LANGKAH I Memilih Masalah
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Sidang BPUPKI Pertama
Anggota BPUPKI yang dilantik pada tanggal 28 Mei 1945 keesokan harinya langsung mengadakan sidang pertama yang berlangsung selama empat hari, yaitu dari tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945. Selama sidang pertama itu tercatat 46 pembicara sesuai dengan pengumuman Zymukyohu Badan Penyelidik. Namun, Sinar Baru maupun Asia Raya hanya mencatat 30 pembicara. Berarti ada enam belas pembicara yang belum dicatat oleh notulis yang sudah disiapkan oleh Tata Usaha.
Permulaan sidang pertama pada tanggal 29 Mei 1945 dibuka oleh Ketua Badan Penyelidik Dr. Radjiman Wediodiningrat (Ismaun, 1978 : 113). Yang bertindak sebagai pembicara pada tanggal 29 Mei 1945 antara lain : Muhammad Yamin, Margono, Sastrodiningrat, Wiranatakoesoemah, Soemitro, Woerjoningrat, Soerjo, Dasaad, Soesanto, Roseno, dan lain-lain. Sedangkan pada tanggal 30 Mei 1945 tercatat bertindak sebagai pembicara antara lain : Moh. Hatta, H. Agoes Salim, Samsoedin, Wongsonegoro, Abdoel Kadir, Soerachman, Soewandi, Abdoel Rahim, Soetardjo, dan Soekiman. Pada tanggal 31 Mei 1945 tercatat sebagai pembicara : Muh. Yamin, Sanusi, Subarjo, Soekarno, Hadikoesoemo, dan pada tanggal 1 Juni 1945 tercatat Kaswedan, Moezzakir, Soekarno, Latoeharhary dan Soekardjo.
30
Untuk lebih jelasnya tentang pembicara-pembicara ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tgl/Hari Jam Pembicara Kegiatan Lain
28 Mei / Senin 11.30 - Pengibaran Hiromaru dan Sang Saka Merah Putih. 15.30 Amanat Seikoo
Sikikin, dan Nasehat Gunseikan. Pelantikan Anggota Badan Penyelidik. 29 Mei . Selasa 11.00-13.00 Muh. Yamin, Margono, Sastrodiningrat, Wiranatakoesoemo, Soemitro, Woerdjaningrat, Soerjo. 14.30-15.30 Soesanto, Dasaad, Aris P, dan Roseno. 30 Mei /
Rabu
10.00-13.00
Hatta; 1 jam bicara, Agoes Salim, Samsoedin, Wongsonegoro, Soeratman. 15.00 Abdoel Kadir, Soewandi, Abd. Rahim, Soekirman, dan Soetardjo. 31 Mei / Kamis 10.00-13.00 Muh. Yamin, Soekardjo, dan Sanoesi. Soeroso mengangkat pernyataan ketetapan hati dengan ketuanya Otto Iskandardinata. 13.00 Anggota Badan Penyelidik menghadiri jamuan dari Gunseikan di
Hotel Miyako. 1 Juni / Jum’at 10.00 Baswedan, Moezzakir, dan Soekarno. Otto Iskandardinata membacakan rumusan pernyataan ketetapan hati pada Giin Dokutitzu Zyumbi Tyoosakai. 15.00-15.30 Lathotoelharhary dan Soekardjo
Perjalanan sidang Badan Penyelidik yang berlangsung selama empat hari itu dapat diketahui dari pengumuman Zimukyohu (dalam Lembaga Sukarno-Hattta, 1984 : 33).
Tanggal 29 Mei 1945 dimulai rapat yang pertama antara para Iin dan dilanjutkan tanggaal 30-31 bulan yang lalu dan tanggal 1 bulan ini. Di dalam empat hari 46 Iin. Semua pembicaraan dilakukan dengan tertib dan didalam suasana persaudaraan, semua mengandung maksud mengobarkan semangat persatuan, mencari bahan-bahan untuk memperkenalkan persaudaraan antara segala golongan yang kelak kemudian hari akan menjadi negara Indonesia.
