Belajar adalah sesuatu yang dibutuhkan bagi perkembangan makhluk hidup. Bagi manusia belajar merupakan sesuatu yang dapat menuntun seseorang kepada tujuan yang ingin dicapai. Dengan belajar terus menerus maka manusia akan semakin terlatih dalam mengembangkan dirinya.
Menurut Cronbach (dalam Sardiman 2003:20) belajar adalah perubahan perilaku seseorang sebagai hasil dari pengalaman hidupnya yaitu membaca, menulis dll. Sedangkan menurut Cronbach dan Skinner (Muhibbin, 2003) berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Saat seseorang belajar maka dia akan lebih responsif terhadap apa yang ada di sekitarnya. Namun, apabila seseorang tidak belajar maka kemungkinan responnya akan berkurang. Informasi ini dapat diolah di dalam pikiran manusia yang terus berkembang.
Berdasarkan pengertian belajar diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses yang terjadi dalam diri anak lahir melalui praktek dan latihan dan dapat diamati sehingga pengalaman yang diperoleh anak anak membentuk karakter dari anak.
9 2. Jenis Jenis Belajar
Belajar memiliki beberapa jenis yang tidak sama karena tidaklah harus selalu terpaku kepada satu jenis belajar. Menurut Slameto (2003), jenis-jenis belajar dibedakan menjadi sebelas jenis yaitu:
a. Belajar bagian yaitu individu belajar dengan memecahkan suatu masalah satu dengan yang lain berdiri sendiri.
b. Belajar dengan wawasan menurut G.A Miller dalam Slameto yaitu berupa belajar menggunakan kreasi untuk mengontrol pola tingkah laku yang ada.
c. Belajar diskriminatif adalah memilih beberapa sifat untuk dijadikan referensi bertingkah laku.
d. Belajar keseluruhan yaitu mempelajari secara menyeluruh sampai menguasainya.
e. Belajar incidental yaitu belajar tanpa instruksi atau petunjuk untuk mempelajari materi
f. Belajar instrumental yaitu belajar reaksi individu yang diperlihatkan apakah ia mendapat hukuman, hadiah, berhasil, atau gagal.
g. Belajar intensional yaitu lawan dari belajar incidental.
h. Belajar laten yaitu belajar perubahan tingkah laku individu secara tidak spontan
i. Belajar mental yaitu perubahan mental yang tidak terlihat
j. Belajar produktif yaitu mampu mentransfer prinsip utuk memecahkan masalah
10
k. Belajar verbal yaitu belajar yang diungkapkan secara verbal. 3. Prinsip-prinsip Pembelajaran di Sekolah Dasar
Prinsip-prinsip belajar dapat mempengaruhi kondisi kelas saat ada kegiatan belajar mengajar. Dalam belajar prinsip-prinsip ini harus sesuai
dengan tingkat perkembangan siswa. Menurut Depdikbud (Asy’ari,
2006: 44) prinsip-prinsip pembelajaran di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut :
a. Prinsip Motivasi
Motivasi adalah dorongan seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi ada yang berasal dari dalam dan ada yang timbul akibat adanya rangsangan dari luar. Motivasi intrinsik akan mendorong rasa ingin tahu, keinginan mencoba, mandiri dan ingin maju.
b. Prinsip Latar
Pada dasarnya siswa telah memiliki pengetahuan awal. Untuk itu, guru perlu menggali pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman apa yang telah dimiliki siswa sehingga kegiatan belajar mengajar tidak berawal dari suatu kekosongan.
c. Prinsip Menemukan
Siswa perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki agar mereka merasa senang dan tidak bosan.
d. Prinsip Belajar Sambil Melakukan
Pengalaman yang diperoleh siswa melalui bekerja merupakan hasil belajar yang tidak mudah untuk dilupakan. Oleh karena itu, dalam
11
proses belajar mengajar sebaiknya siswa diarahkan untuk melakukan
kegiatan atau “Learning by doing”.
e. Prinsip Belajar Sambil Bermain
Bermain merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan suasana gembira dan menyenangkan, sehingga dapat mendorong siswa untuk melibatkan diri dalam proses pembelajaran. Setiap pembelajaran perlu diciptakan suasana yang menyenangkan lewat kegiatan bermain yang kreatif.
f. Prinsip Hubungan Sosial
Kegiatan belajar akan lebih berhasil jika dikerjakan secara berkelompok. Dari kegiatan kelompok, siswa tahu kelebihan dan kekurangannya sehingga tumbuh kesadaran perlunya interaksi dan kerja sama dengan orang lain.
