• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN MINAT

3. Pembelajaran Kontekstual

a. Landasan Pembelajaran Kontekstual

Von Glasessfeld sebagaimana dikutip Suparno (1997: 24-25) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang dimulai oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Bila diteliti lebih jauh ga gasan atau cikal bakal kontruktivisme sebenarnya sudah dimulai oleh Gembatissta Vico. Gembatissta Vico adalah seorang epistemolog kebangsaan Italia. Vico menjelaskan bahwa mengetahui berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Seseorang baru mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsur- unsur yang dapat membangun sesuatu itu. Menurut Vico, hanya Tuhan yang dapat mengetahui alam raya ini karena Dia yang menciptakannya. Sementara itu manusia tahu hanya dari apa yang telah dikonstrusikannya. Dengan demikian pengetahuan tidak lepas dari orang (subyek) yang tahu karena pengetahuan merupakan struktur konsep dari pengamat yang mengamati obyek tertentu.

Dalam perkembangan selanjutnya pandangan filsafat konstruktivisme dapat mempengaruhi proses belajar. Sebagai pembelajar belajar bukan sekadar menghafal konsep atau rumusan tetapi bagaimana mengkonstruksikan kembali konsep atau pengetahuan yang telah diterima itu. Dengan demikian pengetahuan bukan hasil pemberian orang lain tetapi upaya mengkonstrusikan kembali pengetahuan secara mandiri (Suparno, 1997: 30).

Selanjutnya Jean Piaget sebagaimana disarikan Suparno (1997: 33) mengembangkan gagasan konstrutivisme dalam proses pembelajaran. Salah satu gagasannya adalah ketika ia menjelaskan bagaimana proses pengetahuan seseorang dalam teori perkembangan intelektual. Piaget adalah seorang ahli biologi. Dengan demikian gagasan tentang belajar dipengaruhi oleh keahliannya dalam bidang biologi. Piaget menyatakan bahwa skema belajar dapat berkembang berdasarkan perkembanga n inteletual khususnya pada taraf operasional formal. Piaget sebagaimana disarikan (Suparno, 1997: 34) membedakan perkembangan taraf pengetahuan seseorang terdiri dalam empat taraf taraf sensor motor sekitar usia dua tahun, taraf praoperasional sekitar us ia dua-tujuh tahun, taraf operasional konkret sekitar usia tujuh-sebelas tahun, dan taraf operasional formal sekitar usia sebelas- lima belas tahun.

Sementara Wina Sanjaya mengemukakan bahwa landasan lain yang mempengaruhi proses pembelajaran kontekstual adalah landasan psikologis. Secara psikologis proses pembelajaran dapat terjadi secara individu. Belajar merupakan proses yang melibatkan proses mental yang tampak dalam emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau pengalaman. Proses pembelajaran yang melibat mental karena manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang melekat dalam dirinya untuk mengaitkan antara yang abstrak dan nyata, antara konsep dan tindakan (Wina Sanjaya, 2008: 259, bdk. Johnson, 2002: 42-46).

b. Konsep Dasar Pembelajaran Kontekstual

Menurut Wina Sanjaya (2008: 255) pembelajaran kontekstual merupakan suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa

secara penuh untuk menemukan makna dari materi pelajaran dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam hidup sehari- hari. Menurut Saekhan Muchith (2008: 2) pembelajaran kontekstual merupakan model pembelajaran yang lebih mengedepankan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien yang titik beratnya adalah memberdayakan siswa. Sedangkan Nurhadi (2002: 1) menjelaskan bahwa konsep pembelajaran kontekstual adalah konsep yang membantu para guru mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata, mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya, dan menerapkan dengan situasi kehidupan nyata.

Sementara Johnson (2002: 14-15) mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi pelajaran yang diterima dalam kelas dan mereka menangkap makna dari tugas-tugas sekolah dan mengaitkannya dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.

Oleh karena itu dalam proses penerapannya seorang guru harus memahami bahwa konsep-konsep yang dikemukakan di atas mengandung tiga hal yaitu pertama, pembelajaran kontekstual menekankan proses yang melibatkan siswa untuk menemukan materi pelajaran. Proses pembelajaran mengharapkan siswa tidak hanya menerima pelajaran, akan tetapi terlibat dalam proses mencari dan menemukan sendiri materi dan makna pelajaran. Kedua, pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk menemukan hubungan antara materi yang diterimanya di kelas dengan kehidupan nyata. Proses pembelajaran mengharapkan mampu

menenukan hubungan antara pengalaman dalam kelas dengan kehidupan nyata. Ketiga, pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk mampu menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam kehidupan nyata. Proses pembelajaran mengharapkan siswa memberdayakan pengetahuan dalam kehidupan sehari- hari sehingga berdaya guna bagi orang lain.