Penganjuran memperhebat pembelaan dan membantu Bala Tentara “Dai Nippon” sekuat tenaga dalam perang suci sehari-hari sampai memuncak dalam suatu putusan yang telah dimuat dalam surat kabar tentang perasaan diperbanyak terima kasih, kepada Duta-duta Besar dalam Permusyawaratan Asia Timur Raya atas keluhuran budi dan kehendak akan mendorong tercapainya “ Indonesia Merdeka” yang tercantum didalam pengumumannya.
Di dalam persidangan beberapa hari itu terlihat bahwa banyak anggota-anggota yang telah paham pada azas dan bentuknya lain-lain negara merdeka.
Semangat para anggota untuk bekerja sungguh-sungguh terlebih tanggal 31 yaitu waktu sidang dilanjutkan sampai jam 1 dini hari dengan tidak mengingaat lelah payah. Dan juga hamper semua anggota turut bersidang terus menerus sampai akhirnya perundingan pertama dari Badan Penyelidik ini. (Lembaga Soekarno-Hatta, 1984 : 33).
32
Selanjutnya hasil sidang Badan Penyelidik disebarluaskan kedaerah-daerah melalui utusan-utusan yang ditugaskan ke kedaerah-daerah untuk menjelaskan hasil-hasil yang diperoleh selama persidangan pertama Badan Penyelidik yaitu dari tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1945. Salah satu orang dari anggota Badan Penyelidik yaitu Soekardjo Wiropranoto (dalam Lembaga Sukarno-Hatta, 1984 : 34-35) menjelaskan hasil persidangan Badan Penyelidik dalam rapat umum di Semarang menyatakan sebagai berikut :
Mula-mula beliau menceritakan bahwa para anggota istimewa bangsa Nippon menurut tidak turut berbicara tetapi sungguhpun demikian mengikuti dengan seksama dan teliti segenap pertukaran pikiran yang diadakan di antara para anggota-anggotanya ….
Dalam pekerjaan membangun negara, janganlah kita sekali-sekali melupakan yang terpenting, ialah pembelaan. Dalam nasihat-nasihat yang berulang-ulang disampaikan pada anggota Dokuritzu Zyumbi Tyoosakai, nasihat-nasihat yang diucapkan bukan saja oleh PYM Seiko Sikikan dan Gunseikan soal pembelaan itu diperingatkan. Maka sudah semestinya kita harus bersiap-siap dari sanggup mengorbankan segala-galanya dalam mempertahankan tanah air kita ini. Yang sangat menarik dan membanggakan sekali dalam antara perundingan Dokuritzu Zyumbi Tyosakai ialah rasa persatuan yang meliputi seluruh anggota yang 63 jumlahnya serta bermacam-macam pula pikiran serta aliran pahamnya itu. Bahkan mereka satu persatu sanggup melepaskan atau mengorbankan perasaannya yang semesta, melulu agar jangan sampai terdapat retak dalam gading persatuan yang sangat kita butuhkan pada dewasa ini. Bagi segenap anggota menyelesaikan kemerdekaan itulah yang pertama, lain-lainnya dapat menyusul kelak, jika pekerjaan sudah beres.
Untuk mendirikan negara yang merdeka berdaulat, kita perlu sekali 4 pasal : Daerah, Penduduk, Pemerintah dan Pengesyahan. Tentang hal dulu disebut Nederlands Indie, itulah daerah Indonesia sekarang. Boleh ditambah. Boleh ditambah misalnya, dengan daerah Borneo Utara. Penduduk Inlander dulu menurut Indische Stratsregeling boleh ditambah, dikurang jangan. Ditambah misalnya dengan golongan peranakan dan lain-lain. Pemerintahan baru kita selidiki sekarang. Pengesahan yang bersifat ialah pertama-tama dari Dai Nippon sendiri. Negara : Asia Timur Raya lainnya tentu akan menyusul pula.
Tentang hal pemerintahan, kita sekarang masih dalam tingkatan peninjauan atau dalam orientasi. Kini oleh segenap para anggota telah diadakan penyelidikan-penyelidikan yang teliti guna menetapkan pemerintahan mana yang sesuai benar dengan masyarakat kita. Yang menjadi pokok soal dalam hal pemerintahan. RAJAKAH ATAU PRESIDEN? Soal ini masih dipelajari dengan tekun oleh segenap para anggota Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai. Tentu nanti akhirnya-akhirnya akan didapatkan keputusan yang memuaskan sekali.
