BAB IV GAMBARA UMUM
4.5 Pola hubungan Kerja dan Sistem Pengupahan
Pola hubungan kerja yang terbentuk antara pemilik lahan dengan penggarap lahan yang terdapat di Desa Kebon Pedes terdiri dari beberapa pola hubungan kerja. Pola hubungan yang terbentuk yaitu: sistem kontrak, sistem sewa, dan sistem bagi hasil (maparo dan mertiga). Penggarap yang memakai sistem kontrak lahan garapan memiliki kuasa penuh untuk mengolah dan memanfaatkan lahan yang telah dikontraknya selama satu tahun tanpa campur tangan pemilik lahan. Pada sistem sewa, penyewaan lahan dilakukan selama satu musim tanam, dimana petani penggarap boleh menanan tanaman apa saja dengan kesepakatan bahwa pemilik lahan akan memperoleh bagian hasil panen yang besarnya mencapai 1,5 kuintal per petak lahan. Ketentuan pemberian hasil panen kepada
pemilik lahan ini harus dilakukan walaupun petani mendapatkan hasil panen yang sedikit. Penyerahan hasil panen dalam sistem sewa kepada pemilik lahan ini sudah ditentukan yaitu 1,5 kuintal per petak lahan tanpa dipengaruhi oleh komoditas tanaman dan kondisi hasil panen.
Berbeda dengan sistem kontrak maupun sistem sewa, petani yang melakukan pola hubungan kerja dengan sistem bagi hasil (baik maparo maupun mertiga) hanya menggarap dan menanami lahan dengan jenis tanaman yang dibatasi, yaitu hanya tanaman padi saja. Pemilik lahan dan penggarap lahan saling berkontribusi dalam memberikan modal usahatani yang besarnya sama rata dan ketika panen antara pemilik lahan dengan penggarap lahan mendapatkan hasil panen yang sama (dalam sistem maparo), sedangkan untuk sistem bagi hasil mertiga petani penggarap hanya menggarap lahan tanpa mengeluarkan dana untuk modal, semua kebutuhan usahatani ditanggung pemilik lahan dengan pembagian hasil panen sepertiga untuk penggarap lahan dan duapertiga untuk pemilik lahan.
Pembagian tugas kerja antara buruh tani laki-laki dengan buruh tani perempuan berbeda. Buruh tani laki-laki dibayar dengan upah sebesar Rp.
20.000,00 dan diberi makan sebanyak satu kali, sedangkan untuk buruh tani perempuan hanya mendapatkan upah Rp.15.000,00 dan diberi makan satu kali.
Hal ini dibedakan karena kerja buruh tani laki-laki lebih cepat dan lebih berat dibandingkan buruh tani perempuan. Selain itu, buruh tani laki-laki bekerja dengan durasi waktu lebih lama dibandingkan buruh tani perempuan, dimana buruh tani laki-laki memulai kerja lebih pagi dibandingkan buruh tani perempuan.
Dalam kegiatan pengolahan lahan, buruh tani laki-laki biasanya bertugas mencangkul dan membajak lahan serta pekerjaan berat lainnya, sedangkan bagi buruh tani perempuan mendapatkan pembagian kerja seperti menebar benih padi
“nyemai”, memindahtanamkan bibit padi “tanur”, menyiangi tanaman
“ngarambet”, dan merontokkan “ngagebot” padi pada saat panen. Untuk tugas menyabit dan mengangkut hasil panen dilakukan oleh buruh tani laki-laki.
4.6 Keadaan Sarana Prasarana dan Infrastruktur
Sarana dan prasarana di Desa Kebon Pedes secara keseluruhan telah memadai dan menunjang kehidupan penduduknya. Untuk kelancaran transportasi,
desa ini memiliki jalan utama yang telah diaspal dengan panjang mencapai 2,5 kilometer. Untuk menjangkau desa ini, alat transportasi umum yang dapat digunakan adalah ojeg, angkutan pedesaan, dan delman. Untuk mendukung kegiatan mobilitas penduduk, desa ini terletak dekat dengan terminal angkutan pedesaan, dimana terdapat 50 angkutan umum yang dapat digunakan untuk mencapai ibu kota kecamatan. Selain itu, desa ini memiliki tiga pangkalan ojeg dan satu stasiun kereta api. Namun untuk saat ini, stasiun kereta api yang ada sudah tidak aktif karena kereta api menuju arah Bandung sudah tidak beroperasi.
