Dalam bagian ini akan dipaparkan pembelajaran yang didapatkan dari penanganan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.
1. Komunikasi publik
Seperti telah disebutkan dalam bagian-bagian sebelumnya, kampanye memegang peranan penting karena masih adanya hambatan dalam institusi peradilan. Tetapi strategi penggunaan media massa dan media sosial dapat memiliki sisi negatif sehingga perlu dikelola dengan baik. Misalnya sempat terjadinya pertengkaran diantara kuasa hukum pelaku dengan pendamping di media sosial. Ke depan perlu lebih strategis dalam menanggapi pancingan pihak pelaku.
Komunikasi publik yang tidak dihitung dengan baik juga dapat membawa dampak kepada korban. Misal dalam sebuah kasus korban mendapatkan bully, stretotype dan disalahkan akibat komunikasi (chat) yang dilakukan dengan pelaku. Padahal komunikasi itu dilakukan oleh teman korban yang ingin menjebak pelaku. Pemberitaan media yang sangat ramai juga ternyata membuat korban merasa tidak nyaman dan kuatir terbuka identitasnya. Apalagi dalam kasus dimana terjadi pro kontra, korban merasa dipojokkan
hasil yang positif bagi penyelesaian kasus.
Pembelajaran penting lain adalah perlunya komunikasi kepada publik dalam berbagai bentuk untuk memberikan pemahaman dan perspektif agar publik berempati dan tidak menyalahkan korban. Hal ini perlu dilakukan mulai level-level terkecil di lingkaran diskusi kampus, keluarga hingga masyarakat luas.
Selain itu untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan khususnya kekerasan seksual perlu penyebaran pemahaman terkait consent. Hal ini karena kasus kekerasan seksual seringkali berawal dari penyalahgunaan kesepakatan atau consent.
2. Pemaknaan Kembali aturan hukum untuk pendayagunaan UU yang ada
Sebagamana kesepakatan masyarakat sipil, saat ini penggunaan UU ITE diminimalisir. Tetapi teryata dalam kasus-kasus KBGO UU ITE ini dapat menjadi jalan keluar bagi korban meskipun tetap terbatas. Oleh karena itu perlu pemaknaan ulang terhadap penggunaan UU ITE karena misalnya pada kasus Revenge Porn/Non Consensual Intimate, sulit sekali mencari aturan hukum yang bisa dijadikan cantolan hukum untuk kasus KBGO. Padahal dampak kasus ini membuat korban KBGO menderita luar biasa karena konten pribadinya tersebar dan terjadi perundungan serta stigma kepada korban. Akhirnya demi kepentingan korban dalam salah satu kasus akhirnya harus menggunakan UU ITE sebagai dasar laporan.
3. Prasyarat Pendamping/Kuasa Hukum
Sebagian besar korban kekerasan terhadap perempuan menginginkan penerima konsultasi/pendamping adalah perempuan. Oleh karena itu cukupnya ketersediaan PBH perempuan salah satu prasyarat penting penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan.
Selain itu penting adanya pemahaman yang merata terkait perspektif gender diantara PBH. Karena dalam kasus-kasus tertentu seperti berulangnya perkosaan, perbedaan perspektif dapat berujung pada perbedaan menganalisis kasus sehingga dapat merugikan korban.
Hal yang juga sangat penting adalah berempati dan belajar menjadi bagian dari korban. Menggali persoalan dengan sabar dan berusaha agar tidak mengeluarkan kata-kata yang menyinggung korban dan tetap meluangkan waktu untuk mendengarkan saat dibutuhkan sehingga dapat dipercaya korban. Hal ini karena trauma healing secara berkesinambungan merupakan hal pokok yang dibutuhkan korban.
cenderung sangat intens sehingga menghabiskan energi, kolaborasi ide, pemikiran, perspektif dan kapasitas membuat analisis kasus menjadi lebih berwarna dan tajam. Selain itu strategi melibatkan semua Advokat yang di organisasi untuk menandatangani Surat Kuasa cukup berhasil karena kasus-kasus ini cenderung ditolak atau diabaikan. Dalam pengalaman selama ini, banyaknya kuasa hukum membuat penyidik merasa diawasi sehingga mereka cenderung lebih hati-hati dalam bersikap.
4. Strategi khusus dalam melaporkan kasus KtP
Berdasarkan pengalaman melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan perlu sebuah strategi khusus. Hal paling penting adalah korban sebaiknya mendapatkan layanan konseling sebelum membuat laporan pidana. Hal ini bisa dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga layanan ataupun psikolog pada kantor P2TP2A. Hal ini penting untuk mengetahui kondisi psikis korban dan menguatkan mental korban untuk menempuh upaya hukum atas kasusnya.
Pendampingan hukum jelas penting serta sangat dibutuhkan karena banyak laporan ditolak atau dipersulit ketika korban datang sendiri atau hanya bersama keluarganya. Ketika saat membuat laporan ataupun diperiksa aparat kepolisian dalam kasus tersebut adalah laki-laki dan menyebabkan korban tidak nyaman untuk memberikan keterangan secara detail atas kasus yang sedang dihadapinya kita perlu meminta agar polisi tersebut diganti menjadi polwan.
Laporan/pengaduan secara tertulis perlu dipertimbangkan. Hal ini untuk mengantisipasi seringnya laporan korban menolak dengan alasan tidak memenuhi unsur pidana atau kurangnya alat bukti kemudian meminta korban untuk melengkapi bukti. Pengaduan secara tertulis akan membuat polisi berhati-hati untuk mudah menolak karena sudah terdokumentasi. Apalagi jika surat tersebut ditembuskan kepada pihak-pihak terkait seperti Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Komnas HAM RI, Komisi Kepolisian Nasional, Inspektur Pengawasan Umum Polri, Kapolda, Inspektur Pengawasan Daerah Polda, Kabid Propam Polda, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Laporan dan proses hukum selanjutnya perlu dijadikan sarana untuk memberikan perspektif keberpihakan akan hak-hak korban kepada aparat penegak hukum. Hal ini harus dilakukan karena aparat penegak hukum cendrung menyalahkan korban.
misalnya rumah aman yang saat ini dirasakan sangat kurang.
Saat ini banyak yang beranggapan bahwa upaya hukum adalah satu-satunya hal bagi korban. Padahal dengan konstruksi hukum saat ini, yang tidak berorientasi pada pemulihan korban, upaya hukum seharusnya menjadi pilihan terakhir setelah korban siap dan tahu resiko serta memahami proses hukum secara keseluruhan.
Selain itu penyelesaian hukum secara formal bukanlah satu-satunya upaya keadilan bagi korban. Upaya hukum dapat menjadi satu alternatif upaya advokasi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan. Tetapi seringkali proses pidana dalam kasus ini khususnya kekerasan seksual tidak berjalan maksimal. Sehingga tidak adanya pidana bagi pelaku kekerasan seksual atau bahkan tidak adanya pelaku bukan berarti tidak adanya kasus kekerasan seksual itu sendiri. Hukum bukanlah satu-satunya alat untuk membuktikan bahwa seseorang telah melakukan tindakan kekerasan seksual dan tidak adanya pelaku juga bukan bukti tidak adanya peristiwa kekerasan terhadap perempuan.