BIDANG SOSIAL BUDAYA DAN PEMERINTAHAN KOTA SEMARANG
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.2 Pembangunan Sosial dan Budaya
Pembangunan sosial merupakan suatu pendekatan yang sudah hadir sejak tahun 1970 sebagai pandangan baru untuk menghilangkan pandangan negatif dari dampak pembangunan ekonomi seperti kesenjangan sosial, ekonomi, disintegrasi sosial dan lainnya. Pradhan et al (2013) menjelaskan bahwa pembangunan sosial dipahami sebagai pendekatan untuk mengembangkan lembaga-lembaga sosial dengan cara yang efisien untuk menghasilkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Lebih dari itu, Drolet dan Sampson (2014) menjelaskan bahwa pembangunan sosial merupakan sebuah pendekatan yang unik karena menggabungkan berbagai unsur sosial dalam masyarakat untuk meningkatkan kapasitas individu, keluarga, masyarakat. Pembangunan sosial sering dikaitkan dengan pembangunan ekonomi karena memiliki tujuan pembangunan yang sama yaitu mensejahterakan masyarakat.
Konsep pembangunan sosial juga sering dipertukarkan dengan konsep kesejahteraan sosial. Karena dalam konsep kesejahteraan sosial, kesejahteraan masyarakat tidak hanya diukur dengan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat (misalnya pendapatan, pendidikan, dan kesehatan), melainkan ketika masyarakat dapat mengelolah masalah-masalah sosial (misalnya kemiskinan, kriminalitas, dll)
14
dan meningkatnya peluang masyarakat dalam berpartisipasi (Midgley dalam Adivar dkk, 2010). Untuk melakukan hal tersebut, maka dibutuhkan peningkatan kapasitas individu dan masyarakat. Dengan meningkatnya kapasitas individu dan masyarakat maka mereka akan mampu memenuhi kebutuhan dasar, mengelolah masalah-masalah sosial, dan mampu memaksimalkan peluang yang ada.
Untuk itu, dalam mewujudkan tujuan pembangunan sosial diperlukan strategi yang dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, Midgley (1997) mengemukakan ada 3 (tiga) strategi utama yaitu:
● Pembangunan sosial melalui Individu (social development by inddividuals), di mana strategi ini bertujuan untuk membangun kemampuan individu-individu dalam masyarakat agar individu-individu-individu-individu tersebut bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhannya. Pendekatan ini lebih mengarah pada pendekatan individualis (individualist or enterprise approach).
● Pembangunan sosial melalui komunitas (social development by communitites), di mana dalam strategi ini masyarakat secara bersama-sama mengembangkan komunitas lokal. Pendekatan ini lebih dikenal dengan nama pendekatan komununitarian (communitarian approach).
● Pembangunan sosial melalui pemerintah (social development by government), di mana lembaga-lembaga dalam organisasi pemerintahan melakukan atau menjalankan pembangunan social. Pendekatan ini lebih dikenal dengan nama pendekatan statis (statist approach).
Dalam konteks Indonesia, ketiga strategi diatas harus digunakan sekaligus.
Artinya, ketika pemerintah melakukan pembangunan social dalam rangka mengentaskan masalah kemiskinan, maka peran-peran dari swasta dan sektor ketiga (masyarakat madani) harus dilibatkan. Sehingga, dalam menangani permasalahan kemiskinan dan permasalahan sosial lainnya dapat berjalan secara efektif.
Pembangunan sosial selalu dikaitkan dengan pembangunan budaya, menurut Zuriatina (2020) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang digunakan sebagai indikator untuk mengukur kualitas hidup manusia memiliki hubungan yang positif dengan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK), yaitu semakin tinggi capaian IPK
15
maka semakin tinggi capaian IPM suatu daerah. Hal itu menjadi bukti bahwa pembangunan budaya juga harus mendapat perhatian yang sama seperti pembangunan sosial.
