PENEGAKAN HUKUM BEA METERAI
B. Pembentukan Tim Verifikasi Penjualan Benda Meterai
Sebagaimana telah dikemukakan wewenang penjualan dan pengelolaan peredaran benda meterai diserahkan kepada PT Pos Indonesia (Persero). Untuk memastikan bahwa penjualan dan pelaporan penjualan benda meterai dilakukan secara benar, fiskus memiliki tugas untuk memantau pelaksanaan penjua1an benda meterai. Guna melaksanakan tugas ini, Direktur Jenderal Pajak membentuk tim verifikasi penjualan benda meterai dengan pertim-bangan bahwa untuk ketertiban dan kelancaran pelaksanaan verifikasi penjualan benda meterai, perlu dibentuk tim yang bertugas melaksanakan penelitian, penatausahaan, dan
pela-poran terhadap hasil penjualan benda meterai yang telah dilakukan oleh PT Pos Indonesia (Persero). Hal ini dituangkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-565/PJ.53/1998 tentang Pembentukan Tim Verifikasi Penjualan Benda Meterai yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober 1998 dan mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Berdasarkan keputusan ini, Direktur Jenderal Pajak membentuk tim verifikasi penjualan benda meterai yang anggota-anggotanya terdiri dari unsur Direktorat Jenderal Pajak dan PT Pos Indonesia (Persero). Unsur Direktorat Jenderal Pajak beranggotakan Kepala Subdit PPN Jasa dan Pajak Tidak Langsung Lainnya (PTLL), Kepala Bagian Keuangan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Kepala Seksi Pajak Tidak Langsung Lainnya, Kasubag Pembukuan dan Verifikasi, Kaur Pengadaan Bagian Perlengkapan, dan Pelaksana Subdit PPN Jasa dan ITLL. Unsur PT Pos Indo-nesia (Persero) terdiri dari Manajer Keagenan, Manajer Verifikasi, Manajer Prangko, Manajer Tarif & HI', Manajer Pandapos, dan Asman Pandapos.
Tim verifikasi penjualan benda meterai mempunyai tugas-tugas antara lain:
a. Melaksanakan penelitian, baik secara administrasi maupun fisik atas hasil penjualan benda meterai dan persediaan benda meterai;
b. Melakukan pencatatan, penatausahaan, dan pelaporan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas pada huruf a; dan
c. Melaporkan hasil pelaksanaan verifikasi penjualan dan persediaan benda meterai kepada Direktur Jenderal Pajak.
C. Pemberian Izin Dan Pengawasan Penggunaan Mesin Teraan Bea Meterai
Pemberian izin penggunaan mesin teraan bea meterai dilakukan atas dasar pertimbangan kemudahan dan pemberian pelayanan yang secepatya kepada para pemakai mesin teraan bea meterai. Dan memberikan jaminan keamanan yang memadai bagi penerimaan negara. Mesin teraan bea meterai merupakan mesin buatan manusia yang mungkin saja mengalami kerusakan dalam pemakaiannya. Apabila terjadi kerusakan salah satu implikasi yang perlu diperhatikan adalah status deposit pembayaran dimuka untuk mendapatkan izin pemakaian mesin tersebut, apakah masih dapat digunakan, dianggap hangus, atau dapat diminta kembali oleh pemilik / atau pemegang izin mengunakan mesin teraan bea meterai.
Pada dasarnya apabila mesin teraan bea meterai rusak masih menyimpan deposit atau sisa deposit, maka sisa deposit tersebut dapat dipakai untuk pengisian deposit yang akan dilaksanakan kemudian, setelah mesin teraan bea meterai diperbaiki dan dapat dipergunakan dengan
semestinya. Dengan demikian, tidak dilakukan pengembalian atas pembayaran bea meterai yang telah disetor.
Untuk setiap pembukaan dan pemasangan segel mesin teraan bea meterai baik untuk keperluan perbaikan mesin teraan bea meterai yang bersangkutan maupun untuk pengisian deposit, dibuat Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel dan dicatat pada buku register pengisian deposit mesin teraan bea meterai. Setiap pengisian deposit mesin teraan bea meterai dicatat juga dalam Kartu Pengawasan Pengisian Deposit Mesin Teraan bea meterai.
