• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Komunkasi Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin Malam itu, sekitar pukul 18.30 selesai sholat Magrib, rombongan Kyai Wawang bersiap memenuhi undangan di kampung sebelah. Beliau diminta memimpin pembacaan surah Yasin, memperingati setahun meninggalnya seorang tokoh masyarakat. Ritual ini disebut “ngehol”. Acaranya dilangsungkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) tempat bersemayam almarhum. Tepat pukul 19.00, Kyai tiba di depan pekuburan. Kedatangan Kyai disambut hangat oleh ratusan tamu yang sudah berkumpul di situ, mereka mendekati, bergantian mencium tangan Kyai. Kyai dipersilahkan duduk di dipan khusus, sebuah kursi panjang dan agak lebar, alasnya terbuat dari anyaman bambu, ditopang dengan kayu di keempat kakinya, diletakkan di antara makam-makam yang ada, diatasnya digelar kasur kapuk dibalut kain batik yang masih terlihat baru, terkesan seperti singgasana kehormatan. Telah tersedia pula berbagai jenis hidangan makanan dan minuman di hadapan Kyai. Terpisah dari dipan-dipan tamu lainnya, namun semuanya saling berhadapan dan melingkar. Di seberang jalan, berhadapan dengan TPU, tempat tinggal almarhum juga sudah dipenuhi ibu-ibu dan ratusan tamu lainnya.

Sambil menunggu yasinan dimulai, tokoh-tokoh masyarakat di lingkaran pertama dimana Kyai duduk mulai berbincang, membicarakan segenap persoalan masyarakat, masalah kenaikan harga, pemilihan Wali Kota Serang yang sebentar lagi akan dilangsungkan, dan politik uang yang merajalela menjelang pemilukada. Tidak berapa lama, acara dimulai. Selama lima belas menit, surah Yasin dan tahlilan dibacakan bersama. Setelah selesai, Kyai bermunajat, berdoa untuk keselamatan almarhum di alam kubur dan keselamatan bagi semua yang masih hidup. Selesai berdoa, Kyai memberikan tausiyah singkat kepada warga. Setelah semua ritual terjalani, hidangan makan malam dihantarkan ke kuburan untuk disantap bersama. Sebelum pulang, rombongan Kyai disuguhi oleh-oleh makanan untuk dibawa pulang. Pamitnya Kyai juga menjadi sedikit ritual yang panjang, karena kembali semua warga mendekat, bersalaman mencium tangan.

Selepas acara ngehol, perjalanan dilanjutkan ke kampung Kresek, Tangerang, menghadiri undangan Walimatul Khitan (sunatan) dan memberikan Tausiyah Rajaban. Sepanjang perjalanan menuju Kresek, Kyai dan kami yang ada di mobil berbincang, tidak habis pikir membahas kondisi jalan yang kami lalui rusak parah, padahal belum setahun diperbaiki. Setelah satu jam menempuh perjalanan, mobil yang kami tumpangi memasuki gerbang kampung. Mobil Kyai diparkir tepat di muka kampung. Selanjutnya, kami bejalan kaki, dipandu oleh beberapa pemuda yang telah menunggu.

Suasana penyambutan Kyai sangat terasa. Di kanan – kiri kami, telah dipasang berjajar obor terbuat dari bambu setinggi pinggang orang dewasa, pengganti ketiadaan lampu penerangan jalan, di tengah rapatnya perkebunan bambu sepanjang

mata memandang. Pendaran cahaya obor menerangi langkah-langkah kaki yang terjejak agar tidak terjerembab di lubang dan beceknya tanah yang basah terguyur hujan sepanjang sore tadi. Suasananya begitu sepi. Di beberapa ruas jalan yang rusak parah, tumpukan batu sengaja ditaruh agar kondisi jalan tidak terlalu buruk. Setelah sepuluh menit berjalan, suasana terlihat berbeda. Tampak masyarakat ramai berkumpul, meriah, terang oleh berbagai lampu listrik dan gantungan-gantungan petromak. Menuju panggung acara, puluhan pemuda berbaris, berseragam putih lengan panjang, memakai sarung dan kopiah menyambut kedatangan Kyai. Tidak ketinggalan tabuhan musik rebana turut mengiringi kedatangan Kyai, dimainkan sekelompok pemuda dengan atraktif.

