• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PEMANTAUAN TAHUN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PEMANTAUAN TAHUN 2020"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PEMANTAUAN

KASUS KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

TAHUN 2020

Oleh

YLBHI & 17 LBH Se Indonesia

(LBH Banda Aceh, LBH Medan, LBH Padang, LBH Pekanbaru, LBH

Palembang, LBH Bandar Lampung, LBH Jakarta, LBH Bandung, LBH

Semarang, LBH Yogyakarta, LBH Surabaya, LBH Bali, LBH Palangkaraya,

(2)

LAPORAN PEMANTAUAN

KASUS KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

TAHUN 2020

Penulis Asfinawati Muhamad Isnur

Fahmi Muhammad Ahmadi

Peneliti

Aryo Nugroho Waluyo, Bernard Marbun, Citra Patricia Tangkudung, Eti Oktaviani, Hamdi Fadli, Hani Nur Syifa, Hendi Gusta Rianda, Indira Suryani, Kartini Sari Handayani, Maswan Tambak, Meila Nurul Fajriah, Naufal Sebastian, Ni Kadek Vany Primaliraning, Novita Nichilia T.Opki, Oky Wiratama, Ressy Tri Mulyani, Rezky Pratiwi, Syahrul

Diterbitkan oleh :

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jl Diponegoro No. 74, Jakarta, 10320

Dengan Dukungan

(3)

Kata Pengantar Oleh

Asfinawati, SH

Ketua Umum Pengurus YLBHI

Kekerasan terhadap perempuan adalah salah satu masalah hukum yang paling terabaikan. Sistem hukum jelas tidak berpihak kepada perempuan. Bahkan aturan hukum masih banyak memiliki kekosongan sehingga berbagai peristiwa kekerasan terhadap perempuan tidak memiliki nama dalam undang-undang. Jika peristiwa tersebut tidak dikenal maka apalagi memberikan keadilan bagi korban. Pertanyaan kita adalah memiliki aturan hukum yang melindungi perempuan termasuk mengubah sistem hukum adalah suatu pilihan bagi negara ini? Dalam arti bisa dilakukan bisa tidak tergantung pada kehendak mayoritas pembuat hukum?

Indonesia sebenarnya sudah memberikan komitmen untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan dengan menjadikan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) menjadi hukum Indonesia dengan UU 7/1984. Pasal 2 Konvensi ini mengatur langkah kebijakan untuk menghapus diskriminasi yang harus dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

a) Mencantumkan azas persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam Undang-Undang Dasar Nasional mereka atau perundang-undangan yang tepat lainnya jika belum termasuk di dalamnya, dan untuk menjamin realisasi praktis dari azas ini, melalui hukum dan cara-cara lain yang tepat;

b) Membuat peraturan perundang-undangan yang tepat dan peraturan-peraturan lainnya termasuk sanksi-sanksinya di mana perlu, melarang semua diskriminasi terhadap perempuan;

c) Menegakkan perlindungan hukum terhadap hak-hak perempuan atas dasar yang sama dengan kaum laki-laki dan untuk menjamin melalui pengadilan nasional yang kompeten dan badan-badan pemerintah lainnya, perlindungan kaum perempuan yang efektif terhadap segala tindakan diskriminasi;

d) Tidak melakukan suatu tindakan atau praktek diskriminasi terhadap perempuan, dan untuk menjamin bahwa pejabat-pejabat pemerintah dan lembaga-lembaga negara bertindak sesuai dengan kewajiban tersebut;

e) Membuat peraturan-peraturan yang tepat, termasuk pembuatan undang-undang, untuk mengubah dan menghapuskan undangundang, peraturan-peraturan, kebiasaan-kebiasaan dan praktekpraktek yang diskriminatif terhadap perempuan; f) Mencabut semua ketentuan pidana yang diskriminatif terhadap perempuan.

(4)

stigma oleh penegak hukum masih menjadi gejala umum. Padahal sudah 30 tahun lebih CEDAW diratifikasi oleh Indonesia.

Penelitian ini karenanya dapat menjadi salah satu bahan untuk perbaikan kebijakan baik hukum materil maupun formil. Jelas sekali undang-undang yang ada tidak memadai. Baik dari segi pemidanaan bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan khususnya kekerasan seksual, penegakan hukum maupun pemulihan korban secara keseluruhan. Saat ini proses hukum saja masih sangat bermasalah karena menimbulkan viktimisasi bagi korban, apalagi hal lainnya karena sesungguhnya proses hukum hanya sebagian kecil dari penanganan kepada korban. Oleh karena itu adanya suatu RUU untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan khususnya kekerasan seksual menjadi sangat penting.

(5)

A. PENDAHULUAN

YLBHI bersama 17 LBH Se Indonesia (LBH Banda Aceh, LBH Medan, LBH Padang, LBH Pekanbaru, LBH Palembang, LBH Bandar Lampung, LBH Jakarta, LBH Bandung, LBH Semarang, LBH Yogyakarta, LBH Surabaya, LBH Bali, LBH Palangkaraya, LBH Samarinda, LBH Makassar, LBH Manado, dan LBH Papua) merilis kertas posisi terkait Darurat Kekerasan Seksual Di Indonesia pada bulan Juli 2020. Kertas Posisi tersebut mempotret bahwa kekerasan seksual terjadi dimana-mana dan menimpa siapa saja. Ditengah tingginya angka-angka tersebut, diiringi dengan penanganan kasus layaknya benang kusut yang terurai dengan baik, mulai dari Impunitas/kekebalan bagi para pelakunya, juga pemulihan yang amat jauh diterima oleh korban, bahkan terdapat kejadian-kejadian korban dikriminalisasi.

Dokumen laporan pemantauan dan pendampingan advokasi kekerasan terhadap perempuan ini melanjutkan dokumen tersebut di atas, dengan penambahan data yang merekam sampai akhir tahun 2020. Laporan ini juga memiliki perbedaan dengan penajaman pengungkapan dalam evaluasi proses penegakkan hukum, pencapaian positif dalam advokasi, hingga yang tidak kalah penting dan jarang direkam adalah pembelajaran dalam advokasi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan seksual. Laporan Pemantauan ini melibatkan 17 Peneliti yang merupakan Pengabdi Bantuan Hukum dari 17 Kantor LBH di Indonesia. Dilakukan dengan dukungan dari Empowering Access to Justice (MAJU) - TAF & USAID

Laporan ini kami susun dalam format laporan sebagai berikut : A. Pengantar

B. Kasus, Korban, Tindakan Yang Dialami, serta Relasi dengan Pelaku C. Potret dan Evaluasi Proses Penegakkan Hukum

D. Terkait Masalah Pandemi Covid-19

E. Pencapaian-pencapaian (Achievement) dalam Pendampingan dan Advokasi F. Pembelajaran dalam Advokasi dan Pendampingan

(6)

B. KASUS, KORBAN, TINDAKAN YANG DIALAMI & PELAKU

Pada tahun 2020 Jumlah Kasus yang ditangani oleh 17 LBH-YLBHI berjumlah 145 kasus, dengan jumlah korban sebanyak 239 orang. Untuk detailnya kita bisa lihat data pendampingan dan advokasi dari masing-masing LBH dalam grafik berikut ini :

Grafik 1

Kasus ditangani dan jumlah korban

Dari data diatas kita bisa lihat terdapat beberapa LBH dimana kasusnya sedikit, misalnya LBH Bali menangani 5 kasus, di satu kasus dengan pelaku Ketua Program Study dan Dosen disebuah kampus di Bali mencapai 48 Korban. Di Bali, LBH Bali membuka posko Bersama dengan jaringan masyarakat sipil lainnya dan mengadvokasi bersama.

Begitu juga di LBH Yogyakarta yang mendampingi 5 kasus, di satu kasus dengan 1 pelaku yakni mahasiswa senior di sebuah kampus mencapai 30 korban yang mengadukan dan memohon bantuan hukum.

