• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

5. Pembelajaran Kooperatif Metode Teka-teki silang ( Cross word )

Teka Teki Silang atau disingkat TTS adalah suatu permainan di mana kita harus mengisi ruang-ruang kosong (berbentuk kotak putih) dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah kata berdasarkan petunjuk yang diberikan. Petunjuknya biasanya dibagi ke dalam kategori 'Mendatar' dan 'Menurun' tergantung posisi kata-kata yang harus diisi. (http://id.wikipedia.org)

commit to user

TTS alias teka-teki silang bukan hanya membuat anak meningkat memfokuskan pikiran dan bersikap sabar dan teliti dalam mengerjakan apapun. Mengisi TTS dapat menjadi pilihan bermain bagi anak, jika dilakukan dalam keadaan menyenangkan. Anak diajak memainkan imajinasinya untuk menghasilkan sebuah kata yang tepat sesuai pertanyaan melalui stimulus satu huruf baik di awal, tengah maupun akhir. Mengisi TTS ini memerlukan kesabaran, fokus serta pengetahuan umum yang memadai sesuai tingkatan usia dan kemampuan anak. Saat anak mulai mencocokan urutan pertanyaan dengan letak kotak secara mendatar atau menurun sesungguhnya hal tersebut pun dapat mengasah kecekatan, dimana kegiatan ini memerlukan koordinasi mata dan tangan. Pada saat itulah anak membiasakan diri untuk fokus serta berkonsentrasi agar menuliskan jawaban pada kotak yang tepat.

Dalam mengerjakan TTS, tentu anak tidak selalu mulus dalam menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada. Ada kalanya anak menemukan pertanyaan yang sangat mudah namun bukan tak mungkin dia terhadang kesulitan. Hal ini tentu dapat dijadikan keuntungan jika mereka jeli melihatnya. Karena di tengah kesulitannya menemukan jawaban yang harus diisi ke dalam deretan kotak tersebut, sesungguhnya tanpa disadari anak tengah belajar mengendalikan emosi dan bersabar dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Dalam hal ini adalah jawaban dari TTS yang sedang dia kerjakan. Seiring waktu berjalan, perlahan anak akan mengerti bahwa tak selalu yang diinginkan bisa didapat dengan mudah bahkan terkadang harus didapatkan dengan usaha yang keras. Di sini pun anak

commit to user

dapat belajar memecahkan suatu permasalahan dengan cara serta usahanya sendiri.

Permainan teka-teki silang merupakan salah satu teknik pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini, teka-teki silang digunakan sebagai media pembelajaran metode TGT, jelasnya digunakan sebagai alat pertandingan siswa sebagai sebuah permainan. Teka-teki silang yang digunakan dalam pembelajaran ini dinamakan teka-teki silang SS (Sistem saraf) , yaitu modifikasi dari permainan teka-teki silang tetapi pada ruang-ruang kosong (kotak putih) diubah dengan pertanyaan atau tugas yang berkaitan dengan konsep sistem saraf. Dengan penerapan teknik pembelajaran seperti ini, diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar siswa di kelas. Jadi, teka-teki silang yang dimaksud disini adalah permainan yang digunakan sebagai media pembelajaran metode TGT, dimana siswa harus mengisi ruang-ruang kosong (berbentuk kotak putih) yang dibagi dalam kategori mendatar dan menurun dengan huruf-huruf yang membentuk jawaban dari soal sistem saraf.

Adapun kelebihan dan kelemahan permainan teka-teki silang yang digunakan ini, antara lain: a. Kelebihan: 1) Dapat mengukur kemampuan suatu kelompok, karena tidak ada faktor keberuntungan dalam mencapai kemenangan; 2) Diperlukan pengetahuan yang cukup, karena siswa harus aktif mencari jawaban sendiri dengan tepat; b. Kekurangan : 1) Tidak dapat memuat pertanyaan hitungan dengan jenis jawaban yang komplek; 2) Jawaban lebih mudah ditebak, karena ada huruf-huruf yang menghubungkan sebuah kata.

commit to user 6. Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Beberapa definisi mengenai media pembelajaran: 1) Schramm (1977), mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran, 2) Briggs (1977), berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran seperti: buku, film, video dan sebagainya, 3) Na tiona l Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras (http://akhmadsudrajat.wordpress.com).

Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya: a. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya.

Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya: 1) Media Visua l : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik, 2) Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya, 3) Projected still media : slide; over hea d projektor (OHP), in focus dan sejenisnya, 4) Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya (http://akhmadsudrajat. wordpress.com).

commit to user

Hubungan antara media dengan tujuan pembelajaran, dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel 2.2. Hubungan Media dengan Tujuan pembelajaran

Jenis Media 1 2 3 4 5 6

Gambar Diam S T S S R R

Gambar Hidup S T T T S S

Telivisi S S T S R S

Obyek tiga dimensi R T R R R R

Rekaman Audio S R R S R S

Programmed instruction S S S T R S

Demonstrasi R S R T S S

Buku teks tercetak S R S S R S

Keterangan :

R = Rendah, S = Sedang, T= Tinggi

1 = Belajar Informasi faktual, 2 = Belajar pengenalan visual, 3 = Belajar prinsip, konsep dan aturan, 4 = Prosedur belajar, 5= Penyampaian keterampilan persepsi motorik, 6 = Mengembangkan sikap, opini dan motivasi

Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai(http://akhmadsudrajat.wordpress.com).

7. Memori

a. Pengertian Memori

Memori atau ingatan adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi (http://id.wikipedia.org). Menurut Wood Worth dan Marquis (1957) dalam Bimo walgito (2003: 145), memori atau ingatan

commit to user

merupakan kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan untuk menerima atau memasukkan (lea rning), menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau. Istilah lain yang sering digunakan dalam materi pelajaran biologi adalah memasukkan (encoding), menyimpan (storage) dan menimbulkan kembali (retrieva l). Tahapan proses mengingat menurut Atkinson dan Shiffrin (1968), morgan dkk (1984) dalam Bimo Walgito (2003: 147) ditunjukkan pada skema gambar 2.1 berikut:

Memory output

sensori a ttention retrieva l input stora ge

short term store long term store (hold only a few items ) (hold a tremendous a mount Of information in orga nized Ca tegories)

Gambar 2.1 Tahapan proses mengingat (Atkinson dan Shiffrin, 1968) dan Morgan (1984).

Stimulus sebagai sensory input dipersepsi melalui alat indera (sensory register), untuk mengadakan persepsi perlu adanya perhatian misal dalam proses pembelajaran dengan pemberian metode yang menarik dan inovatif. Dalam waktu

Sensori register Rehea rsa l buffer A,A’,A” etc B,B’,B” etc Etc Etc Etc

commit to user

yang singkat apa yang dipersepsi itu dapat ditimbulkan kembali memory output, yang disebut short term memory atau disebut juga short term store.

Apabila persepsi tidak segera ditimbulkan dalam alam kesadaran sebagai memory output, tetapi disimpan dalam ingatan melalui encoding, apabila diperlukan melalui retrieva l apa yang ada dalam gudang atau ingatan itu ditimbulkan kembali sebagai memory output. Retrieva l kebalikan dari encoding yaitu mencari informasi yang ada dalam gudang ingatan. Apa yang dipersepsi atau dipelajari itu disimpan dalam ingatan dalam waktu yang lama, apabila dibutuhkan dapat ditimbulkan kembali, inilah yang disebut long term memory atau disebut juga long terms store.

Ada banyak klasifikasi ingatan berdasarkan durasi, alam, dan pengambilan sesuatu yang diinginkan. Tahapan utama dalam pembentuk dan pengambilan memori adalah: 1) Encoding: proses dan penggabungan informasi yang diterima; 2) Penyimpanan: penciptaan catatan permanen dari informasi yang telah diencode; 3) Pengambilan: memanggil kembali informasi yang telah disimpan untuk digunakan dalam suatu proses atau aktivitas.

Memori atau daya ingat adalah kemampuan untuk mengingat pengalaman terdahulu yang kemudian bisa menggunakannya kembali pada situasi yang berikutnya atau disebut (merecall). memori berkaitan dengan konsentrasi dan sebaliknya, karena anak membutuhkan daya konsentrasi yang cukup agar informasi tersebut dapat tertanam dalam diri anak. Saat anak menerima informasi baru, harus disertai kemampuan menyimpan informasi tersebut. Agar ketika berhadapan dengan kondisi yang mirip dengan pengalaman sebelumnya maka

commit to user

anak dapat merecall memori tersebut. Pengalaman – pengalaman itu tak hanya berupa akademis, namun juga berisi norma-norma. Dengan pengalaman yang kaya akan mempengaruhi pola pengembangan daya pikirnya saat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Memori menjadi salah satu hal yang mempengaruhi pembentukan intelegensi anak. Kemampuan memori yang baik mempengaruhi aspek intelegensi tapi juga pengelolaan emosi dan interaksi sosial.