Pembangunan budaya perlu dilakukan karena Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beragam. Keberagaman budaya tersebut menjadi aset yang sangat berharga karena menjadi salah satu modal pembangunan. Menurut UU No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan, pembangunan kebudayaan bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperkaya keberagaman budaya, memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan masyarakat madani, meningkatkan kesejahteraan rakyat, melestarikan warisan budaya bangsa, dan mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia sehingga kebudayaan menjadi haluan pembangunan nasional.
Berdasarkan RPJMD Kota Semarang 2021-2025, pembangunan sosial dan budaya berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan produktif serta mewujudkan kehidupan yang berkeadilan sosial. Untuk dapat mewujudkan tujuan pembangunan tersebut terdapat beberapa konsep perencanaan pembangunan yang dapat diterapkan seperti Smart City, Konsep Kota Sehat, Kota Layak Anak (KLA), Kota Ramah Lansia, Kota Inklusif (Ramah Bagi Difabel), dan Kota Layak Pemuda (KLP). Selain itu terdapat beberapa pendekatan yang juga dapat diterapkan untuk mengukur keberhasilan pencapaian pembangunan bidang sosial dan budaya yaitu teori keberlanjutan sosial dan budaya serta ketahanan sosial dan budaya.
a Konsep Pembangunan Sosial dan Budaya dengan Penerapan Smart City
Konsep Smart City menjadi sangat popular dalam dua dekade terakhir, ditandai dengan semain banyak literatur dan kebijakan yang membahas konsep pembangunan ini. Smart City sebagai kota intensif dan maju berteknologi tinggi yang menghubungkan manusia, informasi dan elemen kota dengan menggunakan teknologi baru guna menciptakan kota yang berkelanjutan, lebih hijau, perdagangan yang kompetitif dan inovatif, serta kualitas hidup yang meningkat.
16
Istilah Smart City juga digunakan terkait pendidikan penduduknya. Oleh karena itu, Kota Cerdas memiliki penduduk yang cerdas dalam hal tingkat pendidikannya. Berfokus pada pendidikan, Winters (2011) menjelaskan bahwa kota pintar adalah pusat pendidikan tinggi, yang memiliki individu yang lebih terdidik, dan tenaga kerja terampil. Smart City bertindak sebagai magnet bagi orang dan pekerja kreatif, dan ini memungkinkan terciptanya lingkaran yang berbudi luhur membuat warganya menjadi lebih pintar dan produktif. Akibatnya, kota pintar memiliki banyak peluang untuk mengeksploitasi potensi manusianya dan mempromosikan kehidupan kreatif (Partridge, 2004). Glaeser dan Berry (2006) menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan kota yang paling cepat dicapai di kota-kota yang memiliki banyak tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan yang baik.
Menurut Griffinger, dkk (2007) untuk dapat mewujudkan Smart City maka suatu kota harus dapat memenuhi 6 (enam) dimensi Smart City yang terdiri dari Smart Economy, Smart People, Smart Governance, Smart Mobility, Smart Environment, dan Smart Living. Adapun dimensi smart city yang terkait dengan bidang sosial, budaya, dan pemerintahan yaitu smart people yang berfokus pada perwujudan ekosistem sosia-teknis masyarakat yang humanis dan dinamis; smart governance yang berfokus untuk mewujudkan tata kelola dan pemerintahan yang efektif, efisien, dan komunikatif dalam meningkatkan kinerja birokrasi; dan smart living yang berfokus pada penjaminan kelayakan taraf hidup masyarakat melalui kesehatan dan transportasi.
17
Sumber: Griffinger, dkk (2007)
Gambar 2.1 Dimensi Smart City dan Indikatornya
b. Konsep Kota Layak Anak (KLA)
Konsep kota layak anak muncul karena permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan anak di perkotaan terus meningkat. Permasalahan tersebut mnuncul karena adanya kesalahpahaman orang tua dalam mendidik anak. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Patilima (2017) dalam Kota Layak Anak, masih banyak orang tua yang menganggap anak sebagai ‘aset keluarga’ dan ‘anak harus mengerti orang tua’. Pemahaman tersebut menyebabkan anak terjerumus kedalam permasalahan seperti menjadi korban perdagangan anak, korban eksploitasi ekonomi dan seksual, serta tumbuh dan berkembangkanya anak terabaikan.
