I PENDAHULUAN Latar Belakang
VIII. PEMBAHASAN UMUM
Partisipasi Perempuan dan Status Ketahanan Pangan Rumah Tangga
Merujuk pada pengertian ketahanan pangan rumah tangga yang dicanangkan oleh FAO (2001) dan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, maka ketahanan pangan rumah tangga akan tercapai jika semua anggota rumah tangga menerima makanan yang berkualitas (bermutu, bergizi seimbang) di sepanjang waktu dan dapat hidup sehat dan aktif.
Secara sosial budaya, perempuan tani di Kabupaten Lombok Timur merupakan orang yang bertanggung jawab atas pencapaian ketahanan pangan rumah tangga. Partisipasi perempuan tani dalam kegiatan ketahanan pangan, di semua tahapan (perencanaan, pelaksanaan, perolehan manfaat, dan evaluasi) tergolong sedang. Kategori sedang pada partisipasi perempuan tani artinya partisipasi perempuan tani belum optimal di setiap tahapnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata partisipasi perempuan tani dalam tahapan pelaksanaan dan perolehan manfaat adalah relatif lebih rendah dari tahapan perencanaan dan evaluasi. Artinya, perencanaan yang dilakukan oleh perempuan tani tidak menunjang tahap pelaksanaan kegiatan ketahanan pangan dan tahap perolehan manfaat. Evaluasi yang dilakukan juga tidak ditujukan untuk memperbaiki tahap pelaksanaan kegiatan ketahanan pangan dan perolehan manfaat. Kegiatan perencanaan dan evaluasi yang dilakukan perempuan tani tidak berfokus pada komponen pemanfaatan pangan, yaitu diversifikasi konsumsi pangan yang berkualitas, menyediakan pangan sesuai kebutuhan gizi, memberi makan yang berkualitas pada bayi dan balita.
Perilaku perempuan tani, suaminya dan juga masyarakat luas yang demikian merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat perdesaan di Kabupaten Lombok Timur dan cenderung diwariskan kepada anak perempuannya. Penelitian ini menemukan bahwa partisipasi perempuan tani pada tahap perencanaan, pelaksanaan relatif lebih tinggi pada komponen akses pangan dan pemanfaatan pangan dari pada komponen ketersediaan pangan. Keadaan ini menegaskan bahwa perempuan sebagai pelaku utama yang harus menjamin semua anggota rumah tangganya menerima makanan yang berkualitas agar dapat hidup sehat dan aktif. Partisipasi pada tahapan perolehan manfaat dan evaluasi relatif lebih tinggi pada komponen ketersediaan pangan dan akses pangan dari pada pemanfaatan pangan. Keadaan ini menunjukkan bahwa semua anggota rumah tangga belum terjamin menerima makanan yang berkualitas agar dapat hidup sehat dan aktif.
Faktanya, meskipun perempuan sudah cukup terlibat dalam kegiatan ketahanan pangan khususnya pada komponen akses pangan dan pemanfaatan pangan, status ketahanan pangan rumah tangga masih tergolong kurang tahan pangan. Status pangan rumah tangga yang dicirikan oleh indeks ketahanan pangan tergolong sedang (82.3 persen) yang artinya kurang tahan pangan, dan status energi rumah tangga yang dicirikan oleh TKE tergolong sangat rawan pangan (42.7 persen) dan rawan pangan (39 persen). Artinya, anggota rumah tangga perempuan tani di Kabupaten Lombok Timur belum menerima makanan yang berkualitas untuk dapat hidup sehat dan aktif.
Hal ini menunjukkan bahwa ada kendala yang dihadapi perempuan tani atas partisipasinya dalam mencapai ketahanan pangan rumah tangga. Belum optimalnya tahapan partisipasi perempuan tani merupakan salah satu faktor yang menjadi penyebabnya. Pada penelitian ini, partisipasi perempuan tani adalah partisipasi semu atau bersifat parsial karena hanya direfleksikan oleh tahapan pelaksanaan dan perolehan manfaat. Penyebab lainnya adalah karena rendahnya kesadaran akan pentingnya semua anggota rumah tangga memperoleh makanan yag berkualitas agar dapat hidup sehat dan aktif. Untuk itu diperlukan upaya penyadaran yang intensif dari pihak pemerintah, meningkatkan kemudahan akses perempuan, suami dan masyarakat luas terhadap informasi.
