• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBANGUNAN JEMAAT SEBAGAI TEORI ILMIAH

C. Pembangunan Jemaat adalah Pengembangan Organisme

Jemaat adalah persekutuan orang beriman setempat, persekutuan orang beriman berarti paroki teritorial. Pembangunan ialah campur tangan aktif atau intervensi dalam tindak-tanduk jemaat setempat yakni paroki. Pembangunan mempunyai arti banyak: baik empiris maupun teologis. Berdasarkan pengertian ilmu sosial dipakai istilah intervensi, pembentukan edukatif, dan perubahan paroki secara sistematis metodis. Dari sudut teologis saya pandang proses pembentukan jemaat sebagai cita-cita. Menurut aspek ilmu sosialnya Pembangunan Jemaat di paroki dapat dibandingkan dengan pembangunan

masyarakat atau community development dengan pengembangan organisasi dan dengan pendidikan orang dewasa.

Pembangunan Jemaat dipandang sebagai disiplin teologis. Disiplin itu mengikuti norma yang berlaku bagi jemaat lokal yaitu: perantaraan kedatangan eskatologis Kerajaan Allah dalam keadilan dan cinta kasih. Mengingat aspek empiris dan normatif ini, Pembangunan Jemaat dirumuskan sebagai berikut:

Pembangunan Jemaat adalah intervensi sistematis dan metodis dalam tindak-tanduk jemaat beriman setempat. Pembangunan Jemaat menolong jemaat beriman lokal untuk – dengan bertanggung jawab penuh – berkembang menuju persekutuan iman, yang mengantarai keadilan dan kasih Allah, dan yang terbuka terhadap masalah manusia di masa kini (Hooijdonk, 1996:32).

Dalam upaya menangani perwujudan Gereja sesuai dengan kehendak Kristus, Pembangunan Jemaat melihat Gereja baik dari perspektif orang-orang dengan keseluruhan aktivitas yang dijalankannya, maupun dari perspektif sistem (unsur-unsur yang saling kait-mengait menyatu) yang ada dan berlaku dalam Gereja. Itulah sebabnya, Pembangunan Jemaat tidak sama dengan tugas menggembalakan, membina dan mengader Warga Gereja, yang perhatian utamanya tertuju kepada anggota dan pemimpin Gereja dengan segala aktivitasnya. Pembangunan Jemaat juga bukan merupakan tambahan dari tugas-tugas yang sudah ada sebelumnya, karena Pembangunan Jemaat berupaya memadukan tugas-tugas yang telah ada itu agar menjadi satu kesatuan gerak. Pembangunan Jemaat lebih luas dari itu semua, juga lebih luas dari membangun organisasi dan struktur Gereja. Pembangunan Jemaat menyangkut keseluruhan

Gereja, baik orang-orangnya dengan berbagai kemampuan yang ada di dalamnya, kegiatan-kegiatannya, serta unsur-unsur yang saling kait-mengkait atau sistem yang berlaku dan dijalani dalam kehidupannya.

Kecuali itu, dalam rangka menangani Gereja, Pembangunan Jemaat juga melihat Gereja dari dua sisi, sisi masa kini sebagai suatu kenyataan apa adanya, dan sisi masa depan yang dicita-citakan sebagai suatu harapan. Hal ini dilakukan agar Gereja semakin setia menjalani kehidupan dan karyanya sesuai dengan kehendak Kristus. Untuk itu, dalam rangka Pembangunan Jemaat diperlukan adanya upaya merumuskan visi dan misinya berdasarkan keyakinan imannya, serta dibutuhkan adanya pengenalan yang memadai terhadap situasi masyarakat di mana Gereja hidup dan berkarya, sehingga visi dan misinya itu menjadi visi dan misi yang aktual. Pembangunan Jemaat mengintegrasikan kenyataan dengan cita-cita menjadi Gereja Yesus Kristus, berangkat dari Gereja secara konkret, apa adanya, menuju Gereja yang dicita-citakan sesuai kehendak Kristus dalam relasi timbal-balik dengan situasi masyarakat yang ada di sekitarnya.

