• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Strategy of Development Communication by Al Munawar Bani Amin Salafiyah Islamic Boarding School.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "The Strategy of Development Communication by Al Munawar Bani Amin Salafiyah Islamic Boarding School."

Copied!
258
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Strategi Komunikasi Pembangunan Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin Kabupaten Serang Banten adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, 9 Januari 2014

(3)

IKHSAN AHMAD. Strategi Komunikasi Pembangunan Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin. Dibimbing oleh PUDJI MULJONO dan RETNO SRI HARTATI SRI MULYANDARI.

Pesantren Salafiyah adalah lembaga pendidikan tertua, asli Indonesia dan identik dengan Banten. Namun, pesantren dengan tipologi ini termarjinalkan. Diskriminasi ini terjadi dalam pembangunan yang lekat dengan budaya Islam dan mayoritas pendudukunya muslim, yakni 90% (9.608.439) dari 11.005.518 orang (BPS Provnsi Banten, 2011) serta kepemimpinan informal yang kuat dari tokoh-tokoh Pesantren Salafiyah. Penelitian ini bertujuan untuk: a) Menganalisis pola komunikasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin. b) Menganalisis peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam pembangunan di Provinsi Banten. c) Merumuskan strategi komunikasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam meningkatkan perannya untuk mendukung pembangunan di Provinsi Banten.

Desain penelitian adalah kualitatif dengan metodePentad Analysis, yakni suatu metode yang mengkaji desain terminologi dan jalur relasi kepentingan serta motif-motif humanistik serta fungsi-fungsi dari istilah-istilah yang dipakai. Kemudian menganalisis individu dalam suatu konteks tertentu dalam kerangka menyeleksi strategi komunikasi pada situasi yang dihadapinya. Setiap konsep dari elemen Pentad Analysis dalam implementasinya dapat disempitkan atau diluaskan. Hubungan setiap elemen Pentad Analysis menyumbangkan analisis baru dan tajam terhadap motif dan tindakan simbolik manusia yang menjelaskan hubungan kausalitas.

Budaya dan nilai-nilai Islam yang tumbuh sejak masa keemasan Kesultanan Banten pada masa lalu telah diletakkan sebagai landasan pembangunan Banten pada masa kini serta cita-cita pembangunan Banten pada masa mendatang, dituangkan kedalam visi pembangunan provinsi Banten: menjadikan rakyat Banten sejahtera berlandaskan Iman dan Taqwa. Kata Iman tersebar di setiap surat yang jumlahnya sekitar enam ratusan dalam Al-Quran. Sedang kata Taqwa berjumlah ribuan. Implementasi dari visi ini mengarahkan pembangunan di Banten agar beriman dan bertaqwa di dalam penyelenggaraan pelayanan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan membina masyarakatnya dalam rangka menjamin perkembangan dan kemajuan dimasa yang akan datang dalam pemanfaatan potensi daerah dalam platform otonomi daerah. Visi pembangunan suatu Negara sangat penting, bukan sekedar landasan formal dan normatif belaka. Visi merupakan keyakinan yang dimiliki suatu bangsa di masa mendatang (what do they want to have) dan menjadi inspirasi pembangunan yang akan dan sedang dilaksanakan. Oleh karena itu, pendidikan berkarakter di Banten tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Pesantren Salafiyah dan pondasi pembangunan yang dibutuhkan di Provinsi Banten.

(4)

membina dan mengawasi santri selama 24 jam dalam rangka mengontrol keilmuan, sikap perilaku dan mentalitasnya tanpa dibayar satu rupiahpun oleh santri. Bahkan masih banyak pesantren Salafiyah yang justru memfasilitasi santri dalam kesehariannya, makan, penginapan, buku hingga biaya berobat ketika santri sakit.

Keunggulan pendidikan karakter Pesantren Salafiyah belum menjadi nilai-nilai yang diadopsi dalam pembangunan di Banten. Padahal keunggulan pendidikan karakter Pesantren Salafiyah dapat dijadikan dasar pendidikan di Banten. Pemerintah provinsi Banten terlihat ragu membangun pondasi karakter dalam sistem pendidikannya yang berakar dari budayanya sendiri. Karakter pendidikan di Banten sekuler dan hanya berorientasi pada nilai akademik dan bagaimana lulusannya diserap dunia kerja, namun kering secara budaya. Interaksi dan komunikasi dunia pendidikan di Banten dengan akar budayanya sangat terbatas dan terkesan saling menghilangkan secara substantif. Pemerintah Provinsi Banten nyaris tanpa peran dalam menjembatani kutub tradisional pada pesantren Salafiyah dan kutub modern pada sekolah formal, padahal keduanya dapat berpadu padan. Keberadaan Pesantren Salafiyah belum ditempatkan perannya secara utuh pada keunggulan karakter dan kompetensinya dalam proses pembangunan di Provinsi Banten.

(5)

IKHSAN AHMAD. The Strategy of Development Communication by Al Munawar Bani Amin Salafiyah Islamic Boarding School. Supervised by PUDJI MULJONO and RETNO SRI HARTATI SRI MULYANDARI.

Salafiyah Islamic Boarding School was the oldest educational institutions, native to Indonesia and identical to Banten. However, this boarding typology had marginalized. This discrimination occurs in closely with the development of islamic culture and muslim people majority in 90 % (9,608,439 of 11,005,518 people) ( BPS Provinsi Banten, 2011) as well as a strong informal leadership of religious figures. The goals if this research were to: a) Analysis the communication pattern of Bani Amin Al -Munawar Salafiyah Islamic Boarding School, b) Analysis the role of Al - -Munawar Bani Amin Salafiyah Islamic Boarding School in the development people of Banten province, c) Formulate a communication strategy of Al - Munawar Bani Amin Salafiyah Islamic Boarding School in supporting the Banten province development.

The study was designed as qualitative with Pentad Analysis method, i.e. a method that was examined the design of terminology and paths of relationship interest, humanistic motives and the function of terms used. And then was analyzed the individual in a particular context within the framework of selecting a communication strategy to the situation. Each concept of Pentad Analysis element contributed in its implementation that can be narrowed or broadened. The relationship of each Pentad Analysis element contributed a new and incisive analysis in the motives and actions symbolic that can be explained the causality relation.

Cultures and Islamic values that growed since the golden age of Banten in the past have been laid as the foundation of development in the present as well as the ideals of development in the future, which was poured into the Banten province development vision : Building the prosperous people of Banten based on faith and god-fearing . The faith words spreaded in some letters that its amount about six hundreds in the Quran, while god-fearing in thousands. Implementation of this vision directed the Banten development could be faith and god-fearing in government service delivery, implementation and foster community development in order to ensure the development and future progress in exploiting the potential of the region in the platorm of regional autonomy. Vision becomes important for a country's development foundation, not just formal and normative foundation. Because vision is the belief of ownership by a nation in the future (what do they want to have ) and an inspiration to the development that will be and were being implemented. Therefore, the struggle in building character education in Banten can not be separated from the presence Salafiyah Boarding.

(6)

the students for 24 hours in order to control knowledge, attitudes and behavior of mentality without paid by students. Even still many Salafiyah boarding that facilitated their students in daily life, meals, lodging, guide to medical expenses when the students sick. The excellence of education character of Salafiyah not be the values that adopted in the development of Banten. Though can be used as a formal education base in Banten. Banten provincial government seem shaky to build the character foundation in the education system that was rooted in his own culture. Character education in Banten was secular and oriented only in academic value and the ability to absorb the labor force, but culturally dry .

Interaction and communication education in Banten with cultural roots arguably very limited and seem to remove each other substantively. Government almost had not existed in bridging the "presence" of the traditional pole in Salafiyah and modern pole in formal schools that can not co-exist, even though both can be combined and matched. The existence Salafiah was recognized, but in often times were not placed rightly as the excellence and competence role in the development process.

Keywords: Banten, development communication, Islamic boarding School, Salafiyah,

(7)

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(8)
(9)

KABUPATEN SERANG BANTEN

IKHSAN AHMAD

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Magister Sains pada

Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(10)
(11)

NRP : I352110031

Disetujui oleh

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Pudji Muljono, MSi.

Ketua

Dr. Ir. Retno Sri Hartati Mulyandari, M.Si.

Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS.