Pelataran mushola kampung telah disulap menjadi ruang tunggu Kyai. Sebuah permadani digelar khusus untuk Kyai, di antara karpet mushola yang sudah lusuh. Hidangan makan dengan beragam lauk pauk sudah disiapkan. Kami dipersilahkan bersantap terlebih dahulu. Selama bersantap, tokoh-tokoh masyarakat menemani dan berbicang membicarakan berbagai masalah yang aktual di masyarakat, terutama persolan merebaknya aliran-aliran yang dianggap sesat merusak akidah umat. Di luar Mushollah, sambil menunggu Kyai memberikan Tausiyah, lantunan ayat-ayat suci diperdengarkan oleh Qori dan Qoriah secara bergantian. Semakin malam, masyarakat yang datang bertambah dari kampung sebelah. Ketika tausiyah berlangsung, suasana begitu khidmat dan hening, tidak ada warga yang beranjak hingga selesai.

Selesai memberikan Tausiyah jam menunjukkan pukul 00.30 WIB. Sebelum rombongan Kyai Pamit, barisan pemuda yang tadi menyambut kedatangan Kyai, kembali berbaris melepas kepergian Kyai. Kali ini lebih banyak lagi berbagai bungkusan makanan yang telah disiapkan tuan rumah untuk dibawa pulang Kyai. Selepas dari memberikan Tausiyah disepatan, Tangerang, perjalanan dilanjutkan menuju Kasemen, Kota Serang, daerah yang terkenal sebagai lumbung padi Kota Serang. Kali ini Kyai diundang untuk memberikan tausyiah dalam acara pernikahan. Tepat pukul 02.20 WIB rombongan tiba di tempat acara berlangsung. Tidak menunggu lama, Kyai naik ke mimbar selama satu jam. Setelah itu, rombongan Kyai dipersilahkan singgah di salah satu rumah tokoh masyarakat. Kembali berbincang tentang segenap persoalan masyarakat dan saling menukar informasi, sambil bersantap berbagai hidangan yang telah disediakan.

Selesai acara di Kasemen Serang, sebenarnya Kyai Wawang masih ada satu undangan lagi, yakni memberikan Tausiyah ba’da subuh di Pandeglang, sekitar dua jam perjalanan dari Kasemen. Namun Kyai sudah mengkonfirmasi ke pemangku hajat bahwa ia tidak bisa datang. juga empat undangan yang tidak didatanginya di pagi hingga sore tadi. Semenjak lima bulan lalu, kesehatannya terus menurun. Oleh sebab itu ia membatasi undangan memberikan tausiyah sehari hanya di tiga tempat, dijadwalkan malam hari, ujar Kyai Wawang. Siang hari ia gunakan untuk beristirahat dan memanfaatkan waktunya mengajar santri mengaji. Suatu saat, perjuangan dakwah ini mesti saya wariskan ke Ustadz yang sudah mampu melakukannya, saya sendiri ingin khusyu mengajar santri saja, ujar Kyai Wawang kembali.

Tidak ada yang dapat menggantikan tugas dan peran Kyai jika belum diminta oleh Kyai atau karena Kyai benar-benar berhalangan. Manajemen tradisional yang berjalan memang tidak mengarah kepada pelimpahan wewenang secara otomatis.

Prosedural formal dalam organisasi Pesantren Salafiyah tidak nampak. Kyai menjadi tumpuan dalam manajemen pengelolaan dan operasional Pesantren Salafiyah. Keterlibatan Ustadz dalam menentukan jadwal Tausiyah Kyai hanya pada penjadwalan Tausiyah yang dicatat secara rapih untuk diingat kembali oleh Kyai. Pada beberapa agenda tausiyah yang dijadwalkan namun tidak bisa dihadiri oleh Kyai, ditawarkan Ustadz pengganti yang dianggap mampu, jika pihak pengundang mau, maka Ustadz yang dipercaya Kyai akan menggantikannya. Secara internal komunikasi yang berjalan begitu fleksibel, tanpa ambisi dan berjalan dalam alur kekeluargaan yang saling menjunjung serta saling menghormati.

