• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Pengembangan Klaster di Indonesia

2.3. Gambaran Umum Kondisi Klaster Di Indonesia

2.3.4. Pembelajaran Pengembangan Klaster di Indonesia

Program pengembangan klaster telah banyak dilakukan oleh pemerintah melalui departemen-departemen terkait sebagaimana tersebut di atas. Berikut disampaikan beberapa pengalaman pengembangan klaster yang dilakukan oleh departemen-departemen teknis.

a. Departemen Perindustrian

i. Program pengembangan klaster Industri Kecil Menengah (IKM) dari Departemen dilakukan dengan berbasis pada komoditi unggulan.

ii. Pengembangan klaster IKM difasilitasi melalui pendekatan hulu-hilir. IKM yang dikembangkan berawal dari adanya sentra industri. Sentra tersebut kemudian akan difasilitasi untuk menjadi klaster. Pendekatan hulu – hilir ini penting karena akan mendukung kelanjutan klaster, sebab pengembangan klaster membutuhkan keterlibatan semua pelaku (stakeholders).

iii. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan klaster antara lain adalah:

a) Sistem yang ada belum berjalan dengan baik, yaitu sulitnya melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk menyatukan tindakan bersama dalam mengembangkan klaster.

b) Pengertian tentang klaster yang masih beragam diantara stake holders/instansi. Departemen Perindustrian mendefinisikan klaster mengacu pada definisi menurut Michael Porter yaitu kelompok usaha yang sejenis yang berdekatan dan melibatkan pelaku hulu-hilir yang terkait.

iv. Dalam pengembangan klaster, sebaiknya klaster tersebut sudah tumbuh di wilayah yang bersangkutan baik sebagai kumpulan UMKM ataupun sebagai sentra industri, sehingga pengembangannya tidak dimulai dari awal (nol), tetapi mengembangkan yang sudah ada.

v. Inti dari pengembangan klaster adalah adanya komitmen bersama untuk menghasilkan produk bersama yang berkualitas. Pengalaman yang ada selama ini adalah persaingan yang sangat tinggi diantara pelaku UMKM sendiri yang menyebabkan lemahnya posisi tawar UMKM.

vi. Dari pengalaman pembinaan IKM/UMKM, untuk pengembangan klaster dibutuhkan suatu holding usaha bersama. Holding ini bertugas untuk memenuhi kebutuhan klaster, misalnya kebutuhan ahli desain produk, ahli pemasaran dst. Holding ini harus bekerja profesional sesuai dengan keahlian yang diperlukan klaster untuk berkembang.

b. BAPPENAS – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Direktorat Pemberdayaan Koperasi dan UKM)

i. Pengembangan klaster dilakukan melalui pendekatan berdasarkan ketersediaan lapangan usaha. Lapangan usaha yang berperan dalam pengembangan ekonomi masyarakat difasilitasi untuk berkembang

menjadi klaster. Untuk memilih lapangan usaha yang dimaksud dilakukan analisa backward and forward linkage dan pelaku-pelaku lain yang berperan di dalam klaster tersebut.

ii. BAPPENAS telah melakukan penelitian untuk lapangan usaha tekstil dan umbi-umbian. Lapangan usaha yang dikaji sejauh ini masih dalam bentuk sentra-sentra produksi. Pada industri tekstil, selain menganalisa backward dan forward linkage juga dilakukan analisa terhadap pelaku-pelaku lain, misalnya pedagang makanan yang berperan melayani pekerja pabrik tekstil. Keberadaan industri tekstil menjadi penting karena mempengaruhi kelangsungan lapangan usaha pedagang makanan. Analisa ini untuk mengetahui apakah sektor ekonomi yang akan dikembangkan menjadi klaster benar-benar merupakan lapangan usaha yang utama (yang

mempengaruhi keberadaan lapangan usaha lainnya) dalam

pengembangan ekonomi masyarakat di lingkungan klaster tersebut.

iii. Karakteristik sentra produksi hasil kerjasama dengan Kementerian Koperasi adalah :

a) Pada sektor pertanian, di antara pelaku UMKM mempunyai trust yang tinggi sehingga terdapat rasa kebersamaan yang tinggi.

b) Pada sektor non pertanian, antar pelaku UMKM/IKM mempunyai tingkat persaingan yang tinggi sehingga sulit untuk disatukan.

