BAB II. LANDASAN TEORI
E. Pembelajaran Matematika Inklusif
Pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik (Ali, 1996). Pembelajaran juga merupakan upaya membelajarkan siswa untuk belajar, kegiatan pembelajaran akan melibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Pembelajaran matematika diartikan sebagai kegiatan yang menekankan pada eksplorasi matematika, model berfikir yang matematik dan pemberian tantangan atau masalah yang berkaitan dengan matematika. Sebagai akibatnya peserta didik melalui pengalamannya dapat membedakan pola-pola struktur matematika, peserta didik dapat berpikir secara rasional dan sistematik. Menurut Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi menyatakan bahwa pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Tujuan pembelajaran matematika menurut Depdiknas tahun 2013 adalah sebagai berikut:
1. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan
2. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba
4. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi dan mengkomunikasikan gagasan.
Pembelajaran matematika di sekolah inklusi tidak berbeda dengan pembelajaran pada sekolah regular lainnya. Pembelajaran pada sekolah inklusi merupakan pembelajaran yang mampu memenuhi kebutuhan siswa normal namun tidak mengabaikan karakteristik ABK. Berikut adalah karakteristik pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan ABK. 1. Tunanetra
Pembelajaran pada anak tunanetra lebih berpusat pada penyampaian pembelajaran yang memberikan informasi dan pengetahuan secara lisan. Oleh karena itu diperlukan menggunakan ejaan yang jelas, kualitas suara, tempo bicara yang lambat dan diimbangi dengan volume yang keras. Penyampaian materi pembelajaran dilakukan berulang-ulang agar informasi dan pengetahuan yang guru berikan dapat dipahami dengan baik. Pembelajaran pada tunanetra juga dapat menggunakan media yang bersifat actual dan bersuara seperti penggunaan huruf Braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata atau penggunaan tape recorder. Melalui observasi perabaan benda-benda nyata dapat memahami bentuk, ukuran, berat, kekerasan, sifat-sifat permukaan, kelenturan, suhu dan sebagainya.
2. Tunarungu
Pembelajaran pada anak tunarungu lebih berpusat pada penyampaian pembelajaran yang menekankan pada penggunaan bahasa insyarat dan abjad jari. Bagi yang sudah terlatih dapat berkomunikasi dengan cara melihat gerakan bibir. Oleh karena itu guru harus menggunakan ejaan yang jelas dan tempo bicara yang lambat agar menghasilkan gerakan bibir yang dapat dipahami siswa tunarungu dalam pembelajaran dengan baik. Selain itu dibutuhkan juga pembelajaran yang disertai dengan peragaan atau penggunaan bantuan alat peraga karena anak yang mengalami gangguan pendengaran akan cenderung menggunakan indera penglihatannya.
3. Tunagrahita
Pembelajaran pada anak tunagrahita menekankan pada kemampuan membina diri dan sosialisasi. Akibat kemampuan intelektualitas yang berada dibawah rata-rata maka anak tunagrahita memerlukan waktu yang lama dalam proses pemahaman. Pemberian informasi secara rutin, konsisten dan penjelasan materi dilakukan berulang-ulang untuk membantu siswa memahami informasi dan pengetahuan yang diberikan oleh guru.
4. Tunadaksa
Pembelajaran pada anak tunadaksa lebih berpusat pada pembelajaran yang melatih siswa minimal mandiri dalam pembelajaran yang berlangsung. Pembelajaran unadaksa pada anak
hiperaktif dan hipoaktif lebih pada pemberian kegiatan dalam bentuk tugas untuk mengontrol anak hiperaktif sekaligus mengaktifkan anak hipoaktif.
5. Tunalaras
Pembelajaran pada anak tunalaras lebih berpusat pada pembelajaran yang didalamnya memerlukan sikap dan tindakan-tindakan yang menumbuhkan motivasi dan minat belajar siswa di kelas namun tidak dengan pembelajaran yang menunjuk pada aturan-aturan tertentu. Pada pembelajaran anak tunalaras guru menggunakan pendekatan Funcional Analysis of Behavior yang terdiri dari tiga komponen yaitu antencedent, behavior, dan consequence. Pada antecendent yaitu merubah tindakan guru yang pasif dengan tindakan guru yang lebih memperhatikan siswanya. Selanjutnya pada behavior yaitu melatih siswa pada kebiasaan - kebiasaan baik yang memotivasi siswa dalam pembelajaran. Pada consequence yaitu memberikan pengakuan sosial dalam bentuk pujian bukan dalam bentuk hukuman. 6. Berkesulitan belajar, lamban belajar, dan mengalami gangguan
motorik
Pembelajaran pada anak kesulitan belajar, lamban belajar, dan gangguan motorik hampir sama halnya dengan pembelajaran pada anak tunagrahita yaitu pembelajaran dengan memberikan informasi secara rutin, konsisten dan penjelasan materi dilakukan berulang-ulang untuk membantu siswa memahami informasi dan pengetahuan yang
diberikan oleh guru. Selain itu dengan pemberian tambahan tugas atau latihan soal.
