BAB VI Non-Partisipatif
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1.5.2. Pembangunan Berbasis Masyarakat
Pembangunan adalah perubahan, dan kebudayaan adalah upaya manusia untuk menyempurnakan diri dalam kondisi kehidupannya. Melalui konsep pembangunan yang berkelanjutan (suistanable), diupayakan agar tercapai keselarasan antara pembangunan ekonomi dengan aspek lingkungan, sementara itu antara lingkungan dengan kebudayaan terdapat saling keterkaitan (Sahlins, 1968).13 Menurut Chambers, pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan yang bersifat people centered, participatory, empowering, and suistainable14
Daerah pedesaan adalah tumpuan segala bentuk program pembangunan atau dengan kata lain disamping sebagai obyek juga diharapkan sebagai subyek dalam pembangunan. Sementara itu untuk tercapainya tujuan pembangunan, di desa ada
13
Hari Poerwanto.Kebudayaan & Lingkungan dalam Perspektif Antropologi.(Yogyakarta:Pustaka Pelajar ,2005)hal.158
potensi dan kendala yang diperhitungkan. Sebagai penduduk miskin yang memiliki keterbatasan ekonomi tentunya sangat menerima adanya pembangunan WC/septictank gratis dalam mendukung program sanitasi berbasis masyarakat yang melibatkan partisipasi mereka dengan menggali potensi lebih untuk mandiri .
Perubahan kebijakan mendorong orang untuk mengubah perilaku sesuai dengan kebijakan yang baru. Apabila perubahan ini melibatkan seluruh masyarakat maka terjadilah cultural behaviour dalam jangka waktu yang panjang akan terus membawa pengaruh pada perubahan mentalitas, pikiran, nilai dan kepercayaan.15Dengan partisipasi, maka akan lebih mempermudah proses pembangunan untuk menentukan kebijakan yang tepat dan berkelanjutan pada penguatan perubahan perilaku masyarakat agar berhenti buang air besar sembarangan serta dapat mengatasi kendala yang memungkinkan terjadinya penolakan dari kelompok masyarakat atas ketidaksesuaian bentuk pembangunan yang diusahakan oleh pihak luar.
Pembangunan berbasis masyarakat didasari oleh asumsi bahwa komunitas adalah satu kesatuan masyarakat yang hidup di satu lokasi yang memiliki kemampuan mengatur dirinya (self-regulating), mengelola sumber daya (resource management) dan bertahan atas kemampuan diri sendiri (self-sustaining)16. Lokasi tempat tinggal penduduk Kelurahan Belawan Bahagia yang jauh dari sistem
15Amri Marzali.Antropologi & Kebijakan Publik (Jakarta:Kencana Prenada Media, 2013).hal31
16
pemerintahan kota berimplikasi pada kemandegan pembangunan di desa pinggiran kota memutuskan masyarakat untuk mengatur dirinya sendiri berdasarkan pengetahuan sendiri. Potensi atas kemampuan masyarakat yang dapat mengatur dirinya sendiri sebelum mendapatkan bantuan dari luar seharusnya dapat lebih dipicu untuk dapat memberdayakan dirinya sendiri melalui proses penyadaran masyarakat sehingga pada akhirnya mereka akan turut ikut serta dalam pembangunan. Dengan demikian, masyarakat akan mempunyai komitmen untuk merawat serta menjaga pembangunan jamban sehat dalam upaya memperbaiki sanitasi lingkungan.
Pembangunan merupakan suatu perubahan yang dimana pembangunan tersebut merupakan suatu perubahan yang bukan dilihat dari perubahan fisik tertentu saja, tetapi pembangunan juga dapat dilihat dari pembangunan dari dalam.17 Perbaikan sanitasi lingkungan tidak hanya dalam pembangunan semata tetapi bagaimana cara pemeliharaan prasarana sanitasi lingkungan itu sendiri, sehingga lingkungan permukiman kumuh dapat meningkat dan terjaga kualitasnya. Perbaikan sanitasi lingkungan permukiman kumuh, yang dicirikan oleh kondisi sanitasi yang tidak memenuhi syarat atau terbatas (Komaruddin, dalam Gunawan 2012).
