• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari distribusi dan kelimpahan populasi C. odorata dan agens hayatinya C. connexa, serta mempelajari struktur komunitas serangga dan tumbuhan di daerah yang telah diinvasi oleh C. odorata

dengan mengambil studi kasus di daerah Bogor, Jawa Barat. Diharapkan hasil penelitian yang diperoleh dapat memberikan informasi mengenai distribusi dan kelimpahan populasi C. odorata dan agens hayatinya C. connexa, memberikan informasi struktur komunitas serangga dan tumbuhan di daerah yang telah diinvasi oleh C. odorata, serta memberikan gambaran fenomena ekologi introduksi spesies eksotik dapat menyebabkan terjadinya asosiasi antara spesies eksotik tersebut dengan serangga lokal dalam struktur komunitas baru, sehingga menjadi rekomendasi bagi pemerintah bahwa perlunya upaya perhatian dan penyaringan yang ketat terhadap spesies eksotik yang didatangkan dari luar.

Hasil pengamatan pada semua lokasi penelitian di Jawa Barat khususnya daerah Bogor, C. odorata cenderung menempati lahan yang terbuka seperti di sisi jalan, tepian sawah yang kondisi tanahnya kering, ladang, dan perkebunan. Selain itu, C. odorata juga dapat tumbuh di bawah tegakan hutan yang terbuka tajuknya, bahkan masih bisa hidup pada daerah yang didominasi oleh batu-batuan. Pada lahan yang dibudidayakan seperti sawah, ladang, dan hutan tanaman industri, keberadaan C. odorata memiliki status sebagai gulma penting yang merugikan karena populasinya sangat padat sehingga mampu berkompetisi dengan tanaman budidaya dalam memperoleh unsur hara yang dibutuhkan (Tjitrosemito 1998).

Keberadaan C. odorata diikuti juga dengan keberadaan musuh alaminya yaitu serangga herbivor berupa lalat pembentuk puru C. connexa pada semua lokasi pengamatan, kecuali di Gunung Halimun dan Cianjur. Setelah dilepas di Parung Panjang-Jasinga, Bogor pada tahun 1995 dan di Parung Kuda-Sukabumi pada tahun 1996, lalat puru C. connexa mampu menyebar secara alami dan saat ini telah mapan keberadaannya. Lalat puru C. connexa mampu hidup pada berbagai ketinggian tempat yang berbeda, namun kelimpahan populasinya menurun seiring dengan bertambahnya ketinggian suatu tempat. Distribusi lalat

puru C. connexa ternyata dibatasi oleh adanya barier seperti pegunungan. Hal ini dibuktikan dengan tidak dijumpainya lalat puru tersebut di daerah Gunung Halimun bagian selatan dan Cianjur. Keberadaan lalat puru C. connexa pada suatu lokasi pengamatan berasal dari titik pelepasan yang terdekat. Sebagai contoh, keberadaan lalat puru C. connexa di daerah Ciawi, Cisarua, dan Gunung Salak berasal dari titik pelepasan di Parung Kuda-Sukabumi. Begitu juga keberadaan lalat puru C. connexa ini di daerah Setu, Darmaga, dan Gunung Bunder berasal dari titik pelepasan di Parung Panjang-Jasinga, Bogor. Namun tidak menutup kemungkinan keberadaan lalat puru C. connexa di daerah Darmaga dan Gunung Bunder juga bisa berasal dari titik pelepasan di Pakuwon-Parung Kuda, Sukabumi.

Implikasi dari keberadaan spesies tumbuhan eksotik invasif C. odorata dan agens hayatinya C. connexa terhadap struktur komunitas serangga dan tumbuhan lokal telah dipelajari secara spesifik. Keberadaan C. odorata dan agens hayatinya

C. connexa berpengaruh terhadap keberadaan serangga dan tumbuhan lokal yang berada di sekitarnya. Kehadiran tumbuhan eksotik invasif C. odorata

berhubungan erat dengan keseimbangan komunitas dalam ekosistem tersebut. Implikasi dari keberadaan C. odorata terhadap struktur komunitas tumbuhan lokal telah menyebabkan terjadinya pengambilalihan atau pergantian skala ruang, yaitu tempat atau ruang yang seharusnya ditempati oleh spesies-spesies tumbuhan lokal kemudian diambil alih keberadaannya oleh tumbuhan eksotik invasif C. odorata.

Selain itu, kehadiran tumbuhan eksotik invasif C. odorata pada empat lokasi penelitian menyebabkan terjadinya penurunan keanekaragaman spesies tumbuhan yang berada disekitarnya.