Keadaan tersebut juga menunjukkan bahwa partisipasi dan tanggung jawab perempuan tani untuk menjamin anggota rumah tangga menerima makanan yang berkualitas tidaklah diiringi dengan kemampuan perempuan tani yang memadai untuk mendukung tercapainya rumah tangga yang tahan pangan. Demikian pula halnya karakteristik pribadi perempuan dan sosial ekonomi rumah tangga yang memberikan fakta bahwa perempuan tani memiliki potensi untuk dikembangkan namun belum dilakukan. Ini dicirikan oleh usia perempuan tergolong dewasa awal yang memiliki tanggung jawab yang berat bagi pemeliharaan anggota keluarganya, tidak ditunjang oleh pendidikan yang memadai baik secara formal maupun non formal. Potensi perempuan yang tinggi dalam mengambil keputusan dalam rumah tangga juga belum diarahkan pada keputusan memperoleh dan menyediakan pangan yang berkualitas bagi anggota rumah tangga. Perempuan juga memiliki akses yang sangat rendah terhadap informasi baik melalui media massa maupun kelompok dan individu.
Peningkatan partisipasi perempuan tani dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi tersebut dan mencarikan jalan keluarnya. Partisipasi perempuan tani dalam mencapai ketahanan pangan rumah tangga dipengaruhi oleh tingkat kemampuan perempuan tani, sosial ekonomi rumah tangga, akses terhadap informasi, dan karakteristik pribadi perempuan. Kemampuan perempuan tani dipengaruhi oleh dukungan penyelenggaraan penyuluhan, akses terhadap informasi, dan dukungan lingkungan sosial budaya masyarakat. Penguatan kemampuan perempuan tani akan mengoptimalkan partisipasi perempuan tani dan meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga dan selanjutnya peningkatan partisipasi perempuan tani diharapkan dapat meningkatkan status ketahanan pangan rumah tangga. Secara skematis, hasil penelitian tentang partisipasi perempuan tani yang dituangkan dalam tiga rangkaian penelitian menghasilkan alur peubah yang memengaruhi kemampuan perempuan tani dan partisipasi perempuan tani seperti pada Gambar 8.1.
Berdasarkan Gambar 8.1, strategi peningkatan partisipasi perempuan tani dalam mencapai ketahanan pangan rumah tangga difokuskan pada peningkatan kualitas faktor yang memengaruhi: (1) partisipasi yaitu penguatan kemampuan perempuan tani (kemampuan manajerial dan sosial), sosial ekonomi rumah tangga (pengambilan keputusan), karakteristik pribadi perempuan (usia dan pengalaman usaha); (2) kemampuan perempuan tani adalah dukungan penyelenggaraan penyuluhan (metode dan media, sikap penyuluh dan kompetensi penyuluh), dukungan lingkungan sosial budaya (dukungan keluarga), (3) status ketahanan pangan rumah tangga yaitu kemampuan perempuan tani (kemampuan manajerial
dan kemampuan sosial), karakteristik pribadi perempuan (usia dan pengalaman usaha); (4) kemampuan perempuan tani, partisipasi perempuan tani, status ketahanan pangan rumah tangga (akses terhadap sumber daya informasi).
Pada faktor kemampuan perempuan tani, peningkatan kemampuan sosial dan manajerial dilakukan agar perempuan tani dapat berpartisipasi dengan optimal dalam mencapai ketahanan pangan rumah tangga. Peningkatan kemampuan sosial dilakukan melalui kelompok baru dan atau kelompok yang ada (kelompok tani, kelompok wanita tani, PKK, Posyandu, “Banjar”), perempuan tani akan belajar, menjalin hubungan dan bekerja sama di antara sesama perempuan tani maupun pihak luar. Peningkatan kemampuan manajerial agar perempuan tani lebih mampu mengelola sumber daya yang ada, kegiatan-kegiatan ketahanan pangan rumah tangga dengan manajemen yang lebih baik.
Pada faktor sosial ekonomi rumah tangga, yaitu perlu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam rumah tangga agar lebih diarahkan kepada pentingnya mengambil keputusan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi seluruh rumah tangga. Pada faktor dukungan lingkungan sosial budaya masyarakat yaitu dukungan keluarga. Dukungan keluarga, terutama suami harus ditingkatkan pemahaman dan kesadarannya akan pentingnya dan manfaatnya mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan baik secara kuantitas dan kualitas. Peningkatan kualitas pengambilan keputusan ini dan dukungan keluarga dapat dilakukan melalui peran tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama/“Tuan Guru”, penyuluh, PKK/Posyandu dengan memberikan contoh perilaku dan memberikan arahan atau bimbingan kepada perempuan tani dan juga suaminya.