4. Karakteristik Anak Sekolah Dasar
Karakteristik siswa menurut Piaget (Sri Esti, 2002:72) perkembangan kognitif anak dapat dibedakan antara beberapa tahap sejalan dengan usianya, yaitu :
a. Tahap sensori motorik (0-2 tahun)
Pada tahap ini, intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak terhadap lingkungannya, sperti melihat, meraba, menjamah, dan mendengar. Anak belum memiliki bahasa simbol untuk mengungkapkan adanya suatu benda yang tidak berada didekatnya.
12
b. Tahap praoperasional (2-7 tahun)
Dalam tahap ini, anak menunjukkan kemampuan menggunakan simbol-simbol yang menggambarkan objek yang ada di sekitarnya. Pemikiran anak cenderung egoisentris atau memikirkan dirinya sendiri.
c. Tahap operasional konkrit (7-11 tahun)
Anak kelas IV Sekolah Dasar berada pada tahap ini, di mana anak mampu berpikir logis untuk memecahkan persoalan-persoalan yang sifatnya konkret yaitu dengan cara mengamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pemecahan masalah.
d. Tahap formal (>11 tahun)
Pada tahap ini anak sudah mulai maju dalam memahami konsep proporsi dengan baik. Anak mampu berpikir abstrak dan dapat menganalisis masalah secara ilmiah dan kemudian menyelesaikan masalah tersebut.
Pada umumnya, anak mulai masuk Sekolah Dasar pada usia 6-7 tahun dan rentang waktu belajar di Sekolah Dasar selam 6 tahun, maka usia anak Sekolah Dasar berkisar 6-12 tahun. Ini berarti bahwa anak usia Sekolah Dasar masuk pada tahap akhir praoperasional sampai awal opersional formal. Pada tahap tersebut umumnya anak memiliki sifat :
13 2) Senang bermain.
3) Mengatur dirinya sendiri, mengeksplorasi situasi sehingga suka mencoba-coba.
4) Memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi.
5) Akan belajar efektif bila ia merasa senang dengan situasi yang ada.
6) Belajar dengan cara bekerja dan suka mengajarkan apa yang ia bisa pada temannya (Asy’ari, 2006:38).
5. Ilmu Pengetahuan Sosial a. Pengertian IPS
IPS merupakan suatu ilmu yang mengkaji kehidupan sosial yang semuanya diintegrasikan ke dalam bidang-bidang ilmu sosial dan humaniora (Sumaatmaja, 2003 :19). beberapa bidang ilmu sosial mencakup beberapa aspek langsung kepada kehidupan manusia.
Sedangkan menurut Ischak (2004 : 136) IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis tentang kehidupan manusia. IPS dipandang sebagai ilmu sosial yang secara keilmuan sangat dekat dengan kehidupan manusia. IPS sangat didukung dengan teori-teori perkembangan peradapan manusia di bumi sehingga ilmu ini sangat membantu dalam kehidupan manusia.
Menurut Jarolimek (2014: 9) ilmu sosial bersifat praktis, yaitu IPS dipandang sebagai penguatan secara fisik dan sosial agar anak dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Maka dari itu IPs dapat menjadi penghubung antara anak dan dunia siswa.
14
Pembelajaran IPS di SD perlu melakukan inovasi agar pembelajaran yang diberikan dapat sesuai dengan realita yang sebenarnya. Selain itu, IPS sebagai ilmu sosial yang berkaitan dengan kehidupan manusia haruslah sangat teliti dalam menelaah dan mengkaji kehidupan anak di lingkungan sosialnya.
6. Tujuan IPS dalam pendidikan
Tujuan IPS Menurut Badan Nasional Pendidikan (2006: 175) Tujuan IPS sebagaimana disebutkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP (2006 : 375) adalah :
a. mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
b. memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, memecahkan masalah
c. memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan;
d. memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional, dan global.
Dengan demikian dengan mempelajari IPS siswa dapat menjadi manusia yang lebih mengenal bahwa kita adalah makhluk sosial. Di samping itu, dengan mempelajari IPS kita menjadi yakin akan kehidupan manusia di dunia ini selalu terkait dengan kehidupan sosial.
15 7. Pembelajaran IPS
Menurut komalasari (2010: 3) Pembelajaran adalah suatu sistem yang dirancang dan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik pada pendidikan dasar maupun pada pendidikan tinggi Dalam kegiatan belajar mengajar IPS membahas manusia dengan lingkungannya dari berbagai sudut ilmu sosial pada masa lampau, sekarang, dan masa mendatang, baik pada lingkungan yang dekat maupun lingkungan yang jauh dari siswa dan siswi dengan interaksi pembelajaran. Oleh karena itu, guru IPS harus sungguh-sungguh memahami apa dan bagaimana bidang studi IPS itu.