11 1 12 5 5 6 14 8 13 5 7 5 3 4 23 18 5 16 1 14 5 5 6 15 8 14 38 11 48 3 9 23 18 5 L B H B A N D A A C E H L B H M E D A N L B H P A D A N G L B H P E K A N B A R U L B H P A L E M B A N G L B H B A N D A R L A M P U N G L B H J AK AR T A L B H B A N D U N G L B H S E M AR AN G L B H Y O G Y A K A R T A L B H S U R AB AY A L B H B A L I L B H S AM AR I N D A L B H P A L A N G K A R A Y A L B H M A K A S S A R L B H M A N A D O L B H P A P U A

(7)

Dari 239 korban yang ditangani oleh 17 Kantor LBH, untuk melihat presentase yang didampingi oleh masing-masing LBH, kita dapat melihat grafik di bawah ini :

Grafik 2

Persentase penanganan kasus LBH-LBH

LBH Papua mendamping 5 korban (2,09%), LBH Manado mendampingi 18 korban (7,53%), LBH Makassar mendampingi 23 korban (9,62%), LBH Palangkaraya mendampingi 9 korban (3,77%), LBH Samarinda mendampingi 3 korban (1,26%), LBH Bali mendampingi 48 korban (20,08%), LBH Surabaya mendampingi 11 korban (4,60%), LBH Yogyakarta mendampingi 38 korban (15,90 Korban), LBH Semarang mendampingi 14 korban (5,86%), LBH Bandung mendampingi 8 korban (3,35%(, LBH Jakarta mendampingi 15 korban (6,28%), LBH Bandar Lampung mendampingi 6 korban (2,51%), LBH Palembang dan LBH Pekanbaru mendampingi masing-masing 5 korban (2,09%), LBH Padang mendampingi 14 korban (5,86%). LBH Medan mendampingi 1 korban (0,42%), serta LBH Banda Aceh mendampingi 16 korban (6,69%)

(8)

Tipikal dan Usia Korban

Grafik 3 Rentang Usia Korban

Untuk dari 239 Korban yang didampingi, Perempuan berusia 19-29 tahun menjadi yang terbanyak sebagai korban, mencapai 64% (152 korban), terbanyak kedua atau sebanyak 25% nya atau sekitar 61 korban adalah usia anak (3 sd 18 Tahun). Sedangkan korban berusia 30-39 Tahun sebanyak 9% (21 orang korban), dan yang berusia di atas 40 tahun sebanyak 5 orang korban atau 2%.

Ini menunjukkan bahwa perempuan berusia 19-29 adalah korban kekerasan seksual tertinggi, ini akan kita relasi kan di bawah dengan tingginya relasi pertemanan/pacar/mantan pacar. Korban anak menjadi korban tertinggi kedua, untuk ini selain relasi pertemanan/pacar/mantan, juga ada relasi keluarga yang cukup tinggi.

(9)

Dari penelitian ini juga terdapat korban Korban yang LGBTIQ 6 orang atau 2,5 % total korban, dan Korban yang Disabilitas 6 orang atau 2,5%

Grafik 4

(10)

Tindakan Kekerasan

YLBHI-LBH mencoba mengkategorikan dan menanyakan kekerasan terhadap perempuan dalam jenis sebagaimana di dalam grafik dari mulai eksploitasi seksual, janji kawin, pemerkosaan, pelecehan seksual, pemaksaan aborsi, perbudakan seksual, intimidasi seksual, kekerasan dalam pacaran, kekerasan berbasis gender online, Kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan fisik, kekerasan fisik dan pemaksaan pelacuran dan eksploitasi ekonomi. Dalam temuannya kemudian LBH-LBH memberikan data baru (yakni Gank Rape

Pemerkosaan beramai-ramai, Kehamilan tidan diinginkan, percobaan pemerkosaan, dan pemaksaan perkawinan).

Dari hasil pendampingan dan pemantauan ditemukan terdapat total 542 tindakan yang dialami oleh korban, dengan tiap korban bisa jadi mengalami lebih dari satu tindakan kekerasan. Dengan detail kekerasan yang dialami korban sebagai berikut :

Grafik 5

Dari pemantauan dan pendampingan yang dilakukan LBH-LBH, dari keseluruhan 239 korban jika ditotal mengalami 526 tindakan kekerasan.

Sebanyak 149 orang mengalami pelecehan seksual, ini merupakan tindakan kekerasan

yang paling tinggi, diikuti kemudian 66 orang mengalami pemerkosaan, kekerasan psikis sebanyak 62 orang. Seiring dengan pandemi covid-19 di tahun 2020, dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan, terdapat 52 korban mengalami kekerasan berbasis gender online

(11)

Jika kita lihat secara prosentase seperti ini, yang tertinggi pelecehan seksual mencapai 28.38 % kekerasan, kedua Pemerkosaan 12.57%, kemudian Kekerasan psikis sebanyak 11.81%, kekerasan berbasis gender online (KBGO) sebanyak 9.71%.

TIPIKAL PELAKU

Grafik 6 Rentang Usia Pelaku

Rentang usia pelaku tertinggi yaitu antara berusia 19 – 29 Tahun, ini mencapai sebanyak 44.77% atau 107 pelaku. Rentang terbanyak berikutnya adalah di retang usia 30 – 39 dan 40-49 Tahun sebanyak 19,25% atau masing-masingsebanyak 46 pelaku. Sisanya sebanyak 12,9% merupakan dalam rentang usia 50 tahun keatas. Ditemukan sebanyak 9 pelaku atau 3,77% adalah pelaku berusia 16-18 tahun.

(12)

Pekerjaan dan latar belakang pelaku

Grafik 7

Pekerjaan dan latar belakang pelaku

Dari grafik ini terlihat bahwa pelaku dengan latar belakang mahasiswa tercatat sebagai yang tertinggim yakni sebanyak 71 orang atau 29,71%. Hal ini akan nampak berkaitan dengan relasi, profil dan usia korban, serta juga profil latar pendidikan terakhir para pelaku. Latar belakang terbanyak kedua adalah karyawan swasta yaitu sebanyak 20,08% atau mencapai 48 pelaku. Yang perlu dilihat di sini juga menonjolnya Dosen dan Guru Agama sebagai pelaku, sebanyak 19 orang pelaku atau 7,95% adalah Dosen, dan sebanyak 18 orang atau 7,53% adalah Guru Agama, tentu dalam hal ini relasi struktural dalam Pendidikan dan relasi dalam posisi keagamaan jadi penting dilihat.

(13)

Grafik 8

Pendidikan terakhir pelaku

Dilihat dari grafik Pendidikan terakhir pelaku, pelaku terbanyak adalah yang Pendidikan terakhirnya SMU sebanyak 52.30% atau 125 orang, data ini semakin menunjukkan korelasi kuat dengan data rentang usia dan relasi antara pelaku dan korban.

Dari data ini yang menarik bahwa, semakin tinggi Pendidikan tidak kemudian berarti menunjukkan semakin rendahnya tindakan kekerasan yang dilakukkan, terlihat Pendidikan S1/Diploma 17.57% atau sebanyak 42 pelaku, sedangkan Pascasarjana mencapai 57 pelaku atau sebanyak 23.85%.

(14)

Relasi pelaku dengan Korban

Grafik 9 Jenis relasi

Yang paling terlihat menonjol dari data ini adalah relasi pertemanan/pacar/mantan yaitu sebanyak 125 kasus atau 54.35%. kemudian diikuti dalam relasi keluarga sebanyak 40 kasus atau sebanyak 17,39%, Relasi Pendidikan sebanyak 28 kasus atau sebenayak 12,17%, Relasi tetangga 18 kasus atau sebanyak 7,83%, Relasi agama/posisi keagamaan sebanyak 11 kasus atau 4,78%. Terdapat relasi kerja sebanyak 7 kasus/3,04% dan juga relasi dalam proses hukum sebanyak 1 kasus.

Dari data ini bisa dilihat bahwa kekerasan terhadap perempuan terjadi dalam lingkup orang-orang dekat, relasi yang timpang dan juga memanfaatkan situasi-situasi dalam

ketimpangan relasi tersebut. Dominannya angka dalam relasi

pertemanan/pacar/mantan seperti dijelaskan diatas sesuai dengan tipikal dan profil pelaku.