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

(12)

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih adalah Strategi Komunikasi Pembangunan Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin. Sampai saat ini (tahun 2013), penelitian tentang komunikasi pembangunan pesantren Salafiyah masih sangat sedikit dikaji. Olehnya itu, penulis menyusun karya ilmiah ini, yang berjudul Strategi Komunikasi Pembangunan Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin Kota Serang.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Pudji Muljono, MSi. dan Dr. Ir Retno Sri Hartati Mulyandari, M.Si. selaku komisi pembimbing atas segala arahan, saran, dan bimbingannya. Penulis sampaikan penghargaan kepada Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin, Majelis Pesantren Salafiyah Banten, Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Kementerian Agama Provinsi Banten yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada orang tua, istri dan anak-anak tercinta atas doa dan dukungannya. Terimakasih juga peneliti ucapkan kepada Ketua STIE Banten, HER Taufik, dan pihak lain yang tidak bias disebutkan satu persatu.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, 9 Januari 2014

(13)

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR viii

DAFTAR LAMPIRAN ix

PENDAHULUAN

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 3

Manfaat Penelitian 3

TINJAUAN PUSTAKA

Strategi 4

Komunikasi 4

Pola Komunikasi 5

Strategi Komunikasi 6

Komunikasi Pembangunan 7

Teori Dramatisme 8

Teori Identitas 9

Kelembagaan Pendidikan Agama Islam: Pesantren 10

Tipologi Pesantren 11

Salafiyah 12

Penelitian Terdahulu 14

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran 17

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian 23

Waktu dan Tempat Penelitian 25

Data dan Sumber Data 25

Pengumpulan Data 26

Analisis Data 27

Validitas Penelitian 28

Tahapan Penelitian 29

SUBJEK PENELITIAN

Sejarah Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 31

Kondisi Sosial dan Budaya Masyarakat di sekitar Ponpes

Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 32

Kompetensi Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 33

Santri Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 34

Metode Belajar Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 37 Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin Sebagai Identitas Budaya 38 Identitas Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin

(14)

Pola Komunikasi Eksternal Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 46 Pola Komunikasi Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin Dalam

Pembangunan 50

Pola Komunikasi Kelompok Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 53 Pola Komunikasi Publik Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 57 Pola Komunikasi Massa Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 60 Latar Pola Komunikasi Massa Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 61 Pola Komunikasi Organisasi Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 64

PERAN PESANTREN SALAFIYAH AL MUNAWAR BANI AMIN DALAM PEMBANGUNAN DI PROVINSI BANTEN

Peran Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin

di Bidang Budaya dan Keagamaan 70

Peran Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin di Bidang Pendidikan 74 Peran Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin di Bidang Sosial 77 Peran Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin di Bidang Politik 79

STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN PONPES SALAFIYAH AL MUNAWAR BANI AMIN DALAM MENINGKATKAN PERANNYA UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN DI PROVINSI BANTEN

Strategi Komunikasi Ponpes Salafiyah Al Munawar Bani Amin 81 Strategi Komunikasi Organisasi

Ponpes Salafiyah Al Munawar Bani Amin 83

Strategi Komunikasi Internal

Ponpes Salafiyah Al Munawar Bani Amin 84

Strategi Komunikasi Eksternal

Ponpes Salafiyah Al Munawar Bani Amin 85

Strategi Komunikasi Ponpes Salafiyah Al Munawar Bani Amin

Dalam Bidang Budaya dan Keagamaan 88

Strategi Komunikasi Ponpes Salafiyah Al Munawar Bani Amin

Dalam Bidang Pendidikan 90

Strategi Komunikasi Ponpes Salafiyah Al Munawar Bani Amin

Dalam Bidang Sosial 92

Strategi Komunikasi Ponpes Salafiyah Al Munawar Bani Amin

Dalam Bidang Politik 94

Konseptual Strategi Komunikasi

Ponpes Salafiyah Al Munawar Bani Amin 95

Strategi yang Tergantung Pada Kondisi Sosiologis Masyarakat 97

Peristiwa Musrenbang 97

Peristiwa Reses DPRD Banten 99

Komunikasi dengan Media Lokal Banten 100

(15)

DAFTAR PUSTAKA 106

(16)

1. Aktifitas Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 35 2. Urutan Orientasi Santri Setelah Lulus Dari Pondok 36 3. Kajian Pentad Analisis Sumber Pesan Ponpes Salafiyah Al-Munawar

Bani Amin 44

4. Kajian Pentad Analisis Pola Komunikasi Internal Ponpes Salafiyah Al 45 Munawar Bani Amin

5. Data Anak Sekolah di Provinsi Banten 47

6. Kajian Pentad Analisis Pola Komunikasi Eksternal Ponpes Salafiyah

Al Munawar Bani Amin 49

7. Kajian Pentad Analisis Pola Komunikasi Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin Dalam Pembangunan 51

8. Kajian Pentad Analisis Pola Komunikasi Kelompok

Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin Dalam Pembangunan 55 9. Kajian Pentad Analisis Pola Komunikasi Publik Ponpes

Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 58

10. Isi Pesan Tausiyah Kyai Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin 59 11. Intensitas Pola Komunikasi Massa

Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 62

12. Kajian Pentad Analisis Pola Komunikasi dan

Struktur Organisasi Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 65

13. Jumlah pesantren di Banten 67

14. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin di Bidang Budaya dan Keagamaan 74 15. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin di Bidang pendidikan 76

16. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin di Bidang Sosial 79

17. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin di Bidang Politik 80

18. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi Organisasi 84 19. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi Internal 85 20. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi Eksternal 86 21. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi kaderisasi 87 22. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi massa 88 23. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes Salafiyah

Al-Munawar Bani Amin dalam strategi komunikasi Budaya

dan Keagamaan 89

(17)

dibidang sosial 93 26. Kajian Pentad Analisis Peran Ponpes

Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam

(18)

1. Kerangka Pemikiran 17 2. Urutan Motivasi Orang Tua Memasukan Anak ke Ponpes Salafiyah 37 3. Sumber Pesan Dalam Komunikasi Pesantren Salafiyah 43 4. Pola Komunikasi Internal Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 45 5. Pola Komunikasi Eksternal Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 48 6. Pola Komunikasi Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin Dalam

Pembangunan 50

7. Pola Komunikasi Kelompok Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 55 8. Pola Komunikasi Publik Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin

dan Proses Transmisinya 57

9. Pengorganisasian Massa Istighotsah Nahdatul Ulama melalui Pesantren Salafiyah medio Oktober 2012 yang

dihadiri lebih dari 6.000 orang 63

10. Pengorganisasian Kyai se-Banten dan massa dalam istighotsah dan deklarasi Majelis Pesantren

Salafiyah, Mei 2011, menghadirkan lebih dari 4.000 orang. 64 11. Pola Dasar Komunikasi Organisasi

Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 64

12. Struktur Komunikasi Pesantren Salafiyah

Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 65

13. Peran Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin di Bidang Budaya dan

Keagamaan 73

14. Peran Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin di Bidang Pendidikan 76 15. Peran Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin di Bidang Sosial 78 16. Peran Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin di Bidang Politik 80 17. Strategi Komunikasi Organisasi Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 83 18. Strategi Komunikasi Internal Ponpes Salafiyah Al-Munawar Bani Amin 84 19. Konseptual Strategi Komunikasi

(19)

1. Pedoman wawancara untuk kyai pimpinan ponpes Salafiyah 110

2. Pedoman wawancara untuk ustadz 112

3. Pedoman wawancara untuk santri 113

4. Pedoman wawancara untuk pimpinan media cetak Banten Raya Pos

114

5. Pedoman wawancara untuk kementrian agama dan pendidikan provinsi banten

115

6. Pedoman wawancara untuk wakil rakyat provinsi banten 116

7. Profile Pemilik Ponpes Salafiyah Al Munawar Bani Amin 117

(20)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Strategi komunikasi pembangunan adalah kajian proses komunikasi dalam pembangunan terhadap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pemenuhan totalitas aspek kehidupan masyarakat, seperti kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial, jaminan keamanan, kesederajatan dalam politik, budaya dan agama. Strategi komunikasi pembangun menelaah proses sosial pada perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku individu mau kelompok. Perubahan sosial yang terjadi akan sangat tergantung pada timbulnya persepsi dan makna terhadap modal sosial dalam suatu pembangunan, yakni seperangkat nilai-nilai sosial yang mengikat komitmen bersama untuk bertindak dalam rangka mencapai kepentingan dan tujuan bersama atau membangkitkan partisipasi masyarakat dalam suatu sistem komunikasi yang efektif mencapai tujuan pembangunan.

Komunikasi pembangunan menjadi salah satu strategi menumbuhkan partisipasi masyarakat melalui proses interaksi seluruh warga masyarakat, menumbuhkan kesadaran dan menggerakan partisipasi masyarakat dalam proses perubahan terencana, demi tercapainya perbaikan mutu hidup secara berkesinambungan dengan menggunakan teknologi atau menerapkan ide-ide yang sudah terpilih. Strategi komunikasi memiliki peran penting dalam pembangunan yang berorientasi pada rakyat. Partisipasi tercipta melalui komunikasi dan dengan komunikasi, pesan-pesan pembangunan dapat disampaikan dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan mengoptimalkan sumberdaya manusia serta sumberdaya alam sebaik mungkin. Melalui komunikasi perencanaan dapat disistematisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tujuan komunikasi dalam pembangunan didefenisikan sebagai situasi komunikasi yang memungkinkan munculnya partisipasi masyarakat secara sadar, kritis, sukarela, murni dan bertanggung jawab (Hamijoyo 2001).

Komunikasi dalam pembangunan dianggap berhasil ketika proses mencipta kebermanfaatan bersama oleh pemerintah secara bersama melibatkan masyarakat di dalamnya dengan peran yang saling mendukung dan menunjang, di antaranya peran pemerintah diharapkan menjaga kandungan nilai-nilai dasar pembangunan, pencapaian tujuan dan makna atas pembangunan yang dilaksanakan. Keterlibatan peran semua pihak dalam pembangunan tentu saja memerlukan strategi komunikasi tersendiri guna menjaga efektifitas dan efisiensi keberhasilan pembanguan. Keterlibatan pemerintah penting untuk menjaga karakteristik pembangunan agar sesuai dengan tuntutan sejarah dan kebutuhan masa kini dan cita-cita masa depan. Pembangunan yang berlangsung mesti berjalan dalam satu identitas budaya yang jelas, dikenali, berakar kuat pada masyarakatnya dan dapat mengantarkan pertumbuhan pembangunan yang didasari nilai-nilai luhur budaya yang diusung.