Diantara pembicara-pembicara ada pula yang meminta KEMERDEKAAN SEKARANG, karena kemerdekaan yang sekarang juga itu adalah syarat mutlak, adat untuk membakar semangat segenap penduduk untuk berjuang mati-matian menentang Sekutu. Kemerdekaan sekarang tentu akan beres lain-lainnya kelak. Dan bila kemerdekaan dapat diwujudkan dengan tak menunggu-nunggu lama-lama lagi kesanggupan penduduk untuk membela tanah air kita tentu akan lebih menyala-nyala, malahan banyak diantara kawan muda yang menyatakan, sanggup ikhlas seketika mati, jika tanah air ini sudah merdeka. Di antara para pembicara ada pula yang memandang soal kemerdekaan dari sudut filsafat. Mereka mengajukan teori “Pancasila” yang kesimpulannya menghendaki Pemerintahan Kebangsaan. Kata sepakat jadi berarti Perwakilan, Keadilan, Ketuhanan dan sebagai penutup segan kepada segala isme-isme Barat. Apa yang dikehendaki, jika menolak segala isme tadi. Muncul sekarang sifat tang Timur dan Indonesia asli ialah “gotong-royong”. Masyarakat kita kelak harus disendikan atas dasar tersebut. (Lembaga Soekarmno-Hatta, 1984 : 35).
Suasana sidang Badan Penyelidik itu diungkapkan lagi oleh Ketua Badan Penyelidik didalam pidato radionya setelah sidang tahap pertama Badan Penyelidik berakhir. Dr. Radjiman sebagai ketua mengemukakan sebagai berikut :
Persidangan Badan Penyelidik yang pertama ini dihadiri oleh segenap anggota sidang pada hari pembukaannya dikunjungi oleh PYM. Seiko Sikikan nasihat-nasihat yang sangat penting lagi berharga bagi anggota-anggota Badan Penyelidik pada khususnya,dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya ….
Di dalam persidangan Badan Penyelidik yang berlangsung lima hari sejak tanggal 28 bulan lima yang baru lalu, segenap anggota menunjukkan semangat yang menyala-nyala. Hamper semua anggota melahirkan pendiriannya masing-masing yang sangat berharga bagi usaha Badan Penyelidik di kemudian hari. Oleh karena itu di dalam persidangan itu tidak diambil keputusan yang resmi, maka pada waktu itu saya tidak
34
dapat menyiarkan apa yang diuraikan oleh anggota masing-masing akan tetapi teranglah sekali, bahwa semua oleh anggota diutamakan kehendaknya untuk mencapai persatuan diantara pendiriannya masing-masing, yaitu karena segenap anggota lain insaf dan mengerti, bahwa persatuan itu sangat perlu bagi pembentukkan negara Indonesia merdeka di dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan untuk mempertahankan Kemerdekaan Negara buat selama-lamanya. Berhubung dengan itu pula, maka Badan Penyelidik telah menjalankan hasratnya yang teguh untuk memelihara persatu paduan berkenan dengan pembelaan tanah air kita sebagai salah satu mata rantai didalam lingkungan Asia Timur Raya. Segenap tenaga kita, baik harta benda mapun jiwa raga kita akan dikerahkan untuk menghancurleburkan Amerika, Inggris dan Belanda dengan bersemboyan “Merdeka atau mati. Setelah sidang pertama itu ditutup, maka kepada segenap anggota Badan Penyelidik diberi kesempatan untuk memasukkan usul-usul kepada Zimukyoku didalam tempo 20 hari tentang soal-soal yang termasuk pekerjaan Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai. Usul-usul itu yang harus ditulis berisi rancangan tiap-tiap anggota tentang masalah-masalah yang berkenan dengan pembentukan negara Indonesia merdeka. Usul-usul tersebut setelah diterima oleh Zimukyoku akan diperiksa oleh sebuah Panitia Kecil yang telah diangkat oleh sidang Badan Penyelidik tadi, kemudian daripada itu akan disilakan oleh panitia kepada Bunkakai-bunkakai untuk dipelajarinya”. (Lembaga Sukarno-Hatta, 1984 : 36).
