Tinah akhirnya. “Sim itu hidupnya gak seperti Lek Hari tapi orangnya apikan.”
Kini justru Mbok Pah yang diam. Ia sudah tahu apa yang menjadi pilihan cucunya (Setyawan, 2012:21-22).
Kutipan di atas merupakan konflik awal yang muncul, yakni pertentangan jodoh antara Tinah dengan Mbok Pah. Namun pada akhirnya hati Tinah lebih memilih Sim seorang kenek angkot. Mbok Pah pun sepakat dengan pilihan Tinah.
3. Tahap rising action (peningkatan konflik)
Pada tahap ini, pengarang mulai memunculkan konflik yang lebih kompleks dan pengembangan dari konflik sebelumnya, yakni setelah memutuskan hidup berumah tangga dengan Sim, rumah tangga Tinah selalu dipenuhi dengan permasalahan-permasalahan ekonomi yang terus menghimpit. Apalagi setelah kelima anaknya terlahir. Hal itu dapat terlihat dalam kutipan berikut.
Tahun berlalu. Anak-anak Ibuk dan Bapak tumbuh semakin besar. Beban hidup semakin berat. Kebutuhan semakin banyak. Setahun setelah Mira lahir, Ibuk jatuh sakit karena kecapekan dan sering telat makan. Setiap kali buang air selalu ada darah. Ibuk terkena sakit maag akut dan tak bisa beranjak dari ranjang selama berminggu-minggu. Mira dijaga oleh Isa. Nani menjaga Bayek dan Rini. Bapak membantu mempersiapkan sekolah Isa dan Nani sebelum menarik angkot. Bayek dan Rini sendiri untuk sementara meliburkan diri dari sekolah. Mak Gini membantu memasak. Rumah begitu sedih tanpa senyum Ibuk (Setyawan, 2012:37).
Semenjak saat itu, permasalahan yang lebih kompleks selalu saja muncul, mulai dari anaknya yang meminta buku baru, sepatu jebol, bayaran untuk SPP yang sering menunggak, dan lagi angkot bekas yang dibeli Bapak sering rusak. Uang untuk makan sehari-hari harus terganggu untuk membetulkan angkot. Permasalahan-permasalahan itu nampak pada kutipan berikut.
Buku baru. “Ah, kamu coba pake buku kakakmu, Yek! Yang penting besok bawa buku dulu.
Sepatu jebol.”Nan, coba minta lem ke Bapakmu!
Uang SPP.” Oh, besok tanggal 10? Besok ya, Yek. Besok. Pasti ono kok!”
“Buk, tahun depan aku ke SMP!”. Kali ini pertanyaan Isa. Ibuk tak langsung menjawab.
Malam mulai larut. Obrolan ruang tamu telah usai. Ibu tak menangis, hanya nelangsa. Ia menidurkan Mira. Bapak masih belum pulang. Masih banyak pertanyaan lain yang belum terjawab. Tapi ada satu hal yang tiba-tiba Ibuk ingat. Tiga hari lagi, ia harus mengambil rapor Bayek (Setyawan, 2012:59-61).
“Aduh Nah, capek sekali badan ini! Angkot rusak lagi. Uang habis buat benerin angkot. Aduh Nah, yo opo iki?” keluh Bapak (Setyawan, 2012:68).
“Anak-anak tambah gedhe. Kebutuhan kita tambah banyak. Angkot rusak nggak ada hentinya sudah tiga hari berturut-turut, Nah. Ada saja yang rusak. Sudah tiga hari ini narik angkot hanya untuk beli onderdil. Belanja buat besok masih ada tah?” Tanya Bapak (Setyawan, 2012:111).
Dari kutipan-kutipan di atas menunjukkan konflik yang selalu muncul dalam keluarga Ibuk dan Bapak. Permasalahan ekonomi selalu membelit mereka.
4. Tahap climax (klimaks)
Pada tahap ini, pengarang semakin mengerucutkan permasalahan. Permasalahan yang muncul sudah pada puncaknya. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
“Wah, kok sudah pulang , Pak!” sapa Nani menyambut Bapak.
