Sejarah Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin baru berusia 15 tahun. Namun pemimpin Pesantren, Kyai Wawang Munawar Halili (38 tahun) telah dikenal dikalangan masyarakat mau Kyai sepuh di Banten sebelum mendirikan pesantren. Beliau buyut KH. Thohir atau Abahyai Thohir (pimpinan Pesantren Salafiyah pelamunan, Serang, berdiri sejak zaman kolonial Belanda) putra dari tokoh ternama di zamannya, KH. Syayidi (berasal dari Kampung Bale Batu, Serang). KH. Thohir ya empat orang istri. Pertama, Hj. Khosiah dari Kampung Pengoreng (pulo ampel). Kedua, Hj. Hanjar berasal dari Kampung Katengahan (Kasemen). Ketiga, Hj Halimah. Keempat, Hj Hafiah. Dari istrinya yang pertama, Hj Khosiah, KH. Thohir ya empat orang anak (pertama, Abah Kuncung atau H Juweni, meninggal dunia tertembak ketika berperang melawan penjajahan di Lampung pada masa kemerdekaan, kedua H Zaeni Thohir, ketiga Hj. Mariam, keempat KH. Lujaeni Thohir pimpinan pesantren Madarijul Ulum yang juga terkenal saat ini di Serang).
Anak Abahyai Thohir yang ketiga, yakni HJ. Mariam menikah dengan KH. Nasihun Amin bin KH. Umar (berasal dari Kampung Babakan, Gunung Sari, Serang). Pasangan ini mendapat enam orang anak. pertama H. Bahaudin, kedua M. Fuadudin, menjadi menantu KH. Muhaimin (pimpinan Pesantren Salafiyah ternama di Cibeber, Cilegon), ketiga Chifdhatul Hayat, Ibu dari KH. Wawang Munawar Halili yang kini memimpin Pesantren Salafiyah Al Munnawar Bani Amin, keempat KH. Hidayatudin Amien, sekarang memimpin pesantren “Bani Amien” di Kampung Pelamunan. Kelima KH. Afifudin Amin dan yang keenam Hj. Mafrohah Amin sekarang memimpin pesantren di Kecamatan Kronjo Kabupaten Tangerang.
Kegiatan Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dilangsungkan di Kediaman Kyai Wawang. Bangunannya didirikan 10 tahun lalu oleh santri-santri pertamanya, dengan biaya dari hasil (honor) memberi ceramah yang dilakoninya secara rutin, sehari rata-rata di sepuluh tempat, namun kini karena menderita sakit diabetes, hanya dilakoni sehari dua sampai empat kali di tempat yang berbeda. Bangunan sebelah kiri rumah Pa Kyai digunakan sebagai asrama putri (bersebelahan dengan ruangan yang difungsikan untuk belajar seluruh santri) dengan satu pintu masuk, terdiri atas 6 ruang kamar (ukuran 2,75 x 2,75m). Satu kamar di isi oleh 3 santri perempuan. Sedangkan bangunan sebelah kanan digunakan sebagai asrama putra, berdekatan dengan masjid. Terdiri atas 7 Kamar (3x6m). Satu kamar di isi oleh 5 santri laki-laki. Kesemua fasilitas ini berdiri di atas tanah 650 meter persegi. Tertata rapih dan bersih. Jumlah santri yang mondok saat ini 70 orang. Namun jumlah ini bisa bertambah dan berkurang seiring dengan keluar masuknya santri dengan berbagai persoalan di dalamnya.
Kondisi Sosial dan Budaya Masyarakat di sekitar Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin
Pesantren Al-Munawar Bani Amin, terletak di tengah kampung Pabuaran Jati, Desa Pematang, Kabupaten Serang. Sekitar 40 menit melalui jalan Tol Merak melalui pintu masuk Kragilan dari arah Tangerang atau Cilegon. 140 menit dari Pandeglang atau Lebak tanpa melalui jalan tol. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1998 sebagai pesantren tradisional atau Salafiyah. Tidak ada plang papan nama yang menunjukkan nama pesantren tersebut. Santri yang mondok (belajar) tidak dipungut biaya, kecuali uang listrik sebesar lima ribu rupiah per anak per bulan. Biaya makan sehari-hari, kitab, buku dan alat tulis, tempat menginap sudah disiapkan. Termasuk biaya pengobatan ketika di antara mereka ada yang sakit.