(21)

Banten, lembaga pendidikan paling tua dengan identitas budaya yang menjadi representasi masa keemasan sejarah Kesultanan Banten serta tujuan kehidupan dimasa mendatang ada pada adalah lembaga pendidikan islam tradisional tertua yang identik dengan makna keislaman, diantaranya adalah Al-Munawar Bani Amin, terletak di Kabupaten Serang Banten. Dalam penelitian ini, Pesantren Salafiyah Al Munawar Bani Amin hendak di dalami peran, pola dan strategi komunikasinya dalam meningkatkan peran Pesantren Salafiyah dalam pembangunan di Banten.

Dewasa ini keberadaan Pesantren Salafiyah atau yang dikenal dengan pesantren kobong dapat dirasakan di Banten. Jumlah Pesantren Salafiyah lebih banyak dibandingkan pesantren modern mau pesantren perpaduan tradisional dan modern. Perkembangan pesantren ini tumbuh sejalan dengan banyaknya lulusan Pesantren Salafiyah mendirikan kembali Pesantren Salafiyah dikampung halaman santri atau tempat lain secara informal (tidak terdata secara resmi).

Diakui banyak pihak, keberadaan Pesantren Salafiyah berdampak positif terhadap perkembangan karakter serta mentalitas masyarakat dilingkungan sekitar Pesantren Salafiyah. Namun Pesantren Salafiyah belum menjadi salah satu pondasi pembangunan keagamaan dan budaya di Banten. Kendati Pesantren Salafiyah mengakar, tumbuh dan berbasis pada masyarakat, Pesantren Salafiyah tidak serta merta mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Perumusan Masalah

Pesantren Al-Munawar Bani Amin adalah salah satu dari ribuan di Banten. Menurut Perda No.17 tahun 2012, tentang penyelenggaraan pendidikan di Banten, Pesantren Salafiyah dikelompokkan sebagai lembaga pendidikan non formal. Secara tipologi, dimasukan dalam kelompok pesantren tradisional, dipersepsikan sebagai representasi budaya serta nilia-nilai masyarakat lokal masa lalu. Keberadaan Pesantren Salafiyah tersebar di sebagain besar wilayah pedesaan terutama di Pandeglang, Serang, Lebak, Cilegon dan Tangerang. Eksistensi Pesantren Salafiyah dirasakan masyarakat melalui pola kepemimpinan informal yang mengkomunikasikan kesederhanaan dan nilai-nilai agama sebagai tuntutan dan landasan bermasyarakat. Namun karakteristik peran yang dimiliki oleh Pesantren Salafiyah ini dipandang sebagai sesuatu yang tak lagi dapat mendukung kemajuan pembangunan dan arus perubahan pembangunan di Banten. Pesantren Salafiyah dianggap masa lalu, tidak memiliki masa depan, tidak memiliki kompetensi, kumuh, dan dipandang sebatas tempat belajar mengaji tanpa iptek.

(22)

1. Bagaimana pola komunikasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin?

2. Bagaimana peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam pembangunan di Provinsi Banten?

3. Bagaimana strategi komunikasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam meningkatkan perannya untuk mendukung pembangunan di Provinsi Banten?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang hendak dicapai dari perumusan masalah yang sudah ditetapkan sebagai berikut:

1. Menganalisis pola komunikasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin

2. Menganalisis peran Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam pembangunan di Provinsi Banten

3. Menganalisis strategi komunikasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam meningkatkan perannya untuk mendukung pembangunan di Provinsi Banten.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan berguna untuk memahami bagaimana proses komunikasi pembangunan yang terjadi di Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dengan masyarakat dan pemerintah. Secara spesifik kegunaan penelitian ini adalah :

1. Membantu mengembangkan pola komunikasi, peran dan strategi komunikasi Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin dalam proses pembangunan di Banten.

2. Sebagai sumbangan pemikiran bagi ilmu komunikasi, khususnya bagi penelitian konstruktivis dalam membantu komunikasi pembangunan Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin.

(23)

TINJAUAN PUSTAKA

Strategi

Strategi dalam perspektif teoritis dapat ditemui dalam berbagai studi, di antaranya oleh Whittington (2001) menyebutkan ada empat teori tentang strategi yakni: teori klasik, evolusioner, proses, dan sistem. Teori Klasik menekankan pada perencanaan, evolusi menekankan keterbukaan, teori proses menekankan sifat dinamis dan spontanitas, dan teori sistem menekankan pada aspek sosiologis dan perilaku manusia. Gray (1999) memetakan strategi ke dalam tiga kategori: People and Politics,Preparation for War,War Proper.

People and Politics” adalah dimensi paling dasar dari strategi. Dalam kategori ini strategi disusun dalam konstitusi dan dilaksanakan oleh kumpulan masyarakat tertentu, terikat budaya dan isu metodologikal. Strategi dalam kategori ini menempatkan proses penentuan kebijakan pada bidang politik. Dimana kebijakan tersebut merupakan hasil dari proses berkelanjutan dari proses politik dan strategi itu sendiri sebagai hasil dari proses pembuatan strategi. Kategori “preparation of war” adalah gabungan dari dimensi sumber daya ekonomi organisasi pembuat strategi, proses manajerial organisasi, informasi, proses pemikiran dan pemaknaan secara bersungguh-sungguh melalui doktrin. Poin penting dari kategori ini, yaitu dimensi teknologi, ekonomi dan logistik.

“War proper” adalah kategori yang menjadikan kondisi geografi sebagai bagian penting menyusun strategi. Dimensi ini dianggap paling konstan dan permanen, akan tetapi pengaruhnya berbeda terhadap konflik tertentu dan waktu tertentu. Diantara semua dimensi strategi, ada dimensi yang paling kuat, yaitu Politik, individu, dan waktu. Hubungan antar dimensi tersebut tidak pasti, tidak ada batas yang jelas. Hal ini menjelaskan sifat alami subjek dan bagaimana subjek suatu strategi bekerja. Strategi memberikan arti serta menentukan perilaku di lapangan. Strategi bernilai ekstrinsik dan intrinsik. Ekstrinsik, untuk menjaga aset komunitas tetap seimbang dengan dunia luar, sedangkan nilai intrinsiknya adalah peran suatu strategi sebagai perantara dan aset yang dapat diaplikasikan untuk tanggung jawab politik.

Komunikasi

Sifat komunikasi hadir dimana-mana dan melekat secara ensensial di setiap aktifitas dasar manusia. Komunikasi menghubungkan manusia satu sama lainnya (Muhammad, 2008). Strategi disampaikan melalui cara berkomunikasi. Bermacam-macam definisi tentang komunikasi, disesuaikan dengan bidang dan tujuan-tujuan tertentu yang terkandung pada konteks definisi tersebut berada. Berikut ini adalah definisi dari komunikasi:

(24)

channel) dan penerima(the receiver). Komunikasi sendiri berasal dari bahasa Latin communis yang berarti umum (common) atau bersama. Apabila kita berkomunikasi, sebenarnya kita sedang berusaha menumbuhkan suatu kebersamaan (commonnes) dengan seseorang, berbagi informasi, ide atau sikap. Tujuan komunikasi adalah usaha membuat penerima atau pemberi komunikasi memiliki pengertian (pemahaman) yang sama terhadap pesan tertentu (Suprapto, 2006).

Berbicara tentang definisi komunikasi, tidak ada definisi yang benar atau yang salah, tetapi dilihat dari manfaat definisi tersebut dari suatu fenomena yang hendak dijelaskan atau dievaluasi. Beberapa definisi mungkin terlalu sempit, misalnya “Komunikasi adalah penyampaian pesan melalui media elektronik”, atau lebih luas lagi, misalnya “Komunikasi adalah interaksi antara dua pihak atau lebih sehingga peserta komunikasi memahami pesan yang disampaikannya (Effendy, 2006)

Pola Komunikasi

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau informasi dari seseorang kepada orang lain dapat berupa kelompok atau perorangan. Begitu pula dengan penerima, dapat berupa perorangan atau kelompok. Komunikasi dapat dianalogikan seperti udara, setiap kegiatan dan aktivitas manusia tidak dapat dipisahkan dari komunikasi (Wayne dan Faules 2000).

Setiap orang yang berkomunikasi memiliki perbedaan proses pengiriman mau penerimaan pesan, tergantung dari pemahaman mau pengalaman yang dimiliki masing-masing. Berdasarkan kebutuhan akan berkomunikasi, ada 5 pola komunikasi yaitu: ”Komunikasi Antarpribadi, Komunikasi Kelompok Kecil, Komunikasi Organisasi, komunikasi massa, komunikasi publik.

Pola komunikasi diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat sehingga dapat dipahami” (Djamarah, 2004). Dimensi pola komunikasi terdiri dari pola yang berorientasi pada konsep dan pola yang berorientasi pada sosial. Pola komunikasi dicirikan oleh: komplementaris atau simetris. Dalam hubungan komplementer, perilaku dominan mendatangkan perilaku tunduk. Dalam simetri, interaksi dilakukan atas dasar kesamaan. Dominasi bertemu dengan dominasi atau kepatuhan dengan kepatuhan”(Djuarsa, 2004).

