• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Kinerja KUKM Sub Sektor Tanaman Perkebunan

Dinamika UKM Dalam Sektor Agribisnis

4.2. Dinamika UKM Dalam Sektor Agribisnis

4.2.2. Perkembangan Kinerja KUKM Sub Sektor Tanaman Perkebunan

Berbeda dengan komoditas pertanian lainnya, neraca expor impor komoditi perkebunan selalu mengalami surplus. Komoditi ini merupakan komoditi

perdagangan yang merupakan penyumbang devisa terbesar dari sektor non migas. Surplus perdagangan tahun 2001 mencapai US$ 1.893.411.000. Akan tetapi tidak seperti sebagian besar produk perkebunan yang ditujukan untuk ekspor, potensi produksi gula, kapas dan cengkeh untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri masih harus didukung oleh impor. Pada tahun 2001 impor gula naik 6% dan cengkeh naik 2,98%.

Permintaan produk perkebunan sebagian besar untuk kegiatan yang bersifat produktif yaitu sebagai bahan baku industri pengolahan lainnya. Untuk kebutuhan konsumsi komoditi tanaman perkebunan relatif lebih besar daripada produksi yang dihasilkan. Seperti halnya gula dan cengkeh, kebutuhan yang dipenuhi dari impor sebanyak 36,12% dan 10,08%.

Peran sub sektor perkebuan sangat strategis dalam mendukung perkembangan sektor riil di Indonesia, sebagai penyedia bahan baku industri dalam negeri dalam kegiatan produktif. Sub sektor perkebunan memiliki keterkaitan industri yang tinggi dengan indeks daya penyebaran 23,2 yang terdiri dari usaha kecil 9,9 usaha menengah 6,9 dan usaha besar 6,5. Indeks derajat kepekaan 21,8 yang berarti setiap kenaikan satu unit permintaan akhir sub sektor perkebunan akan meningkatkan output sektor lain secara keseluruhan sebesar 21,8 unit (BPS 2004).

Tabel 13. Struktur Permintaan Sub Sektor Perkebunan Menurut Skala Usaha Tahun 2000

Skala Usaha Permintaan Antara Ekspor Permintaan Akhir Total Usaha Kecil 84.98 4.24 10.77 100.00 Usaha Menengah 87.68 3.09 9.23 100.00 Usaha Besar 92.70 0.49 6.81 100.00 Sumber : BPS, 2004 (diolah)

Dalam struktur permintaan tanaman perkebunan menurut skala usaha menunjukkan bahwa permintaan tanaman perkebunan lebih di fokuskan kepada pemenuhan bahan baku industri dalam negeri. Mengingat bahwa tanaman perkebunan seperti tebu, karet, kapas dan cengkeh merupakan komoditas yang strategis sehingga orientasi permintaan tanaman perkebunan tidak mengarah kepada ekspor.

Struktur penyediaan tanaman perkebunan, bahwa sebanyak 65,96% berasal dari usaha kecil, usaha besar 14,4%, usaha menengah 13,90% sedangkan impor

hanya 6,20%.

Indeks derajat kepekaan sebesar 21,8 menunjukkan bahwa sub sektor ini memiliki daya dorong yang tinggi untuk meningkatkan 21,8 kali kapasitas produksi dan produktivitas yang menggunakan komoditi perkebunan sebagai input dalam proses produksinya. Rasio permintaan antara sub sektor ini pada usaha kecil relatif tinggi 84,9% dari output subsektor perkebunan digunakan sebagai input dalam proses produksi industri lainnya. Sedangkan usaha menengah dan usaha besar masing-masing 78,7% dan 92,7% (BPS dan Kementerian Koperasi dan UKM 2004).

Selama periode tahun 2004-2006 sub sektor perkebunan mengalami pertumbuhan PDB sebesar 2,83%, nilai ini masih dibawah pertumbuhan PDB nasional yang sebesar 6.33%. Sumbangan terbesar diberikan oleh Usaha Kecil dengan persentase sebesar 74,91% dari total PDB subsektor Tanaman Perkebunan, diikuti oleh Usaha Menengah (14,64%) dan Usaha Besar (10,43%).

Tabel 14. Perkembangan PDB, Investasi, dan Indeks Harga Implisit Sub Sektor Perkebunan Menurut Skala Usaha Periode 2000-2003

Variabel Skala Usaha Perkebunan

2004 2006 Grow/year PDB ADH Konstan 2000

(Juta Rp)

Usaha Kecil 29,152,500 30,774,400 2.74%

Usaha Menengah 5,699,200 6,018,400 2.76%

Usaha Kecil + Menengah 34,851,700 36,792,800 2.75%

Usaha Besar 3,997,600 4,288,900 3.58%

Total Sub Sektor 38,849,300 41,081,700 2.83%

% Total Sub Sektor thd Sektor 15.72% 15.72% 0.01%

% Total Sub Sektor thd Nasional 2.58% 2.41% -3.29%

Jumlah Investasi ADH Konstan 2000 (Juta Rp)

Usaha Kecil 1,589,589 1,719,848 4.02%

Usaha Menengah 1,675,571 1,814,493 4.06%

Usaha Kecil + Menengah 3,265,160 3,534,341 4.04%

Usaha Besar 1,946,865 2,137,081 4.77%

Total Sub Sektor 5,212,025 5,671,422 4.31%

% Total Sub Sektor thd Sektor 32.02% 32.07% 0.08%

% Total Sub Sektor thd Nasional 1.47% 1.40% -2.35%

Laju Indeks Harga Implisit (%)

Usaha Kecil 6.05 7.79 13.47%

Usaha Menengah 4.22 7.79 35.87%

Usaha Besar 5.42 6.53 9.76%

Total Sub Sektor 5.73 7.65 15.55%

Sumber: BPS dan Kementerian Koperasi dan UKM 2006, (diolah)

sebesar 1,40% dari total investasi di Indonesia pada tahun 2006.