Tidak ada keinginan dari Kyai Wawang untuk mengubah Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin menjadi pesantren modern atau sekolah formal yang setara dengan Sekolah Dasar, Menengah Pertama maupun atas, kendati wajah kampung telah berubah. Masyarakat lebih memilih sekolah formal agar anak-anak mereka memiliki ijazah, sebagai bekal untuk melamar pekerjaan di pabrik selepas SMA atau melanjutkan pada jenjang pendidikan tinggi. Areal persawahan telah berubah fungsi menjadi pabrik, komplek perumahan, dan pertokoan. Mayoritas masyarakat yang tadinya petani banyak yang beralih profesi menjadi buruh. Budaya pedesaan yang tadinya religius dan hidup dalam kebersamaan kini menjadi masyarakat yang konsumeris, individualis dan pragmatis dalam bingkai kehidupan modern.
Perubahan wajah kampung tidak membuat Pesantren Pabuaran Jati lantas berubah. Kyai menjadi sentral dinamika keseharian kehidupan pesantren. Tidak ada struktur formal. Bagi kehidupan Pesantren, struktur formal organisasi yang terjadi justru akan menciptakan perilaku organisasi yang formalistik pula, keberlakuan citra levelitas struktural dan pengambilan keputusan berdasarkan satu aspek saja, yakni hukum-hukum materalisme yang mengedepankan logika positivistik dan kepentingan formal organisasi. Dalam tradisionalisme kepengurusan Pesantren Salafiyah terkandung satu orientasi yang mendasar bahwa keteladanan pemimpin mesti terbebas dari aspek legalitas dan pencitraan dalam satu pola pikir yang tidak saja mengarah pada penggunaan logika tetapi juga aspek spiritual yang bertujuan membangun manfaat bagi seluruh masyarakat bukan hanya untuk Pesantren tersebut. Kepemimpinan non formal pada hakikatnya adalah kepemimpinan yang menampilkan keteladanan dari ucapan, sikap serta perbuatan.
Struktur tradisional Pesantren menciptakan rasa hormat dan patuh setiap santri secara sungguh-sungguh kepada Kyai dan istrinya sebagai orang tua sendiri dan menganggap anak-anak Kyai sebagai saudara sendiri. Kyai Wawang, begitu ia dipanggil, memiliki lima orang anak.Pertama, Muhamad Nur Fikri Ridho (16 tahun) mondok di Pesantren Salafiyah Sunan Pandan Aran, Yogyakarta. Kedua, Via Nurmustawfiyah (12 tahun), juga mesantren di yogya. Ketiga, Muhamad Farhan Ilham (kelas dua SD).Keempat, Fida Najia Amalia (kelas satu SD).Kelima, Fadhlah Izza Mamduha (4 tahun).
Menurut Kyai Wawang:“membiayai seluruh aktifitas lembaga pendidikan pesantren merupakan jalan Jihad. Allah SWT pasti mencukupi kaum Salafiyah sebagai ahli sunnah wal jama’ah. Bahkan kedepan, ada
rencana untuk membeli tanah seluas 5.000 meter persegi di seberang jalan pesantren untuk menambah ruang asrama santri dan ruang belajar dalam rangka menambah jumlah santri yang mulai bertambah saat ini. Suatu saat pasti terwujud, begitu keyakinan Kyai Wawang. Kuncinya keikhlasan dan mengalir mengikuti jalan serta takdir Allah SWT, sebagai prinsip yang dipegang ditengah anggapan bahwa segala sesuatu yang berkualitas pasti mahal, termasuk pendidikan yang berkualitas mesti mahal. Selama ini sebagian besar kalangan masyarakat beranggapan bahwa sekolah yang berkualitas pasti mahal, karena “uang tidakkan
bohong”. Ternyata anggapan itu salah. Pesantren Salafiyah tidak memungut biaya sepeser namun memberikan kualitas pelayanan pendidikan dengan kontrol yang seksama dari waktu ke waktu dan bukan paruh waktu. Dimana santri yang lulus dari pesantren ini memiliki kompetensi yang tinggi dibidangnya.”
