BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
4. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Setiap bangsa di dunia mempunyai sejarah perjuangan masing-masing dari perjuangan orang-orang terdahulu yang terdapat nilai-nilai nasionalis, patriot, dan lain sebagainya yang menempel pada jiwa setiap warga negara. Sejalan dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang semakin pesat, nilai-nilai perjuangan semakin lama luntur dan memudar dari jiwa seseorang, oleh karena itu perlu ada suatu pembelajaran untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut agar selalu menyatu dalam setiap jiwa warga negara untuk menjalankan hak dan kewajiban dikehidupan berbangsa dan bernegara.
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan pendidikan yang mengingatkan setiap orang terhadap pentingnya nilai-nilai hak dan kewajiban suatu warga negara agar setiap hal yang dikerjakan sesuai dengan tujuan dan cita-cita suatu bangsa dan tidak melenceng dari yang diharapkan. Pendidikan ini harus diterapkan sejak dini disetiap jenjang pendidikan mulai dari dasar hingga perguruan tinggi agar menghasilkan penerus bangsa yang berkompeten dan siap menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan suatu pendidikan pembentuk warga negara yang memahami dan melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang terampil, cerdas, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Pendidikan Kewarganegaraan ini dilaksanakan melalui pendidikan formal untuk
mempersiapkan generasi muda bangsa menjadi warga negara yang memiliki pengetahuan, kecakapan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat.
Ellis (1998: 225) menjelaskan bahwa kata kunci Pendidikan Kewarganegaraan adalah partisipasi. Partisipasi ini tertuang dalam beragam bentuk pembelajaran seperti model riset, model community service atau pelayanan masyarakat, model pembuatan keputusan (decision making), dan model konflik. Melalui berbagai model pembelajaran tersebut, terlihat bahwa pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan perlu melibatkan keterampilan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang fokus pada pembentukan warga negara. Warga negara yang dimaksud, yakni memahami hak-hak, kewajiban, dan mampu melaksanakannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan pelajaran wajib yang digunakan sebagai sarana pembentukan warga negara yang baik. Pendidikan Kewarganegaraan tidak hanya sebatas penyampaian materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu membentuk peserta didik untuk memahami hak-hak, kewajiban, dan melaksanakannya sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Mengacu dari pengertian Pendidikan Kewarganegaraan tersebut, mata pelajaran ini sangatlah penting untuk menjamin kelangsungan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.
a. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Sigauke (2013: 125-139) menyatakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan secara luas diakui sebagai bagian penting dari kurikulum sekolah karena berbagai alasan. Bagi pemuda, diasumsikan bahwa kewarganegaraan terbaik dapat dipelajari melalui kurikulum sekolah. Ini berarti bahwa guru perlu benar-benar memahami apa arti kewarganegaraan dan bagaimana untuk lulus pengetahuan ini kepada siswa. Konsepsi kewarganegaraan dan model integrasi kurikulum lintas yang diadopsi dalam sepuluh mata pelajaran.
Selain itu, tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan dan kesadaran bernegara, serta sikap perilaku yang cinta tanah air dan bersendikan kebudayaan bangsa, wawasan nusantara, serta ketahanan nasional dalam jiwa calon penerus bangsa yang sedang mengkaji dan akan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian, tujuan lainnya untuk meningkatkan kualitas manusia indonesia yang berbudi luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Melalui Pendidikan Kewarganegaraan, warga negara Republik Indonesia diharapkan mampu “memahami”, menganalisa, dan menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat, bangsa, dan negara secara konsisten dan berkesinambungan dalam mewujudukan cita-cita dan tujuan nasional seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945.
Sunarso, dkk. (2008: 11) menjelaskan tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah membentuk warga negara yang baik. Berlandasan
tujuan Pendidikan Kewarganegaraan, maka masyarakat wajib diberikan Pendidikan Kewarganegaraan supaya dapat berperan aktif di dalam sistem pemerintahan negara yang demokratis. Sebagaimana penjelasan Kirschenbaum (1995: 24) bahwa bagian penting yang harus dilaksanakan Pendidikan Kewarganegaraan adalah mengembangkan keterampilan peserta didik untuk berpikir logis, menganalisis argumen, membedakan fakta dan opini, mengenali kesalahan logis, memahami teknik propaganda, dan singkatnya untuk menganalisis pemikiran stereotip. Negara Indonesia perlu menyelenggarakan Pendidikan Kewarganegaraan karena setiap generasi adalah orang baru yang harus mendapat pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan agar mampu mengembangkan negara yang memiliki watak atau karakter yang baik dan cerdas untuk hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan demokrasi konstitusional.
b. Ruang Lingkup Pendidikan Kewarganegaraan
Wahab & Sapriya (2011: 29-31), menjelaskan Civics sebagai ilmu kewarganegaraan yang menekankan pada pembahasan aspek teoritik tentang kewajiban dan hak-hak warga negara yang akhirnya menuntun warga negara menjadi warga yang baik. Untuk dapat melaksanakan peran dan fungsi sebagai warga negara yang baik, seorang warga harusnya memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang dapat digunakan secara baik guna memudahkan dalam berkehidupan di masyarakat dalam membuat keputusan untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi baik sebagai individu, warga negara atau sebagai anggota masyarakat.
Menurut Mahoney (Budimansyah & Suryadi, 2008: 3) berpendapat ‘civic
education” adalah suatu pendidikan yang mencakup proses pembelajaran dari
semua mata pelajaran, proses administrasi, kegiatan peserta didik dan pembinaan dalam upaya mengembangkan karateristik perilaku warga negara yang baik. Di sisi lain Allen (Budimansyah & Suryadi, 2008: 3) berpendapat “citizenship education” lebih luas lagi, yaitu sebagai sebagai produk dari seluruh program pendidikan di sekolah, dan mata pelajaran “civics” adalah unsur utama dalam mengembangkan warga negara yang baik.
Secara formal, ruang lingkup Pendidikan Kewarganegaraan diatur dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Ruang Lingkup mata pelajaran PKn untuk pendidikan dasar dan menengah secara umum meliputi aspek-aspek sebagai berikut. a. Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi hidup rukun dalam perbedaan, cinta
lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan, dan jaminan keadilan;
b. Norma, hukum dan peraturan, meliputi tertib dalam kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum, dan peradilan internasional;
c. Hak Asasi Manusia, meliputi hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan penghormatan dan perlindungan HAM;
d. Kebutuhan warga negara, meliputi hidup gotong royong, harga diri sebagai masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara;
e. Konstitusi negara, meliputi proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi;
f. Kekuasaan dan politik, meliputi pemerintahan desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintah pusat, demokrasi dan sistem politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi;
g. Pancasila, meliputi, kedudukan pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, proses perumusan pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari, pancasila sebagai ideologi terbuka;
h. Globalisasi, meliputi: globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi;
Berdasarkan ruang lingkup PPKn di atas, diketahui bahwa materi yang ada dalam PPKn terdiri dari diantaranya tentang materi nilai-nilai, norma dan peraturan hukum yang mengatur perilaku warga negara, sehingga diharapkan peserta didik dapat mengamalkan materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari menjadi karakter pribadi yang melekat pada setiap individu peserta didik.