• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

2. Pembelajaran dan Jenis-Jenisnya

Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar aktif, yang menekankan pada penyediaaan sumber belajar. Kegiatan pembelajaran dilakuakan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar.

3. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan

kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari sesama siswa.

4. STAD (Student Teams Achievement Division)

STAD merupakan salah satu metode yang menjadi implementasi dari pembelajaran kooperatif. Metode ini dapat memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru.

5. Motivasi Belajar

Motivasi merupakan suatu kondisi dalam diri individu yang mendorong atau menggerakan individu tersebut untuk melakukan kegiatan mencapai suatu tujuan. Bagi guru mengetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar siswa. Bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga siswa terdorong untuk melakukan perbuatan belajar.

6. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia mengalami pengalaman belajarnya. Hasil belajar mencakup kemampuan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Pada penelitian ini lebih ditekankan pada hasil belajar kognitif (pengetahuan).

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat meliputi:

1. Sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kejelasan bagi sekolah mengenai penerapan pembelajaran kooperatif dengan STAD sehingga jika dipandang perlu, implementasi pembelajaran kooperatif dengan STAD bisa didayagunakan dalam pembelajaran matematika agar para siswa lebih terbantu dalam belajar.

2. Siswa

Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar ke arah yang lebih baik setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD. 3. Peneliti

Penelitiian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti sebagai seorang calon guru sehingga nantinya dapat berguna di masa yang akan datang.

9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Landasan Teori 1. Belajar a. Pengertian Belajar

Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal untuk dapat memperoleh sesuatu. Belajar dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya.

Para pakar di bidang ilmu tentang belajar juga mengemukakan berbagai variasi batasan tentang belajar, tentunya didasarkan pada pemahaman dan alirann yang mereka anut. Berikut beberapa pendapat para ahli mengenai belajar yaitu:

1) Muhibbin (2006) berpendapat bahwa belajar merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

2) Morgan dalam Introduction to Psychology (1978) berpendapat bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari latihan.

3) Menurut Winkel, belajar adalah proses mental yang mengarah pada penguasaan pengetahuan, kecakapan skill, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilakukan sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif dan adaptif.

4) Mudzakir (1997) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan keterampilan dan sebagainya.

Berdasarkan berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses menuju perubahan yang bersifat menetap atau permanen melalui proses latihan dalam interaksi dengan lingkungan dan meliputi perubahan baik fisik maupun mental.

b. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Belajar

Faktor-faktor yang memengaruhi seseorang dalam belajar dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang sedangkan faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang berasal dari lingkungan luar dan dapat memengaruhi seseorang dalam proses belajarnya. Faktor eksternal dibedakan menjadi tiga yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.

1) Faktor keluarga, mencakup cara orang tua mendidik, relasi antara angota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, dan latar belakang kebudayaan.

2) Faktor sekolah, mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.

3) Faktor guru, mencakup metode mengajar guru, karakter, dan gaya mengajar guru yang sesuai dengan budaya daerah. Selain itu, dalam relasi (guru dengan siswa) yang baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikan sehingga siswa berusaha mempelajarinya sebaik-baiknya. Hal tersebut juga terjadi sebaliknya, jika siswa membenci gurunya, maka ia segan mempelajari mata pelajaran yang diberikannya, akibatnya pelajarannya tidak maju. Proses belajar di sekolah akan berhubungan erat dengan pembelajaran. Penerapan beberapa teori belajar dapat memberikan banyak manfaat baik itu bagi pendidik, bagi peserta didik dan bagi proses pembelajaran. Proses belajar merupakan jalan baru yang ditempuh oleh seseorang untuk mengerti suatu hal yang sebelumnya tidak diketahui atau diketahui tetapi belum menyeluruh tentang suatu hal. Melalui belajar seseorang dapat meningkatkan kualitas dan kemampuan seperti yang dikemukakan sebelumnya. Apabila di dalam proses belajar seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, maka dapat dikatakan orang tersebut sebenarnya belum mengalami proses belajar.

Tanggung jawab belajar berada pada diri siswa, tetapi guru bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong motivasi dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. Proses belajar memerlukan metode yang tepat. Penggunaan metode belajar yang tepat sangat penting bagi guru dan siswa, karena dengan metode belajar yang tepat akan memungkinkan seorang siswa menguasai ilmu yang lebih mudah dan lebih cepat sesuai dengan tenaga dan pikiran yang dikeluarkan. 2. Pembelajaran dan Jenis-Jenisnya

a. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar aktif, yang menekankan pada penyediaaan sumber belajar (Dimyati dan Mudjiono 1999: 297). Komunitas evaluasi UNEP (United Nations Environment Programme) mendefinisikan hikmah pembelajaran sebagai simpulan umum yang berpangkal dari evaluasi terhadap pengalaman-pengalaman dalam proyek, program, atau kebijakan yang diabstraksikan dari suatu kondisi spesifik menuju kondisi yang lebih luas. Dalam kaitan untuk menggapai hikmah pembelajaran itu ada suatu tahapan yang harus dilalui siswa yang terdiri dari learn (belajar), unlearn, relearn. Unlearn didefinisikan sebagai mencoba melupakan atau membuang suatu ingatan atau pengetahuan, membuang sesuatu yang semula dipelajari, seperti kebiasaan lama, dan tidak perlu lagi memikirkannya. Relearn didefinisikan sebagai kembali mempelajari sesuatu.