Di samping itu Nurhadi mendefinisikan pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari- hari. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pendekatan yang membantu guru mendesain pembelajaran yang mengaitkan materi pelajaran dengan dunia nyata, mendorong siswa menemukan makna dari materi pelajaran dan mengaitkan materi itu dengan konteks kehidupan keseharian, serta mendorong siswa menerapkan pengetahuan dalam hid up harian. Proses pembelajaran kontekstual mengharapkan siswa dapat membuat hubungan penting yang menghasilkan makna dengan melaksanakan pembelajaran yang diatur sendiri, kerja sama, berpikir kritis dan kreatif, menghargai orang lain, mencapai standar tinggi, berperan serta dalam tugas-tugas penilaian autentik (Nurhadi, 2002: 5, bdk. Baharudin & Esa Nur Wahyuni, 2007: 137).

Sementara itu Johnson (2002: 309) mendefinisikan pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang membuat siswa mampu memperkuat, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik di berbagai kondisi baik di dalam maupun di luar sekolah untuk memecahkan masalah- masalah nyata maupun sebagai simulasi. Pembelajaran kontekstual dapat

terjadi ketika para siswa mengalami dan menerapkan hal- hal yang dipelajari dengan merujuk pada permasalahan nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa dan sebagai pekerja. Pembelajaran kontekstual menekankan tingkat pemikiran yang lebih tinggi, menghubungkan, menganalisis, menyusun informasi dan data dari berbagai sumber dan sudut pandang. Oleh karena itu Johnson (2002: 309-310)

mengemukakan bahwa:

Pembelajaran kontekstual adalah proses belajar- mengajar yang menolong para guru menghubungkan isi permasalahan pembelajaran dengan situasi dunia nyata. Pembelajaran kontekstual juga akan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja serta mendorong mereka terlibat di dalam kerja keras yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Pengajaran dan pembelajaran kontekstual adalah berdasarkan pada masalah, pembelajaran dimana siswa mengatur sendiri, pembelajaran dalam konteks majemuk, pembelajaran yang mengaitkan materi yang dipelajari dengan konteks-konteks kehidupan siswa yang beragam, yang menggunakan penilaian autentik, dan pembelajaran yang terdiri dari kelompok-kelompok pembelajar yang saling tergantung.

Sementara itu Dedy Pradipto (2007: 66-67) tidak menggunakan istilah pembelajaran kontekstual melainkan dengan pendidikan kontekstual. Penggunaan istilah pendidikan kontekstual lebih berkaitan dengan sifat dari pendidikan yaitu menemukan makna dalam hidup siswa setiap hari. Dengan demikian pendidikan itu seharusnya bersifat kontekstual, artinya pendidikan disesuaikan dengan keadaan lingkungan setempat. Oleh sebab itu Dedy Pradipto (2007: 66) mengungkapkan sebagai berikut:

Pendidikan harus mampu mendampingi anak mencapai tiga sasaran emansipatorik yaitu; pertama, manusia yang eksplorator, suka mencari, suka bertanya, suka mengambil risiko; kedua, manusia yang kreatif, pembaharu, tidak suka terikat pada pola-pola lama; ketiga, manusia yang integral, yang utuh jiwanya memiliki kesadaan bahwa hidup itu kompleks-multidimesnional namun tidak mudah bingung karena bisa menangkap

benang merah di tengah-tengah pluralitas dan kebhinekaan. Pendidikan harus mampu mendampingi mitra didik agar semakin menjadi pribadi yang cerdas, trampil, jujur, berkarakter, takwa dan utuh. Pendidikan juga harus mampu mendampingi mitra didik untuk menjadi manusia dengan rasa solidaritas dan perlibatan diri yang bertanggung jawab.