Sub sektor perkebunan memiliki rasio input antara 25,96%, yang berarti 25,96% output yang dihasilkan digunakan untuk membeli input dari industri lainnya dan mampu menghasilkan nilai tambah 74,04% dari output yang dihasilkan. Usaha menengah memiliki rasio input yang lebih rendah yaitu 24,46% dari pada usaha kecil dan usaha besar yaitu masing-masing 25,82% dan 27,43% (BPS dan Kementerian Koperasi dan UKM 2004).

Laju indeks harga implisit sub sektor perkebunan sebesar 15.55% berada jauh di bawah indeks harga implisit secara nasional yang sebesar 39.96%. Rendahnya pertumbuhan laju indeks harga implisit selama periode 2004-2006 terutama pada skala usaha besar mengindikasikan adanya kemungkinan penurunan harga komoditi perkebunan yang cukup signifikan di pasar domestik atau dunia.

Sub sektor perkebunan memiliki rasio input antara 25,96%, yang berarti 25,96% output yang dihasilkan digunakan untuk membeli input dari industri lainnya dan mampu menghasilkan nilai tambah 74,04% dari output yang dihasilkan. Usaha menengah memiliki rasio input yang lebih rendah yaitu 24,46% dari pada usaha kecil dan usaha besar yaitu masing-masing 25,82% dan 27,43%.

Kebutuhan antara untuk sektor ini pada usaha kecil dipasok oleh usaha kecil sebesar 39,87%, usaha menengah 13,47%, usaha besar 33,00% dan impor 13,67%. Untuk kebutuhan antara untuk usaha menengah sebagian besar dipasok dari usaha kecil yaitu 43,73% dan pasokan impor paling rendah, hanya 13,07%. Sedangkan usaha besar pasokan input antara dari impor impor bila dibandingkan dengan UKM. Dilihat dari kebutuhan antara yang dibutuhkan, baik bahan baku, bahan bakar maupun bahan penolong lainnya maka ketersediaan input antara untuk usaha besar dari impor yaitu 22,71% yang memiliki kecenderungan harga input antara relatif tidak stabil dibandingkan dengan usaha kecil. Hal ini merupakan faktor yang diduga sebagai penyebab rendahnya surplus usaha besar dibandingkan dengan UKM .

Peran Koperasi dan UKM

Pengembangan Koperasi dan UKM dibidang agribisnis khususnya pada sub sektor perkebunan diharapkan berperan besar dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional melalui perannya dalam menghasilkan devisa dan membuka lapangan kerja baru. Jenis komoditi perkebunan yang dikembangkan adalah kelapa sawit,

kopi, gambir, nilam dan sabut kelapa. Bantuan perkuatan tersebut diberikan dengan pola perguliran melalui Koperasi. Program percontohan pengembangan usaha Koperasi di bidang agribisnis perkebunan meliputi:

!" Program pengembangan budidaya dan agroindustri serat rami (haramay) melalui koperasi. Mulai tahun 2002 pengembangan usaha serat rami dirintis di Kabupaten Wonosobo Jateng pada areal seluas 55 hektar dan di Kabupaten Ogan Kemiring Ulu Sumsel pada areal seluas 35 hektar. Rintisan pengembangan usaha agroindustri serat rami tersebut telah dilengkapi dengan sarana prosesing. Program sentra turut memfasilitasi agroindustri haramay di Jawa Barat.

#" Pengembangan Usaha Pengolahan Gambir. Kementerian Koperasi dan UKM pada tahun 2002 dan 2003 telah memberikan dukungan perkuatan bagi para petani gambir di Provinsi Sumatera Barat, berupa sarana pengolahan gambir yang dikelola dengan pola perguliran melalui koperasi. Program Sentra UKM juga turut bergerak dalam industri pengolahan gambir ini.

$" Pengembangan Usaha Pengolahan Sabut Kelapa. Sebagai upaya untuk mendorong peningkatan produktivitas usaha koperasi di sektor perkebunan, juga telah difasilitasi dukungan perkuatan berupa sarana pengolahan sabut kelapa, khususnya diperuntukkan bagi koperasi yang berada di daerah yang potensial kelapa. Untuk itu telah di rintis percontohan usaha pengolahan sabut kelapa di 4 daerah, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Banten.

Komoditas serat rami, gambir dan sabut kelapa tersebut dapat dilaksanakan dengan teknologi yang terjangkau oleh UKM dan memiliki pasar domestik dan ekspor yang cukup luas. Hal ini menunjukkan potensi pengembangan UKM di sektor perkebunan sangatlah besar. Dengan adanya program dan kebijakan bantuan perkuatan dari Kementerian Koperasi dan UKM untuk mengembangkan usaha Koperasi dan UKM dibidang agribisnis, seperti program bergulir untuk sarana pengolahan kopi, gambir, sabut kelapa, pengembangan budidaya dan agroindustri serat rami dan Pabrik Kelapa Sawit skala kecil, disamping menjadi stimulan yang dapat memotivasi Pemerintah Daerah dalam memberikan pembinaan dan bantuan dalam rangka pemberdayaan koperasi, usaha kecil dan menengah di masa mendatang, juga diharapkan akan menggerakkan kegiatan