Untuk pengawasan, terhadap pemakai mesin teraan bea meterai yang ada dilakukan pendataan sehingga dapat diketahui jumlah pemakai, jumlah mesin teraan bea meterai, merek mesin teraan, dan ketertiban pengiriman laporan pemakaian mesin teraan.
Terhadap para pemilik / pemegang izin mesin teraan bea meterai perlu dilakukan pengawasan agar mereka tidak menyalahgunakan izin yang diberikan kepadanya. Dalam rangka meningkatkan pengawasan terhadap para pemilik pemegang izin menggunakan mesin teraan bea meterai, fiskus harus mengefektifkan sarana administrasi pengawasan yang sudah ada untuk menghindari penyimpangan yang mungkin terjadi dalam penggunaan mesin teraan bea meterai. Berkaitan dengan pengawasan tersebut ada beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh fiskus, sebagaimana di bawah ini :
a. Fiskus harus mengawasi kepatuhan para pemegang izin pemilik mesin teraan bea meterai dalam memenuhi kewajiban menyampaikan laporan bulanan. Dalam hal pemegang lzin tidak mematuhi kewajibannya, fiskus harus segera mengirim surat peringatan dan dilanjutkan dengan mengirim surat teguran sesuai dengan ketentuan yang belaku. Apabila peringatan dan teguran tidak diindahkan, fiskus segera melakukan penyegelan terhadap mesin teraan bea meterai milik pemegang izin pemilik mesin teraan bea meterai tersebut.
b. Izin penggunaan mesin teraan bea meterai diberikan untuk jangka waktu dua tahun untuk mesin teraan manual dan empat tahun utuk mesin teraan digital, sebagaimana ditentukan dalam surat keputusan pemberian izinnya, dan dapat diperpanjang lagi. Apabila batas waktu dua tahun/empat tahun hampir habis, atau angka depositnya sudah mendekati angka pembilang akhir, fiskus mengingatkan kepada yang bersangkutan untuk menyetor kembali dan mengajukan permohonan perpanjangan izinnya.
c. Apabila izin tidak akan diperpanjang, fiskus segera melakukan penyegelan dan pencabutan izin pemakaiannva.
d. Apabila deposit yang telah dibayarkan oleh pemegang Izin pemilik mesin teraan bea
meterai hampir habis sebelum jangka waktu dua tahun berdasarkan laporan bulanannya, fiskus harus menganjurkan kepadanya untuk segera menyetor kembali dalam waktu tujuh hari sebelum depositnya habis dan selanjutnya dilakukan pembukaan segel dan pengisian deposit yang baru dengan dibuatkan Berita Acara Pembukaan Segel Mesin teraan bea meterai serta memperpanjang / memperbaharui izin pemakaiannya.
e. Terhadap pemegang izin pemilik mesin teraan bea meterai yang melaporkan bahwa mesin teraan bea meterainya rusak, fiskus harus melakukan pemeriksaan untuk memastikan kebenaran laporan tersebut. Pemeriksaan dilakukan dengan cara melakukan pembukaan segel mesin teraan untuk mengetahui jumlah deposit yang masih tersedia, untuk selanjutnya dikompensasikan untuk pengisian deposit mesin teraan bea meterai yang baru, atau terus digunakan hingga habis setelah mesin yang rusak tersebut diperbaiki.
f. Untuk menjaga kerapihan dokumen pemegang izin mesin teraan meterai, fiskus perlu membuat berkas khusus bagi setiap pemilik / pemegang izin mesin teraan bea meterai, yang menampung dokumen-dokumen berupa: arsip Surat Keputusan Pemberian Izin, surat setoran deposit, laporan bulanan, arsip surat peringatan, arsip surat teguran, arsip Surat Keputusan Perpanjangan Izin, arsip Berita Acara Pemasangan Segel, arsip Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel, serta surat--surat lain yang berkenaan dengan pemilik mesin teraan