Implikasi dari keberadaan C. odorata terhadap serangga-serangga lokal yang berada disekitarnya tidak dipelajari secara spesifik, tetapi berdasarkan hasil observasi di lapangan memperlihatkan bahwa telah terjadi asosiasi serangga lokal terhadap spesies tumbuhan eksotik invasif C. odorata. Seperti asosiasi kutu aphid (Hemiptera: Aphididae) dengan C. odorata yang membentuk koloni pada bagian batang dan pucuk C. odorata yang masih muda sehingga menyebabkan gejala keriting pada pucuk muda C. odorata tersebut.

46 Keberadaan serangga herbivor eksotik berupa lalat puru C. connexa juga akan berasosiasi dengan serangga lokal atau bahkan dengan organisme lain di habitat baru. Asosiasi serangga lokal terhadap lalat puru C. connexa yang terjadi diantaranya adalah musuh alami. Musuh alami ini terdiri atas predator dan parasitoid dari ordo Hymenoptera, Coleoptera, Hemiptera, dan Mantodea. Musuh alami ini cenderung mempengaruhi populasi serangga herbivor lalat puru C. connexa, dan pada akhirnya akan berdampak terhadap populasi tumbuhan eksotik invasif C. odorata yang merupakan inang dari lalat puru tersebut.

Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini adalah :

1. Persebaran spesies tumbuhan eksotik invasif C. odorata di Jawa Barat khususnya daerah Bogor sudah sangat luas. C. odorata dapat tumbuh pada berbagai tipe habitat meliputi habitat perkebunan, hutan buatan, ladang dataran rendah, maupun ladang dataran tinggi dengan kelimpahan yang berbeda. Kelimpahan populasinya cenderung menurun seiring dengan bertambahnya ketinggian suatu lokasi.

2. Keberadaan C. odorata diikuti pula dengan keberadaan musuh alaminya yaitu lalat puru C. connexa pada semua lokasi pengamatan, kecuali di Gunung Halimun dan Cianjur. Ada dua titik pelepasan lalat puru C. connexa yaitu di Parung Panjang-Jasinga, Bogor dan Pakuwon-Parung Kuda, Sukabumi. Lalat puru C. connexa saat ini telah mapan keberadaannya dan menyebar secara alami serta memiliki kemampuan persebaran yang cukup jauh baik dari titik pelepasannya di Parung Panjang-Jasinga, Bogor maupun dari titik pelepasan di Pakuwon-Parung Kuda, Sukabumi.

3. Lalat puru C. connexa mampu hidup pada berbagai ketinggian tempat yang berbeda, namun kelimpahan populasinya menurun seiring dengan bertambahnya ketinggian suatu tempat. Distribusi lalat puru C. connexa

dibatasi oleh adanya barier berupa pegunungan. Kelimpahan populasinya sangat dipengaruhi oleh ketersediaan inangnya yaitu C. odorata.

4. Komunitas serangga yang diperoleh pada habitat C. odorata di Parung Panjang, Setu, Darmaga, dan Gunung Bunder secara keseluruhan terdiri dari 24.213 individu serangga yang termasuk ke dalam 14 ordo, 132 famili, dan 568 spesies. Ordo Hymenoptera, Diptera, dan Hemiptera merupakan tiga ordo terbesar yang ditemukan dengan kelimpahan individu (species abundance) dan kekayaan spesies (species richness) paling tinggi.

5. Introduksi tumbuhan eksotik invasif C. odorata dan agens hayatinya C. connexa telah menyebabkan terjadinya asosiasi dengan serangga-serangga lokal.

48 6. Komunitas tumbuhan yang diperoleh pada habitat C. odorata di Parung

Panjang, Setu, Darmaga, dan Gunung Bunder secara keseluruhan terdiri dari 131.132 individu tumbuhan yang termasuk ke dalam 21 famili dan 44 spesies. 7. Kelimpahan populasi C. odorata pada lokasi penelitian di Parung Panjang,

Setu, dan Darmaga mendominasi berdasarkan perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) kecuali di Gunung Bunder. Implikasi dari keberadaan spesies tumbuhan eksotik invasif C. odorata pada tiga habitat tersebut telah menyebabkan terjadinya pengambilalihan atau pergantian skala ruang, yaitu tempat atau ruang yang seharusnya ditempati oleh spesies-spesies tumbuhan lokal kemudian diambil alih keberadaannya oleh tumbuhan eksotik invasif C. odorata. Selain itu, kehadiran tumbuhan eksotik invasif C. odorata pada empat lokasi penelitian menyebabkan terjadinya penurunan keanekaragaman spesies tumbuhan yang berada disekitarnya.