Demikianlah kutipan-kutipan di atas mengenai jalannya sidang dan suasana sidang yang bersumber langsung kepada pihak Badan Penyelidik. Dalam hal itu bahwa, yang menonjol dalam persidangan ialah perasaan kesatuan antara sesama anggota Badan Penyelidik, dan semua anggota memahami azas dan bentuk negara yang akan dibentuk dalam negara Indonesia itu nanti. Pada sidang pertama Badan Penyelidik, telah dibahas mengenai hal yang mendasar secara mendalam berkenaan dengan dasar-dasar Indonesia Merdeka. Selama masa sidang pertama terdapat tiga orang pembicara yang menonjol mengemukakan pandangan-pandangan mereka tentang dasar-dasar negara Indonesia merdeka, yaitu terdiri dari:
1. Mr. Muhammad Yamin, menyampaikan pidatonya pada tanggal 29 Mei 1945 berjudul “Azas dan Dasar Negara Indonesia Merdeka”. 2. Prof. Dr. Mr. R. Soepomo menyampaikan pidatonya pada tanggal
31 Mei 1945, tentang masalah “Dasar-dasarnya Negara Indonesia Merdeka”.
3. Ir. Soekarno, menyampaikan pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 tentang “Dasar Indonesia Merdeka”, (Muhammad Yamin, 1945 : 123).
Selain itu, Mr. Muhammad Yamin menyampaikan lagi pidatonya pada tanggal 31 Mei 1945 mengenai “Daerah Negara Indonesia. Pidato-pidato dari anggota lain tidak mengetengahkan tentang masalah dasar-dasar secara terperinci, misalnya Drs. Moh. Hattta hanya menyampaikan pidatonya mengenai Ekonomi pada tanggal 30 Mei 1945, teks pidato Moh. Hatta tidak dapat diketahui lagi dimana kini, hanya pada pokoknya Moh. Hatta mengetengahkan pernyataan mengenai sistem Ekonomi Sosialis atau sistem ekonomi yang berkeadilan sosial. Sedangkan pidato dari ketiga tokoh diatas merupakan tanggapan langsung atas “tantangan” dari pidato Ketua Badan Penyelidik Dr. Radjiman Wediodiningrat mengenai “Indonesia Merdeka apa dasarnya ?”. (Moh. Ridwan Indra, 1987 : 54).
Mr. Muh.Yamin pada tanggal 29 Mei 1945 menyampaikan prasaran / usul yang disiapkan secara tertulis lebih dahulu dengan judul “Azas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia”. (Mr. Muh. Yamin, 1959 : 87) yang terdiri dari lima dasar dan azas, sebagai berikut :
I. Peri Kebangsaan
Indonesia Merdeka, sekarang Nasionalisme lama dan baru Dasar Negara Sriwijayya dan Majapahit – Perubahan zaman – Dasar peradaban Indonesia – Terdiri Tata Negara yang putus – Etat Nasional – Etat Patrimoines, Etat Prisances – Kesukaran keneari asal dasar asli –
36
Cita-cita luhur di medan perjuangan. Kebangsaan Indonesia mengharuskan dasar sendiri.
II. Peri Kemanusiaan
Kemajuan kemerdekaan-kemerdekaan akan menghidupkan kedaulatan negara – Anggota keluarga – dunia – Status politik yang sempurna – Menolak dominion status – protektoraat, mardat, Atlantic Charter pasal 3 – status internasional yang berisi kemanuisaan dan kedaulatan sempurna.
III. Peri ke-Tuhanan
Peradaban luhur – ber-Tuhan – Dasar Negara yang berasal dari peradaban dan agama.
IV. Peri Kerakyatan
A. Permusyawaratan “ Surat “Asysyura” ayat 38 – Kebaikan musyawarat-musyawarat dalam masyarakat dalam semasa chalif yang empat dan sesuai itu – Musayawarat bersatu dengan dasar meufakat menurut adat – Perpaduan adat dengan perintah agama. B. Perwakilan : Dasar adat yang mengharuskan perwakilan sebagai
ikatan masyarakat di seluruh Indoenisa – Perwakilan sebagai dasar abadi bagi tata negara.
