• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Sastra Anak: Membentuk Karakter Siswa Sekolah Dasar melalui Program Pendidikan

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 181-196)

Nilai (LVEP)

Muh. Arafik

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan pembentukan karakter siswa Sekolah Dasar yang terintegrasi dalam pembelajaran sastra anak melalui Living Values Eucational

Program (LVEP).

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan empat siklus dengan materi pembelajaran cerita, drama, dan puisi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I I I .1 SD Muh. Mutihan Wates Kulonprogo yang berjumlah 32. I nstrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Jenis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan LVEP untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter melalui pembelajaran sastra anak. Data hasil belajar yang diperoleh melalui instrumen tes hasil belajar dianalisis secara kuantitatif. Data implementasi nilai yang diperoleh melalui instrumen lembar observasi dianalisis secara kuantitatif, sedangkan data implementasi nilai yang diperoleh melalui pedoman wawancara dianalisis secara kualitatif. Kriteria keberhasilan secara kuantitatif jika rata-rata hasil belajar siswa mencapai rentang skor 76–99 atau KKM> 75% dan skor rata-rata hasil observasi implementasi nilai mencapai (76–99% ) atau rentang skor 97,28–126,72. Secara kualitatif, tindakan dikatakan berhasil jika penerapan pembelajaran dengan metode LVEP dapat membentuk karakter yang meliputi nilai ketaatan beribadah, cinta dan kasih sayang, tanggung jawab, serta kerja sama.

Peningkatan hasil belajar ditunjukkan dengan rata-rata nilai ulangan harian dari siklus I sampai dengan siklus IV berturut-turut adalah 77,81; 80,46; 77,18; 85,15 dari rentang skor 76–99. Peningkatan nilai ketaatan beribadah dari siklus I sampai dengan IV berturut-turut adalah 90,00; 98,00; 102,00; 116,00 dari rentang skor 97,28–126,72. Peningkatan nilai cinta dan kasih sayang berturut-turut dari siklus I sampai dengan IV adalah 84,00; 92,00; 98,00; 116,00 dari rentang skor 97,28–126,72. Peningkatan nilai tanggung jawab dari siklus I sampai dengan IV berturut-turut 86,00; 96;00; 100,00; 114,00 dari rentang skor 97,28–126,72. Peningkatan nilai kerja sama berturut-turut dari siklus I sampai dengan IV adalah 82,00; 84,00; 86,00; 112,00 dari rentang skor 97,28–126,72. Hasil wawancara menunjukkan sebagian besar siswa sangat antusias dan merasa senang dalam mengikuti pembelajaran dan mereka jauh lebih memahami materi yang disampaikan. I mplementasi nilai-nilai karakter juga lebih sering dilakukan siswa walaupun belum didasari atas kemauan dan kesadaran dalam diri, namun karena diwajibkan oleh guru. Penerapan metode LVEP untuk mengimplementasikan nilai-nilai karakter melalui pembelajaran sastra anak menurut guru sudah sesuai, karena LVEP merupakan metode pembelajaran yang komprehensif berbasis nilai. Sekolah, orang tua, komite, dan yayasan juga sangat mendukung adanya program pengembangan pendidikan karakter.

Pendahuluan

Setditjen Pendidikan Dasar dan Menegah Kemendiknas Judiani, S menyatakan (2010:1) “siapa yang tidak mengelus dada melihat pelajar yang tidak punya sopan santun, suka tawuran, minum minuman keras, mabuk-mabukan, senang narkotika, dan hobi begadang serta kebut-kebutan m en gen dar ai m ot or di j al an r ay a?” I ni j enis kenakalan pelajar yang paling umum, sedangkan kenakalan lainnya seperti mencontek,

menjiplak karya orang lain, melakukan sabotase, vandalisme halaman buku perpustakaan, membolos sekolah, mencuri, berjudi, dan banyak lagi. Namun, pelajar yang patut dibanggakan juga ada, seperti mereka yang menj uarai olimpiade sains, baik di tingkat nasional maupun internasional. Bahkan, pelaj ar I ndonesia menj adi juara umum dalam

International Conference of Young Scientists (I CYS) atau Konferensi I nternasional I lmuw an Muda se- Dunia yang diikuti r at usan pelaj ar SMA dari 19 negara di Bali pada 12−17 April 2010. Mencontek telah menjadi budaya lembaga pendidikan kit a. Hal ini bukan hanya berkait an dengan kelemahan individu per individu, melainkan telah membentuk sebuah kultur sekolah yang tidak menghargai kejujuran. Masifnya perilaku ketidakjujuran ini telah merambah dalam diri siswa, pendidik, dan anggota komunitas sekolah.

