Jika sejumlah perpustakaan atau unit informasi telah memiliki database katalog bahan kelabu tentang UKMK, database indeks terpadu dalam bentuk CD dapat dikembangkan. Database indeks yang diremajakan setiap kurun waktu tertentu, menjadi media penting untuk menyebarluaskan informasi bibliografis tentang UKMK ke seluruh penjuru Indonesia. Dan selanjutnya masya-rakat sebagai pengguna dapat mengidentifikasi bahan yang tersedia dan lokasi (perpustakaan) dimana bahan tersebut dapat diperoleh. Untuk pemerolehan dokumen, harus dikembangkan dukungan layanan pengiriman (document delivery service) baik melalui pos maupun internet.
Selain database dalam bentuk CD, jika katalog sejumlah perpustakaan telah dapat diakses melalui internet dan sejumlah perpustakaan telah mengembangkan bahan-bahan digital tentang UKMK melalui Web, maka homepage induk perpustakaan UKMK dapat dikembangkan. Homepage ini akan membuat link ke semua situs yang memuat informasi bisnis UKMK dan sebaliknya. Dengan fasilitas ini, masyarakat dapat dengan mudah mengakses katalog perpustakaan untuk mengidentifikasi informasi bisnis UKMK dan memperoleh dokumen teks penuh bahan-bahan kelabu melalui internet.
Perlu disadari bahwa untuk mengembangkan apa yang dikemukakan di atas, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Disamping berbagai aspek teknis yang mungkin dihadapi, juga akan terbentur pada aspek hukum menyangkut hak cipta, dan sebagainya. Selain itu, untuk mengembangkan dan memeliharanya secara berkelanjutan diperlukan suatu unit kerja yang terintegrasi dengan badan induk UKMK, bukan unit yang bersifat temporal. Unit ini harus dilengkapi dengan seluruh sumberdaya yang diperlukan seperti telah dikemukan sebelumnya, agar kelangsungan hidupnya dapat terjaminan.
KESIMPULAN
Dengan berkembangnya sejumlah perpustakaan dan unit informasi terotomasi berarti telah berdiri suatu fondasi yang kuat untuk mengembangkan jaringan informasi masyarakat pada umumnya, dan jaringan informasi bisnis UKMK pada khususnya. Tetapi sangat disayangkan, banyak perpustakaan dan unit informasi di Indonesia belum menjadikan pemanfaatan ICT sebagai prioritas utama dalam pengembangan pelayanannya. Ketertinggalan di bidang ini akan menyebabkan keterbatasan jangkauan pelayanan perpustakaan terutama di daerah.
Perpustakaan: Energi Pembangunan Bangsa 35
A. Ridwan Siregar : Perpustakaan:Energi Pembangunan Bangsa, 2004
USU Repository © 2006
Penyediaan informasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat sangat penting artinya bagi pengembangan masyarakat berbasis pengetahuan. Dengan tersedianya sejumlah besar informasi, kelak tanpa disadari daya saing individu dan negara akan meningkat yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat luas. Tujuan besar itu tidak bisa dicapai kalau semua orang ingin menjadi besar untuk menangani hal-hal besar, tetapi mengabaikan pembangunan fondasi yang kuat untuk mencapai sesuatu yang lebih besar. Perpustakaan sesungguhnya mampu memberdayakan masyarakat luas apabila ditangani dengan cara yang tepat.
RUJUKAN
Siregar, A. Ridwan. 1997. Otomasi Perpustakaan: Desain Sistem Kerumahtanggaan Perpustakaan. Medan: Perpusta-kaan USU.
“Traditional Library Automation: Overview”. 2001. <http://www.asc.arizona.edu/-kris/overview.htm>. (19/4/2001).
“
Pacific Island Gray Literature Project”. 2001.<http://lama.kcc.hawaii.edu/praise/grayweb2.html>.(20/4/200 1).
5 PERPUSTAKAAN DIGITAL : IMPLIKASINYA
TERHADAP PUSTAKAWAN
p
Perkembangan standar dan teknologi Internet yang semakin gencar, dan perkembang-biakan sumberdaya informasi baru yang begitu cepat, serta perkembangan sistem akses dan temu-balik yang semakin pesat, telah melahirkan perpustakaan digital. Hal ini menimbulkan implikasi terhadap perpustakaan secara keseluruhan, dimana perpustakaan sedang mengalami transisi menuju suatu lingkungan perpustakaan digital. Berbagai isu yang berkaitan dengan fenomena tersebut menjadi menarik untuk dibicarakan termasuk penyiapan sumberdaya manusia yang akan menangani pelayanan digital.Dalam beberapa tahun terakhir, beraneka-ragam sumberdaya informasi terkomputerisasi banyak dikembangkan oleh para pustakawan dan penerbit, khususnya di negara maju. Berbagai informasi paper-based, yang selama ini merupakan primadona perpustakaan tradisional, sekarang telah banyak yang tersedia dalam bentuk digital. Bahkan sebagian dari produk informasi yang dihasilkan ada yang hanya tersedia dalam bentuk digital. Perkembang-biakan sumberdaya informasi baru ini yang didukung oleh perkembangan yang pesat di bidang sistem akses dan temu-balik menjadikan akses informasi digital sebagai salah satu alternatif yang semakin penting dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi.
Pertumbuhan pesat di bidang produksi bahan-bahan berbasis digital telah melahirkan ungkapan digital library. Perpustakaan digital adalah suatu lingkungan perpustakaan dimana berbagai objek informasi (dokumen, images, suara dan video-clips) disimpan dan diakses dalam bentuk digital. Jumlah jurnal yang diterbitkan dalam bentuk digital semakin meningkat baik judul baru maupun lama. Dokumen-dokumen lama didigitalisasi agar dapat diakses secara elektronik, termasuk gray literature yang sebelumnya sulit untuk diperoleh.
Berkaitan dengan kecenderungan tersebut, pustakawan dituntut untuk bersikap responsif terhadap perubahan yang terjadi A. Ridwan Siregar : Perpustakaan:Energi Pembangunan Bangsa, 2004
dengan berupaya mencari cara-cara yang efektif dan inovatif dalam memenuhi harapan pengguna. Hal ini penting jika perpustakaan ingin terus tumbuh dan berkembang, bahkan survive dalam lingkungannya yang terus berubah.
Tantangan bagi para pustakawan adalah untuk memahami dan menentukan kembali posisinya di dalam proses tersebut dan beralih dari pemikiran ‘perpustakaan sebagai ruang fisik’ semata ke suatu kenyataan baru ‘perpustakaan sebagai suatu organisasi’ yang harus mengembangkan dan menyediakan berbagai jenis pelayanan termasuk diantaranya layanan digital. Perpustakaan digital memerlukan pustakawan digital. Koleksi digital harus diseleksi, diperoleh, diorganisasikan, dibuat terse-dia, dan dipelihara. Pelayanan digital harus direncanakan, diimplementasikan, dan didukung. Walaupun komputer merupa-kan perkakas utama yang diperlumerupa-kan dalam perpustakaan digital, tetapi sumberdaya manusia merupakan yang terpenting untuk mengembangkan dan membuatnya bekerja.
Walaupun persyaratan umum dari perpustakaan digital hampir sama dengan koleksi non-digital, tetapi persyaratan tersebut hanya berakhir sampai disitu. Pengorganisasian suatu koleksi digital hanya memiliki sedikit persamaan dengan pengor-ganisasian koleksi cetak dalam arti penyelesaian tugas sehari-hari secara individu. Apa yang dilakukan pustakawan digital sekarang hampir tidak pernah mereka pelajari di jurusan perpustakaan.