C. Kebijaksanaan : Rationalisme – perubahan dalan adat dan masyarakat – Keinginan penyerahan – Rationalisme sebagai dinamika rakyat.
V. Kesejahteraan Rakyat Keadilan Sosial
Kegembiraan dalam negara baru – perubahan bagi Republik rakyat kesejahteraan (Muh. Yamin, 1959 : 87-88).
Pidato Muh. Yamin pada tanggal 29 mei 1945 selain menyinggung tentang dasar negara, status warga negara keturunan seperti peranakan Arab, Cina, sehingga untuk hal tersebut Wakil Ketua RP. Soeroso menginterupsi pidato Yamin agar perihal warga negara tersebut dibicarakan lain waktu saja. Sehingga terjadilah sedikit perdebatan antara Muh. Yamin dengan Wakil Ketua RP. Soeroso (Muh. Yamin, 1959 : 105). Perdebatan itu antara lain sebagai berikut:
…… Jadi sebelum hari pelantikan hendaklah ada ketentuan tentang kedudukan golongan akan menjadikan putera negara Indonesia atau tidak, dan apakah akibatnya mendapat atau tidak mendapat anggota keputeraan
itu, jalan memasuki daerah keputusan itu, seorang tetap tinggal terbuka selama-lamanya. Rakyat Indonesia yang akan membentuk Negara …… SOEROSO Wakil Ketua :
Saya rasa Tuan menyimpang dari apa yang dimaksudkan MUH. YAMIN Anggota :
Saya turut perintah itu, walaupun ada keyakinan bahwa dasar negara mengenai juga soal penduduk, pun karena menganai susunan Pemerintah. Dan begitu juga tentang hak tanah …..
SOEROSO Wakil Ketua :
Itu lain hari akan dibicarakan, jadi kalau sudah tidak ada lagi tentang dasar Indonesia, saya silakan hal hak tanah dan lain-lain akan diuraikan nanti.
MUH. YAMIN Anggota :
Baiklah, Tuan Ketua, walaupun pada permulaan tidak diterangkan apa yang mengenai dasar soal daerah, penduduk dan hak tanah juga terhitung masuk hal pembentukan negara.
SOEROSO Wakil Ketua :
Saya harap semua takluk kepada pimpinan. MUH. YAMIN Anggota :
Saya turut, walaupun tidak takluk. SOEROSO Wakil Ketua :
Saya silahkan melanjutkan pembicaraan
……… (Muh. Yamin, 1959 : 106)
Kutipan di atas menunjukkan, bahwa Mr. Muhammad Yamin berkeyakinan soal status warga negara keturunan dan daerah termasuk juga yang menjadi dasar pembicaraan dan pada prinsipnya, Wakil Ketua Soeroso membenarkan pendapat dari Mr. Muhammad Yamin, namun hal itu dibicarakan di lain waktu bukan pada saat sidang itu.
38
Sementara itu golongan Islam, antara lain K.H. Wahid Hasjim, Ki Bagoes Hadikoesoemo, H. Agoes Salim, K.H. Abdoel Kahar Moezzakir, dalam sidang BPUPKI mengusulkan konsepsi, agar Dasar Negara Indonesia Merdeka adalah Islam. Usul dari konsepsi itupun tidak mendapat kesepakatan dari sidang. Pada tanggal 31 Mei 1945 yang berpidato pertama ialah Prof. Dr. Mr.R. Soepomo mengemukakan tentang teori negara juridis, politis dan sosiologis, syarat-syarat berdirinya negara, bentuk negara dan bentuk pemerintahan serta hubungan antara negara dengan agama. Sebagai pembicara kedua ialah Mr. Muhammad Yamin yang menguraikan tentang Dasar Negara-Kebangsaan Indonesia atas dasar tinjauan juridis, historis, politis, sosiologis, geografis dan konstitusional yang meliputi seluruh Nusantara.