18
Disisi lain, kemiskinan menjadi permasalahan yang sangat mendasar karena menjadi tantangan bagi orang tua dalam memenuhi kebutuhan, melindungi dan menghormati hak anak. Seharusnya hal ini mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah. Namun pada kenyataannya persoalan yang menyangkut hak anak masih sangat jarang dibahas secara terbuka di berbagai jenis media massa.
Ide kota layak anak pertama kali yaitu Kevin Lynch, Arsitek dari Massachusetts Institute of Technology yang melakukan penelitian yang sangat berpengaruh pada implementasi Konvensi Hak Anak yang kemudian diadopsi oleh UNICEF dan UNHABITAT melalui “Child Friendly City Inniciative”. Selain itu juga dilakukan penelitian dengan judul “Persepsi Anak Terhadap Ruang” yang dilakukan di empat kota besar yaitu Melbourne, Warsawa, Salta dan Mexico City.
Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa lingkungan kota yang terbaik untuk anak harus memiliki: komunitas yang kuat secara fisik dan sosial, komunitas yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas, adanya pemberian kesempatan pada anak, dan fasilitas pendidikan yang memberi kesempatan anak untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan dan dunia mereka sendiri.
Untuk mewujudkan kebutuhan anak tersebut, menurut Sheridan Bartlett, ahli perkotaan dari City University Of New York dan The International Institute For Environment And Development, London (Bartlett, 2002), perlu adanya intervensi pencegahan terjadinya bahaya terhadap anak di tempat tinggal mereka, yaitu dengan melakukan modifikasi dan perbaikan di lingkungan tempat tinggal.
Mewujudkan KLA harus dipenuhi dari beberapa klaster, yaitu kelembagaan; hak sipil dan kebebasan; lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; kesehatan dasar dan kesejahteraan; pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya; dan perlindungan khusus. Klaster tersebut memiliki indikator masing-masing yaitu seperti yang tampak pada Gambar 2.2.
19
Sumber: www.kla.id
Gambar 2.2 Klaster KLA dan Indikator
c. Kota Ramah Lansia
Isu peningkatan jumlah lansia menjadi isu pembangunan bidang sosial yang juga menuntut perhatian dari pemerintah. Berdasarkan Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan disebutkan di pasal 138 ayat 1 bahwa upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial maupun ekonomis sesuai dengan martabat kemanusiaan. Menurut data Global Watch Index yang dirilis oleh Help Age International, Indonesia masih berada di posisi bawah dengan tingkat kenyamanan bagi lansia yang masih sangat rendah. Untuk itu diterapkanlah suatu konsep pembangunan kota yang dapat memfasilitiasi para lansia agar dapat hidup sehat, sejahtera, produktif dan dapat berinteraksi baik dengan masyarakat, sehingga mampu berkontribusi positif terhadap bangsa (Widowati, dkk, 2018).
Penerapan konsep pembangunan kota ramah lansia diharapkan dapat membantu para lansia dalam kenyamanan saat bepergian dan tidak kesulitan dalam mengakses sarana prasarana publik seperti fasilitas kesehatan. Ada empat syarat
20
yang harus dipenuhi untuk menjadi kota ramah lansia, yaitu: (1) kota memiliki seperangkat peraturan yang mengatur tentang lansia, seperti peraturan daerah, (2) memiliki pemimpin daerah yang berkomitmen dan berkepedulian terhadap lansia, (3) memiliki metode dokumen yang ramah lansia seperti yang ada dalam ketentuan WHO tetapi disesuaikan dengan keadaan daerah yang bersangkutan, dan (4) fasilitas yang ramah terhadap lansia (Nugroho, 2013:26).