Strategi Komunikasi Organisasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin

Manajemen Pesantren Salafiyah dan sistem pembelajarannya mempunyai karakteristik tersendiri, tidak menganut ketentuan-ketentuan formalistik dan prosedural yang ketat. Hal ini karena organisasi sistem pembelajaran itu sendiri terbentuk sebagaimana kebutuhan dalam keluarga. Tidak ada struktur formal. Semua bertumpu kepada Kyai. Kendati, bukan berarti tidak ada kecenderungan atau orientasi pembagian tugas di dalam Pesantren Salafiyah itu sendiri. Setidaknya strategi komunikasi yang berkaitan dengan pembagian tugas dan wewenang Kyai terhadap keseluruhan tugas yang diemban Kyai, pada tahap perencanaan dilimpahkan kepada Ustadz, sebagi berikut:

Gambar 8.1 Strategi Komunikasi Organisasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin

Kyai

Ustadz 1 wakil dan

personifikasi Kyai dlm semua urusan Ustadz 2

Masalah santri dan pengajian internal

ponpes

Utadz 2 Urusan Eksternal

Ponpes: sosial kemasyarakatan Ustadz 3 Menangani PHBI Ustadz 4 Logistik dan Usaha Ustadz 5 Menggantikan Kyai ketika berhalangan bertausiyah

Strategi komunikasi organisasi Pesantren Salafiyah Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dapat dikajiPentad Analysisnya sebagai berikut:

Tabel 8.1 KajianPentad AnalysisPeran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi Organisasi

Teori Kajian

Scene Kyai Pesantren Salafiyah memegang peranan penting dan utama dalam melihat dan menentukan Ustadz yang dapat mewakilinya untuk kepentingan dan kebutuhan pengelolaan pesantren dalam urusan mengajar menggantikan posisi Kyai, mewakili Kyai dalam urusan sosial keagamaan ketika berhalangan, termasuk dalam hal peringatan hari besar keagamaan. Termasuk untuk urusan logistik dan bisnis Kyai.

Agent Kyai pimpinan Pesantren Salafiyah

Act Motivasi dan pemikirannya adalah kemampuan untuk menggantikan Kyai secara proporsional keilmuan dan kematagannya

Agency Instrumennya adalah Kyai pimpinan Pesantren Salafiyah Purpose Menggantikan peran Kyai

Strategi Komunikasi Internal Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin

Walau tidak secara kaku komunikasi pembagian tugas dijalankan namun bisa dipastikan bahwa orientasi dari pelimpahan wewenang antara Kyai dengan Ustadz berjalan dengan baik dengan masing-masing orientasi pembagian tugas yang jelas. Dari gambaran strategi komunikasi dalam hal pembagian tugas tadi, maka gambaran strategi komunikasi internal terjalin dalam permasalahan yang sangat dalam menyangkut masalah-masalah yang lebih pribadi, melibatkan elemen penting di dalam pesantren, yakni Kyai, santri, Ustadz dan Masjid (pengelola), sebagai berikut:

Gambar 8.2 Strategi Komunikasi Internal

Kyai Sant ri Masalah Pendidikan Masalah Keluarga Santri Masalah Pribadi Santri Usta dz Masalah Ponpes Masalah Keluarga Ustadz Masalah Ekonomi Ustadz Pengembangan diri Ustadz Guru Pengelola Masjid PHBI Kepengurus ann Ibadah Rutin

Strategi komunikasi internal yang dijalin dan terjalin di dalam Pesantren Salafiyah memiliki kekuatan strategi yang baik mengingat saluran komunikasi yang terjadi selain dua arah, juga memuat kebutuhan komunikasi yang sangat dekat karena bukan saja membahas dan membicarakan hal-hal yang formal mengenai proses belajar mengajar di Pesantren tetapi juga berkaitan masalah keseharian pelaku di dalamnya atas dasar saling mempercayai.

Strategi komunikasi internal Pesantren Salafiyah Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dapat dikajiPentad Analysisnya sebagai berikut:

Tabel 8.2 KajianPentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi Internal

Teori Kajian

Scene Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin sebagai lembaga pendidikan juga sebagai satu kesatuan keluarga besar dari keluarga gurunya kyai, kyai dan keluarganya, keluarga santri dan Ustadz. Dimana dalam satu satuan keluarga besar ini biasanya semua masalah dibicarakan secara terbuka dengan Kyai yang menyangkut bukan saja masalah kependidikan di pesantren tapi juga menyangkut persoalan keluarga, ekonomi, hal-hal yang bersifat pribadi, terutama yang berkaitan dengan pengembangan dan ibadah santri.