Perlu diingat bahwa pembangunan yang dilakukan oleh “orang luar”18
bukan sekedar membangun infrastruktur di desa namun pembangunan juga harus memperhatikan sisi potensi masyarakat yang bisa diandalkan untuk mencapai
17
Robert Chambers, Pembangunan Desa Mulai dari Belakang (Jakarta: LP3ES, 1988)hal.26
18
“Ora g luar adalah se uta agi ora g-orang yang menaruh perhatian terhadap pembangunan desa tetapi dirinya bukan warga desa apalagi miskin. Kebanyakan dari mereka adalah kepala kantor
pembangunan berkelanjutan.19 Masyarakat Kelurahan Belawan Bahagia pada dasarnya memiliki modal sebagai masyarakat mandiri yang mencoba membangun MCK umum di sungai sendiri walaupun dengan pengetahuan seadanya sebelum masuknya pembangunan jamban sehat di pemukiman tersebut. Tidak jarang konsep pembangunan yang dibawa dari luar hanya memiliki perhatian khusus kepada orang-orang yang terlihat di pinggiran kota saja, orang-orang-orang-orang kumuh di pedalaman atau orang tua yang biasanya tidak aktif dalam forum pertemuan seringkali terlepas dari pandangan orang luar.
Belajar dari hasil penelitian Moore dan Wickremesinghe di Sri Lanka, sesudah melakukan pengamatan atas rumah-rumah warga desa yang miskin, yang umumnya tersembunyi dibalik rumah-rumah golongan kaya serta jarang sekali terlihat oleh pamong praja setempat. Meskipun sebagian besar penduduk desa adalah miskin dan sebagian atau seluruhnya tergantung pada upah sebagai buruh, orang mendengar kata-kata seperti “Tentu saja, penduduk di sini kebanyakan punya pekerjaan atau berdagang kecil-kecilan di Colombo. Pernyataan tersebut menyiratkan seolah-olah sebagian besar penduduk mempunyai pendapatan lain dan hidup berkecukupan. Barangkali ini benar untuk mereka yang bertempat tinggal di seputar pusat desa, yang lebih mampu, tetapi jauh dari kenyataan bagi mereka yang hidup di pinggiran desa dan hampir tidak punya hubungan ke luar. Hal kecil tersebut menjadi pelajaran bagi pelaksana proyek atas masalah kemiskinan yang tidak terlihat.20
19 Robert Chambers, Pembangunan Desa Mulai dari Belakang (Jakarta: LP3ES, 1988)hal.30
20
Dalam perspektiif pembangunan, aksi-aksi pembangunan alternatif seperti program-program pengembangan masyarakat yang digulirkan oleh suatu organisasi memiliki relevansi dengan gagasan pembangunan sosial. Kegiatan pengembangan masyarakat memiliki kesamaan visi dan orientasi dengan pengembangan sosial, yaitu sama-sama menekankan peran aktif masyarakat.21
Merujuk pada pandangan Hollnsteiner (dalam zubaedi, 2013) program-program pengembangan masyarakat dalam tradisi LSM sejauh ini dianggap telah menerjemahkan pola pembangunan alternatif. Hal ini antara lain dapat disimak dari orientasi program-programnya dalam membangun kondisi yang memungkinkan para warga ikut berpartisipasi dalam membuat keputusan terhadap sejumlah permasalahan yang mempengaruhi kesejahteraan mereka serta dapat mengimplementasikan keputusan-keputusan itu melalui kerja sosial yang nyata.
Sebagai konsekuensi dari pendekatan pembangunan bahwa sumber segala perubahan yang terjadi berasal dari manusia dalam konteks perubahan lingkungan. Pertama, pendekatan yang bersifat manipulatif yang melihat manusia sebagai obyek dalam pengelolaan lingkungan, dan jika perlu dapat bersifat memaksa. Kedua, pendekatan yang berlandaskan pada potensi manusia guna mengembangkan pemecahan dan pengelolaan suatu lingkungan.22