Terdapat 8 (delapan) hak lansia menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia antara lain sebegai berikut:
1. Hak pelayanan keagamaan dan mental spiritual 2. Hak pelayanan kesehatan
3. Hak pelayanan kesempatan kerja
4. Hak pelayanan pendidikan dan pelatihan
5. Hak kemudahan dalam menggunakan fasilitas sarana dan prasarana umum 6. Hak kemudahan dalam layanan dan bantuan hokum
7. Hak perlindungan sosial, dan 8. Hak bantuan sosial.
d. Kota Inklusif (Ramah Bagi Difabel)
Kota yang inklusif menjadi sebuah frasa yang beberapa dekade ini banyak diperbincangkan. Tuntutan untuk membuat kota yang inklusif (berkeadilan dan setara) bagi setiap orang semakin sering disuarakan kepada para pemangku kebijakan di perkotaan. Kata inklusif memiliki maksa sebagai sebuah pendekatan dalam proses pembangunan yang menuntut kondisi linkgungan yang terbuka bagi semua orang, mengajak dan mengikutsertakan semua orang dari beragam latar belakang. Berdasarkan pendefinisian tersebut, dapat dipahami bahwa sesuatu yang inklusi berarti sesuatu yang dapat merangkul semua pihak tanpa mempertimbangkan perbedaan karakteristik, kemampuan, status, etnis, budaya, dan lainnya sebagai sebuah hambatan. Konsep pembangunan kota inklusif semakin popular sejak disahkannya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs). Kota inklusif termasuk dalam tujuan pembangunan
21
nomor 11 yaitu “Membangun kota dan permukiman warga yang inklusif, aman, dan kukuh”. Adapun kelompok yang harus diperhatikan dan mendapat perhatian khusus dalam mewujudkan pembangunan kota iklusif yaitu kelompok difabel.
Menurut Maftuhin (2017) terdapat lima komponan yang menjadi alasan mengapa kelompok dengan disabilitas merupakan kelompok yang paling mungkin terperangkap dalam kondisi ekslusi sosial. Komponen tersebut terdiri dari kemiskinan, pengangguran, lemahnya jaringan sosial, lingkungan fisik, dan layanan (Gambar 2.3)
Sumber: Maftuhin (2017)
Gambar 2.3 Komponen Ekslusi Kelompok Disabilitas
Selanjutnya Maftuhin (2017) juga menyebutkan bahwa terdapat empat komponen yang harus dipenuhi agar sebuah kota dapat mewujudkan inklusivitas bagi penduduk yang memiliki keterbatasan/difabel. Gambar 2.4 menunjukkan empat komponen tersebut terdiri dari partisipasi penuh, ketersediaan layanan hak, aksesibilitas, dan sikap inklusif.
22
Sumber: Maftuhin (2017)
Gambar 2.4 Komponen Kota Inklusif .
Sementara itu menurut UNESCO (2017), beberapa sektor yang dipertimbangkan dalam penilaian kota inklusif yaitu terkait data; pengembangan masyarakat/partisipasi politik; perumahan; kesehatan; perlindungan dan pelayanan sosial; pendidikan; olahraga; seni dan rekreasi; tenaga kerja; akses terhadap keadilan dan perlindungan; pengurangan risiko bencana; dan transportasi umum.
Penjelasan terkait indikaotr dari masing-masing sektor yang digunakan sebagai pertimbangan dalam penilaian kota inklusif tersebut terangkum pada Tabel II.1.
Tabel II.1 Sektor-sektor Kota Inklusif yang Terkait Bidang Sosial, Budaya, dan Pemerintahan beserta Indikatornya
Sektor Indikator
Data Statistik tersedia
Data dipilah berdasarkan disabilitas Data dipilah berdasarkan umur
Data dipilah berdasarkan jenis kelamin Data dipilah berdasarkan status kemiskinan
Penyandang disabilitas telah terlibat selama keseluruhan proses pengumpulan data.
