Pembelajaran akan berlangsung baik apabila terdapat interaksi edukatif antara guru dan siswa. Guru sebagai unsur utama proses belajar mengajar berusaha menciptakan kondisi belajar yang kondusif. Dalam pembelajaran, guru harus memilih metode pembelajaran yang tepat dan sesuai materi yang akan disampaikan sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Keberhasilan pembelajaran dapat diketahui dari hasil belajar ekonomi siswa.
1. Ada Perbedaan Rata-rata Hasil Belajar Ekonomi dengan Menggunakan
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dibandingkan Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Tradisional
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata hasil belajar ekonomi siswa pada kelas eksperimen dibandingkan dengan rata-rata hasil belajar ekonomi pada kelas kontrol. Dengan kata lain bahwa perbedaan hasil
belajar ekonomi dapat terjadi karena adanya penggunaan model pembelajaran yang berbeda untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen peneliti menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sedangkan pada kelas kontrol peneliti menggunakan model pembelajaran tradisional. Lebih tingginya hasil belajar ekonomi kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol dapat dibuktikan melalui uji hipotesis pertama, ternyata Ho ditolak dan H1 diterima, dengan menggunakan rumus T-Test diperoleh t hitung 3,002 > t tabel = 2,013 dengan rata-rata kelas eksperimen 72,00 dan kelas kontrol 68,33, kriteria pengujian hipotesis tolak Ho jika t hitung > t tabel. Dengan demikian, ada perbedaan yang signifikan rata-rata hasil belajar ekonomi siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) dibandingkan dengan yang pembelajarannya menggunakan
model pembelajaran tradisional.
Temuan penelitian ini, diperkuat dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Wina 88Sanjaya (2006: 218) yang menyatakan bahwa, Problem Based Learning
merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Berdasarkan tahapan dalam
Problem Based Learning yang di antaranya adalah menyadari masalah,
merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, menentukan pilihan penyelesaian. Oleh karena itu dimungkinkan munculnya ide-ide siswa dalam menanggapi dan menyelesaikan permasalahan yang bermakna dan berkualitas sehingga kreativitas siswa dapat muncul dan berkembang.
Model pembelajaran Problem Based Learning diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa. Hal ini dikarenakan model pembelajaran Problem
Based Learning memerlukan keaktifan siswa dalam memecahkan suatu masalah
yang berkaitan langsung dengan materi yang akan dibahas. Selama proses diskusi berlangsung guru membantu siswa untuk belajar. Dalam hal ini guru meminta siswa untuk memecahkan masalah, mendorong siswa untuk dapat berkerjasama dengan teman dalam satu kelompok. Guru juga memantau kerja masing-masing kelompok dan mengarahkan siswa yang mengalami kesulitan selama diskusi berlangsung.
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di dalam prakteknya siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok dibagi secara acak dengan kemampuan yang berbeda dan minat belajar yang berbeda. Kemudian setiap kelompok diberi LKS yang berisi masalah yang harus dipecahkan bersama dengan kelompoknya. Setelah masalah yang ada di LKS sudah dipecahkan bersama kelompoknya, kemudian beberapa kelompok mempresentasikannya di depan kelas dan kelompok lain menaggapinya.
Banyak masalah yang dapat dikaitkan dengan materi memahami konsep ekonomi dalam kaitannya dengan permintaan, penawaran, harga keseimbangan, dan pasar misalnya dengan mengkaji tentang permintaan konsumen terhadap produk tertentu dan faktor apa saja yang mempengaruhinya. Kemudian mengkaji tentang penawaran produsen terhadap produk tertentu dan faktor apa saja yang mempengaruhinya dan masih banyak masalah yang lain untuk dikaji dan dihadirkan dalam proses pembelajaran.
