VI. ANALISIS KELEMBAGAAN PRODUKSI DAN PEMASARAN
6.4. Analisis Kelembagaan Produksi dan Pemasaran
6.4.2. Penguatan Kelembagaan Produksi dan Pemasaran
Dari ketiga kelembagaan tersebut maka rancangan program yang akan dibuat harus mempertimbangkan pada penguatan kegiatan yang telah dilakukan oleh pengrajin untuk lebih mendorong produktifitas. Penguatan kegiatan dengan menitikberatkan pada :1) Keahlian dan keterampilan pengrajin, 2) Permodalan, 3) Pemasaran agar produk dapat dipasarkan secara luas, 4) Kemitraan dengan bandar, koperasi, dan pasar desa, dan 5) Pendampingan yang dapat mengatasi kesulitan pengrajin apabila pengrajin mendapat kesulitan dalam produksi dan pemasaran.
Klp Pemilik modal (anggt klp)
Kelompok Pengrajin : LahanÆ Bahan baku Tenaga kerjaÆpengrajin
Toko/kios Koperasi Pasar desa
Kelembagaan yang terbentuk pada proses produksi dan pemasaran berpola pada komunitas. Pendapat Syahyuti (2003), komunitas pengrajin anyaman dengan melihat aspek yang menjadi karakteristik komunitas pengrajin anyaman berikut ini :
1. Orientasi utama pengrajin anyaman adalah pemenuhan kebutuhan komunitas pengrajin. Dapat diartikan melakukan pekerjaan sebagai pengrajin sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup.
2. Sifat sistem kerja sosial sangat demokratis dan berdasar kesetaraan, juga didukung oleh adanya modal sosial yang telah melekat pada pengrajin. Hal poko dalam modal sosial tersebut adalah kepercayaan (trust), norma, dan jaringan sosial (Social network).
Terdapat sisi kelemahan dan kekuatan yang menghambat dan mendukung proses perkembangan usaha yang dilakukan kelompok pengrajin anyaman. Demikian juga terdapat kesempatan dan peluang yang dapat mendukung bagi kemajuan usaha kelompok pengrajin anyaman ini. Selama ini kelembagaan produksi dan pemasaran yang dijalankan oleh kelompok pengrajin anyaman di Desa Sawah Kulon didasarkan pada insting dan tergantung pada peruntungan nasib. Aspek daya dukung produksi dengan tanpa memperhatikan minat konsumen dan permintaan pasar.
Kelembagaan produksi dan pemasaran pada kelompok pengrajin anyaman di Desa Sawah Kulon terbentuk melalui aspek kelembagaan. Terjadinya kelembagaan produksi dan pemasaran tersebut bersifat pokok seolah tumbuh dengan sendirinya (cresscive institution). Kelembagaan produksi dan pemasaran terbentuk secala alamiah, bermula dari pematangan suatu norma dalam kelompok pengrajin anyaman. Norma atas perilaku dalam melakukan kegiatan produksi dan pemasaran terbentuk secara bertahap dalam kelompok pengrajin anyaman. Mulai dari cara berperilaku belaka (usage), meningkat menjadi kebiasaan (folkways) dalam produksi dan pemasaran, menjadi tata kelakuan (mores), dan menjadi menetap ketika menjadi custom. Itulah proses pelembagaan (institutionalizatioin) pada kelompok pengajin anyaman di Desa Sawah Kulon, dimana proses yang dialami norma baru untuk menjadi bagian dari kelembagaan produksi dan pemasaran.
Syahyuti (2003) merumuskan aspek yang perlu diperhatikan untuk mengembangkan kelembagaan, yaitu :
1. Iklim makro yang sadar kelembagaan.
2. Objeknya adalah kelembagaan, bukan individu
3. Membangun kelembagaan baru (mengganti atau menambah) 4. Menggunakan dan memperkuat modal sosial
5. Memperbaiki kelembagaan yang rusak
Pada kelembagaan produksi dan pemasaran usaha kelompok pengrajin anyaman, kelima aspek tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan kelembagaan produksi dan pemasaran yang sudah ada, yaitu dengan :
1. Iklim makro yang sadar kelembagaan.
Pendekatan yang dilakukan dalam mengembangakan usaha kelompok pengrajin anyaman adalah dengan people driven. Artinya, peranan pengrajin adalah faktor penting, kelompok pengrajin bukanlah jumlah individu-individu yang saling bebas, tetapi mereka terikat dalam kelembagaan-kelembagaan yang merupakan wadah aktifitas mereka. Oleh karena itu untuk merubah individu pengrajin anyaman adalah melalui kelembagaan produksi dan pemasaran dalam usaha kerajinan anyaman sebagai tempat mereka beraktifitas.