Kompetensi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
Di ruang belajar yang terbilang cukup luas di Pesantren Salafiyah Al- Munawar Bani Amin, kelompok santri laki-laki duduk bersila di sebelah kanan. Sementara santri perempuan di sebelah kiri. Semuanya tekun mendengarkan Kyai menjelaskan Kitab yang dibacakan dalam dua bahasa. Arab dan Jawa Serang. Penjelasan Kyai terhadap makna-makna yang hadir di dalam Kitab berbaur dengan pemaknaan kehidupan saat ini dengan nilai-nilai kearifan lokal. Santri yang mendengarkan penjelasan Kitab yang dibacakan oleh Kyai menyimak dengan tekun. Tidak ada seorang santripun yang kelihatan sulit dengan huruf arab gundul dalam Kitab Kuning, karena hampir rata-rata santri telah menguasai ilmu alat (Amil, Jurumiyah, Alfiyah). Ilmu alat adalah ilmu yang digunakan untuk membaca kitab gundul, sekaligus menjadi ilmu yang memberikan indikator tahapan atas kemampuan dan jenjang keilmuan. Tidak ada batasan usia untuk mempelajari ilmu ini. Hanya kemauan, ketekunan dan keimanan saja yang dapat mengantarkan santri pada penguasaannya.
Kemampuan menguasai ilmu alat atau ilmu yang digunakan untuk membaca bacaan arab tanpa tanda baca (gundul) menjadi kompetensi keilmuan Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin. Ilmu untuk membaca dan memahami Kitab Kuning serta Al-Quran langsung dari struktur bahasa dan gramatikanya, sebagai pintu masuk membuka cakrawala keilmuan Islam langsung dari sumbernya. Bukan dari terjemahan seperti yang diajarkan di sekolah–sekolah formal, termasuk sekolah- sekolah yang berlabelkan Islam. Ada perbedaan mendasar tahu arti dan memahami makna Al-Quran dari terjemahan dan dari gramatika, asal usul kata dan struktur bahasa Al-Quran itu sendiri. Perbedaan ini pula yang menjadi dasar adanya sebagian kelompok masyarakat yang menjadikan ayat – ayat suci Al-Quran berdasarkan teks terjemahan menjadi pembenar atas kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Memahami Al-Quran dari terjemahannya (letterlux) di sekolah formal berpotensi menjadi kekerasan atas nama agama.
Penguasaan santri terhadap ilmu alat jelas suatu prestasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata karena menjadi bekal berharga memahami agama dan keagamaan yang ada dalam masyarakat dengan berbagai persoalan dan tantangannya tersendiri. Penguasaan terhadap ilmu alat bertujuan mencari ridho Allah SWT dan berkiprah nyata dalam masyarakat, bukan untuk mencari uang atau kerja. Namun dalam mata pemerintah, hal ini dianggap sebuah kelemahan karena tidak mengandung suatu keterampilan hidup yang berkaitan dengan ekonomi.
Santri Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
Usia santri di Pesantren Salafiyah Pabuaran Jati, nama lain dari Al-Munawar Bani Amin, terbilang belia. Antara 8 hingga 20 tahun. Pembawaan mereka tenang dan bersahaja, bersemangat serta riang mengikuti rutinitas belajar, seakan Pesantren adalah rumah mereka juga. Tidak ada kesan mewah. Setiap hari berkain sarung, kemeja tangan panjang dan berkopiah. Santri perempuan memakai baju tertutup dan berhijab. Kehidupan mereka mandiri, mencuci, menyetrika dan memasak sendiri. Terpancar wajah yang bersih dan bersinar karena senantiasa selalu bersyukur dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Setiap santri dibawah bimbingan Kyai selama 24 jam, hampir tidak pernah menonton televisi dan membaca koran maupun majalah. Hal ini bukan karena diharamkan tetapi karena memang tidak ada, dan menjadi barang mewah. Diluar jadwal rutin belajar, para santri turut ambil bagian dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, hadir dalam undangan-undangan masyarakat, mulai dari kerja bakti, pengajian, tahlilan, menyolatkan jenazah, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya.
Banyak sekolah formal dengan label Islam yang menawarkan pendidikan dengan fasilitas mewah dan jam belajar yang padat, berbiaya jutaan rupiah, tentu saja hal ini tidak terjangkau oleh anak-anak dari keluarga ekonomi kelas bawah dengan semangat yang sama untuk belajar. Ada juga sekolah dasar gratis, dibiayai pemerintah, namun pilihan anak-anak kelas bawah untuk masuk ke Pesantren tradisional bukan karena kesulitan ekonomi atau karena tidak tahu ada sekolah gratis. Para santri yang mondok di Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin, sadar untuk memilih lembaga pendidikan tradisional ini. Aktifitas mereka padat, selama 24 jam, melebihi boarding school, mengikuti rutinitas pembelajaran yang ada. Kehidupan para santri lebih mandiri, mereka mencuci pakaian sendiri, memasak dan mengurus dirinya sendiri.