Agent Guru Kyai memiliki pengaruh yang besar selain kyai sendiri di Pesantren Salafiyah Al-Munawat Bani Amin untuk menggerakkan pesantren yang diharapkan memiliki pengaruh kepada keluarga masing-masing di pesantren. Sementara secara formal hubungan yang lebih longgar (diluar keluarga santri dan Ustadz) dengan masyarakat dapat lebih terjalin dengan masyarakat melalui pengurusan masjid dilingkungan pesantren melalui ibadah rutin seperti ibadah lima waktu, peringatan hari besar islam, dan sebagainya.

Act Motivasi, karakteristik dan pemikiran dalam situasi ini adalah implementasi berjamaah sebagai praktek keseharian ibadah

Agency Guru Kyai, Kyai dan institusi masjid dalam pesantren

Purpose Tujuannya adalah kemampuan membangun dan membentuk banteng masyarakat yang kokoh atas kebutuhan implementasi nilai-nilai keagamaan.

Strategi Komunikasi Eksternal Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin

Komunikasi eksternal yang dimaksud adalah suatu pola komunikasi yang dijalin elemen-elemn dasar Pesantren Salafiyah kepada pihak luar yang terdekat. Sudah menjadi suatu pola umum bahwa kebutuhan komunikasi yang diterapkan oleh pesantren, terutama Kyai syarat dengan makna pembelajaran yang dimulai dengan kalangan terdekat lebih dahulu sebagai contoh teladan bagi kalangan terdekat baru kemudian tertransmisikan kepada masyarakat yang lebih luas.

Strategi komunikasi eksternal Pesantren Salafiyah Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dapat dikajiPentad Analysisnya sebagai berikut:

Tabel 8.3 KajianPentad AnalysisPeran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi Eksternal

Teori Kajian

Scene Komunikasi dengan pihak eksternal merupakan kebutuhan dari suatu kepentingan syiar agama yang mesti dilakukan oleh Pesantren Salafiyah. Interaksi ini biasanya dijalin melalui lingkungan terdekat lebih dahulu sepertihalnya Nabi ketika memulai dakwanya dulu. Dimulai dengan pengajian dilingkungan terdekat pesantren, kemudian warga kamg di seputaran pesantren hingga masyarkat diluar yang bias saja lintas daerah bahkan Negara. Kesederhanaan dan model komunikasi tradisional yang dilangsungkan juga berdampak kepada hubungan komunikasi dan interaksi kepada pemerintah yang terbatas pada aparat dilingkungannya.

Agent Kyai dan institusi Pesantren Salafiyah

Act Motivasi dan karakteristik komunikasi eksternal yang dimulai secara sederhana ini merupakan hal yang dicontoh pada saat zaman Nabi Muhammad memulai dakwanya dari lingkungan terdekat hingga pada seluruh dunia.

Agency Instrumen yang digunakan adalah Kyai, santri dan Ustadz Purpose Mensyiarkan agama islam

Secara eksternal, strategi komunikasi Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin menjadikan setiap elemen komunikasi lainnya sebagai bagian dari transmisi untuk tersampaikannya pesan yang sama kepada pihak atau masyarakat lain. Hal yang dijaga dalam komunikasi eksternal ini adalah keteladanan yang ditunjukkan kepada pihak yang paling dekat lebih dahulu secara geografis dan kedekatan emosionalnya. Hal inilah yang kemudian menjadi pancaran transmisi yang mampu memberikan gambaran dan personifikasi nilai-nilai budaya yang dirasakan nyaman oleh masyarakat sehingga dibutuhkan.

Kemampuan berstrategi secara eksternal ini menjadi dasar bagi Pesantren Salafiyah Almunawar Bani Amin untuk menguatkan pola strategi komunikasi dalam rangka kaderisasi dan pemantapan kapasitas organisasinya dapat dikaji Pentad Analysisnya sebagai berikut:

Tabel 8.4 KajianPentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi kaderisasi

Teori Kajian

Scene Kyai pimpinan Pesantren Salafiyah menjadi faktor yang paling menentukan terhadap keberhasilan santri yang dianggap telah cukup dan dapat melanjutkan ke pesantren lain untuk melengkapi atau meneruskan keilmuannya, bagi santri yang dianggap telah cukup menimba ilmunya, mau bagi santri yang dianggap mampu dan diminta untuk membuka Pesantren Salafiyah ditempat lain. Kaderisasi ini secara otomatis membuka peluang bagi masyarakat untuk memberikan predikat bagi santri-santri tersebut pada berbagai predikat baru setelah lulus dari pesantren, seperti Ustadz. Bagi santri yang membuka Pesantren Salafiyah baru, lama kelamaan masyarakat sesuai dengan proses dan lamanya waktu akan memberikan predikat Kyai