Pada faktor karakteristik pribadi perempuan tani, yaitu usia dan pengalaman usaha. Pemanfaatan usia di waktu muda perlu dilakukan terkait dengan tugas penting pada golongan usia dewasa awal yaitu memelihara keluarga, agar perempuan dapat berpartisipasi dengan optimal terutama pada komponen pemanfaaatan pangan. Upaya penyadaran mengenai pentingnya makanan yang berkualitas dapat dilakukan melalui peran tokoh masyarakat, tokoh agama/”tuan guru”, penyuluh, pengurus dan anggota PKK dan “banjar”, kader Posyandu, dan orang tua dengan memberikan contoh perilaku dan arahan kepada perempuan tani dan suaminya, dan juga remaja perempuan dan laki-laki.
Pada faktor dukungan penyelenggaraan penyuluhan yaitu pemilihan dan penggunaan metode dan media, sikap penyuluh dan kompetensi penyuluh. Penguatan penyuluh perlu dilakukan agar mampu menyiapkan dan menggunakan kombinasi media dan metode yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan perempuan tani. Selama ini, dirasakan oleh perempuan tani bahwa penyuluh lebih banyak menggunakan media lisan/berceramah dari pada media terlihat atau terproyeksi, dan media terperaga.
Upaya mengubah sikap penyuluh perlu dilakukan agar penyuluh memahami dan menyadari bahwa perempuan tani merupakan tokoh penting pencapaian ketahanan pangan rumah tangga dan penting untuk diikutsertakan dalam kegiatan penyuluhan. Untuk itu diperlukan keberpihakan para penentu kebijakan pemerintah daerah dan penentu kebijakan penyuluhan terhadap perempuan tani sebagai pelaku utama pencapaian ketahanan pangan rumah tangga. Perubahan sikap penyuluh dapat dilakukan melalui lokakarya penyadaran jender dan peran perempuan tani dalam kegiatan ketahanan pangan rumah tangga, dan dikeluarkannya kebijakan oleh penentu kebijakan bahwa tugas penyuluh tidak
hanya berorientasi produksi melainkan juga pencapaian rumah tangga yang tahan pangan.
Peningkatan kompetensi penyuluh meliputi kompetensi dasar, kompetensi inti dan kompetensi khusus terkait dengan aspek-aspek ketahanan pangan rumah tangga perlu dilakukan agar penyuluh mampu menjalankan tugasnya untuk menyukseskan pencapaian ketahanan pangan rumah tangga. Penyuluh harus mampu melakukan komunikasi dialogis dengan perempuan tani, membangun jejaring kerja dan mengorganisasikan masyarakat; kompetensi penyuluh dalam mengidentifikasi masalah terkait dengan ketahanan pangan, menyusun programa penyuluhan, menyusun materi penyuluhan, membuat dan menggunakan media penyuluhan, menerapkan metode penyuluhan, menumbuhkembangkan kelembagaan petani, serta mengevaluasi pelaksanaan penyuluhan; dan kompetensi terkait dengan komponen ketersediaan, akses pangan, terutama pemanfaatan pangan bidang yang terkait dengan pencapaian ketahanan pangan rumah tangga. Penyuluh hendaknya dapat mengoptimalkan fungsi kelembagaan atau kelompok yang ada, yaitu kelompok tani, kelompok wanita tani, PKK, Posyandu, “Banjar” sebagai media belajar, penghantar antara kelompok dengan orang di luar kelompok, khususnya untuk mencapai ketahanan pangan rumah tangga.
Gambar 8.1 Faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan perempuan tani dan partisipasi perempuan tani
Pada akses terhadap sumberdaya, faktor akses terhadap informasi terkait dengan komponen-komponen ketahanan pangan, terutama komponen pemanfaatan pangan dapat ditingkatkan melalui pengembangan dan penyediaan sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan perempuan. Pengembangan sumber informasi dapat menggunakan media massa (media cetak seperti leaflet, poster, siaran radio, siaran televisi); pendekatan kelompok yaitu melalui pemberdayaan PKK, Posyandu, “Banjar”; PKK/Posyandu; dan pendekatan personal yaitu melalui peningkatan peran tokoh masyarakat, tokoh agama/”Tuan Guru”, penyuluh, kader posyandu.