(15)

Ketika kita perdalam dan pertajam bagaimanakah relasi tersebut dilihat dalam kasus pelecehan seksual pertemanan/pacar/mantan dalam kasus pelecehan seksual, kita bisa lihat grafik dibawah ini,

Grafik 10

Relasi dalam kasus-kasus pelecehan seksual

Dalam kasus pelecehan seksual, relasi pertemanan/pacar/mantan tetap tertinggi. Tetapi yang tertinggu kedua adalah dalam relasi Pendidikan. Ruang-ruang Pendidikan menjadi ancaman yang tinggi dalam pelecehan seksual terhadap perempuan.

(16)

Ketika kita coba silangkan data relasi dalam kasus-kasus pelecehan seksual dengan rentang usia korban, kita bisa lihat grafik 10 dibawah ini. Bahwa usia 19 s.d 29 tahun merupakan korban terbesar.

Dalam hal ini nampak juga data bahwa terdapat relasi Pendidikan dalam kasus Pelecehan Seksual sebanyak 14,77% atau 22 kasus yang menimpa korban dalam rentang usia 19 – 29 tahun. Hal yang menonjol dengan warna biru, adalah pelecehan seksual yang usia 3 – 18 dalam relasi pertemanan/pacar/mantan (7,38% atau 11 kasus) dan dalam relasi agama 6,04% atau 9 kasus.

(17)

Grafik 12

Untuk Pemerkosaaan, bisa kita lihat dalam persilangan datanya dengan rentang usia korban dan relasi. Yang tertinggu adalah dalam rentang usia korban 19-29 tahun dalam relasi pertemanan/pacar/mantan sebanyak 22,73% atau 15 Kasus. Kemudian dalam rentang usia 3-18 tahun dalam relasi pertemanan/pacar/mantan dan dalam relasi keluarga sebanyak masing-masing 16,67% atau 11 kasus.

Dalam kasus pemerkosaan di rentang usia 3-18 tahun juga terlihat terdapat relasi Agama sebanyak 15,15% atau 10 kasus

(18)

C. POTRET DAN EVALUASI PROSES PENEGAKAN HUKUM

Pada bagian ini akan dipaparkan masalah-masalah pada penegakan hukum kasus kekerasan terhadap perempuan. Pemaparan pada bagian ini akan didahului masalah-masalah secara umum kemudian akan dibagi dalam tahap-tahap peradilan yaitu penyidikan, penuntutan dan pengadilan.

Korban Enggan Menempuh Proses Hukum

Grafik 13

Apakah korban atau keluarganya mau memproses hukum?

Dari grafik ini terlihat yang mau memproses kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan hanya 49% (116 orang), sebanyak 51% (123 orang) tidak mau memproses hukum. Gejala umum mengenai penegakan hukum adalah tidak beraninya korban menempuh jalur hukum ataupun korban mundur setelah berada di dalam proses hukum. Mundurnya korban ini sebagian besar karena proses yang sangat panjang dan menghabiskan waktu yang lama serta energi yang tidak sedikit. Akhirnya korban menjadi jenuh dan lelah dalam menempuh upaya hukum sehingga memilih tidak melanjutkan kasusnya lagi.

Sedangkan kasus-kasus di mana korban tidak berani melaporkan kasusnya karena takut menghadapi penegak hukum. Tampaknya masalah sensitifitas dan kurangnya keberpihakan penegak hukum tersebar dan membuat korban memilih hanya berkonsultasi tetapi tidak berani menempuh jalur hukum. Seperti yang dialami seorang korban yang kemudian mengadu ke LBH Palembang. Saat pertama kali ia datang

51% 49%

Tidak mau memproses hukum

Ya mau memproses hukum

(19)

sendiri ke Polsek untuk melapor korban merasa disambut dengan tatapan dan senyuman sinis oleh aparat. Korban kemudian merasa dilecehkan secara verbal oleh Polisi yang menerima laporannya. Tentu hal ini membuat korban menjadi tidak nyaman.

Tidak adanya empati kepada korban ternyata juga ditunjukkan oleh institusi negara lainnya. Dalam sebuah kasus dengan terduga pelaku berasal dari pejabat, pihak yang tidak menunjukkan sensitivitas kepada korban mulai dari Dinas P3A Provinsi, Pemda, anggota DPRD. Sebaliknya mereka malah menyalahkan korban seperti mengatakan kasus ini terjadi karena salahnya didikan dari orang tua dan keluarga serta kurangnya tingkat pendidikan yang dimiliki orang tua korban dan hidup dalam kemiskinan.

Alasan lain korban tidak berani melapor adalah merasa bukti tidak cukup. Misalnya dalam kasus kekerasan berbasis gender online. Rata-rata beberapa bukti di internet sudah hilang dan sulit untuk mengakses bukti tersebut sehingga korban memilih mundur. Hambatan psikologi yaitu merasa malu, takut distigma juga menjadi alasan korban tidak melaporkan kekerasan seksual yang dialaminya. Hal ini terjadi juga pada anak dibawah umur yang merasa malu sehingga tidak berani menceritakan kepada keluarga terdekatnya. Padahal semakin cepat kekerasan seksual diketahui penanganannya akan pemulihan korban, pencegahan berulang dan dapat diproses hukum akan semakin besar kemungkinannya.

Ganjalan Norma

Di luar masalah tersebut, persoalan di tingkat norma adalah ganjalan utama. Ditemukan berbagai kasus dimana penasehat hukum maupun penegak hukum kesulitan menemukan pasal yang sesuai untuk menjerat pelaku. Misal untuk kasus-kasus eksploitasi seksual. Selain itu terdapat peristiwa di mana korban berpotensi menjadi pelaku karena adanya UU Pornografi. Salah satu contohnay adalah kasus perekaman kamar mandi dan kamar kos korban oleh pelaku secara diam-diam. Jika menggunakan UU Pornografi ada kemungkinan korban dianggap terlibat. Hal ini karena norma UU Pronografi tidak mengatur relasi korban – pelaku karena yang disasar adalah perbuatan yang umum. Akibatnya telah kita saksikan kasus-kasus di mana korban dijadikan pelaku berdasarkan UU Pornografi ini.

(20)

Minimnya perlindungan kepada korban

Salah satu hal yang ditakutkan korban adalah keselamatan diri. Sayangnya perlindungan di setiap tahap proses hukum belum memberikan perlindungan optimal bahkan cenderung tidak ada. Selain itu sistem perlindungan saksi dan korban Indonesia saat ini mensyaratkan adanya laporan terlebih dulu di kepolisian padahal intimidasi kepada korban dapat terjadi sebelum korban melapor ke polisi. Seperti yang terjadi sebuah kasus dimana korban urung untuk melakukan pelaporan ke polisi karena intimidasi dari keluarga pelaku kekerasan seksual.

Saat proses-proses selanjutnya ada pula korban yang mengalami intimidasi dari tersangka karena tersangka tidak ditahan.

Rumah aman juga terbatas baik jumlahnya maupun lama dapat diaksesnya. Misal rumah aman P2TP2A Kalimantan Tengah yang ternyata milik dinas sosial. Meskipun P2TP2A ikut mendampingi untuk melakukan laporan ke kepolisian tetapi masa tinggal di rumah aman tersebut terbatas hanya 21 hari. Padahal tidak mungkin proses hukum selesai dalam 21 hari. Rasa aman/tidak aman ini umumnya akan mempengaruhi keputusan korban untuk meneruskan atau tidak meneruskan kasusnya.

Selain itu institusi peradilan mulai Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan sering melupakan atau abai dengan ruang konsultasi ataupun ruang tunggu yang privat bagi korban kekerasan seksual. Diminta bercerita secara detil peristiwa yang dialaminya saja sudah berat apalagi harus menceritakannya di ruangan yang dapat didengar banyak orang.

Sebaliknya masih ada aparat penegak hukum, P2TP2A, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaaan Perempuan dan Anak yang melanggar prinsip kerahasiaan identitas dan kejadian yang menimpa korban.

Pemulihan Korban

Proses hukum yang berjalan tidak berarti adanya pemulihan psikologis dan psikososial terhadap korban. Masih ditemukan kasus-kasus dimana restitusi/kompensasi tidak diberitahukan atau diupayakan oleh aparat.