Menurut Bruner (Sapriya, 2007: 38) terdapat tiga prinsip pembelajaran IPS di SD, yaitu
Pembelajaran harus berhubungan dengan pengalaman serta konteks lingkungan, sehingga mudah dipahami oleh siswa.
Pembelajaran harus terstruktur, sehingga siswa belajar dari hal-hal mudah kepada hal yang sulit, dan
Pembelajaran harus disusun sedemikian rupa, sehingga memungkinkan siswa dapat melakukan eksplorasi sendiri dalam mengkonstruksi pengetahuannya.
Berdasaarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS merupakan suatu sistem yang dilakukan untuk memperoleh hasil atau tujuan yang telah ditetapkan dalam IPS.
16 B. Motivasi Belajar
1. Pengertian motivasi belajar
Motif berasal dari akar kata bahasa latin “movere” yang kemudian menjadi “motion” yang artinya gerak atau dorongan untuk bergerak. Jadi,
motif merupakan daya dorong, daya gerak, atau penyebab seseorang untuk melakukan berbagai kegiatan dengan tujuan tertentu. Hal ini sejalan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Woodworth dan Marquis dalam bukunya Psychology (1996: 337), yaitu motif adalah suatu sel yang menjadikan individu ingin atau memiliki dorongan untuk mencapai tujuan tertentu.
Pengertian lain dikemukakan oleh Mc Donald (Sardiman 2003: 73)
yakni terjadinya “feeling” yang membuat seseoran berperilaku seusai
dengan apa yang dia kehendaki untuk mencapai suatu tujuan. Lebih lanjut Riduwan (2006: 210) mengatakan motivasi merupakan suatu daya yang timbul dalam diri seseorang untuk menggapai tujuan yang diinginkannya.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli peneliti menyimpulkan bahwa motivasi adalah suatu keinginan atau dorongan dari dalam diri seseorang dengan maksud atau tujuan tertentu.
2. Fungsi motivasi
Fungsi motivasi dalam diri seseorang dapat dibagi menjadi 3 fungsi. Masing-masing fungsi motivasi tersebut antara lain:
a. Mendorong manusia untuk berbuat, sehingga seseorang akan merasa tergerakkan untuk berbuat sesuatu.
17
b. Menentukan arah perbuatan, mengarahkan seseorang pada satu tujuan yang ingin dicapai.
c. Menyelesaikan perbuatan, menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan.
3. Jenis-jenis motivasi
Menurut sifatnya, motivasi dibedakan atas tiga macam (Sukmadinata, 2003: 63), yaitu:
a. Motivasi Takut (fear motivation)
Motivasi takut dapat diartikan individu melakukan kegiatan karena takut akan sesuatu yang membuat dia seakan tertekan oleh keadaan yang harus dia lakukan sehingga seseorang akan melakukan suatu tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ada.
b. Motivasi insentif (incentive motivation)
Individu melakukan suatu perbuatan untuk mendapatkan sesuatu insentif (hadiah, penghargaan, penghargaan, tanda jasa, kenaikan pangkat, dan sebagainya).
c. Sikap (attitude motivation atau self motivation)
Motivasi ini lebih bersifat intrinsik, muncul dari dalam individu. Seseorang yang memiliki sifat yang positif terhadap sesuatu akan menunjukan motivasi yang besar terhadap hal tersebut. Motivasi ini dating dari dirinya sendiri karena adanya rasa senang atau suka serta faktor-faktor subyektif lainnya.
18
4. Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar
Menurut Muhammad Faiq Dzaki (2009), unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar adalah sebagai berikut :
a. Cita-cita atau aspirasi siswa
Cita-cita merupakan hal yang sacara langsung dapat mempengaruhi seseorang dari kecil. Seseorang yang sudah memiliki cita-cita dari kecil maka termotivasi dalam belajarnya untuk mencapai tujuannya. b. Kemampuan siswa
Keinginan seorang anak perlu disertai dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
c. Kondisi siswa
Kondisi siswa yang dimaksud meliputi kondisi jasmani dan kondisi rohani. Kondisi yang seimbang akan sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar anak.
d. Kondisi lingkungan
Jika kondisi lingkungan anak aman, tentram, tertib, dan nyaman maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. f. Upaya guru dalam membelajarkan siswa
19
Guru adalah seorang pendidik profesional. Ia bergaul setiap hari dengan siswa-siswanya. Guru dapat memilih dan memilah yang baik. Partisipasi dan teladan memilih perilaku yang baik tersebut sudah merupakan upaya membelajarkan dan memotivasi siswa.