Dalam mendukung kegiatan pertanian telah terdapat traktor, namun jumlahnya masih terbatas. Terdapat pula kerbau yang dapat dimanfaatkan penduduk untuk membajak sawah. Hanya saja ketersediaan sarana untuk membajak sawah ini masih belum memadai. Hal ini bisa dibuktikan dari keterlambatan sebagian petani dalam melakukan penanaman padi, sehingga penanaman padi secara serentak cukup sulit untuk dilakukan. Begitu juga untuk panen dan pasca panen, petani masih menggunakan alat yang sederhana. Adapun dalam mendukung kegiatan usahatani, desa ini memiliki lima buah penggilingan padi, dua buah traktor, dua buah kios Saprodi, dan sepuluh orang tengkulak.
Untuk sarana perbankan, desa ini masih menginduk pada Bank BRI Unit Sukaraja Kabupaten Sukabumi dan BRI Unit Baros Kota Sukabumi.
Desa Kebon Pedes ditunjang dengan sarana prasarana pendidikan yang cukup memadai. Desa ini ditunjang dengan keberadaan lembaga pendidikan formal dan lembaga pendidikan formal keagamaan. Untuk pendidikan formal, terdapat enam unit PAUD, lima unit SD, dan satu unit SMP, dimana untuk masing-masing lembaga pendidikan tersebut telah memiliki gedung tetap. Untuk pendidikan formal keagamaan, terdapat dua unit sekolah ibtidayah, satu unit tsanawiyah, dan enam unit pondok pesantren yang masing-masing telah memiliki gedung tetap. Desa ini pun telah memiliki satu perpustakaan desa. Walaupun desa ini belum memiliki lembaga pendidikan untuk tingkat menengah atas, penduduk di desa ini masih dapat menjangkau pendidikan tingkat SMA dengan mudah.
Alasannya adalah karena desa ini terletak dekat dengan satu SMA negeri dan satu sekolah aliyah yang dapat dijangkau dengan menggunakan ojeg ataupun angkutan pedesaan. Apabila ingin memilih SMA atau lembaga pendidikan sederajat
lainnya, alat transportasi telah tersedia untuk menjangkau lokasi sekolah dengan akses yang relatif mudah.
Kegiatan rohaniah penduduk didukung dengan adanya 14 mesjid dan 38 mushola. Tidak terdapat sarana peribadatan lain selain sarana peribadatan untuk penduduk beragama islam karena seluruh penduduk Desa Kebon Pedes tercatat sebagai penganut agama Islam. Dalam perkembangannya, penduduk di desa ini memiliki beberapa keyakinan terhadap aliran islam tetapi tidak sampai menimbulkan konflik di dalamnya. Namun untuk sebagian kasus, desa ini dikenal sebagai desa yang didiami oleh sekelompok penganut islam radikal dimana beberapa anggota penganutnya telah diketahui sebagai pelaku kegiatan teroris di Indonesia, sehingga mendapatkan pemantauan khusus dari kepolisian Indonesia.
Sarana dan prasarana yang menunjang kesehatan masyarakat di desa ini yaitu sembilan unit posyandu dan satu unit puskesmas pembantu. Untuk mendukung sarana dan prasarana kesehatan tersebut, terdapat dua orang dokter umum, dua orang bidan, dan empat orang dokter praktek. Selain itu, terdapat juga empat orang dukun bersalin terlatih yang masing-masing bertempat tinggal di empat dusun yang berbeda.