Memori setiap orang ternyata bukanlah semata-mata hasil genetika, tetapi juga karena adanya rangsangan dan pembentukan yang dimulai sejak dini. Seperti diketahui, kemampuan memori memegang peranan yang krusial dalam proses pembelajaran dan bagi banyak orang menjadi salah satu tolak ukur dalam intelektualitas. Bahkan, hal ini merupakan aset berharga sepanjang hidup. Tidak heran bila banyak orang pun berusaha terus untuk meningkatkan daya ingat dan mengasah ketajamannya. Dengan melakukan pengulangan, lama-lama anak pun akan terbiasa untuk mendengarkan dan merekamnnya dalam memori mereka.

Dalam belajar hal yang menentukan adalah kemampuan ingatan dari peserta didik, karena sebagian besar pelajaran di sekolah adalah mengingat. Mengingat juga memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang lebih penting dalam peranan proses belajar adalah kemampuan peserta didik untuk mereproduksi kembali pengetahuan yang sudah diterimanya, misalnya pada waktu ujian para peserta didik harus mereproduksi kembali pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh selama mengikuti pelajaran. Dalam menghafal peserta didik mempelajari sesuatu dengan tujuan mereproduksi kembali kelak dalam bentuk harfiah, sesuai dengan perumusan dan kata-kata yang terdapat dalam

commit to user

materi asli. Dengan demikian peserta didik dapat belajar bagaimana cara-cara menghafal yang baik sehingga materi cepat dihafal dan tersimpan dalam keadaan siap direproduksi secara harafiah pada saat dibutuhkan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa memori adalah kemampuan yang dimiliki seseorang, untuk memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi yang pernah diperoleh sebelumnya.

b. Tiga Bagian Memori

Tehnik mengingat yang banyak dilakukan orang adalah dengan mengulang informasi yang masuk. Pengulangan informasi akan tersimpan lebih lama dan lebih mudah untuk diingat kembali. Proses pengulangan tersebut berkaitan erat dengan sistem ingatan yang ada pada manusia. Sistem ingatan manusia dibagi 3 bagian yaitu, sensori memori (sensory memory), ingatan jangka pendek (short term memory) dan ingatan jangka panjang (long term memori).

Sensori memori mencatat informasi atau stimuli yang masuk melalui salah satu atau kombinasi panca indra, yaitu secara visual melalui mata, pendengaran melalui telinga, bau melalui hidung, rasa melalui lidah, dan rabaan melalui kulit. Bila informasi atau stimuli tersebut tidak diperhatikan akan langsung terlupakan, namun bila diperhatikan maka informasi tersebut ditransfer ke sistem ingatan jangka pendek. Sistem ingatan jangka pendek menyimpan infromasi atau stimuli selama kurang lebih 30 detik, dan hanya sekitar tujuh bongkahan informasi dapat dipelihara dan dapat disimpan di sistem ingatan jangka pendek dalam suatu saat. Setelah berada di sistem ingatan jangka pendek, informasi tersebut dapat ditransfer lagi melalui proses rehearsal ke sistem ingatan jangka panjang untuk

commit to user

disimpan, atau dapat juga informasi tersebut hilang atau terlupakan karena tergantikan oleh tambahan bongkahan informasi yang baru.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Memori

Menurut Bimo Walgito (1990: 107-115), ada beberapa faktor yang mempengaruhi memori, diantaranya sebagai berikut: 1) sesuatu yang mempunyai makna akan lebih mudah diingat daripada yang tidak bermakna, 2) lama interval, yaitu jarak waktu antara memasukkan informasi sampai ditimbulkannya kembali informasi itu. Semakin lama interval akan semakin berkurang kemampuan memori seseorang, 3) isi interval, yaitu aktivitas-aktivitas yang mengisi interval. Jika mempelajari suatu materi kemudian mempelajari materi lain, maka materi-materi itu akan saling mengganggu dalam proses memori, 4) situasi sesorang, istirahat akan memperkuat daya retensi, 5) perulangan, makin sering informasi diulang akan makin baik diingat, 6) emosi dapat memberikan blocking dalam mengeluarkan kembali informasi yang telah dimasukkan dalam memori, 7) amnesia, yaitu gangguan pada otak sebagai pusat kesadaran.

