KAJIAN TEORI KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori 1. Lari Gawang
3. Pembelajaran Lari Pada Siswa Sekolah Dasar
commit to user
Program pembelajaran yang baik adalah program pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pelakunya. Pemberian pembelajaran yang baik harus memperhatikan tingkat kemampuan dan perkembangan siswa. Pengajar, khususnya di Sekolah Dasar perlu mengetahui karakteristik pertumbuhan dan perkembangan siswa SD.
Kemampuan fisik, psikomotor dan psikologis manusia berkembang sesuai dengan tingkatan usia dan taraf pertumbuhan fisiknya. Manusia dari anak-anak hingga dewasa mengalami berbagai perkembangan, antara lain yaitu perkembangan fisiologis, psikologis, intelektual, sosial dan kemampuan gerak. Secara kronologis sepanjang hidupnya manusia dapat dibedakan dalam lima tahapan kehidupan, yaitu
“(a) fase sebelum lahir (prenatal), (b) fase bayi (infant), (c) fase anak-anak (childhood), (d) fase adolesensi (adolescene), dan (e) fase dewasa (adulthood)”
(Sugiyanto, 1998: 7).
b. Pembelajaran Lari Untuk Siswa Sekolah Dasar.
Teknik lari memiliki kedudukan yang penting dalam pembelajaran lari. Oleh karena itu, dalam pembelajaran lari harus diberikan pembelajaran teknik secara tepat dan intensif. Dalam melakukan pembelajaran lari diperlukan strategi pembelajaran yang sesuai. Dengan melalui pembelajaran yang sistematis, teratur dan kontinyu serta dengan strategi pembelajaran yang sesuai, maka penguasaan kemampuan lari akan dapat tercapai.
Pengajar harus memberikan pembelajaran dengan pendekatan yang baik agar dapat mengantarkan siswanya kepada penguasaan kemampuan lari secara optimal. Pembelajaran lari pada siswa SD, perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Kondisi fisik siswa SD belum matang sehingga program
commit to user
pembelajarannya memerlukan berbagai modifikasi agar hasilnya lebih optimal.
Dalam penelitian ini modifikasi pembelajaran lari dilakukan pada aspek kondisi lingkungan yaitu berupa peralatan dan pendekatan bermain. Modifikasi kondisi lingkungan meliputi, peralatan, penataan ruang gerak dan jumlah siswa yang terlibat.
Berkaitan dengan modifikasi peralatan, Yoyo Bahagia dan Adang Suherman (1999:
7) mengemukakan bahwa,
Guru dapat mengurangi dan menambah tingkat kompleksifitas dan kesulitan tugas ajar dengan cara memodifikasi peralatan yang digunakan untuk melakukan skill itu. Misalnya, berat-ringannya, besar-kecilnya, tinggi-rendahnya, panjang-pendeknya peralatan yang digunakan.
Pembelajaran lari untuk siswa SD perlu modifikasi, agar hasilnya optimal.
Modifikasi yang diterapkan dalam pembelajaran lari pada penelitian ini adalah modifikasi lingkungan belajar siswa. Dalam penelitian ini dikaji pendekatan pembelajaran lari, yaitu : pembelajaran lari dengan metode pendekatan bermain untuk meningkatkan hasil belajar lari.
c. Prestasi belajar lari
Prestasi belajar ini dijelaskan oleh Poerwadarminta sebagai berikut: “Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan).” (Poerwadarminta, 2006: 768). Prestasi belajar ini juga dijelaskan oleh Mochtar Buchari yaitu: Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai atau ditonjolkan oleh anak sebagai hasil belajarnya, baik berupa angka atau huruf serta tindakannya yang mencerminkan hasil belajar yang dicapai masing-masing anak dalam periode tertentu. (Mochtar Buchari, 2006: 94). Seorang atlet atau sekelompok atlet berlatih keras secara berkesinambungan dalam bidang olahraga denngan mengorbankan tenaga, fikiran dan waktu, hanyalah untuk mendapatkan
commit to user
prestasi, dan prestasi yang dimaksud tidak seperti menjaga kesegaran jasmani, akan tetapi merupakan upaya menjadi orang yang nomor satu dibidang olahraganya.