C. Quantum Teaching learning
1. Pengertian Quantum Teaching learning
Quantum Teaching Learning adalah suatu metode pembelajaran yang meriah dan menyenangkan dengan segala nuansa kelasnya. Quantum Teaching Learning juga menyertakan berbagai kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar di kelas.
Menurut DePorter (2005: 5), Quantum Teaching Learning adalah suatu penyatuan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar kelas. Banyak unsur-unsur yang menyangkut proses belajar efektif bagi siswa. Unsur-unsur ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi keahlian tersendiri bagi siswa yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain. Quantum Teaching Learning menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus menarik yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan motivasi siswa untuk belajar lebih cepat dan kemudian menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. 2. Asas Quantum Teaching learning
DePorter, dkk (2005: 6) menjelaskan bahwa Quantum Teaching Learning bersandar pada asas utama yaitu : Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Asas utama
20
tersebut memberikan pengertian bahwa langkah awal yang harus dilakukan guru dalam pembelajaran yaitu mencoba memasuki dunia yang dialami peserta didik. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan bagi guru untuk mengenal lebih dalam apa yang diinginkan siswa ketika belajar di kelas. Dalam pembelajaran, guru perlu mengkaitkan apa yang diajarkan dengan sebuah pikiran, peristiwa atau perasaan siswa di lingkungan rumah mereka. Setelah itu kita dapat membawa mereka ke dalam dunia kita dan memberi mereka pemahaman mengenai isi dunia itu.
3. Prinsip-prinsip Quantum Teaching learning
Quantum Teaching Learning berusaha untuk mengubah suasana belajar yang biasa dan cenderung membosankan menjadi lebih meriah dan dan memadukan potensi fisik, psikis dan dan emosi siswa menjadi sesuatu yang integral.
Quantum Teaching Learning berisi prinsip-prinsip sistem yang lebih mudah dalam penyajiannya untuk mendapatkan hasil yang baik dengan waktu yang sedikit (sahaka. http://sahaka.multyply.com).
DePorter (2005: 7) menyebutkan bahwa Quantum Teaching Learning memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap. Beberapa prinsip-prinsip tersebut adalah:
a. Segala berbicara
Segala sesuatu yang berpengaruh dalam proses belajar termasuk cara guru berperilaku, menyapa, tersenyum, dan berpakaian bila siswa
21
sudah merasa nyaman dengan guru maka akan sangat membantu dalam proses pembelajaran yang menyenangkan.
b. Segala bertujuan
Prinsip ini menggambarkan bahwa segala sesuatu dalam proses belajar memiliki tujuan tertentu.
c. Pengalaman sebelum pemberian nama
Proses belajar yang paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
d. Akui setiap usaha
Belajar sebenarnya mengajarkan peserta didik untuk berusaha menggali kemampuan diri. Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat apresiasi sehingga siswa merasa nyaman dan percaya diri.
e. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Perayaan memberikan penguatan kepada siswa dengan emosi yang positif dengan belajar. Perayaan membangun keinginan sukses. Beberapa perayaan yang bisa digunakan adalah: tepuk tangan, poster umum, pengakuan kekuatan, kejutan.
4. Kerangka Rancangan Quantum Teaching Learning
DePorter (2005: 88) menyajikan rancangan belajar Quantum Teaching Learning sebagai berikut :
22
Dalam proses belajar mengajar lebih baik siswa diikut sertakan, sehingga menumbuhkan motivasi belajar siswa. Penyertaan jalinan dan kemampuan saling memahami. Misalnya : anak diberi pertanyaan atau cerita yang menarik sehingga anak akan termotivasi untuk belajar.
b. Alami
Unsur ini memberikan pengalaman kepada siswa dalam menemukan susatu konsep.
c. Namai
Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas penamaan dibangun di atas pengetahuan dan keingintahuan siswa saat itu. Penamaan adalah saatnya untuk mengajarkan konsep, keterampilan, dan strategi belajar, misalnya menggunakan susunan gambar, warna, alat bantu, alat tulis, dan poster atau mading.
d. Demonstrasikan
Pembelajaran yang dilakukan guru sangat berpengaruh dalam proses belajar siswa. Apabila guru mendemonstrasikan materi yang dipelajari dengan menggunakan media maka siswa akan tertarik dengan pembelajaran. Dengan demonstrasi siswa dapat mengaplikasikan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. e. Ulangi
Setelah memperagakan materi guru memberi kesempatan untuk mengulangnya. Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan
23
menumbuhkan rasa ingin tahu dan memudahkan mengingat informasi.
f. Rayakan
Siswa membutuhkan penguatan dalam belajar agar siswa termotivasi untuk mencobanya. Untuk itu, penguatan harus diberikan kepada siswa untuk menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan yang telah diraih siswa.