Tujuan pembelajaran adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.

Kegiatan pembelajaran dilakuakan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar. Kegiatan pembelajaran, dalam implementasinya mengenal banyak istilah untuk menggambarkan cara mengajar yang akan dilakukan oleh guru. Saat ini, begitu banyak model ataupun metode pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menjadi lebih baik.

Model merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran, teori-teori psikologis, soiologis, analisis sistem, atau teori-teori lain yang mendukung (Joyce dan Weil: 1980). Joyce dan Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Terdapat beberapa macam model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar, diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), 2) Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning),

3) Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), 4) Model Pembelajaran Tematik, dan

5) Model Pembelajaran Berbasis Komputer.

Pada penelitian ini, model pembelajaran yang digunakan oleh peneliti adalah model pembelajaran kooeperatif.

b. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Sugiyanto 2010: 37). Bentuk pembelajaran dilaksanakan dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Model pembelajaran kelompok ini adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Sanjaya 2006: 239). Dalam sistem belajar kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya. Dalam model ini juga siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri serta membantu sesama anggota kelompok untuk belajar. Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan

antar guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru (multi way traffic comunication).

Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling mengajarkan sesama siswa lainnya. Terdapat empat hal penting dalam model pembelajaran kooperatif, yakni: (1) adanya peserta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main (role) dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai dalam kelompok. Berkenaan dengan pengelompokan siswa dapat ditentukan berdasarkan atas: (1) minat dan bakat siswa, (2) latar belakang kemampuan siswa, (3) perpaduan antara minat dan bakat siswa dan latar belakang kemampuan siswa.

Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan ini akan memberi siswa bentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Guru menjadwalkan waktu bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama lebih efektif. Penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat

meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain.

Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 2.1 Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif

Tahap Proses Pelaksanaan Pembelajaran

Tahap 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pelajaran dan menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi siswa belajar. Tahap 2

Menyajikan infomasi

Guru menyajikan informasi atau materi kepada siswa dengan demonstrasi atau melalui bahan bacaan.

Tahap 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membimbing setiap kelompok agar melakukan transisi secara efektif dan efisien. Tahap 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Tahap 5 Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempersentasikan hasil kerjanya.

Tahap 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Model pembelajaran kooperatif dalam pelaksanaan belajar mengajar dapat diterapkan melalui metode pembelajaran. Berikut ini disajikan beberapa metode dalam pembelajaran kooperatif antara lain:

1) Metode STAD (Student Teams Achievement Divisions) 2) Metode Jigsaw

3) Metode G (group investigation)

4) Metode TGT (Teams Games Tournaments) 5) Metode Struktural, yang terdiri atas:

a) Mencari pasangan (make a match) b) Bertukar pasangan

c) Berkirim salam dan soal

d) Bercerita berpasangan (paired-storry telling) e) Dua tinggal dua tamu (two stay two stay) f) Keliling kelompok

g) TQ (team quiz)

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan implementasi dari pembelajaran kooperatif tipe STAD.

c. STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Metode STAD dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pembagian pencapaian tim siswa dikembangkan oleh Robert Salvin dan kawan-kawan dari universitas Jhon Hopkins. STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru

menggunakan pendekataan kooperatif. STAD menggunakan kuis-kuis individual pada tiap akhir pelajaran.

Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang memiliki beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajaran dan siswa di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bisa menguasai pelajaran tersebut. Pada akhir pembelajaran semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut, dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu satu sama lain. Nilai-nilai hasil kuis siswa diperbandingkan dengan nilai rata-rata mereka sendiri yang diperoleh sebelumnya, dan nilai-nilai tersebut diberi hadiah berdasarkan pada seberapa tinggi peningkatan yang bisa mereka capai atau seberapa tinggi nilai itu melampaui nilai mereka sebelumnya. Nilai-nilai ini kemudian dijumlah untuk mendapat nilai kelompok, dan kelompok yang dapat mencapai kriteria tertentu bisa mendapat hadiah.

Salvin memaparkan bahwa, “gagasan utama di belakang STAD adalah memicu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru.” Mereka harus mendorong teman sekelompok untuk melakukan yang terbaik, memperlihatkan norma-norma bahwa belajar itu penting, berharga dan menyenangkan. Para siswa akan bekerja sama, bertukar pikiran, mendiskusikan ketidaksamaan, dan saling membantu satu sama lain,

mereka bisa mendikusikan pendekatan-pendekatan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam pembelajaran.

