• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan Sumber Daya Manusia Menurut Islam

SUMBER DAYA MANUSIA (MODAL INSAN) A. Pengertian Sumber Daya Manusia

C. Pembangunan Sumber Daya Manusia Menurut Islam

Dalam Islam, pembangunan sumber daya manusia, bukanlah suatu hal yang baru, ini karena pembangunan manusia sebenarnya telah lama diperjuangkan dan menjadi tujuan dakwah Islamiah. Ini karena Islam melihat betapa pentingnya peran manusia dalam pembentukan sebuah negara. Dalam Al-Qur'an Allah swt telah menetapkan dan mendeklarasikan manusia sebagai makhluk unggul, makhuk istimewa, sebagaimana firman Allah SWT di dalam surat At-tiin (95): 4

.

)

ﻦﻴﺘﻟا

/

٩ :

(

Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia Dalam bentuk Yang sebaik-baiknya (dan berkelengkapan sesuai Dengan keadaannya)".

Dengan itu manusia dibekali berbagai potensi insani yang luar biasa, apabila dikembangkan dengan tepat atau benar akan menjadi specius manusia itu

sebagai makhluk berbudaya, berperadaban dan siap memantapkan dirinya sebagai mandataris Allah swt di bumi (khilfatullah fi al-ardl)74.Tetapi apabila pegembangan potensi manusia tersebut tidak tepat dan tidak benar, maka manusia juga dapat menjadi monster yang mengancam kedamaian dunia dan dapat menghancurkan kehidupan dibumi dengan segala kekayaan dan keindahan.

Dalam Islam pada dasarnya manusia diciptakan dalam "fithrah". Fithrah yang dibawa sejak penciptaanya itu mempunyai sifat yang cenderung religius, memiliki dasar kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki naluri menyukai kesalehan dan kebenaran. Namun dalam perjalanan hidup manusia di tengah-tengah interaksinya dengan realitas lingkungannya, seringkali fithrah manusia menghadapi gangguan, pencemaran, dan penyimpangan dari jalur kebenaran (as-shiratul mustaqim). Dan untuk memberi rujukan kepada manusia, apakah sikap dan prilakunya itu masih kosisten mengikuti jalan kebenaran atau justru sudah menyimpang diluar jalur kebenaran tersebut. Maka Allah swt menurunkan wahyu kepada para Nabi-Nya, mentapkan ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai moral, sebagai parameter sikap dan prilaku yang sesuai dengan fithrah tersebut.

Menurut Roslan Mohamed dosen jabatan Dakwah dan Pembangunan Insan Universitas Malaya, melihat pembangunan Modal Insan, bukanlah satu perkara yang baru dalam Islam, ini karena kedatangan Islam adalah pembangunan akal dan minda, jiwa, dan akhlak. Pembangunan Modal Insan harus berdasarkan kepada

74

Muhammad Tholhah Hasan, Islam & Masalah Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Lantabora Press, Cet Pertaman, 2003), h. xiv.

perubahan dan pembinaan yaitu dengan melakukan perubahan pada pola fikir, dan pembinaan iman yang kukuh. Dan menjadikan akidah dan akhlak sebagai asas bagi kehidupan manusia75.

Manusia tidak kira apa pun bangsa sekalipun, merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah swt, yang diciptakan dengan dua unsur yaitu unsur rohani dan jasmani. Untuk mengembangkan kedua unsur ini, maka Allah swt menganugerahkan kepada manusia dengan akal, sebagai unsur untuk mengembangkan dan menjaga rohani dan jasmani. Kesehatan jasmani, diperlukan untuk melaksanakan kegiatan yang memerlukan tenaga fisik, disamping juga berpengaruh besar terhadap produktivitas psikisnya terutama dalam mengambilkan keputusan yang memerlukan proses berfikir, kesehatan rohani, berupa kondisi mental yang bebas dari tekanan, rasa takut, khawatir dan cemas, ini sangat berpengaruh pada produktivitas kerja manusia, terutama bagi pekerjaan yang memerlukan kreativitas dan inisiatif76.