(21)

Penanganan Kelompok khusus: Anak & Disabilitas

Proses pemeriksaan di tiap tingkatan kerap masih tidak menerapkan pendekatan khusus bagi perempuan anak dan disabilitas.

a. Disabilitas

Terlihat secara umum penegak hukum belum memahami hak-hak dan kebutuhan korban yang menjadi kewajibannya sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Bahkan ditemui aparat yang tidak memahami aturan-aturan khusus/internal lembaganya. Akses, pemeriksaan di ruang khusus ataupun etika aparat penegak hukum dalam pengambilan keterangan belum dipenuhi. Demikian pula dengan kewajiban lainnya seperti penyediaan layanan bantuan hukum, penerapan personal assessment yang melibatkan berbagai ahli dan profesi (dokter, psikiater, dan psikolog) dan keterangan ahli disabilitas dan pendamping disabilitas.

Dalam kasus dengan korban dengan disabilitas mental penyidik mengatakan laporan sulit untuk ditindaklanjuti karena korban telah dewasa. Hal ini karena mereka tidak paham usia mental korban berbeda dengan usia kalendernya.

Terhadap orang dengan disabilitas yang menjadi korban masih ditemukan aparat yang menyalahkan korban.

b. Anak

Rendahnya kapasitas dan perspektif aparat penegak hukum dalam penanganan kasus kekerasan seksual anak berdampak pada lambannya penanganan hingga penghentian kasus-kasus kekerasan seksual. Seperti yang terjadi dalam kasus pencabulan terhadap 3 anak di Luwu Timur. Polres Luwu Timur menghentikan penyelidikan perkara. Padahal para korban tidak mendapat pendampingan oleh advokat bahkan dalam pengambilan BAP tidak didampingi oleh orangtua/pendamping lainnya. Hasil BAP ini kemudian menjadi dasar penghentian penyelidikan oleh penyidik.

Pertanyaan yang menyudutkan dan menstigma korban juga tetap dilontarkan penyidik seperti dalam kasus kekerasan seksual dengan korban orang dewasa. Misal dalam salah satu kasus pemerkosaan anak, meski sudah di tahap penyidikan namun penyidik masih melontarkan pertanyaan: “udah ngaku aja, kamu pacaran kan sama si Pelaku?”

(22)

dewasa. Dalam sebuah kasus hak-haknya untuk tetap sekolah juga ditiadakan.

Tidak adanya jaminan keamanan untuk pendamping

Mulai caki maki, intimidasi hingga ancaman kriminalisasi dialami oleh pendamping/kuasa hukum. Hal ini terjadi karena beragama soal mulai karena kuasa hukum mendokumentasi, berargumentasi hingga mempublikasi di media.

Secara umum, berdasarkan kasus-kasus dan pengalaman selama ini, kendala paling besar adalah saat berhadapan dengan aparat kepolisian di pintu pertama. Seringkali mereka tidak sensitif gender dengan menyalahkan, menyudutkan atau bahkan menjadikan kasus korban sebagai candaan. Oleh karena itu korban yang didampingi pengacara cenderung lebih beruntung karena polisi akan lebih menghormati. Terlebih jika pengacara tersebut kenal dengan penyidik atau bagian PPA nya. Tetapi jika tidak didampingi beberapa korban menceritakan hal yang sama yaitu mereka direndahkan oleh polisi dan seringkali laporannnya tidak diterima.

Pola kedua adalah ada kecenderungan perbedaan antara penyidik di Polda dengan Polres, maupun antara Polrestabes dengan Polres. Di tingkat Polda penyidik relatif lebih memiliki perspektif dengan tidak menyalahkan korban pada saat melakukan pelaporan pidana. Selain itu, penyidik juga menawarkan pilihan penyidik perempuan atau laki-laki yang akan memeriksa perkara. Demikian pula di Polrestabes khususnya unit PPA. Korban cenderung tidak mendapat pertanyaan yang terkesan kasar, melecehkan, dan menyalahkan korban. Meskipun di beberapa wilayah tetapi ada penyidik Polda bahkan unit PPA yang tidak memiliki perspektif korban. Hal ini berbanding terbalik dengan di Polres dan Polsek. Tidak hanya melecehkan korban, aparat justru cenderung bertindak sebagai pihak ketiga yang berusaha mendamaikan korban dengan pelaku. Bahkan dalam beberapa kasus perkosaan korban diminta menikahi pelaku/salah satu pelaku karena korban hamil.

Berikut ini akan dipaparkan masalah-masalah dalam penyelidikan-penyidikan secara lebih khusus.

a. Laporan korban tidak diterima

Terdapat kasus dimana laporan korban tidak diterima dengan alasan tidak ada unsur pidananya. Padahal pasal 108 (1)KUHAP menyatakan “setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tertulis”. Kemudian Pasal 103 juga mengatur (1) Laporan atau pengaduan yang diajukan secara tertulis harus ditandatangani oleh pelapor atau pengadu, (2) Laporan atau pengaduan yang

(23)

diajukan secara lisan harus dicatat oleh penyelidik dan ditandatangani oleh pelapor atau pengadu dan penyelidik”.

Salah satu peristiwa yang cenderung dianggap bukan tindak pidana oleh polisi adalah jika kekerasan seksual tersebut berulang dan menimpa perempuan dewasa karena dikategorikan suka sama suka. Minimnya perspektif membuat Polisi tidak menggali lagi atau menyelidiki lebih jauh termasuk meminta bantuan ahli untuk mengetahui kondisi psikologis korban.

Ditemukan juga modus polisi mengharuskan adanya bukti visum saat korban melapor. Salah satu kasus terjadi di Palangka Raya. Polres menolak laporan korban dengan alasan tidak ada bukti visum.

Terdapat pula laporan korban tidak diterima dengan alasan kurangnya bukti. Dalam sebuah kasus KBGO, dengan alasan bukti foto tidak memperlihatkan bagian intim laporan korban ditolak. Di Polres Sumbar bahkan KGBO cenderung tidak diterima dengan alasan tempat terjadinya peristiwa (locus delicti), akun pelaku adalah akun bodong dan lebih baik ditutupi daripada membuat malu korban. Ada pula kasus dimana laporan korban diterima Polisi dalam bentuk pengaduan masyarakat dan bukan laporan seperti biasanya.

b. APH mengarahkan kasus suka sama suka dan meminta korban berdamai dengan pelaku

Ada sebuah pola aparat kepolisian melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan bahwa kekerasan seksual yang diterima korban juga kemauan korban atau hubungan suka sama suka. Hal ini terjadi untuk kasus pelecehan seksual, KDRT hingga perkosaan. Artinya kecenderungan mendamaikan ini tidak khusus untuk kasus tertentu. Upaya mendamaikan ini juga ada yang dilakukan oleh Penyidik unit PPA.

Modus yang digunakan dalam hal ini adalah proses diperlama atau laporan tidak diproses kemudian membujuk bahkan ada yang bersikeras untuk mendamaikan korban dengan pelaku. Ada pula kasus yang prosesnya menjadi lama karena polisi meminta korban menghadirkan bukti dalam hal ini visum. Karena ketidaktahuan korban akhirnya visum dilakukan terlambat sehingga bukti sudah hilang. Hal ini kemudian dijadikan alasan kasus ditutup dan diarahkan berdamai. Dalam upaya ini

(24)

Kelemahan dari “perdamaian” ini dibuktikan oleh sebuah kasus kekerasaan seksual di Kotawaringin Barat. Kepolisian mendorong adanya mediasi dan rekomendasi dari mediasi ini adalah pelaku akan mendapatkan skorsing dari kampusnya. Namun hingga Desember 2020 pihak kampus tidak menjalankannya.

c. Penyidik laki-laki membuat korban sulit memberi keterangan

Tidak semua kantor kepolisian memiliki unit PPA dan/atau penyidik perempuan. Akibatnya penyidik yang memeriksa kasus perempuan korban kekerasan seksual seringkali penyidik yang berjenis kelamin laki-laki. Hal ini menyebabkan korban tidak nyaman dan sulit untuk membuka diri ketika memberikan keterangan. d. Kasus dinyatakan kurang bukti & pembuktian dibebankan kepada korban

Gejala umum berikutnya dalam tahap penyidikan adalah bukti dinyatakan lemah dan korban diberikan beban untuk membuktikan. Modus-modusnya adalah korban/pelapor diminta menghadirkan saksi. Padahal Pasal 1 angka 2 KUHAP mengatakan penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik “untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Artinya mencari bukti termasuk saksi adalah tugas kepolisian.