Prasarana olah raga yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk desa Kebon Pedes sudah sedikit memadai. Prasarana yang ada yaitu dua buah lapangan bulu tangkis, satu buah meja tenis, dan satu buah lapangan voli. Untuk sarana hiburan dan wisata, di desa ini belum dikembangkan potensi yang diperuntukan untuk dijadikan objek wisata.
4.7 Keadaan Petugas/Penyuluh dan Potensi Penunjang Kegiatan Penyuluhan Beragam usahatani yang diupayakan petani beserta potensinya ini memerlukan petugas yang menguasai berbagai bidang ilmu seperti pertanian, perikanan, peternakan, dan juga kehutanan dengan pendidikan minimal S1.
Adapun keadaan kelompok tani yang menjadi sasaran untuk kegiatan penyuluhan terbagi menjadi kelas kemampuan kelompok dan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Komposisi Tingkat Produktivitas Kegiatan Penyuluhan yang Dicapai Tahun 2009
o. Jenis Produktivitas Sasaran yang Dicapai
1. Kelas kemampuan kelompok:
Sumber: Programa Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Wilayah Binaan Desa Kebon Pedes Tahun 2009
Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa terdapat tiga kelompok tani pada posisi lanjut dan empat kelompok tani pada posisi madya dari tujuh kelompok tani yang terdapat pada satu Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Adapun untuk sumberdaya wanita tani dan pemuda tani masih sangat sedikit dan jarang.
Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) sudah terdapat di desa ini dan aktifitasnya bersama-sama dengan Gapoktan untuk melaksanakan kunjungan dan monitoring ke setiap kelompok tani serta benah kelompok, adminitrasi kelompok dan menyusun rencana kegiatan kelompok tani.
Bangunan BP3K yang selama ini sebagai tempat berkumpulnya petani dalam berkoordinasi atau tempat bermusyawarah saat ini telah diperbaiki setelah sebelumnya tidak memadai sehingga kontaktani mengalami koordinasi yang kurang dengan petugas. Dengan berhasil dibangunnya kantor BP3K, petugas dapat lebih mudah menyesuaikan jadwal pertemuan dengan kelompok karena kelompok tani dapat mengunjungi kantor BP3K untuk melakukan diskusi.
Adapun kegiatan penyuluhan pertanian yang telah berlangsung di Desa Kebon Pedes dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Kegiatan Penyuluhan Pertanian di Desa Kebon Pedes Tahun 2009
o. Kegiatan Sasaran (unit/kali)
1.
2.
Menyusun program penyuluhan pertanian dan RK penyuluh pertanian
1
3. Temu tugas/Usaha/Teknologi 9
4. Pertemuan kelompok tani/Gapoktan 250
5. Anjangsana (LAKU) 360
6. Demonstrasi (plot/cara/farm/hasil) 10
o. Kegiatan Sasaran (Unit/Kali)
7. Gerakan bersama 22
8. Membuat materi penyuluhan/siaran pedesaan 24
9. Membantu menyusun RDKK/RDK 11
10. Mengikuti mimbar sarasehan 1
11. Mengikuti Musrembang dusun/desa 8
12. Siaran Desa (1 bulan 1 kali) 1
13. Melaksanakan sekolah lapang 2
14 Evaluasi 4
Su.mber: Programa Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Wilayah Binaan Desa Kebon Pedes Tahun 2009
Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa kegitan sekolah lapangan telah dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada tahun 2008 dan tahun 2009. Sekolah lapangan yang dilaksanakan pada tahun 2008 diikuti oleh satu kelompok tani yaitu hanya Kelompok Tani Sawargi saja. Untuk sekolah lapangan tahun 2009 diikuti oleh tiga kelompok tani yaitu Kelompok Tani Pamoyanan, Kelompok Tani Bojong Galing, dan Kelompok Tani Cimuncang.
Bab ini mendeskripsikan karakteristik petani yang terdiri dari karakteristik internal dan karakteristik eksternal petani peserta program Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Pada pelaksanaannya, kegiatan SL-PTT ini diduga berhubungan dengan kondisi petani yang mengikuti program tersebut.
