• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Pemberdayaan Kelurahan

Kata pemberdayaan (empowerment), sangat mudah diucapkan oleh setiap orang. Tanpa keharusan adanya pemahaman pengertiannya dan apa implikasinya dalam sikap dan tindakan nyata, khususnya dalam pembangunan daerah dan masyarakat. (Kartasasmita, 1995), menguraikan dengan baik pengertiannya, sehingga konsep pemberdayaan ini mudah diterapkan dalam praktek pembangunan, yaitu: “Pemberdayaan Daerah adalah suatu upaya untuk membangun daya (daerah) dengan mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran masyarakat akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya”.

Istilah pemberdayaan (empowerment) dan empower yang diterjemahkan

kedalam bahasa Indonesia menjadi “pemberdayaan” menurut Webster dan Oxford English dictionary kata empower mengandung dua pengertian, yaitu pertama to give power and authority to dan pengertian kedua to give ability to or anable. Dalam pengertian pertama diartikan sebagai memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain. Sedangkan dalam pengertian kedua, diartikan sebagai upaya memberikan kemampuan atau keberdayaan (Prijono, 1996).

Adapun konsep pemberdayaan pada hakikatnya dapat dipandang sebagai upaya untuk mewujudkan keberdayaan, yaitu kemampuan dan kemandirian. Menurut Kartasasmita (1996) keberdayaan merupakan unsur-unsur yang memungkinkan suatu masyarakat bertahan (survive) dan dalam pengertian dinamis mengembangkan diri dan mencapai kemajuan. Unsuir-unsur yang menjadi sumber keberdayaan masyarakat

dimaksud adalah nilai kesehatan, pendidikan, prakarsa, kekeluargaan, kegotongroyongan, kejuangan dan sebagainya.

Konsep empowerment pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana

kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural, baik di dalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara, regional, negara internasional dalam bidang politik, ekonomi dan lain-lain (Prijono, 1996).

MacArdle (1989 dalam Hikmat, 2001) mengatakan pemberdayaan adalah

upaya untuk mencipatakan dan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Pemberdayaan atau empowerment merupakan sebuah konsep yang fokusnya adalah hal kekuasaan (power). Pemberdayaan apapun asumsinya adalah menerima adanya kekuasaan sebagai faktor dan membuat yang tidak berkuasa menjadi memiliki kekuasaan, yaitu powerlwess diberi power melalui empowerment sehingga menjadi

powerfull (Prijono, 1996).

Selanjutnya Payne (1997 dalam Adi, 2003) mengatakan membantu klien memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan dia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang dimiliki, antara lain melalui transfer daya dari lingkungan.

Yang dimaksud dengan klien disini adalah individu, keluarga, kelompok dan komunitas, sehingga dengan pemberdayaan sebagai proses diharapkan mereka

mampu mengontrol kehidupannya dan menentukan masa depan yang mereka inginkan.

Dalam konsep pemberdayaan masyarakat, yang menjadi dasar pandangan adalah upaya yang dilakukan haruslah diarahkan langsung pada akar permasalahannya yaitu meningkatkan kemampuan dari bagian masyarakat yang tertinggal.

Dari beberapa pandangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberdayaan adalah suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat yang mengarah kepada usaha merubah individu dan komunitas dari kondisi yang serba terbatas dan tidak berdaya menjadi lebih mampu dan berdaya untuk mengatasi segala keterbatasan serta dapat mengembangkan dirinya sehingga mampu mengambil langkah dan berperan serta/berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan.

2.3.2. Kelurahan

Pemerintah kelurahan merupakan ujung tombak penyelenggaraan pemerintah, karena pada kelurahan aparatur pemerintah akan dapat langsung berhadapan dengan masyarakat secara nyata.

Dikatakan sebagai ujung tombak karena lurah berhadapan langsung dengan masyarakat, oleh karena itu Lurah harus mampu menjadi tempat bagi masyarakat untuk menampung aspirasi dan keluhan masyarakat untuk diselesaikan atau meneruskan aspirasi dan keinginan tersebut kepada pihak yang berkompeten untuk ditindak lanjuti. Di samping itu peran Kelurahan diatas menjembatani

program-program pemerintah untuk disosialisasikan kepada masyarakat sehingga dapat dipahami dan didukung oleh masyarakat.

Aspirasi masyarakat kepada pemerintah saat ini sangat besar, di mana tuntutan tersebut mungkin selama beberapa dekade tidak dapat tanggapan yang memadai dari aparat. Tuntutan yang dapat dicapai antara lain adalah; terwujudnya pemerintahan yang bersih, pelayanan yang baik, keterbukaan dan tepat waktu.

Semua hal tersebut harus disikapi dengan arif dan bijaksana, oleh karena itu Pemerintah Kota akan berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkan aspirasi masyarakat tersebut melalui beberapa program kerja, yang antara lain melalui pemberdayaan kelurahan.

Pemberdayaan Kelurahan yang baik dan kuat akan dapat menentukan keberhasilan pelaksanaan rencana program dan proyek melalui penciptaan langsung peran serta masyarakat di samping akan mewujudkan terciptanya kestabilan dan ketentraman dalam kehidupan masyarakat yang pada gilirannya akan dapat memberikan kesempatan yang luas bagi pemerintah kota guna merencanakan dan melaksanakan pembangunan (Pemko Medan, 2001).