7. Autis
Pembelajaran pada anak autis adalah pembelajaran yang membutuhkan pengawasan tingkah laku, kemampuan komunikasi dan sosial. Selain itu pembelajaran diupayakan untuk merangsang perkembangan menuju ke arah analisis tingkah laku dan mendorong pada penuturan bahasa dan komunikasi menggunakan gerakan dan isyarat yang sesuai.
8. Korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang dan zat adiktif lainnya Pembelajaran pada anak Korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang dan zat adiktif lainnya bukan pembelajaran yang menyangkut pada penjelasan materi pelajaran namun pada pembelajaran untuk memperbaiki diri. Pada anak berkebutuhan ini akan masuk pada panti rehabilitasi. Lingkungan yang mendidik anak pada aspek psikologi dan kegiatan-kegiatan baru untuk mengurangi kecemasan dalam kasus yang dialaminya.
9. Tunaganda dan memiliki kelainan lainnya
Pembelajaran pada anak yang memliki kebutuhan tunaganda dan memiliki kelainan lainnya dilakukan dengan menggabungkan atau mengkombinasikan pembelajaran-pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Pada proses pembelajaran di sekolah inklusi, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak hanya cukup didampingi oleh guru mata pelajaran. Kebutuhan belajar ABK memerlukan penanganan yang spesifik sesuai dengan karakteristik. Dalam pembelajaran di sekolah inklusi termasuk pada pelajaran matematika diperlukan Guru Pembimbing Khusus (GPK) untuk memenuhi kebutuhan belajar ABK. Selain terdapat karakteristik pembelajaran, terdapat pula modifikasi kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Berikut disajikan model kurikulum bagi siswa (anak) berkebutuhan khusus.
Tabel 2.1 Model kurikulum Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Kelompok
kurikulum
Pengertian ABK
Duplikasi Kurikulum yang tingkat kesulitannya sama dengan siswa umum, siswa yang tidak mengalami hambatan intelegensi
Tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa dan tunalaras Modifikasi Kurikulum siswa umum disesuaikan
dengan kebutuhan dan kemampuan atau potensi anak berkebutuhan khusus
Modifikasi kebawah: tunagrahita Modifikasi keatas: gifted dan talented Substitusi Beberapa kurikulum siswa umum Melihat situasi
ditiadakan dan diganti dengan yang kurang lebih sama
dan kondisi
Omisi Bagian dari kurikulum umum untuk mata pelajaran tertentu ditiadakan total, tidak memungkinkan bagi ABK untuk dapat berfikir setara dengan siswa umum
Melihat situasi dan kondisi
Sesuai dengan kurikulum 2013 yang digunakan di sekolah dan menurut Permendikbud No. 81 A tahun 2013 lampiran IV, proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu:
a. Mengamati
Kegiatan belajar yang dilakukan dalam proses mengamati adalah membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat). Kompetensi yang dikembangkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian dan mencari informasi. Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Praktik mengamati dalam pembelajaran akan efektif jika adanya media atau alat yang sesuai dengan kebutuhan misalnya video, gambar, alat perekam, kamera dan alat-alat lain yang sesuai kebutuhan.
b. Menanya
Kegiatan belajar menanya dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati. Kompetensi yang dikembangkan adalah
mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis.
c. Mengumpulkan informasi
Mengumpulkan informasi atau eksperimen kegiatan pembelajaran yang dilakukan meliputi : melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek, kejadian, aktivitas atau wawancara dengan narasumber. Kompetensi yang dikembangkan dalam mengumpulkan informasi adalah mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan, berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar. Untuk memperoleh hasil yang nyata, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi yang sesuai.
d. Mengasosiasi atau mengolah informasi
Kegiatan belajar yang dilakukan dalam proses mengolah informasi adalah sebagai berikut:
1) Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan atau ekperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
2) Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada
pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.
Kompetensi yang dikembangkan dalam proses mengasosiasikan atau mengolah informasi adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan. Dalam kegiatan mengolah informasi terdapat kegiatan menalar. Penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.
e. Mengkomunikasi
Kegiatan belajar mengkomunikasikan adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis atau media lainnya. Kompetensi yang dikembangkan dalam tahapan mengkomunikasikan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.