• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2.5. Pembangunan Indeks Kerentanan Pesisir

Membangun sebuah indeks kerentanan pesisir terhadap kenaikan paras

laut membutuhkan satu atau lebih parameter yang berperan. Gornitz (1991)

menyebutkan parameter yang berperan tersebut diantaranya: 1) geomorfologi, 2)

ketinggian, 3) perubahan garis pantai, 4) pasang surut, 5) tinggi gelombang dan

6) kenaikan paras laut. Gornitz dan Kanciruk (1989) menjelaskan indeks

kerentanan pesisir (IKP) dapat diturunkan dengan menggabungkan beberapa

kombinasi dari variabel genangan (elevasi) dan variabel erodibility (geomorfologi,

tinggi gelombang dan tunggang pasang surut).

Setiap variabel dibagi menjadi beberapa peringkat, dari peringkat 1 hingga peringkat 5, dimana peringkat 5 merupakan tingkat kerentanan yang paling

 

rentan. Beberapa parameter dan skoring yang digunakan untuk kerentanan

pesisir ditampilkan pada Tabel 2, Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5.

Tabel 2. Sistem pembagian ranking variabel kerentanan pesisir yang digunakan

pada U.S.A West Coast

Ranking Variabel Sangat Tidak Rentan 1 Tidak Rentan 2 Sedang 3 Rentan 4 Sangat Rentan 5 Geomorfologi Rocky, Cliffed coast, Fjords,Fiard Medium cliffs, Indented coasts

Low cliffs, Glacial drift, Salt marsh,

Coral Reefs, Mangrove Beaches (pebbles), Estuary, Lagoon, Alluvial plains Barrier beaches, Beaches (sand), Mudflats, Deltas Elevasi (m) ≥ 30,1 20,1 - 30,0 10,1 - 20,0 5,1 - 10,0 0 - 5,0 Perubahan garis pantai (m/tahun) ≥ 2,1 1,0 – 2,0 - 1,0 - +1,0 - 1,1 - -2,0 ≤ -2,0 Pasang surut (m) ≤ 0,99 1,0 - 1,9 2,0 - 4,0 4,1 - 6,0 ≥ 6,1 Tinggi gelombang (m) 0 – < 3 3 - < 5 5 - < 6 6 - < 6,9 6,9 Kenaikan paras laut (mm/thn) < 1,8 1,81 – 2,5 2,51 – 3,0 3,01 – 3,4 > 3,4 Sumber : Gornitz, 1997.

Tabel 3. Sistem pembagian ranking variabel kerentanan pesisir yang digunakan di Atlantic dan Gulf Coast

Ranking Variabel Sangat Tidak Rentan 1 Tidak Rentan 2 Sedang 3 Rentan 4 Sangat Rentan 5 Geomorfologi Rocky, Cliffed coast, Fjords,Fiard Medium cliffs, Indented coasts Low cliffs, Glacial drift, Alluvial plains Cobble Beaches, Estuary, Lagoon

Barrier beaches, Sand beaches, Salt marsh,

Mud flats, Deltas, Mangrove, Coral reefs

Kemiringan pantai (%) > 1,20 1,20 – 0,90 0,90 – 0,60 0,60 – 0,30 < 0,30 Perubahan garis pantai (m/tahun) ≥ 2,1 1,0 – 2,0 - 1,0 - +1,0 - 1,1 - -2,0 ≤ -2,0 Pasang surut (m) > 6,0 4,0 – 6,0 2,0 – 4,0 1,0 – 2,0 < 1,0 Tinggi gelombang (m) < 0,55 0,55 – 0,85 0,85 – 1,05 1,05 – 1,25 , Kenaikan paras laut (mm/thn) < 1,8 1,8 – 2,5 2,5 – 3,0 3,0 – 3,4 > 3,4

Sumber : Pendleton et al,. 2004; Pendleton et al,. 2005c.