2. Objeknya adalah kelembagaan, bukan individu
Kelembagaan produksi dan pemasaran adalah wadah aktifitas para kelompok pengrajin anyaman. Kelembagaan produksi dan pemasaran secara fungsional menghidupkan sistem sosial pada kehidupan pengrajin anyaman. Oleh karena itu pendekatan melalui kelembagaan produksi dan pemasaran sangat rasional, efisien, dan ekonomis dalam mengembangkan usaha kelompok pengrajin anyaman ini.
3. Membangun kelembagaan baru (mengganti atau menambah)
Pengaruh perubahan sosial cenderung menimbulkan proses penggantian karena pada masyarakat yang sudah hidup sekian lama, sudah mengembangkan dan menjaga struktur sosial dan kompleks nilai yang stabil. Pada kehidupan kelompok pengrajin anyaman sudah ada organisasi, individu, peran, nilai, norma, hukum, yang dijalankan secara harmonis.
Masuknya program bantuan dari luar komunitas pengrajin anyaman ke dalam sistem kehidupan mereka, akan menimbulkan kelembagaan. Tetapi komunitas pun akan tetap menjaga kelembagaan yang sudah ada yang sedang mereka jalani. Soelaiman dalam Syahyuti (2003), dalam melakukan pengembangan masyarakat pengrajin anyaman melalui pengembangan kelembagaan produksi dan pemasaran ini harus memperhatikan (1) tidak
merubah struktur, posisi, dan peran para tokoh, (2) pendekatan dengan partisipatif, (3) melibatkan ketokohan institusi bersangkutan, dan (4) Penyusunan model berlandaskan pertimbangan ilmiah dan praktis sesuai situasi, kondisi, dan penyaluran para petugas di lapangan.
4. Menggunakan dan memperkuat modal sosial
Pada kelompok pengrajin anyaman modal sosial berisikan kepercayaan (trust), norma, dan jaringan sosial (social network). Modal sosial yang telah ada, tumbuh dan berkembang pada kehidupan kelompok pengrajin anyaman menjadi prasyarat berjalannya proses produksi dan pemasaran usaha anyaman ini. 5. Memperbaiki kelembagaan
Kelembagaan baru yang akan diintroduksikan pada kelompok pengrajin anyaman, mungkin hanya merupakan pengulangan saja. Kelembagaan produksi dan pemasaran yang telah ada dan mengalami kerusakan, akan mendapat kesan yang berbeda bagi kelompok pengrajin jika dibandingkan dengan membuat sebuah kelembagaan yang baru. Memperbaiki kelembagaan produksi dan pemasaran yang telah ada merupakan cara yang ditempuh untuk mengembangkan kelembagaan pada usaha kelompok pengrajin anyaman ini.
Kelembagaan produksi dan pemasaran yang dijalankan oleh 12 kelompok pengrajin anyaman mengandung kapasitas kelembagaan yang terdiri dari unsur peningkatan sumber daya manusia, restrukturisasi hubungan (pemerintah, swasta, dan masyarakat), serta kebijakan atau kemauan politik (political will) dari pemimpin. Kapasitas kelembagaan terdapat 7 komponen (Unicef, 199) dalam Syahyuti (2003), pengembangan kapasitas di tingkat komunitas yang dapat dikembangkan untuk dapat mendorong berbagai aktifitas ekonomi anggotanya melalui pembentukan kelompok-kelompok usaha ekonomi produktif, yaitu : 1. Community leader (kepemimpinan komunitas)
Usaha kerajinan anyaman telah dilakukan secara berkelompok, hanya pembentukan kelompok tersebut tidak terstruktur secara hirarki. Kepemimpinan pada 8 kelompok pengrajin lebih bersifat ketokohan, penghormatan kepada yang lebih tua. Berbeda dengan 4 kelompok lainnya yang dibentuk secara hirarki atas dasar kesepakatan. Kepemimpinan dalam kelompok pengrajin anyaman ini sudah ada hanya tinggal menguatkan dalam proses produksi dan pemasaran agar usaha dapat berkembang. Usaha mendapat dukungan anggota keluarga, dimana anggota keluarga akan terlibat dalam proses produksi sebagai bantuan apabila ada permintaan pesanan dalam jumlah banyak.