Gambaran untuk sektor pertanian

" Bentuk ideal untuk mengembangkan sentra menjadi klaster yang aktif adalah dalam bentuk kelompok. Bentuk kelompok yang ideal yang ada sampai saat ini adalah koperasi. Koperasi di wilayah pertanian dapat menjadi fasilitator pengembangan klaster. Contoh yang bisa dilihat adalah budidaya rumput laut di Sulawesi. Diantara pelaku – pelaku terdapat ikatan yang cukup kuat. Mereka melakukan budidaya secara bersama yang disatukan dalam wadah koperasi sehingga kegiatan produksi dari hulu – hilir dapat dilakukan. Pada tingkat hulu, koperasi menyediakan kebutuhan bahan baku /modal untuk budidaya rumput laut. Pada tingkat hilir, koperasi melakukan kegiatan pengolahan pasca panen bersama (pengeringan rumput laut) dan pemasaran bersama.

" Demikian juga pada sektor peternakan. Pada umumnya di Pulau Jawa peternakan sapi dilakukan secara individual. Tetapi pada peternakan sapi di Kalimantan Selatan dilakukan secara kelompok (koloni). Mereka membuat kandang bersama. Satu kandang dimiliki oleh 3 orang petani. Kandang ini dikelola bersama baik pakannya, pemeliharaan dsb. Kegiatan produksi ini sangat menguntungkan, karena dapat menghemat tenaga pemeliharaan dan tempat untuk kandang.

" Untuk menyatukan pelaku – pelaku dalam kegiatan bersama perlu

adanya leader (pemimpin) baik berasal individu atau

instansi/pemerintah yang memiliki jiwa entrepreneur. Komitmen dan kemauan dari pemimpin tersebut merupakan langkah yang strategis untuk memacu pengembangan klaster.

Pada contoh diatas, dinas terkait menjadi penggerak dalam pengembangan klaster rumput laut dan peternakan sapi.

Gambaran untuk sektor non pertanian

" Pada contoh kasus yang disampaikan, lapangan usaha yang

dikembangkan adalah industri sasirangan (tekstil) di Kalimantan Selatan. Dari pengamatan terlihat bahwa persaingan diantara pelaku UMKM cukup tinggi, antara lain dalam hal penetapan harga jual, informasi pembeli, pengembangan motif dll. Untuk membangun kebersamaan, maka pelaku UMKM didampingi oleh fasilitator klaster (BDS, LSM ataupun universitas) yang berfungsi sebagai fasilitator klaster.

" Kendala yang dihadapi adalah fasilitator klaster (dalam contoh dari Perguruan Tinggi) yang ada masih tergantung pada program Pemerintah. BDS tersebut memperoleh bantuan dari Kementerian Koperasi dalam bentuk dana pendampingan dan dana bergulir. Sehingga ketika program selesai, keberlanjutan BDS masih dipertanyakan

c. BAPPENAS – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Direktorat Kewilayahan II

i. BAPPENAS dalam hal ini Direktorat Kewilayahan II, berperan sebagai lembaga yang melakukan pengkajian pengembangan wilayah termasuk satu diantaranya dengan cara pengembangan klaster.

ii. Hasil dari kajian yang telah dilakukan bahwa kegagalan dalam mengembangkan klaster dikarenakan :

a) Pengembangan klaster tidak berdasarkan pada potensi yang ada di masyarakat. Program klaster lebih dikarenakan adanya kepentingan pemerintah untuk membentuk klaster.

b) Kurangnya komitmen dan kemauan (willingness) pemerintah dan

stakeholders yang terkait. Akibatnya kebijakan pengembangan UMKM justru bersifat kontraproduktif.

c) Tidak adanya grand strategy (rencana induk) yang melibatkan pelaku hulu-hilir pada klaster yang dikembangkan. Misalnya: peternakan sapi potong, yang diperhatikan hanya sapi potong, tetapi peluang usaha yang lain kurang diperhatikan misalnya pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik.

d) Pengembangan klaster mengecil menjadi sentra usaha. Seharusnya pengembangan klaster diarahkan untuk dapat menjadi penunjang pengembangan ekonomi lokal dan ekonomi regional. Agar pengembangan klaster tidak terjebak menjadi sentra, maka rencana induk harus dibuat secara bottom up.

d. BPPT – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pusat Pengkajian Kebijakan Peningkatan Daya Saing

i. Konsep pengembangan klaster adalah adanya linkage antar pelaku-pelaku klaster dan terciptanya nilai tambah (value chain)

ii. Agar linkage dan nilai tambah dapat diperoleh, maka pengembangan klaster dilakukan melalui pendekatan partisipatory. Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut (mengacu pada contoh proses pembentukan klaster di Tegal-Jawa Tengah) :

" Proses ini diawali dengan melakukan identifikasi usaha-usaha yang mempunyai prospek untuk berkembang.

" Kemudian dilakukan pemetaan kondisi lingkungan klaster (meta plan). Faktor yang dipetakan mengacu pada diamond model yang disampaikan Michael Porter. Peta tersebut akan menggali hal-hal yang menjadi kendala dan hal-hal yang menjadi pendukung.

