Bagian ini akan memaparkan berbagai capaian yang didapatkan dari penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. Capaian ini tentu bukanlah capaian LBH-YLBHI tetapi jejaring bahkan korban dan keluarganya. Capaian penanganan kasus ini akan kami bagi menjadi di ranah kebijakan serta struktur, jejaring masyarakat, korban, proses hukum dan manajemen pengetahuan.
Kebijakan dan Struktur Hukum
Capaian pada ranah kebijakan adalah penanganan-penangan kasus tersebut berhasil mendorong adanya perubahan. Di Palangka Raya penanganan kasus kekerasan seksual berhasil mendorong adanya sistem pencegahan tindakan kekerasaan seksual berupa Surat Edaran Rektor Universitas Palangka Raya No.1900UN24/KP/UPR tentang pencegahan dan penanganan pelecehan seksual di lingkungan Universitas Palangka Raya. Selain itu di Aceh penanganan kasus ini berhasil mendorong pemerintah Aceh untuk membentuk tim evaluasi terhadap penerapan perda Syariah yang berkaitan dengan pengaturan hukum untuk kasus kekerasan seksual.
Di wilayah struktur ruang-ruang menjadi terbuka khususnya lembaga pendidikan. Keterbukaan ini misal terjadi di Universitas Negeri Padang. Awalnya kampus memaksa untuk penyelesaian kekeluargaan dengan melakukan intimidasi kepada keluarga korban. Akhirnya dialog dapat terjadi dengan kampus untuk menyelesaikan kasus secara hukum. Selain itu setelah masifnya pemberitaan terlihat banyak sekali institusi pendidikan yang mulai membuka diri terhadap diskusi-diskusi terkait kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Dampak lainnya adalah adanya evaluasi lembaga-lembaga pemerintah yang fokus pada perlindungan perempuan dan anak. P2TP2A di Lampung Timur bahkan dibekukan. Proses Hukum
Capaian dalam proses hukum adalah meskipun pada umumnya berjalan lambat proses hukum berjalan. Hal ini penting karena selama ini kasus-kasus kekerasan seksual sedikit yang dapat berlanjut proses hukumnya. Proses hukum ini mulai dalam tahap penyidikan hingga kasus-kasus dimana pelaku telah dihukum. Terdapat kasus-kasus dimana awalnya berhenti setelah pelaporan korban tetapi dengan pendampingan berlanjut hingga penyidikan, penuntutan bahkan pemidanaan pelaku. Hal ini dilakukan antara lain dengan terus mendesak penyidik dan mengawal secara konsisten kasus dengan menjaga komunikasi dengan penyidik. Koordinasi antara penasihat hukum dengan penuntut umum juga dilakukan saat proses persidangan agar saat pemeriksaan di persidangan saksi korban dapat diberikan perlindungan terhadap kondisi psikis dan mentalnya.
Koordinasi ini juga diperlukan sehingga penasihat hukum dapat menghadirkan saksi-saksi yang memberatkan terdakwa melalui penuntut umum.
Capaian yang lebih khusus dalam proses hukum adalah berlanjutnya kasus KBGO. Satu kasus penyebar konten pribadi (non consensual intimate image) diterima dan diproses oleh Kepolisian. Satu kasus lain bahkan berhasil masuk sampai proses pengadilan dengan tuntutan pidana yang besar
Juga terdapat kasus kekerasan seksual dengan pelaku seorang aparat penegak hukum yang dilimpahkan ke Kejaksaan. Juga terdapat kasus begitu pelaku dilaporkan ia langusng menghentikan perbuatannya dan mengaku tidak akan mengulangi perbuatannya. Meskipun pernyataan mengenai tidak akan mengulangi perbuatannya belum tentu benar tetapi bagi korban setidaknya ada dampak dari laporan karena pelaku menghentikan perbuatannya.
Selain hukuman pidana capaian lain adalah adanya sanksi dari institusi pelaku. Seorang pelaku dikeluarkan dari kampus padahal sebelumnya ia menduduki jabatan akademik. Dalam kasus lain saat pelaku kekerasan seksual adalah anak ia diperlakukan seperti tahanan dewasa, ditempatkan pada sel tahanan dewasa. Padahal dalam skema perlindungan anak ia juga adalah korban. Setelah melalui advokasi akhirnya ia dititipkan di Dinas Sosial Kota. Selain itu hak-haknya untuk bersekolah secara online juga dipenuhi. Capaian lain dalam proses hukum adalah menjangkau dan mendapatkan perlindungan fisik dan bantuan pembiayaan psikologis bagi korban dari LPSK. Selain itu advokasi juga mendayagunakan komisi-komisi negara seperti Komisi Yudisial untuk pengaduan hakim yang melanggar Perma No. 3 Tahun 2017, Komisi Kejaksaan dan Jaksa Muda Pengawasan untuk pengaduan Jaksa yang melakukan diskriminasi terhadap perempuan, serta lembaga-lembaga pengawas profesi, etik, dan disiplin lainnya.
