DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoretis 1.Konsep Diri
2. Pembelajaran Konstruktivisme
a. Pengertian Pembelajaran Konstruktivisme
Pembelajaran Konstruktivisme merupakan salah satu teori belajar yang berhubungan dengan cara seseorang memperoleh pengetahuan, yang menekankan pada penemuan makna (meaningfulness). Perolehan pengetahuan tersebut melalui informasi dalam struktur kognitif yang telah ada hasil perolehan sebelumnya yang tersimpan dalam memori dan siap dikonstruk untuk mendapatkan pengetahuan baru.36
Menurut paradigma konstruktivistik, ilmu pengetahuan bersifat sementara terkait dengan perkembangan yang dimediasi baik secara social maupun cultural, sehingga cenderung subyektif. Belajar menurut pandangan ini lebih sebagai proses regulasi diri dalam menyelesaikan konflik kognitif yang sering muncul melalui pengalaman konkrit, wacana kolaboratif, dan interfretasi 37.
“Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai”.38
36
Ahmad Sofyan, Konstruktivisme dalam Pembelajaran IPA/Sains, (Prosiding Seminar Internasional Pendidikan IPA 2007) h. 8
37
I Wayan Santyasa, Model-Model Pembelajaran Inovatif, disajikan dalam pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas Guru SMP dan SMA Nusa Penida, 29 Juni s.d Juli 2007,
FMIPA Universitas Pendidikan Ganesha, h. 1
38
Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta, Remaja Rosda Karya, 2006) h. 13
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Para pendukung konstruktivis percaya bahwa anak didik akan belajar banyak tentang sains jika mereka melakukan percobaan sendiri.39
Dasar pemikiran para konstruktivis lebih menekankan pada peran aktif peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna, serta menekankan pada pentingnya membuat kaitan antara gagasan peserta didik dalam pengkonstruksian secara bermakna dan mengaitkan gagasan peserta didik dengan informasi baru dikelas.40 Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitas orang lain.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. “Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa menginterpretasi pengalaman baru dan memperoleh pengetahuan baru berdasar realitas yang telah terbentuk di dalam pikiran siswa”.41
Kemudian dalam kelas konstruktivis, guru memotivasi murid untuk menyampaikan pendapat mereka tentang fenomena sains. Anak didik bisa menyanggah pendapat guru jika mereka berbeda pendapat dengan guru, karena
39
---, Peningkatan Hasil Belajar Biologi Siswa Dengan Menggunakan Pendekatan Interaktif Pada Konsep Sistem Pernapasan Pada Manusia, http://arymlb.multiply.com/journal, November 2010, h. 29
40
Wawan Setiawan, Pengembangan Mutimedia Interaktif Berbasis Pandangan Pendagogi Materi Subjek, Pendidikan Imu Komputer FPMIPA UPI [email protected], h. 4
41
Johar Maknun, Penerapan Pembelajaran Konstruktivisme untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Dasar Fisika Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), (Prosiding Seminar Internasional Pendidikan IPA 2007) h. 29
apa yang disampaikan dan dipercaya “benar” oleh guru bisa saja “salah”. Guru dapat memberikan “tangga” agar mereka memperoleh pemahaman lebih baik 42.
Dari keterangan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Sehingga memberikan semangat kepada ahli pendidikan untuk menggunakan prinsip-prinsip konstruktivisme dalam pembaharuan pendidikan.
b. Ciri-Ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Untuk mewujudkan kelas konstruktivis ternyata harus mempersiapkan kelas dengan baik. “Guru harus menyiapkan perlengkapan dan lembaran kerja demi mendukung terwujudnya kelas konstruktivis”. Guru hanya sebagai fasilitator atau pencipta kondisi belajar yang memungkinkan peserta didik secara aktif mencari sendiri informasi, mengasimilasi, dan mengadaftasi sendiri informasi dan mengkonstruksinya menjadi pengetahuan yang baru berdasarkan pengetahuan yang dimiliki masing-masing43 Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya dan menggalakkan ide yang dimulai oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran. Menyokong pembelajaran secara kooperatif, mengambil sikap dan pembawaan murid mengenai suatu ide guna menggalakkan dan menerima daya usaha. Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid dan guru menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran. Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen. c. Implikasi Konstruktivisme dalam Pembelajaran Fisika
Implikasi model pembelajaran konstruktivisme adalah siswa melakukan proses aktif dalam mengkonstruksi gagasan-gagasan menuju konsep yang bersifat
42
---, Pembelajaran Dalam Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik,
http://luthfiyahnurlaela.wordpress.com, November 2010, h. 36
43
---, Keterampilan Dasar Mengajar, http://badarudinalbanna.wordpress.com/,
ilmiah. Siswa menyeleksi dan mentransformasi informasi sendiri, mengkonstruksi hipotesis dan membuat suatu keputusan dalam struktur kognitifnya.