b. Metode Pengukuran Kemampuan Memori

Menurut Bimo Walgito (2004: 161-165), pengukuran memori atau ingatan seseorang dapat dilakukan melalui beberapa metode, yaitu: 1) Metode Dengan Melihat Waktu Belajar. Metode ini untuk menyelidiki kemampuan ingatan dengan cara melihat berapa lama waktu yang diperlukan oleh subyek untuk dapat menguasai materi yang dipelajari dengan baik; misalnya dapat menimbulkan kembali materi tersebut tanpa kesalahan, 2) Metode Mempelajari Kembali. Metode ini merupakan metode yang berbentuk di mana subyek disuruh

commit to user

mempelajari materi kembali yang pernah dipelajari sampai pada suatu kriteria tertentu seperti pada saat mempelajari materi tersebut yang pertama kali, 3) Metode Rekonstruksi. Dalam metode ini subyek diminta mengkonstruksikan kembali materi yang telah diberikan, setelah itu dinilai hasilnya berdasarkan waktu yang telah digunakan, kesalahan-kesalahan yang diperbuat sampai pada kriteria tertentu, 4) Metode Mengenal Kembali. Metode ini menggunakan cara pengenalan kembali. Subyek disuruh mempelajari sesuatu materi, kemudian diberikan materi untuk mengetahui sampai sejauh mana yang dapat diingat dengan bentuk pilihan benar salah atau pilihan ganda, 5) Metode Mengingat Kembali. Metode ini menggunakan cara pengingatan kembali. Subyek disuruh mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Misal ujian yang berbentuk essay, 6) Metode Asosiasi Berpasangan. Dalam metode ini subyek disuruh mempelajari materi secara berpasang-pasangan. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mengingat, dalam evaluasi salah satu pasangan digunakan sebagai stimulus, dan subyek disuruh menyebutkan atau menimbulkan kembali pasangannya.

c. Pelatihan-pelatihan yang dapat Meningkatkan Memori

Para ahli masih memperdebatkan apakah memori merupakan suatu trait (sifat) atau skill (kemampuan). Trait merupakan sesuatu yang stabil dan tidak dapat ditingkatkan, sedangkan skill merupakan sesuatu yang bisa dipelajari dan ditingkatkan.

Bagi orang normal, ada cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan Memori, antara lain: 1) Mnemonic: menciptakan asosiasi antar hal

commit to user

yang harus diingat; 2) Method of loci: berusaha menciptakan gambaran seperti peta di benak kita dan mengasosiasikan tempat-tempat dalam peta itu dengan hal yang ingin diingat; 3) Peg word/ irama: mengasosiasikan kata yang ingin diingat dengan kata lain yang berirama; 4) menggunakan bayangan visual, misalnya John Conrad menggunakan bayangan visual untuk mengingat pesanan makanan dari para tamu; 5) memahami hal yang harus diingat, dan tidak hanya menghafalkan di luar kepala. Hal yang dipahami akan diingat lebih lama daripada hafalan luar kepala; 6) konteks ketika suatu hal sedang dipelajari sama dengan konteks ketika hal tersebut harus diingat kembali (encoding specificity); 7) memori akan baik ketika individu merasa terlibat secara emosional, namun keterlibatan emosional tidak terlalu tinggi; 8) menggunakan sebanyak mungkin cue ketika berusaha mengingat sesuatu; 9) memori akan lebih baik jika sesuatu dipelajari berulang kali walaupun masing-masing sesi cukup pendek, daripada mempelajari sesuatu dalam satu sesi yang panjang. Jadi, lebih baik mempelajari sesuatu dalam 3 sesi terpisah yang masing-masing lamanya 20 menit daripada 1 sesi yang lamanya 1 jam. 10) memori akan lebih baik jika bahan pelajaran disimpan dalam beberapa cara, misalnya mengingat suatu pelajaran baik dari segi visual maupun audio akan lebih baik daripada hanya salah satu saja (http://rumahbelajarpsikologi.com).

Dokumen terkait