• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DIGITAL DAN

E. Pembatasan Hak Cipta

Hak Cipta pada dasarnya dibatasi kecuali dalam kaitan dengan beberapa syarat tertentu. Dibatasi berarti bahwa hak itu dikontrol atau dengan pengertian lain bahwa Hak Cipta tidak berlaku dan ciptaan bersangkutan dapat dengan bebas dieksploitasi, kecuali dalam kaitan dengan beberapa syarat tertentu yang spesifik.87 Namun dewasa ini, timbul banyak masalah akibat penggunaan ketentuan ini berdasarkan interpretasi yang sangat luas. Selain itu, belum ada pengertian yang cukup pasti mengenai perbedaan antara “kutipan” (quotation) yang secara hukum diakui, dengan “penggunaan” (use) yang memerlukan izin. Batas-batas Hak Cipta harus diartikan sebagai tidak lebih dari mengakui beberapa pengecualian dalam aturan-aturan yang ada. Penting untuk diingat bahwa tujuan akhir adalah melindungi keuntungan pemegang Hak Cipta. Juga perlu untuk dipahami bahwa hak moral pencipta, dalam hal batas-batas Hak Cipta diakui sekalipun, tidak terpengaruh, kecuali dalam hal perubahan ejaan atau istilah perlu dilakukan untuk kepentingan pendidikan.88

UUHC memuat tentang pembatasan Hak Cipta yang terkait dengan pendidikan. Hal tersebut tercantum pada Bab II UUHC Bagian Kelima. Tentang penggunaan literatur dalam mencantumkan sumber yang ditentukan, atau kewajiban

87Lihat Pasal 14 s/d Pasal 18 Undang-Undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

88Tamotsu Hozumi, Op.Cit, hal. 36

pemegang Hak Cipta yang bersangkutan untuk memberikan izin kepada pihak lain untuk menerjemahkan dan atau memperbanyak ciptaan tersebut atau dapat juga menunjuk pihak lain untuk melakukan penerjemahan / perbanyakan ciptaan tersebut.

Hal ini dilakukan terhadap ciptaan dalam ilmu bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, sastra, serta penelitian dan pengembangan.

Hak Cipta dianggap sebagai benda bergerak dilihat dari sifatnya. Oleh sebab itu Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruhnya maupun sebagian melalui pewarisan, wasiat, hibah, jual beli, perjanjian tertulis, atau sebab-sebab lain yang dapat dibenarkan. Hak Cipta tidak dapat disita kecuali jika hak itu diperoleh dengan melawan hukum. Jika suatu ciptaan terdiri atas beberapa bagian tersendiri yang diciptakan oleh dua orang atau lebih, orang yang dianggap sebagai pencipta adalah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian seluruh ciptaan itu. Jka tidak ada orang yang mengaku sebagai pencipta, maka yang dianggap sebagai pencipta adalah orang yang menghimpunnya dengan tidak mengurangi Hak Cipta masing-masing atas bagian ciptaannya itu.

Setiap pencipta atau pemegang izin Hak Cipta bebas untuk dapat menggunakan hak ciptanya, akan tetapi undang-undang menentukan pula adanya pembatasan terhadap penggunaan Hak Cipta itu. Pembatasan tersebut dimaksudkan supaya para pencipta dalam kegiatan kreatif dan inovatifnya tidak melanggar norma-norma atau asas kepatutan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, terutama di negara hukum seperti Indonesia mengingat hasil ciptaan umumnya akan dijual ke pasar (dalam dan luar negeri) untuk memperoleh

keuntungan ekonomis bagi para pencipta atau pemegang izin guna dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Oleh karena sudah ditentukan pembatasan oleh ketentuan undang-undang, maka kebebasan penggunaan Hak Cipta tidak boleh melanggar pembatasan tersebut. Apabila pembatasan tersebut dilanggar oleh pencipta dan pemegang izin Hak Cipta, maka pencipta akan memperoleh sanksi hukum.

Adapun pembatasan penggunaan Hak Cipta yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun dapat dibagi dalam tiga hal:89

a. Kesusilaan dan ketertiban umum. Keterbatasan penggunaan Hak Cipta tidak boleh melanggar pada kesusilaan dan ketertiban umun. Contoh Hak Cipta yang melanggar kesusilaan adalah penggunaan hak untuk mengumumkan atau memperbanyak kalender bergambar seseorang yang asusila yang diambil dari internet, atau pornografi, sedangkan termasuk melanggar ketertiban umum adalah memperbanyak dan menyebarkan buku yang berisi ajaran yang meresahkan masyarakat umum.

b. Fungsi sosial Hak Cipta. Kebebasan penggunaan Hak Cipta tidak boleh meniadakan/mengurangi fungsi sosial dari pada Hak Cipta. Fungsi sosial Hak Cipta adalah memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk memanfaatkan ciptaan itu guna kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan, bahan pemecahan masalah, pembelaan perkara di pengadilan, bahan ceramah dengan menyebutkan sumbernya secara lengkap.

89Teguh Sulistia & Aria Zumetti, “Perlindungan Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Cipta”, http://www.balitbang.kemhan.go.id, diakses tanggal 10 Juni 2012.

c. Pemberian lisensi wajib. Kebebasan penggunaan Hak Cipta tidak boleh meniadakan kewenangan dari negara untuk mewajibkan pencipta / pemegang Hak Cipta memberikan lisensi (compulsory licensing) kepada pihak lain untuk menerjemahkan atau memperbanyak hasil ciptaannya dengan imbalan yang wajar. Pemberian lisensi wajib didasarkan pada pertimbangan tertentu, yakni bila negara memandang perlu atau menilai suatu ciptaan sangat penting artinya bagi kehidupan masyarakat dan negara, misalnya untuk tujuan pendidikan, pengajaran, ilmu pengetahuan, penelitian, pertahanan, keamanan, dan ketertiban masyarakat yang membutuhkan pemakaian ciptaan tersebut.

Dalam Hak Cipta dikenal adanya perkecualian Hak Cipta yang berarti tidak berlakunya hak eksklusif yang diatur dalam hukum tentang Hak Cipta. Contoh perkecualian Hak Cipta adalah doktrin fair use atau fair dealing yang diterapkan pada beberapa negara yang memungkinkan perbanyakan ciptaan tanpa dianggap melanggar Hak Cipta. Berdasarkan UUHC ada beberapa hal yang dinyatakan tidak melanggar Hak Cipta yaitu dalam Pasal 14 sampai dengan Pasal 18.

Pemanfaatan suatu karya atau ciptaan tidak dianggap melanggar Hak Cipta jika sumbernya disebut / dicantumkan dengan jelas, dan hal itu untuk kegiatan yang bersifat non komersial seperti kegiatan sosial, kegiatan dalam lingkup pendidikan dan ilmu pengetahuan, selama hal itu tidak merugikan kepentingan yang wajar dari penciptanya. Kepentingan yang wajar adalah kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati manfaat ekonomi atas suatu ciptaan, misalnya

pengambilan ciptaan untuk pertunjukan atau pementasan yang tidak dikenakan bayaran.90

Perbuatan mengunduh atau download karya cipta seperti karya cipta berformat MP3 melalui media internet jika tujuannya untuk disebarluaskan atau untuk kepentingan komersial maka hal tersebut termasuk pelanggaran Hak Cipta sebagaimana diatur Pasal 72 ayat (1) UUHC. Demikian pula jika perbuatan mengunduh Hak Cipta tersebut tujuannya adalah untuk dinikmati / kepentingan sendiri, maka perbuatan tersebut juga dapat dikategorikan pelanggaran Hak Cipta apabila merugikan kepentingan ekonomi dari pencipta atau pemegang Hak Cipta. Hal ini sesuai dengan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UUHC yang menyatakan:

“Yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya. Dalam pengertian

“mengumumkan atau memperbanyak”, termasuk kegiatan menerjemahkan mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan mengkomunikasikan ciptaan kepada publik melalui sarana apa pun.”

Pembatasan penggunaan Hak Cipta bertujuan untuk memberi keseimbangan hak antara pencipta dengan kepentingan masyarakat. Penggunaan Hak Cipta oleh pencipta diharapkan akan mewujudkan pula keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.

90Haris Munandar & Sally Sitanggang, Op.Cit, hal. 18

BAB IV

PERLINDUNGAN HAK CIPTA DIGITAL DI BEBERAPA NEGARA

A. Kasus Pelanggaran Hak Cipta Digital

Berikut uraian singkat mengenai bentuk atau contoh kasus yang terjadi terkait pelanggaran Hak Cipta digital:

1. Arista Records LLC v Lime Group LLC

Lime Wire LLC di New York City sebagai pihak tergugat merupakan pengembang software berbasis LimeWire. LimeWire adalah program berbagi file pertama (file sharing program) yang mendukung transfer file yang memanfaatkan teknologi peer-to-peer, yang memungkinkan pengguna untuk berbagi file digital melalui jaringan berbasis internet yang dikenal sebagai Gnutella, yang sebagian besar adalah MP3 file yang berisi Hak Cipta rekaman audio. Ditulis dalam bahasa pemrograman Java, LimeWire dapat dijalankan di komputer manapun dengan Virtual Machine Java yang terinstall. Penggugat adalah Arista Records LLC yang memimpin tiga belas perusahaan rekaman besar di Amerika Serikat yang merupakan perusahaan rekaman yang menjual dan mendistribusikan sebagian besar dari semua rekaman musik di Amerika Serikat. Menurut laporan persidangan dalam kasus Arista Records LLC v Lime Group LLC 715 F. Supp. 2d 481 (2010) ditemukan dalam sampel acak dari file yang tersedia di LimeWire, bahwa 93% file di LimeWire dilindungi oleh Hak Cipta. File-file ini didistribusikan, diterbitkan, dan disalin oleh pengguna LimeWire tanpa otorisasi dari pemilik Hak Cipta. Penggugat menyatakan bahwa

mereka memiliki Hak Cipta atau hak eksklusif untuk lebih dari 3000 rekaman suara yang disediakan oleh LimeWire dengan cara tidak sah yang dapat di-download oleh siapa pun secara cuma-cuma.

Pada bulan Oktober tahun 2010, Pengadilan Distrik di New York, Amerika Serikat untuk Distrik Selatan New York menyatakan bahwa LimeWire dan pendirinya, Mark Gorton, telah melakukan pelanggaran Hak Cipta, terlibat dalam persaingan tidak sehat atau kompetisi yang tidak adil menggunakan aplikasi LimeWire nya, membujuk orang lain untuk melakukan pelanggaran Hak Cipta musik Arista Records. Pengadilan menetapkan terjadinya pelanggaran langsung, didukung oleh kesaksian ahli yang memperkirakan bahwa 98,8% dari file yang diminta untuk di-download melalui LimeWire adalah yang dilindungi Hak Cipta dan tidak berwenang untuk dibagikan secara gratis. Pada bulan Oktober 2010, LimeWire diperintahkan untuk menonaktifkan sistem "mencari, men-download, meng-upload, perdagangan file dan/atau fungsionalitas file distribusi" setelah kalah dalam pengadilan dengan Recording Industry Association of America atas klaim pelanggaran Hak Cipta.91 Pengadilan menyatakan bahwa pemberitahuan elektronik LimeWire yang meminta pengguna untuk menegaskan bahwa mereka tidak menggunakannya untuk pelanggaran Hak Cipta, tidak merupakan upaya yang berarti untuk mengurangi pelanggaran. Pada tahun 2006, LimeWire telah menerapkan filter hash berbasis opsional yang mampu mengidentifikasi sebuah file digital dengan

91Sharona Hakimi, “Another Win for the Record Companies in an Inducement Claim Against LimeWire”, http://jolt.law.harvard.edu/digest/software/arista-records-v-lime-group, diakses tanggal 10 Agustus 2012.

konten berhak cipta dan memblokir pengguna dari men-download file tersebut, tetapi pengadilan tidak menganggap ini alasan pembenaran. Pengadilan menemukan bukti substansial bahwa LimeWire memiliki hak dan kemampuan untuk membatasi penggunaan produk untuk melanggar hukum, termasuk dengan menerapkan filtering, menolak akses, dan dengan mengawasi dan mengatur pengguna, dan hal tersebut tidak dilakukan oleh LimeWire. Selain itu, pengadilan menemukan bahwa LimeWire memiliki kepentingan keuangan langsung dalam kegiatan melanggar, bahwa pendapatan didasarkan pada iklan dan penjualan meningkat dari LimeWire Pro.

Perintah permanen melarang LimeWire dari menyalin, mereproduksi, download, atau mendistribusikan rekaman suara, serta secara langsung atau tidak langsung memungkinkan atau membantu user untuk menggunakan sistem LimeWire untuk menyalin, mereproduksi atau mendistribusikan rekaman suara, atau menyediakan segala bentuk karya cipta.92

2. Loxtech v Thaimapguide.com

Loxtech sebagai penggugat adalah suatu perusahaan anak yang sepenuhnya dimiliki oleh Loxley Plc., yaitu suatu perusahaan telekomunikasi Thailand dan Internet Service Provider. Loxtech mendaftarkan gugatan ke Pengadilan HKI Thailand (Thailand’s Intellectual Property and Trade Court) dengan dakwaan bahwa Thaimapguide.com melakukan pembajakan mapping products yang dikembangkan oleh Loxley Technology Ltd (Loxtech). Di dalam gugatannya, Loxtech menuduh

92Arista Records LLC v Lime Group LLC,

http://en.wikipedia.org/wiki/Arista_Records_LLC_v._Lime_Group_LLC, diakses tanggal 10 Agustus 2012

bahwa Thaimapguide.com telah mencuri mapping database yang dimilikinya dan menggunakannya seperti produknya sendiri. Loxtech menuntut bahwa mereka telah mengalami kerugian ekonomis yang besarnya antara US$ 405.000 dan US$ 1 juta.

Thaimapguide.com telah menolak tuduhan tersebut. Loxtech mengemukakan bahwa perusahaan tersebut telah memproduksi digital mapping software, graphics, dan databases selama delapan tahun lamanya. Perusahaan tersebut telah memproduksi dan menjual produk digital mapping yang disebut Smart-MAP yang menyediakan peta lengkap dari kota Bangkok dengan memuat lebih dari 30.000 tempat / lokasi yang patut dikunjungi. Thaimapguide.com berpendapat bahwa perusahaannya telah mengeluarkan uang sebanyak US$ 250.000 untuk mengembangkan mapping product tersebut dan produk itu telah dikembangkan dengan menggunakan mathematically based technology, sedangkan Loxtech menggunakan image based technology.93 3. A&M Records, Inc v Napster, Inc

Napster sebagai tergugat merupakan jaringan jasa penyedia musik yang menggunakan teknologi berbagi data peer-to-peer. Teknologinya memungkinkan netter untuk berbagi lagu dalam format MP3 dengan bebas dan mudah, yang menyebabkan terjadinya pelanggaran Hak Cipta dalam kasus antara A&M Records, Inc. v Napster, Inc., 239 F.3d 1004 (2001) yang berlangsung di Pengadilan Banding 9thCircuit Amerika Serikat. Napster memfasilitasi pengiriman file MP3 di antara para penggunanya. Melalui proses yang biasa disebut "peer-to-peer" file sharing, Napster memungkinkan para pengguna untuk: (1) membuat file musik MP3 yang disimpan

93Sutan Remy Syahdeini, Op.Cit, hal. 59-60

pada hard drive komputer pribadi yang tersedia, (2) mencari file musik MP3 yang disimpan oleh pengguna Napster lain, dan (3) mentransfer isi salinan dari file MP3 pengguna lain dari satu komputer ke komputer lain melalui internet. Fungsi-fungsi ini dimungkinkan oleh software MusicShare Napster, dan tersedia gratis dari situs internet Napster. Napster juga menyediakan dukungan teknis untuk mengindeks dan mencari file MP3, serta untuk fungsi-fungsi lainnya, termasuk "chat room" di mana pengguna dapat bertemu untuk membahas musik, dan direktori di mana seniman yang berpartisipasi dapat memberikan informasi tentang musik mereka.94

Dengan file yang didapat dari Napster, pengguna mampu menghasilkan album kompilasi CD-R mereka sendiri secara gratis dan pada dasarnya tidak perlu membayar satu sen royalti pun kepada penyanyi / pencipta atau ahli warisnya.

Sementara kasus A&M Records Inc v Napster Inc bergulir, ada 18 perusahaan rekaman yang berada di bawah naungan Recording Industry Association of America yang juga menggugat Napster. Tetapi tidak sedikit pula kalangan pendukung Napster yang merasa heran karena kebebasan pertukaran file adalah salah satu ciri utama internet, dan tidak seharusnya ditujukan kepada Napster, karena Napster hanya bertindak sebagai mesin pencari (search engine). Penggugat mengklaim bahwa Napster melanggar setidaknya dua dari hak eksklusif pemegang Hak Cipta: yaitu hak reproduksi pada Pasal 106 (1) Undang-Undang Hak Cipta Amerika Serikat, dan hak distribusi pada Pasal 106 (3) Undang-Undang Hak Cipta Amerika Serikat. Napster

94A&M Records,Inc v Napster,Inc

http://www.law.cornell.edu/copyright/cases/239_F3d_1004.htm, diakses tanggal 10 Agustus 2012.

yang meng-upload nama file ke indeks pencarian bagi user lain untuk menyalin dinyatakan melanggar hak distribusi penggugat. Napster yang men-download file yang mengandung Hak Cipta dinyatakan melanggar hak reproduksi penggugat.

Pengadilan distrik menyatakan sebanyak 87% dari file yang tersedia di Napster dilindungi Hak Cipta dan lebih dari 70% dimiliki atau dikelola oleh penggugat. Pada bulan Juli 2001, hakim Pengadilan Banding Amerika Serikat telah mengeluarkan perintah agar Napster ditutup demi mengurangi pelanggaran Hak Cipta yang terjadi.

Napster setuju untuk membayar pencipta lagu dan pemilik Hak Cipta sebesar US$ 26 juta sebagai ganti rugi penggunaan musik masa lalu, dan juga sebagai bayaran muka untuk lisensi royalti masa depan sebesar US$ 10 juta. Untuk membayar denda tersebut, Napster berusaha untuk mengganti layanan gratis mereka menjadi layanan dengan pembayaran langgangan.95

4. Dodo Zakaria v Telkomsel

Musisi Dodo Zakaria sebagai penggugat dalam perkara No. 24/Hak Cipta/2007/PN.NIAGA.JKT PST. telah menandatangani suatu perjanjian tertulis dengan PT. Sony BMG Music Entertainment Indonesia (Tergugat II) bahwa Penggugat telah memberi izin kepada Tergugat II untuk melakukan segala bentuk eksploitasi Hak Cipta atas lagu yang berjudul “Di Dadaku Ada Kamu” tanpa mengabaikan hak moral dan hak ekonomi daripada Penggugat, serta tidak mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Namun dalam pelaksanaan Perjanjian Lisensi Hak Cipta Sony BMG Indonesia dan

95Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Napster, diakses tanggal 10 Agustus 2012.

Dodo tersebut, Tergugat II telah memberikan sub-lisensi kepada Telekomunikasi Seluler/Telkomsel (Tergugat I) yang menyebabkan perubahan atas materi/komposisi atas lagu “Di Dadaku Ada Kamu”. Padahal tidak ada satu klausul pun dalam perjanjian tersebut yang memberi izin kepada Tergugat II untuk memberikan sub-lisensi kepada pihak lain yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap materi dari lagu ciptaan berjudul ”Di Dadaku Ada Kamu”. Berdasarkan hal tersebut Tergugat II telah menyalahgunakan pemberian lisensi eksklusif dari pada Penggugat dengan cara memberikan sub-lisensi kepada Tergugat I untuk menggunakan penggalan lagu berjudul ”Di Dadaku Ada Kamu” sebagai Nada Sambung Pribadi dari Telkomsel.

Dengan adanya tindakan pemenggalan/pemotongan terhadap lagu berjudul “Di Dadaku Ada Kamu” ke dalam bentuk Nada Sambung Pribadi (NSP) juga telah menyebabkan sebagian dari lirik lagu tersebut menjadi terpotong. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menyatakan bahwa Tergugat I dan II telah melakukan pelanggaran atas hak moral dari Penggugat berupa tindakan pemotongan atas lagu berjudul “Di Dadaku Ada Kamu” tersebut sebagai NSP untuk tujuan komersial, memerintahkan kepada Tergugat I dan II untuk menghentikan segala bentuk penggunaan lagu ciptaan Penggugat tersebut sebagai NSP untuk tujuan komersial.

Mengacu pada ketentuan Pasal 24 ayat (2) UUHC No. 19 Tahun 2002, dijelaskan tentang tidak bolehnya suatu ciptaan diubah walaupun hak ciptanya telah diserahkan kepada pihak lain. Kecuali atas persetujuan pencipta atau ahli warisnya dalam hal si penciptanya sudah meninggal dunia. Keterbatasan teknologi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan hukum. Dalam hal ini Hak Cipta yang dipegang

Dodo Zakaria atas lagu “Di Dadaku Ada Kamu” adalah sepenuhnya untuk lagu itu.