Tabel 4. Sistem pembagian ranking variabel kerentanan pesisir yang digunakan di U.S. Pasific Coast

Ranking Variabel Sangat Tidak Rentan 1 Tidak Rentan 2 Sedang 3 Rentan 4 Sangat Rentan 5 Geomorfologi Rocky, Cliffed coast, Fjords,Fiard Medium cliffs, Indented coasts Low cliffs, Glacial drift, Alluvial plains Cobble Beaches, Estuary, Lagoon

Barrier beaches, Sand beaches, Salt marsh,

Mud flats, Deltas, Mangrove, Coral reefs

Kemiringan pantai (%) > 14.70 10.90 - 14.69 7.75 - 10.89 4.60 - 7.74 < 4.59 Perubahan garis pantai (m/tahun) ≥ 2,1 1,0 – 2,0 - 1,0 - +1,0 - 1,1 - -2,0 ≤ -2,0 Pasang surut (m) > 6.0 4.0 - 6.0 2.0 - 4.0 1.0 - 2.0 < 1.0 Tinggi gelombang (m) < 1,1 1,1 -2.0 2.01 - 2.25 2.26 - 2.6 > 2.6 Kenaikan paras laut (mm/thn) < 1,8 1,8 – 2,5 2,5 – 3,0 3,0 – 3,4 > 3,4

Tabel 5. Sistem pembagian ranking variabel kerentanan pesisir yang digunakan di Orissa State, Pantai Timur India

Ranking Variabel Tidak Rentan 1 Sedang 2 Rentan 3 Geomorfologi Inundated coasts, cliffs

Estuaries,vegetated coasts (other than mangroves)

Sandy beaches, deltas, spits, mangroves, mud flat

Kemiringan pantai (%) > 1,0 > 0,2 - ≤ 1,0 ≥ 0 - ≤ 0,2 Perubahan garis

pantai (m/tahun) > 0 ≥ -10 dan < 0 < -10 Pasang surut (m) ≤ 2,5 > 2,5 dan ≤ 3,5 > 3,5 Tinggi gelombang (m) – 1.25–1.40 – Kenaikan paras laut

(mm/thn) ≤ 0 > 0 and ≤ 1,0 > 1,0 and ≤ 2.0 Elevasi (m) > 6 > 3,0 dan ≤ 6,0 ≥ 3,0 dan ≤ 3,0

Ketinggian tsunami

(m) ≥ 0 dan ≤ 1,0 > 1,0 dan ≤ 2,0 > 2,0

Sumber : Kumar et al,. 2010.

2.5.1. Geomorfologi

Geomorfologi digunakan untuk mengidentifikasi keteraturan antara bentuk

permukaan bumi dan proses penyebabnya. Geomorfologi meliputi dua proses,

yaitu proses endogen dan proses eksogen. Proses endogen meliputi aktifitas

vulkanik, tektonik, banjir, badai, tsunami, patahan dan lipatan, sedangkan proses

eksogen meliputi pelapukan, erosi, transportasi, dan deposisi (Kumar et al., 2010). Pada umumnya daerah dengan relief rendah (barrier coast, estuari,

laguna, delta, dll) memiliki tingkat kerentanan yang tinggi, sedangkan daerah

dengan substrat yang keras dan relief yang tinggi (flords, pantai berbatu, tebing

tinggi dll) memiliki tingkat kerentanan yang lebih kecil terhadap erosi (Gornitz dan

Kanciruk, 1989).

Kenaikan paras laut akan menyebabkan perubahan bentuk lahan pesisir

yang terdiri dari hamparan daerah subtidal, dataran intertidal, rawa payau,

shingle banks, bukit pasir, tebing, dan dataran rendah pesisir (Pethick dan

Crooks, 2000). Tiap jenis bentuk lahan pesisir tersebut memiliki perbedaan

geomorfologi yang juga menunjukkan daya tahan terhadap erodibilitas atau

kerentanannya terhadap erosi (Thieler, 2000). Perubahan geomorfologi (evolusi

geomorfologi) yang diakibatkan dari kenaikan paras laut tidak hanya akan

 

ekosistem mereka tetapi juga tingkat kerentanan satwa liar, manusia, serta

infrastruktur pada daerah pesisir (Kumar et al., 2010).