2. Community technology (teknologi komunitas)
Keterampilan membuatn kerajinan anyaman dari daun pandan ini diperoleh secara turun temurun atau dipelajari secara alamiah. Pelatihan atau penyuluhan dari pemerintah untuk meningkatkan yang pernah ada hanya pada peningkatan kualitas tanaman pohon pandan dari dinas pertanian. Sedangkan untuk peningkatan kualitas produksi anyaman belum pernah ada. Hal ini dikarenakan produksi anyaman daun pandan ini hanya dilakukan oleh minoritas penduduk kabupaten Purwakarta dan belum dapat dijadikan produk unggulan. Dengan demikian diperlukan peningkatan kapasitas kemampuan pengrajin dalam melakukan produksi anyaman melalui pelatihan dan pengenalan teknologi. 3. Community fund (dana komunitas)
Keterbatasan pemilikan dana untuk permodalan adalah persoalan yang dialami dalam setiap produksi. Modal yang dimiliki digunakan untuk mencari bahan baku, upah tenaga kerja (anggota kelompok), dan biaya pemasaran. Mekanisme penghimpunan dana yang dilakukan melalui iuran dari setiap anggota kelompok pengrajin tidak dapat menutyupi semua kebutuhan dari proses produksi sampai pemasaran.
4. Community material (material komunitas)
Peralatan yang digunakan untuk membuat anyaman jenis apapun sangat sederhana. Selain bahan baku daun pandan, pengrajin melakukan penganyaman dengan tangan. Alat bantu lain adalah gunting, pisau, anai-anai untu menghaluskan, lem, pewarna kain, dan catok untuk menguatkan ujung anyaman. Dalam pemasaran yang dilakaukan sendiri oleh pengrajin biasanya meraka menggunakan sepeda atau berjalan kaki dengan anyaman di simbap di bakul.
5. Community knowledge (pengetahuan komunitas)
Pengrajin anyaman memiliki sedikit sekali pengetahuan tentang bagaimana pemasaran, memahami konsumen, bahan baku, pembukuan, sistem pengupahan tenaga kerja, menjangkau sistem sumber yang ada di luar komunitas, dan lain-lain yang berkaitan dengan produksi dan pemasaran. Pengetahuan pengrajin yang rendah dalam mengembangkan usaha ini dimotifasi oleh pendapat asal ada pekerjaan, asal barang laku, usaha dilakukan dalam kelompok yang terikat kekerabatan. Pengetahuan pengrajin belum sampai pada bagaimana mengembangkan usaha kerajinan anyaman ini secara profesional.
6. Community decision making (pengambilan keputusan komunitas)
Pengambilan keputusan dalam komunitas pengrajin dilakukan dengan cara diserahkan kepada orang yang dianggap sebagai pemimpin kelompok, dan dimusyawarahkan dengan semua anggota kelompok. Pengaruh ketua kelompok pada setiap kelompok pengrajin anyaman ini sangat kuat. Walaupun musyawarah dilakukan, tetapi keputusan akhir tetap menjadi dominan pendapat ketua kelompok.
Pada tataran pemerintahan karena pola top-down yang masih melekat, keputusan berada pada kepala dusun, kepala desa, atau kecamatan. Dapat dilihat bahwa keputusan yang tidak berpihak kepada kepentingan kelompok pengrajin akan terjadi. Pihak pemerintah akan mementingkan kepada berjalannya program dan tercapai tujuan program.
7. Community organizations (organisasi komunitas)
Adanya 12 kelompok pengrajin anyaman di Desa Sawah Kulon tidak semuanya terbentuk dalam wadah organisasi. Hanya 4 kelompok (Pasawahan, Sukahaji dan Cihuni) yang memiliki struktur keorganisasian kelompok pengrajin anyaman. Namun selama ini usaha yang dilakukan pengrajin secara berkelompok.