Tidak seperti biasa, bapak pulang lebih awal. Wajah Bapak ltih. Lengan tangannya belepotan oli. Bajunya lusuh sekali. Rambut Bapak tidak serapi di pagi hari. Ia selalu memakai minyak rambut Brisk sebelum berangkat kerja. Mata Bapak sedikit merah. Bajunya basah berkeringan. Ah, Bapak begitu lemas.
“Pak, besok loh bayar SPP paling telat,” Bayek mengingatkan. Bapak hanya diam menuju Dapur.
“Wah kok sudah pulang, Pak?” sambut Ibuk.
Bapak tak menghiraukan Ibuk dan membersihkan tangannya di dapur. “mau teh panas tah? Atau kopi?” Tanya Ibuk.
Tak ada balasan dari Bapak. Keduanya diam. Bapak mengganti baju dengan kaos yang masih bersih. Mira tidur pulas di kamar.
“Kenapa lagi mobilnya?” Tanya Ibuk.
“Sudah empat hari ini Nah, angkot mogok lagi! Kesel aku, Nah. Mbuh ini!” kata Bapak gusar.
Bayek dan Rini bergabung dengan Isa di kamar depan. Nani juga. Tidak biasanya Bapak terdengar secapek ini. Ia terdengar hampir putus asa. “Sudah empat hari ini, Nah. Mangan opo arek-arek mene? SPP juga mesti dibayar besok. Kalau begini terus, pingin segera jual angkot saja. Gak ngerti maneh aku!” ujar Bapak di sudut dapur sambil membanting sandal jepit biru tipisnya dengan keras.
Ibuk terkejut. Anak-anak yang ada di kamar depan terdiam.
“Wis, Mbuh Nah!” lanjut bapak singkat. Suaranya pelan. Matanya berkaca-kaca.
“Sing sabar sik. Sing sabar, kata Ibuk menghibur Bapak. “itu tehnya diminum dulu.”
Bapak masih diam. Ia tidak menyentuh teh yang ada di atas meja marmer.
“Aku capek, Nah. Iki godaan datang terus. Aku berangkat lagi ya! Gak bisa lihat anak-anak seperti ini. Saaken!” (Setyawan, 2012:114-116). Kutipan di atas menunjukkan klimaks dari konflik yang sering muncul. Permasalahan ekonomi yang selalu menghimpit membuat Bapak sang kepala keluarga hampir putus asa menghadapinya. Uang hasil narik angkot yang selalu habis hanya untuk membetulkan angkot yang rusak, padahal masih banyak sekali kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, sampai-sampai Bapak tidak dapat menahan emosinya, dan melampiaskannya dengan membanting sandal.
5. Tahap denouement (penyelesaian)
Pada tahap ini, pengarang mulai memunculkan solusi-solusi dari konflik yang muncul. Mulai ada penyelesaian dari setiap konflik. Kerena kebutuhan yang terus menghimpit, dan Bayek diterima kuliah di IPB Bogor, maka Ibuk dan Bapak memutuskan untuk menjual angkot karena biaya kuliah yang tidak murah. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Di hari ketiga sebelum tenggat pembayaran uang masuk, Ibuk mengejutkan anak-anaknya. Saat itu Bayek sedang menonton TV di ruang tamu bersama empat saudaranya.
“Yek, kita jual angkot kita…,” kata Ibuk.
Anak-anak terdiam. Bapak yang juga ada di sana tak bisa berkata-kata. “Iya, kita jual angkot untuk kuliah ke Bogor,” tegas Ibuk lagi meyakinkan Bayek. semuanya masih diam, terkejut dengan kenekatan Ibuk.
“Entar kita mau makan apa kalau angkot dijual?” Tanya Bayek. Ibuk menarik napas panjang.
Beberapa saat kemudian Bapak menimpali, ”Bapak akan kerja di tetangga sebelah menjadi sopir truk.
Akhirnya Bayek pergi ke Bogor. Kuliah. Tidak menjadi sopir angkot seperti Bapak tetapi menjadi mahasiswa.