Jauh sebelum azan subuh, para santri sudah bangun. Melaksanakan sholat Tahajud dan mengaji. Usai sholat subuh, mengikuti Sorogan (mengaji Al-Quran dihadapan Ustadz secara bergantian). Setelah itu mandi pagi, sarapan dan membersihkan pondok, dan aktivitas lainnya. Tepat pukul 08.30 WIB mengikuti Bandungan (mendengarkan Kyai membaca dan menjelaskan makna Kitab yang dibacakan dan santri memeriksa kitab yang dibacakan oleh Kyai (nyoret) sampai pukul 11.00 WIB. Sementara bandungan berjalan, santri yang kebagian piket, memasak makan siang untuk seluruh santri. Beras telah disiapkan oleh Kyai.
Demikian pula uang belanja untuk membeli lauk pauk, sebesar tiga puluh ribu untuk dua kali masak, siang dan sore untuk satu grup santri laki-laki (25 orang) dan tiga puluh ribu untuk seluruh santri perempuan (15 orang).
Selesai makan siang, para santri bersiap-siap sholat zuhur dan selanjutnya Sorogan Kitab, yakni latihan membaca kitab (disesuaikan dengan kemampuan santri), sampai pukul 13.30 WIB. Setelah itu istirahat sampai azan Ashar berkumandang. Dilanjutkan dengan ngaji bandungan (kitab tafsir Al-qur’an dan hadist) sampai pukul 17.30. Sementara bandungan berjalan, santri yang kebagian jadwal piket memasak mempersiapkan makan malam. Makan malam bersama dilakukan sebelum sholat magrib. Selepas Magrib, ngaji Sorogan, Al-Quran dan Kitab, sampai pukul 20.30. Kemudian dilanjutkan dengan Delailan atau sholawat Nabi. Baru kemudian sholat Isya. Selepas Isya kembali mengaji sampai jam 23.00 WIB saatnya istirahat (tidur). Ada jadwal rutin tiap malam sebelum sholat Isya biasanya malam senin setelah Delailan, Muhadhoroh (belajar ceramah). Sedangkan malam selasa, malam rabu, dan malam Sabtu belajar Kitab. Untuk malam Jumat yasinan, manaqiban, dan marhaban. Untuk malam minggu, belajar Qori (seni membaca Al-qur’an).
Setiap empat atau lima bulan sekali, atau pada saat Idul Fitri, para santri pamit meninggalkan Pesantren, pulang menemui orang tua masing-masing. Biasanya kepulangan mereka sekaligus mengambil bekal untuk mondok selanjutnya. Pada beberapa kasus, ada juga santri yang pulang kemudian tidak kembali lagi. Beberapa alasan para santri yang tidak kembali lagi ke pesantren, di antaranya adalah karena tidak mempunyai ongkos untuk kembali lagi, atau terpaksa membantu orang tua mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarganya.
Tabel 5.1 Aktifitas Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin
WAKTU (WIB) KEGIATAN
03.30–05.00 Sholat Sunnah Tahajud, Mengaji dan Sholat Subuh 05.00–07.00 Mengaji Sorogan
07.00–08.30 Mandi Pagi, Membersihkan pondok, mencuci, dan aktivitas pribadi lainnya
08.30–11.00 Bandungan atau Nyoret Kitab 11.00–12.15 Makan siang dan Sholat Dzuhur 12.15–13.30 Sorogan Kitab
13.30–15.15 Istirahat
15.15–17.30 Ngaji Bandungan (Alquran dan Hadist) 17.30–18.00 Makan Malam
18.00–20.30 Sholat Magrib dilanjutkan Mengaji Alquran dan Kitab (Sorogan)
20.30–21.30 Delailan/muhadhoroh (belajar ceramah)/ yasinan/ manaqibaan/marhaban/ belajar Qori
21.30–21.50 Sholat Isya
21.50–23.00 Mengaji Al-Quran 23.00–03.30 Istirahat tidur
Santri Pesantren Salafiyah yakin berdiri di atas kepatuhan dan keikhlasan menjaga kaidah dan nilai-nilai Ahli Sunnah Waljamaah di atas segalanya. Termasuk keutamaan dan kemuliaan dalam mencari nafkah kelak setelah keluar dari pondok, tahapan paling rendah adalah bekerja, kedua berdagang dan paling tinggi adalah bertani. Dan tahapan paling mulia adalah kembali membuka Pesantren Salafiyah atau mengajarkan kembali ilmu yang sudah didapatkannya. Oleh karena itu, para santri tidak pernah khawatir dan berharap mendapat selembar ijazah seperti halnya sekolah formal.