Dalam rangka mengupayakan perwujudan Gereja sesuai dengan kehendak Kristus itu, upaya ini merupakan upaya perubahan (transformasi). Pembangunan Jemaat mengolah sumber daya yang dimiliki oleh Gereja (orang-orangnya, pengetahuannya, kemampuan dananya, serta peluang-peluang yang dimilikinya) supaya menghasilkan sumber daya yang menjadi berkat bagi masyarakat di sekitarnya, seperti misalnya : cinta kasih, pertobatan, kerelaan saling berbagi, semangat persaudaraan dan sebagainya. Dalam melakukan perubahan itu kecuali didasari oleh penghayatan iman dan pengetahuan teologis

yang mendalam, juga menggunakan cara-cara dan sarana-sarana yang tepat seperti dikembangkan dalam ilmu Manajemen Gereja. Perubahan itu juga tidak berlangsung sesaat, namun dilakukan secara bertahap secara sinambung dan terus menerus : tahap penyadaran terhadap perlunya perubahan, tahap penelitian terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki, tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pemantapan. Lebih lanjut upaya perubahan itu tidak hanya dilakukan oleh para pemimpin Gereja atau orang-orang tertentu dalam Gereja, melainkan dilaksanakan oleh segenap warga Gereja. Pemimpin beserta segenap warga Gereja merupakan subyek sekaligus obyek Pembangunan Jemaat. Dengan demikian Pembangunan Jemaat merupakan keseluruhan usaha perubahan yang dilakukan oleh Gereja secara terencana, sinambung, dan terus menerus.

Mempertimbangkan apa yang telah dikemukakan ini, secara singkat dapat dirumuskan bahwa Pembangunan Jemaat adalah keseluruhan usaha yang dilakukan oleh Gereja untuk merencanakan dan melaksanakan proses-proses perubahan secara menyeluruh, terpadu, terarah dan sinambung dalam hubungan timbal balik dengan masyarakat di mana Gereja hidup dan berkarya, agar Gereja mampu mewujudkan hidup dan karyanya sebagai Gereja Yesus Kristus di dunia ini.

3. Kepada siapa Pembangunan Akan di Ajarkan?

Semua orang beriman – tanpa kecuali – ikut menjadi subjek dalam Pembangunan Jemaat dan tidak mengkhususkan orang beriman tertentu sebagai sesama subjek itu. Orang beriman hanya dibedakan menurut kharisma yang

dibagi-bagi oleh Roh dan menurut jabatan serta pelayanan kepemimpinan yang dibagikan kepada mereka.

Menangani proses Pembangunan jemaat dalam aspek yang beraneka ragam mengandaikan kualitas-kualitas kepemimpinan dalam arti tadi, yaitu kualitas kepemimpinan yang mencakup bakat refleksi dan bakat pelaksanaan. Perlu dilihat dan mengakui bahwa dalam kenyataan dewasa ini tidak hanya pejabat Gereja melainkan juga orang awam mempunyai kualifikasi sebagai pemimpin. Kodek baru mengakui realitas itu:

Orang awam yang diketahui cakap, dapat diangkat oleh Gemabala rohani untuk mengemban tugas dan jabatan grejawi, yang menurut ketentuan hukum dapat mereka pegang (228, 1). Orang yang unggul dalam pengetahuan, kearifan dan peri hidupnya, dapat berperan sebagai ahli atau penasiha, juga dalam dewan-dewan menurut norma hukum, untuk membantu para Gembala Gereja (228, 2)

Menurut norma teologis makin banyak orang beriman diharapkan berpartisipasi dalam Pembangunan Jemaat.