Penilaian fungsional disertakan Kesadaran akan hak dinilai Pengembangan
Masyarakat/
Partisipasi Politik
Sebuah regulasi atau rencana aksi telah diterbitkan dan sedang dilaksanakan.
Penyandang disabilitas diwakili di DPRD Penyandang disabilitas diperkerjakan Pemda
23
Sektor Indikator
Penyandang disabilitas memiliki akses ke musrembang.
Kebutuhan penyandang disabilitas tercermin dalam rencana pembangunan kota.
Bangunan umum dan kantor pemeritah dapat diakses oleh orang dengan berbagai disabilitas
Penyandang disabilitas diundang dan bisa datang ke acara publik Desain universal telah diakui dan diadopsi oleh pemeritah kota Pemerintah kota memberikan dukungan untuk program CBR Akses disediakan
Penyandang disabilitas memiliki akses terhadap informasi Penyandang disabilitas memiliki NIK dan akte kelahiran Pemilihan dapat diakses
Kesehatan Sebuah regulasi atau rencana aksi telah diterbitkan dan sedang dilaksanakan
Kota ini memiliki rumah sakit yang merawat penyandang disabilitas Kota ini memiliki rumah sakit yang menyediakan perawatan kesehatan gratis bagi penyandang disabilitas
Kota ini menyediakan layanan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas
Kota ini menyediakan layanan rehabilitasi gratis bagi penyandang disabilitas miskin
Penyandang disabilitas menggunakan layanan kesehatan berkualitas gratis
Perlindungan dan Pelayanan Sosial
Sebuah regulasi atau rencana aksi telah diterbitkan dan sedang dilaksanakan
Penyandang disabilitas memiliki akses ke program transfer tunai bersyarat
Penyandang disabilitas memliki akses ke skema asuransi sosial Pemerintah kota memiliki data keluarga yang menerima PKH Penyandang disabiltas menggunalan layanan perlindungan sosial Pendidikan Sebuah regulasi atau rencana aksi telah diterbitkan dan sedang
dilaksanakan
Akses ke sekolah umum gratis dan tidak ada biaya tersembunyi Pendidikan inklusif di semua tingkatan pendidikan tersedia Anak penyandang disabilitas terdaftar di sekolah umum iklusif Olahraga, Seni, dan
Rekreasi
Sebuah regulasi atau rencana aksi telah diterbitkan dan sedang dilaksanakan
Penyandang disabilitas memiliki akses terhadap fasilitas olahraga inklusif dan asosiasi olahraga inklusif
Penyandang disabiltas memiliki kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka di depan umum
Penyandang disabilitas memiliki akses ke pusatpusat kebudayaan Penyandang disabilitas memiliki akses ke tempat rekreasi publik Penyandang disabilitas menggunakan layanan seni, olahraga, dan rekreasi
Tenaga Kerja Sebuah regulasi atau rencana aksi telah diterbitkan dan sedang dilaksanakan
24
Sektor Indikator
Pemerintah kota memberikan konseling dan layanan tersebut bagi penyandang disabiltas dan pengusaha
Kota ini mendukung penyandang disabilitas membentuk UKM Penyandang disabilitas memiliki akses ke BLK
Penyandang disabilitas menggunakan layanan publik terkai Akses terhadap
Keadilan dan
Perlindungan
T2TP2A responsif
Pemerintah kota menyediakan fasilitas perumahan yang aman bagi perempuan dan anak-anak penyandang disabilitas yang membutuhkan
Pemerintah kota menyediakan fasilitas bantuan hukum bagi perempuan dan anak-anak penyandang disabiltas yang membutuhkan
PIK PPD ada
Penyandang disabilitas menggunakan layanan ini Sumber: UNESCO – Instrumen Penilaian Kota Inklusif Versi 2 (2017)
e. Kota Layak Pemuda
Menurut Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga RI Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Pengembangan Kota Layak Pemuda (KLP), pengembangan KLP diarahkan untuk pemerintah yang memiliki komitmen terhadap layanan kepemudaan dan bertujuan untuk meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan di daerah melalui:
1. Perluasan kesempatan memperoleh pendidikan dan keterampilan;
2. Peningkatan peran serta pemuda dalam pembangunan sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama;
3. Peningkatan potensi pemuda dalam kewirausahaan, kepeloporan dan kepemimpinan; dan
4. Perlindungan generasi muda terhadap bahaya penyalahgunaan NAPZA, minuman keras, penyebaran penyakit HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.
Pengembangan KLP diperuntukkan bagi para pemuda dengan rentang usia antara 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Indikator Pengembangan KLP mengacu pada empat kluster, yakni live, play, work/school, dan health/welfare dan ditetapkan lebih lanjut dengan Petunjuk Teknis yang ditetapkan Pejabat Eselon I/Pimpinan Tinggi Madya. Pengembangan KLP dilaksanakan berdasarkan prinsip:
25
1. Tata pemerintahan yang baik, yaitu transparansi, akuntabilitas, partisipasi, keterbukaan informasi, dan supremasi hukum; dan
2. Non-diskriminasi, yaitu tidak membedakan suku, ras, agama, jenis kelamin, bahasa, paham politik, asal kebangsaan, status ekonomi, kondisi fisik maupun psikis pemuda, atau faktor lainnya.
Pengembangan KLP dilaksanakan melalui pendampingan; fasilitasi; dan penghargaan. Bentuk fasilitasi dapat berupa prasarana dan sarana kepemudaan serta kegiatan kepemudaan. Aspek KLP meliputi;
1. Ketersediaan regulasi kepemudaan;
2. Ketersediaan anggaran kepemudaan;
3. Implementasi program kepemudaan; dan 4. Pelembagaan partisipasi pemuda.
Terdapat 3 (tiga) indikator untuk dapat mewujudkan Kota Layak Pemuda yaitu pelayanan penyadaran pemuda; pelayanan pemberdayaan pemuda; dan pelayanan pengembangan pemuda. Penjabaran lebih detail mengenai indikator Kota Layak Pemuda dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel II.2 Indikator dan Sub-Indikator Pembangunan Kota Layak Pemuda
No. Indikator Sub-Indikator
1. Pelayanan penyadaran pemuda
Perlindungan pemuda dari penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif lainnya Perlindungan pemuda dari perilaku seks bebas
Perlindungan pemuda dari HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya Perlindungan pemuda dari tindak kekerasan
Perlindungan pemuda dari radikalisme dan terorisme.
2. Pelayanan pemberdayaan pemuda
Meningkatnya partisipasi pemuda dalam pendidikan formal Meningkatnya partisipasi pemuda dalam pendidikan non formal Tumbuh kembangnya dialog kepemudaan yang inklusif Tumbuh kembangnya kreativitas dan inovasi pemuda 3. Pelayanan
pengembangan pemuda.
Tumbuh kembangnya kewirausahaan pemuda Tumbuh kembangnya kepeloporan pemuda Tumbuh kembangnya kesukarelawanan pemuda Tumbuh kembangnya organisasi kepemudaan Tumbuh kembangnya kepemimpinan pemuda
Tersedianya prasarana dan sarana kepemudaan yang dimanfaatkan secara terbuka oleh pemuda.
Sumber: Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga RI Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Pengembangan Kota Layak Pemuda (KLP)
26
2.1.3 Pembangunan Tata Kelola Pemerintahan (Good Governance)
Pemerintahan sederhananya berarti proses pengambilan keputusan dan proses oleh keputusan mana yang diterapkan (atau tidak diimplementasikan).
Pemerintahan dapat digunakan pada beberapa konteks, seperti perusahaan pemerintahan, pemerintahan internasional, pemerintahan nasional, dan pemerintahan lokal. Pemerintah adalah salah satu aktor dalam pemerintahan. Aktor-aktor lain yang terlibat dalam pemerintahan bervariasi tergantung pada tingkat pemerintahan yang sedang dibahas. Aktor-aktor pada daerah pedesaan seperti tuan tanah yang berpengaruh, asosiasi petani-petani, koperasi, LSM, lembaga penelitian, pemimpin agama, lembaga keuangan partai politik, militer, dll. Situasi di daerah perkotaan jauh lebih kompleks.