Jadi, para tergugat tidak bisa dengan sewenang-wenang melakukan pemotongan terhadap lagu itu dengan alasan minimnya ketersediaan waktu di dalam NSP. Pada prinsipnya hak moral terdiri dari hak yang melekat pada diri pencipta yang tidak dapat dihilangkan (attribute right) dan hak untuk tidak diubah ciptaannya (integrity right). Jika dilihat pada Pasal 24 ayat (2) UUHC setiap tindakan mengambil sebagian dari sebuah lagu yang utuh tanpa persetujuan penciptanya merupakan tindakan mutilasi. Dan berdasarkan penjelasan Pasal 24 ayat (2) UUHC tindakan pemotongan/mutilasi adalah pelanggaran terhadap Hak Moral. Nada Sambung Pribadi (NSP) adalah bentuk termutakhir dari Perbanyakan seperti yang diatur dalam Pasal 1 ayat (6) UUHC. Dalam pasal tersebut Perbanyakan disebutkan sebagai penambahan jumlah sesuatu Ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau temporer. Hak untuk memperbanyak dimiliki oleh pencipta atau pemegang Hak Cipta. Meskipun dimungkinkan untuk memotong atau mengambil sebagian, seharusnya tetap meminta persetujuan pencipta karena pencipta juga memegang hak untuk memperbanyak.

B. Pengaturan Hak Cipta Dalam Aturan Internasional

Pengaturan mengenai Hak Cipta yang tertuang dalam konvensi internasional diantaranya yaitu The Bern Convention, Universal Copyright Convention, The Rome Convention, Geneva Phonogram Convention serta satu traktat mengenai Hak Cipta

dan hak terkait dengan Hak Cipta atau lazin disebut neighbouring right yaitu WIPO Performances and Phonograms Treaty.96

Indonesia saat ini baru meratifikasi The Bern Convention dan WIPO Performances and Phonograms Treaty. Sesungguhnya tidak ada kewajiban suatu negara untuk meratifikasi konvensi-konvensi internasional asalkan pengaturan mengenai HKI di negara yang bersangkutan memenuhi standar minimum yang dikehendaki oleh TRIPs. Akan tetapi adalah penting meratifikasi berbagai konvensi internasional untuk meningkatkan kerja sama timbal balik perlinduingan HKI dengan negara lain dan untuk menunjukkan adanya kemauan yang kuat untuk melindungi HKI, baik yang dimiliki negara sendiri maupun negara lain. Berikut akan diuraikan secara singkat pengaturan dalam konvensi internasional di atas:97

1. The Bern Convention

Konvensi Bern sebagai Konvensi tertua di dunia di bidang Hak Cipta telah diterima di berbagai negara dan hingga 1 Januari 1996 telah memiliki 117 negara anggota atau negara yang meratifikasinya. Teks asli Konvensi Bern telah mengalami beberapa perubahan. Perubahan tersebut diperlukan untuk menyesuaikan Konvensi tersebut dengan perkembangan keadaan khususnya perkembangan teknologi di bidang penggunaan Hak Cipta. Perubahan yang penting sehubungan dengan

96Otto Hasibuan, Op.Cit, hal. 36

97Ibid., hal. 37

kepentingan negara berkembang adalah perubahan tahun 1967 di Stockholm berkenaan dengan:98

a. Hak melakukan penerjemahan (right of translation) b. Hak melakukan reproduksi (right of reproduction).

Kedua jenis hak diatas diberikan sebagai kemudahan kepada suatu negara berkembang dan merupakan pengecualian-pengecualian terhadap ketentuan umum yang berlaku seperti diatur dalam Konvensi Bern. Keikutsertaan suatu negara sebagai anggota Konvensi Bern menimbulkan kewajiban negara peserta untuk menerapkan tiga prinsip dasar yang dianut Konvensi Bern dalam perundang-undangan nasionalnya di bidang Hak Cipta yaitu:99

a. Prinsip national treatment

yaitu ciptaan yang berasal dari salah satu negara peserta perjanjian (ciptaan seorang warga negara, negara peserta perjanjian, atau suatu ciptaan yang pertama kali diterbitkan di salah satu negara peserta perjanjian) harus mendapat perlindungan hukum hak cipta yang sama seperti diperoleh ciptaan seorang pencipta warga negara sendiri.

b. Prinsip automatic protection

yaitu pemberian perlindungan hukum harus diberikan secara langsung tanpa harus memenuhi syarat apapun.

c. Prinsip independence of protection

98Ibid., hal 39

99Ibid.

yaitu suatu perlindungan hukum diberikan tanpa harus bergantung kepada pengaturan perlindungan negara asal pencipta.

2. Universal Copyright Convention (UCC)

Universal Copyright Convention (UCC) ditandatangani pada tahun 1952 di

Universal Copyright Convention (UCC) ditandatangani pada tahun 1952 di