Edgar Morin (2005: 14) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan suatu keterkaitan pengetahuan. Morin mengatakan bahwa belajar yang sering terbagi-bagi dalam disiplin ilmu sering membuat pembelajar tidak mampu menghubungkan bagian-bagian dengan keseluruhan. Dengan demikian belajar semacam ini harus diganti dengan belajar sesuai dengan konteks artinya mendorong siswa mengembangkan kemampuan untuk mengaitkan apa yang diketahuinya dan apa yang diperolehnya di kelas dalam hidup sehari- hari, serta mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kenyataan hidup setiap hari di lingkungan sekitarnya. Ole h karena itu dalam pembelajaran kontekstual supaya ada satu kesatuan antara apa yang diketahui dengan apa yang dilakukan dan menolak dualisme pendidikan. Dalam pembelajaran kontekstual seorang pengajar supaya sedapat mungkin mengembangkan pontensi alami pikiran manusia, yaitu kemampuan untuk menempatkan informasi dalam suatu konteks dan entitas. Proses pembelajaran adalam mendorong siswa untuk menghubungkan materi yang diterimannya dalam kelas dengan kehidupan nyata. Dengan demikian konsep keterkaitan ilmu pengetahuan diperoleh melalui usaha memahami, menemukan, dan mentransformasikan pengetahuan dalam pengalaman hidup nyata.

Pembelajaran kontekstual adalah strategi yang memungkinkan guru mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan mendorong siswa untuk menemukan makna, mengaitkan dengan kehidupan harian, dan menerapkan apa

yang diperolehnya di kelas dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu mengajar dalam pembelajaran kontekstual dapat menggunakan pendekatan yang saling berkaitan yaitu pengajaran berbasis problem, menggunakan konteks beragam, mempertimbangkan kebhinekaan siswa, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, belajar melalui kolaborasi-kolaborasi, menggunakan penilaian autentik, dan mengejar standar nilai tertinggi (Johnson, 2002: 21-22).

Proses pembelajaran yang menggunakan komponen-komponen pembelajar-an ypembelajar-ang saling berkaitpembelajar-an itu memungkinkpembelajar-an berhasilnya sebuah proses pembela-jaran. Dengan demikian Johnson (2002: 15) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual dinilai berhasil karena beberapa alasan. Pertama, pembelajaran kontekstual sesuai dengan hati nurani manusia yang selalu haus akan makna yang menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan. Kedua, pembelajaran kontekstual mampu memuaskan kebutuhan otak yang mengaitkan informasi baru denga n pengetahuan lama, yang merangsang pembentukan struktur fisik otak dalam rangka merespons lingkungan. Ketiga, pembelajaran kontekstual sesuai dengan cara kerja alam, proses pembelajaran dilakukan secara alami, bertahap dan berkesinambungan.

c. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kontekstual

Menurut Johnson (2002: 68-69) dalam pembelajaran kontekstual ada tiga prinsip yang saling berterkaitan antara satu dengan yang lain yaitu prinsip saling kerergantunagan, prinsip diferensiasi, dan prinsip pengaturan diri.

1) Prins ip Saling Ketergantungan

alam semesta ini saling bergantung dan saling berhubungan. Jika prinsip saling ketergantungan tidak ada maka manusia tidak bisa membina hubungan yang intim dan tidak dapat saling membagi pengalaman dengan sesamanya. Tanpa ada prinsip saling ketergantungan, bahasa akan berhenti bersama dengan hubungan-hubungan lain yang dibuat dalam otak (Johnson, 2002: 69-71).

Dalam pembelajaran kontekstual prinsip saling ketergantungan mengajak para guru untuk melakukan keterkaitan atau hubungan dengan sesama guru, siswa, masyarakat, dan lingkungan sekitar (Johnson, 2002: 72). Sedangkan bagi siswa, prinsip saling ketergantungan membantu mereka untuk menemukan makna bahwa di luar dirinya masih ada kehidupan yang lain yaitu sesama dan alam. Prinsip saling ketergantungan juga mendukung para siswa untuk bekerja sama. Sebab dengan kerja sama para siswa terbantu menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari jalan penyelesaian atas masalah yang ditemukan. Bekerja sama akan membantu para siswa untuk saling mendengarkan, mengetahui, dan menuntun mereka pada satu keberhasilan bersama. Intinya prinsip saling ketergantungan yang menghubungkan semua hal yang ada di alam semesta ini. Bagi siswa menerapkan prinsip saling ketergantungan berarti siswa menemukan hubungan, penggabungan, berpikir kritis dan kreatif, melakukan pembelajaran sambil berkegiatan, merumuskan tujuan yang jelas, menetapkan standar tinggi, melakukan tugas-tugas yang berarti bagi sesama, menghargai sesama, menggunakan metode penilaian yang menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata. Proses pembelajaran yang menerapkan prinsip saling ketergantungan berarti membuat hubungan menjadi mungkin sebab segala sesuatu adalah bagian dari jaringan hubungan (Johnson, 2002: 73-74).

Dokumen terkait