Pokok-pokok pidato Prof. Dr. Mr. R. Soepomo itu membicarakan mengenai syarat mutlak dan adanya suatu negara terutama adanya faktor konstitutif, baik dari sudut hukum maupun dari sudut formal. Soepomo mengatakan adanya suatu negara harus ada suatu daerah (territority) rakyat dan harus ada pemerintah yang berdaulat (souvereign) sebagaimana syarat-syatat yang dikeluarkan oleh hukum internasional.
Selain itu Soepomo mengemukakan masalah mengenai staat idea, maka untuk itu Soepomo telah memaparkan tentang teori-teori ilmu negara yang ada di dunia, disinggungnya mengenai teori perorangan, yaitu negara terdiri atas dasar, teori perseorangan, teori individualis, seperti yang diajarkan oleh Thomas Hobbes dan John Locke pada abad ke 17, Jean Jacques Rousseu abad ke 18, Hebert
Spancer abad 19, H.J. Laski abad ke 20. Menurut aliran ini negara ialah masyarakat hukum (legal society) yang disusun atas kontrak seluruh individu dalam masyarakat itulah yang disebut “Contract Social”.
Disinggung pula mengenai teori negara dari teori golongan (Classtheory) sebagai yang diajarkan oleh Marx, Engels dan Lenin yang mengatakan, bahwa negara sebagai alat dari suatu golongan untuk menindas golongan yang lain. Dikemukakan pula aliran pikiran lain lagi pengertian negara ialah teori yang dinamakan teori integralistik, yang diajarkan oleh Sinoza, Adam Muller, Hegel dan lain-lain abad 18 dan 19. Menurut pikiran ini, negara ialah tidak untuk menjamin kepentingan seseorang atau golongan, akan tetapi menjamin kepentingan masyarakat seluruhnya sebagai persatuan.
Negara ialah susunan masyarakat yang integral. Segala golongan, segala bagian, segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organis, yang terpenting dalam negara yang berdasarkan aliran pikiran integral ialah penghidupan bangsa seluruhnya. Negara tidak memihak sesuatu golongan yang kuat, atau yang paling besar, tidak menganggap kepentingan seseorang sebagai pusat akan tetapi negara menjamin keselamatan hidup bangsa seluruhnya sebagai persatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Pembangunan negara bersifat barang yang bernyawa. Karenanya corak dan bentuknya harus disesuaikan dengan keadaan umum pada masa sekarang dan harus mempunyai keistimewaan yang sesuai dengan keadaan umum tadi. Janganlah kita meniru belaka susunan negara lain (Muh. Yamin, 1959 L 110-111).
40
Soepomo menyimpulkan bahwa, negara yang cocok dengan bentuk negara yang akan didirikan sebagai negara Indonesia merdeka adalah negara yang integralistik.
Soepomo dalam pidatonya mengatakan :
Maka teranglah Tuan-tuan yang terhormat, bahwa jika kita hendak mendirikan Negara Indonesia yang sesuai dengan keistimewaan sifat dan corak masyarakat Indonesia, maka negara kita harus berdasarkan atas aliran pikiran (staatide) negara yang integralistik, negara yang bersatu dengan seluruh rakyatnya yang mengatasi seluruh golongan-golongannya dalam lapangan apapun. (Muhammad Yamin, 1959).
Banyak lagi yang dikemukakan oleh Soepomo dalam pidatonya itu, mengenai bentuk pemerintahan, ekonomi, dan lain-lain. Kemudian pokok-pokok pikiran konsepsi yang dikemukakan oleh Mr. Muhammad Yamin pada sidang “Badan Penyelidik” yang pertama tanggal 31 Maret 1945 mengenai Daerah Perumahan Negara Kebangsaan Indonesia itu sebagai berikut :
Kepentingan dan arti soal daerah. 1. Dasar menentukan daerah.
Daerah tumpah darah menjadi darah negara tidak mengingini daerah bangsa lain – jangan berenclaves. Nasib Pulan bagi Indonesia – Daerah tumpah darah harus dimuliakan kedaulatannya.
2. Lima macam daerah.
1) Hindia belanda dan Medan perang
2) Medan perang Tarakan, Morotai, Papua, dan Halmahera 3) Timor portugis dan Borneo Utara
4) Malaya minus daerah yang empat
5) Daerah yang empat : Kedah, Perlis, Terengganau, dan Kelatan. Pembicaraan kelima macam daerah :
A. Daerah Daratan
1. Daerah pulau yang enam sebagai pusat-Daerah pergerakan kemerdekaan, Occupatio Belli-Dari yang tidak berstatus menuju status internasional.