Pada berbagai cabang olahraga, prestasi tersebut ada yang dapat diukur dan ada yang tidak dapat diukur. Pengertian prestasi yang dapat diukur adalah bahwa prestasi tersebut nyata hasilnya yang ditunjukkan dengan satuan ukuran. Satuan ukuran tersebut meliputi satuan waktu,satuan jarak,d an satuan berat. Sebagai contoh jauh suatu lemparan dalam lempar lembing diukur dengan satuan jarak (m dan cm).
Dengan terukurnya hasil prestasi tersebut, maka hasil yang diperoleh dalam suatu perlombaan dapat disebutkan meningkat apabila melewati catatan hasil sebelumnya, dan menurun apabila hasil pertandingan atau perlombaan tersebut lebih kecil dibandingkan dengan catatan hasil sebelumnya. Kemudian, cabang olahraga yang berprestasi atletnya tidak dinyatakan dalam satuan ukuran atau tidak terukur. Seperti senam, dan sepak bola, artinya hasil yang diperoleh dalam satu pertandingan atau perlombaan tidak dapat dinyatakan meningkat atau menurun dari catatan hasil sebelumnnya.
Prestasi yang dicapai seorang atlet dalam olahraga yang ditekuninya, merupakan hasil latihan. Fokus untama dalam latihan tersebut adalah meningkatkan kondisi fisik yang terdiri atas komponen kondisi fisik penunjang dominan terhadap olahraga itu sendiri.
4. Pendekatan Pembelajaran Bermain dan Komando a. Pendekatan Pembelajaran Bermain
Pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang dikonsep dalam bentuk permainan. Menurut Wahjoedi (1999: 121) bahwa ”pendekatan bermain
commit to user
adalah pembelajaran yang diberikan dalam bentuk atau situasi permainan”.
Sedangkan Yoyo Bahagia dan Adang Suherman (1999/2000: 35) berpendapat,”strategi pembelajaran permainan berbeda dengan strategi pembelajaran skill, namun bisa dipastikan bahwa keduanya harus melibatkan modifikasi atau pengembangan agar sesuai dengan prinsip DAP (developmentally Appropiate Pactice) dan body scalling (ukuran fisik termasuk kemampuan fisik)”.
Berdasarkan pendapat dari ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang dikonsep dalam bentuk permainan.
Dalam pelaksanaan pembelajaran bermain menerapkan suatu teknik cabang olahraga ke dalam bentuk permainan. Melalui permainan, diharapkan akan meningkatkan motifasi dan minat siswa untuk belajar menjadi lebih tinggi, sehingga akan diperoleh hasil belajar yang optimal.
Pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang mengaplikasikan teknik ke dalam suatu permainan. Tidak menutup kemungkinan teknik yang buruk atau rendah mengakibatkan permainan kurang menarik. Untuk itu seorang guru harus mampu mengatasinya. Rusli Lutan dan Adang Suherman (2000: 35-36) menyatakan, manakala guru menyadari bahwa rendahnya kualitas permainan disebabkan oleh rendahnya kemampuan skill, maka guru mempunyai beberapa pilihan sebagai berikut:
a) Guru dapat terus melanjutkan aktivitas permainan untuk beberapa lama sehingga siswa menangkap gagasan umum permainan yang dilakukannya.
commit to user
b) Guru dapat kembali pada tahapan belajar yang lebih rendah dan membiarkan siswa berlatih mengkombinasikan keterampilan tanpa tekanan untuk menguasai strategi.
c) Guru dapat merubah keterampilan pada level yang lebih simpel dan lebih dikuasai sehingga siswa dapat konsentrasi belajar strategi bermain.
Petunjuk seperti di atas harus dipahami dan dimengerti oleh seorang guru.
Jika dalam pelaksanaan permainan kurang menarik karena teknik yang masih rendah, maka seorang guru harus dengan segera mampu mengatasinya. Selama pembelajaran berlangsung seorang guru harus mencermati kegiatan pembelajaran sebaik mungkin.