Adapun yang menjadi dasar dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan Kelurahan ini adalah:

a. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintah Desa. Kelurahan

b. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian ruang.

c. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Kelurahan merupakan perangkat daerah Kabupaten/Kota.

d. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Otonomi

Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurusi kepentingan masyarakat berdasarkan aspirasi rakyat.

e. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 1999. Badan Perwakilan

Desa yang selanjutnya disebut BPD adalah Badan Perwakilan yang terdiri atas pemuka-pemuka masyarakat yang ada di Desa yang berfungsi mengayomi adat istiadat, membuat Peraturan Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa/kelurahan.

f. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 65 Tahun 1999. Kewenangan Desa

sebagai suatu kesatuan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat berubah menjadi kewenangan wilayah kerja Lurah dengan melibatkan masyarakat melalui BPD.

Peranan Kelurahan dimasa sekarang dan akan datang sangat diperlukan tidak hanya sebagai administratur pemerintahan tetapi juga sektor-sektor lain agar setiap aspirasi masyarakat dapat ditampung untuk diambil langkah-langkah lebih lanjut,

apalagi apabila kita lihat dari alur sistem pemerintahan, di mana terdapat hubungan langsung antara masyarakat dan kelurahan (Pemko Medan, 2001).

Berdasarkan uraian diatas, dapat dilihat adanya hubungan yang erat antara kinerja aparatur kelurahan dengan pelaksanaan Program Pemberdayaan Kelurahan, di mana kelurahan tidak hanya sebagai administratur pemerintahan, tetapi juga mencakup sektor-sektor lain, seperti sektor pembangunan dan kemasyarakatan.

Sedangkan Kelurahan sebagai suatu wilayah administrasi pemerintahan terendah dalam tata pemerintahan di Indonesia, dalam hal ini pemberdayaan Kelurahan merupakan hal yang sangat penting di dalam program Pemerintah Kota Medan. Hal ini tercermin dalam visi dan misi serta fungsi yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Kota Medan yaitu.

Visi yang terkandung dalam pemberdayaan kelurahan adalah “terwujudnya kemandirian masyarakat yang berwawasan lingkungan”. Visi ini dilengkapi oleh misi yang terdiri dari 9 (sembilan) poin.

Kesembilan poin misi pemberdayaan Kelurahan antara lain:

1. Pemberdayaan masyarakat dalam proses pembangunan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian.

2. Peningkatan pemanfaatan potensi kelurahan dan pemenuhan kebutuhan

dasar/aspirasi masyarakat dalam menciptakan masyarakat yang mandiri.

3. Peningkatan kwalitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan, orientasi serta ketrampilan masyarakat.

4. Penguatan kelembagaan kelurahan dan kelembagaan masyarakat untuk kelancaran pelayanan kepada masyarakat.

5. Peningkatan kegiatan usaha produktif dalam rangka menunjang kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

6. Peningkatan pembinaan pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK).

7. Peningkatan pendayagunaan dan pemasyarakatan Teknologi Tepat Guna (TTG). 8. Peningkatan penataan tata ruang kelurahan menuju tata lingkungan yang sehat.

9. Pemberdayaan kelurahan dalam rangka mengefektifkan Data Dasar Profil

Kelurahan untuk menjadikan sebagai pusat informasi (bank data).

Adapun fungsi pemberdayaan kelurahan adalah:

1. Merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang pemberdayaan

masyarakat.

2. Melaksanakan program peningkatan ketahanan masyarakat, sosial budaya dan usaha perekonomian masyarakat.

3. Membimbing dan memotivasi masyarakat dalam bidang peningkatan ketahanan

masyarakat, sosial budaya dan usaha perekonomian masyarakat. 4. Melaksanakan seluruh kewenangan yang ada sesuai bidang tugas. 5. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh kepala daerah.

Untuk menyikapi visi dan misi yang dicanangkan Pemerintah Kota Medan dalam pemberdayaan kelurahan telah dikeluarkan landasan hukum bagi Aparat Kelurahan untuk dapat bertindak dan berbuat secara aktif dilapangan antara lain:

a. Instruksi Walikota Medan Nomor: 141/079/INST tanggal 9 Februari 2001 tentang tugas dan tanggung jawab Kepala Kelurahan dalam rangka Pemberdayaan Kelurahan di Kota Medan.

b. Surat Keputusan Walikota Medan Nomor: 140/099/SK/2001 tanggal 16 Maret

2001 tentang Pembentukan Tim Pembina/Pengawasan Pelaksanaan Pemberdayaan Kelurahan di Kota Medan.

c. Instruksi Walikota Medan Nomor: 141/1417/INST tanggal 14 Juli 2001 tentang Tugas dan Tanggung Jawab Camat dalam Membina dan Mengawasi Program Pemberdayaan Kelurahan di Kota Medan

Berdasarkan Instruksi Walikota Medan Nomor: 141/079/INST, tentang tugas dan tanggung jawab kepala kelurahan didalam Program Pemberdayaan Kelurahan tersebut meliputi 5 (Lima) poin yaitu: Kebersihan, Keamanan, Ketertiban, Pembinaan Masyarakat, dan Pelayanan Masyarakat.

Guna menjamin berjalannya program Pemberdayaan Kelurahan ini, telah dibentuk Tim Evaluasi yang akan tetap memonitor kegiatan lapangan sampai sejauhmana Instruksi tentang Pemberdayaan Kelurahan ini terlaksana dan sebagai konsekwensinya bagi mereka yang bekerja setengah hati, akan dikenakan tindakan hukuman sesuai besarnya kesalahan yang dilakukan.

Dokumen terkait