(25)

Strategi Komunikasi

Strategi komunikasi merupakan paduan perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen komunikasi (communication management) untuk mencapai tujuan tertentu melalui pendekatan (approach) yang berbeda-beda, bergantung dari situasi dan kondisi. Strategi komunikasi akan sangat menentukan efektifitas suatu kegiatan komunkasi. Oleh karena itu secara makro (plammed multi-media strategi) mau mikro (single communication medium strategi) strategi komunikasi mempunyai fungsi ganda (Effendi, 2000), yakni : 1. Mensistematisasi penyebarluasan pesan yang bersifat informatif, persuasif dan

instruktif kepada sasaran untuk memperoleh hasil optimal;

2. Menjembatani cultural gap yang diakibatkan oleh arus informasi yang tidak seimbang.

Strategi komunikasi berdampak positif apabila tujuan program pembangunan tercapai dan perubahan perilaku khalayak sasaran dapat diamati serta diukur. Pencapaian tersebut menurut Arifin, A (2003) ditandai dengan: (1) timbulnya kesadaran masyarakat untuk memahami manfaat inovasi, (2) perwujudan tindakan kongkret masyarakat dalam bentuk mengadopsi inovasi tersebut, dan (3) timbulnya sumberdaya manusia yang berkualitas sebagai akibat adopsi inovasi. Kriteria keberhasilan beragam strategi komunikasi pembangunan perlu dikaitkan dengan kekhasan tiap inovasi pembangunan. Kriteria tersebut tidak hanya mengukur keberhasilan atau kegagalan khalayak sasaran dalam nenerapkan inovasi, tetapi juga kesuksesasn dan kegagalan pelaku komunikasi pembangunan dalam mengalihkan informasi pembangunan dalam keterpaduan.

Keberhasilan strategi komunikasi menurut Arifin. A (2003) dicirikan oleh: (1) unsur pemahaman, kepedulian, dan kemampuan masyarakat dalam menyeleksi dan menerapkan beragam inovasi, (2) komitmen dan kesepakatan aktif untuk meningkatkan kesuksesan beragam dimensi program pembangunan, dan (3) perluasan kehidupan yang lebih baik. Sedangkan kriteria keberhasilan strategi komunikasi dari sudut pelaku komunikasi dicirikan: (1) Citra positif pelaku komunikasi pembangunan di mata masyarakat dengan cara memberikan kemudahan pelayanan komunikasi, (2) penyampaian informasi pembangunan yang yang lengkap dan benar berkenaan dengan prioritas utama pada kepentingan khalayak sasaran, dan (3) perluasan jangkauan informasi, dan pemantapan kelembagaan masyarakat dengan memperhatikan aspek kebudayaan setempat.

(26)

Komunikasi Pembangunan

Konsep komunikasi pembangunan dapat dilihat dalam arti yang luas dan sempit. Dalam arti yang luas, komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi komunikasi (sebagai suatu aktivitas pertukaran pesan secara timbal-balik) diantara semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan, terutama antara masyarakat dengan pemerintah, sejak dari proses perencanaan, kemudian pelaksanaan, dan penilaian terhadap pembangunan. Sedang dalam arti yang sempit, komunikasi pembangunan merupakan segala upaya dan cara, serta teknik penyampaian gagasan, dan keterampilan-keterampilan pembangunan yang berasal dari pihak yang memprakarsai pembangunan dan ditujukan kepada masyarakat luas. Kegiatan tersebut bertujuan agar masyarakat yang dituju dapat memahami, menerima, dan berpartisipasi dalam melaksanakan gagasan-gagasan yang disampaikan.

Menurut Nasution (2004) ada tiga aspek komunikasi dalam pembangunan yang berkaitan yaitu:

1. Aspek kebijakan komunikasi, merupakan pendekatan paling luas dan bersifat umum. Aspek ini menekankan pada bagaimana media massa dapat fokus pada pembangunan suatu bangsa. Politik dan fungsi-fungsi media massa dalam pengertian yang umum merupakan objek studi, sekaligus masalah-masalah yang menyangkut struktur organisasional dan pemilikan, serta kontrol terhadap media. 2. Aspek spesifik peranan media massa dalam pembangunan nasional, yaitu

bagaimana media secara efisien dapat mengajarkan pengetahuan tertentu bagi masyarakat suatu bangsa.

3. Aspek orientasi perubahan pada komunitas lokal atau desa agar dapat menerima ide-ide dan produk baru dalam pembangunan.

Masih menurut Nasution (2004), ada 12 peran yang dapat dilakukan komunikasi dalam pembangunan, yakni:

1. Menciptakan iklim perubahan dengan menawarkan nilai-nilai, sikap mental, dan bentuk perilaku yang menunjang modernisasi.

2. Mengajarkan keterampilan-keterampilan baru pada masyarakat lokal.

3. Menjadikan media massa sebagai pengganda sumber-sumber daya pengetahuan. 4. Menjadikan media massa sebagai pengantar pengalaman-pengalaman yang

seolah-olah dialami sendiri, sehingga mengurangi biaya psikis dan ekonomis untuk menciptakan kepribadian yangmobile.

5. Meningkatkan aspirasi untuk memotivasi bertindak nyata.

6. Membantu masyarakat menemukan norma-norma baru dan keharmonisan masa transisi.

7. Mendorong orang untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan di tengah kehidupan masyarakat.

8. Mengubah struktur kekuasaan masyarakat yang bercirikan tradisional, dengan membawa pengetahuan kepada massa.

(27)

10. Menyadari pentingnya arti masyarakat sebagai warga negara, sehingga dapat membantu meningkatkan aktivitas politik.

11. Memudahkan perencanaan dan implementasi program-program pembangunan yang berkaitan dengan kebutuhan penduduk

12. Komunikasi dapat membuat pembangunan ekonomi, sosial, dan politik menjadi suatu proses yang berlangsung sendiri (self-perpetuating)

Teori Dramatisme

Richard (2008), mengemukakan teori dramatisme mengonseptualisasikan kehidupan manusia sebagai sebuah drama, dimana kritik yang timbul menempati posisi penting dalam suatu adegan yang dimainkan oleh berbagai pemain di dalamnya dalam kerangka menyingkap motivasi. Sebagai sebuah metodelogi, dramatisme membahas tindakan komunikasi antara teks dan khalayak, serta tindakan di dalam teks itu sendiri. Ada tiga alasan mengapa drama dianggap sebagai metafora yang penting dalam mengungkap motivasi manusia: (1) drama menggambarkan hubungan manusia yang didasarkan pada interaksi atau dialog, (2) drama cenderung mengikuti tipe-tipe ataugenre yang mudah dikenali: komedi, musikal, melodrama dan lainnya, (3) drama selalu ditujukan pada khalayak, dimana sastra adalah “peralatan untuk hidup”, artinya teks dapat mengkomunikasikan pengalaman dan permasalahan hidup seseorang serta memberikan reaksi di dalamnya.

Dramatisme mengkaji cara-cara dimana bahasa dan penggunaannya berhubungan dengan khalayak. Dramatisme berangkat dari asumsi: (1) Manusia adalah hewan yang menggunakan simbol, terutama bahasa, (2) bahasa dan simbol membentuk sebuah sistem penggunaan kata-kata, pemikiran, dan tindakan yang memiliki hubungan yang sangat dekat satu sama lain, (3) manusia selalu membuat pilihan dan dramatisme adalah sebuah kemampuan aktor sosial untuk bertindak sebagai hasil pilihannya.

Dramatisme adalah retorika yang menekankan pada identifikasi dan faktor-faktor parsial “tidak sadar” dalam mengajukan pernyataannya. Berbeda dengan retorika konvensional yang menekankan pada persuasi dan desain yang terencana. Ketika terdapat ketumpangtindihan diantara dua orang pada substansi yang sama, maka semakin besar ketumpangtindihan yang terjadi, makin besar identifikasi yang terjadi. Sebaliknya, semakin kecil tingkat ketumpangtindihan individu, makin besar pemisahannya. Kenyataannya tidak ada ketumpangtindihan satu dengan lainnya secara penuh, selalu ada “ambiguitas substansi”, dimana identifikasi selalu terletak pada kesatuan dan pemisahan. Retorika dibutuhkan untuk menjembatani pemisahan dan membangun kesatuan. Proses ini disebut konsubstansiasi (ketika permohonan dibuat untuk meningkatkan ketumpangtindihan antara orang) atau meningkatkan identifikasi mereka satu sama lain.

(28)

motif utama untuk semua aktifitas simbolik. Rasa bersalah secara luas mencakup berbagai jenis ketegangan, rasa malu, rasa bersalah, rasa jijik, atau perasaan yang tidak menyenangkan lainnya. Rasa bersalah bersifat intrinsik dalam kondisi manusia. Ketika merasa diri bersalah oleh karenanya diperlukan usaha memurnikan diri sendiri dari ketidaknyamanan rasa bersalah. Proses merasa bersalah dan berusaha untuk menghilangkannya ada di dalam satu siklus mengikuti pola:

1. Tatanan atau hierarki (peringkat yang ada dalam masyarakat terutama karena kempuan kita untuk menggunakan bahasa).

2. Negatifitas (menolak tempat seseorang dalam tatanan sosial; memperlihatkan resistensi).

3. Pengorbanan (cara dimana kita berusaha untuk memurnikan diri kita dari rasa bersalah yang kita rasakan sebagai bagian dari menjadi manusia). Ada dua metode untuk memurnikan diri dari rasa bersalah, dengan menyalahkan diri sendiri dan mengkambinghitamkan dengan menyalahkan orang lain.

