BAB II : KONSEP COOPERATIVE LEARNING DALAM
B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Definisi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.88 Pembelajaran juga berarti “proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap”.89 Pembelajaran yang dimaksud adalah “pembelajaran yang dimaknai sebagai learning to think, learning to do,
learning to be, learning how to learn, dan learning to live together.” 90
Pendidikan agama Islam menurut Zakiah Darajat sebagaimana dikutip oleh Abdul Majid dan Dian Andayani, mendefinisikan sebagai suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai
88
Redaksi Sinar Grafika, UU Sistem Pendidikan Nasional 2003, (Jakarta: Sinar Grafika,, 2005), Cet. 2, hlm. 4.
89
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Depdikbud bekerja sama dengan Rineka Cipta, 1999), Cet. 1, hlm. 157.
90
A. Atmadi dan Y. Setyaningsih, Tranformasi Pendidikan: Memasuki Millenium Ketiga, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 7.
pandangan hidup.91 Sedangkan menurut Ibnu Hajar yang dikutip Muntholi’ah, mendefinisikan PAI sebagai sebutan yang diberikan pada salah satu subyek pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa muslim dalam menyelesaikan pendidikannya dalam tingkatan tertentu.92
Dari uraian di atas, pembelajaran pendidikan Islam oleh penulis adalah proses interaktif yang diselenggarakan oleh pendidik untuk membelajarkan bidang studi pendidikan agama Islam kepada peserta didik yang berorientasi mengajarkan pengetahuan agama Islam dan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta pembinaan akhlak yang mulia dan berbudi pekerti luhur. Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran yang bermuatan ajaran Islam dan tatanan nilai kehidupan Islami, maka pembelajaran pendidikan agama Islam perlu diupayakan melalui perencanaan yang baik agar dapat mempengaruhi pilihan, putusan dan pengembangan kehidupan peserta didik.
Pembelajaran pendidikan agama Islam diharapkan mampu mewujudkan ukhuwah islamiyah, ini karena pendidikan agama Islam bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama Islam yang berhenti pada aspek kognitif saja tetapi aspek afektif dan psikomotorik, sehingga ajaran-ajaran Islam dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Komponen Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Proses pembelajaran dalam pendidikan agama Islam sebenarnya menggunakan prinsip-prinsip umum proses pembelajaran yang dikemas secara Islami. Komponen-komponen yang terlibat dalam pelaksanaan pembelajaranpun juga sama, yaitu mencakup tujuan, materi, siswa guru, metode, media dan evaluasi. Berikut penjelasan tentang komponen pelaksanaan pembelajaran PAI:
91
Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi:
Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: Remaja Rosadakarya, 2004), Cet. 1, hlm.
130. 92
Muntholi’ah, Konsep Diri Positif Penunjang Prestasi PAI, (Semarang: Gunungjati dan Yayasan Al-Qalam, 2002), hlm. 12.
a. Tujuan PAI
Di dalam GBPP PAI sekolah umum dijelaskan bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara.93
Tujuan ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat az| Z|ariya>t ayat 56 :
ﻭ
ﺎﻣَ
ﺖﹾﻘﹶﻠﺧ
ﻦِﺠﹾﻟﺍ
ﺲﻧِﻹﺍﻭ
ﱠﻻِﺇ
ِﻥﻭﺪﺒﻌﻴِﻟ
) .
ﺕﺎﻳﺭﺬﻟﺍ
:
٥٦
(
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. az| Z|ariya>t: 56)94
Syeikh M. Abduh sebagaimana dikutip Quraisy Syihab menyatakan bahwa Allah menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar supaya mereka menyembahNya. Ibadah disini bukan hanya sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ibadah adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa kepadanya ia mengabdi. Ia juga merupakan dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakikatnya.95
Jika dihubungkan dengan tujuan PAI diatas, maka rumusan tersebut mengandung pengertian bahwa proses pendidikan agama Islam yang dilalui dan dialami oleh siswa di sekolah dimulai dari tahapan kognitif, yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam, untuk selanjutnya menuju ke
93
Muhaimin, et. al., Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Rosdakarya, 2002), Cet. 2, hlm.78.
94
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya: Special for Woman, (Jakarta: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), hlm. 523.