Santri yang sudah lulus dan berniat membuka Pesantren Salafiyah di daerah lain, mesti mendapat restu dan izin (izazah) dari Kyai atas pertimbangan kematangan dan kesempurnaan ilmu yang dimiliki santri. Selain restu dan izin Kyai, sang santri dibekali silsilah turun temurun ilmu yang akan diajarkannya di Pesantren Salafiyah barunya nanti, berupa silsilah gurunya guru Kyai hingga sampai kepada sumber utamanya yakni Nabi Besar Muhammad SAW, Malaikat Jibril dan Allah SAW (sannad yang jelas).
Tabel 5.2 Urutan orientasi santri setelah lulus dari pondok
No Aktifitas Setelah Mondok
1 Membuka salafiyah kembali dan mengajarkan ilmu yang sudah didapat atau menjalan syiar agama
2 Bertani/bercocok tanam 3 Berdagang
4 Sebagai pekerja
Waktu yang diperlukan para santri untuk belajar di pesantren sangat bergantung pada penilaian Kyai berdasarkan ilmu yang sudah dikuasainya. Biasanya rekomendasi Kyai terhadap santri yang dianggap sudah mumpuni ilmunya adalah menyuruh pulang ke kampung halaman untuk mendirikan Pesantren Salafiyah dan mengajarkan serta mengembangkan ilmu yang sudah diperolehnya atau melanjutkan menimba ilmu lainnya di pesantren lain yang ditunjuk Kyai. Bagi santri yang sudah mumpuni ilmunya namun masih diminta mondok, biasanya menjadi wakil Kyai untuk mengajarkan ilmunya kepada santri yang lebih muda.
Sebagian besar santri yang belajar di Pesantrean Al Munawar Bani Amin berasal dari keluarga tidak mampu. Semua orang tua santri yang menitipkan anaknya di tidak dipungut biaya. Motivasi orang tua menitipkan anaknya di pesantren adalah agar anaknya memiliki pondasi kehidupan yang kuat, menjadi anak-anak sholeh dan berguna bagi masyarakatnya kelak. Lebih jauh lagi, ada juga orang tua yang berharap anaknya menjadi penceramah atau tokoh agama yang terpandang. Keterpandangan ini biasanya dianggap linier dengan peningkatan ekonomi, karena santri lulusan Pesantren Pabuaran Jati (nama lain Pesantren Salafiyah Al Munaawar Bani Amin) yang hafal Al-Quran atau menjadi penceramah yang handal, biasanya akan mendapat “tempat khusus” di masyarakat. Sebuah tempat terhormat yang akan memperhatikan semua aspek kehidupannya, terutama aspek ekonominya.
Gambar 5.2.Urutan Mot
Santri juga mem Kyai dan masyarakat. masyarakat dimana sant wejangan, nasehat mau tertentu yang diselengga pernikahan, sunatan, Raj Metode Belaj Ngawuruk ngaji Pesantren Salafiyah Al-M harus jalani setiap hariny jauh dari lokasi pesantr Pabuaran Jati ini baru mondok lebih dari tujuh pendidikan formal hingg keluarga Kyai Wawang mempelajari tentang bah dan mengartikannya), ilm Arab atau perubahan ha dan hadist. Ilmu lainny tentang sholat, wudhu, is
Tidak ada gaji m mereka harapkan sebaga Doa Kyai lebih be karena amanat bayaran karena para Ustadz.” Bahk
Memiliki pengetahuan agama yang baik
n Motivasi Orang Tua Memasukkan anak ke Pesantr
emiliki peran signifikan sebagai penghubung anta t. Dalam konteks ini, sang Kyai juga menjadi antri tersebut tinggal, yang siap dipanggil untuk au arahan yang diperlukan masyarakat, baik pada ggarakan masyarakat, seperti peringatan kehamila
ajaban, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya. lajar Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Am gaji atau mengajar ngaji bagi oleh enam oran Al-Munawar Bani Amin merupakan kegiatan rutin rinya mulai dari pagi hingga malam hari. Mereka ntren. Rata-rata usia Ustadz yang mengajar ngaji ru beranjak 30 tahun. Mereka adalah santri seni ujuh tahun. Salah seorang di antaranya pernah
ngga SMA. Hanya seorang Ustadz saja yang m ng. Setiap hari mereka rutin mengajar ilmu Nahu bahasa Arab, baik cara pengucapannya dan cara , ilmu Sorof (perubahan dari satu kata ke kata lain harkat). Nahu dan Sorof ini dikembangkan menja nnya yang diajarkan adalah Fikih yakni hukum , wudhu, istinja, etika, adab makan minum, dsb.