Ada sebuah kasus tragis akibat pembuktian dibebankan kepada korban. Awalnya laporan korban ditolak karena tidak ada visum. Akhirnya visum baru dilakukan setelah korban dan keluarganya berkonsultasi dengan LBH-YLBHI yaitu beberapa hari kemudian. Kemudian evaluasi kepolisian atas kasus ini adalah tidak melanjutkan kasus dengan alasan terlambat pengaduan dan visum tidak bisa dijadikan alat bukti.

Dalam kasus KBGO kepolisian sering menolak bukti screenshot chat antara pelaku dan korban dengan alasan di dalam chat tersebut tidak jelas membuktikan terjadinya kekerasan seksual. Salah satu kasus misalnya alasan penolakan polisi adalah foto yang disebar tidak kelihatan wajah korban melainkan hanya foto tanpa busana dan tidak dapat dibuktikan bahwa foto tersebut adalah foto korban. Dalam kasus KBGO lain laporan ditolak karena foto dan video yang berhasil didapatkan korban dari HP pelaku hanya foto dan video tanpa berisi bagian tubuh intim. Polisi mengesampingkan fakta bahwa ada upaya pelaku untuk merekam aktivitas korban di kamar mandi dan kamar kos korban.

Ada pula kasus dimana proses pemeriksaan berlangsung lama atau terjadi penundaan berlarut karena penyidik menunggu hasil DNA anak yang dikandung oleh korban. Di sisi lain ada pula kasus perkosaan yang laporannya ditolak oleh kepolisian dengan alasam sudah lama sekali yakni 1, 5 tahun yang lalu sehingga

(25)

visum sudah tidak mungkin. Padahal Polisi seharusnya bisa melakukan tes DNA kepada anak yang korban lahirkan dari perkosaan tersebut. Selain itu polisi cenderung hanya mementingkan bukti visum et repertum, bukan visum et psikiatrikum.

Proses bolak balik pelimpahan perkara dari Jaksa ke Kepolisian dengan alasan kurang bukti juga kerap terjadi.

e. Polisi meminta uang kepada korban/keluarga korban

Kepolisian meminta uang operasional terhadap kelurga korban untuk biaya penyidikan. Dalam sebuah kasus uang tersebut diminta untuk penangkapan pelaku dan biaya mendatangkan ahli. Tentu saja ini tanggung jawab korban dan keluarga korban.

f. Stigma dan menyalahkan korban

Tindakan penyidik yang paling banyak dilaporkan adalah menyalahkan, meragukan keterangan korban serta menstigma mereka. Tampak belum adanya sensitivitas dan perspektif perlindungan terhadap korban. Stigma dan meyalahkan korban ini misalnya berkaitan dengan pakaian korban yang dianggap mengundang. Dalam sebuah kasus KBGO penyidik mengatakan “coba dicek lagi mbak, jangan-jangan itu mantan kamu yang upload fotonya”. Atau saat korban membawa pengacara, ada pertanyaan seperti: “mbaknya banyak duit ya? Kok bisa bawa pengacara?

g. Proses hukum menjadi sarana impunitas bagi pelaku

Masih ditemui kasus-kasus dimana pelaku kekerasan seksual tampak dilindungi oleh oknum polisi. Indikasinya pelaku dan tidak pernah ditahan dan saat pemeriksaan diperlakukan istimewa berbeda dari pemeriksaan terhadap tersangka pada umumnya.

h. Proses pembuktian membuat korban mengalami trauma berikutnya Proses pembuktian justru membuat korban mengalami trauma berikutnya. Hal ini terjadi karena berbagai hal. Baik pertanyaan penyidik kepada korban, pemeriksaan secara beramai-ramai maupun pemeriksaan visum yang berkali-kali.

(26)

pernyataan secara bertele-tele. i. Proses lama

Proses penyidikan berjalan lambat bahkan untuk kasus-kasus tertentu sangat lama. Misal apabila pelaku adalah penegak hukum atau pejabat.

Grafik 14

Bagaimana Proses Hukum Berlanjut

Dari 49 % korban (116 orang) yang mau melanjutkan proses hukumnya, kita lihat yang berlanjut penyidikannya hanya 52,60%, semakin turun ke Pelimpahan ke kejaksaan yaitu 24,03%, dan sampai pemeriksaan/pengadilan hanya 23,38%.

Untuk detailnya masing-masing tahapan dengan detail jenis kekerasan berlanjut di setiap tahapan bisa kita lihat dalam grafik-grafik dibawah ini.

52.60%

24.03% 23.38%

(27)

Grafik 15

Grafik 16

(28)

Untuk detail dan juga cross cutting data terkait proses hukum dari korban yang mau melakukan upaya hukum dalam kasus pemerkosaan dan beberapa kasus terpilih lainnya di diberbagai tahapan, kita bisa lihat grafik di bawah ini.

Grafik 17

Proses Hukum di Kasus Pemerkosaan

Grafik 18

(29)

Grafik 19

Kelanjutan proses hukum dalam kekerasan fisik

1. Penuntutan

Sama seperti proses di penyidikan masih ditemukan jaksa yang tidak memiliki perspektif korban sehinga cenderung menyalahkan korban. Karena tidak memiliki perspektif korban ini ada pula penuntut umum yang tidak memberitahukan terlebih dahulu kepada korban bahwa dua agenda, yaitu dakwaan dan pembuktian, akan disatukan dalam satu sidang. Akibatnya fatal karena kobrban bertemu pelaku dan berdampak korban tidak siap secara mental ketikan akan memberikan keterangan. Jaksa juga kerap menolak adanya pendampingan dari kuasa hukum ketika jaksa akan berbicara dengan keluarga korban dan korban. Padahal permintaan didampingi datang datang dari korban karena pada saat itu sedang merasa jatuh mentalnya.

Upaya menghalang-halangi pendampingan juga dilakukan jaksa dengan cara mendekati korban secara personal sehingga kepercayaan korban dan kelurga terhadap kuasa hukum menurun. Dalam salah satu kasus misalnya korban merasa dibuat

(30)

2. Pengadilan

Gejala umum adalah Hakim tidak memiliki perspektif korban. Salah satu akibatnya adalah hakim cenderung menyalahkan korban bahkan di beberapa kasus terlihat lebih melindungi terdakwa. Latar belakang korban juga dijadikan alasan bagi majelis hakim untuk melakukan stretotype. Hal ini misalnya terjadi dalam sebuah kasus dimana korban pernah terlibat isu LGBTQ. Pakaian korban dan tindakan-tindakan korban juga masih menjadi sumber stigma oleh hakim kepada korban.

Ternyata pendampingan korban di persidangan masih menjadi satu persoalan terlebih untuk korban berusia anak. Pada pemeriksaan saksi korban ada hakim yang melarang penasihat hukum untuk memantau. Larangan tersebut dilakukan dengan nada tinggi dan disertai beberapa kali memukul meja sehingga membuat korban semakin takut. Padahal korban merasa nyaman didampingi oleh penasihat hukum tersebut bahkan orangtua korban juga telah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada LBH Medan untuk mendampingi korban.

Kedekatan yang diperlihatkan antara hakim dengan penuntut umum juga membuat keluarga korban/korban merasa tidak nyaman. Terlebih di sisi lain penuntut umum tersebut sangat sulit diajak berkoordinasi dengan korban/walinya/kuasa hukumnya.

C. Kekerasan Terhadap Perempuan dan Pandemi Covid-19

Sebagaimana data-data berbagai organisasi lain, LBH-YLBHI juga mengalami peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan. Karakter kasusnya beragam. Salah satu yang menonjol adalah kekerasan berbasis gender online (KBGO) meskipun perlu dilihat lagi kaitan antara meningkatnya jumlah kekerasan dan situasi pandemi. Tetapi tak bisa disangkal pada situasi pandemi hampir semua orang melakukan aktivitas dari rumah dan secara online karena adanya kebijakan PSBB. Meningkatnya KBGO ini tidak hanya terjadi di satu wilayah tetapi di berbagai wilayah.