Kesalahan-kesalahan yang dibiarkan selama pembelajaran berlangsung akan mengakibatkan tujuan pembelajaran tidak tercapai. Permainan dan olahraga digunakan untuk mempertinggi kemampuan gerakan yang tepat untuk masing-masing level perkembangan anak. Mereka kadang dikelompokkan pada sub kategori yang dimulai dari sederhana hingga kompleks seperti :
1. Permainan tingkat rendah 2. Permaian kepemimpinan 3. Oficial Olahraga
Irama dan tariadalah sama pentingnya dengan isi program gerakan. Semua gerakan koordinat adalah irama dan meliputi rangkaian kejadian secara temporari dan kegiatan yang sinkron. Aktivitas irama tari biasanya dikelompokkan dalam subkategori berikut:
1. Ritme dasar 2. Tari kreatif
commit to user 3. Tari folk, square, dan aerobik
4. Tari sosial
Menguji diri sendiri adalah area konten utama yang ketiga dari progaram jenis aktivitas yang luas di mana individu bekerja sendiri dan dapat meningkatkan performa mereka melalui upaya mereka sendiri. Aktivitas ini sendiri mungkin dikelompokkan dengan banyak cara. Berikut adalah klasifikasi umum untuk aktivitas tersebut:
1. Aktivitas gerak dasar
2. Aktivitas keterampilan olahraga 3. Aktivitas kemampuan fisik 4. Akrobatik
5. Berguling
6. Peralatan kecil (tangan) 7. Peralatan besar
Kesuksesan secara efektif dan efisien dalam masing-masing kategori pada tahap keterampilan gerakan dasar atau khusus adalah alasan utama untuk permainan, tari, dan aktivitas menguji diri sendiri dalam program ini. Dalam hal ini derajat kesuksessan adalah tergantung pada sebagian tingkat perkembangan diri pelajar dan keahlian guru dalam menyusun pengalaman gerak. Permainan, tari, dan aktivitas menguji diri sendiri, menyediakan hanya sebagai alat di mana pengalaman digunakan.
Anak kelas IV dan V memiliki postur tubuh cenderung belum bagus, otot
commit to user
anak mulai timbul minat untuk berprestasi individual, kompetitif, dan punya idola.
Atas dasar karakteristik ini maka disamping permainan beregu juga harus disiapkan permainan individual. Tetapi jangan lupa kemenangan individu bukan atas dasar kekuatan, keterampilan atau teknik tertentu. Bagi yang lemahpun harus diberi kemungkinan untuk menjadi pemenang.
Tingkat perkembangan anak yang perhatian utamanya untuk memperkaya perbendaharaan gerak lari. Sebaiknya guru memberi kesempatan kepada anak untuk menunjukan kemampuan larinya, tetapi tidak dilombakan dalam jalur sendiri-sendiri seperti pada lomba lari. Kesempatan ini masih dalam kaitan kelompok dan dalam bentuk permainan, misalnya permainan estafet (bukan lari estafet). Kualitas tugas gerak lebih meningkat dibanding anak kelas I-II. Ini harus direncanakan dengan cermat, misalnya dengan tugas gerak yang lebih sulit, dengan mempertinggi rintangan-rintang untuk dilompati sambil lari. Atau menggunakan lintasan dengan berbagai macam belokan, yang penting tugas gerak itu merupakan peningkatan atau kelanjutan dari tugas gerak kelas dibawahnya.
b. Pendekatan Pembelajaran bermain dalam Lari Gawang
Berbagai pembelajaran atletik khususnya lari menurut Mochamad Djumidar A. Widya. (2004: 26). adalah :
1) Lari / jalan tendang pantat dengan tumit 2) Lari / jalan kedepan dengan kaki ayun lurus 3) Lari skiping
4) Lari skiping dengan angkat tumit 5) Lari / jalan sambil memutar lengan
6) Lari / jalan sambil memutar lengan arah berlawanan
commit to user
Gambar 3. Berbagai permainan gerak lari Mochamad Djumidar A. Widya. (2004: 21)
Menggunakan berbagai variasi lari dengan permainan sederhana, hanya dengan garis-garis di tanah atau lantai dapat disusun permainan dalam lapangan bujur sangkar. Setiap kelompok secara bergantian pindah kesisi bujur sangkar di depannya dengan lari yang di perintahkan oleh guru.