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut:

1) Penyampaian tujuan dan motivasi

Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.

2) Pembagian kelompok

Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik, gender, jenis kelamin, rasa atau etnik. Dalam pelaksanaan penelitian ini lebih memprioitaskan pada prestasi akademik siswa. Dimana siswa akan dibagi kedalam kelompok sesuai dengan kemampuan intelektualnya yang diketahui melalui tes awal dan informasi dari guru mata pelajaran.

3) Guru menjelaskan materi yang dipelajari

Guru menyampaikan dan menjelaskan materi pelajaran yang hendak dipelajari. Di dalam proses pembelajaran ini guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya. Dalam penelitian ini, untuk menyampaikan materi pembelajaran guru

dibantu oleh media yang berupa alat peraga dan LKS. Alat peraga yang diberikan berupa alat peraga garis bilangan untuk menyelesaikan dan memahami konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan. a) Alat peraga garis bilangan

Menurut Baharim Shamsudin (2007: 42) garis bilangan adalah garis lurus yang ditandai dengan sejumlah titik, jarak dari satu titik ke titik lainnya sama panjang. Pada setiap titik tertulis satu bilangan, bilangan-bilangan itu merupakan rangkaian bilangan berurutan dari bilangan bulat negatif terkecil di sebelah kiri nol sampai dengan bilangan bulat terbesar di sebelah kanan nol. Cara pembuatan alat peraga garis bilangan adalah sebagai berikut:

 Batang model garis bilangan dibuat dari kayu berbentuk balok dengan ukuran panjang 150 cm – 200 cm, lebar dan tingginya 10-15 cm. Setiap titik bilangan bulat berupa lubang-lubang. Gambar garis bilangan bulat dan angka-angka dapat dibuat dari cat.  Penunjuk bilangannya dapat dibuat dari kayu atau bahan lain.

Benda yang dipilih merupakan tiruan benda (hidup atau mati) yang bisa bergerak maju dan mundur.

Dalam mendemonstrasikan penjumlahan dua bilangan bulat prinsip pengoperasiannya, yaitu operasi penjumlahan boneka selalu maju mengikuti nilai bilangan bulat yang dioperasikan. Apabila bilangan yang dioperasikan berupa bilangan bulat positif, maka boneka menghadap bilangan-bilangan bulat positif. Apabila bilangan

bulat negatif, maka boneka menghadap bilangan-bilangan bulat negatif. Sedangkan untuk mendemonstrasikan pengurangan dua bilangan bulat prinsip pengoperasiannya, yaitu perpindahan boneka selalu mundur mengikuti nilai bilangan bulat yang dioperasikan. Apabila bilangan yang dioperasikan berupa bilangan bulat positif, maka boneka menghadap bilangan-bilangan bulat positif. Apabila bilangan bulat negatif, maka boneka menghadap bilangan-bilangan bulat negatif. Alat peraga yang digunakan dalam penelitian ini dimulai dari sampai 10.

b) Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Trianto (2008: 148) mendefinisikan bahwa LKS adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan pemecahan masalah. Tujuan lembar kerja siswa menurut Achmadi (1996: 35) adalah:

 Mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran

 Membantu siswa dalam mengembangkan konsep

 Melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan keterampilan proses

 Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses kegiatan pembelajaran

 Membantu siswa dalam memperoleh catatan materi yang dipelajari melalui kegiatan pembelajaran

4) Kegiatan belajar dalam tim (kerja tim)

Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembar kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberi kontribusi. Siswa yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada siswa lain sampai semua siswa dalam kelompok itu mengerti. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.

5) Evaluasi

Siswa dalam kelompok ditunjuk dan diberikan kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya tersebut. Kelompok yang tidak mempersentasikan hasil diskusi kelompok diberikan kesempatan untuk bertanya.

6) Kuis

Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari. Siswa diberikan kuis secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru dapat menetapkan standar ketuntasan yang harus dicapai oleh masing-masing siswa dalam pelaksanaan kuis. Standar ketuntasan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah 70. Standar ketuntasan belajar yang

digunakan ini disesuaikan dengan standar ketuntasan yang berlaku di SMP Katolik Santo Hubertus Yohanes Laja.

7) Penghargaan prestasi tim

Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0-100. Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:

a) Menghitung skor individu

Menurut Salvin (Trianto, 2007:55), untuk menghitung perkembangan skor individu dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.2 Perhitungan Perkembangan Skor Individu

No Nilai Tes Skor Individu

1. 2. 3. 4. 5 poin 10 poin 20 poin 30 poin

Keterangan : N = Nilai yang diperoleh siswa b) Menghitung skor kelompok

Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor perkembangan individu anggota kelompok dan membagi sejumlah anggota kelompok tersebut. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh skor kelompok seperti yang ditunjukan pada tabel berikut.

Tabel 2.3 Perhitungan Perkembangan Skor Kelompok No Rata-Rata Skor Setiap

Kelompok Kualifikasi 1. 2.

Dokumen terkait