Dari sebuah keputusan menjual angkot untuk biaya kuliah Bayek itulah, permasalahan demi permasalahan terselesaikan. Bayek dapat lulus kuliah sebagai lulusan terbaik. Kemudian ia bekerja sampai ke NYC. Dari situlah keadaan perekonomian keluarga Ibuk terangkat. Bayek dapat melunasi semua hutang keluarga dan menyenangkan Ibuk serta Bapak, juga saudara-saudaranya. d. Latar atau setting
Latar atau setting meliputi tempat, waktu dan suasana terjadinya suatu peristiwa atau kejadian dalam sebuah cerita. Adapun latar dalam novel Ibuk karya Iwan Setyawan adalah latar tempat, waktu. Selain itu, latar suasana juga digambarkan pengarang dalam novel ini. Menurut Nurgiyantoro (2005:233-234), latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam
lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain yang tergolong latar spiritual seperti dikemukakan sebelumnya. Di samping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, atau atas.
1. Tempat
Latar tempat merupakan tempat dimana terjadinya peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh. Tempat terjadinya peristiwa dalam novel Ibuk yakni berada di dua Negara, Indonesia tepatnya di Kota Batu, Jawa Timur, Bogor, Jakarta, Jogja, dan Karawang, dan di New York City. Latar tempat di Kota Batu, meliputi pasar batu, di rumah di Gang Buntu, di sekolah, di bandara, di rumah sakit, di kelurahan dan di pemakaman. Latar tempat di NYC, saat Bayek bekerja di sana meliputi apartement, kompleks perkantoran di Manhattan, taman, restoran, dan groceries shopping. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.
Pagi yang biasa. Pagi yang ramai di Pasar Batu. Di depan kios Mbok Pah, jajaran angkot mulai menurunkan penumpang (Setyawan, 2012:4). Meskipun harus bolak-balik dari satu sekolah ke sekolah yang lain, Ibuk tak pernah meminta bantuan orang lain untuk mengambilkan rapor anak-anaknya. Dari SD Negeri Ngaglik 1, tempat Bayek dan Rini sekolah, Ibuk jalan kaki ke sekolah Nani, SD Ngaglik 2. Tempat Isa sekolah di SD Ngaglik 3, yang paling jauh (Setyawan, 2012:63).
Di pegadaian, Ibuk segera mencari Mak Gini yang bekerja di sana sebagai perantara antara petugas pegadaian dan orang-orang yang ingin menggadaikan barang (Setyawan, 2012:119).
Malam pertama mereka berada di rumah Mbak Gik. Tak ada selimut di atas dipan kayu mereka (Setyawan, 2012:25).
“Ni, beli sepatu yang agak gedean ya, biar bisa dipakai sampai kamu kelas 6 entar,” pesan Ibuk sembari memilihkan sepatu untuk Nani di Toko bata yang terletak di alun-alun Batu (Setyawan, 2012:89).
Ibuk dan Bayek menyusuri gang-gang kecil di sebelah rumah, tangan Ibuk menggenggam tangan Bayek. Matanya sembab. Tak ada percakapan.
Sesampainya di hutan bambu, Ibuk diam sebentar. Air matanya mengalir kembali. Bayek menatap mata Ibuk. Matanya pun mulai basah (Setyawan, 2012:117).
Siang harinya Ibuk mengurus surat-surat untuk keringanan uang bangunan sekolah. Dengan sandal jepit dan daster batik, Ibuk mengajak Bayek, Mira dan Rini ke kantor kelurahan di dekat SD Ngaglik 1 Batu (Setyawan, 2012:122).
Di Bogor Bayek berjuang melawan rasa takut, rasa kangen akan rumah kecil di Gang Buntu (Setyawan, 2012:134).
Tiga tahun sudah Bayek di Jakarta. Tiga tahun sudah ia berusaha membangun hidup baru (Setyawan, 2012:143).
Ia sesekali mengunjungi keluarga adiknya, Mira, yang tinggal di Karawang. Bulan September 2011, Bayek dan Ibuk mengunjungi Mira yang telah melahirkan anak kedua, Arti (Setyawan, 2012:247).