4. Penebusan (penolakan sesuatu yang tidak bersih dan kembali pada tatanan baru setelah rasa bersalah diami sementara).

Teori Identitas

Morissan dan Wardhany (2009), mengatakan bahwa berbagai elemen masyarakat dalam pembangunan perlu dilihat sebagai identitas dan entitas dari cara-cara menempatkan diri mereka secara-cara sosial. Identitas dan entitas berbagai elemen masyarakat dalam pembangunan memiliki implikasi penting sebagai komuikator, dimana dalam teori identitas, sebagian besar anggota masyarakat dari masing-masing elemen itu pada umumnya memiliki pandangan sama bahwa mereka menerima perlakuan yang dirasakan sama oleh mereka. Perlakuan yang diterima secara bersama oleh mereka inilah yang akan menjadi identitas utama, misalnya rasa ketidakadilan. Berdasarkan identitas itu maka mereka membuat organisasi bersama. Oleh karena itu, Morissan dan Wardhany (2009) membahas teori identitas ini menjadi tiga bagian: 1. Standpoint theory, adalah konstruksi masyarakat (sosial world) yang didapat dari

perhatian dan pemahaman individu melalui cara yang berbeda, kemudian digunakan untuk mengkontruksikan kembali kondisi atau situasi dimana masyarakat berada. Secara epistemologi, teori ini membedakan variasi komunikasi individu tersebut ketika memahami suatu pengalaman yang didapatinya dan ketika mengkonstruksi pemahaman tersebut. Ide teori ini adalah pandangan berlapis (layered understanding), setiap individu memiliki banyak identitas yang tumpang tindih sehingga menghasilkan pandangan yang unik.

2. Konstruksi Identitas. Setiap identitas saling berkaitan (interlocking identities). Tidak ada identitas yang berada diluar kontruksi sosial dan budaya. Sebagian besar identitas berasal dari konstruksi yang ditawarkan kelompok sosial dimana identitas tersebut menjadi bagian di dalamnya.

(29)

Kelembagaan Pendidikan Agama Islam: Pesantren

Menurut Jauhari (2012), Pesantren adalah wacana yang hidup. Selagi mau, memperbincangkan pesantren senantiasa menarik, segar, aktual, dan perlu dicatat tidak mudah. Banyak aspek yang mesti dilalui ketika diskursus Pesantren digelar. Dari sisi keberadaannya saja, pesantren memiliki banyak dimensi terkait (multi dimensional). Dalam lilitan multidimensional itu, menariknya, Pesantren sangat percaya diri (self confident) dan penuh pertahanan diri (self defensive) dalam menghadapi tantangan di luar dirinya. Karena itu hingga sekarang, orang kesulitan mencari sebuah definisi yang tepat tentang Pesantren. Pesantren kelihatan berpola seragam, tetapi beragam; tampak konservatif, tetapi diam-diam atau terang-terangan mengubah diri dan mengimbangi denyut perkembangan zamannya. Ambisi merumuskan Pesantren secara tunggal, apalagi coba-coba memaksakan suatu konsep tertentu untuk pesantren, tampaknya tidak mungkin berhasil.

Rahmad Pulung Sudibyo (2010) mendefinisikan pesantren sebagai institusi pendidikan Islam di Indonesia dengan ciri-ciri khas tersendiri. Pesantren berasal dari bahasa sansekerta, san” artinya orang baik (laki-laki) disambung “tra” artinya suka menolong, santra” berarti orang baik baik yang suka menolong. Pesantren berarti tempat membina manusia menjadi orang baik. Pesantren memiliki komponen-komponen (Dhofier, 1985) berikut:

1. Kyai, berasal dari bahasa Jawa (Ziemek, 1986) dipakai untuk: (1) gelar kehormatan barang yang dianggap keramat. Contohnya "Kyai garuda kencana" (kereta emas di Kraton Yogyakarta), (2) gelar kehormatan bagi orang yang di tuakan, dan (3) gelar ahli agama Islam dan pimpinan pesantren yang berperan penting dalam pendirian, pertumbuhan, perkembangan dan pengurusan sebuah pesantren. Keberhasilan pesantren banyak bergantung pada keahlian dan kedalaman ilmu, karismatik dan wibawa, serta ketrampilan Kyai.

2. Masjid sangat berkaitan erat dengan pendidikan Islam. Sejak dahulu, kaum muslimin selalu memanfaatkan masjid untuk tempat beribadah dan juga sebagai tempat lembaga pendidikan Islam. Sebagai pusat kehidupan rohani, sosial dan politik, dan pendidikan Islam, masjid merupakan aspek kehidupan sehari-hari yang sangat penting bagi masyarakat. Masjid dianggap sebagai "tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktek sembahyang lima waktu, khutbah, dan sembahyang Jumat, dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik" (Dhofier 1985).

3. Santri merupakan unsur penting, keberadaan santri di rumah seorang alim,

menyebabkan seorang alim tadi disebut Kyai. (Dhofier, 1985).

4. adalah tempat sederhana, tempat tinggal Kyai bersama para santrinya. Di Jawa, besarnya tergantung pada jumlah santrinya. Adanya yang sangat kecil dengan jumlah santri kurang dari seratus sampai yang memiliki tanah yang luas dengan jumlah santri lebih dari tiga ribu.

(30)

pada ilmu sosial dan kemasyarakatan(mu'amalah). Kitab kuning disebut juga kitab gundul karena tidak memilikiharakat(fathah, kasrah, dhammah, sukun), tidak seperti kitab al-Quran pada umumnya.

Tipologi Pesantren

Muin (2007) mengelompokkan Pesantren ke dalam tipologi kelompok sebagai berikut:

1. Pesantren Salafiyah

Pesantren Salafiyah adalah Pesantren tradisional yang menetapkan kurikulum pesantren dan tradisi yang dijalaninya sebagai sesuatu yang baku dan tidak bisa diubah. Umumnya, Pesantren ini mengambil bentuk-bentuk pelayanan pendidikan pada: (1) Madrasah Salafiyah menggunakan kurikulum Pesantren; (2) Majelis Taklim meliputi: Majelis Taklim kelompok orangtua, Majelis Taklim kelompok alumni Pesantren yang berangkutan, Majelis Taklim kelompok remaja (putri dan putra), Majelis Taklim dengan program khusus Masyayih (lanjut usia), (3) Bustanul Athfal, (4) Al- Ma'had A1 Aly (Perguruan Tinggi Ilmu-Ilmu Salafiyah), (5) peringatan hari-hari besar islam, (6) setiap hari Jum'at menugaskan santrinya untuk menjadi Khatib dan Imam pada masjid, khususnya masjid yang di sekitar pondok, (7) setiap bulan Ramadhan menugaskan santrinya untuk berceramah pada masjid dan mushalla di kampung halamannya atau mengaji “pasaran”, yakni membaca kitab berdasarkan kemampuan santri secara tekun dan terus menerus sampai selesai. 2. Pesantren Khalafiyah (Modern)

Pesantren Khalafiyah memadukan sistem Pesantren, Madrasah dan sekolah umum. Tipologi Pesantren Khalafiyah mengembangkan pendidikan keagamaan sejalan dengan pendidikan umum dengan bentuk-bentuk pelayanan pendidikan kepada masyarakat sebagai berikut: (1) Madrasah (MI, MTs, MA) dengan menggunakan kurikulum Departemen Agama, bahkan di antaranya sudah ada yang mendirikan Perguruan Tinggi Islam, (2) Sekolah Umum (SDIT, SMPIT, SMAIT, SMKIT) dengan menggunakan kurikulum Depdiknas, bahkan di antaranya sudah ada yang mendirikan Perguruan Tinggi Umum, terutama yang berorientasi kepada masalah ekonomi dan keuangan, (3) RA/BA danTKA/ TPA/TPQ (4) Usaha-usaha di bidang ekonomi, seperti: koperasi simpan pinjam, warnet, wartel, toserba, waserda, rental komputer, (5) usaha-usaha di bidang pertanian, perkebunan, dan perikanan, (6) pendidikan keterampilan, seperti: pertukangan kayu (mebelair), menjahit, elektronik, jasa boga, dan sebagainya, (7) mendirikan KBIH, (8) mendirikan panti asuhan, (9) peringatan hari-hari besar Islam, (10) mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).

3. Pesantren Kombinasi

(31)

kuriku-lum Departemen Agama, tapi alokasi waktu pelajaran-nya diperbanyak. Bahkan di antaranya sudah ada yang mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam, (4) menyelenggarakan sekolah umum yang islami (SD, SMP, SMA, SMK) pada mata pelajaran umum menggunakan kurikulum Depdiknas, sedangkan pada mata pelajaran pendidikan agama Islam menggunakan kurikulum Departemen Agama yang telah dikembangkan oleh pesantren, (5) Menyelenggarakan pendidikan keterampilan, (6) Menyelenggarakan KBIH (7) Menyelenggarakan BA, TKA, TPA, TPQ. (8) Menyelenggarakan ZIS.