Oleh karena itu dalam pembangunan sumber daya manusia perspektif Islam, harus mempunyai kekuatan dari segi rohani dan jasmani, karena dua hal ini menjadi sangat penting dan besar pengaruhnyanya terhadap usaha mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.

75

Diakses pada 21 Mei pada jam 9.30 pm dari

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2007&dt=1120&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_A gama&pg=ba_01.htm

76

Ahmad Gazali, Menuju Masyarakat Industri Yang Islami, (Jakarta: PT. Nimas Multima, cet ketiga, 1997), h. 57

Menurut perspektif Islam, pembangunan Modal Insan Atau SDM tidak hanya memberikan tumpuan kepada pembangunan intelektual dan emosional, tetapi harus diimbangi dengan pembangunan spritual. Menurut Osman Bakar, PhD, pembangunan manusia menurut Islam yaitu77:

1.Kemajuam keimanan 2.Kemajuan keilmuan 3.Kemajuan akhlak 4.Amr Makruf 5.Nahi Munkar

Kelima dasar ini menjadi asas kepada pembangunan sumber daya manusia, disamping itu menurut beliau, bahwa pembangunan manusia harus sesuai dengan Maqasid al-shari'ah yang lima, yaitu:

1.menjaga agama 2.menjaga akal 3.menjaga nyawa

4.menjaga keturunan dan, 5.menjaga harta

77

Osman Bakar, "Konsep Pembangunan Insan Dalam Islam" artikel ini diakses pada 5 februari 2008, jam 7.50 pm dari http://kakiblog.com/failasuf/2007/05/19/konsep-pembangunan-insan-dalam-islam/

Dalam kehidupan, manusia memiliki dua aspek yaitu, aspek positif dan negatif. Menurut Prof. Murtaza Mutahhari78, manusia memiliki aspek-aspek positif yang ada di dalam dirinya, seperti digambarkan Al-Qur'an sebagai berikut:

1. Khalifah Allah di bumi 2. Memiliki kapasitas ilmiah

3. Didasari oleh asal kejadian fithrah yang cenderung kepada kebenaran 4. mengandungi unsur-unsur langit langit (roh) dan unsur-unsur bumi (materi) 5. Memiliki kesadaran moral, dan bertanggungjawab

6. Pada ujungnya motivasi dari tindakan dan perbuatannya tidak terhenti hanya pada tahap materi, melainkan sampai ke tahap mengusahakan keredhaan Allah

Aspek-aspek negativ meliputi: 1. Cenderung bersikap aniaya dan bodoh 2. Ingkar nikmat Allah swt

3. Tidak tahu berterima kasih 4. Anggapan diri serba cukup 5. Bersifat tergesa-gesa

6. Suka membantah dan suka berkeluh

Dengan demikian harus dibina ketetapan diri untuk memilih dan mengembangkan aspek-aspek pisitif dari kepribadian dengan dilandasi keimanan yang teguh kepada Allah swt, yang merupakan dasar kemasyarakatan yang harus

78

diletakkan sebagai suatu kesengajaan yang jelas dalam kebijakan pembangunan, terutama pada pembangunan manusia itu sendiri.

Ini sesuai dengan salah satu sesi wawasan dasar Islam adalah "Rahamtan lil 'Alamin" yaitu menjadi rahmat bagi seluruh kehidupan manusia di bumi. Oleh karena itu ajaran Islam selalu mengacu kepada unsur manusia yaitu; mendidik manusia sebagai elemen dasar masyarakat dengan kesadaran ibadah79. Sebagai upaya perwujudan manusia yang berkualitas utuh, rohani dan jasmani, manusia yang berprilaku religius.

Dalam pembinaan sumber daya manusia yang berkualitas, Islam telah menunjukan tiga dasar potensi yang dikurniakan oleh Allah swt kepada manusia yaitu: Pertama, potensi jasmani. Kedua, akal. Ketiga, qalbu80. Ketiga potensi tersebut secara utuh dan bersama-sama dijadikan sasaran dan garapan pembinaan dalam upaya meningkatkan ethis, dan kualitas manusia.