Pencapaian ketahanan pangan rumah tangga sangat penting untuk kemajuan sumberdaya manusia di Kabupaten Lombok Timur. Pencapaian ketahanan pangan rumah tangga di perdesaan Kabupaten Lombok Timur bukan hanya tanggung jawab perempuan tani melainkan melibatkan banyak pihak yang terkait dengan ketahanan pangan rumah tangga. Pada strategi ini, pihak-pihak yang terlibat yaitu: (1) perempuan tani sebagai pelaku utama dan laki-laki (suami) sebagai pelaku pendukung; (2) penyuluh dan kelayan strategis (tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus PKK, kader posyandu, pengurus “Banjar”) sebagai agen perubahan; (3) pihak pemerintah yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Kesehatan, Badan Ketahanan Pangan, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K), Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa; (4) perguruan tinggi, BPTP dan sumber informasi lainnya; (5) pihak swasta yang terkait dengan pencapaian ketahanan pangan rumah tangga, termasuk di dalamnya adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Implikasi kebijakan
Implikasi kebijakan yang timbul dari strategi ini adalah:
1. Ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Lombok Timur mendesak untuk ditingkatkan karena akan berdampak kepada kualitas sumber daya manusia Kabupaten Lombok Timur. Dalam hal ini, lembaga pemerintah mulai dari Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur, Badan Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Kesehatan, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K), Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa, Perguruan Tinggi, BPTP dan sumber informasi lainnya, serta lembaga non pemerintah harus berkoordinasi dan bekerja sama untuk mengupayakan pogram pemberdayaan perempuan tani sebagai pelaku utama/subjek pembangunan ketahanan pangan rumah tangga dalam rangka meningkatkan kemampuan perempuan tani dan mengembangkan partisipasi perempuan tani dalam mencapai ketahanan pangan rumah tangga dilakukan dengan menggunakan pendekatan penyuluhan baik secara individu, kelompok, dan massa.
2. Dalam pelaksanaan program pemberdayaan perempuan tani untuk mencapai ketahanan pangan rumah tangga, dipandang perlu untuk mengembangkan prinsip keadilan dan kesetaraan dalam partisipasi masyarakat dalam mencapai ketahanan pangan rumah tangga.
a. Dalam rumah tangga, harus terkondisikan kesetaraan antara perempuan sebagai pelaku utama pencapaian ketahanan pangan rumah tangga dengan
suami yang harus dipandang sebagai mitra perempuan tani dalam pengelolaan ketahanan pangan rumah tangga. Perempuan bersama suami dapat menerapkan perilaku adil gender dalam hal distribusi makanan yang berkualitas pada setiap anggota keluarganya dan sesuai kebutuhannya. b. Dalam masyarakat, keterlibatan kelayan strategis sebagai mitra penyuluh
dan agen perubahan tidak hanya melibatkan tokoh perempuan saja seperti pengurus PKK dan Posyandu, melainkan juga harus melibatkan tokoh laki-laki seperti tokoh agama “Tuan Guru”, pengurus “Banjar”, ketua kelompok tani sebagai sumber informasi ketahanan pangan rumah tangga, terutama aspek pangan dan gizi. Para kelayan strategis menerapkan perilaku adil gender dalam hal distribusi makanan yang berkualitas pada setiap anggota keluarganya dan sesuai kebutuhannya sehingga dapat dijadikan contoh bagi perempuan tani sebagai kelayan utama dan masyarakat luas.
3. Untuk dapat melaksanakan program pemberdayaan perempuan tani untuk mencapai ketahanan pangan rumah tangga, penentu kebijakan pemerintah daerah harus mengeluarkan kebijakan khusus dalam pengalokasian anggaran khusus untuk: (1) kegiatan penguatan kemampuan perempuan tani dan pengembangan partisipasi perempuan tani dalam mencapai ketahanan pangan rumah tangga melalui kegiatan penyuluhan. Penguatan kemampuan perempuan tani melalui penguatan kemampuan manajerial, sosial dan teknis perlu difokuskan juga kepada penganekaragaman pangan, pengaturan menu seimbang, sehat, murah dan bergizi, serta pola makan balita; (2) kegiatan penguatan penyuluh yang meliputi penyadaran gender dan perubahan sikap penyuluh, penguatan materi ketahanan pangan rumah tangga, terutama aspek pangan dan gizi, peningkatan kemampuan mengembangkan, menyiapkan dan menggunakan metode dan media yang sesuai dan tepat bagi kebutuhan perempuan terkait dengan aspek pangan dan gizi dan peningkatan kompetensi penyuluhan; (3) kegiatan penguatan kelayan strategis (tokoh masyarakat, tokoh agama, kader posyandu, pengurus PKK dan “Banjar”, kepala sekolah (SD) dan guru) sebagai mitra penyuluh yang meliputi peningkatan pemahaman mengenai materi ketahanan pangan terutama aspek pangan dan gizi, pengembangan kemampuan berkomunikasi agar dapat menjalankan proses komunikasi yang baik dengan kelayan utama, suami sebagai mitra kelayan utama, masyarakat luas; (4) kegiatan pembentukan dan penguatan kelompok perempuan dan kelompok yang ada sebagai wadah belajar dan bekerja sama bagi kelayan: (5) kegiatan pembuatan dan penyediaan informasi serta penguatan sumber informasi mengenai aspek pangan dan gizi yang sesuai dengan kebutuhan perempuan tani.