Oleh karena itu penting untuk mendeskripsikan karakteristik petani secara rinci sehingga didapat informasi yang lebih mendetail. Karakteristik internal petani yang diteliti meliputi umur, tingkat pendidikan formal, tingkat pendidikan non formal, tingkat pengalaman berusahatani, tingkat kekosmopolitan, motivasi petani, dan luas lahan garapan. Petani yang mengikuti program SL-PTT pada Gapoktan Sawargi hampir keseluruhan berjenis kelamin laki-laki, oleh karena itu jenis kelamin tidak dikhususkan untuk dibahas pada karakteristik internal petani.
Adapun karakteristik eksternal petani yang akan dibahas secara rinci meliputi persepsi petani terhadap kemampuan penyuluh, tingkat keterjangkauan sarana produksi pertanian, dan tingkat kemampuan akses petani terhadap pasar.
5.1 Karakteristik Internal Petani 5.1.1 Umur
Petani yang mengikuti kegiatan SL-PTT dikategorikan ke dalam umur menurut Hurlock (1980). Adapun untuk mengetahui jumlah dan persentase petani secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Komposisi Petani Peserta SL-PTT Menurut Kategori Umur di Desa Kebon Pedes Tahun 2010
Kategori Umur Jumlah (orang) Persentase (%)
Dewasa Awal 13 31,0
Dewasa Madya 25 59,5
Dewasa Akhir 4 9,5
Total 42 100
Mayoritas dari petani yang mengikuti SL-PTT termasuk ke dalam kategori umur dewasa madya dengan sebaran umur 41 sampai 60 tahun yaitu sebesar 59,5 persen. Kategori umur petani dengan jumlah paling sedikit adalah petani yang berumur lebih dari 61 tahun dan tergolong petani dengan kategori umur dewasa akhir yaitu sebesar 9,5 persen. Adapun sisanya adalah petani dengan kategori umur dewasa awal dengan sebaran umur 18 sampai 40 tahun yaitu sebesar 31 persen. Kebanyakan dari petani usia dewasa awal dan dewasa madya adalah petani yang sebelumnya bekerja di luar sektor pertanian, ada juga yang masih menekuni usaha di luar sektor pertanian tersebut. Pekerjaan non pertanian tersebut antara lain seperti pedagang es, pengrajin besi, buruh bangunan, pekerja bengkel, pembuat kue, pedagang sayur, paranormal, pekerja mebel, usaha penggilingan gabah, dan pedagang ikan air tawar. Untuk petani yang memiliki mata pencaharian ganda, biasanya melakukan pekerjaan non pertanian ketika usia tanaman sedang dalam tahap pertumbuhan dan tidak memerlukan perhatian banyak untuk perawatan. Untuk petani dengan usia di atas 61 tahun, kebanyakan hanya melakukan usahatani dengan komoditas utama berupa padi sawah dengan alasan tidak memerlukan tenaga dan biaya yang tinggi, serta perawatan yang relatif mudah.
5.1.2 Tingkat Pendidikan Formal
Petani yang mengikuti SL-PTT mayoritas telah mengenyam pendidikan formal. Lamanya pendidikan yang didapatkan petani minimal selama 2 tahun atau dengan kata lain tidak tamat sekolah dasar. Adapun untuk mengetahui tingkat pendidikan petani dari lamanya sekolah formal yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Tingkat Pendidikan Formal Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010
Lama Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
Rendah 27 64,3
Sedang 13 31,0
Tinggi 2 4,8
Total 42 100,0
Kategori tingkat pendidikan dapat dilihat berdasarkan sebaran lamanya pendidikan yang telah didapatkan oleh petani. Mayoritas petani adalah yang telah mengenyam pendidikan kurang dari 9 tahun dengan persentase mencapai 64,3 persen. Adapun untuk petani yang mengenyam pendidikan antara 9 sampai 12 tahun dikategorikan menjadi petani dengan tingkat pendidikan formal sedang dengan persentase mencapai 31 persen. Sisanya adalah petani dengan tingkat pendidikan tinggi dengan persentase hanya 4,8 persen. Dari keterangan tersebut, kebanyakan petani yang mengikuti SL-PTT adalah petani dengan tingkat pendidikan rendah. Tingkat pendidikan ini tidak terlalu mempengaruhi tingkat kemampuan petani dalam berusahatani, karena berdasarkan wawancara yang dilakukan, petani yang memiliki tingkat pendidikan tinggi adalah petani yang baru memulai usahatani dan tidak terlalu paham mengenai praktek usahatani yang baik, walaupun dari segi pengetahuan yang dimiliki relatif sama dengan petani lainnya.
5.1.3 Tingkat Pendidikan on Formal
Pendidikan non formal yang diikuti oleh petani peserta SL-PTT sangatlah beragam. Jenis pendidikan non formal tersebut antara lain pelatihan tingkat nasional, pelatihan tingkat provinsi, pelatihan tingkat kabupaten, pelatihan tingkat kecamatan, lokakarya, SL-PTT, SL-PHT, dan FMA. Pendidikan minimal yang didapat oleh petani adalah kegiatan sekolah lapang itu sendiri. Untuk mengetahui tingkat pendidikan non formal petani peserta SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Tingkat Pendidikan Non Formal Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010
Tingkat Pendidikan on
Formal Jumlah (orang) Persentase (%)
Rendah 39 92,8
Sedang 2 4,8
Tinggi 1 2,4
Total 42 100,0
Kebanyakan dari petani peserta SL-PTT adalah petani yang memiliki tingkat pendidikan non formal rendah yang persentasenya mencapai 92,9 persen.
Petani yang memiliki tingkat pendidikan non formal sedang dan tinggi
berturut-turut persentasenya adalah 4,8 persen dan 2,4 persen. Alasan yang mendasari rendahnya tingkat pendidikan non formal petani peserta SL-PTT adalah kebanyakan dari petani baru mendapatkan pendidikan non formal dari SL-PTT saja, sedangkan di luar kegiatan SL-PTT petani belum pernah mendapatkan jenis pendidikan non formal lainnya. Selain itu, pendidikan non formal bagi petani, sering kali hanya melibatkan pengurus Gapoktan ataupun pengurus kelompok tani saja, sehingga kesempatan mendapatkan pendidikan non formal tidak merata. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya anggaran biaya suatu kegiatan pelatihan, sehingga hanya dapat melibatkan beberapa petani saja sebagai perwakilan.
5.1.4 Tingkat Pengalaman Berusahatani
Pengalaman berusahatani petani peserta SL-PTT cukup beragam. Sebaran lamanya usahatani yang telah dilakukan oleh para petani ini antara satu sampai 53 tahun. Adapun untuk mengetahui tingkat pengalaman usahatani petani peserta SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Tingkat Pengalaman Berusahatani Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010
Tingkat Pengalaman
Berusahatani Jumlah (orang) Persentase (%)
Rendah 20 47,6
Sedang 16 38,1
Tinggi 6 14,3
Total 42 100,0
Tabel 13 menunjukkan bahwa kebanyakan dari petani yang mengikuti SL-PTT adalah petani dengan pengalaman usahatani rendah dengan persentase sebesar 47,6 persen, dimana sebarannya antara 1 sampai 17 tahun. Hal ini dapat dipahami karena kebanyakan dari petani peserta SL-PTT didominasi oleh petani usia sedang (lihat Tabel 11), dimana kebanyakan dari mereka adalah petani yang sebelumnya memiliki mata pencaharian non pertanian. Adapun tingkat pengalaman berusahatani rendah dan sedang berturut-turut persentasenya adalah 38,1 persen dan 14,3 persen. Sebaran lamanya usahatani pada tingkat sedang
adalah antara 18 sampai 34 tahun sedangkan sebaran untuk tingkat usahatani tinggi antara 35 sampai 53 tahun.
5.1.5 Tingkat Kekosmopolitan
Tingkat kekosmopolitan petani peserta SL-PTT dapat dilihat melalui seberapa intens petani memanfaatkan berbagai sumber informasi untuk kebutuhan usahataninya. Kebanyakan dari petani tersebut tidak pernah atau jarang memanfaatkan sumber informasi. Adapun untuk mengetahui secara lebih rinci tingkat kekosmopolitan petani peserta SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Tingkat Kekosmopolitan Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010
Tingkat Kekosmopolitan Jumlah (orang) Persentase (%)
Rendah 23 54,8
Sedang 18 42,8
Tinggi 1 2,4
Total 42 100,0
Kebanyakan dari petani Peserta SL-PTT adalah petani yang memiliki tingkat kekosmopolitan yang rendah dengan persentase mencapai 54,8 persen.
Sementara sisanya adalah petani dengan tingkat kekosmopolitan sedang sebesar 42,9 persen dan petani dengan tingkat kekosmopolitan tinggi sebesar 2,4 persen.
Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, selain banyak petani yang sering menjawab tidak pernah atau jarang menggunakan media informasi, kebanyakan dari petani ini sulit mengakses informasi usahatani disebabkan oleh acara pertanian yang jarang, anggota keluarga yang lain yang lebih menyukai acara lain selain pertanian, dan tidak adanya kesempatan atau sarana yang dimiliki untuk mendapatkan informasi pertanian tersebut.
5.1.6 Tingkat Motivasi Petani
Motivasi petani dalam mengikuti SL-PTT dibedakan ke dalam motivasi eksternal dan motivasi internal. Motivasi Internal diasumsikan memiliki pengaruh
lebih kuat dibandingkan motivasi eksternal. Adapun komposisi petani menurut motivasi petani dalam mengikuti SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Motivasi Petani dalam Mengikuti Kegiatan SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010
Motivasi Jumlah (orang) Persentase (%)
Motivasi eksternal 9 21,4
Motivasi internal 33 78,6
Total 42 100,0
Kebanyakan dari petani yang mengikuti SL-PTT adalah petani yang memiliki motivasi internal yaitu petani yang mengikuti SL-PTT karena alasan ingin mengetahui teknologi PTT yang akan diperkenalkan. Persentase petani peserta SL-PTT yang didorong oleh motivasi internal dalam mengikuti kegiatan sekolah lapangan adalah sebesar 78,6 persen. Adapun sisanya adalah petani SL-PTT yang mengikuti kegiatan sekolah lapangan karena diajak oleh ketua atau penyuluh dengan bantuan benih sebagai daya tarik bagi petani, dimana persentasenya mencapai 21,4 persen.
5.1.7. Luas Lahan Garapan dan Status Kepemilikan
Petani peserta SL-PTT tidak seluruhnya memiliki lahan garapan, sebagian dari mereka melakukan kegiatan usahatani dengan menyewa lahan dan melakukan sistem bagi hasil. Pengkategorian luas lahan dilakukan berdasarkan sebaran normal dari luas lahan garapan kategori rendah (< 0,5 Ha), luas lahan garapan kategori sedang (0,5 - 1Ha), dan luas lahan garapan kategori tinggi (> 1 Ha).