Korban
Capaian paling penting adalah mengenai korban. Meskipun korban mungkin tidak dapat pulih seperti sebelum peristiwa kekerasan yang menimpanya tetapi ditemukan perubahan korban menjadi lebih baik. Indikasi dari hal ini adalah ada korban yang selama ini takut melapor menjadi berani untuk melaporkan kasusnya. Korban juga menjadi lebih kuat untuk memproses kasusnya padahal banyak kasus sebelumnya
menunjang pendampingan hukum. Korban pastinya memperoleh bantuan hukum sehingga memahami hak-haknya sebagai korban. Pemulihan ini juga berasal dari beragama pihak seperti di Sumatera Barat di mana keluarga korban mendapatkan bantuan materil dan immateril dari Pemerintahan Nagari beserta orang rantau.
Pemberitaan
Penanganan kasus kekerasan seksual memiliki dua sisi yang dapat saling berbenturan dalam hal kampanye. Dalam keterbatasan hukum dan komitmen berbagai institusi kampanye sangat dibutuhkan sebagai tekanan. Tetapi di sisi lain kerahasiaan dan privasi korban serta keluarganya harus dijaga.
Penanganan kasus menunjukkan kampanye telah dapat mendorong banyak media untuk meliput bahkan media mainstream. Selain itu modus-modus kekerasan seksual juga menjadi pembicaraan luas di media sosial. Kampanye ini juga telah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mempublikasikan identitas personal korban.
Dampak lain dari pemberitaan ini adalah lebih mudah menggalang dana dari publik. Dana ini digunakan untuk untuk proses pengobatan korban dan pembiayaan penanganan kasus seperti transportasi korban dan konsumsi korban.
Jejaring
Kasus-kasus ini nyaris seluruhnya dilakukan secara bersama di dalam jaringan. Banyak juga jaringan advokasi terbangun karena penanganan kasus ini, misal di Aceh. Jaringan-jaringan ini juga berhasil melibatkan beragam anggota seperti di Palangkaraya dimana terbentuk Koalisi Anti Kekerasaan Seksual yang terdiri dari berbagai macam organisasi masyarakat sipil, dosen, mahasiswa dan masyarakat umum. Koalisi ini sangat efektif untuk menjadi gerakan bersama dalam pendampingan kasus-kasus kekerasaan seksual yang terjadi di Kota Palangka Raya khususnya pada kasus kekerasaan seksual di lingkungan Universitas Palangka Raya.
Artinya masyarakat sipil terhubung dengan lebih banyak jaringan serta memperoleh pembelajaran baru dalam advokasi. Jejaring ini juga efektif melakukan tekanan kepada pemerintah dan penegak hukum agar memberikan perlindungan kepada korban.
Pendamping
Salah satu capaian penting adalah mendapatkan kepercayaan korban. Berdasarkan pengalaman penanganan kasus kekerasan seksual selama ini tidak mudah mendapatkan kepercayaan korban. Keterlibatan penuh PBH Perempuan dalam menangani kasus membuat klien lebih merasa aman dan nyaman untuk bercerita.
Pendekatan diluar penyelesaian formal kasus pun juga dilakukan oleh PBH misalnya menyediakan waktu diluar jam kantor untuk mendengarkan korban bercerita/berkeluh kesah. Hal ini diyakini bisa menjadi support system untuk korban pasca trauma yang telah dihadapinya. Seorang korban misalnya mengaku menemukan “rumah” dan tempat yang nyaman untuk bercerita.
Manajemen Pengetahuan
Salah satu hasil dari penanganan kasus adalah lahirnya pengetahuan berupa panduan penanganan juga pemetaaan kasus-kasus kekerasan seksual. Dengan demikian advokasi akan terus meningkat karena penanganan berikutnya tidak perlu mulai dari awal dan dapat belajar dari kasus sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari dokumentasi sejak awal mulai data korban, proses hukum hingga kondisi korban.
Kasus-kasus dan perjalanan advokasinya juga melintasi beragam ruang seperti dijadikan studi kasus di kampus.