95
M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Volume 3, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 55-56.
tahapan afektif, yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan meyakininya. Tahapan afektif ini terkait erat dengan kognitif, dalam arti penghayatan dan keyakinan siswa menjadi kokoh jika dilandasi oleh pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran dan nilai agama Islam. Melalui tahapan afektif ini diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam diri siswa dan tergerak untuk mengamalkan dan menaati ajaran Islam (tahapan psikomotorik) yang telah diinternalisasikan dalam dirinya.96 Dengan demikian akan terbentuk manusia muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlaq mulia dimana tujuan akhirnya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.
b. Materi PAI
Inti pokok ajaran agama Islam meliputi aqidah (masalah keimanan), syari’ah (masalah keislaman), dan ihsan (masalah akhlaq), maka desain materi atau kurikulum PAI setidaknya juga diarahkan pada ketiga aspek tersebut.
Masalah keimanan bersifat i’tikad batin. Dengan keimanan, siswa dapat diajarkan tentang keesaan Allah. Masalah keislaman dapat juga mengantarkan siswa dengan amal sholeh dalam rangka menta’ati semua peraturan dan hukum Allah dengan mengatur pergaulan hidup dan kehidupan manusia. Masalah ihsan, mengajarkan siswa tentang amal yang bersifat pelengkap atau penyempurna bagi kedua amal (akidah dan syari’ah) dan mengajarkan tentang tata cara pergaulan hidup manusia.97
Dalam penerapannya, penentuan materi atau bahan kurikulum PAI yang mengandung tiga ajaran pokok tersebut harus mempertimbangkan kesesuaiannya dengan tingkat perkembangan siswa. Karena itu cakupan kurikulum PAI harus dibedakan pada masing-masing tingkatan dan jenis sekolah yang ada. Salah satu kelemahan
96
Muhaimin et.al, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Rosdakarya, 2002), Cet. 2, hlm. 78-79.
97
pengajaran PAI yang berimplikasi pada akhlak di sekolah adalah terjebak pada verbalisme atau hanya berorientasi secara kognitif, bukan penanaman nilai, sehingga tidak sampai pada tahap aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk itu desain kurikulum PAI paling tidak harus mengacu pada pilar-pilar pembelajaran: “learning how to think, learning how to
learn, learning how to do, learning how to be, dan learning how to live together.” 98
c. Siswa
Sebagai subjek utama pendidikan, siswa memegang peran yang sangat penting dan strategis. Siswa yang belajar PAI diharapkan memiliki karakteristik tersendiri sebagai ciri khas PAI yang dipelajari. Dengan demikian mereka akan menjadi sosok yang unik dan luhur dalam penampilan, bicara, pergaulan, ibadah, hak dan tanggung jawab, pola hidup, kepribadian, watak, semangat, dan cita-cita serta aktivitas. d. Guru
Guru agama sebagai pengemban amanah pembelajaran PAI haruslah orang yang memiliki pribadi yang shaleh. Hal ini merupakan konsekuensi logis, karena dialah yang akan mencetak anak didiknya menjadi anak yang shaleh. Menurut Al Ghazali yang dikutip Mukhtar, seorang guru agama sebagai penyampai ilmu semestinya dapat menggetarkan jiwa atau hati siswanya sehingga semakin dekat kepada Allah dan memenuhi tugasnya sebagai khalifah di bumi. Semua ini tercermin melalui perannya sebagai pembimbing, model (uswah), maupun sebagai penasehat dalam proses pembelajaran.99
Selain itu guru agama dalam proses pendidikan agama Islam sangat diharapkan mampu menata lingkungan psikologis ruang belajar, sehingga mengandung atmosfer (suasana perasaan) iklim kondusif yang
98
A. Atmadi dan Y. Setyaningsih, Tranformasi Pendidikan: Memasuki Millenium Ketiga, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 7.