Saran

Hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan untuk penelitian selanjutnya. Diantara hal-hal yang dapat disarankan adalah :

1. Ditemukannya famili Tephritidae dan Cecidomyiidae yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut, mengingat bahwa spesies-spesies dari famili Tephritidae dan Cecidomyiidae sebagian besar anggotanya juga bisa menyebabkan terbentuknya puru pada tanaman.

2. Asosiasi antara lalat puru C. connexa dengan parasitoid dari ordo Hymenoptera famili Braconidae, Eucoilidae, Eupelmidae, dan Ormyridae dapat dipelajari lebih mendalam pada penelitian selanjutnya seperti uji biologi parasitoid tersebut serta identifikasi sampai pada tingkat spesies.

Altieri MA, Nicholl CI. 2004. Biodiversity and Pest Management in Agroecosystem. Ed ke-2. New York: Food Product Press.

[Anonim]. 1991. Chromolaena odorata (L.) R.M. King & H. Robinson. Weed Info Sheet 5:1-4.

Binggeli P. 1997. Chromolaena odorata (L.) King & Robinson (Asteraceae). http://members.lycos.co.uk/WoodyPlantEcology/docs/web-sp4.htm. [13 Oktober 2003].

Borror DJ, De Long DM, Triplehorn CA. 1981 An Introduction to the Study of Insect. New York: Saunders College Publishing.

Chenon RD, Sipayung A, Sudharto P. 2002. A decade of Biological control against Chromolaena odorata at the Indonesian Oil Palm Research Institute in Marihat. Di dalam: Zachariades C, Muniapan R, Strathie LW, editor.

Proceedings of the Fifth International Workshop on Biological Control and Management of Chromolaena odorata, Durban, South Africa, 23-25 October 2000. ARC-PPRI. Hlm 46-52.

Colwell RK, Coddington JA. 1994. Estimating terrestrial biodiversity through extrapolation. Philosophical Transactions: Biol Sci 345:101-118.

Colwell RK. 2000. EstimateS: Statistical estimation of species richness and shared species from samples. Version 6.0d1. [Serial online]. http://www.viceroy.eeb.uconn.edu/estimates. [16 Desember2003].

Cox GW. 2002. Laboratory Manual of General Ecology. Ed ke-8. USA. The McGraw-Hill Companies.

Erasmus DJ, Bennet PH, Van Standen J. 1992. The effect of galls induced by the gall fly Procecidochares utilis on vegetative growth and reproductive potential of crofton weed, Ageratina adenophora. Annal of Appl Biol 120: 173-181.

Goulet H, Huber JT, Editor. 1993. Hymenoptera of the World: An Identification Guide to Families. Canada: Canada Communication Group.

Kartosuwondo U. 2001. Peranan tumbuhan bukan budi daya dalam pengendalian hayati serangga hama. Hayati 8: 55-87.

Kasno, Putri ASR, Widayanti S, Sunjaya. 2001. Establishment of Neochetina sp.: Their pattern of local dispersal and age structure at release site. Biotropia

50 Klingauf FA. 1987. Feeding, adaptation and excretion. Didalam: Minus AK,

Harrewijn P, editor. Aphid: Their Biology, Natural Enemies and Control. Amsterdam: Elsevier. Hlm 225-253.

Kostermans AJGH, Wirdjahardja S, Dekker RJ. 1987. The weed: description, ecology and control. Di dalam: Soerjani M, Kostermans AJGH, Tjitrosoepomo G, editor. Weed of rice in Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. hlm 24-566.

Krebs CJ. 1998. Ecological Methodology. New York. Harper Collins.

Laumonier EKW, Megia R, Veenstra H. 1987. The Seedling. Di dalam: Soerjani M, Kostermans AJGH, Tjitrosoepomo G, editor. Weed of Rice in Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. hlm 567-686.

Magguran AE. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. London. Chapman & Hall.

McFadyen REC, Chenon RD, Sipayung A. 2003. Biology and host Specificity of the Chromolaena stem gall fly, Cecidochares connexa (Macquart) (Diptera: Tephritidae). Aust J of Entomol 42:294-297.

Mooney HA, Cleland EE. 2001. The Evolutionary impact of invasive species.

Proc Nat and Acad Sci 98(10):5446-5451.