2. Daerah yang tidak berwakil dan Panitia-Daerah peperangan Tarakan, Halmahera, Morotai dan Papua. Keadaan defacto-Terra Occupationis Beli- Masuk menjadi daerah negara Indonesia. 3. Timor Portugis, Borneo Utara, Penyerangan Belanda di Timor,
Jangan enclaves – Masuk Indonesia Masuk daerah Negara 4. Malaya
Bagian susunan adat Indonesia – Pengaruh Tiong Hoa – kekuatan Malaya bagi Indonesia – Geopolitik udara, daratan, dan lautan – politik persatuan.
5. Daerah yang empat di Malaya
Kegembiraan menerima pendaratan – Kegagalan Politk Kabinet Toyo- Politik Free Gift-Persatuan dengan negara Indonesia Merdeka-Bukan Imperial-Memberantas Imperialisme Siam-Islam Indonesia dan Budhisme Muang Tahi-Harapan kepada Nationalisme Indonesia dan wakil Islam.
B. Daerah Lautan
Arti lautan dan pantai bagi Negara Indonesia-Mare Liberum dan Hugo Grotius-lautan lepas dan juga lautan daerah Negara-Selat sempit dan pembukaan Selat Makasar, Sunda dan Malaka.
Penutup :
Batasan Indonesia menurut rasa dan akal-testamen Gadjah Mada-Syair daerah tumpah darah Nusantara menurut Negarakertagama (1365) - Lampiran batas dari Indonesia yang delapan (Muh. Yamin, 1959 : 125-126).
Pada tanggal 1 Juni 1945, sidang Badan Penyelidik belum memperoleh kesepakatan yang dimaksudkan oleh ketua sidang, padahal sidang sudah
berlangsung tiga hari sejak tanggal 29 Mei 1945, maka pada gilirannya, Ir. Soekarno berpidato untuk mengemukakan pendapatnya secara lisan tanpa teks.
Pidato itu dicatat secara stenograf oleh Notulis. Dalam pidatonya, Ir. Soekarno mula-mula mengemukakan tentang adanya pemikiran yang “Zwaarwichtig”, membicarakan hal-hal sekecil-kecilnya atau jelimet yang mengajak hadirin untuk permintaan ketua sidang, yaitu mencari dasar negara Indonesia Merdeka, untuk itu terlebih dahulu perlu beliau mengajak sejarah lahirnya negara-negara di dunia dan
42
membanding-bandingkannya satu sama lainnya bahwa timbulnya dan isi negara itu berbeda-beda sesuai dengan keadaan bangsa masing-masing.
Oleh karena itu, Bung Karno dengan tandas mengemukakan terlebih dahulu tentang arti dan sangat pentingnya kita medeka terlebih dahulu, Bung Karno dalam pidatonya mengatakan : “…… bahwa kemerdekaan, politieke orafhankelijkheid, political indefendence ta’lain dan ta’bukan adalah suatu jembatan, satu jembatan emas …”. (Muh. Yamin 1959 : 62-63).
Menurut beliau Merdeka artinya adalah political, indefendence atau politiche orafhandkelijkheid yaitu kemerdekaan politik. Dianjurkan bahwa kita harus berani merdeka sekarang ini juga karena kemerdekaan itu merupakan jembatan emas, dan diseberangnya kita membangun untuk menyempurnakan masyarakat dan negara, kita bangun dalam segala bidang kehidupan. Selanjutnya Bung Karno memberikan contoh-contoh, bahwa hampir semua negara yang timbul dan ada di dunia ini didirikan atas dasar suatu cita-cita filsafat atau weltan schaung tertentu, misalnya Saudi Arabia atas dasar Islam, Uni Soviet atas dasar komunisme, Amerika Serikat atas dasar liberalism, Jerman-Hitler atas dasar nazisme, Tiongkok Nasionalisme atas dasar Sun Min Chui dan sebagainya.
Kemudian beliau juga mengajak kepada anggota sidang “Kita