Salafiyah

Sebutan Salafiyah merupakan penisbatan dari As-Salafiyah, yaitu orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman Nabi Muhammad SAW. Secara terminologis As-Salafiyah adalah generasi yang dibatasi penjelasan Rasullulah SAW, bahwa sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi at-tabi’in) (HR. Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadist ini, maka yang dimaksud dengan A s-Salafiyah adalah para sahabat Nabi SAW, kemudian pengikut Nabi setelah masa sahabat, termasuk di dalamnya para Imam Mahzab karena mereka semua hidup di tiga abad pertama sepeninggal Rasulullah Saw. Oleh karena itu, ketiga kurun ini kemudian dikenal juga dengan sebutan Al-quran Al-Mufadhdhalah (kurun-kurun yang mendapatkan keutamaan). Sebagian ulama kemudian menambahkan label A sh-Shalih sehingga menjadi As-Salafiyahu Ash-Shalih untuk memberikan karakter pembeda dengan pendahulu kita yang lain yang datang sesudah generasi tiga kurun ini (yang kemudian dikenal dengan Al-Khalaf) sehingga seorang Salafiyah berarti seorang yang mengaku megikuti jalan para sahabat Nabi Saw dalam seluruh ajaran dan pemahaman mereka (Idahram, 2012).

Istilah Salafiyah digunakan oleh kalangan pesantren untuk merujuk pada pengertian pesantren tradisional yang memandang dunia dan praktek Islam sebagai warisan sejarah, khususnya dalam bidang syaria’ah dan tasawuf. Dalam pengertian yang lebih umum, Pesantren Salafiyah merujuk pada paham Islam yang murni pada masa sebelum dipengaruhi oleh bid’ah dan kurafat (Bruinessen, 1995).Walau tidak diketahui secara pasti kapan Pesantren Salafiyah ada untuk pertamakalinya, namun dari pendapat beberapa sejawaran dapat diketahui bahwa Pesantren Salafiyah di Indonesia sudah ada sejak zaman Wali Songo.

Pesantren Salafiyah adalah lembaga pendidikan tradisional Islam sebagai pedoman perilaku dengan karakteristik pendidikan yang sederhana dimana para santri yang menuntut ilmu bermukim (Mastuhu, 2004). Pesantren Salafiyah adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, termasuk di Banten. Lahir dan tumbuh dari budaya Indonesia yang asli. Ia tumbuh atas dasar prakarsa dan dukungan masyarakat, serta didorong oleh permintaan dan kebutuhan masyarakat (Yasmani, 2002).

(32)

Baghdad (Baedhawy; 2012). Temuan ini menjadikan Banten sebagai salah satu akar keberadaan Pesantren Salafiyah yang sampai kini masih ada. Sejak masa paling awal Banten telah dikenal sebagai tempat menimba ilmu dan memberikan kontribusi bagi perkembangan keilmuan di Jawa. Di antaranya adalah Nawawi al-Bantani (1220H/1815M) sebagai ulama dan tokoh Banten dengan 115 Kitab karangannya yang mendunia diseantero pendidikan dan peradaban Islam saat itu.

Eksistensi Pesantren Salafiyah ditengah modernisasi pembangunan dan globalisasi menimbulkan tanggapan beragam. Bahkan tidak jarang mengundang konflik dan perdebatan tersendiri. Sebagian bersikap optimis dan sebagian lagi bersikap pesimis. Kalangan yang bersikap pesimis berpendapat bahwa Pesantren Salafiyah merupakan lembaga pendidikan tradisional yang eksklusif, sehingga ia akan sulit berkembang ditengah proses modernisasi karena pola pendidikannya terlalu lamban mencetak lulusan yang diharapkan masyarakat. Sedangkan kalangan yang bersikap optimis berpandangan sebaliknya, Pesantren Salafiyah sebagai lembaga pendidikan dan pemberdayaan masyarakat sampai kapan akan tetap eksis. Sebab Pesantren model ini berkarakteristik tradisional, asli Indonesia dan unik, serta kelahirannya dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan pendidikan bagi masyarakat pedesaan. Interaksi yang harmonis dan saling membutuhkan antara pesantren dan masyarakat menjadikan Pesantren Salafiyah kebal oleh situasi dan kondisi, sehingga ia mampu bertahan dan berkembang hingga saat ini(Rofa’i, 1994).

Pesantren Salafiyah merupakan salah satu lembaga sosial keagamaan yang dapat dijadikan alternatif untuk sebuah perubahan. Kepemimpinan Kyai di Pesantren Salafiyah bersifat independen dengan visi moral yang kuat (Hefner 2000, Fatchan, 2004). Ketradisionalan Pesantren Salafiyah bukan berarti konservatisme intelektual. Justru sebaliknya, Pesantren Salafiyah dengan peran utamanya sebagai lembaga pendidikan mampu mengembangkan masyarakat, menjadi tempat bertanya segala hal termasuk politik dan menjadi simpul budaya, memiliki dinamika intelektual yang tetap terjaga dan tidak tergoyahkan esensinya selama berabad-abad (Mas’ud 2004: 35). Ziemek (1983) mempertegas pendapat tersebut bahwa dalam menghadapi arus modernisasi, pesantren bukan saja mampu mempertahankan eksistensinya, tetapi justru memiliki antusiasme dan konsisten menyambut esensi pembangunan (modernisasi) sekaligus mengejawantahkan etos dan misinya.

Hingga kini, peran aktif Kyai Salafiyah dapat mempertahankan dan mengembangkan Pesantren Salafiyah semakin kuat. Fenomena itu menandakan bahwa Pesantren Salafiyah dan peran Kyai Salafiyah dalam pendidikan telah mendapatkan kepercayaan dan dukungan masyarakat. Setidaknya Pesantren Salafiyah memiliki 3 (tiga) fungsi utama: religius (diniyah), sosial, (ijtimaiyah), dan pendidikan (tarbawiyah) (Mas’ ud 2004). Fungsi religius bermakna sebagai pengemban amanah menyebarkan agama, fungsi sosial bermakna mengemban tanggung jawab memberdayakan masyarakat melalui beragam aktivitas sosial keagamaan, fungsi pendidikan bermakna sebagai pengemban tugas sebagai penanggung jawab pengembangan pendidikan dan keagamaan (Sulaiman, 2010).

(33)

pemberdayaan masyarakat pedesaan di bidang sosial keagamaan (Fakih M, 2001). Pesantren Salafiyah di pedesaan memiliki peran penting dalam pembangunan “mulai dari bawah” atau ”dari yang paling membutuhkan.” Pesantren Salafiyah sekaligus juga menjadi organisasi sosial kemasyarakatan lokal (lokal organization) berperan penting dalam membantu mengembangkan komunikasi timbal balik antar berbagai pihak. Syaba (2004) menjelaskan bahwa Kyai dan Pesantren Salafiyah memiliki 3 (tiga) peran strategis dalam pembangunan masyarakat, yaitu Pesantren sebagai lembaga pendidikan, sebagai pusat penggemblengan kader-kader muslim, dan sebagai agen perubahan sosial melalui pengajian rutin, tahlilan, dan berbagai media kultural lainnya. Ketiga peran tersebut membuat kokoh masyarakat pedesaan yang masih ”terbelakang”, dimana kondisi masyarakat pedesaan cenderung rentan dalam menghadapi kekuatan penguasa yang sangat hegemonik dan arus globalisasi yang terus bergerak cepat. Secara sosiologis Kyai Salafiyah memiliki kedekatan dengan masyarakat pedesaan, memiliki keunggulan ilmu agama dan akses jaringan komunikasi di bidang sosial, politik, dan ekonomi. Kyai Salafiyah berada pada posisi strategis sebagai agen pembaharuan (Syaba, 2004).

Penelitian Terdahulu

Penelitian dengan tema Pesantren sudah sering dilakukan. Namun, penelitian pesantren di bidang strategi komunikasi pembangunan Pesantren Salafiyah merupakan topik baru dalam penelitian. Pesantren dan Pelayanan Masyarakat (Muin, 2007) merupakan salah satu penelitian yang mengkaji: (1) sejauh mana tingkat kualitas pelayanan pendidikan keagamaan pesantren terhadap masyarakat? (2) Bagaimana bentuk pelayanan pendidikan keagamaan yang dilakukan pesantren terhadap masyarakat? (3) Bagaimana harapan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan keagamaan yang dilakukan pesantren? Melalui penelitian ini, Muin menyimpulkan bahwa proses perubahan di Pesantren merupakan tuntutan untuk memenuhi pelayanan pendidikan keagamaan bagi masyarakat. Dewasa ini pesantren telah memberikan kontribusi melalui peran pendidikan, sosial dan budaya kepada masyarakat. Kontribusi ini diberikan oleh pesantren dengan tipologinya tradisional (tipologi Salafiyah), tipologi Khalafiyah dan tipologi Kombinasi (terpadu). Kontribusi yang diberikan pesantren memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Sehingga dalam perjalanannya, pesantren semakin tumbuh dan berkembang baik secara kuantitas mau kualitas.

Sampai saat ini, tidak sedikit masyarakat yang masih tetap menaruh perhatian terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan non formal yang mampu memberikan pelayanan pemenuhan pendidikan keagamaan yang berkualitas. Terlebih lagi dengan berbagai inovasi sistem pendidikan yang dikembangkan pesantren dengan mengadopsi corak pendidikan umum, termasuk pengembangan life skillsdan pengembangan agrobisnis menjadikan Pesantren semakin kompetitif.