Nauman ID. 1991. The Insect of Australia: Textbook for Student and Research Workers 2th eds. Melbourne: Melbourne University Press.

Olden JD, Poff NL, Douglas MR, Douglas ME, Faucsh KD. 2004. Ecological and evolutionary consequences of biotic homogenization. Trends in Ecol and Evol 19(1):18-24.

Pearson DE, Callaway RM. 2003. Indirect effects of host-specific biological control agents. Trends in Ecol and Evol 18(9):456-461.

Schoonhoven LM, Jermy T, van Loon JJA. 1996. Insect-Plant Biology: From Physiology to Evolution. London. Chapman & Hall.

Simberloff D. 1996. How risky of biological control?. Ecol 77(7):1965-1974. Sipayung A, Chenon RD. 1995. Procecidochares connexa untuk pengendalian

gulma Chromolaena odorata [makalah]. Di dalam: Prosiding Seminar Pelepasan Procecidochares connexa; Medan, 17 Juli 1995. Medan: Pusat Penelitian Kelapa Sawit. hlm 1-14.

Tjitrosemito S. 1997. Pengendalian Chromolaena odorata di lahan petani [makalah]. Di dalam: Seminar Nasional Pengendalian Chromolaena odorata; Kupang, 14-15 April 1997. Bogor: Biotrop. hlm 1-18.

Tjitrosemito S. 1998. Integrated management of Chromolaena odorata: emphasizing the classical biological control. Biotropia 11:9-21.

Tjitrosemito S. 1999. The establishment of Procecidochares connexa in West Java, Indonesia: a biological control agent of Chromolaena odorata.

Biotropia 12:19-24.

Tjitrosemito S. 1999b. Dinamika populasi Procecidochares connexa (Diptera: Tephritidae) di Jawa Barat dan Jawa Timur [makalah]. Di dalam: Seminar Nasional Pengendalian Hayati; Yogyakarta, 12-13 Juli 1999. Bogor: Biotrop. hlm 1-7.

Tjitrosemito S. 2000. Procecidochares connexa Macquart (Diptera: Tephritidae): A biological control agent of siam weed (Chromolaena odorata (L.) R. King & Robinson) [makalah]. Di dalam: International Warkshop on Biological Control and Management of Chromolaena odorata; Durban, South Africa, 23-25 Oktober 2000. Bogor: Biotrop. hlm 1-16.

Untung S. 2005. Pencegahan dan pengendalian spesies asing di Indonesia. http://kasumbogo.staff.ugm.ac.id/detailarticle.php?mesid=38&kata_kunci= spesies%20asing,%20alien%20Invasive%20species. [4 Maret 2006].

Waterhouse DF. 1994. Biological Control of Weeds: Southeast Asian Prospects. Canberra: Australia.

Wittenberg R, Cock MJW. 2003. Invasive Alien Spesies: A Toolkit of Best Prevention and Management Practices. CAB International.

Widayanti S, Tjitrosemito S, Kasno. 1999. Biologi dan neraca kehidupan lalat Argentina Procecidochares connexa (Diptera: Tephritidae) agens pengendali hayati kirinyuh (Chromolaena odorata) [makalah]. Di dalam: Prosiding Seminar Nasional Pengendalian Hayati; Yogyakarta, 12-13 Juli 1999. hlm 1-10

Widayanti S, Tjitrosemito S, Muhammad A. 2001. Pengendalian hayati

Chromolaena odorata dengan menggunakan lalat puru Procecidochares connexa di Cagar Alam Pangandaran, Jawa Barat [makalah]. Di dalam: Konferensi Nasional HIGI XV; Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 17-19 Juli 2001. Bogor; Biotrop. hlm 1-7.

Lampiran 1 Hasil analisis vegetasi kelompok spesies tumbuhan tegak pada habitat C. odorata di Parung Panjang

No. Spesies KM KR (%) FM FR (%) INP (%)

1 Chromolaena odorata (L.) King & Robinson 6.97 28.71 1.00 18.29 47.00 2 Boreria leavis (Lamk.) Griseb 6.77 27.88 1.00 18.29 46.18 3 Corchorus aestuans L. 3.43 14.15 0.73 13.41 27.56 4 Tetracera scandens (L.) Merr 3.08 12.71 0.73 13.41 26.12 5 Ageratum conyzoides L. 1.73 7.14 0.53 9.76 16.90 6 Breynia racemosa (Blume) Mull. Arg 1.15 4.74 0.53 9.76 14.50 7 Melastoma affine D. Don. 0.53 2.20 0.47 8.54 10.73 8 Lantana camara L. 0.28 1.17 0.20 3.66 4.83 9 Imperata cylindrica (L.) Beauv. 0.20 0.82 0.07 1.22 2.04 10 Hydrocotyle sibthorpioides Lam. 0.07 0.27 0.07 1.22 1.49 11 Mimosa pudica L. 0.03 0.14 0.07 1.22 1.36 12 Phyllanthus urinaria L. 0.02 0.07 0.07 1.22 1.29