" Dilakukan penguatan lingkungan usaha, melalui perumusan tujuan bersama, strategi bersama hingga membuat matriks rencana kerja untuk melakukan aksi bersama. Untuk melangkah ke aksi bersama diperlukan manajemen dari klaster tersebut.

b). Proses analisa (tahun 2006).

Analisa yang digunakan adalah:

" Analisa rantai nilai, untuk mengetahui nilai tambah dari masing-masing pelaku.

" Analisa kompetensi inti, meliputi peta pelaku industri pemasok, pembeli (buyer), industri terkait, industri pendukung dan institusi pendukung.

" Hasil analisa rantai nilai dan kompetensi inti ini untuk

menentukan kepada siapa/kemana pembiayaan perlu

diberikan.

iii. Faktor penting yang juga terkait dalam mengembangkan UMKM/IKM dengan pendekatan klaster adalah :

a) Peningkatan kapasitas (capacity building) pelaku-pelaku yang terlibat dalam klaster.

b) Adanya tokoh panutan/pemimpin yang berpengaruh (Local Champion)

Contoh pendekatan klaster yang cukup berhasil adalah yang dilakukan di Tegal. Melalui peran pemerintah daerah dalam hal ini Kepala Bappeda yang berkomitmen mengembangkan UMKM, maka terbentuk 5 klaster yang berkembang yaitu: klaster

engine dan aplikasinya, komponen kapal, pariwisata, sapi potong dan jagung hibrida.

Keberhasilan yang diperoleh dapat dilihat dan diukur dari tingkat pendapatan yang meningkat dari pelakupelaku yang ada pada klaster. Sebagai gambaran pendapatan petani jagung hibrida yang bertambah. Harga hasil pertanian seperti pada umumnya sangat berfluktuasi. Petani pada posisi tawar yang tidak seimbang terhadap pembeli (umumnya tengkulak yang berfungsi sebagai penebas hasil panen). Ketika proses mengembangkan klaster, petani difasilitasi agar memperoleh harga yang wajar dan penebas pun memperoleh keuntungan yang diharapkan. Caranya dengan mengajak petani untuk mengatur waktu tanam serta memperluas areal dan mengajak penebas untuk melakukan tebasan secara periodik dalam kondisi jagung sudah mencapai umur produksi siap tebas.

e. BPPT – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi : Business Technology Center/BTC

i. BPPT-BTC dalam hal ini berperan menyediakan aplikasi teknologi untuk UMKM/IKM

ii. Untuk mendukung peran tersebut, BPPT memperoleh bantuan dari Uni Eropa dalam bentuk dana hibah (grant). Dana hibah ini digunakan untuk program teknologi informasi kepada Koperasi. Pertimbangannya adalah dari pengalaman banyak negara yang telah menggunakan teknologi informasi khususnya internet untuk memasarkan produk-produk UMKM/IKM. Pemasaran melalui cara ini terbukti sangat efektif untuk meningkatkan penjualan.

iii. Kondisi koperasi di Indonesia masih lemah, sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas agar dapat melayani UMKM lebih baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penyediaan teknologi informasi. Pada saat ini akan dilakukan pilot project teknologi informasi dengan pemerintah daerah Jawa Tengah.

f. Departemen Pertanian

i. Untuk mengembangkan klaster pada komoditi pertanian tidaklah mudah, mengingat karakteristik dari sektor pertanian sendiri, sehingga tidak semua komoditi pertanian dapat diklasterisasi.

ii. Faktor keberhasilan dalam kredit tanaman perkebunan adalah adanya industri inti yang menampung produk mereka. Sistem yang dikembangkan dalam hubungan industri inti dan petani adalah sistem bagi hasil.

iii. Sedangkan untuk tanaman pangan (termasuk hortikultura), kapasitas petani masih sangat rendah. Untuk itu pada level petani masih sangat diperlukan usaha penguatan kapasitas. Pada sektor pertanian, pembiayaan bank dirasakan belum mampu menggantikan peran tengkulak (dalam ketepatan waktu pemberian dan jumlah pinjaman yang dibutuhkan).

Kebijakan di tingkat pusat ini, lebih jauh juga menjadi inspirasi bagi pemerintah-pemerintah di daerah dalam mengembangkan ekonomi masyarakatnya. Salah satu pemerintah daerah yang melakukan program pengembangan klaster adalah Pemerintah Daerah (Pemda) Propinsi Jawa Tengah. Program di tingkat propinsi tersebut diakomodasikan dan dikoordinasikan dengan pemda-pemda di tingkat kabupaten.