Masalah tersebut diselesaikan sacara ilmiah oleh siswa dengan berkelompok untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, siswa terlibat dalam proses pembelajaran. Materi tidak hanya dihafal semata, tetapi siswa memahaminya kemudian mencoba menerapkan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan memahami konsep ekonomi dalam kaitannya dengan permintaan, penawaran, harga keseimbangan, dan pasar
Hal ini diperkuat dengan pendapat Ari Widodo (2008: 85) yang menyatakan bahwa, materi yang dipelajari dengan melibatkan siswa secara aktif maka materi itu akan mudah diingat akhirnya hasil belajar siswa akan meningkat. Pengetahuan yang diperoleh dengan pemecahan masalah yang dikaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya akan menyebabkan pengetahuan itu akan mudah diingat Hal ini didukung dengan pernyataan De Porter dalam Mulyati (2007: 2) bahwa Orang belajar adalah 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan didengar, 70% dari apa yang dikatakan dan 90% yang baik dari apa yang dikatakan dan dilakukan. Untuk itu, strategi yang lebih memberi hasil yang baik bagi siswa adalah pembelajaran yang banyak melibatkan siswa berpikir, berbicara, berargumentasi dan mengutarakan gagasan-gagasannya.
Hal ini juga diperkuat dengan pendapat John Dewey dalam Bimiyati dan Mudjiono (2006: 46) Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar dilakukan secara aktif, baik individual maupun kelompok dengan memecahkan masalah.
Penelitian ini juga dibuktikan dengan penelitian yang sudah ada bahwa, model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa yaitu penelitian yang dilakukan oleh Andalas Mulyawan di MAN 2 Bandar Lampung pada tahun 2007 dengan judul penelitian pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan pasar dengan pemanfaatan media Audio-Visual pada siswa kelas X1 MAN 2 Bandar Lampung tahun pelajaran 2007/2008. Hasil penelitian yang dilakukannya adalah Pembelajaran ekonomi pokok bahasan pasar persaingan sempurna dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning)
dengan pemanfaatan media audio-visual termasuk dalam kategori baik dengan nilai rata-rata hasil belajar ekonomi siswa 7,83.
Sedangkan pada model pembelajaran tradisional guru lebih berperan aktif dengan menjelaskan materi secara rinci. Hal tersebut membuat siswa menjadi pasif karena hanya mendengarkan penjelasan dari guru tanpa ada interaksi yang berarti. Pembelajaran ini membuat siswa menjadi bosan karena dalam waktu tertentu siswa hanya mendengarkan penjelasan guru di depan kelas.
Hal ini sesuai dengan pendapat Adrian (2004) mengungkapkan bahwa, Model pembelajaran tradisional dengan menggunakan ceramah adalah metode mengajar dengan menyampaikan informasi pengetahuan secara lisan kepada siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Penyampaian materi yang didominasi oleh guru membuat siswa hanya mendengarkan dan tidak ada aktivitas yang membuat mereka berpikir secara ilmiah. Berbeda dengan pembelajaran dengan
menggunakan PBL siswa dituntut untuk berpikir ilmiah dan guru hanya menjadi fasilitator yang membantu siswa dalam memecahkan masalah. Aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran sangat penting karena tanpa ada aktivitas, proses pembelajaran tidak akan berlangsung baik dan hasil belajar pun akan sulit meningkat
Hal ini juga diperkuat dengan pendapat Dewey dalam Sardiman (2003: 97) bahwa, aktivitas sangat diperlukan dalam belajar. Tanpa ada aktivitas, proses belajar tidak mungkin akan berlangsung dengan baik. Adanya aktivitas yang meningkat diharapkan akan merubah cara belajar siswa dari belajar pasif menjadi cara belajar aktif, sehingga dapat lebih mudah menguasai atau menyerap materi- materi yang diajarkan oleh guru di sekolah atau dengan kata lain dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal.
Pembelajaran yang bermakna apabila siswa aktif dalam proses belajar dan pembelajaran. Siswa tidak sekedar menerima dan menelan konsep-konsep yang disampaikan guru, tetapi siswa beraktivitas langsung. Dalam hal ini, guru perlu menimbulkan aktivitas siswa.
2. Ada Perbedaan Rata-rata Hasil Belajar Ekonomi Siswa yang Memiliki
Minat Rendah yang Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) dibandingkan dengan Pembelajaran Tradisional
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar ekonomi siswa yang memiliki minat belajar rendah pada kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini dapat dibuktikan melalui uji hipotesis kedua, ternyata Ho ditolak dan H1 diterima, dengan menggunakan rumus T-test
diperoleh t hitung = 2,971 dan t tabel = 2,074, dengan kriteria pengujian hipotesis tolak Ho jika t hitung > t tabel. Dengan demikian, terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar ekonomi siswa yang memiliki minat belajar rendah yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran tradisional.
