• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.4. Pemberdayaan Ekonomi Lokal dan Pengembangan

Pemberdayaan merupakan suatu proses membuat berdaya perseorangan, kelompok atau komunitas dari asalnya tidak atau kurang berdaya menjadi mempunyai daya untuk mencapai kondisi kehidupan yang lebih baik.

Pemberdayaan dilakukan dengan peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunkan daya yang dimilki. Menurut Shardow (1998) seperti dikutip Adi (2003), melihat pemberdayaan pada intinya bagaimana individu, kelompok dan komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. Pemberdayaan digambarkan sebagai suatu gagasan yang dikenal di bidang kesejahteraan sosial dengan istilah self determination. Yaitu kemampuan untuk menetukan diri sendiri yang harus dilakukan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi sehingga memilki kesadaran dan kekuasaan penuh dalam menentukan masa depan. Konsep pemberdayaan ini lebih dimaknai sebagai penguatan kapasitas komunitas lokal. Artinya, pemberdayaan lebih dipahami sebagai encouraging self-expression and self determination, menguatkan diri sendiri sehingga dapat menentukan dirinya sendiri.

Pemberdayaan ekonomi lokal berupaya meningkatkan pendapatan kelompok masyarakat dengan mengembangkan usaha ekonomi yang telah/sedang ditekuni masyarakat. Upaya pengembangan ekonomi lokal tersebut dilakukan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Menurut Syaukat dan Sutara (2005), fokus pengembangan ekonomi lokal pada : 1) Peningkatan daya saing (competitiveness), 2) Penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat (job creation), 3) Pengembangan aspek pemerataan (equity), 4) Mencakup berbagai disiplin : perencanaan dan manajemen, ekonomi dan pemasaran. Maka proses produksi dan pemasaran anyaman yang terjadi pada sebagian masyarakat Desa Sawah Kulon dapat difokuskan pada pengembangan ekonomi lokal, karena :

2. Penciptaan produksi baik pertanian maupun non pertanian dalam jangka waktu tertentu ingin menciptakan competitiveness.

3. Penciptaan competitiveness akan membuka lapangan kerja bagi penduduk sekitar.

4. Terjadi pemertaan dalam hal memperluas lapangan kerja dan persaingan untuk menghasilkan produk unggulan.

5. Pada akhirnya untuk mencapai hasil yang diinginkan diperlukan perencanaan dan manajemen, ekonomi dan pemasaran.

Pengembangan masyarkat pada kelompok usaha kecil khususnya pengrajin anyaman dengan melihat potensi yang dimiliki merupakan :

2. Dilakukan dalam unit kecil (rumah tangga, kelompok).

3. Sebagai mata pencaharian (sebagian kelompok menjadi mata pencaharian utama, sebagian lagi menjadi mata pencaharian sampingan).

Pengembangan masyarakat melalui proses interaksi kelembagaan produksi dan pemasaran anyaman dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan di Desa Sawah Kulon. Pemenuhan kebutuhan dasar hidup penduduk pada kelompok ekonomi kecil dapat terpenuhi melalui kelembagaan produksi dan pemasaran anyaman. Tidak hanya itu, komunitas pengrajin anyaman dan masyarakat produsen (pertanian dan non pertnian) dapat meningkatkan kemampuan dalam usaha mereka.

Usaha ekonomi lokal dan perdagangan untuk usaha ekonomi kecil di desa sangat rentan terhadap pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Tidak adanya pemisahan antara urusan rumah tangga dan manajemen yang baik dalam usaha ekonomi. Hal ini terjadi pada kelompok usaha ekonomi lokal pengrajin anyaman. Tambunan (2002) mengemukakan permasalahan pada kelompok penguaha kecil : 1) Kesulitan pemasaran, 2) Keterbatasan aspek finansial (modal awal dan modal kerja), 3) Keterbatasan SDM, 4) Masalah bahan baku, 5) Keterbatasan penggunaan teknologi. Kondisi tersebut dialami oleh kelompok pengrajin anyaman dan kelompok usaha ekonomi kecil lainnya, sehingga usaha yang mereka kelola sulit untuk dapat berkembang. Pemasaran hasil produksi bisa dilakukan jika jangkauannya tidak terlalu luas. Untuk tingkat desa, pemasaran produksi dapat dilakukan melalui pasar desa. Maka terjadilah hubungan antara peningkatan potensi produksi lokal (pertanian dan non pertanian) melalui jaringan pasar desa.

Penggunaan SDM, akses terhadap bahan baku, dan teknologi, dapat memperluas peluang membuka lapangan kerja baru bagi penduduk sekitar pengrajin anyaman. Pengembangan masyarakat dapat dilakukan melalui entry point perluasan peluang membuka lapangan kerja baru. Dalam pengembangan masyarakat, konteks melihat masyarakat adalah sebagai kelompok besar dalam komunitas pedesaan. Untuk kepentingan kajian, maka kelompok kecil pengrajin anyaman menjadi subjek yang mudah untuk dikembangkan.

Dalam pengembangan masayarakat, paritisipasi masyarakat yang didasarkan pada inisiatif dan swadaya masayarakat merupakan aspek yang sangat penting. Pengembangan masyarakat (community development) diperlukan untuk menggerakan partisipasi anggota masyarakat serta untuk

kelangsungan kegiatan suatu proyek pembangunan. Untuk itu diperlukan usaha pengembangan masyarakat yang mengikutsertakan seluruh masyarakat sehingga tumbuh kemandirian dalam mengatasi dan memecahkan permasalahan yang mereka hadapi. Strategi pengembangan masyarakat merupakan pergeseran pola pembangunan yang tadinya bersifat top-down menjadi bottom-up atau hasil dari inisiatif masyarakat akar rumput (grassroot).

Usaha produksi dan pemasaran anyaman yang dilakukan jika mengalami perkembangan, maka absorbsi tenaga kerja tidak hanya dari lingkungan keluarga saja. Penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat dapat menjadi peluang jika sumber kekuatan ekonomi lokal dikembangkan. Spesialisasi dan profesionalisme memberikan peluang bagi penduduk lainnya untuk dapat berpartisipasi pada pengembangan usaha ekonomi lokal tersebut. Pengembangan masyarakat desa tidak semata-mata terbatas pada peningkatan sektor pertanian, juga tidak hanya mencakup peningkatan kesejahteraan sosial melalui perputaran uang dan jasa untuk mencukupi kebutuhan dasar. Lebih dari itu pengembangan masyarakat pedesaan merupakan upaya dengan spektrum kegiatan yang menyentuh berbagai sendi pemenuhan kebutuhan. Sehingga seluruh anggota masyarakat desa dituntut untuk dapat mandiri, percaya diri, tidak tergantung dan dapat lepas dari belenggu struktural yang membuat kesengsaraan. Pengembangan ekonomi berbasis komunitas dalam kaitannya dengan kelompok pengrajin, secara konseptual mengandung pengertian pemanfaatan potensi sumber daya lokal, baik itu berupa SDA, SDM, atau kelembagaan dengan mengakomodasikan berbagai aspirasi dan kebijakan setempat, pertimbangan ilmiah, sehingga menjadi kegiatan produksi yang berkelanjutan.

Pola produksi dan distribusi pemasaran pada pengrajin anyaman sebagaimana pendapat Sajogyo & Pudjiwati (1990) bahwa pola perdagangan anyaman berbeda sesuai dengan hal apakah anyaman dihasilkan dengan cara kecil-kecilan tetapi tersebar, atau oleh banyak pengrajin tetapi besar-besaran. Dan pola itu juga berbeda apakah produksi kerajinan anyaman yang dihasilkan hanya untuk konsumsi lokal atau untuk diangkut ke kota-kota besar. Dan pola ini tergantung dari mudah rusaknya kerajinan anyaman, maupun antara jumlah kerajinan anyaman yang dihasilkan dengan kapasitas absorbsi pasar lokal terhadap kerajinan anyaman. Pola perdagangan kerajinan anyaman juga akan berbeda sesuai dengan hal apakah kerajinan anyaman itu dijual eceran kepada

pemakai ataukah secara besar-besaran kepada pedagang lain. Pola perdagangan (pemasaran) tidak jauh dari pendapat Sojogyo dan Pudjiwati (1990) karena luas cakupan pemasaran atau konsumen pengrajin anyaman saat ini hanya pada masyarakat lokal. Tetapi dalam hal ini pengkaji sangat mempertimbangkan partisipasi kekuatan lokal yang ada pada masyarakat Desa Sawah Kulon.

Dokumen terkait