• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARA UMUM

5.1 Karakteristik Internal Petani

5.1.2 Tingkat Pendidikan Formal

Petani yang mengikuti SL-PTT mayoritas telah mengenyam pendidikan formal. Lamanya pendidikan yang didapatkan petani minimal selama 2 tahun atau dengan kata lain tidak tamat sekolah dasar. Adapun untuk mengetahui tingkat pendidikan petani dari lamanya sekolah formal yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Tingkat Pendidikan Formal Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010

Lama Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)

Rendah 27 64,3

Sedang 13 31,0

Tinggi 2 4,8

Total 42 100,0

Kategori tingkat pendidikan dapat dilihat berdasarkan sebaran lamanya pendidikan yang telah didapatkan oleh petani. Mayoritas petani adalah yang telah mengenyam pendidikan kurang dari 9 tahun dengan persentase mencapai 64,3 persen. Adapun untuk petani yang mengenyam pendidikan antara 9 sampai 12 tahun dikategorikan menjadi petani dengan tingkat pendidikan formal sedang dengan persentase mencapai 31 persen. Sisanya adalah petani dengan tingkat pendidikan tinggi dengan persentase hanya 4,8 persen. Dari keterangan tersebut, kebanyakan petani yang mengikuti SL-PTT adalah petani dengan tingkat pendidikan rendah. Tingkat pendidikan ini tidak terlalu mempengaruhi tingkat kemampuan petani dalam berusahatani, karena berdasarkan wawancara yang dilakukan, petani yang memiliki tingkat pendidikan tinggi adalah petani yang baru memulai usahatani dan tidak terlalu paham mengenai praktek usahatani yang baik, walaupun dari segi pengetahuan yang dimiliki relatif sama dengan petani lainnya.

5.1.3 Tingkat Pendidikan on Formal

Pendidikan non formal yang diikuti oleh petani peserta SL-PTT sangatlah beragam. Jenis pendidikan non formal tersebut antara lain pelatihan tingkat nasional, pelatihan tingkat provinsi, pelatihan tingkat kabupaten, pelatihan tingkat kecamatan, lokakarya, SL-PTT, SL-PHT, dan FMA. Pendidikan minimal yang didapat oleh petani adalah kegiatan sekolah lapang itu sendiri. Untuk mengetahui tingkat pendidikan non formal petani peserta SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Tingkat Pendidikan Non Formal Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010

Tingkat Pendidikan on

Formal Jumlah (orang) Persentase (%)

Rendah 39 92,8

Sedang 2 4,8

Tinggi 1 2,4

Total 42 100,0

Kebanyakan dari petani peserta SL-PTT adalah petani yang memiliki tingkat pendidikan non formal rendah yang persentasenya mencapai 92,9 persen.

Petani yang memiliki tingkat pendidikan non formal sedang dan tinggi

berturut-turut persentasenya adalah 4,8 persen dan 2,4 persen. Alasan yang mendasari rendahnya tingkat pendidikan non formal petani peserta SL-PTT adalah kebanyakan dari petani baru mendapatkan pendidikan non formal dari SL-PTT saja, sedangkan di luar kegiatan SL-PTT petani belum pernah mendapatkan jenis pendidikan non formal lainnya. Selain itu, pendidikan non formal bagi petani, sering kali hanya melibatkan pengurus Gapoktan ataupun pengurus kelompok tani saja, sehingga kesempatan mendapatkan pendidikan non formal tidak merata. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya anggaran biaya suatu kegiatan pelatihan, sehingga hanya dapat melibatkan beberapa petani saja sebagai perwakilan.

5.1.4 Tingkat Pengalaman Berusahatani

Pengalaman berusahatani petani peserta SL-PTT cukup beragam. Sebaran lamanya usahatani yang telah dilakukan oleh para petani ini antara satu sampai 53 tahun. Adapun untuk mengetahui tingkat pengalaman usahatani petani peserta SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Tingkat Pengalaman Berusahatani Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010

Tingkat Pengalaman

Berusahatani Jumlah (orang) Persentase (%)

Rendah 20 47,6

Sedang 16 38,1

Tinggi 6 14,3

Total 42 100,0

Tabel 13 menunjukkan bahwa kebanyakan dari petani yang mengikuti SL-PTT adalah petani dengan pengalaman usahatani rendah dengan persentase sebesar 47,6 persen, dimana sebarannya antara 1 sampai 17 tahun. Hal ini dapat dipahami karena kebanyakan dari petani peserta SL-PTT didominasi oleh petani usia sedang (lihat Tabel 11), dimana kebanyakan dari mereka adalah petani yang sebelumnya memiliki mata pencaharian non pertanian. Adapun tingkat pengalaman berusahatani rendah dan sedang berturut-turut persentasenya adalah 38,1 persen dan 14,3 persen. Sebaran lamanya usahatani pada tingkat sedang

adalah antara 18 sampai 34 tahun sedangkan sebaran untuk tingkat usahatani tinggi antara 35 sampai 53 tahun.