mau honor mengajar bagi para Ustadz. Hanya do gai ganjaran, seperti yang dituturkan oleh Ustadz Na h berarti dari gaji dan lebih diharapkan. “saya m
amanat guru: mengamalkan ilmu, tidak usah mer na Allah SWT yang nanti akan membayar dan me
Bahkan menjadi Ustadz di pesantren ini adalah
Memiliki pengetahuan agama yang baik Menjadi manusia yang sholeh Menjadi Da'i atau tokoh agama ntren Slafiyah ntara pesantren, adi “guru” bagi uk memberikan ada acara-acara ilan tujuh bulan, .
Amin
rang Ustadz di utin yang mereka ka tinggal tidak gaji di pesantren enior yang telah ah mengenyam masih terbilang Nahu (ilmu yang ra membacanya in dalam bahasa njadi ilmu tafsir Islam, seperti a doa Kyai yang
dz Nabhani: a mengajar merisaukan dan menjaga ah cita-cita Menjadi Da'i atau tokoh agama
yang terinspirasi dari kehidupan Kyai itu sendiri, “khusyu menjalankan ibadah, uang datang sendiri”. Ini terbukti, bahwa kehidupan kami saat ini berkecukupan–tanpa kekurangan apapun. Oleh karena itu, menjadi Ustadz di pesantren adalah pilihan hidup yang disadari.
Tidak ada rekruitmen Ustadz secara formal dan terbuka di pesantren. Seorang Ustadz diminta mengajar karena pertimbangan substansi keilmuannya dan selebihnya pertimbangan praktis saja, misalnya, rumahnya dekat. Kegiatan Ustadz selain mengajar, mengisi ceramah di berbagai acara keagamaan masyarakat yang memintanya. Sebulan, rata-rata ada empat kali undangan untuk berceramah.
Metode yang digunakan oleh Ustadz saat megajar, adalah komunikasi dan interaksi dengan sistem muzakaroh atau tukar pendapat. Dalam muzakaroh setiap permasalahan yang dibahas hakikatnya seperti air yang mengalir, Allah SWT yang menjadi tujuan. Di dalam setiap pembahasan, hampir tidak pernah Ustadz membahas masalah-masalah aktual, terutama yang bersumber dari media. Karena menurut Ustadz Nabhani: “media adalah lembaga yang melakukan usaha menjual berita jadi mesti dipertimbangkan aspek keterpercayaannya dan sisi kebenarannya.”
Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin sebagai Identitas Budaya Pamor dan eksistensi Pesantren Salafiyah Pabuaran Jati tidak lagi seperti dulu, saat menjadi sentral dinamika kehidupan masyarakat yang pertimbangannya menjadi rujukan. Kini keberadaan Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin jarang dilirik. Masyarakat menilai keberadaannya tidak dapat mempersiapkan anak- anak mereka masuk dalam dunia kerja, menjadi PNS, karyawan swasta atau buruh pabrik. Situasi ini bertambah sulit karena sikap diskriminatif pemerintah dalam memberikan perhatian mau kebijakan yang mengesankan bahwa lulusan pesantren tradisional ini tidak mempuyai masa depan. Namun masyarakat maupun pemerintah mengakui bahwa Pesantren Salafiyah Pabuaran Jati salah satu dari ribuan Salafiyah lainnya yang memberikan pendidikan berkarakter, tegas dan ikhlas. Suatu lembaga pendidikan yang mempelajari agama islam langsung dari sumbernya: Al-Quran dan Hadist.
Pesantren Salafiyah Al munawar Bani Amin diakui berhasil membentuk santri menjadi manusia beriman yang beradab, beretika dan santun dalam pergaulan. Oleh karena itu, walau secara legalitas formal, eksistensi pesantren ini dipandang sebelah mata, namun secara budaya mendapat tempat yang utuh di hati segenap lingkungan masyarakat dan pemerintah. Posisinya secara budaya ini tidak bisa tergantikan oleh sekolah formal dan pesantren modern. Bahkan bisa dikatakan bahwa pada akhirnya dinamika dan persoalan manusia modern dilingkungan Pesantren Salafiyah Almunawar Bani Amin tetap akan kembali ke Kyai. Tidak sedikit masyarakat yang