Hasil penelitian ini juga dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas eksperimen yang mengunakan model pembelajaran Problem Based Learning yang memiliki minat belajar rendah yaitu sebesar sebesar 71,25 dengan koefisien kemiringan (skewness) 0,434 kurang dari nol maka bentuk distribusinya negatif dan nilai kurtosis -1,387 lebih kecil dari 0,263 maka distribusinya platikurtik. Sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran tradisional yang memiliki minat belajar rendah sebesar 66,08 dengan koefisien kemiringan (skewness) 0,233 kurang dari nol maka bentuk distribusinya negatif dan nilai kurtosis -,0862 lebih kecil dari 0,263 maka distribusinya platikurtik.
Temuan penelitian ini diperkuat dengan pernyataan Wina Sanjaya bahwa Problem Based Learning (PBL) memiliki kelebihan yaitu mengembangkan minat siswa untuk terus menerus belajar sekalipun kegiatan belajar mengajar di kelas telah berakhir. Oleh karena itu, pembagian kelompok secara heterogen dapat membuat siswa yang memiliki minat belajar rendah dengan menggunakan model pembelajaran PBL dapat berkembang minat belajarnya sedikit demi sedikit untuk belajar memecahkan masalah yang ada di dalam LKS.
Seperti pendapat yang diungkapkan Sumadi Suryabrata (1988: 109) yang menyatakan bahwa, minat adalah kecenderungan dalam diri individu untuk
tertarik pada sesuatu objek atau menyenangi sesuatu objek. Hal ini didukung oleh pendapat Berhard minat timbul atau muncul tidak secara tiba-tiba, melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja, dengan kata lain, minat dapat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan.
Hal ini diperkuat dengan pendapat Dimiyati Mahmud (1982) mengatakan bahwa, minat adalah sebagai sebab yaitu kekuatan pendorong yang memaksa seseorang menaruh perhatian pada orang situasi atau aktifitas tertentu dan bukan pada yang lain, atau minat sebagai akibat yaitu pengalaman efektif yang distimular oleh hadirnya seseorang atau sesuatu obyek, atau karena berpartisipasi dalam suatu aktifitas.
Hal ini didukung oleh pendapat Dakir (1097: 81) yang menyatakan bahwa, untuk mencapai hasil yang baik disamping kecerdasan juga minat, sebab tanpa adanya minat segala kegiatan akan dilakukan kurang efektif dan efesien. Dalam percakapan sehari-hari pengertian perhatian dikacaukan dengan minat dalam pelaksanaan perhatian seolah-olah kita menonjolkan fungsi pikiran, sedangkan dalam minat seolah-olah menonjolkan fungsi rasa, tetapi kenyataanya apa yang menarik minat menyebabkan pula kita berperhatian, dan apa yang menyebabkan perhatian kita tertarik minat pun menyertai kita.
Pada model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5-8 orang per kelompok. Pembagian kelompok tersebut diacak secara heterogen dengan kemampuan belajar siswa dan minat belajar siswa yang berbeda. Di dalam kelompok tersebut siswa yang
memiliki minat belajar rendah digabung dengan siswa yang memiliki minat belajar tinggi. Hal ini dimaksudkan agar siswa yang memiliki minat belajar rendah dapat terdorong untuk ikut menyelesaikan masalah yang ada di dalam LKS. Pembagian kelompok secara heterogen juga dapat membuat siswa yang memiliki minat belajar tinggi dapat membantu siswa yang memiliki minat belajar rendah dalam memecahkan masalah.
Sedangkan pada pembelajaran tradisional siswa hanya dituntut mendengarkan penjelasan guru tanpa harus memecahkan suatu masalah yang membuat siswa menjadi pasif sehingga siswa yang memiliki minat belajar rendah terhadap pelajaran ekonomi menjadi bosan karena tidak ada ketertarikan terhadap pembelajaran karena mereka tidak dituntut untuk berpikir kritis seperti dalam pembelajaran PBL yang menuntut siswa berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang berkaitahn dengan materi pelajaran yang akan dibahas.