Transformasi pengetahuan dalam konstruktivisme adalah pergeseran siswa sebagai penerima pasif informasi menjadi pengkonstruksi aktif dalam proses pembelajaran.44 Sehingga pengetahuan dalam pikiran siswa dapat membentuk struktur kognitif yang telah ada sebelumnya, dan diharapkan siswa dapat membedakan antara belajar secara bermakna dengan belajar secara hafalan.
Berdasarkan beberapa paham konstruktivisme diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat dipindahkan (transfer) dari seorang guru kepada siswa dalam bentuk yang serba sempurna, melainkan bertahap sesuai dengan pengalaman masing-masing siswa.45
d. Metode Pembelajaran Inkuiri 1) Pengertian Pembelajaran Inkuiri
“Metode pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam metode ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran”.46
metode pembelajaran latihan inkuiri menuntut guru untuk melibatkan siswa untuk memulai inkuiri sedapat mungkin. Peran guru adalah menyeleksi atau menciptakan situasi masalah, mewasiti prosedur inkuiri, memberikan respon terhadap inkuiri yang ditunjukkan siswa, membantu siswa memulai inkuiri, dan memfasilitasi diskusi siswa. Pelaksanaan inkuiri dalam kelas yaitu guru membagi tugas meneliti suatu masalah di kelas47.
Proses pembelajaran secara inkuiri-penemuan adalah satu proses yang dinamik. Seperti yang dikutip oleh Thangavelo Marimuthu, Azman Jusoh, dan Rodziah Ismail bahwa menurut Dewey “inkuiri-penemuan adalah hubungan dialectical antara guru dan murid. Penggunaan soalan adalah
44
Johar Maknun, op cit., h. 33
45
Ahmad Sofyan, op. cit., h. 14
46
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2008) h. 197
47
Emmawaty Sofya dan Ila Rosilawati, Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terpimpin pada Materi Pokok Hidrolis Garam Siswa Kelas XI SMP YP UNILA. Hal. 3
sangat penting dan merupakan ciri utama proses pembelajaran secara inkuiri-penemuan. Oleh yang demikian, guru perlu merancang persoalan secara sistematik untuk menggalakkan murid berfikir secara induktif atau deduktif”.48
NationalScience Teacher Association Amerika Serikat seperti dikutip oleh Thangavelo Marimuthu, Azman Jusoh, dan Rodziah Ismail mencirikan inkuiri sebagai berikut:
a) Penyoalan dan penyediaan masalah yang boleh diselesaikan (Questioning and formulating solvable problems)
b) Membuat refleksi dan membina pengetahuan daripada data (Reflecting on, and constructing knowledge from data)
c) Berkolaborasi dan menukar maklumat untuk mencari jawaban (Collaborating and exchanging information while seeking solutions) d) Membina konsep dan perkaitan daripada data empirikal (Developing
concepts and relationships from empirical data).49
Secara umumnya, inkuiri-penemuan merupakan proses yang aktif terlibat dalam pemikiran sains (scientific thinking), penyiasatan dan membina pengetahuan.50 “Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator, penanya soalan dan pembimbing murid untuk memahami konsep sains berkenan”.51
2) Jenis-Jenis Metode Inkuiri
Trowbridge dalam metode pembelajaran mipa mengajukan tiga tahap pembelajaran berbasis inkuiri, yaitu:
a) Tahap pertama adalah belajar discoveri, yaitu guru menyususn masalah dan proses tetapi memberi kesempatan siswa utuk mengidentifikasi hasil alternatif.
b) Tahap kedua inkuiri terbimbing (guided inquiry), yaitu guru mengajukan masalah dan siswa menentukan penyelesaian dan prosesnya.