99
memungkinkan para siswa mengikuti proses belajar dengan tenang dan bergairah.100
e. Metode
Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan guru dengan peserta didik. Berbagai model pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran agama Islam harus dijabarkan dalam metode yang bersifat prosedural. Metode (T}ariqa>h) diartikan sebagai rencana menyeluruh tentang penyajian materi ajar secara sistematis dan berdasarkan pendekatan yang ditentukan.101 Dalam kitab Ru>h}u
at-Tarbiyah wat-Ta’lim dinyatakan bahwa metode adalah:
ﺔﻘﻳﺮﻄﻟﺍ
ﻲﻫ
ﺔﻠﻴﺳﻮﻟﺍ
ﱵﻟﺍ
ﺎﻬﻌﺒﺘﺗ
ﻢﻴﻬﻔﺘﻟ
ﺬﻴﻣﻼﺘﻟﺍ
ﻱﺍ
ﺱﺭﺩ
ﻦﻣ
ﺱﻭﺭﺪﻟﺍ
ﰲ
ﺔﻳﺍ
ﺓﺩﺎﻣ
ﻦﻣ
ﺩﺍﻮﳌﺍ
. ١٠٢(Perantara yang mengikutinya untuk memahamkan seorang murid terhadap pelajaran yang dipelajari dalam segala materi) Dalam proses belajar pendidikan agama Islam, kita bisa menemukan beberapa jenis metode belajar yang digunakan oleh para siswa. Diantara metode belajar dalam Islam adalah menghafal, debat dan diskusi. Alqur’an mensinyalir masalah ini pada salah satu ayatnya, yaitu:
ﻉﺩﹸﺍ
ﻰﹶﻟِﺇ
ِﻞﻴِﺒﺳ
ﻚِّﺑﺭ
ِﺔﻤﹾﻜِﺤﹾﻟﺎِﺑ
ِﺔﹶﻈِﻋﻮﻤﹾﻟﺍﻭ
ِﺔﻨﺴﺤﹾﻟﺍ
ﻢﻬﹾﻟِﺩﺎﺟﻭ
ﻲِﺘﱠﻟﺎِﺑ
ﻲِﻫ
ﻦﺴﺣﹶﺃ
ﱠﻥِﺇ
ﻚﺑﺭ
ﻮﻫ
ﻢﹶﻠﻋﹶﺃ
ﻦﻤِﺑ
ﱠﻞﺿ
ﻦﻋ
ِﻪِﻠﻴِﺒﺳ
ﻮﻫﻭ
ﻢﹶﻠﻋﹶﺃ
ﻦﻳِﺪﺘﻬﻤﹾﻟﺎِﺑ
.
)
ﻞﺤﻨﻟﺍ
:
١٢٥
(
”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
100
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 17
101
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi
Guru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm 132.
102
Muhammad ‘At}iyah Ibrasi, Ru>h}u at-Tarbiyah wat-Ta’li>m, (Arabiyah: Da<r al-Ihya al-Kutub, 1950), hlm. 267.
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl: 125).103
Ayat tersebut diawali dengan perintah untuk menyampaikan sesuatu secara ma’ruf. Implikasi selanjutnya adalah perintah untuk membahas (berdebat atau berdiskusi) secara ma’ruf pula.104
Metode apapun yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran, yang perlu diperhatikan adalah akomodasi menyeluruh terhadap prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar (KBM)..
f. Media
Media pendidikan agama Islam dapat diartikan sebagai ”alat bantu yang diterapkan dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan secara optimal”.105 Dalam hal ini, yang dimaksud adalah alat bantu yang digunakan oleh guru PAI dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran PAI dan tidak bertentangan dengan agama Islam.
Sebagaimana yang dirumuskan oleh Raharjo bahwa media:106
1) Sebagai wadah dari pesan yang oleh sumbernya akan diteruskan pada sasaran pesan tersebut.
2) Materi yang ingin disampaikan adalah pesan pengajaran dan tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.
Dengan demikian media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan media secara kreatif oleh pendidik akan meningkatkan performance mereka sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
103
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya: Special for Woman, (Jakarta: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), hlm. 281.
104
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 122.
105
Rahardjo. “Media Pendidikan”, dalam Chabib Thoha dan Abdul Mu’thi, PBM-PAI di
Sekolah: Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar PAI, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 1998), Cet. 1, hlm. 268. 106
Rahardjo. “Media Pendidikan”, dalam Chabib Thoha dan Abdul Mu’thi, PBM-PAI di
Sekolah: Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar PAI, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN
g. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu tindakan berdasarkan pertimbangan yang arif dan bijaksana untuk menentukan nilai sesuatu, baik secara kuantitatif dan kualitatif.107 Evaluasi juga bisa diartikan sebagai penetapan baik-buruk terhadap sesuatu berdasarkan kriteria tertentu yang disepakati sebelumnya dan dapat dipertanggungjawabkan. Davies, sebagaimana dikutip oleh Dimyati dan Mujiono mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses sederhana dengan memberikan atau menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, obyek, dan sebagainya.108 Jika demikian evaluasi bisa diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang, objek, dan lain-lain) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian.
Evaluasi bisa diwujudkan dalam bentuk tes tertulis dan non tertulis. Tes yang dilakukan tidak sekedar mengukur kecerdasan kognitif tetapi juga perlu memperhatikan kecerdasan afektif dan psikomotorik siswa, sehingga penilaian yang dilakukan tersebut benar-benar menghargai berbagai potensi yang dimiliki siswa.
Dalam konteks pembelajaran ini, jenis evaluasi yang akan penulis sampaikan yaitu evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran: