• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PEDEKATA TEORITIS

3.4 Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan melalui survai dientry ke dalam program Microsoft-excel. Data diolah dan dianalisis melalui tabulasi silang dan uji statistik korelasi rank Spearman dengan menggunakan SPSS versi 17 untuk mengetahui hubungan variabel pengaruh (karakteristik internal petani, karakteristik eksternal petani dan proses pemberdayaan petani) dengan variabel terpengaruh (tingkat partisipasi dan tingkat kemandirian petani), serta melihat hubungan tingkat partisipasi dengan tingkat kemandirian petani. Data kualitatif yang diperoleh

melalui wawancara mendalam dan data sekunder digunakan untuk mendukung alasan-alasan yang menjelaskan ada tidaknya hubungan antara variabel dalam hipotesis kerja penelitian ini. Hasil analisis data kualitatif dan kuantitatif kemudian disinergikan sehingga dapat saling melengkapi kebutuhan penelitian.

4.1 Keadaan Umum

Desa Kebon Pedes merupakan salah satu desa di Kecamatan Kebon Pedes.

Desa ini memiliki luas wilayah 196,14 hektar yang terdiri dari lahan sawah seluas 117,00 hektar dan lahan kering seluas 79,14 hektar. Batas wilayah Desa Kebon Pedes, yaitu: sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Jambe Nenggang, sebelah timur berbatasan dengan Desa Bojong Sawah, sebelah barat berbatasan dengan Desa Cikaret. Desa ini terdiri dari empat kedusunan, yaitu: Kedusunan Bojong Galing, Kedusunan Kebon Pedes, Kedusunan Pamoyanan, dan Kedusunan Ranji dengan sembilan RW dan 38 RT.

Desa Kebon Pedes merupakan desa yang berada di sebelah Timur Kota Sukabumi. Desa ini terletak di kawasan Sukaraja, yaitu wilayah yang berdekatan dengan perbatasan Kabupaten Cianjur. Untuk menuju desa ini, perjalanan dapat ditempuh melalui pusat Kota Sukabumi. Selain dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi, perjalanan menuju desa ini dapat juga ditempuh dengan menggunakan angkutan umum (Angkot). Jika perjalanan dimulai dari pusat Kota Sukabumi, jasa angkot bertrayek 01 (jurusan Kota-Sukaraja) dapat menjadi pilihan untuk mengawali perjalanan menuju desa ini. Angkot bertrayek 01 ini beroperasi 24 jam dalam sehari dan relatif mudah dijangkau karena jumlahnya yang banyak. Setelah angkot 01 tersebut berhenti di terminal Sukaraja, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menggunakan angkot jurusan Sasagaran (angkot berwarna biru tua) atau dapat juga menggunakan jasa ojeg sampai pada akhirnya berhenti di Kantor Kelurahan Kebon Pedes yang letaknya di dekat rel kereta api. Adapun perjalanan menuju desa ini, sebaiknya dilakukan sebelum pukul enam sore karena angkutan umum sudah tidak beroperasi setelah pukul 6 sore. Adapun penggunaan jasa ojeg masih tersedia, hanya saja perjalanan di malam hari dapat dikatakan masih rawan tindakan kriminal. Oleh karena itu, perjalanan menuju desa ini lebih baik dilakukan sebelum malam hari. Perjalanan dari pusat kota Sukabumi menuju Desa Kebon Pedes dapat menghabiskan waktu kurang lebih selama 1 jam dan

menghabiskan biaya sebanyak Rp. 4.000,00 dengan menggunakan angkot sebanyak dua kali (angkot bertrayek 01 dan trayek sasagaran). Berbeda sedikit dengan jasa angkot, biaya untuk menggunakan ojeg sedikit lebih mahal sehingga membutuhkan biaya Rp.5.000,00 (angkot bertrayek 01 dan jasa ojeg).

4.2 Sumberdaya Alam

Topografi Desa Kebon Pedes terbagi menjadi 80 persen topografi bergelombang dan 20 persen topografi datar dengan jenis tanah latosol. Desa ini berada pada ketinggian 540 meter dari permukaan laut dengan temperatur 18 – 28 derajat celsius. Desa ini memiliki curah hujan 3.613 milimeter per tahun dengan hari hujan 325 hari, dimana empat bulan kering dan delapan bulan basah. Potensi lahan di desa ini lebih diarahkan pada kegiatan pertanian, sedangkan untuk potensi lahan hutan, lahan perkebunan maupun lahan pertambangan tidak terdapat di desa ini. Adapun pemanfaatan lahan di Desa Kebon Pedes dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Pemanfaatan Lahan di Desa Kebon Pedes Tahun 2008

Sumber: Potensi Desa Kebon Pedes Tahun 2008

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa sebagian besar lahan pedesaan dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian, dimana 90,35 hektar merupakan sawah irigasi ½ teknis sedangkan lahan sawah lainnya merupakan lahan sawah tandah hujan yang luasnya mencapai 26,55 hektar. Lahan sawah irigasi ½ teknis ini sebenarnya lebih dikenal dengan lahan sawah pedesaan, dimana lahan sawah yang digunakan mendapatkan pengairan yang bersumber dari sungai dengan memanfaatkan saluran air yang mengalir di sepanjang desa. Jadwal pengaturan

o. Jenis Lahan Luas Lahan (Ha)

untuk pengairan sawah belum dapat dilakukan dengan baik disebabkan peranan ulu-ulu atau petugas pengatur air belum dapat bekerja dengan maksimal, sehingga sumber air untuk mengairi sawah hanya diusahakan secara individual. Untuk pemanfaatan lahan tadah hujan, petani hanya dapat memanfaatkanya ketika musim hujan tiba. Untuk lahan kering, pemanfaatannya digunakan untuk tegalan seluas 15,44 hektar, pemukiman seluas 62,66 hektar dan pekarangan seluas 1,04 hektar.

Pemanfaatan lahan pertanian di desa ini lebih didominasi oleh pertanian tanaman padi, sedangkan untuk tanaman sayuran hanya dilakukan oleh sebagian petani yang relatif berusia masih muda dan memiliki modal yang memadai.

Pemeliharaan tanaman sayuran yang membutuhkan tenaga, waktu, serta biaya yang lebih tinggi dibandingkan tanaman padi menjadikan pertanian sayuran di desa ini hanya dilakukan oleh sebagian petani saja, sedangkan sisanya (seperti petani yang sudah tua dan memiliki modal yang kecil) hanya berani bertani padi.

Desa ini juga memiliki potensi lain dalam bidang peternakan dan perikanan. Dalam bidang peternakan, kebanyakan dari penduduk memilih untuk beternak Ayam Broiler dan atau domba. Alasannya adalah pemeliharan dengan jangka waktu yang relatif cepat untuk Ayam Broiler dan pemberian pakan yang mudah dan murah untuk domba serta pemasaran hewan ternak tersebut yang relatif mudah. Untuk mengetahui data kepemilikan ternak di Desa Kebon Pedes, dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Data Kepemilikan Ternak di Desa Kebon Pedes Tahun 2008

o. Jenis Ternak Jumlah

Sumber: Potensi Desa Kebon Pedes Tahun 2008

Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk yaitu 60 persen beternak domba, sedangkan usaha ternak dengan skala lebih besar (dengan jumlah ternak relatif banyak) dilakukan oleh peternak Ayam Broiler yang berjumlah

sebanyak 10 orang. Dilihat dari jumlah populasinya, penduduk yang memelihara kelinci dan bebek dengan skala kecil tidak diperuntukan untuk memenuhi permintaan pasar melainkan hanya bersifat subsisten.

Pada kegiatan perikanan, penduduk melakukan usaha perikanan air tawar dengan jenis ikan seperti ikan mas, mujaer, lele, dan nila. Baik pada kegiatan peternakan maupun perikanan, biasanya penduduk memasarkan hasil peternakan dan perikanannya langsung kepada konsumen, dijual melalui tengkulak, dijual melalui pengecer, dan atau juga dimanfaatkan untuk konsumsi pribadi.

4.3 Sumberdaya Manusia

Penduduk Desa Kebon Pedes pada tahun 2008 berjumlah 6.247 orang, yang terdiri dari 3.147 orang laki-laki dan 3.100 orang perempuan. Jika dilihat dari komposisi penduduk berdasarkan usia produktif tenaga kerja, maka kelompok umur penduduk desa secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia Produktif Tenaga Kerja di Desa Kebon Pedes Tahun 2008

o. Kelompok Umur Jenis kelamin Jumlah

Orang

Sumber: Potensi Desa Kebon Pedes Tahun 2008

Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa kelompok umur produktif (18 sampai 56 tahun) merupakan kelompok umur dengan jumlah terbanyak yaitu 3.420 orang.

Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa hanya sekitar 2.051 orang penduduk berusia produktif yang telah bekerja, sedangkan sisanya yaitu 1.369 orang penduduk berusia produktif yang tidak bekerja. Jumlah pengangguran di Desa Kebon Pedes cukup tinggi yaitu sebesar 21,9 persen.

Data mengenai kualitas angkatan kerja di Desa Kebon Pedes yang berhasil dibukukan oleh pemerintah desa adalah sebanyak 2.858 orang. Data ini tidak

mencakup keseluruhan jumlah angkatan kerja yang diketahui mencapai 3.420 orang. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidakjelasan sumber informasi yang diperoleh oleh instansi pemerintah desa yang biasanya berbeda-beda antara masing-masing sumber informasi. Adapun untuk mengetahui data rinci mengenai kualitas angkatan kerja penduduk Desa Kebon Pedes dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Data Kualitas Angkatan Kerja di Desa Kebon Pedes Tahun 2008

o. Angkatan Kerja Laki-laki Perempuan

1. Usia 18-56 tahun yang buta aksara 0 0

Sumber: Potensi Desa Kebon Pedes 2008

Pada Tabel 4 dapat diketahui bahwa angkatan kerja di Desa Kebon Pedes tidak ada yang buta aksara. Kebanyakan dari angkatan kerja (baik laki-laki maupun perempuan) telah menyelesaikan pendidikan sampai pada jenjang SLTP , dimana jumlahnya mencapai 1.435 orang. Dari tabel tersebut diketahui bahwa jumlah angkatan kerja yang telah menyelesaikan pendidikan sampai pada jenjang perguruan tinggi masih sedikit dan merupakan jumlah terendah dari keseluruhan angkatan kerja (baik laki-laki maupun perempuan) yaitu hanya sebanyak 83 orang. Berdasarkan keterangan Tabel 3 yang menyatakan jumlah angakatan kerja yang mencapai 3.420, hanya 2.858 orang angkatan kerja yang berhasil terdata, sisanya belum teridentifikasi, sehingga masih ada kemungkinan bahwa di desa ini masih terdapat angkatan kerja yang buta aksara ataupun lebih banyak lagi angkatan kerja dengan kualitas pendidikan yang tinggi.

Jumlah penduduk Desa Kebon Pedes yang telah bekerja telah mencapai 1.548 orang. Keseluruhan jumlah penduduk yang telah bekerja ini memiliki mata pencaharian yang berbeda-beda. Pada sumber keterangan yang berbeda (data profil desa dari kecamatan) terdapat informasi mengenai jumlah penduduk yang bekerja sebagai pedagang sebanyak 218 orang (dimana data ini tidak tercantum pada profil desa). Berdasarkan informasi yang didapat dari wawancara mendalam, diperoleh penjelasan bahwa terdapat penduduk yang memiliki pekerjaan ganda.

Dari hasil wawancara dengan beberapa petani juga menjelaskan bahwa kebanyakan petani yang diwawancarai memiliki matapencaharian ganda seperti buruh bangunan, pengrajin besi, pedagang, dan banyak pekerjaan sampingan lainnya. Penjelasan secara rinci mengenai komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Komposisi Penduduk Bedasarkan Mata Pencaharian di Desa Kebon Pedes Tahun 2008

o. Mata Pencaharian Laki-laki Perempuan

1. Petani 325 - Sumber: Potensi Desa Kebon Pedes Tahun 2008

Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa komposisi mata pencaharian sebagai buruh tani adalah yang paling banyak ditekuni oleh penduduk Desa Kebon Pedes.

Namun berdasarkan keterangan dari wawancara mendalam, kebanyakan dari buruh tani ini sebenarnya memiliki lahan garapan sendiri dengan sistem sewa dan atau maparo. Para buruh tani ini melakukan pekerjaannya untuk mendapatkan upah sebagai modal bagi usahatani yang dimilikinya. Mata pencaharian pada bidang pertanian (baik petani maupun buruh tani) ini mendominasi sebagian besar mata pencaharian penduduk dengan jumlah total 1.240 orang atau mencapai 82,22 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. Mata pencaharian sebagai pengrajin, PNS, pensiunan, dan PRT menjadi mata pencaharian yang jumlahnya lebih banyak ditekuni penduduk dibandingkan mata pencaharian lainnya.

4.4 Keadaan Perkembangan Tingkat Penerapan Usahatani

Pola usahatani yang dilakukan oleh petani Desa Kebon Pedes berbeda-beda. Luas lahan sawah yang digunakan untuk usahatani dengan pola padi-padi-padi adalah 38 hektar. Untuk luas lahan yang digunakan dengan pola usahatani padi-padi-sayuran adalah 71 hektar, sedangkang luas lahan yang digunakan dengan menggunakan pola usahatani padi-padi-palawija sekitar 24,48 hektar.

Luas lahan yang digunakan dengan pola usahatani padi-sayuran-palawija adalah yang paling sedikit yaitu hanya 13 hektar. Untuk melakukan kegiatan usahatani, setiap petani memiliki luas lahan garapan yang berbeda-beda. Untuk mengetahui luasan lahan yang digarap oleh petani di Desa Kebon Pedes, dapat dilihat pada

Sumber: Potensi Desa Kebon Pedes Tahun 2008

Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa luas lahan garapan dari setiap KK tani didominasi oleh luas lahan garapan antara 0,10 sampai 0,25 hektar yang jumlahnya mencapai 484 KK. Adapun KK yang memiliki luas lahan kurang dari 1,00 hektar sangat sedikit sekali jumlahnya yaitu hanya dimiliki oleh 27 KK saja.

Jumlah KK yang memiliki lahan kurang dari 0,10 hektar masih banyak jumlahnya yaitu 249 KK dengan persentase mencapai 20,45 persen. Sisanya adalah KK yang memiliki luas lahan dari 0,26 sampai 0,50 hektar.

Pendapatan yang dihasilkan melalui usahatani pun berbeda-beda untuk setiap komoditi yang ditanamnya. Antara padi sawah, palawija/jagung, dan harbi/sayuran menghasilkan keuntungan yang berbeda. Untuk pengembangan usahatani tanaman sayuran, pengembangannya telah dimulai pada satu dekade terakhir ini, karena lahan pertanian yang mendukung dan lebih menghasilkan keuntungan dibandingkan usahatani lainnya, serta adanya penyuluh swasta yang

berasal dari produsen benih, produsen pupuk dan produsen obat yang mulai memperkenalkan produknya secara langsung kepada petani. Adapun rata-rata tingkat pendapatan petani permusim tanam dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rata-Rata Tingkat Pendapatan Petani Per Musim Tanam di Desa Kebon Pedes Tahun 2008

o. Komoditas Jumlah

Input (Rp) Output (Rp) Keuntungan (Rp)

1. Padi sawah 2.281.750,- 4.800.000,- 2.518.250,-

2. Palawija/ jagung 2.647.500,- 4.000.000,- 1.352.500,-

3. Sayuran 5.404.500,- 9.000.000,- 3.595.500,-

Sumber: Potensi Desa Kebon Pedes Tahun 2008

Pada Tabel 7 dapat diketahui bahwa komoditas pertanian yang paling banyak menghasilkan keuntungan adalah komoditas sayuran, sedangkan komoditas pertanian yang paling sedikit menghasilkan keuntungan adalah komoditas palawija/jagung. Komoditas pertanian sawah adalah komoditas yang paling banyak ditekuni oleh petani di desa Kebon Pedes karena modal yang dperlukan relatif terjangkau dan cara penanamannya yang lebih mudah dibandingkan komoditas lainnya, sedangkan komoditas sayuran adalah komoditas yang memerlukan perhatian dan perawatan yang lebih intensif sehingga hanya dilakukan oleh beberapa orang petani saja. Adapun sayuran yang banyak ditanam oleh petani adalah sawi hijau, kacang panjang, mentimun, terung, dan buncis.

4.5 Pola hubungan Kerja dan Sistem Pengupahan

Pola hubungan kerja yang terbentuk antara pemilik lahan dengan penggarap lahan yang terdapat di Desa Kebon Pedes terdiri dari beberapa pola hubungan kerja. Pola hubungan yang terbentuk yaitu: sistem kontrak, sistem sewa, dan sistem bagi hasil (maparo dan mertiga). Penggarap yang memakai sistem kontrak lahan garapan memiliki kuasa penuh untuk mengolah dan memanfaatkan lahan yang telah dikontraknya selama satu tahun tanpa campur tangan pemilik lahan. Pada sistem sewa, penyewaan lahan dilakukan selama satu musim tanam, dimana petani penggarap boleh menanan tanaman apa saja dengan kesepakatan bahwa pemilik lahan akan memperoleh bagian hasil panen yang besarnya mencapai 1,5 kuintal per petak lahan. Ketentuan pemberian hasil panen kepada

pemilik lahan ini harus dilakukan walaupun petani mendapatkan hasil panen yang sedikit. Penyerahan hasil panen dalam sistem sewa kepada pemilik lahan ini sudah ditentukan yaitu 1,5 kuintal per petak lahan tanpa dipengaruhi oleh komoditas tanaman dan kondisi hasil panen.

Berbeda dengan sistem kontrak maupun sistem sewa, petani yang melakukan pola hubungan kerja dengan sistem bagi hasil (baik maparo maupun mertiga) hanya menggarap dan menanami lahan dengan jenis tanaman yang dibatasi, yaitu hanya tanaman padi saja. Pemilik lahan dan penggarap lahan saling berkontribusi dalam memberikan modal usahatani yang besarnya sama rata dan ketika panen antara pemilik lahan dengan penggarap lahan mendapatkan hasil panen yang sama (dalam sistem maparo), sedangkan untuk sistem bagi hasil mertiga petani penggarap hanya menggarap lahan tanpa mengeluarkan dana untuk modal, semua kebutuhan usahatani ditanggung pemilik lahan dengan pembagian hasil panen sepertiga untuk penggarap lahan dan duapertiga untuk pemilik lahan.

Pembagian tugas kerja antara buruh tani laki-laki dengan buruh tani perempuan berbeda. Buruh tani laki-laki dibayar dengan upah sebesar Rp.

20.000,00 dan diberi makan sebanyak satu kali, sedangkan untuk buruh tani perempuan hanya mendapatkan upah Rp.15.000,00 dan diberi makan satu kali.

Hal ini dibedakan karena kerja buruh tani laki-laki lebih cepat dan lebih berat dibandingkan buruh tani perempuan. Selain itu, buruh tani laki-laki bekerja dengan durasi waktu lebih lama dibandingkan buruh tani perempuan, dimana buruh tani laki-laki memulai kerja lebih pagi dibandingkan buruh tani perempuan.

Dalam kegiatan pengolahan lahan, buruh tani laki-laki biasanya bertugas mencangkul dan membajak lahan serta pekerjaan berat lainnya, sedangkan bagi buruh tani perempuan mendapatkan pembagian kerja seperti menebar benih padi

“nyemai”, memindahtanamkan bibit padi “tanur”, menyiangi tanaman

“ngarambet”, dan merontokkan “ngagebot” padi pada saat panen. Untuk tugas menyabit dan mengangkut hasil panen dilakukan oleh buruh tani laki-laki.

4.6 Keadaan Sarana Prasarana dan Infrastruktur

Sarana dan prasarana di Desa Kebon Pedes secara keseluruhan telah memadai dan menunjang kehidupan penduduknya. Untuk kelancaran transportasi,

desa ini memiliki jalan utama yang telah diaspal dengan panjang mencapai 2,5 kilometer. Untuk menjangkau desa ini, alat transportasi umum yang dapat digunakan adalah ojeg, angkutan pedesaan, dan delman. Untuk mendukung kegiatan mobilitas penduduk, desa ini terletak dekat dengan terminal angkutan pedesaan, dimana terdapat 50 angkutan umum yang dapat digunakan untuk mencapai ibu kota kecamatan. Selain itu, desa ini memiliki tiga pangkalan ojeg dan satu stasiun kereta api. Namun untuk saat ini, stasiun kereta api yang ada sudah tidak aktif karena kereta api menuju arah Bandung sudah tidak beroperasi.

Dalam mendukung kegiatan pertanian telah terdapat traktor, namun jumlahnya masih terbatas. Terdapat pula kerbau yang dapat dimanfaatkan penduduk untuk membajak sawah. Hanya saja ketersediaan sarana untuk membajak sawah ini masih belum memadai. Hal ini bisa dibuktikan dari keterlambatan sebagian petani dalam melakukan penanaman padi, sehingga penanaman padi secara serentak cukup sulit untuk dilakukan. Begitu juga untuk panen dan pasca panen, petani masih menggunakan alat yang sederhana. Adapun dalam mendukung kegiatan usahatani, desa ini memiliki lima buah penggilingan padi, dua buah traktor, dua buah kios Saprodi, dan sepuluh orang tengkulak.

Untuk sarana perbankan, desa ini masih menginduk pada Bank BRI Unit Sukaraja Kabupaten Sukabumi dan BRI Unit Baros Kota Sukabumi.

Desa Kebon Pedes ditunjang dengan sarana prasarana pendidikan yang cukup memadai. Desa ini ditunjang dengan keberadaan lembaga pendidikan formal dan lembaga pendidikan formal keagamaan. Untuk pendidikan formal, terdapat enam unit PAUD, lima unit SD, dan satu unit SMP, dimana untuk masing-masing lembaga pendidikan tersebut telah memiliki gedung tetap. Untuk pendidikan formal keagamaan, terdapat dua unit sekolah ibtidayah, satu unit tsanawiyah, dan enam unit pondok pesantren yang masing-masing telah memiliki gedung tetap. Desa ini pun telah memiliki satu perpustakaan desa. Walaupun desa ini belum memiliki lembaga pendidikan untuk tingkat menengah atas, penduduk di desa ini masih dapat menjangkau pendidikan tingkat SMA dengan mudah.

Alasannya adalah karena desa ini terletak dekat dengan satu SMA negeri dan satu sekolah aliyah yang dapat dijangkau dengan menggunakan ojeg ataupun angkutan pedesaan. Apabila ingin memilih SMA atau lembaga pendidikan sederajat

lainnya, alat transportasi telah tersedia untuk menjangkau lokasi sekolah dengan akses yang relatif mudah.

Kegiatan rohaniah penduduk didukung dengan adanya 14 mesjid dan 38 mushola. Tidak terdapat sarana peribadatan lain selain sarana peribadatan untuk penduduk beragama islam karena seluruh penduduk Desa Kebon Pedes tercatat sebagai penganut agama Islam. Dalam perkembangannya, penduduk di desa ini memiliki beberapa keyakinan terhadap aliran islam tetapi tidak sampai menimbulkan konflik di dalamnya. Namun untuk sebagian kasus, desa ini dikenal sebagai desa yang didiami oleh sekelompok penganut islam radikal dimana beberapa anggota penganutnya telah diketahui sebagai pelaku kegiatan teroris di Indonesia, sehingga mendapatkan pemantauan khusus dari kepolisian Indonesia.

Sarana dan prasarana yang menunjang kesehatan masyarakat di desa ini yaitu sembilan unit posyandu dan satu unit puskesmas pembantu. Untuk mendukung sarana dan prasarana kesehatan tersebut, terdapat dua orang dokter umum, dua orang bidan, dan empat orang dokter praktek. Selain itu, terdapat juga empat orang dukun bersalin terlatih yang masing-masing bertempat tinggal di empat dusun yang berbeda.

Prasarana olah raga yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk desa Kebon Pedes sudah sedikit memadai. Prasarana yang ada yaitu dua buah lapangan bulu tangkis, satu buah meja tenis, dan satu buah lapangan voli. Untuk sarana hiburan dan wisata, di desa ini belum dikembangkan potensi yang diperuntukan untuk dijadikan objek wisata.

4.7 Keadaan Petugas/Penyuluh dan Potensi Penunjang Kegiatan Penyuluhan Beragam usahatani yang diupayakan petani beserta potensinya ini memerlukan petugas yang menguasai berbagai bidang ilmu seperti pertanian, perikanan, peternakan, dan juga kehutanan dengan pendidikan minimal S1.

Adapun keadaan kelompok tani yang menjadi sasaran untuk kegiatan penyuluhan terbagi menjadi kelas kemampuan kelompok dan dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Komposisi Tingkat Produktivitas Kegiatan Penyuluhan yang Dicapai Tahun 2009

o. Jenis Produktivitas Sasaran yang Dicapai

1. Kelas kemampuan kelompok:

Sumber: Programa Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Wilayah Binaan Desa Kebon Pedes Tahun 2009

Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa terdapat tiga kelompok tani pada posisi lanjut dan empat kelompok tani pada posisi madya dari tujuh kelompok tani yang terdapat pada satu Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Adapun untuk sumberdaya wanita tani dan pemuda tani masih sangat sedikit dan jarang.

Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) sudah terdapat di desa ini dan aktifitasnya bersama-sama dengan Gapoktan untuk melaksanakan kunjungan dan monitoring ke setiap kelompok tani serta benah kelompok, adminitrasi kelompok dan menyusun rencana kegiatan kelompok tani.

Bangunan BP3K yang selama ini sebagai tempat berkumpulnya petani dalam berkoordinasi atau tempat bermusyawarah saat ini telah diperbaiki setelah sebelumnya tidak memadai sehingga kontaktani mengalami koordinasi yang kurang dengan petugas. Dengan berhasil dibangunnya kantor BP3K, petugas

Bangunan BP3K yang selama ini sebagai tempat berkumpulnya petani dalam berkoordinasi atau tempat bermusyawarah saat ini telah diperbaiki setelah sebelumnya tidak memadai sehingga kontaktani mengalami koordinasi yang kurang dengan petugas. Dengan berhasil dibangunnya kantor BP3K, petugas