48
Thangavelo Marimuthu, dkk, Amalan dan Masalah Pelaksanaaan Strategi Inkuiri-Penemuan di Kalangan Guru Pelatih Sains Semasa Praktikum: Satu Kajian Kes, (Presiding Seminar Internasional Pendidikan IPA 2007) h. 3
49
Thangavelo Marimuthu, Ibid., h. 2
50
Thangavelo Marimuthu, Ibid., h. 2
51
c) Tahap ketiga adalah inkuiri terbuka (open inquiry) yaitu guru hanya memberikan konteks masalah sedangkan siswa mengidentifikasi dan memecahkannya.52
Townbridge dan Bybee membincangkan tiga peringkat pembelajaran yang terdapat dalam inkuiri-penemuan. Peringkat pertama pembelajaran melibatkan pembelajaran secara penemuan (discovery learning) dimana guru menyediakan masalah dan prosesnya manakala murid mencari pelbagai cara penyelesaian alternatif. Inkuiri-penemuan tingkat kedua pula lebih kompleks dan dikenali sebagai inkuiri-penemuan terbimbing (guided inkuiry). Dalam inkuiri-penemuan terbimbing, guru menyediakan masalah dan murid akan menentukan proses dan penyelesaiannya. Manakala inkuiri-penemuan tingkat ketiga adalah semakin mencabar dimana guru menyediakan konteks sesuatu masalah dan murid pula akan mengenal pasti masalah serta cara penyelesainnya.53
Berdasarkan penjelasan mengenai jenis-jenis inkuiri di atas, dapat disimpulkan bahwa pembagaian inkuiri menjadi tiga jenis berdasarkan pada peranan guru dan siswa dalam pembelajaran inkuiri.
3) Keunggulan dan Kelemahan Inkuiri
Tabel 2.8 Keunggulan dan Kelemahan Metode Inkuiri
Keunggulan Inkuiri Kelemahan Inkuiri
a) Dapat membentuk dan mengembangkan “self
-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
b)Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang seru. c) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atau
inisiatifnya sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka.
Jika Metode inkuiri digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa a)Strategi ini sulit dalam
merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa
52
Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Strategi Pembelajaran MIPA, (Departemen Pendidikan Nasional, 2008) h. 24
53
Keunggulan Inkuiri Kelemahan Inkuiri
d)Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik. e) Situasi proses belajar menjadi merangsang.
f) Dapat mengembangakan bakat atau kecakapan individu.
g)Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri. h)Dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar
yang tradisional.
Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.54
dalam belajar.
b)Kadang-kadang dalam mengimplementasikannyame merlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuikannya dengan waktu yang telah ditentukan
c)Guru harus tepat memilih masalah yang akan dikemukakan untuk
membantu siswa
menemukan konsep.
d)Guru dituntut menyesuaikan diri terhadap gaya belajar siswanya.55
4) Metode Inkuiri Terstruktur
Inkuiri terstruktur masih memegang peranan guru dalam menentukan topik, pertanyaan, bahan dan prosedur. Sedangkan analisis hasil dan kesimpulan dilakukan oleh siswa. Inkuiri terstruktur menuntut siswa mengikuti dengan seksama setiap langkah kerja dalam kegiatan hand-on yang telah disusun oleh guru melalui LKS jenis guided worksheet activity.56
Adapun tahapan dalam metode pembelajaran inkuiri terstruktur terbagi menjadi empat fase yaitu:
54
Emmawaty Sofya dan Ila Rosilawati, Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terpimpin pada Materi Pokok Hidrolis Garam Siswa Kelas XI SMP YP UNILA. Hal. 2
55
Emmawaty Sofya dan Ila Rosilawati, Ibid. Hal. 2
56
Nengsih Juanengsih, Perbandingan Pengaruh Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dan Inkuiri Terstruktur terhadap Peningkatan Penguasaan Konsep dan Kemampuan Kerja Ilmiah Siswa Kelas X Pada Konsep Bioteknologi, (Metamorfosa, Jurnal PendidikanIPA) Vol. 1, h. 28
Tabel. 2.9 Tahapan Pembelajaran Inkuiri Terstruktur
Fase Keterangan
Fase pertama, Menyajikan, Penyelidikan
Guru menyajikan area penyelidikan yang dimulai dengan kegiatan pembagian kelompok dan LKS
Fase kedua,
Perumusan Masalah
Guru membimbing siswa dalam
kegiatan penyelidikan, siswa mengamati permasalahan dalam praktikum yang tercantum dalam LKS
Fase ketiga, Mengenali Masalah Penyelidikan
Siswa melakukan kegiatan pengamatan yang sebelumnya dilakukan proses percobaan yang melalui serangkain langkah kerja yang tertera dalam LKS sebagai pedoman belajar
Fase keempat, Pemecahan Masalah
Siswa mencari pemecahan masalah, pada fase ini kegiatan pembelajaran menggunakan metode diskusi
Pada saat terakhir dalam metode pembelajaran inkuiri terstruktur, kegiatan yang berlangsung adalah mengemukakan enam fase dalam inkuiri terstruktur, yaitu sebagai berukut:
Tabel 2.10 Tahapan Pembelajaran Inkuiri Terstruktur
Fase Keterangan
Fase pertama, Planning (perencanaan)
Guru menyajikan permasalahan mengenai tekanan pada zat padat, cair, dan gas yan terkait dengan kehidupan sehari-hari, kemudian menentukan prosedur untuk menyelesaikan masalah yaitu dengan praktikum yang langkah-langkahnya sudah ditentukan oleh guru.