Pencetus lain meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan khususnya KDRT adalah faktor ekonomi. Contohnya dalam sebuah kasus KDRT kekerasan diawali pertengkaran karena istri selalu disalahkan tidak dapat mengelola keuangan padahal sebenarnya suami yang tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pertengkaran ini kemudian diikuti pemukulan dan penganiayaan kepada istri.

(31)

Ditemukan juga kasus kekerasan seksual di lingkup pendidikan. Ternyata situasi pandemi dimana kampus ditutup dijadikan modus bagi dosen untuk membuat janji skripsi di luar kampus.

Meskipun kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan cenderung meningkat justru pennanganannya menemui berbagai kendala. Masalah paling awal adalah sulitnya pendamping/pengacara bertemu dengan klien karena daerah-daerah tertentu masuk zona merah.

Fasilitas bagi korban juga turun drastis. Salah satunya rumah aman. Dalam kasus-kasus dimana korban membutuhkan rumah aman, seperti dalam kasus KDRT, ternyata selama pandemi banyak rumah aman yang tutup. Proses melakukan evakuasi korban menjadi lebih lama karena perlu mencari-cari informasi rumah aman yang tersedia untuk menampung korban di masa pandemi.

Masalah lain adalah karena banyak kantor yang melakukan aktivitas dari rumah pendamping/penasihat hukum kesulitan mendapatkan akses layanan yang maksimal. Sebagai contoh untuk mendapatkan layanan pekerja sosial dari Dinas Sosial. Demikian pula untuk berkoorinasi dengan Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Saat proses masuk ke penyidikan masalah lain muncul. Penyidik kerap menggunakan pandemi covid 19sebagai alasan untuk tidak menangkap dan menahan pelaku kejahatan. Padahal dalam kasus KDRT serta kasus dimana pelaku berdekatan tinggalnya dengan korban hal ini langsung mempengaruhi psikologis korban untuk terus memperjuangkan kasusnya. Oleh karena hal ini ditemui pula korban diintimidasi oleh pelaku.

Proses penegakan hukum oleh kepolisian juga lambat dengan alasan pandemi Covid-19 sehingga kasus tidak prioritas untuk ditangani. Juga ditemui penyidikan terhambat karena visum ET repertum tertunda akibat rumah sakit tempat visum dilakukan sedang menjalankan lockdown covid 19 selama dua minggu.

Persidangan online selain menjadi terobosan ternyata juga menyulitkan korban. Ditemukan persidangan dengan korban diminta mengulang-ulang jawabnnya tentang kekerasan yang dialami karena gangguan sinyal. Tentu hal ini membuat korban tidak nyaman. Pemeriksaan yang menjadi lebih panjang dan bertele-tele karena mengulang-ulang membuat terjadinya viktimisasi kepada korban.

Catatan lain adalah perlunya pengembangan kapasitas untuk pendamping khususnya ketrampilan keamanan digital.

(32)

D. Pencapaian-Pencapaian Positif dalam Advokasi

Bagian ini akan memaparkan berbagai capaian yang didapatkan dari penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. Capaian ini tentu bukanlah capaian LBH-YLBHI tetapi jejaring bahkan korban dan keluarganya. Capaian penanganan kasus ini akan kami bagi menjadi di ranah kebijakan serta struktur, jejaring masyarakat, korban, proses hukum dan manajemen pengetahuan.

Kebijakan dan Struktur Hukum

Capaian pada ranah kebijakan adalah penanganan-penangan kasus tersebut berhasil mendorong adanya perubahan. Di Palangka Raya penanganan kasus kekerasan seksual berhasil mendorong adanya sistem pencegahan tindakan kekerasaan seksual berupa Surat Edaran Rektor Universitas Palangka Raya No.1900UN24/KP/UPR tentang pencegahan dan penanganan pelecehan seksual di lingkungan Universitas Palangka Raya. Selain itu di Aceh penanganan kasus ini berhasil mendorong pemerintah Aceh untuk membentuk tim evaluasi terhadap penerapan perda Syariah yang berkaitan dengan pengaturan hukum untuk kasus kekerasan seksual.

Di wilayah struktur ruang-ruang menjadi terbuka khususnya lembaga pendidikan. Keterbukaan ini misal terjadi di Universitas Negeri Padang. Awalnya kampus memaksa untuk penyelesaian kekeluargaan dengan melakukan intimidasi kepada keluarga korban. Akhirnya dialog dapat terjadi dengan kampus untuk menyelesaikan kasus secara hukum. Selain itu setelah masifnya pemberitaan terlihat banyak sekali institusi pendidikan yang mulai membuka diri terhadap diskusi-diskusi terkait kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Dampak lainnya adalah adanya evaluasi lembaga-lembaga pemerintah yang fokus pada perlindungan perempuan dan anak. P2TP2A di Lampung Timur bahkan dibekukan. Proses Hukum

Capaian dalam proses hukum adalah meskipun pada umumnya berjalan lambat proses hukum berjalan. Hal ini penting karena selama ini kasus-kasus kekerasan seksual sedikit yang dapat berlanjut proses hukumnya. Proses hukum ini mulai dalam tahap penyidikan hingga kasus-kasus dimana pelaku telah dihukum. Terdapat kasus-kasus dimana awalnya berhenti setelah pelaporan korban tetapi dengan pendampingan berlanjut hingga penyidikan, penuntutan bahkan pemidanaan pelaku. Hal ini dilakukan antara lain dengan terus mendesak penyidik dan mengawal secara konsisten kasus dengan menjaga komunikasi dengan penyidik. Koordinasi antara penasihat hukum dengan penuntut umum juga dilakukan saat proses persidangan agar saat pemeriksaan di persidangan saksi korban dapat diberikan perlindungan terhadap kondisi psikis dan mentalnya.

(33)

Koordinasi ini juga diperlukan sehingga penasihat hukum dapat menghadirkan saksi-saksi yang memberatkan terdakwa melalui penuntut umum.

Capaian yang lebih khusus dalam proses hukum adalah berlanjutnya kasus KBGO. Satu kasus penyebar konten pribadi (non consensual intimate image) diterima dan diproses oleh Kepolisian. Satu kasus lain bahkan berhasil masuk sampai proses pengadilan dengan tuntutan pidana yang besar

Juga terdapat kasus kekerasan seksual dengan pelaku seorang aparat penegak hukum yang dilimpahkan ke Kejaksaan. Juga terdapat kasus begitu pelaku dilaporkan ia langusng menghentikan perbuatannya dan mengaku tidak akan mengulangi perbuatannya. Meskipun pernyataan mengenai tidak akan mengulangi perbuatannya belum tentu benar tetapi bagi korban setidaknya ada dampak dari laporan karena pelaku menghentikan perbuatannya.

Selain hukuman pidana capaian lain adalah adanya sanksi dari institusi pelaku. Seorang pelaku dikeluarkan dari kampus padahal sebelumnya ia menduduki jabatan akademik. Dalam kasus lain saat pelaku kekerasan seksual adalah anak ia diperlakukan seperti tahanan dewasa, ditempatkan pada sel tahanan dewasa. Padahal dalam skema perlindungan anak ia juga adalah korban. Setelah melalui advokasi akhirnya ia dititipkan di Dinas Sosial Kota. Selain itu hak-haknya untuk bersekolah secara online juga dipenuhi. Capaian lain dalam proses hukum adalah menjangkau dan mendapatkan perlindungan fisik dan bantuan pembiayaan psikologis bagi korban dari LPSK. Selain itu advokasi juga mendayagunakan komisi-komisi negara seperti Komisi Yudisial untuk pengaduan hakim yang melanggar Perma No. 3 Tahun 2017, Komisi Kejaksaan dan Jaksa Muda Pengawasan untuk pengaduan Jaksa yang melakukan diskriminasi terhadap perempuan, serta lembaga-lembaga pengawas profesi, etik, dan disiplin lainnya.