(34)

pengemban Islamic values, sosial control dan sosial engineering dengan latar belakang wali santri yang berpendidikan rendah dan bermukim di pedesaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tindakan para wali santri memondokkan anak ke pesantren memiliki beragam makna dan hal ini sangat ditentukan oleh latar belakang sosial-budaya dan sosial ekonominya. Makna-makna tindakan wali santri tampak dari motif adanya pengakuan akan ke-Salafiyahiahan Pesantren, pengelolaan Pesantren yang baik dan sistematis, program pendidikan yang beragam dan aplikatif, kedisiplinan pesantren, karisma Kyai, ketidakterlibatan Kyai dalam kegiatan politik praktis, keberhasilan alumni, menghindari pengaruh negatif teman sebaya, mempertahankan tradisi keluarga dan mempertahankan status sosial. Dilihat dari motif tujuan wali santri memasukan anak mereka ke pesantren dimaknai sebagai tindakan untuk memperoleh barakah ilmu Kyai, menjadi ahli di bidang ilmu agama, pembentukan budi pekerti yang baik dan pembentukan sikap mandiri. Makna-makna tindakan wali santri tersebut mencerminkan bentuk-bentuk dukungan terhadap Pesantren, sekaligus sebagai suatu bantahan terhadap pendapat sebagian kalangan bahwa Pesantren Salafiyah tidak akan mampu bertahan di tengah proses perubahan sosial.

Selanjutnya, Rasyid (2012), membahas bagaimana karakteristik pendidikan tradisional, apa yang menjadi elemen-elemen pesantren? Bagaimana struktur Organisasi dan pola Manajemen Pesantren Tradisional? Kesimpulan dari penelitian ini adalah pola umum pendidikan tradisional meliputi dua aspek, (1) pendidikan dan pengajaran berlangsung dalam sebuah struktur, metode dan literatur tradisional yang bersifat letterlijk, (2) pola umum pendidikan Islam tradisional yang memelihara sub-kultur pesantren, yakni landasanukhrawi,terimplementasikan dalam bentuk ketundukan mutlak kepada ulama, mengutamakan ibadah, memuliakan Ustadz atau Kyai demi memperoleh pengetahuan agama yang hakiki.

Elemen-elemen pesantren meliputi lima elemen dasar yaitu; Kyai, santri, podok, mesjid dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik atau yang sering disebut dengan kitab kuning. Dalam struktur organisasi pesantren tradisional, peran Kyai sangat menonjol, Kyai sering kali menempati atau bahkan ditempatkan sebagai pemimpin tunggal yang memyai kelebihan (maziyah)yang tidak dimiliki oleh masyarakat pada umumnya.

(35)

setidaknya dapat dilihat dari beragam inovasi layanan pendidikan yang ditawarkan Pesantren Mamba'ul Ma'arif. Namun demikian, perubahan tersebut hanya pada aspek artikulasi lahiriah saja, sementara aspek instrinsik (ruh, semangat, pemahaman keagamaan, dan nilai-nilai) tetap dipertahankan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan perlunya peningkatan kepercayaan masyarakat melalui penyempurnaan sarana dan prasarana, serta layanan pendidikan pesantren, termasuk perlunya penelitian lanjutan yang terfokus pada inovasi layanan pendidikan sebagai wujud respon pesantren terhadap transformasi zaman yang hasilnya digunakan sebagai bahan program-program pesantren.

(36)

KERANGKA PEMIKIRAN

Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran Komunikasi Pembangunan

Strategi Komunikasi Peranan

Pemerintah

Keterlibatan Masyarakat

Pesantren Salafiyah Al-Munawar Bani Amin Paradigma

Konstruktivisme

Pendekatan Teori

Strategi Teori

Identitas

Metode Penelitian: Pentad Analysis

Scene

Komunikasi Strategi komunikas

i

Komunikasi Pembangunan

Agent Act Agency

Analisis Penelitian

Pola Komunikasi Ponpes al-Munawar

BaniAmin

Peran Ponpes al-Munawar Bani

Amin dalam Pembangunan

Strategi Komunikasi Ponpes al-Munawar

Bani Amin

Teori Dramatisme

(37)

Komunikasi pembangunan perlu dilihat sebagai komunikasi dua arah dan timbal balik, antara pemrakarsa pembangunan dan kesertaan partisipasi masyarakat di dalamnya dalam kerangka menciptakan tindakan dan makna yang sama menuju pencapaian dan cita-cita pembangunan yang sudah ditentukan. Oleh karena itu, efektivitas dan efisiensi komunikasi dalam pembangunan sangat diperlukan baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan yang tercakup dalam strategi komunikasi untuk menyebarluaskan pesan dan makna pembangunan serta menjembatani adanya gap komunikasi pembangunan di tingkat persepsi, intrepretasi dan tingkat operasionalnya.

Paradigma konstruktifisme yang digunakan bertujuan untuk memahami realitas konstruksi mental yang bermacam-macam dan tidak dapat diindra dari aspek sosial dan pengalaman yang berciri lokal serta spesifik (meski berbagai elemen seringkali dimiliki oleh berbagai individu dan bahkan bersifat lintas budaya). Sementara bentuk dan isinya bergantung kepada manusia atau kelompok individu yang memiliki konstruksi tersebut. Konstruksi mental tidak kurang atau lebih benar dalam pengertian mutlak namun sekedar lebih atau kurang matang dan/atau canggih.

Pesantren Al-Munawar Bani Amin adalah subjek penelitian yang diidentifikasi sebagai tipologi Pesantren Salafiyah atau tradisional. Pesantren Salafiyah adalah mayoritas dari tipologi pesantren yang ada di Banten dan dianggap berhasil memberikan kontribusi pembangunan di bidang sosial keagamaan, pendidikan dan budaya, namun termarjinalkan dalam proses pembangunan. Untuk melihat setiap persoalan strategi komunikasi pembangunan pada pesantren ini maka diperlukan panduan teori guna merujuk pada keilmiahan proses pendalaman analisis kajian. Teori yang dijadikan panduan adalah teori strategi guna melihat batasan dimensi strategi yang meliputi perencanaan, keterbukaan, sifat dinamis dan spontanitas langkah-langkah atau tindakan yang dilakukan, sosiologi dan perilaku manusia dalam pembangunan. Sedangkan teori komunikasi untuk memberikan batasan bagaimana proses komunikasi pembangunan secara verbal dan non verbal dikirimkan, diterima, dan diberi arti. Teori strategi komunikasi ingin melihat bagaimana perencanaan komunikasi dan manajemen komunikasi untuk mencapai suatu tujuan dengan menunjukan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan dalam arti kata bahwa pendekatan bisa berbeda sewaktu-waktu bergantung dari situasi dan kondisi.

(38)

sebagai sebuah drama, dimana kritik yang timbul menempati posisi penting dalam suatu adegan yang dimainkan oleh berbagai pemain di dalamnya dalam kerangka menyingkap motivasi.

Metode penelitian yang digunakan adalah Pentad Analysis, sebuah metode yang lahir dari penjabaran teori dramatisme (dikemukakan oleh Kenneth Burke) sebagai bagian penting dan krusial dalam teori-teori komunikasi. Bila dicermati lebih dalam, beberapa teori komunikasi ada yang langsung merekomendasikan secara langsung terhadap penerapan metode penelitian yang definitif. Misalnya teori interaksi simbolik, merekomendasikan metode penelitian kedalam dua bagian besar, yakni inspeksi dan eksplorasi. Teori wacana merekomendasikan analisis wacana baik yang bersifat konstruktif dalam framing atau yang kritikal seperti yang dikemukakan Norman Fairclough, Ruth Wodak, dan Van Dijk. Teori semiotika merekomendasikan analisis semiotika baik yang bersifat strukturalis seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure, Charles Saunders Peirce, Umberto Eco atau postmodernisme yang dikemukakan oleh Roland Barthes. Teroi jaringan komunikasi merekomendasikan analisis jaringan dan seterusnya (Blummer, 1969)

Prinsip-prinsip dramatisme adalah: pertama, subjek perhatiannya adalah manusia, yang juga menjadi subjek dalam disiplin ilmu sosial lainnya. Observasi terhadap manusia secara implisit ada dalam istilah-istilah yang digunakan untuk mendefinisikannya. Istilah tersebut mempengaruhi ciri pengamatan (metode) dan mengarahkan perhatian (focus of interest) pada satu bidang tertentu dan secara otomatis mengabaikan segi yang lain. Fokus observasi terhadap subjek kajian menjadi sesuatu yang sangat penting, para ahli politik misalnya menempatkan manusia sebagai zoon politicon. Para sosiolog menempatkan manusia sebagai mahluk budaya. Sedangkan Burke menempatkan manusia sebagai simbol using animal. Manusia menurut teori dramatisme merupakan mahluk yang menggunakan simbol. Simbolitas yang diciptakan, digunakan dan disalahgunakan manusia memberi ciri khusus padanya yakni semacam kemampuan reflektif. Kapasitas reflektif ini merupakan kapasitas yang oleh Hegel disebut sebagai kesadaran diri (self consciousness) atau apa yang oleh Aristoteles sebut sebagaithougt of thougt. Dengan simbol manusia melakukan refleksi, representasi, seleksi dan defleksi (pembelokan) terhadap realitas.