Fase Keterangan
Fase kedua, Retrieving (Mendapatkan Informasi)
Siswa mencari dan mengumpulkan data mengenai masalah yang diajukan oleh guru dari berbagai sumber.
Fase ketiga, Processing (Memproses Informasi)
Siswa menguji dan membuktikan hopotesisnya sendiri dengan melakukan praktikum dan menganalisa hasil pengamatannya pada eksperimen
Fase keempat, Creating (Menciptakan Informasi)
Siswa membuat kesimpulan dari hasil pengamatannya dan membuat laporan dari hasil eksperimennya
Fase kelima, Sharing (Mengkomunikasikan Informasi)
Siswa mempresentasikan hasil pengamatannya. Guru mengomentari jalannya diskusi dan memberikan penguatan serta meluruskan hal-hal yang kurang tepat. Selain itu juga guru menanamkan nilai religius yang terkandung dalam materi yang telah dipelajari
Fase keenam, Evaluating (Mengevaluasi)
Guru memberikan penghargaan kepada masing-masing kelompok yang telah memberikan presentasinya, kemudian memberikan tugas individu mengenai materi yang telah dipraktikumkan.
Berdasarkan uraian diatas, metode inkuiri terstruktur (structured inquiry) dapat diartikan sebagai salah satu metode pembelajaran inkuiri yang berbasis masalah. Pertanyaan dan prosedur percobaan untuk menyelesaiakn masalah ditentukan oleh guru. Masalah dan pertanyaan ini yang mendorong siswa melakukan penyelidikan untuk menemukan jawabannya. Kegiatan siswa dalam pembelajaran ini adalah mengumpulkan data dari masalah yang telah diajukan
oleh guru, membuat hipotesis, melakukan penyelidikan, menganalisa hasil, membuat kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil penyelidikan.
Pembelajaran inkuiri terstruktur mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari metode pembelajaran ini diantaranya sebagai berikut:
a) Menerapkan pengetahuan dalam situasi yang berbeda
b) Mendapatkan kemampuan untuk belajar dan menerapkan materi pengetahuan
c) Mengkaitkan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sehari-hari
d) Memperoleh dan menganalisa informasi menjadi lebih terampil e) Menghindari siswa dari cara belajar yang tradisional
Adapun kelemahan dari metode pembelajaran ini sebagai adalah berikut: a) Metode inkuiri memerlukan waktu yang relatif banyak
b) Metode inkuiri tidak bisa digunakan pada semua bidang mata pelajaran
c) Siswa lebih suka dengan metode tradisional
Berdasarkan tahapan diatas, metode pembelajaran inkuiri terstruktur dan inkuiri terbimbing, tampak jelas perbedaan antara kualitas metode inkuiri terstruktur dengan inkuiri terbimbing. Maka metode ini mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar siswa yang akan diperoleh. Ini artinya bahwa makin banyak skala penggunaan metode ini maka akan semakin tinggi hasil belajar siswa. Apabila digambarkan akan tampak seperti diagram dibawah ini
Hasil Belajar
Metode
X
Y Z
Gambar 2.1 Hubungan metode pembelajaran dengan hasil pembelajaran Keterangan:
X= Metode pembelajaran inkuiri terstruktur Y= Hasil belajar dengan metode inkuiri terstruktur Z= Input metode inkuiri dengan hasil belajar
Sehingga metode pembelajaran inkuiri terstruktur adalah pembelajaran dimana permasalahan yang harus diselidiki siswa diberikan oleh guru melalui kegiatan hand-on, selain itu guru juga memberikan prosedur dan materi yang harus dikerjakan oleh siswa tanpa memberitahukan hasil apa yang diperoleh dari percobaan tersebut. Adapun dampak pengajaran inkuiri secara langsung dan ringan seperti dalam bagan berikut 57.
Tabel 2.11 Pengajaran Inkuiri Secara Langsung Dan Ringan
Model Latihan Inkuiri Dampak Pengajaran Langsung
Dampak Pengajaran Ringan
Menyadari bahwa pengetahuan itu bersifat
sementara 1. Keterampilan proses sains 2. Strategi untuk penyelidikan kreatif 1. Semangat berkreatifitas 2. Kebebasan atau otonomi daerah 3. Toleran terhadap pendapat yang berbeda
57
---, Model- Model Pembelajaran IPA. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendreral Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Ilmu Pengetahuan Alam, 2000, h. 23-24