Pembangunan Jemaat dalam hal ini akan diarahkan kepada katekis karena katekis memiliki ruang gerak yang lebih luas dan selain itu pula katekis juga memiliki pendidikan yang mumpuni dalam bidangnya, karena katekis berbeda dari pada prodiakon yang lebih besar pada pelayanan berdasarkan pengalaman. Katekis mendapatkan cukup ilmu tentang kekatolikkan beserta prakteknya yang nantinya memiliki ruang gerak menjadi seorang katekis di keuskupan, paroki maupun lingkungan dan merambah juga dalam pendidikanyaitu menjadi seorang guru. Dengan ruang gerak yang cukup luas ini

diharapkan pula katekis dapat menjangkau hingga kedalam plosok-plosok penjuru negeri untuk mewartakan Kerajaaan Allah dan mengajarkan Pembaharuan bagi umat-umat katolik yang tidak mampu di jangkau oleh kaum hierarkis.

BAB III

PENGETAHUAN PRAKTEK DALAM PEMBANGUNAN JEMAAT A.Pengetahuan Praktek dalam Pembangunan Jemaat

Pengetahuan praktek ialah pengetahuan yang diperoleh dari dan dalam praktek Pembangunan Jemaat. Yang dapat menjadi subjek pengetahuan ini ialah mereka yang secara aktif dan sebagai pemimpin menjalankan Pembangunan Jemaat sendiri, mereka yang dilibatkan dalam Pembangunan Jemaat, walaupun pasif dan ilmuan yang mengatur kesan-kesan mengenai praktek – walaupun dari agak jauh. Dalam pengetahuan praktek dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu: pertama, asosiasi bebas yang timbul pada orang beriman kalau mendengar istilah Pembangunan Jemaat. Kedua, pengetahuan mengenai praktek Pembangunan Jemaat yang diatur dan dideskripsikan. Ketiga, pengetahuan prakter yang diatur menurut Teologi Praktis.

1. Asosiasi Bebas mengenai Paham Pembangunan Jemaat

Ada cukup banyak orang mengasosiasikan Pembangunan Jemaat dengan kegiatan para warga paroki sendiri. Kemudian dirangkum beberapa asosiasi yang berasal dari orang beriman di tempat yang berbeda-beda seperti, asosiasi yang berkaitan dengan paroki: Pembangunan Jemaat ialah mengadakan dan memperbaiki dewan paroki dan kelompok kerja, memperbaiki komunikasi antar anggota dewan paroki sendiri, memperbaiki komunikasi antara dewan, serta kelompok kerja dengan kelompok lain di luarnya. Dari asosiasi yang

terkumpul ini jelaslah bahwa struktur mendapat perhatian lebih besar dari pada hal berfungsinya paroki.

Ada asosiasi yang menyangkut penanganan dan perluasan tugas pastoral di paroki: Pembangunan Jemaat ialah tugas yang bertujuan memperdalam iman pribadi seperti katekese, pengembalaan terhadap pribadi dan kelompok, bimbingan rohani. Ada asosiasi yang menyebut sejumlah kegiatan serentak secara bersama untuk memperlihatkan bahwa paroki itu hidup. Pembangunan Jemaat disini berarti: meningkatkan mutu kegiatan itu dan menolong jemaat menjadi orang beriman yang lebih insaf dan dewasa. Ada asosiasi yang menunjukan hanya satu macam kegiatan, yang biasanya kita sebut dengan pendidikan kader. Dan ada asosiasi yang berbicara tentang jemaat yang terbuka; terbuka dalam macam-macam arti: membangun jemaat di daerah yang tidak mengenal Injil, mengembangkan hubungan dengan agama lain, mempersiapkan jemaat untuk hidup diera sekularisasi.

Asosiasi dengan membangun gedung Gereja makin berkurang. Tidak berarti bahwa gedung Gereja tidak lagi dianggap perlu. Orang beriman tetap mencari ruang untuk berkumpul dan mendengarkan Firman sekaligus merayakan kebersamaannya dengan Kristus. Gedung itu adalah tanda perkenalan, simbol yang mempersatukan orang beriman satu dengan yang lainnya. Partisipasi awam pada tanggung jawab atas Gereja serta kegiatannya makin dianggap perlu dan layak. Layak, oleh karena kesadaran diri dan kedewasaan awam makin bertumbuh. Perlu, karena jumlah pastor, kini dan di masa depan, tidak mencukupi untuk menjalankan reksa pastoral jemaat secara intensif.