3. Tidak Ada Perbedaan Rata-rata Hasil Belajar Ekonomi Siswa yang Memiliki Minat Belajar Tinggi yang Menggunakan Model Pembelajaran PBL dibandingkan dengan Menggunakan Pembelajaran Tradisional
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui tidak ada perbedaan rata-rata hasil belajar ekonomi siswa yang memiliki minat belajar tinggi pada kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini dapat dibuktikan melalui uji hipotesis ketiga, ternyata H1 ditolak dan Ho diterima, dengan menggunakan rumus T-test diperoleh t hitung = 1,464 dan t tabel = 2,074, dengan kriteria pengujian hipotesis terima Ho jika t hitung < t tabel. Dengan demikian, hasil belajar ekonomi siswa yang memiliki minat belajar tinggi yang pembelajarannya menggunakan model
pembelajaran PBL tidak terdapat perbedaan dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran tradisional.
Hasil penelitian ini juga dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas eksperimen yang mengunakan model pembelajaran Problem Based Learning yang memiliki minat belajar tinggi yaitu sebesar 72,75 dengan koefisien kemiringan (skewness) -0,076 kurang dari nol maka bentuk distribusinya negatif dan nilai kurtosis -0,514 lebih kecil dari 0,263 maka distribusinya platikurtik. Sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran tradisional yang memiliki minat belajar rendah sebesar 70,58 dengan koefisien kemiringan (skewness) 0,046 kurang dari nol maka bentuk distribusinya negatif dan nilai kurtosis 0,193 lebih kecil dari 0,263 maka distribusinya platikurtik
Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (1991: 182) yang menyatakan bahwa, minat belajar sendiri berarti suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat. Jadi siswa yang memiliki minat belajar tinggi mempunyai rasa suka dan keterikatan terhadap suatu hal yang memang ia sukai tanpa ada yag menyuruh sekalipun.
Hal ini diperkuat dengan pendapat Muhaimin (1994: 4) yang menyatakan bahwa, minat merupakan kecenderungan afektif seseorang untuk membuat pilihan aktivitas, kondisi-kondisi individual dapat merubah minat seseorang. Sehingga dapat dikatakan minat itu tidak stabil sifatnya.
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang menggunakan LKS yang di dalamnya terdapat masalah yang harus dipecahkan membuat siswa yang memiliki minat belajar tinggi terpacu untuk dapat memecahkan masalah tesebut. Masalah yang ada di dalam LKS yang dibagikan berkaitan dengan materi yang akan dipelajari. Masalah yang terdapat dalam LKS yang dibagikan berkaitan langsung dengan masalah yang terjadi di masyarakat sehingga siswa seolah berada dalam situasi tersebut dan berusaha untuk dapat memecahkan masalah supaya dapat keluar dari masalah yang dihadapi.
Hal ini didukung oleh pendapat Sujanto Agus (1981) yang mengatakan bahwa, minat ialah suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan. Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami, sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan.
Pada dasarnya menerapkan model pembelajaran apapun pada siswa yang memiliki minat belajar tinggi tidaklah sulit karena siswa yang minat belajar tinggi memiliki keinginan dan rasa ingin tahu yang besar dibandingkan dengan siswa yang memiliki minat belajar rendah. Begitu pula dengan diterapkannya model pembelajaran PBL dan tradisional, sama-sama hasil belajar ekonominya meningkat, namun pada model pembelajaran PBL siswa yang memilki minat belajar tinggi lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran tradisional.
4. Tidak Ada Interaksi antara Model Pembelajaran dengan Minat Belajar Siswa
Pada Mata Pelajaran Ekonomi
Berdasarkan hasil analisis pengujian hipotesis kedua diperoleh ada perbedaan rata-rata hasil belajar ekonomi pada siswa yang memiliki minat belajar rendah yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran
tradisional. Pada pengujian hipotesis ketiga diperoleh tidak terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi siswa yang memiliki minat belajar tinggi yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran traditional. Hal ini menunjukkan bahwa pada hipotesis kedua H1 diterima, sedangkan pada hipotesis ketiga H1 ditolak. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan minat belajar dalam mata pelajaran ekonomi. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan uji hipotesis keempat menunjukkan bahwa, Ho diterima dan H1 ditolak, dengan rumus analisis varians dua jalan diperoleh F hitung = 1,726 dan F tabel = 4,062 dengan kriteria pengujian hipotesis terima Ha jikaF hitung > F tabel.