Pada penelitian ini, klasifikasi yang digunakan dibagi menjadi dua

kelompok utama, yang dibentuk oleh erosi dan sedimentasi (Lampiran 2). Kedua

kelompok ini dikelompokan kembali menjadi beberapa kategori seperti marine, non-marine, glacial, non, glacial dan volcanic (Gornitz, 1991). Kategori dari

kelompok yang telah ditentukan, selanjutnya dibagi menjadi 5 kelas kerentanan seperti yang terdapat pada Lampiran 3.

2.5.2. Ketinggian (elevasi) daerah pesisir

Ketinggian daerah pesisir mengacu kepada rata-rata ketinggian pada

daerah tertentu yang berada di atas permukaan laut. Kajian mengenai

ketingggian daerah pesisir sangat penting untuk dipelajari secara mendalam

untuk mengidentifikasi dan mengestimasi luas daratan yang terancam oleh

dampak kenaikan paras laut di masa yang akan datang (Kumar et al., 2010).

Kenaikan paras laut 100 tahun yang akan datang diperkirakan berada pada

rentang 0,5 – 1,5 m (National Research Council, 1987). Apabila hal tersebut

terjadi, maka daerah dengan ketinggian 0,5 – 1,5 m akan memiliki kemungkinan

paling besar untuk mengalami genangan permanen. Daerah pesisir dengan

ketinggian 0 - 5 meter dari ketinggian rata-rata paras laut memiliki resiko yang

rentan hingga sangat rentan terhadap pengaruh dari pasang surut yang normal

atau storm surge (seruak badai). Daerah dengan selang setiap 10 meter

berikutnya menunjukkan adanya peningkatan kerentanan terhadap badai yang

ekstrem (Gornitz dan Kanciruk, 1989). Beberapa pembagian pembagian kelas

kerentanan berdasarkan elevasi dapat dilihat pada Tabel 2, Tabel 3, Tabel 4 dan

2.5.3. Perubahan garis pantai

Pantai merupakan suatu zona yang dinamik karena merupakan zona

persinggungan dan interaksi antara udara, daratan dan lautan. Zona pantai

senantiasa mengalami proses penyesuaian yang terus menerus menuju ke suatu

kesetimbangan alami terhadap dampak dari pengaruh eksternal dan internal baik

yang bersifat alami maupun campur tangan manusia. Faktor-faktor yang bersifat

alami diantaranya adalah gelombang, arus, pasang surut, angin, aktivitas tektonik maupun vulkanik. Pengaruh dalam bentuk campur tangan manusia

antara lain perikanan, pelabuhan, pertambangan dan pemukiman (Hegde dan

Reju, 2007).

Garis pantai pesisir merupakan subjek yang selalu digunakan untuk melihat

proses perubahan yang terjadi di daerah pesisir, dimana selalu dipengaruhi oleh

karakteristik gelombang dan resultan dari sirkulasi yang terjadi dekat dengan

pantai, karakteristik sedimen, bentuk pantai, dll (Kumar et al., 2010). Selain itu,

tingkat perubahan garis pantai adalah salah satu pengukuran yang paling umum

digunakan oleh para ilmuwan pesisir, insinyur, dan perencanaan tanah untuk

menunjukkan dinamika dan bahaya dari pantai (Hedge dan Vijaya, 2007).