Agent Kyai, Santri, Ustadz

Act Motivasi dan pemikirannya adalah kembali mengamalkan ilmu di pesantren yang sudah di dapat oleh santri

Agency Santri–santri yang telah lulus Pesantren Salafiyah

Purpose Mengamalkan ilmunya dan istiqomah di dalam kehidupan masyarakat

Komuniksi eksternal yang dilakukan menjelaskan bagaimana eksistensi Pesantren Salafiyah ditengah gempuran modernisasi pembangunan dan masyarakatnya. Komunikasi strategi kaderisasi dalam Pesantren Salafiyah berjalan secara sederhana dalam konsep komunikasi tatap muka yang menangandalkan pembicaraan dalam budaya keluarga dari mulut ke mulut. Strategi ini menjadi lebih murah secara biaya namun efektif dan efisien dalam memilih dan merekrut elemen- elemen penting dalam Pesantren Salafiyah secara utuh.

Pada dasarnya, strategi komunikasi yang dibangun, baik secara internal mau eksternal, merupakan suatu syiar agama, baik dalam perkataan mau perbuatan. Dari mulai adab berbicara, makan, minum, bebersih diri, bermasyarakat dan lain sebagainya. Ketika komunikasi internal dan eksternal tertransimikan menjadi suatu komunikasi massa, maka hal ini menjadi komunikasi yang strategis, yakni dakwah yang melibatkan massa secara luas, dihadiri oleh masyarakat dari berbagai strata pendidikan, ekonomi, pekerjaan dan gender. Kemampuan berdakwa, bisa dibilang sebagai jalan memperkukuh budaya dan keagamaan yang fundamental dari keberadaan Pesantren Salafiyah di Banten, baik di perkampungan maupun perkotaan. Di perkotaan sendiri, mengundang Kyai dan santri Salafiyah menjadi hal yang menarik karena dianggap unik dan asli Banten. Syiar agama melalui komunikasi massa dapat di kaji secaraPentad Analysissebagai berikut:

Tabel 8.5 KajianPentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi massa

Teori Kajian

Scene Peran aktif yang diperankan oleh kyai dan Ustadz dalam mengisi berbagai kebutuhan sisi religi masyarakat baik dalam bentuk tausiyah dan acara keagamaan lainnya berhasil merangkul kedekatan dalam landasan keyakinan di berbagai strata sosial ekonomi masyarakat terhadap pesan pembangunan dan persepsi serta sensitifitas bersama. Kebersamaan dalam beragama menciptakan komunikasi massa yang intens terutama dalam event-event rutin keagamaan.

Agent Kyai dan Ustadz

Act Motivasi, pemikiran dan karakteristik dalam situasi ini adalah keinginan dan kebersamaan menyikapi secara bersama persoalan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat secara bersama.

Agency Instrumennya adalah Kyai dan event keagamaan

Purpose Penyikapan bersama secara kuantitas atas persoalan kemasyarakatan Dalam setiap syiar agama yang disampaikan, menyampaikan visi Pesantren Salafiyah dan menceritakan keberadaannya kepada masyarakat menjadi pesan yang selalu disampaikan di sela-sela penyampaian pesan-pesan lainnya dalam suatu tausiyah. Dan biasanya, cepat atau lambat, dari pesan tersebut berdampak kepada Pesantren Salafiyah yang dipimpinnya dengan adanya orang tua yang tertarik menitipkan anaknya sampai kepada pemberian bantuan kepada pesantren secara perorangan.

Strategi Komunikasi Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin Dalam Bidang Budaya dan Keagamaan

Strategi komunikasi massa yang disampaikan melalui syiar agama menjadi penjabaran visi Pesantren Salafiyah dan latar komunikasi massa yang mudah dikenali. Mengundang Kyai Salafiyah dengan honor seikhlasnya, bandingkan dengan Ustadz selebritis yang menentukan dan mematok dana infaq yang harus dikeluarkan pihak pengundang, misalnya. Panitia tidak perlu repot, menyiapkan akomodasi hotel, menjemput atau mengantar pulang, memberikan contoh-contoh perilaku ke-islaman yang memang dilakukan oleh Kyai di pesantren dalam keseharian bermasyarakat. Kemudian, visi Salafiyah tersampaikan secara imlementatif tanpa mengkritik atau menyindir secara tajam atas praktek-praktek pembangunan yang janggal. Syiar agama ini masuk ke setiap lapisan masyarakat disetiap lapis stratanya, baik itu usia, pekerjaan, jenis kelamin, dan ekonomi.