Dikalangan pemikir-pemikir Muslim, seperti Al-ghazaly dan Ibnu Qayim, secara eksplisit masalah religiusitas tadayun bininil hanif) dan moralitas (at-takholluq bil akhlaqi al-karimah) mendapat penekanan dalam pengembangan kualitas manusia81. Ini karena manusia yang dikembangkan dengan keimanan dan ketaqwaan, memberikan beberapa macam kesadaran dalam eksistensinya yaitu, apabila manusia sadar akan hakikat kehidupannya yang terbatas, maka manusia akan lebih perihatan

79

Tholhah, Masalah Sumber Daya Manusia, h. 3

80

Ibid., h. 37

81

terhadap hidupnya dengan pendayaguaan nikmat sebaik-baiknya serta mensyukuri segala nikmat yang Allah kurniakan.

Pembangunan Modal Insan tidak hanya fokus kepada keperluan negara, dalam bidang ekonomi, keuangan, keusahawanan, pedagangan, Sains, dan lain-lain. Karena ini akan berdampak kepada manusia, hanya memahami pembangunan Modal Insan terbatas kepada pengabdian kepada negara atau organisasi saja. Tanpa melihat kepada keperluan dan kepentingan masyarakat umum, dan sosial. Oleh karena itu, Aini Jaafar beranggapan bahwa pembangunan modal insan tujuannya adalah82 ;

1. Memberikan materi ilmu dan kemahiran yang memerhatikan kepada faktor tanggungjawaban dan amanah. Dalam mewujudkan ummatan wasata'

2. Menggalakan setiap masyarakat ikutsertaan dan saling membantu tidak hanya kepada perkara material saja, tapi juga kepada misi kemanusiaan.('ummatan wahidah')

3. Peranan ilmu buat masyarakat dan lingkungan Alam.

4. Ilmu sebagai wasilah menjadikan seorang itu pemimpim yang adil.

5. Peka pada perkara kebaikan dan kemunkaran. ('amar ma'ruf nahi munkar)

Dalam kaitan ini, agama dapat dijadikan sebagai faktor pendamping dan pendukung terhadap proses pembangunan. Jika pembangunan dilangsungkan atas dasar agama, maka agama sebagai nilai-nilai yang hidup berkembang di kalangan

82

Aini Jaafar, "Islam dan Modal Insan" artikel diakses pada 5 April 2008 pada jam 7.00 pm dari http://www.yadim.com.my/Sosial/SosialFull.asp?SosialID=320

masyarakat dapat difungsikan sebagai nilai instrumental (instrumental values), yakni dengan mengembangkan ektika dan moralitas keagamaan untuk dimanfatkan dalam uapaya meningkatkan kualitas manusia yang merupakan pelaku dan pelangsung pembangunan.

Ini karena agama Islam terutamanya, sangat kaya dengan nilai ektika dan moral. Secara konseptual agama membawa pradigma etika dan moral (hudan linnas) untuk keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian umat manusia (rahmatan lil 'alamin). Maka keberagaman lewat peribadatan dalam Islam mengandung makna jalan untuk mengembangkan kualitas manusia untuk mengahmpiri kualitas paripuna (insan kamil atau manusia seutuhnya)83.

Oleh karena itu untuk mencapai paripurna seorang manusia, harus mampu mengembangkan "potensi-potensi ketuhanan" dalam dirinya dengan jalan menginternalisasikan "sifat-sifat Tuhan". Dalam konteks perkembangan potensi-potensi yang mendukung lahirnya kemandirian, maka beberapa ektika keagamaan dapat ditemukan pada sifat-sifat ketuhanan, serperti nilai penciptaan atau kreativitas (al-khalik), nilai inovasi (al-mushawwir), nilai kepercayaan diri (al-qahhar), dan lain-lain84.Lalu bagaimana mau mengembangkan potensi-potensi dalam diri manusia itu, tidak lain adalah melalui pendidikan, karena tujuan, wawasan, sistem dan kelembagaan pendidikan yang dilaksanakan oleh dan untuk masyarakat untuk

