• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANGKAH I Memilih Masalah

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pembentukan BPUPKI

BPUPKI (Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai) yang dibentuk tanggal 29 April 1945, belum dapat melaksanakan tugasnya karena belum ada pelantikan para anggota secara resmi oleh pemerintah Jepang. Persiapan-persiapan untuk pelaksanaan sidang Badan Penyelidik terus dilakukan. Sebagai tempat persidangan ditetapkan di Gedung Volksraad, yaitu suatu bangunan bergaya klasik Yunani-Romawi yang terletak di Pejambon. Gedung itu sebelumnya dipergunakan untuk sidang-sidang Perwakilan Rakyat di jaman Belanda (Moh. Ridhwan Indra, 1987:41).

Hari Minggu tanggal 27 Mei 1945 jam 10.30 semua anggota Badan Penyelidik beserta anggota istimewa sudah hadir dengan pakaian rapi di Gumseikanbu (Kantor Gunseikan yang sekarang ditempati oleh Pertamina di jalan Perwira No. 2 Jakarta Pusat). Setelah Gunseikan tiba, upacara segera dimulai, Gunseikan sebagai kepala pemerintahan sipil di Jawa menerima laporan tentang persiapan untuk menyelenggarakan sidang Badan Penyelidik. Laporan pertama dilakukan oleh Ichibangase, wakil ketua (ketua muda) Badan Penyelidik dan anggota istimewa. Dilaporkan bahwa, semua anggota istimewa Badan Penyelidik telah siap untuk kepentingan persidangan Badan Penyelidik.

Kemudian menyusul giliran ketua Badan Penyelidik K.R.T. Radjiman Wediodiningrat yang melaporkan bahwa, anggota Badan Penyelidik telah hadir dan siap untuk melaksanakan segala tugas yang dibebankan kepada Badan Penyelidik. Juga dilaporkan segala sesuatunya yang diperlukan dan disiapkan untuk keperluan sidang Badan Penyelidik (Nugroho N, 1971 : 28). Tanggal 27 Mei 1945 itu, boleh dikatakan merupakan gladi bersih untuk persiapan pelantikan anggota Badan Penyelidik yang akan dilaksanakan keesokan harinya pada tanggal 28 Mei 1945. Sidang Badan Penyelidik itu adalah merupakan sidang yang berat, penuh resiko, karena sidang tersebut menyangkut kelanjutan nasib bangsa Indonesia di kemudian hari apabila tercapai cita-cita kemerdekaan.

Besok paginya, yaitu tanggal 28 Mei 1945, jam 10.00, anggota Badan Penyelidik dan anggota istimewa dari bangsa Jepang sudah hadir di Gedung Tyoo Sangi Iin. Mereka berkumpul mengadakan upacara pengibaran Sang Saka Merah-Putih bersama-sama dengan bendera dari kebangsaan Jepang Hiromaru (Matahari terbit). Selanjutnya, bendera kebangsaan Indonesia Merah-Putih boleh dikibarkan di tempat-tempat resmi disamping bendera Hiromaru. Upacaranya sederhana tapi penuh hidmat dan mengharukan.

Anggota Badan Penyelidik dan para undangan lainnya sudah hadir pada jam 14.15 di Gedung Tyoo Sangi Iin. Pembesar-pembesar yang hadir dalam pelantikan itu adalah : Saiko Sikikan, Gunseikan, para pembesar dari Gunseikanbu, Soomubutyo (semacam sekretaris negara), perwira-perwira tinggi

26

Bala tentara Jepang, ketua muda Tyoo Sangi Iin R.A.A. Kusumo Utojo, dan lain-lain.

Dalam acara pelantikan itu semua persiapan sudah beres, maka Seiko Sikikan membacakan amanat pelantikan. Amanat Seiko Sikikan lengkapnya sebagai berikut :

Hadirin jang terhormat !

Kemerdekaan Indoneisa adalah suatu bukti jang njata tentang tudjuan perang sutji sekarang ini jang timbulnja memang berdasarkan tjita-tjita jang gilang gemilang jang ditjiptakan sedjak berdirinja negara Dai Nippon. Akan tetapi usaha untuk mendirikan Negara Merdeka jang baru bukanlah sesuatu jang mudah, lebih-lebih lagi djika tidak dengan djalan mempeladjari, menjelidiki dan merentjanakan dengan seksama dan teliti segala usaha untuk meneguhkan kekuatan pembelaan dan soal-soal jang mendjadi dasar negara, maka barang tentulah bahwa pekerdjaan mulia dalam pembentukan “Negara Merdeka” dikemudian hari, atau akan mempunjai pokok dasar jang kokoh dan teguh.

Pada hari ini bertempat di ruangan ini, mula dilakukan langkah pertama dalam pekerdjaan Dokuritsu Zyumbi Tyoo Sakai untuk menjelidiki serta merentjanakan dasar usaha itu dengan sedalam-dalamnja dan seteliti-telitinja.

Berhubung dengan ini, maka saja mempunjai penghargaan besar pada Badan ini dan Tuan-tuan Giin hendaklah menginsjafkan dalam hati sanubari Tuan-tuan betapa pentingnja dan beratnja kewadjiban Tuan-tuan untuk menjelesaikan usaha jang semulia itu sehingga tertjatatlah peristiwa Indonesia Merdeka.