Pembangunan Jemaat tidak terutama mereka asosiasikan dengan relasi interen antara pastor dan para aktivis awam (misalnya dalam hal hak dan kewajiban, hal wewenang, hal keuangan), melainkan lebih dengan penyadaran iman mereka sendiri, pembentuka kader dan dengan tugas yang perlu mereka laksanakan di Gereja dan dunia.

2. Pengetahuan Praktek Pembangunan Jemaat yang Diatur dan Dideskripsikan

Pengetahuan praktek menolong mengerti mengapa dan bagaimana Pembangunan Jemaat dapat menggerakkan orang, apa yang menjadi inti Pembangunan Jemaat, apa cara kerjanya dan hasil mana yang dapat diharapkan dari padanya. Pengetahuan praktek ini bersal dari praktek dan diuji dalam praktek, pengetahuan ini tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang sudah mempunyai pengalaman praktek, melainkan juga bagi yang dengan cara lain terlibat dalam Pembangunan Jemaat.

Tidak hanya dikumpulkan laporan praktek Pembangunan Jemaat dilapangan, melainkan juga artikel mengenai Pembangunan Jemaat yang populer atau dipopulerkan. Sering juga artikel itu sudah membuktikan manfaatnya untuk dan di dalam praktek. Manfaatnya menentukan nilai pengetahuan praktek ini. Para pemakailah yang menjadi penilai definitif. Mereka menentukan apakah ada efek bagi “Pembangunan Jemaat” di lapangan? Jika kiranya bahwa Pengetahuan Praktek, betapapun diperlukan, memiliki nilai keterbatasan untuk mendapat pengertian tentang Pembangunan Jemaat. Kalau situasi paroki menjadi rumit

sedangkan percobaan untuk memecahkan persoalan terus-menerus gagal, maka pengetahuan praktek tidak memadai.

Dengan bertolak dengan pada praktek, perlu memanggil bantuan dari nivo pembentukan teori yang lebih tinggi. Diperlukan insight (wawasan) lebih mendalam mengenai: latar belakang problematik, hubungan antara bermacam-macam segi problematik, problem yang membutuhkan intervensi dan problem yang tidak dan unsur yang menentukan tindak-tanduk pembangunan. Atau dengan kata lain: perlu masuk nivo (tantaran/jenjang) berpikir yang lebih tinggi, dengan mengolah dan mendalami pengetahuan praktek itu sendiri, serta mengolah teori-teori yang diperoleh dari ilmu teologi dan ilmu sosial untuk dapat menjawab pertanyaan tentang latar belakan problem-problem dalam praksis dan tentang hubungan antar problematik.

3. Pengetahuan Praktek Ditata Menurut Teologi Praktis

a. Praktek Pastoral dalam Bagan Disiplin Vertikal dan Horisontal

Pembangunan Jemaat mencakup sejumlah disiplin praktis Teologis. Pengetahuan Praktek ini dapat menjadi titik tolak yang penting bagi pembentukan teori teologisnya. Pembangunan Jemaat diharapkan dapat mendorong vak seperti homiletik, diakonia dan koinonia untuk menampilkan Gereja sebagai kenyataan sosial dinamis dan institusional; dan menampilkan Gereja dalam berfungsinya sebagai jemaat partisipatif karismatis sebagai jemaat yang mengaku adanya jembatan dan sebagai jemaat yang menangani perkembangannya secara profesional. Pembangunan Jemaat dapat berfungsi

secara kritis dan mencegah agar: homiletik tidak menjadi retorika saja, kateketik tidak menjadi didaktik saja, poimenik tidak menjadi pisikologi pastoral saja, diakonia tidak menjadi urusan masyarakat saja, koinonia tidak menjadi pengembangan organisasi saja dan sibernetika (ilmu mengenai sistem pengendalian) tidak menjadi ilmu manajemen perusahaan saja.