Lampiran 2 Hasil analisis vegetasi kelompok spesies tumbuhan tegak pada habitat C. odorata di Setu

No. Spesies KM KR (%) FM FR (%) INP (%)

1 Chromolaena odorata (L.) King & Robinson 5.12 14.81 1.00 13.39 28.20 2 Imperata cylindrica (L.) Beauv. 4.73 13.70 0.87 11.61 25.31 3 Urena lobata L. 4.95 14.33 0.80 10.71 25.04 4 Melastoma affine D. Don 3.60 10.42 0.93 12.50 22.92 5 Mimosa pudica L. 4.98 14.42 0.60 8.04 22.46 6 Breynia racemosa (Blume) Mull. Arg 2.58 7.48 0.87 11.61 19.08 7 Boreria leavis (Lamk.) Griseb 4.48 12.98 0.33 4.46 17.44 8 Boreria alata (Aubl.) DC. 2.15 6.22 0.33 4.46 10.69 9 Scleria ciliaris Nees 0.75 2.17 0.40 5.36 7.53 10 Clidemia hirta (L.) Don 0.55 1.59 0.33 4.46 6.06 11 Lantana camara L. 0.25 0.72 0.27 3.57 4.30 12 Phyllanthus urinaria L. 0.10 0.29 0.20 2.68 2.97 13 Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl 0.08 0.24 0.13 1.79 2.03 14 Solanum involucratum Blume 0.03 0.10 0.13 1.79 1.88 15 Tetracera scandens (L.) Merr 0.03 0.10 0.13 1.79 1.88 16 Mimosa invisa Mart. ex Colla 0.10 0.29 0.07 0.89 1.18 17 Ageratum conyzoides L. 0.05 0.14 0.07 0.89 1.04

54 Lampiran 3 Hasil analisis vegetasi kelompok spesies tumbuhan tegak pada

habitat C. odorata di Darmaga

No. Spesies KM KR (%) FM FR (%) INP (%)

1 Chromolaena odorata (L.) King & Robinson 4.65 31.85 0.93 17.72 49.57 2 Mimosa pudica L. 1.30 8.90 0.47 8.86 17.76 3 Boreria leavis (Lamk.) Griseb 1.45 9.93 0.33 6.33 16.26 4 Pennisetum polystachyon (L.) Schult. 0.68 4.68 0.60 11.39 16.07 5 Panicum maximum Jacq. 1.40 9.59 0.33 6.33 15.92 6 Mimosa pigra L. 1.05 7.19 0.27 5.06 12.26 7 Imperata cylindrica (L.) Beauv. 0.93 6.39 0.27 5.06 11.46 8 Solanum involucratum Blume 0.28 1.94 0.47 8.86 10.80 9 Lantana camara L. 0.78 5.37 0.27 5.06 10.43 10 Melastoma affine D. Don 0.40 2.74 0.33 6.33 9.07 11 Amaranthus spinosus L. 0.45 3.08 0.27 5.06 8.15 12 Boreria alata (Aubl.) DC. 0.33 2.28 0.27 5.06 7.35 13 Nephrolepis bisserata (Sw.)Schott 0.35 2.40 0.13 2.53 4.93 14 Phyllanthus urinaria L. 0.12 0.80 0.13 2.53 3.33 15 Cyclosorus aridus (Don) Ching 0.18 1.26 0.07 1.27 2.52 16 Bergia capendis L. 0.15 1.03 0.07 1.27 2.29 17 Ageratum conyzoides L. 0.08 0.57 0.07 1.27 1.84

Lampiran 4 Hasil analisis vegetasi kelompok spesies tumbuhan tegak pada habitat C. odorata di Gunung Bunder

No. Spesies KM KR (%) FM FR (%) INP (%)