Djakarta, tanggal 28 bulan 5 tahun Sjoowa, 20 (2605)

Saiko Sikikan

Dalam acara pelantikan itu, selain Saiko Sikikan, Gunseikan juga selaku Kepala Pemerintahan Sipil di Jawa berkenan menyampaikan pidatonya sebagai berikut :

Tuan-tuan jang terhormat !

Saja merasa sangat bergembira, karena pada hari ini “Badan untuk Menjelidiki Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan” akan mulai mendajalankan pekerdjaannja dan melakukan suatu langkah jang besar dalam sedjarah mendirikan Negara Indonesia.

Pembentukan “Badan” ini bermaksud menjelenggarakan pemeriksaan dasar tentang hal-hal penting, rantjangan-rantjangan dan penjelidikan-penjelidikan jang berhubungan dengan usaha mendirikan Negara Indonesia Merdeka jang baru.

Dengan djalan demikian, akan dapat disampaikan bahan-bahan perundingan jang banjak dan seksama kepada “Badan Penetapan Putusan” jang terakhir. Kalu kita menindjau bermatjam-matjam hak di daerah jang dinamakan Indonesia, serta memikirkan kedudukan Pulau Djawa dan Tjara untuk mendjalankan usaha-usahanja akan djelaslah dengan sendirinja.

Djika suatu bangsa hendak meneguhkan dasar kemerdekaannja, maka harus mempunjai kejakinan diri untuk sanggup membela negara sendiri dan juga mempunjai kekuatan jang njata sebagai bangsa. Oleh karena itu pada tingkatan jang sekarang ini, bangsa Indonesia harus terlebih dahulu insjaf akan kejakinan dirinja dan kegiatan hatinja untuk memelihara tenaga bagi melangsungkan peperangan ini. Berhubung dengan sjarat-sjarat dasar untuk Negara Merdeka jang baru, maka Tuan-tuan sekalian harus memadjukan diri dalam usaha penjelidikan dan pemeriksaan tentang soal-soal tadi dan demikian juga soal-soal agama.

Saja berharap supaja tenaga pembela dan tenaga rakjat diperkuat dan dimadjukan tidak buat sekarang sadja, tetapi djuga seterusnya untuk kemudian hari sesudah bangsa Indonesia merdeka untuk kebahagiannja. Saja mempunjai harapan jang besar sekali tentang hasilnja Badan ini. Mendirikan Negara Indonesia, berarti terlepasnja bangsa Indonesia dari belenggu pendjadjahan jang hina selama lebih kurang 300 tahun di bawah pemerintahan Belanda dan mendirikan suatu negara pada tanah jang subur, jang tidak bebas dan jang diwarisi turun temurun dari nenek mojang untuk bangsa Indoensia, serta pula berarti mendirikan suatu jang merdeka dihadapan musuh untuk memenuhi kewadjiban sebagai negara jang berdasarkan budi pekerti jang luhur, jaitu sebagai suatu mata rantai dalam lingkungan kemakmuran bersama di Asia Timur Raja.

28

Dengan demikian, maka bangsa Indonesia jang akan menjelesaikan pekerdjaan sutji itu untuk medirikan negara harus insjaf tentang keadaan peperangan pada masa ini dengan sungguh-sungguh dan tentang kewadjiban pembelaan jang penting-penting serta harus mengingat pada akan kebahagiaan dan kemadjuan jang sedang dilimpahkan kepada bangsa Indonesia. Oleh karena itu djanganlah bangsa Indoensia sempit pandangannja dan djangan mementingkan kepentingan bangsa Indonesia sadja.

Saja berharap masing-masing anggota hendaklah mengaingat kehendak rakjat jang ingin mempersatupadukan tenaganja dan insjaf akan arti jang sebetul-betulnja tentang mendirikan negara baru ini, sehingga dengan djalan demikian dapat menjelesaikan kewadjiban jang sutji ini.

Djakarta, tanggal 28 bulan 5, Tahun Syoowa 20 (2608)

Gunseikan (Lembaga Soekarno-Hatta, 1984 : 29). Dari kedua kutipan diatas, bahwa Seiko Sikikan maupun Genseikan menganggap bahwa Perang Pasifik yang sedang berjalan adalah merupakan perang suci yang tidak dapat dipisahkan dari usaha kemerdekaan bangsa Indonesia. Badan Penyelidik sebelum melaksanakan tugasnya, mereka harus diambil sumpahnya yang diwakili oleh Dr. Radjiman Wediodiningrat sebagai ketua Badan Penyelidik atas nama semua anggota.

Sumpah atau janji itu berbunyi sebagai berikut :

Saja Radjiman Wediodiningrat, Dokuritsu Zyumbi Tyoo Sakai Kaityoo atas nama semua Giin, berjanji akan mencurahkan segenap tenaga dan pikiran, untuk bekerja memenuhi pengharapan pemerintah Bala Tentara Dai Nippon dan rakyat Indonesia. (Muhamad Yamin, 1959 : 56).

Dokumen terkait