Dua minggu penuh cinta dan kehangatan, Bayek pun harus kembali ke New York. Bapak dan Ibuk mengantarkan ke Bandara Juanda Surabaya (Setyawan, 2012:171).
Keesokan paginya Bayek langsung ke Manhattan. Sendirian ia menelusuri jalanan di daerah itu dan merasakan hawa kota yang sebelumnya sangat hidup berganti menjadi melankolis. Grand Central yang biasanya hiruk-pikuk di pagi hari tenggelam dalam kebisuan dan dipenuhi wajah-wajah yang berkabung. Tak ada kebisingan sepanjang 42nd Street. Bayek kemudian menyusuri Madison Ave. kantor-kantor sepi. Took-toko sepi. Sesampainya di Madion Square Park, Bayek tak lagi melihat pemusik jalanan yang biasanya menggelar konser musik di udara musim gugur yang cerah. East Village tak terlihat hidup seperti biasanya. SoHo hampa dari turis-turis berbelanja. Pintu depan restoran dan butik-butik tertutup. Hanya terlihat beberapa orang yang lalu lalang di China Town yang biasanya berdesakan. Orang-orang menaruh bunga di depan kantor pemadam kebakaran di daerah TriBeCa. Daerah sekitar WTC ditutup (Setyawan, 2012:161).
Akhirnya atas rekomendasi dokter saraf, Bapak dibawa ke rumah sakit di Malang dan menginap beberapa hari di sana (Setyawan, 2012:260).
Pagi yang cerah di kaki Gunung Panderman. Satu per satu, pelayat meninggalkan pemakaman. Tinggal Ibuk dan keluarga dekatnya (Setyawan, 2012:277).
Dari beberapa kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa latar tempat yang digunakan dalam novel Ibuk antara lain adalah di pasar batu, di SD Ngaglik, di pegadaian, di kelurahan, di Bogor, di Jakarta, di Karawang, di rumah Mbak Gik, di toko sepatu, di hutan bambu dan di pemakaman, dan beberapa lokasi di NYC.
2. Waktu
Latar waktu merupakan waktu kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh. Latar waktu dalam novel ini menggunakan hari, bulan, tahun, pagi, siang, malam, selepas sholat, di waktu subuh, dan menunjukkan jam. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Pagi yang biasa. Pagi yang ramai di pasar Batu. Di depan kios Mbok Pah, jajaran angkot mulai menurunkan penumpang (Setyawan, 2012:4). Jam 11 malam. Gang Buntu senyap. Semua pintu tertutup rapat. Korden menyelimuti jendela di setiap rumah. Hampir semua rumah gelap, hanya lampu depan yang menyala. Redup. Bulan hanya separuh tapi terangnya benderang. Cahaya putih terpantul dari awan di arah barat. Sunyi (Setyawan, 2012:67).
Sore itu, seperti janjinya, sopir angkot baru itu menunggu Tinah di Gang Buntu. Beberapa penumpang di angkotnya juga menunggu. Ada sekitar tujuh orang langganan Sim di dalam mobil Mitsubishi Colt T tua itu (Setyawan, 2012:18).
Minggu depannya, Sim menjemput Tinah selepas azan magrib. Untuk pertama kalinya Tinah memberanikan diri keluar dengan lelaki yang baru saja ia kenal (Setyawan, 2012:13).
Namun Mbok Pah jatuh sakit dua minggu setelah acara lamaran (Setyawan, 2012:24).
Bulan berikutnya, Sim bersama keluarga Mbak Gik berjalan dari Jalan Darsono ke Gang Buntu. Mereka menanyakan Ngatinah kepada keluarganya (Setyawan, 2012:23).
Setelah mengerjakan PR, baru mereka tidur siang. Jam 2 siang rumah mereka sepi. Gang Buntu juga sepi. Ibuk masih sibuk di dapur (Setyawan, 2012:51).