1 Boreria alata (Aubl.) DC. 25.92 53.97 0.87 19.40 73.38 2 Ageratum conyzoides L. 13.15 27.39 0.93 20.90 48.28 3 Chromolaena odorata (L.) King & Robinson 3.30 6.87 0.73 16.42 23.29 4 Melastoma affine D. Don. 1.75 3.64 0.60 13.43 17.08 5 Pityrogramma tartara Link 2.10 4.37 0.47 10.45 14.82 6 Clidemia hirta (L.) Don 1.33 2.78 0.47 10.45 13.22 7 Phyllanthus urinaria L. 0.35 0.73 0.27 5.97 6.70 8 Mimosa pigra L. 0.08 0.17 0.07 1.49 1.67 9 Mimosa pudica L. 0.03 0.07 0.07 1.49 1.56

Lampiran 5 Hasil analisis vegetasi kelompok spesies tumbuhan merambat pada habitat C. odorata di Parung Panjang

No. Spesies KM KR (%) FM FR (%) INP (%)

1 Cyrtococcum oxyphyllum (Hochst. ex Steud.) Stapf

217.20 90.18 1 41.67 131.85 2 Axonopus compressus (Sw.) Beauv. 23.40 9.72 0.93 38.89 48.60 3 Lygodium microphyllum (Cav.) R. Brown 0.25 0.10 0.47 19.44 19.55

Lampiran 6 Hasil analisis vegetasi kelompok spesies tumbuhan merambat pada habitat C. odorata di Setu

No. Spesies KM KR (%) FM FR (%) INP (%)

1 Cyrtococcum oxyphyllum (Hochst. ex Steud.) Stapf

365.32 64.52 0.93 25.45 89.97 2 Axonopus compressus (Sw.) Beauv. 76.27 13.47 0.87 23.64 37.11 3 Operculina turpethum (L.) S.Manso 7.53 1.33 1 27.27 28.60 4 Chrysopogon aciculatus (Retz.) Trin 116.25 20.53 0.27 7.27 27.80 5 Ipomoea triloba L. 0.33 0.06 0.27 7.27 7.33 6 Mikania micrantha H.B.K 0.15 0.03 0.13 3.64 3.66 7 Lygodium microphyllum (Cav.) R. Brown 0.05 0.01 0.13 3.64 3.65 8 Centrosema pubescen Benth. 0.35 0.06 0.07 1.82 1.88

Lampiran 7 Hasil analisis vegetasi kelompok spesies tumbuhan merambat pada habitat C. odorata di Darmaga

No. Spesies KM KR (%) FM FR (%) INP (%)

1 Panicum repens L. 322.38 81.45 0.87 16.88 98.34 2 Ipomoea triloba L. 5.58 1.41 1 19.48 20.89 3 Axonopus compressus (Sw.) Beauv. 39.73 10.04 0.47 9.09 19.13 4 Mikania micrantha H.B.K 5.03 1.27 0.73 14.29 15.56 5 Widelia trilobata 17.20 4.35 0.53 10.39 14.74 6 Centrosema pubescen Benth. 2.63 0.67 0.60 11.69 12.35 7 Eleusine indica (L.) Gaertn. 2 0.51 0.40 7.79 8.30 8 Commelina diffusa Burm.f 0.87 0.22 0.33 6.49 6.71 9 Setaria palmifolia (Koenig) Stapf 0.35 0.09 0.20 3.90 3.98

56 Lampiran 8 Hasil analisis vegetasi kelompok spesies tumbuhan merambat pada

habitat C. odorata di Gunung Bunder

No. Spesies KM KR (%) FM FR (%) INP (%)

1 Axonopus compressus (Sw.) Beauv. 490.90 57.00 0.87 15.85 72.85 2 Ischaemum timorense Kunth. 323.12 37.52 0.73 13.41 50.93 3 Rostellularia sundana Bremek 21.62 2.51 0.87 15.85 18.36 4 Cyperus kyllingia Endl. 10.97 1.27 0.93 17.07 18.35 5 Eragrostis unioloides (Retz.) Nees ex Steud. 5.67 0.66 0.60 10.98 11.63 6 Mikania micrantha H.B.K 2.62 0.30 0.40 7.32 7.62 7 Commelina diffusa Burm.f 1 0.12 0.40 7.32 7.43 8 Setaria palmifolia (Koenig) Stapf 4.47 0.52 0.27 4.88 5.40 9 Widelia trilobata 0.62 0.07 0.13 2.44 2.51 10 Lygodium microphyllum (Cav.) R. Brown 0.13 0.02 0.13 2.44 2.45 11 Eleusine indica (L.) Gaertn. 0.12 0.01 0.13 2.44 2.45

Dokumen terkait