Aktor-aktor pada tingkat nasional selain aktor-aktor di atas yaitu seperti media, pelobi, donor internasional, perusahaan multi-nasional, dll dapat berperan dalam pengambilan keputusan atau dalam memengaruhi proses pengambilan keputusan. Menurut UN ESCAP (2009) good governance memiliki 8 (delapan) karakteristik utama yaitu:
1. Partisipasi oleh laki-laki dan perempuan adalah landasan utama dari tata pemerintahan yang baik. Partisipasi dapat dilakukan langsung atau melalui lembaga perantara atau perwakilan yang sah. Hal ini penting untuk dilakukan karena menunjukkan bahwa demokrasi perwakilan tidak selalu ditujukan hanya kepada kelompok orang yang rentan di masyarakat agar dapat dipertimbangkan perannya dalam proses pengambilan keputusan.
2. Berorientasi pada konsensus, artinya terdapat beberapa aktor dan banyak sudut pandang dalam masyarakat tertentu. Tata pemerintahan yang baik membutuhkan mediasi dari berbagai kepentingan dalam masyarakat untuk mencapai konsensus luas di masyarakat tentang apa yang menjadi kepentingan terbaik seluruh masyarakat dan bagaimana hal tersebut dapat dicapai. Hal tersebut membutuhkan perspektif yang luas dan jangka panjang tentang apa yang dibutuhkan untuk pembangunan manusia yang
27
berkelanjutan dan bagaimana mencapai tujuan pembangunan tersebut. Hal tersebut hanya dapat dihasilkan dari pemahaman tentang konteks historis, budaya, dan sosial dari masyarakat atau komunitas tertentu.
4. Akuntabel adalah persyaratan utama tata kelola yang baik. Tidak hanya lembaga pemerintah tetapi juga sektor swasta dan organisasi masyarakat sipil harus bertanggung jawab kepada publik dan pemangku kepentingan institusionalnya masing-masing. Siapa yang bertanggung jawab kepada siapa bervariasi tergantung pada apakah keputusan atau tindakan yang diambil adalah internal atau eksternal dari suatu organisasi atau lembaga.
Karakteristik ini tidak dapat ditegakkan tanpa transparansi dan supremasi hukum.
5. Transparan berarti keputusan yang diambil dan penegakannya dilakukan dengan cara yang mengikuti aturan dan peraturan. Ini juga berarti bahwa informasi tersedia secara bebas dan dapat diakses langsung oleh mereka yang akan terpengaruh oleh keputusan dan penegakannya. Informasi yang cukup disediakan dalam bentuk media yang mudah dimengerti.
6. Respon tata kelola yang baik, hal ini mengharuskan suatu lembaga pemerintahan harus berusaha melayani semua kepentingan dalam jangka waktu yang wajar atau responsif terhadap kebutuhan masyarakat saat ini dan masa depan.
7. Efektif dan Efisien, suatu pemerintahan seharusnya menghasilkan hasil yang memenuhi kebutuhan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dengan optimal. Konsep efisiensi dalam konteks tata kelola yang baik juga mencakup pemanfaatan berkelanjutan sumber daya alam dan perlindungan lingkungan.
8. Adil dan Inklusif, pemerintahan harus dapat menjamin kesejahteraan masyarakat secara adil dan inklusif tanpa membeda-bedakan antar golongan.
Dalam pelaksanaan pemerintahaan yang baik, maka pemerintah juga harus dapat menjamin keterlibatan kelompok yang rentan atau yang terpinggirkan.
28
Hal ini untuk mencapai tata kelola pemerintahan yang inklusif bagi semua orang
9. Mengikuti aturan hukum, hal ini berarti memastikan bahwa korupsi
9. Mengikuti aturan hukum, hal ini berarti memastikan bahwa korupsi