Hasil analisis data di atas menunjukkan bahwa dalam pencapaian hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekonomi pada standar kompetensi memahami konsep ekonomi dalam kaitannya dengan permintaan, penawaran, harga keseimbangan dan pasar, pada siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) rata-rata hasil belajarnya lebih tinggi dari pada siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran tradisional. Dengan kata lain secara marginal siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran PBL baik pada siswa yang memiliki minat belajar tinggi atau rendah
memiliki hasil belajar yang lebih tinggi dari pada siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran tradisional baik pada siswa yang memiliki minat belajar tinggi maupun yang memiliki minat belajar rendah.
Pada pengujian hipotesis keempat terjadi kesalahan tipe 1 yaitu kesalahan karena menolak hipotesis yang benar. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengujian dengan menggunakan uji power sebagai berikut.
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: nilai Source
Type III Sum of
Squares df Mean Square F Sig. Parameter Noncent. Observed Power(a) Corrected Model 296.333(b) 3 98.778 6.314 .001 18.942 .952 Intercept 236321.33 3 1 236321.333 15106.255 .000 15106.255 1.000 m_pbljrn 161.333 1 161.333 10.313 .002 10.313 .881 m_bljr 108.000 1 108.000 6.904 .012 6.904 .729 m_pbljrn * m_bljr 27.000 1 27.000 1.726 .196 1.726 .250 Error 688.333 44 15.644 Total 237306.00 0 48 Corrected Total 984.667 47
Sumber: Hasil pengolahan data tahun 2011
Berdasarkan hasil analisis data di atas, diketahui bahwa,
1. Untuk perlakuan model pembelajaran, power (1-à) penelitian ini adalah sebesar 0,881 atau 88,1 %. Dengan kata lain peluang kesesatannya (à) adalah (1-0,881)= 0,119 atau 11,9%
2. Untuk perlakuan minat belajar, power (1-à) penelitian ini sebesar 0,729 atau 72,9 %. Dengan kata lain, peluang untuk kesesatannya (à) adalah (1-0,729) = 0,271 atau 27,1%
Dengan demikian, kemampuan menolak hipotesis yang benar untuk perlakuan model pembelajaran lebih kuat dibandingkan dengan perlakuan minat belajar.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Terdapat perbedaan hasil belajar ekonomi antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan model pembelajaran tradisional. Hal ini ditunjukan dengan hasil perhitungan t hitung > t tabel yaitu 3,002 > 2,013. Penggunaan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) yang tepat akan sangat berpengaruh terhadap
hasil belajar siswa. Hal ini terlihat bahwa hasil belajar ekonomi siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning
(72,00) lebih tinggi dibandingkan siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran tradisional (68,33).
2. Berdasarkan pengujian dengan menggunakan T-Test diperoleh hasil t hitung > t tabel yaitu 2,971 > 2,074 yang berarti terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar ekonomi siswa yang memiliki minat rendah yang diajar menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan model pembelajaran tradisional. Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning yang tepat akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang memiliki minat rendah. Hal ini terlihat bahwa hasil belajar ekonomi siswa yang memiliki minat belajar rendah yang diajarkan menggunakan model
pembelajaran Problem Based Lerarning 71,25 lebih tinggi dibandingkan siswa yang menggunakan model pembelajaran tradisional 66,08.
3. Hasil belajar ekonomi siswa yang memiliki minat tinggi yang diajar menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan model pembelajaran tradisional tidak terdapat perbedaan. Hal ini ditunjukan dengan hasil perhitunga t hitung < t tabel yaitu 1,464 < 2,074. Penggunaan model pembelajaran apapun akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Begitu pula dengan penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dan Tradisional sama-sama dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 4. Tidak terdapat interaksi antara model pembeljaran dengan minat belajar
siswa dalam mata pelajaran ekonomi, hal ini ditunjukan dengan hasil perhitungan dimana F hitung < F tabel yaitu 1,726 < 4,062.