Menurut Firet, kesamaan semua dalam disiplin teologi praktis ialah bahwa disiplin itu berfungsi sebagai Gereja dan berperan secara pastoral, atau berfungsi dan berperan dalam setting gerejawi. Kesamaan itu tidak lagi ekslusif dihubungkan dengan setting gerejawi, melainkan dengan komunikasi dan organisasi atau struktur praktis teologis. Maka Firet mau menekankan sifat gerejawinya disiplin pastoral. Tidak lagi melulu bertindaknya Gereja dan parokilah yang merupakan garis horisontal antara disiplin teologis praktis. Semua cara dalam nama Allah mengkomunikasikan diri dalam Sabda-Nya dan semua cara dalam mana orang berkumpul sebagai ekklesia (Gereja/jemaat) untuk mengantarai Sabda itu dapat menjadi garis horisontal (Hooijdonk, 1996: 51).

Teologi Praktis tidak lagi dimengerti sebagai teori teologis tentang pastor saja. Juga tidak lagi sebagai teori tentang perantaraan Kabar Keselamatan oleh Gereja saja. Maka Pembangunan Jemaat dapat berfungsi sebagai garis horisontal yang menghubungkan beberapa disiplin patoral. Dalam arti ini, Firet bicara tentang Pembangunan Jemaat sebagai vak (bagian) horisontal. Dulu dalam

Teologi Praktis hanya ada disiplin pastoral sebagai vak (bagian) vertikal. Namun pada tahun 1973, Firet menulis:

Teologi Praktis dapat bekerja lebih efektif dan memberi sumbangan teologis yang lebih khas kalau gerakannya tidak lagi dibatasi oleh bagan subdisiplin yang vertikal melulu, seperti homiletik, kateketik, poimenik, tetapi juga menghubungkan vak-vak (bagian-bagian) itu secara horisontal, yaitu: melalui garis komunikasi dan struktur teologis praktis (Hooijdonk, 1996: 52).

Lewat perluasan kearah komunikasi dan struktur inilah maka Firet membuka juga kemungkinan bagi interdisiplinaritas yang luas antara Teologi Praktis dan Ilmu Sosial. Diagram berikut dapat menolong untuk lebih memahami apa yang dikatakan Firet:

Pada diagram di atas Pembangunan Jemaat atau Oikodome tidak hanya digambarkan secara vertikal saja melainkan juga secara horisontal. Hal itu berarti bahwa: dimensi spiritual, yang termaktub dalam paham oikodome, mau ditekankan dalam semua disiplin teologi praktis. Kemudian digaris bawahi bahwa semua kegiatan pastoral mengikuti patokan dan tatanan komunikasi serta

Ho

m

il

et

ik

Ka

tek

eti

k

L

itur

g

ik

P

o

im

en

ik

di

a

k

o

n

ia

ev

a

ng

el

is

ti

k

a

po

st

o

la

t

P

em

ba

ng

u

na

n

J

em

a

a

t

a.

ko

in

o

n

ia

b.

si

b

ernet

ik

a

struktur bersama. Hanya Pembangunan Jemaatlah yang digambarkan sebagai vak horisontal. Homilitik dan kateketik memiliki garis horisontal juga, tetapi dibatasi pada Pembangunan Jemaat saja.

b. Pembangunan Jemaat sebagai Susunan Disiplin Pastoral yang Vertikal 1) Katekese