Kondisi memprihatinkan tersebut, tidak luput dari penilaian banyak pihak yang menuding bahwa sekolah kurang berhasil mendidik para siswanya. Pendidikan di sekolah belum mampu membentengi para siswanya dari perilaku menyimpang. Pentingnya pendidikan karakter digalakkan kembali salah satunya didasari atas kenyataan betapa keringnya nilai-nilai moral dalam pendidikan kita (Mustainah, Kedaulatan Rakyat, 8 Juli 2010).

Pem bangunan kar akter dan pendidikan karakter menjadi suatu keharusan karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas, juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun orang lain. Pembinaan karakter yang termudah dilakukan adalah ketika anak-anak masih duduk di bangku SD. I tulah sebabnya pemerintah memprioritaskan pendidikan karakter di SD. Bukan berarti pada jenjang pendidikan lainnya tidak mendapat perhatian namun porsinya saja yang berbeda (Mendiknas, 2010).

Penanaman nilai-nilai karakter sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Menurut I rcham Machfoedz, Mas’ud Tomali, dan Suhartoyo (2008: 9-11), bacaan anak-anak dapat berpengaruh pada perkembangan kecakapan atau bahkan jiwanya. Bacaan yang menarik dapat menjadi suatu kebutuhan yang mendorong untuk berbuat sesuatu (need for

achievement). Bahan bacaan dengan tema nilai dan moral yang menarik apabila diberikan kepada anak secara secara terus-menerus, maka akan dapat membuat anak tersebut berperilaku sesuai dengan karakter yang diinginkan. Bacaan yang mempunyai tema karakter bisa ditemukan dalam sastra anak.

Karya sastra merupakan bagian terpenting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak. Anak dengan dunianya yang penuh imajinasi menjadi begitu bersahabat dengan sastra. Lewat sastra, anak bisa mendapatkan dunia yang lucu, indah, sederhana, dan nilai pendidikan yang menyenangkan, sehingga tanpa dirasakan, sastra menjadi sangat efektif dalam menanamkan karakter dan edukasi pada anak (Heru Kurniawan, 2009: 2).

Mengingat pentingnya nilai-nilai karakter yang banyak terdapat dalam materi pembelajaran sastra anak, maka perlu dicarikan suatu strategi, pendekatan, metode, teknik atau program pengajaran sastra anak yang tepat sehingga dapat memberikan kontribusi penanaman nilai-nilai karakter untuk siswa. Strategi, pendekatan, metode, teknik atau program yang tepat diharapkan dapat memberikan motivasi dan semangat kepada siswa untuk dapat berperan serta lebih baik di dalam proses kegiatan belajar mengajar dan menerapkan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai karakter.

Tidak kalah pentingnya membuat suasana yang menyenangkan bagi siswa dalam belajar bahasa I ndonesia khususnya sastra anak.

Penanaman aspek nilai-nilai karakter yang terintegrasi dalam sastra anak bisa dilaksanakan melalui jenis-jenis kegiatan yang bervariasi dalam proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Aktivitas atau jenis kegiatan tersebut antara lain adalah: refleksi, berimajinasi, latihan relaksasi, ekspresi seni, aktivitas pengembangan diri dan membangun ketrampilan sosial. Mengacu pada ciri-ciri progam aktivitas pembelajaran tersebut, maka LVEP (Living Values Educational Program) tepat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar dan implementasi nilai-nilai karakter siswa antara lain nilai ketaatan beribadah, cinta dan kasih sayang, tanggung jawab, serta kerja sama yang diintegrasikan dalam pembelajaran sastra anak.

Alasan pemilihan LVEP karena program ini dirancang untuk memotivasi siswa dan mengajak mereka untuk lebih aktif, kreatif, melaksanakan tugas-tugasnya dengan penuh kesadaran dan perasaan senang, serta bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan belajar yang penuh dengan makna. Konsep, makna, pesan, amanat dan nilai-nilai yang dipelajari dalam sastra anak bisa tertanam untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari- hari, sedangkan guru berperan sebagai pembimbing atau fasilitator.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. PTK sebagai suatu bentuk investigasi yang bersifat reflektif, partisipatif, kolaboratif dan spiral, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi. Pelaksanaan penelitian berdasar pada hasil siklus yang sudah dilakukan dengan cara mengevalusai hasil pada setiap siklus, lalu merencanakan kembali sesuai hasil yang telah dilaksanakan untuk siklus berikutnya. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas I I I .1 SD Muh. Mutihan Wates Kulonprogo.