Syiar agama yang dilakukan rutin hampir setiap hari seiring dengan permintaan masyarakat yang tiada henti. Hal ini membuktikan bahwa Pesantren Salafiyah merupakan kekuatan budaya lokal yang memiliki jaringan komunikasi yang luas. Sebagai kekuatan budaya lokal, Pesantren Salafiyah di Banten merepresentasikan sub kultur Indonesia yang lebih adaptatif dan menghargai tradisi

dan kearifan budaya lokal. Menjadi rujukan atas keislaman dalam akar budaya yang cinta damai, toleran, dan ramah.

Komunikasi pembangunan di Banten, seperti di wilayah lainnya, melibatkan interaksi tiga komponen. Pertama, birokrasi pemerintahan, masyarakat, wakil rakyat, pihak yudikatif (komunikator pembangunan). Kedua, ide atau program pembangunan yang disampaikan diberbagai media dan forum lainnya (pesan pembangunan). Ketiga, masyarakat di setiap tingkat strata sosialnya baik yang tinggal di kota mau desa (sasaran pembangunan). Secara normatif dan teoritis, pembangunan ingin dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya. Dari aspek ini pembangunan sebenarnya bersifat pragmatis pada upaya membangkitkan inovasi bagi kebutuhan masyarakat pada masa kini dan yang akan datang. Oleh karena itu, komunikasi berfungsi menata sikap dan perilaku manusia di dalamnya sebagai subjek maupun sebagai objek pembangunan. Dalam konteks interaksi dan komunikasi komponen pembangunan seperti yang sudah diulas, Pesantren Salafiyah merupakan sarana yang dipilih masyarakat, terutama di desa untuk menaggulangi kerasnya zaman dan pragmatismenya pembangunan serta tidak menentunya perkembangan ekonomi. Pesantren Salafiyah mejadi pelindung ancaman nilai-nilai budaya yang merugikan dari luar. Contoh, pelaksanaan Istighotsah yang dhadiri massa di salah satu lapangan di Anyer, Banten (2013) dalam rangka menolak penambangan pasir yang merugikan masyarakat pantai. Pesantren menjadi simbol budaya keislaman yang mencerdaskan manusia secara lahir dan batin. Sebagai kekuatan budaya, strategi komunikasi yang berlangsung di Pesantren Salafiyah dikaji secara Pentad Analysis sebagai berikut:

Tabel 8.6 KajianPentad Analysis Peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi Budaya dan Keagamaan

Teori Kajian

Scene Dalam bidang budaya dan keagamaan, kyai dan Pesantren Salafiyah mendapat tempat yang lebih baik dan berakar. Dukungan yang diberikan bukan saja dari masyarakat baik pedesaan mau perkotaan, tetapi juga meliputi pemerintah, politisi, pengusaha, organisasi sosial keagamaan, media, seniman dan kalangan pariwisata. Hal ini terjadi karena Pesantren Salafiyah telah menjadi kekuatan budaya yang telah memproduksi berbagai bentuk kesenian yang diakui dan berakar di masyarakat, seperti ritual tahlilan, delailan, marhabanan, terbang gede, panjang mulud, rajaban, lebaran anak yatim. Pada bentuk kesenian tertentu, seperti panjang mulud telah dijadikan event pariwisata resmi dan rutin pemerintahan

Agent Kyai dan Pesantren Salafiyah

Act Berbagai bentuk kesenian dan budaya islam Agency Instrumen kesenian

Purpose Menyampaikan berbagai syiar islam dalam bentuk kesenian dan ritual dalam bermasyarakat

Kemampuan Pesantren Salafiyah menjadi salah satu kekuatan budaya lokal di Banten tidak bisa dilepaskan dari adanya jaringan komunikasi segenap elemen pembangunan yang secara signifikan membantu atau menaruh minat pada berbagai kegiatan budaya yang berlangsung dan menjadi agenda rutin Pesantren Salafiyah. Ditengah hingar bingarnya budaya pop masyarakat dengan tayangan-tayangan televisi yang seringkali dikritik tidak mendidik, potensi kekerasan masyarakat yang semakin meningkat, kesenian dan kehidupan tradisional Pesantren Salafiyah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang biasanya terekspos secara terbuka pada

Dokumen terkait