83

M. Din Syamsudin, Ektika Agama dalam Membangunkan Masyarakat Madani, (Jakarta: Pt Logos Wacana Ilmu, Cet Pertaman, 2000), h. 218

84

masalah penting yang mempunyai tanggungjawab langsung terhadapt umat Islam. Ini karena terminologi pendidikan Islam berarti suatu proses yang komprehensif dan pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan, yang meliputi intelektual, spritual, emosi, dan fisik85. Ini bertujuan untuk menjadikan pribadi muslim yang baik untuk melaksanakan tujuannya sebagai hamba Allah swt dan wakil-Nya (Khalifah-Nya) di dunia. Proses ini melibatkan saluran-saluran formal maupun informal yang dapat digunakan untuk mengembangkan kualitas manusia itu.

Dalam Konfrensi Dunia tentang pendidikan Islam yang pertama di Makkah pada tahun 199786, dirumuskan beberapa rekomendasi yang terkait dengan konsep pendidikan Islam dalm menjadikan pribadi Muslim yang utuh yaitu:

1. Konsep Islam tentang manusia mempunyai keluasan dan jarak yang tidak dimiliki oleh konsep-konsep lain manapun tentang manusia. Karena manusia dalam konsep Islam dapat menjadi "khalifatullah", dengan menanmkan dan mengakutualisasikan sifat-sifat Allah swt dalam dirinya.

2. Pengetahuan adalah sumber kemajuan dan pembangunan umat manusia, oleh karenanya Islam tidak tidak meletakkan hambatan apapun terhadap upaya pencapaian pengetahuan itu.

3. Jangkauan penyampaian dan penguasaan pengetahuan ini harus seutuhnya, dalam dimensi intelektual, spritual maupun fisik, karena tanpa demikian seseorang tidak dapat mempertahankan pertumbuhan yang seimbang.

85

Tholhah, Masalah Sumber Daya Manusia, h. 128

86

4. Aspek-aspek spritual, intelektual, moral, imajinatif, emosional dan fisikal, harus tetap diperhatikan dalam membentuk interrelasi diantara disiplin-disiplin keilmuan, secara sistematis, programatis, dan berjenjang.

5. Pengembangan pribadi dilihat dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam. Karena itu, pengorganisasian disiplin ilmu dan pengaturan subyek direncanakan dengan acuan manusia sebagai individu, manusia sebagai makhluk sosial, dan manusia sebagai makhluk yang harus hidup dalam harmoni dengan alam sekitarnya.

Kelima aspek, ini merupakan bertujuan mengembangkan pertumbuhan yang seimbang, dari potensi dan kepribadian total manusia, melalui latihan spritual, intelektual, rasional diri, perasaan, dan kepekaan fisik. Oleh karena itu pendidikan Islam seharusnya menyediakan wahana dan sarana bagi perkembangan manusia dari segala aspek. Bertujuan mencapai kebaikan dan kesempurnaan, dan tujuan yang terakhir adalah perwujudan "penyerahan mutlak" manusia kepada Allah swt, pada individul, masyarakat dan kemanusian pada umumnya. Oleh karena itu pembangunan sebuah negara itu harus menghasilkan sumber daya manusia yang mampu memberikan sumbangan kepada agama, negara, dan bangsa yakni dengan miliki pribadi yang utuh, spritual, intelektual, dan moralitas yang tinggi.

Menurut Prof. Dr. Sidek Baba, beranggapan bahwa pembangunan Modal Insan yang digagaskan oleh pemerintah Malaysia sekarang yang memberikan tumpuan kepada keilmuan, intelektual, profesionalisme, tidak sempurna jika tidak memberikan tumpuan kepada sahsiah manusia itu sendiri. Dengan memberikan

tumpuan kepada pembangunan akhlak yaitu dengan menanamkan nilai-nilai yang baik, jujur, telus, amanah, adil, dan tulus pada diri sendiri87. Dalam menghasilkan manusia yang mempunyai sahsiah yang tinggi, manusia itu harus menanamkan keyakinan bahwa Allah swt melihat dan menyaksikan segala perbuatan yang dilakukannya.

Dokumen terkait