Jenis tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penerapan metode LVEP untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter melalui pembelajaran sastra anak dan sebagai hasilnya adalah peningkatan hasil belajar dan implementasi nilai-nilai karakter yang terdiri dari (menaati ajaran agama, cinta dan kasih sayang, tanggung jawab, serta kebersamaan dan kerjasama). Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan tes dengan menggunakan instrumen berupa lembar observasi, pedoman wawancara, dan tes hasil belajar. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dibagi menjadi 2, yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Data penelitian kualitatif dianalisis dari catatan lapangan dan transkrip wawancara. Data penelitian kuantitatif dianalisis secara deskriptif dengan penyajian tabel dan persentase. Data dalam bentuk persentase dideskripsikan dan diambil kesimpulan tentang masing-masing komponen dan indikator berdasarkan kriteria yang ditentukan.

Pembelajaran Sastra Anak

Pembelajaran sastra anak di sekolah tidak berdiri sendiri sebagai sebuah mata pelajaran yang mandiri, melainkan manjadi bagian mata pelajaran bahasa dan sastra I ndonesia. Seorang guru bahasa Indonesia juga berarti guru apresiasi sastra. Penggabungan sastra ke dalam pengajaran bahasa I ndonesia mempunyai landasan bahwasannya bahasa adalah sarana pengucapan sastra, bahasa merupakan salah satu unsur bentuk sastra yang paling penting.

Pembelajaran sastra anak bertujuan agar siswa mampu memahami, menikmati, dan memanfaatkan karya sastra guna mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, meningkatkan pengetahuan, dan kemampuan berbahasa. Pembelajaran sastra anak ditekankan pada upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra, karena sastra merupakan penggambaran kehidupan dan pikiran imajinasi ke dalam bentuk dan struktur bahasa.

Sastra selalu berbicara tentang kehidupan, sastra sekaligus juga memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan itu sendiri. Pemahaman tersebut datang dari eksplorasi terhadap berbagai bantuk kehidupan, rahasia kehidupan, penemuan dan pengungkapan berbagai macam karakter manusia, dan lain-lain informasi yang dapat memperkaya pengetahuan dan pemahaman pembaca.

Menurut Dermawan dalam Harry Poerwanto (2007: 144-145), sastra anak mencerminkan wawasan, perasaan, pikiran, dan pengalaman anak pada masa lalu, masa kini, dan masa depan; temanya bersifat nilai moral, pengetahuan, sikap, dan ketrampilan; mengamanatkan tentang nilai pendidikan, dan relevan dengan karakteristik dan alam kehidupan jiwa anak. Jika anak mempelajari sastra, maka mereka akan memperoleh manfaat tertentu. Manfaat apresiasi sastra antara lain adalah: melatih ketrampilan berbahasa; menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup manusia; membantu mengembangkan diri pribadi, membantu pembentukan watak, memberi kenyamanan, keamanan, kepuasan melalui kehidupan manusia dalam cerita fiksi; dan meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru, sehingga melarikan diri sejenak dengan kehidupan sebenarnya.

Sesuai dengan sasaran pembacanya, sastra anak dituntut untuk dikemas dalam bentuk yang berbeda dari “sastra orang dewasa” hingga dapat diterima anak dan dipahami mereka dengan baik. Sastra anak merupakan lukisan kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk struktur bahasa anak. Sastra anak merupakan sastra yang ditujukan untuk anak, bukan sastra tentang anak. Sastra tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai untuk anak-anak, tetapi sastra untuk anak sudah tentu sengaja dan disesuaikan untuk anak-anak selaku pembacanya (Edi Puryanto, 2008: 2).

Sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran kamanusiaan. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk motivasi manusia untuk berbuat sesuatu yang dapat mengundang pembaca untuk mengidentifikasinya. Apalagi jika pembaca itu adalah anak- anak yang fantasinya baru berkembang dan dapat menerima segala macam cerita terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak. Masih banyak lagi bermacam kandungan yang ditawarkan dan diperoleh lewat bacaan sastra karena sastra bukan tulisan yang biasa. I si kandungan yang memberikan pemahaman tentang kehidupan secara lebih baik itu diungkap dalam bahasa yang menarik.

Pendidikan Sastra Anak di SD

Kebijakan Nasional Pemerintah Republik Indonesia dalam membangun karakter bangsa menjelaskan bahwasannya pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/ atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara. Hal itu diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil

dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat I ndonesia.