Korban

Capaian paling penting adalah mengenai korban. Meskipun korban mungkin tidak dapat pulih seperti sebelum peristiwa kekerasan yang menimpanya tetapi ditemukan perubahan korban menjadi lebih baik. Indikasi dari hal ini adalah ada korban yang selama ini takut melapor menjadi berani untuk melaporkan kasusnya. Korban juga menjadi lebih kuat untuk memproses kasusnya padahal banyak kasus sebelumnya

(34)

menunjang pendampingan hukum. Korban pastinya memperoleh bantuan hukum sehingga memahami hak-haknya sebagai korban. Pemulihan ini juga berasal dari beragama pihak seperti di Sumatera Barat di mana keluarga korban mendapatkan bantuan materil dan immateril dari Pemerintahan Nagari beserta orang rantau.

Pemberitaan

Penanganan kasus kekerasan seksual memiliki dua sisi yang dapat saling berbenturan dalam hal kampanye. Dalam keterbatasan hukum dan komitmen berbagai institusi kampanye sangat dibutuhkan sebagai tekanan. Tetapi di sisi lain kerahasiaan dan privasi korban serta keluarganya harus dijaga.

Penanganan kasus menunjukkan kampanye telah dapat mendorong banyak media untuk meliput bahkan media mainstream. Selain itu modus-modus kekerasan seksual juga menjadi pembicaraan luas di media sosial. Kampanye ini juga telah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mempublikasikan identitas personal korban.

Dampak lain dari pemberitaan ini adalah lebih mudah menggalang dana dari publik. Dana ini digunakan untuk untuk proses pengobatan korban dan pembiayaan penanganan kasus seperti transportasi korban dan konsumsi korban.

Jejaring

Kasus-kasus ini nyaris seluruhnya dilakukan secara bersama di dalam jaringan. Banyak juga jaringan advokasi terbangun karena penanganan kasus ini, misal di Aceh. Jaringan-jaringan ini juga berhasil melibatkan beragam anggota seperti di Palangkaraya dimana terbentuk Koalisi Anti Kekerasaan Seksual yang terdiri dari berbagai macam organisasi masyarakat sipil, dosen, mahasiswa dan masyarakat umum. Koalisi ini sangat efektif untuk menjadi gerakan bersama dalam pendampingan kasus-kasus kekerasaan seksual yang terjadi di Kota Palangka Raya khususnya pada kasus kekerasaan seksual di lingkungan Universitas Palangka Raya.

Artinya masyarakat sipil terhubung dengan lebih banyak jaringan serta memperoleh pembelajaran baru dalam advokasi. Jejaring ini juga efektif melakukan tekanan kepada pemerintah dan penegak hukum agar memberikan perlindungan kepada korban.

Pendamping

Salah satu capaian penting adalah mendapatkan kepercayaan korban. Berdasarkan pengalaman penanganan kasus kekerasan seksual selama ini tidak mudah mendapatkan kepercayaan korban. Keterlibatan penuh PBH Perempuan dalam menangani kasus membuat klien lebih merasa aman dan nyaman untuk bercerita.

(35)

Pendekatan diluar penyelesaian formal kasus pun juga dilakukan oleh PBH misalnya menyediakan waktu diluar jam kantor untuk mendengarkan korban bercerita/berkeluh kesah. Hal ini diyakini bisa menjadi support system untuk korban pasca trauma yang telah dihadapinya. Seorang korban misalnya mengaku menemukan “rumah” dan tempat yang nyaman untuk bercerita.

Manajemen Pengetahuan

Salah satu hasil dari penanganan kasus adalah lahirnya pengetahuan berupa panduan penanganan juga pemetaaan kasus-kasus kekerasan seksual. Dengan demikian advokasi akan terus meningkat karena penanganan berikutnya tidak perlu mulai dari awal dan dapat belajar dari kasus sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari dokumentasi sejak awal mulai data korban, proses hukum hingga kondisi korban.

Kasus-kasus dan perjalanan advokasinya juga melintasi beragam ruang seperti dijadikan studi kasus di kampus.

E. Pembelajaran Dari Pendampingan dan Advokasi

Dalam bagian ini akan dipaparkan pembelajaran yang didapatkan dari penanganan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.

1. Komunikasi publik

Seperti telah disebutkan dalam bagian-bagian sebelumnya, kampanye memegang peranan penting karena masih adanya hambatan dalam institusi peradilan. Tetapi strategi penggunaan media massa dan media sosial dapat memiliki sisi negatif sehingga perlu dikelola dengan baik. Misalnya sempat terjadinya pertengkaran diantara kuasa hukum pelaku dengan pendamping di media sosial. Ke depan perlu lebih strategis dalam menanggapi pancingan pihak pelaku.

Komunikasi publik yang tidak dihitung dengan baik juga dapat membawa dampak kepada korban. Misal dalam sebuah kasus korban mendapatkan bully, stretotype dan disalahkan akibat komunikasi (chat) yang dilakukan dengan pelaku. Padahal komunikasi itu dilakukan oleh teman korban yang ingin menjebak pelaku. Pemberitaan media yang sangat ramai juga ternyata membuat korban merasa tidak nyaman dan kuatir terbuka identitasnya. Apalagi dalam kasus dimana terjadi pro kontra, korban merasa dipojokkan

(36)

hasil yang positif bagi penyelesaian kasus.

Pembelajaran penting lain adalah perlunya komunikasi kepada publik dalam berbagai bentuk untuk memberikan pemahaman dan perspektif agar publik berempati dan tidak menyalahkan korban. Hal ini perlu dilakukan mulai level-level terkecil di lingkaran diskusi kampus, keluarga hingga masyarakat luas.

Selain itu untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan khususnya kekerasan seksual perlu penyebaran pemahaman terkait consent. Hal ini karena kasus kekerasan seksual seringkali berawal dari penyalahgunaan kesepakatan atau consent.

2. Pemaknaan Kembali aturan hukum untuk pendayagunaan UU yang ada

Sebagamana kesepakatan masyarakat sipil, saat ini penggunaan UU ITE diminimalisir. Tetapi teryata dalam kasus-kasus KBGO UU ITE ini dapat menjadi jalan keluar bagi korban meskipun tetap terbatas. Oleh karena itu perlu pemaknaan ulang terhadap penggunaan UU ITE karena misalnya pada kasus Revenge Porn/Non Consensual Intimate, sulit sekali mencari aturan hukum yang bisa dijadikan cantolan hukum untuk kasus KBGO. Padahal dampak kasus ini membuat korban KBGO menderita luar biasa karena konten pribadinya tersebar dan terjadi perundungan serta stigma kepada korban. Akhirnya demi kepentingan korban dalam salah satu kasus akhirnya harus menggunakan UU ITE sebagai dasar laporan.

3. Prasyarat Pendamping/Kuasa Hukum

Sebagian besar korban kekerasan terhadap perempuan menginginkan penerima konsultasi/pendamping adalah perempuan. Oleh karena itu cukupnya ketersediaan PBH perempuan salah satu prasyarat penting penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan.

Selain itu penting adanya pemahaman yang merata terkait perspektif gender diantara PBH. Karena dalam kasus-kasus tertentu seperti berulangnya perkosaan, perbedaan perspektif dapat berujung pada perbedaan menganalisis kasus sehingga dapat merugikan korban.

Hal yang juga sangat penting adalah berempati dan belajar menjadi bagian dari korban. Menggali persoalan dengan sabar dan berusaha agar tidak mengeluarkan kata-kata yang menyinggung korban dan tetap meluangkan waktu untuk mendengarkan saat dibutuhkan sehingga dapat dipercaya korban. Hal ini karena trauma healing secara berkesinambungan merupakan hal pokok yang dibutuhkan korban.

(37)

cenderung sangat intens sehingga menghabiskan energi, kolaborasi ide, pemikiran, perspektif dan kapasitas membuat analisis kasus menjadi lebih berwarna dan tajam. Selain itu strategi melibatkan semua Advokat yang di organisasi untuk menandatangani Surat Kuasa cukup berhasil karena kasus-kasus ini cenderung ditolak atau diabaikan. Dalam pengalaman selama ini, banyaknya kuasa hukum membuat penyidik merasa diawasi sehingga mereka cenderung lebih hati-hati dalam bersikap.

4. Strategi khusus dalam melaporkan kasus KtP

Berdasarkan pengalaman melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan perlu sebuah strategi khusus. Hal paling penting adalah korban sebaiknya mendapatkan layanan konseling sebelum membuat laporan pidana. Hal ini bisa dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga layanan ataupun psikolog pada kantor P2TP2A. Hal ini penting untuk mengetahui kondisi psikis korban dan menguatkan mental korban untuk menempuh upaya hukum atas kasusnya.