Katekese umat makin berperan oleh karena umat semakin dipandang sebagai pembawa utama katekese itu. Itulah sebabnya juga semakin pentinglah kalau warga paroki diaktifkan dalam proses sosialisasi Gereja. Katekese Dewasa atau Pendalaman Iman atau Aksi Puasa dipakai untuk kelompok dalam mana umat disadarkan akan arti keanggotaannya dalam Gereja, akan tanggung jawabnya sebagai Gereja bagi masyarakat yang dekat dan jauh. Bentuk katekese yang sangat dibutuhkah ialah katekese diakonal, bersamaan dengan katekese audio visual yang mempergunakan kemajuan di dunia elektronika dan menyediakan banyak material katekis kemasyarakatan dengan media video.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa katekese lebih membutuhkan bantuan ahli-ahli dari pada dulu, karena era modernisasi masuk kedalam bidang kateketik pula. Namun, tetap ada kelompok yang dibentuk dari bawah oleh pemimpin lokal karismatis. Oleh pusat diosesan, religius dan ekumenis diterbitkan banyak bahan dan diadakan banyak kursus serta pekan studi untuk membantu kelompok di lapangan.

2) Liturgi

Pada jaman dahulu, hanya pastor saja yang bertugas dalam liturgi, menurut ritual yang ditentukan dari atas sampai yang terkecil sekalipun. Sekarang ini, orang awam mendahului dalam doa, berfungsi sebagai lektor, pemberi bahan meditasi dan pembagi komuni. Perubahan tersebut dengan banyaknya aktivis serta kreativitas mereka menuntut kualitas baru pada pemimpin. Mereka membutuhkan bimbingan juga, agar panitia masing-masing dapat mencocokkan diri satu sama lain dan dapat bekerja sama. Tidak semua warga paroki siap untuk menerima perubahan, betapapun bagusnya. Hal ini menuntut banyak dari kemampuan pemimpin.

3) Poimenik (penggembalaan), pastorat perorangan, pastorat kelompok, bimbingan rohani.

Poimenik berwajah banyak yang paling dikenal ialah penggembalaan. Penggembalaan atau pastoral care (pendampingan pastoral) sudah berkembang menjadi suatu ilmu tersendiri yang dijalankan secara internasional. Penggembalaan merupakan disiplin teologis praktis yang dijalankan dalam hubungan timbal balik dengan guidance and counseling (bimbingan dan konseling). Disiplin ini kiranya lebih dikenal dikalangan Protestan dari pada kalangan Katolik. Di kalangan Katolik kiranya lebih dikenal bimbingan rohani.

Dewasa ini dikembangan spiritualitas awam. Spiritualitas awam itu mencari bagaimana dalam sekularitas yang menjadi cirikhas awam. Dewasa ini dicari juga spiritualitas jemaat. Maksudnya ialah mengembangkan inspirasi

rohani bagi jemaat sebagai keseluruhan dalam masing-masing anggota umat berbagi pengalaman mereka sebagai umat dan saling menginspirasikan untuk membangun komunitas mereka.

Aspek saling makin menjadi ciri pastorat kelompok. Kelompok makin dibentuk berdasarkan situasi hidup yang problematik tertentu. Bentuk pastorat (penggembalaan) yang terkenal juga ialah pendampingan orang sakit terminal. Tidak lagi ada banyak pastor yang dapat mengunjungi umatnya dari rumah ke rumah secara sistematis dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Namun, sedang berkembang sistem orang kontak atau kelompok kontak. Mereka ingin membawa paroki dekat pada warga paroki di lingkungan.

4) Diakonia

Diakonia adalah pelayanan Gereja kepada dunia tau realisasi Kerajaan Allah di dunia. Diakonia ialah fungsi Gereja yang bertujuan semakin mewujudkan nilai Injil dalam hidup bermasyarakat disegala bidang: pendidikan, kesehatan, politik, kebudayaan, sosial, kenegaraan dan lain-lain. Dalam dokumen Konsili Vatikan II, pelayanan ini dipandang sebagai bidang kerja khusus kaum awam. Akan tetapi, kerja sama dan hubungan timbal balik antara awam dan imam sangat dibutuhkan. Awam tidak hanya memohon pendampingan diberi inspirasi dan harapan, diteguhkan dan diberi penjelasan, melainkan juga mengharapkan agar ada imam dan religius yang mendahului karena faktor resiko bagi mereka yang tidak berkeluarga lebih kecil dari pada bagi kebanyakan awam yang harus memikirkan keluarga mereka.