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis (William & Ratna Megawangi, 2007).

Adapun menurut Koesoema (2007:194), pendidikan karakter merupakan usaha yang dilakukan secara individu dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan kebebasan individu itu sendiri. I a juga menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Karakter yang Membebaskan”, bahwa hanya melalui pendidikan sebagai proses pembebasanlah individu mampu membebaskan diri dari berbagai manipulasi dan rekayasa pendidikan oleh penguasa demi status quo. Pendidikan yang menonjolkan nilai keterbukaan dan demokrasi, misalnya, akan membantu individu menghayati hidupnya sebagai bagian integral dari masyarakat dan negara, yang memiliki hak untuk berpartisipasi dalam proses politik demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Pada tingkat individu, pendidikan karakter yang membebaskan akan membantu seseorang memahami determinisme dan segala kelemahan tubuhnya—faktor yang membuat seseorang mudah berperilaku tidak bermoral—agar ia bisa bertumbuh secara penuh sebagai manusia. Melalui pendidikan yang membebaskan pula manusia mampu menegaskan komitmen-komitmen moralnya dan terus mengobsesikan perilaku-perilaku ideal yang akan direalisasikan di masa depan.

Dalam prosesnya, pendidikan karakter hendaknya mampu: (1) mengembangkan unsur-unsur karakter Ngerti, Ngroso, Nglakoni dengan praktik pendidikan yang mementingkan tumbuhnya kesadaran diri (tidak mekanik); (2) menggunakan pendekatan komprehensif dan holistik, dengan prinsip-prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya

mangun karsa, dan tut wuri handayani. Pendidikan nilai dalam rangka pendidikan karakter dapat terintegrasi melalui berbagai macam (dunia nilai/ mata pelajaran) maupun melalui berbagai program program dan kultur sekolah yang kondusif mampu menghadirkan (menginternalisasikan) nilai-nilai pada siswa (Akbar, 2011: 17).

Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah pancasila”.

Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menj adi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi ( yang ber sif at t idak absolut at au ber sif at r elat if ) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cint a kepada Allah dan cipt aan- Nya

( alam dengan isinya) , tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerj asama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, t oler ansi, cint a dam ai, dan cint a per sat uan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung j awab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas.

Ber dasar kan pem bahasan di m uka dapat dit egaskan bahw a karakter merupakan perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma- norma agama, hukum, tat a kram a, budaya, dan adat istiadat. Or ang yang perilakunya sesuai dengan norma-norma disebut berkarakter mulia.

Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang pot ensi dir inya, yang dit andai dengan nilai- nilai seper t i percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, m andiri, hidup sehat , ber t anggung j aw ab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, dan nilai-nilai lainnya. Individu j uga m emiliki kesadar an untuk berbuat yang ter baik atau unggul, d a n i n d i v i d u j u g a m am p u b e r t i n d a k s e s u a i p o t e n s i d a n kesadarannya tersebut.

Living Values Educational Program

Pengertian LVEP menurut Diane Tillman (2004: ix), adalah program pendidikan nilai-nilai. Program ini menyajikan berbagai macam aktivitas pengalaman dan metodologi praktis bagi para guru untuk membantu siswa mengeksplorasi dan mengembangkan nilai- nilai kunci pribadi dan sosial: kedamaian, penghargaan, cinta, tanggung jawab, kebahagiaan, kerja sama, kejujuran, kerendahan hati, toleransi, kesederhanaan, dan persatuan.

The Living Values Educational Program values activities are designed to motivate students and to involve them in thinking about themselves, others, the world and values in ways that are relevant. They are designed to provoke the experience of values within and build inner resources. They are designed to empower and to elicit potential, creativity, and inner gifts. (Diane Tillman, 2000: 4 http:/ / www.livingvalues.net / books.html).

Living Values Educational Program (LVEP) dirancang untuk memotivasi siswa dan mengajak mereka untuk memikirkan diri sendiri, orang lain, dunia, dan nilai-nilai dalam cara yang saling berkaitan. Kegiatan-kegiatan ini bertujuan untuk merasakan pengalaman di dalam diri sendiri dan untuk membangun sumber daya diri. Kegiatan-kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat dan memancing potensi, kreativitas, dan bakat-bakat tipa siswa. Para siswa diajak untuk berefleksi, berimanjinasi, berdialog, berkomunikasi, berkreasi, membuat tulisan, menyatakan diri lewat seni, dan bermain-main dengan nilai- nilai yang diajarkan. Melalui proses tersebut, akan berkembang keterampilan pribadi, sosial, dan emosional, sejalan dengan keterampilan sosial yang damai dan penuh kerja sama dengan orang lain. Nilai-nilai ini telah disusun sedemikian rupa sehingga menyediakan serangkaian keterampilan yang dibangun satu di atas yang lain. Latihan- latihan yang ada termasuk membangun keterampilan menghargai diri sendiri,

keterampilan komunikasi sosial yang positif, keterampilan berpikir kritis, dan meyatakan diri lewat seni dan drama.