Laju pengukuran perubahan garis pantai pada umumnya memiliki

kesalahan pengukuran (error). Tingkat pengukuran dengan kisaran ±1 m

dianggap memiliki kondisi stabil. Pantai dengan tingkat pergeseran +1 m/tahun

dikatakan terjadi akresi oleh karena itu tingkat kerentanannya relatif lebih rendah,

sebaliknya pantai dengan tingkat pergeseran -1m/tahun dikatakan mengalami

erosi (abrasi) dan relatif memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi (Gornitz dan

  2.5.4. Pasang surut

Pasang surut dihasilkan oleh gaya tarik bulan dan matahari. Pasang surut

memiliki sifat yang periodik dan dapat diprediksi. Perbedaan vertikal antara air

tertinggi (puncak air pasang) dan air terendah (lembah air surut) yang berurutan

disebut sebagai tunggang pasang surut (Triatmodjo, 1999). Tunggang pasang

surut perlu diketahui karena keterkaitannya dengan bahaya genangan yang

bersifat sementara (sewaktu-waktu) dan permanen (Gornitz dan Kanciruk, 1989; Gornitz, 1991; Kumar et al,. 2010; Pendleton, 2004; Pendleton, 2005a;

Pendleton, 2005b; Pendleton, 2005c).

Wilayah pesisir dengan kisaran pasang surut yang tinggi (> 4 m) dianggap

memiliki kerentanan yang tinggi dan wilayah yang memiliki kisaran pasang surut

rendah (< 2 m) dianggap memiliki kerentanan rendah (Gornitz dan Kanciruk,

1989; Gornitz, 1991). Selain itu pasang surut dapat menyebabkan masukan air

laut ke dalam daratan (Triatmodjo, 1999) yang dapat menjadi ancaman terhadap

persediaan air dalam tanah (Gornitz, 1991).

2.5.5. Rata-rata tinggi gelombang signifikan

Tinggi gelombang signifikan, periode gelombang dan arah gelombang

merupakan beberapa parameter yang digunakan pada model gelombang.

Ketiga parameter tersebut dinamakan parametric wave models. Tinggi

gelombang signifikan sendiri sangat sering digunakan oleh para coastal engineer

(insinyur pesisir) untuk memperkirakan energi yang dihasilkan oleh gelombang

(Hearn, 2008). Energi tersebut diperoleh dengan mengambil rata-rata dari 33%

nilai tertinggi dari pencatatan gelombang (Triatmodjo, 1999).

Energi yang diperoleh berdasarkan rata-rata tinggi gelombang signifikan

memiliki peranan dalam sistem transfer sedimen (Pendleton, 2005b). Di sisi lain, pengetahuan mengenai kajian kerentanan berdasarkan tinggi gelombang

merupakan langkah penting untuk mempersiapkan peringatan akan bahaya dan

sistem manajemen penanggulangannya (USGS, 2005). Energi gelombang

meningkat seiring dengan peningkatan tinggi gelombang. Hal ini mengakibatkan

hilangnya lahan karena erosi dan genangan di sepanjang pantai, sehingga

daerah-daerah pesisir dengan tinggi gelombang yang tinggi dianggap sebagai

pantai yang lebih rentan dan daerah dengan tinggi gelombang rendah sebagai

pantai yang kurang rentan (Gornitz, 1991; Kumar et al., 2010).

2.5.6. Rata-rata kenaikan paras laut

Kenaikan paras laut merupakan konsekuensi penting dari perubahan iklim,

baik untuk masyarakat dan lingkungan. Rata-rata paras laut di pantai

didefinisikan sebagai tinggi laut terhadap patokan lahan lokal, rata-rata selama

periode, seperti bulan atau tahun yang cukup panjang dengan asumsi fluktuasi

yang disebabkan oleh gelombang dan pasang surut diabaikan (Church and

Gregory, 2001).

Kenaikan paras laut dapat berasal dari pemanasan global melalui dua

proses utama yaitu peningkatan suhu air laut dan pencairan daratan es.

Pemanasan global diperkirakan akan menyebabkan kenaikan yang signifikan

pada permukaan laut selama abad ke dua puluh satu. Oleh karena itu, pengaruh

kenaikan permukaan laut di wilayah pesisir perlu dipelajari. Berdasarkan pada

sudut pandang kerentanan pada daerah pesisir, pantai dengan tingkat kenaikan

paras laut yang tinggi dianggap sebagai daerah yang sangat rentan dan juga

sebaliknya (Kumar et al., 2010; Gornitz, 1991).

Dokumen terkait