4. Bagi perguruan tinggi, BPTP dan sumber informasi lainnya perlu mendorong pengembangan penelitian dan kegiatan aksi di bidang teknologi pangan, manajemen pengelolaan pangan rumah tangga, manajemen usaha tani, manajemen pengelolaan keuangan keluarga untuk mendukung kegiatan penyadaran makan sehat dan bergizi kepada perempuan, suami dan masyarakat luas.
5. Optimalisasi pelaksanaan program dari BKP, yaitu penganekaragaman konsumsi dan pengembangan pangan lokal, baik yang bersumber dari bahan makanan nabati maupun hewani dalam rangka pencapaian pola pangan
beragam, bergizi, seimbang dan aman; optimalisasi pelaksanaan program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) yang diintegrasikan pada kurikulum sekolah yaitu muatan local; optimalisasi pelaksanaan program Dinas Perikanan dan Kelautan yaitu “Gemar Makan Ikan”.
6. Untuk jangka panjang dan menyukseskan tercapainya ketahanan pangan rumah tangga, pemerintah pusat hendaknya memperjelas bahwa tugas penyuluh juga terkait dengan komponen akses dan pemanfaatan pangan, tidak hanya terkait dengan kegiatan produksi/usaha tani saja seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No: PER/02/MENPAN/2/2008 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian dan Angka Kreditnya, pada Bab V, pasal 8 yang menguraikan mengenai Rincian Kegiatan dan Unsur yang Dinilai dalam Memberikan Angka Kreditmya bagi penyuluh. Hal ini akan menjadikan tugas menyukseskan ketahanan pangan rumah tangga akan melekat dalam tugas penyuluh.
7. Optimalisasi peran pos penyuluhan sebagai simpul koordinasi antara penyuluh dan kelayan strategis di tingkat desa dalam rangka pencapaian ketahanan pangan rumah tangga.
Implikasi bagi pengembangan ilmu yang juga timbul dari penelitian yang dilakukan, yaitu:
1. Dalam pembahasan Ilmu Penyuluhan Pembangunan perlu diperdalam oleh konsep pemberdayaan yang responsive gender. Hal ini memerlukan penyuluhan dalam jangka pendek yaitu mengenai ketahanan pangan rumah tangga. Dalam jangka panjang, penyuluhan ketahanan pangan rumah tangga perlu berkembang lebih berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan. Perlu juga dikembangkan kelembagaan lokal dan kelembagaan penyuluhan yang responsif gender, serta mengembangkan pola-pola kemitraan yang efektif antara kelembagaan lokal dengan kelembagaan penyuluhan..
2. Pengembangan kurikulum pendidikan sekolah dasar hingga perguruan tinggi khususnya mengenai muatan lokal yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya makanan yang bergizi dan berkualitas agar tumbuh sehat dan aktif, dan menentukan kualitas sumberdaya manusia.
3. Pengembangan penelitian untuk menemukan paket inovasi yang sesuai dengan kebutuhan perempuan tani dan keluarganya di bidang teknologi pangan, manajemen pengelolaan pangan rumah tangga, manajemen usaha tani, manajemen pengelolaan keuangan keluarga, dan juga paket informasi yang mudah diakses, diperoleh dan dipahami oleh perempuan tani, suami dan masyarakat luas untuk mendukung kegiatan penyadaran makan sehat dan bergizi kepada perempuan, suami dan masyarakat luas.
4. Pengembangan penelitian aksi langsung di masyarakat yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran makan sehat dan bergizi, sehingga terjadi perubahan perilaku perempuan sebagai pelaku utama pencapaian ketahanan pangan rumah tangga dan peningkatan ketahanan pangan rumah tangga.