commit to user
Gambar 4. Gerak lari mengikuti garis Mochamad Djumidar A. Widya. (2004: 28)
Dikaitkan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak kelas III-IV dasar-dasar gerakan lompat sangat penting untuk diajarkan, gerakannya sesuai dengan anak yang energik walaupun postur tubuh belum bagus, namun otot mulai tumbuh dengan cepat. Sehingga berbagai gerakan lompat yang disiapkan dengan baik sangat membantu merangsang pertumbuhan otot, khususnya pertumbuhan otot tungkai.
Untuk menarik agar anak senang melompat-lompat maka rangsangan perlu ditingkatkan, misalnya dengan mempertinggi rintangan yang harus dilompati.
Berdasarkan pengalaman melompat-lompat diatas kardus-kardus yang ditata dengan baik merupakan permainan yang mengasikkan bagi anak, jika sulit mencari kardus bisa dimanfaatkan alat-alat yang lainnya.
1) Lompat kangkang ke depan 2) Lompat kangkang ke belakang
3) Lompat ke depan dengan sikap berdiri dari sikap bediri dan kaki menyilang secara bergantian
4) Lompat ke depan kaki menyilang bergantian kanan / kiri ke depan
commit to user
5) Melompat split jatuh dua kaki bersamaan kaki kiri dan kanan bergantian ke depan
6) Lompat ke samping sambil berputar seperempat lingkaran
Gambar 5. Berbagai pembelajaran gerak lari Mochamad Djumidar A. Widya. (2004: 24)
Melompati tali atau dengan tongkat yang dipegang temannya dengan berbagai macam gerakan lompat. Melompati teman dalam posisi tiarap, merangkak, merangkak tumpu (press up), kayang.
Gambar 6. Berbagai variasi pembelajaran gerak lari
commit to user
Melompati kardus yang diatur sebagai rintangan dengan berbagai macam variasi gerak lompatan, melompat kekanan, kekiri yang diletakkan berderet. Berderet variasi gerakan dengan bertumpu dua kaki, bertumpu satu kaki, melompati dengan membuat putaran.
Gambar 7. Melompat dengan alat kardus secara sederhana.
(Mochamad Djumidar A. Widya.,2004: 29)
commit to user
Gambar 8. Melompati teman dalam posisi merangkak, secara sederhana.
(Mochamad Djumidar A. Widya.,2004: 35)
Pertumbuhan badan yang cepat dan kurang terarur menyebabkan keseimbangan tubuh terganggu karena gerakannya cenderung kaku. Ia ingin diterima sebagai anggota kelompok, oleh karena itu lebih mementingkan keberhasilan kelompok dibanding individu. Lebih menyenangi permainan dan perlombaan yang menggunakan peraturan resmi dan terorganisir. Permainan yang disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan, memungkinkan anak berkembang dengan resiko cedera sekecil mungkin. Lari dalam bentuk permainan memungkinkan anak lebih cepat mengembangkan berbagai keterampilan dasar yang diperlukan sebagai landasan kokoh bagi nomor lari atau dapat juga sebagai dasar bagi cabang olahraga yang dipilih sebagai spesialisasinya nanti.
Lari sambil bermain sebenarnya akan lebih menyenangkan jika dilakukan di lapangan luas di alam bebas atau di perbukitan. Contoh-contoh kegiatan bermain atletik (lari) yang diberikan hanya dipilih yang tidak memerlukan lapangan luas tetapi dilakukakn di halaman sekolah, di lapangan, atau di dalam aula. Berbagai permaian lari untuk siswa kelas V dan VI menurut Mochamad Djumidar A. Widya. (2004: 43)
commit to user 1) Lari di lintasan
2) Lari menginjak peti lompat