(39)

adalah mahluk rasional dengan kapasitas intelektual tertentu, terefleksikan ketika berkomunikasi, terekspresikan dalam tindakan simbolik yang memiliki motif tertentu.

Ketiga, konsep negativisme, adalah gambaran karakteristik manusia yang menegasikan sesuatu keadaan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Positif dan negative sepenuhnya merupakan produk dari sistem simbol yang dipakai untuk keperluan manusia. Negatif menegasikan sebuah kondisi atau keadaan tertentu. Contoh, negativisme meja adalah bukan meja, terbuka – tertutup, sabar – pemarah. Oleh karena harapan-harapan itu tidak terpenuhi, manusia dalam berkomunikasi sering memoralisasi melalui negativisme. Contoh, tidak lulus dalam suatu jenjang pendidikan, dinegasikan karena faktor-faktor lain. Langsung atau tidak langsung negativisme menentukan tindakan komunikasi yang mencakup karakter yang meliputi pilihan dan bentuk. Sedangkan pilihan dan bentuk itu menyertakan kesempurnaan di dalam distingsi antara ya dan tidak. Artinya, setiap bentuk tindakan simbolik manusia dalam berkomunikasi memiliki hubungan dengan landasan legitimasi dari sisi moral dan etik (Suparno, 2010). Di dalam penggunaan tersebut terdapat istilah-istilah yang merupakan antitesis yang tidak terbatas ya dan tidak, melainkan ada pasangan antitesis yang sangat luas: asli-palsu, tertib-tidak tertib, hidup-mati. Jadi negativisme ini menjelaskan bentuk determinasi yang menyatakan kondisi yang sebaliknya.

Keempat, simbol sebagai instrumen dalam tindakan komunikasi bertujuan mengusung suatu kepentingan tertentu, hal ini berangkat dari premis bahwa manusia selalu berupaya memenuhi segala keperluannya sebagaihoo faber(manusia pencipta) dan homo economicus. Nilai instrumen simbol dan bahasa dengan sendirinya menjelaskan perkembangan kapasitas manusia. Nilai instrumen bahasa ini juga bertanggung jawab bagi kepentingan survivalitas bahasa itu sendiri. Dengan begitu simbol, bahasa dan dalam arti yang lebih luas yakni komunikasi esensinya adalah sebuah alat, yakni instrumen komunikasi manusia.

Kelima, dalam berkomunikasi ada kecenderungan ingin tampak sempurna dan tanpa cela (spirit of hierarchy) sebagai refleksi diri seseorang untuk menunjukkan kesempurnaan. Melalui cara itu, seseorang telah melakukan distingsidan diferensiasi berdasarkan hirarki yang mencerminkan berbagai situasi yang memperlihatkan adanya jenjang seperti berkuasa – tidak berkuasa, berwenang – tidak berwenang, rasional – tidak rasional. Menurut Payne (1990), hirarki dan kesempurnaan jelas bersifat incremental atau bergradasi (ada peningkatan dan penurunan). Dengan prinsip hirarki dan kesempurnaan, manusia mengembangkan keinginan untuk menggunakan simbol secara memadai dan lengkap atau menggunakan simbol tersebut untuk berkomunikasi secara distingtif.

(40)

viktimisasi sebenarnya merupakan bentuk kefrustasian dan tidak mencerminkan sebuah visi. Simbol dan bahasa dalam drama diposisikan sebagai the art of delivery yang memperlihatkan adanya berbagai bentuk antithesis antara situasi yang diharapkan dengan situasi yang diharapkan tidak terjadi yang memunculkan aktor-aktor protagonis dan antagonis. Di dalam drama kehidupan manusia masalah-masalah dari situasi ini merupakan sumber-sumber motivasi dan tindakan-tindakan dari aktor-aktor yang terlibat di dalamnya yang mencerminkan karakter dan pemikiran-pemikiran tertentu.

Dramatisme ditandai dengan sejumlah situasi (scene) konflik dengan situasi-situasi yang berbeda yang disimbolisasikan dalam bentuk plot atau alur. Plot merupakan bentuk dasar setiap babakan drama yang mencerminkan tatanan insiden (the arrangement of incidents, Ferguson, 1961). Bahasa dalam drama merupakan tindakan simbolik dan berfungsi sebagai the art of delivery. Analisis dramatisme mengarah kepada berbagai situasi yang terjalin ke dalam alur atau plot konflik dan negatifisme melalui berbagai simbol. Atas dasar pokok-pokok konseptual dan gagasan tersebut, Burke sebagai pencetus teori dramatisme merekomendasikan sebuah metode penelitian terhadap teori ini, yakniPentad Analysis.

Dramatisme memberikan cakupan metode yang dapat melacak implikasi gagasan dalam tindakan komunikasi manusia sebagai mahluk yang secara khusus dibedakan oleh tindakan itu. Dalam pengertian ini, dramatisme adalah skema dari mode-mode yang diekspresikan dalam komunikasi manusia. Contoh, sidang DPR-RI tentang pembahasan kebebasan informasi, dianggap sebagai drama. Situasi ini menjadi sebuah scene. Sementara di dalam scene terdapat peristiwa dan aktor-aktor yang terlibat yang melakukan tindakan komunikasi. Apa yang mereka nyatakan di dalam berbagai situasi berbeda dapat merupakan sumber data untuk menganalisis kasus-kasus tersebut sehingga akan tampak siapa yang memoralisasikan diri dan siapa yang dikorbankan melalui tindakan – tindakan komunikasi mereka. Pandangan dramatistik mengatakan bahwa bahasa sebagai hal yang primer, ekspresi sikap seseorang dan tidak hanya ditempatkan sekedar instrumen definisi istilah tertentu.

(41)

Pentad Analysis dalam pandangan teori dramatisme adalah grammar dari motif (grammar of motives) yang memberikan perhatian pada istilah-istilah dimana potensi-potensi dari penggunaan istilah-istilah tersebut terdapat dalam pernyataan aktual. Secara lebih luas grammar of motives dapat mendesain landasan filosofis dalam suatu pernyataan yang bersifat sporadis, kontemporer atau secara sistemik, dorongan motif dapat dipertimbangkan sebagai fragmen dari sebuah filsafat yang luas yang secara tajam kedudukan manusia sebagai mahluk komunikasi.

Kesimpulan dari metode Pentad Analysis adalah metode yang didesain untuk menunjukkan jalur terhadap relasi-relasi kepentingan dan motif-motif humanistik serta fungsi-fungsi dari istilah-istilah yang dipakai manusia. Metode ini menawarkan sebuah cara untuk menentukan mengapa tiap tindakan individu di dalam suatu kejadian atau konteks tertentu menyeleksi strategi komunikasi di dalam memberi pernyataan-pernyataannya di dalam mengidentifikasi situasi yang dihadapinya. Tujuan dari Pentad Analysis adalah memberi perhatian terhadap unsur-unsur act, agent, scene, agency dan purpose yang ditujukan untuk menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi simbol yang mereka desain, bekerja di dalam penyertaan motif-motif dari tindakan simbolik tersebut. Setiap konsep dari elemen Pentad Analysis dalam implementasinya dapat diluaskan atau disempitkan. Hubungan-hubungan dari setiap elemen Pentad Analysis akan menyumbangkan analisi-analisis baru dan tajam untuk melihat motif dari tindakan simbolik manusia. Hubungan semacam ini (rasio) merupakan determinasi dalam arti hubungan antar elemen saling menentukan yang menjelaskan hubungan kausalitas.

Gambar

Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran
Gambar 5.2. Urutan Motn Motivasi Orang Tua Memasukkan anak ke Pesantrntren Slafiyah
Gambar 6.1. Sumber Pesan Dalam Pola Komunikasi Pesantren Salafiyah
Tabel 6.1. Kajian Pentad Analysis Sumber Pesan Pesantren Salafiyah Al-Munawar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sikap tegas yang dibalut dengan perilaku dan perkataan apa adanya yang telah mendarah daging dalam diri setiap orang Madura merupakan potensi yang dimiliki

Berdasarkan uraian diatas, pada penelitian ini akan dilakukan pemetaan kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tengah menggunakan analisis multidimensional scaling metrik

Peraturan Menteri Pertanian No. 44/Permentan/OT.140/5/2007 tentang Pedoman Berlaboratorium Veteriner Yang Baik. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur No. 3 Tahun 2018 tentang

Efek positif yang didapat jika hubungan kontak sosial antara orang tua dan anak berjalan secara konsisten adalah anak merasa lebih aman dalam pengasuhan, tumbuhnya

Oleh karena itu ada yang perlu di catat dari pemikiran Omid Safi adalah kesetaraan dan keadilan gender harus diberikan kepada kaum perempuan bukan sebagai hadiah atau

Data Tabel 2 menunjukan indeks kesamarataan spesies pohon pada sub blok lindung dan sub blok perhutanan sosial termasuk ke dalam komunitas stabil, kecuali Indeks

Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dan data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi yang kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif dengan

Implementasi e-commerce pada marketplace Tokopedia adalah saat pertama dengan mendownload aplikasi Tokopedia membuka aplikasi membuat akun pada Tokopedia mencari