Untuk mengetahui luas garapan lahan petani yang mengikuti kegiatan SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Luas Lahan Garapan Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010
Luas Lahan Garapan Jumlah (orang) Persentase (%)
Rendah 31 73,8
Sedang 6 14,3
Tinggi 5 11,9
Total 42 100,0
Kebanyakan dari petani yang mengikuti SL-PTT adalah petani yang memiliki lahan garapan kurang dari 0,5 hektar dengan persentase sebesar 73,8 persen. Sisanya adalah petani dengan luas garapan sedang dan luas lahan garapan tinggi dengan persentase masing-masing 14,3 persen dan 11,9 persen. Lahan garapan ini didapatkan petani dengan cara yang berbeda-beda. Untuk mengetahui status lahan garapan petani yang mengikuti SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Status Lahan Garapan Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010
o. Status Lahan Garapan Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Lahan Sendiri Digarap sendiri 6 14
2. Lahan Sendiri Digarap Sendiri dan Digarap Orang Lain
2
5 3. Lahan Sendiri Digarap sendiri dan Menggarap
Lahan Orang Lain dengan Sistem Sewa 7 17
4. Lahan Digarap Orang Lain dan Mengarap Lahan
Orang Lain dengan Sistem Bagi Hasil 1 2
5. Menggarap Lahan Orang Lain dengan Sistem Sewa 17 41 6. Menggarap Lahan Orang Lain dengan Sistem Bagi
Hasil 8 19
7. Mengarap Lahan Orang Lain dengan Sistem Sewa
dan Bagi Hasil 1 2
Total 42 100
Tabel 17 menunjukkan bahwa kebanyakan dari petani peserta SL-PTT adalah petani yang menggarap sawah orang lain dengan sistem sewa dengan persentase sebesar 42 persen. Untuk petani yang memiliki lahan sendiri dan menggarap lahannya sendiri mencapai persentase sebesar 14 persen. Terdapat petani yang memiliki lahan sendiri dan juga menggarap lahan orang lain dengan menggunakan sistem sewa dengan persentase sebesar 17 persen. Terdapat juga petani yang memiliki lahan sendiri namun digarap oleh orang lain, kemudian petani tersebut menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil dengan persentase 2 persen. Petani yang menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil mencapai 19 persen. Sisanya adalah petani yang memiliki lahan sendiri yang digarap sendiri dan digarap orang lain serta petani ang mengarap lahan orang lain dengan sistem sewa dan sistem bagi hasil dengan persentase masing-masing sebesar 5 persen dan 2 persen.
Petani yang menggarap lahan dengan sistem sewa menentukan perjanjian diawal untuk menentukan berapa banyak padi yang akan didapat oleh pemilik lahan sawah. Besarnya padi yang didapat oleh pemilik lahan harus dipenuhi, tidak bergantung pada hasil padi yang dipanen ke depannya. Jika hasil panen buruk, petani penggarap tetap harus memenuhi bagian padi dari pemilik lahan sesuai dengan jumlah yang ditentukan sebelumnya. Berbeda lagi dengan petani penggarap dengan sistem bagi hasil, modal untuk menanam padi berasal dari pemilik lahan dan penggarap lahan secara adil. Ketika panen tiba, antara pemilik lahan dan pengarap lahan mendapatkan bagian yang sama yaitu 1:1. Berbeda sekali dengan sistem sewa, apabila panen tidak mencapai hasil yang memuaskan, pada sistem bagi hasil antara pemilik lahan dan penggarap lahan menanggung kerugian yang besarnya sama rata. Terdapat juga petani yang memiliki lahan
Petani yang menggarap lahan dengan sistem sewa menentukan perjanjian diawal untuk menentukan berapa banyak padi yang akan didapat oleh pemilik lahan sawah. Besarnya padi yang didapat oleh pemilik lahan harus dipenuhi, tidak bergantung pada hasil padi yang dipanen ke depannya. Jika hasil panen buruk, petani penggarap tetap harus memenuhi bagian padi dari pemilik lahan sesuai dengan jumlah yang ditentukan sebelumnya. Berbeda lagi dengan petani penggarap dengan sistem bagi hasil, modal untuk menanam padi berasal dari pemilik lahan dan penggarap lahan secara adil. Ketika panen tiba, antara pemilik lahan dan pengarap lahan mendapatkan bagian yang sama yaitu 1:1. Berbeda sekali dengan sistem sewa, apabila panen tidak mencapai hasil yang memuaskan, pada sistem bagi hasil antara pemilik lahan dan penggarap lahan menanggung kerugian yang besarnya sama rata. Terdapat juga petani yang memiliki lahan