Menurut Tillman dan Pilar Quera Colomina (2004: 170), maksud dari LVEP adalah memberikan bimbingan prinsip dan sarana bagi pengembangan manusia keseluruhan, menyadari bahwa seorang individu terdiri dari dimensi fisik, intelektual, emosi, dan spiritual. Tujuan-tujuan yang ada dalam progam pendidikan nilai antara lain sebagai berikut: (1) membantu siswa memikirkan dan merefleksikan nilai-nilai yang berbeda dan implikasi praktis bila mengekspresikan nilai-nilai tersebut dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat, dan seluruh dunia; (2) memperdalam pemahaman, motivasi, dan tanggung jawab saat menentukan pilihan-pilihan pribadi dan sosial yang positif; (3) menginspirasikan siswa dalam memilih nilai-nilai pribadi, sosial, moral dan spiritual dan menyadari metode-metode praktis dalam memperdalam serta mengembangkan nilai-nilai tersebut; (4) mendorong guru untuk memandang pendidikan sebagai sarana memberikan pemahaman kajian filsafat dalam dalam kehidupan kepada para siswa, dengan demikian dapat memfasilitasi pertumbuhan, perkembangan, dan pilihan-pilihan mereka sehingga mereka mampu berintegrasi dengan masyarakat dengan rasa hormat, percaya diri, dan tujuan yang jelas.

Rancangan aktivitas yang ada dalam LVEP akan dituangkan melalui pembelajaran sastra anak. Pembelajaran sastra anak semestinya memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif. Guru hendaknya dapat megembangkan proses pembelajaran yang aktif dan komunikatif, sehingga partisipasi siswa dalam pembelajaran dapat meningkat. Dengan adanya partisipasi yang optimal, maka pengalaman belajar yang diperoleh siswa akan semakin mantap dan pencapaian tujuan belajar lebih efektif dan efisien.

Pelaksanaan Siklus I

Tahap pelaksanaan pembelajaran sastra anak yang terintegrasi dengan nilai-nilai karakter dengan menggunakan metode LVEP pada siklus I menetapkan kompetensi dasar mendengarkan cerita anak untuk dapat menyebutkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dan watak tokoh dalam cerita. Penelitian tindakan kelas pada siklus I menerapkan metode LVEP dengan berbagai macam bentuk aktivitas pembelajarannya antara lain adalah butir- butir refleksi, berimajinasi, tanya jawab, bercerita, diskusi, refleksi dan bernyanyi. Dengan aktivitas pembelajaran yang beragam tersebut akan terjadi perubahan positif pada proses kegiatan pembelajaran. Perubahan yang terjadi adalah peningkatan kemampuan dan penampilan guru dalam menerapkan metode LVEP dengan segala macam bentuk aktivitasnya. Melalui tindakan ini pula, akan terjadi perubahan hasil belajar siswa dan implementasi nilai-nilai budi pekerti terutama nilai menaati ajaran agama, menumbuhkan cinta dan kasih sayang, bertanggung jawab, dan kerja sama siswa.

Pelaksanaan Siklus I I

Tahap pelaksanaan pembelajaran sastra anak yang terintegrasi nilai-nilai karakter dengan menggunakan metode LVEP pada siklus I I menetapkan kompetensi dasar membaca puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang sesuai dengan isi puisi. Aktivitas pembelajaran yang diterapkan adalah butir-butir refleksi, relaksasi, tanya jawab, membaca puisi,

diskusi, refleksi, bernyayi. Tindakan yang diterapkan pada siklus I I menjadikan perubahan pada proses pembelajaran terutama kemampuan dan penampilan guru. Guru mampu menciptakan suasana pembelajaran berbasis nilai dengan nilai-nilai stimulus yang lebih komprehansif dan terimplementasikannya semua komponen-komponen yang ada dalam metode LVEP. Peran serta guru sebagai motivator dan fasilitator akan membuat siswa

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 181-196)