6.4.3. Analisis SWOT
Analisis terhadap kelembagaan produksi dan pemasaran yang selama ini dilakukan oleh kelompok pengrajin anyaman, pengkaji melakukan dengan analisi SWOT (Strenght, Weakness. Opportunities, Threats). Terdapat 2 faktor dalam yang mempengaruhi kelembagaan produksi dan pemasaran, faktor internal terdiri dari kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness), faktor eksternal terdiri dari peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Berikut ini disajikan tabel matriks analisis SWOT hasil FGD terhadap kelembagaan pemasaran yang selama ini dilakukan oleh kelompok pengrajin anyaman di Desa Sawah Kulon.
Tabel 17. Matriks analisis SWOT terhadap kelembagaan produksi dan pemasaran yang selama ini dilakukan oleh pengrajin anyaman di Desa Sawah Kulon.
Kondisi Internal
Strengths (Kekuatan) Weakness (kelemahan)
1. Kebersamaan karena kekerabatan dalam kelompok. 2. Pembagian upah yang belum
pernah menimbulkan masalah. 3. Ketaatan dan kepatuhan pada
ketua kelompok.
4. Pengetahuan pembuatan anyaman secara turun temurun. 5. Tersedia tenaga kerja (80%
pengrajin usia produktif/usia kerja).
6. Lahan pertanian yang cocok untuk tanaman bahan baku anyaman.
1. Keterampilan yang tidak
berkembang dan pendidikan yang rendah.
2. Ketidakprofesionalan dalam mengelola usaha kerajinan dari mulai produksi sampai pemasaran. 3. Keterbatan modal dan mengakses
bahan baku lain. 4. Kesulitan pemasaran. 5. Pemasaran yang tidak tetap. 6. Daya dukung lahan yang berkurang
Kondisi Eksternal
Opportunities (Kesempatan) Threats (Ancaman)
1. Dukungan dari tokoh
masyarakat, pemerintah desa, dan instansi pemerintah daerah. 2. Adanya program pemerintah
yang pernah menyentuh kelompok pengajin anyaman 3. Pasar desa, koperasi, dan
bandar sebagai alternatif pemasaran yang juga sebagai salah satu kekuatan ekonomi lokal.
4. Kerjasama dengan pengrajin anyaman lain dalam
mengembangkan usaha.
1. Persaingan dalam pemasaran dengan produk yang sama hasil produksi dari daerah lain. 2. Akses terhadap informasi untuk
pengembangan usaha yang terbatas.
3. Selera konsumen terhadap produksi anyaman yang berubah-ubah.
Hasil analisis matriks SWOT kemudian dikelompokan dalam diagram analisis matriks SWOT untuk melihat faktor-faktor mana saja yang dapat dijadikan sebagai pendukung untuk keberlanjutan usaha pengrajin anyaman. Diagram berikut menunjukkan faktor yang mendukung yang disimpulkan dari tabel matriks analisis SWOT.
Gambar 7. Diagram Analisis SWOT Terhadap Kelembagaan Produksi dan Pemasaran yang Selama ini Dilakukan Pengrajin Anyaman Desa Sawah Kulon
Berbagai Peluang 1. Keterampilan yang
diperoleh turun temurun 2. Program pemerintah yang
pernah ada sebagai awal dari dukungan pemerintah 3. Pasar desa, bandar,
koperasi sebagai alternatif untuk mengatsi Kesulitan pemasaran
4. Kerjasama dengan kelompok lain dalam satu desa untuk mengatasi kekurangan modal dan bahan baku
1. Modal sosial yang ada pada masyarakat Desa Sawah Kulon dan pada kelompok pengrajin anyaman
2. Pengetahuan menganyam yang turun temurun
3. Daya dukung alam dan tenaga kerja
4. Program pemerintah yang pernah ada
Kelemahan Kekuatan
Internal Internal
1. Persaingan dalam pemasaran dan kesulitan memahami selera konsumen yang tidak ditunjang oleh
profesionalisme dalam manajemen usaha anyaman
2. Daya dukung alam yang terbatas berpengaruh terhadap penyediaan bahan baku 3. Kelemahan dalam mengakses informasi permodalan yang menyulitkan perolehan modal
4. Daya dukung tenaga kerja yang memiliki keterampilan terbatas
1. Modal sosial sebagai kekuatan untuk mengatasi kesulitan persaingan dalam pemasaran
2. Daya dukung tenaga kerja dikembangkan untuk dapat mengolah daya dukung alam dan keprofesionalan dalam pengembangan usaha anyaman
VII. STRATEGI PENGUATAN KELEMBAGAAN