Diakonia merupakan kegiatan vertikal. Namun sudah jelas juga bahwa diakonia merupakan unsur dalam semua kegiatan vertikal yang lain. Maka diakonia merupakan juga garis horisontal: baik dalam liturgi maupun dalam katekese, poimenik dan Pembangunan Jemaat ada dimensi diakonal. Diakonia mengikuti Injil. Yang paling pokok dalam Kerajaan Allah ialah orang miskin. Diakonia adalah panggilan setiap orang beriman terhadap semua orang di dunia. Diakonia tidak menggiatakan terlalu banyak warga paroki. Namun, ada faktor yang menyebabkan hal itu : (i) kalau sifat minoritas terlalu ditekankan, sehingga umat terlalu defensif; (ii) kalau dalam negara, etatisme (paham yang lebih mementingkan negara dari pada rakyatnya) sangat kuat dan pihak penguasa terlalu mengontrol segala kegiatan jemaat terhadap masyarakat; (iii) kalau perjuangan demi keadilan dianggap kritik terhadap penguasa.

5) Pembangunan Jemaat

Pembangunan Jemaat dapat dimengerti sebagai vak (bagian) vertikal dan sebagai dimensi horisontal. Pembangunan Jemaat sebagai vak (bagian) vertikal dibagi atass dua bagian: pertama, koinonia atau pembangunan persekutuan dan yang kedua sibernetika atau ilmu pengendalian.

a) Koinonia

Koinonia ingin menumbuhkan kedekatan, kebersamaan dan dukungan satu sama lain. Di atas, dibicarakan orang kontak, fungsi itu sering dijalankan oleh ketua lingkungan. Mereka ingin membawa paroki dekat kepada umat. Mengembangkan sistem yang membagi paroki atas bagian-bagian yang lebih

kecil. Perlu memperkecil skala: tidak hanya agar jemaat dapat mendekat dan rukun, melainkan juga agar mereka dapat berpastoral dengan lebih efektif. Baik secara teologis maupun secara sosiologis, keluarga merupakan dasar untuk perkembangan hidup manusia. Keluarga dewasa ini diancam dengan berbagai macam-macam cara. Maka pastoral keluarga mendapat perhatian besar. Koinonia dapat juga diwujudkan dalam bentuk sosial-manusiawi yang ditentukan secara sosiologis.

(1) Koinonia dalam grup/kelompok sosial

Kelompok/grup merupakan bentuk pertama untuk kedekatan dan keakraban. Di dalamnya ada rumusan tujuan bersama dan pembagian tugas yang disepakati bersama atas dasar kebutuhan yang langsung dirasakan. Proses awal bagi kelompok yang mulai dibentuk biasanya berlangsung lama, penuh keragu-raguan dan kesulitan. Dalam rangka pengembangan organisasi paroki, pembentukan kelompok ini merupakan unsur yang esensial dalam dinamika paroki.

(2) Koinonia lewat partisipasi dalam hidup paroki

Koinonia berarti bahwa warga paroki merasa semakin akarab dan dekat sebagai warga paroki. Usaha melibatkan semakin banyak jemaat dalam hidup paroki dapat merupakan „policy‟ paroki sehingga partisipasi jemaat itu menjadi tujuan. Koinonia lebih mudah tercapai pada nivo makro (kring, blok, kelompok basis dan lain sebagainya). Dalam skala kecil lebih mudah bagi orang beriman merasakan keakraban sebagai orang beriman bersama jemaat lain.

(3) Koinonia sebagai organisasi oleh paroki

Paroki adalah organisasi hidup gerejawi pada nivo meso sosial. Hampir tidak mungkin melestarikan kelompok atau organisasi kalau ada kekurangan

Dokumen terkait