Pendampingan hukum jelas penting serta sangat dibutuhkan karena banyak laporan ditolak atau dipersulit ketika korban datang sendiri atau hanya bersama keluarganya. Ketika saat membuat laporan ataupun diperiksa aparat kepolisian dalam kasus tersebut adalah laki-laki dan menyebabkan korban tidak nyaman untuk memberikan keterangan secara detail atas kasus yang sedang dihadapinya kita perlu meminta agar polisi tersebut diganti menjadi polwan.

Laporan/pengaduan secara tertulis perlu dipertimbangkan. Hal ini untuk mengantisipasi seringnya laporan korban menolak dengan alasan tidak memenuhi unsur pidana atau kurangnya alat bukti kemudian meminta korban untuk melengkapi bukti. Pengaduan secara tertulis akan membuat polisi berhati-hati untuk mudah menolak karena sudah terdokumentasi. Apalagi jika surat tersebut ditembuskan kepada pihak-pihak terkait seperti Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Komnas HAM RI, Komisi Kepolisian Nasional, Inspektur Pengawasan Umum Polri, Kapolda, Inspektur Pengawasan Daerah Polda, Kabid Propam Polda, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Laporan dan proses hukum selanjutnya perlu dijadikan sarana untuk memberikan perspektif keberpihakan akan hak-hak korban kepada aparat penegak hukum. Hal ini harus dilakukan karena aparat penegak hukum cendrung menyalahkan korban.

(38)

misalnya rumah aman yang saat ini dirasakan sangat kurang.

Saat ini banyak yang beranggapan bahwa upaya hukum adalah satu-satunya hal bagi korban. Padahal dengan konstruksi hukum saat ini, yang tidak berorientasi pada pemulihan korban, upaya hukum seharusnya menjadi pilihan terakhir setelah korban siap dan tahu resiko serta memahami proses hukum secara keseluruhan.

Selain itu penyelesaian hukum secara formal bukanlah satu-satunya upaya keadilan bagi korban. Upaya hukum dapat menjadi satu alternatif upaya advokasi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan. Tetapi seringkali proses pidana dalam kasus ini khususnya kekerasan seksual tidak berjalan maksimal. Sehingga tidak adanya pidana bagi pelaku kekerasan seksual atau bahkan tidak adanya pelaku bukan berarti tidak adanya kasus kekerasan seksual itu sendiri. Hukum bukanlah satu-satunya alat untuk membuktikan bahwa seseorang telah melakukan tindakan kekerasan seksual dan tidak adanya pelaku juga bukan bukti tidak adanya peristiwa kekerasan terhadap perempuan.

(39)

F. Rekomendasi/Saran

Berdasarkan pemantauan, advokasi dan penelitian ini, kami merekomendasikan : Terkait peraturan perundang-undangan

1. Percepatan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Banyak kasus, misal eksploitasi seksual, yang kasusnya sulit diproses hukum karena tidak memenuhi unsur kekerasan dan ancaman kekerasan pada pasal persetubuhan/pencabulan KUHP.

2. Revisi Perda/Qanun di Banda Aceh yang diskriminatif terhadap perempuan.

3. Adanya kebijakan di daerah ataupun Perda mengenai perlindungan kekerasan terhadap perempuan dan anak

Terkait penegakan hukum

1. Reformasi institusi penegak hukum terkait dengan penanganan kekerasan seksual, termasuk peningkatan kapasitas dan perspektif gender APH.

2. Adanya SOP penanganan kasus kekerasan seksual untuk aparat penegak hukum, mulai penyelidikan, penyidikan hingga penuntutan. Termasuk didalamnya mengenai penanganan kasus dengan korban disabilitas

3. Adanya regulasi mengenai akses penasihat hukum melakukan pemantauan proses di penyidikan dan penuntutan terkait kasus anak serta koordinasi antara penasihat hukum dengan penyidik dan penuntut umum.

4. Adanya kebijakan penanganan laporan ditengah pandemi covid 19. Terkait pengadilan

1. Mahkamah Agung perlu mengeluarkan regulasi tentang akses penasihat hukum untuk melakukan pemantauan sidang anak. Hal ini sangat diperlukan karena tidak semua orangtua/wali korban anak mengerti hukum atau berani secara mental untuk hadir di ruang sidang.

2. Sosialisasi Perma Nomor 3 Tahun 2017 mengenai Pedoman Mengadili Perkara. Perempuan Berhadapan dengan Hukum ke berbagai pihak dan kalangan masyarakat luas

3. Pengawasan baik oleh Badan Pengawas MA maupun Komisi Yudisial untuk mengawasi kode perilaku Hakim termasuk imparsial pada kasus-kasus kekerasan

(40)

Terkait Pemerintah

1. Perlu adanya kebijakan penanggulangan kekerasan seksual di lembaga, pendidikan, tempat kerja, keagamaan, hingga di masyarakat/ warga. Termasuk memiliki SOP yang jelas terkait kekerasan seksual agar tidak ada penyalahgunaan wewenang serta proses seleksi yang memperhatikan perspektif gender.

2. Perluasan sebaran, peningkatan kapasitas serta perspektif lembaga layanan termasuk kepada P2TP2A, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaaan Perempuan dan Anak. 3. Pemulihan korban baik dari segi kesehatan fisik, psikis dan psikososial.

4. selain itu juga lembaga-lembaga terkait harus memiliki SOP yang jelas serta menyeleksi anggota dalam Lembaga tersebut agar tidak menyalahggunakan kewenangan yang didapat.

Untuk masyarakat

1. Memperkuat kesadaran dan kemampuan advokasi masyarakat sipil terkait persoalan kekerasaan seksual yang berorientasi pada pemenuhan perlindungan dan pemulihan bagi korban kekerasaan seksual.

2. Penyadaran masyarakat termasuk kepada mahasiswa mengenai perlunya UU untuk mengakomodir kekosongan hukum terkait kekerasan seksual serta meluruskan mitos mengenai RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

3. Peningkatan pemahaman masyarakat mengenai hak-hak korban kekerasan seksual, termasuk anak dan disabilitas, agar masyarakat tidak lagi melakukan viktimisasi dan mendukung korban kekerasan seksual.

4. Advokasi nasional untuk kasus dan kebijakan misal kebijakan mengenai kekerasan seksual di Kementrian Pendidikan, lembaga layanan dll.

5. Penguatan korban sebagai bagian yang harus ada dalam advokasi kasus kekerasan seksual

Gambar

Grafik 3  Rentang Usia Korban
Grafik 6  Rentang Usia Pelaku
Grafik 9  Jenis relasi

Referensi

Dokumen terkait

 Identifikasi entitas data yang dibutuhkan  Membuat entitas data baru berdasarkan kebutuhan  Melakukan integrasi aplikasi untuk penggunaan data  Melakukan penambahan modul

Terima kasih atas segala bimbingan, saran dan jalan keluar dari segala permasalahan yang timbul dalam proses penyusunan skripsi ini.. Rusmawati, Sp.A, M.Kes selaku

Penyediaan laporan pemantauan (bagi pencapaian Sept – Dis tahun sebelum dan pencapaian kumulatif dari tarikh mula projek) Penghantaran laporan pemantauan (bagi

Tersusunnya laporan hasil analisis dan evaluasi produk hukum daerah yang terkait dengan Undang-Undang Cipta Kerja dalam rangka pemantauan dan peninjauan peraturan

Laporan Kinerja (LAKIN) Universitas Bangka Belitung tahun 2020 merupakan laporan evaluasi atas pencapaian kinerja organisasi dan kinerja anggaran. Fungsi evaluasi

Berdasar dari cakupan pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian kali ini adalah “Apakah Terdapat Hubungan yang Signifikan

Pratama Prima Bajatama dengan menggunakan data 3 tahun terakhir perusahaan dan memberikan perhitungan perencanaan agregat yang tepat untuk meminimalisasi biaya dan

Berdasarkan perhitungan dengan melakukan penjumlahan nilai setiap indikator pada veriabel struktur RTH di atas, dapat diketahui bahwa nilai variabel struktur RTH adalah dua