Sebelum ayam berkokok, Bapak sudah terbangun. Ia masih mengenakan baju yang dipakai tadi malam. Sandal jepit swallow warna biru tua menanti di depan pintu rumahnya. Ia segera menghidupkan mesin mobil (Setyawan,2012:69).
Di akhir pekan Bapak sering mengajak Bayek untuk narik angkot (Setyawan, 2012:103).
Air mata Bayek meleleh setelah salat Isya. terlintas bayangan orang-orang yang terjebak dalam gedung saat pesawat menabrak (Setyawan, 2012:158).
Pagi itu gelap dan dingin. Hujan deras mengguyur Kota Batu. Jam setengah tujuh pagi segelap jam lima pagi. Lampu ruang tamu sudah dimatikan Ibuk setelah salat subuh tadi (Setyawan, 2012:258).
Di Bulan Januari Bayek dipromosikan menjadi senior data processing executive. Gajinya bertambah. Bonusnya bertambah. Usaha kerasnya selama setahun ini mendapat penghargaan (Setyawan, 2012:167).
Di musim semi ketujuh, Bayek pulang ke Indonesia. Kali ini untuk menghadiri pernikahan Mira. Pernikahan kedua yang Bayek hadiri dalam keluarganya (Setyawan, 2012:217).
Di musim gugur kesepuluh Bayek kembali mengirimkan surat pengunduran diri. Hatinya kini telah bulat. Meskipun atasannya menawarkan jabatan yang lebih tinggi, manjadi salah satu direktur di North America, Bayek akhirnya mengepak barang-barangnya dan pulang ke Indonesia (Setyawan, 2012:222).
Sabtu, 4 Februari 2012, pukul 2 dini hari. Rini bangun dan memeriksa kondisi Bapak. Tangan rini mengelus tangan Bapak. Juga dadanya. Bapak masih tertidur pulas. Rini kebali tidur di kursi di samping ranjang Bapak. Tangan kiri Rini masih memegang tangannya dan tangan kanan memegang dada Bapak (Setyawan, 2012:271).
Dari beberapa kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa latar waktu yang digunakan dalam novel Ibuk antara lain adalah pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari, menunjukkan jam, menunjukkan hari, menunjukkan minggu, menunjukkan bulan, menunjukkan tahun, menunjukkan musim, sehabis salat, waktu subuh, dan sebelum ayam berkokok.
3. Suasana
Suasana yang diangkat oleh Iwan Setyawan dalam novelnya Ibuk yakni mengangkat kehidupan masyarakat menengah kebawah yang menampilkan keprihatinan dan kesederhanaan. Suasana yang khas pada waktu dahulu yang diselimuti dengan kisah-kisah sederhana khas kehidupan pedesaan, sampai kehidupan pada masa kini yang serba modern. Hal ini nampak dalam kutipan berikut.
Minggu berikutnya, mereka kembali nonton layar tancep. Mereka berjalan kaki menuju lapangan bola di samping kantor koramil Batu. Kali ini Tinah membawa makanan di dalam tas kresek warna hitam. Isinya kacang rebus, pisang goreng, juga teh hangat yang dibungkus kantong plastik kecil (Setyawan, 2012:14).
Tinah berpikir sejenak. Selama hidupnya, ia belum pernah naik mobil. Ia belum pernah keluar dari kota Batu. Hidupnya dihabiskan di antara Gang Buntu dan pasar sayur Batu (Setyawan, 2012:15).
“Gini Nah, sudah lama Mbok Pah mau ngomong ini, tapi ora enak. Sudah beberapa minggu ini ada yang nanyain kamu terus. Namanya Lek Hari. Mungkin seumuran sama Sim. Dia sudah punya rumah sendiri di Oro-Oro Ombo. Sudah punya usaha sendiri, mencetak batu bata,” jelas Mbok Pah (Setyawan, 2012:21).
Dari beberapa kutipan di atas mencerminkan suasana pada zaman dahulu sebelum keadaan seperti sekarang. Suasana kehidupan desa yang begitu khas dengan kesederhanaan. Namun pada bagian akhir novel, suasananya sudah berubah, dari desa yang masih belum modern, berubah menjadi zaman yang lebih