5.1.5 Tingkat Kekosmopolitan

Tingkat kekosmopolitan petani peserta SL-PTT dapat dilihat melalui seberapa intens petani memanfaatkan berbagai sumber informasi untuk kebutuhan usahataninya. Kebanyakan dari petani tersebut tidak pernah atau jarang memanfaatkan sumber informasi. Adapun untuk mengetahui secara lebih rinci tingkat kekosmopolitan petani peserta SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Tingkat Kekosmopolitan Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010

Tingkat Kekosmopolitan Jumlah (orang) Persentase (%)

Rendah 23 54,8

Sedang 18 42,8

Tinggi 1 2,4

Total 42 100,0

Kebanyakan dari petani Peserta SL-PTT adalah petani yang memiliki tingkat kekosmopolitan yang rendah dengan persentase mencapai 54,8 persen.

Sementara sisanya adalah petani dengan tingkat kekosmopolitan sedang sebesar 42,9 persen dan petani dengan tingkat kekosmopolitan tinggi sebesar 2,4 persen.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, selain banyak petani yang sering menjawab tidak pernah atau jarang menggunakan media informasi, kebanyakan dari petani ini sulit mengakses informasi usahatani disebabkan oleh acara pertanian yang jarang, anggota keluarga yang lain yang lebih menyukai acara lain selain pertanian, dan tidak adanya kesempatan atau sarana yang dimiliki untuk mendapatkan informasi pertanian tersebut.

5.1.6 Tingkat Motivasi Petani

Motivasi petani dalam mengikuti SL-PTT dibedakan ke dalam motivasi eksternal dan motivasi internal. Motivasi Internal diasumsikan memiliki pengaruh

lebih kuat dibandingkan motivasi eksternal. Adapun komposisi petani menurut motivasi petani dalam mengikuti SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Motivasi Petani dalam Mengikuti Kegiatan SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010

Motivasi Jumlah (orang) Persentase (%)

Motivasi eksternal 9 21,4

Motivasi internal 33 78,6

Total 42 100,0

Kebanyakan dari petani yang mengikuti SL-PTT adalah petani yang memiliki motivasi internal yaitu petani yang mengikuti SL-PTT karena alasan ingin mengetahui teknologi PTT yang akan diperkenalkan. Persentase petani peserta SL-PTT yang didorong oleh motivasi internal dalam mengikuti kegiatan sekolah lapangan adalah sebesar 78,6 persen. Adapun sisanya adalah petani SL-PTT yang mengikuti kegiatan sekolah lapangan karena diajak oleh ketua atau penyuluh dengan bantuan benih sebagai daya tarik bagi petani, dimana persentasenya mencapai 21,4 persen.

5.1.7. Luas Lahan Garapan dan Status Kepemilikan

Petani peserta SL-PTT tidak seluruhnya memiliki lahan garapan, sebagian dari mereka melakukan kegiatan usahatani dengan menyewa lahan dan melakukan sistem bagi hasil. Pengkategorian luas lahan dilakukan berdasarkan sebaran normal dari luas lahan garapan kategori rendah (< 0,5 Ha), luas lahan garapan kategori sedang (0,5 - 1Ha), dan luas lahan garapan kategori tinggi (> 1 Ha).

Untuk mengetahui luas garapan lahan petani yang mengikuti kegiatan SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Luas Lahan Garapan Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010

Luas Lahan Garapan Jumlah (orang) Persentase (%)

Rendah 31 73,8

Sedang 6 14,3

Tinggi 5 11,9

Total 42 100,0

Kebanyakan dari petani yang mengikuti SL-PTT adalah petani yang memiliki lahan garapan kurang dari 0,5 hektar dengan persentase sebesar 73,8 persen. Sisanya adalah petani dengan luas garapan sedang dan luas lahan garapan tinggi dengan persentase masing-masing 14,3 persen dan 11,9 persen. Lahan garapan ini didapatkan petani dengan cara yang berbeda-beda. Untuk mengetahui status lahan garapan petani yang mengikuti SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Status Lahan Garapan Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010

o. Status Lahan Garapan Jumlah (orang) Persentase (%)

1. Lahan Sendiri Digarap sendiri 6 14

2. Lahan Sendiri Digarap Sendiri dan Digarap Orang Lain

2

5 3. Lahan Sendiri Digarap sendiri dan Menggarap

Lahan Orang Lain dengan Sistem Sewa 7 17

4. Lahan Digarap Orang Lain dan Mengarap Lahan

Orang Lain dengan Sistem Bagi Hasil 1 2

5. Menggarap Lahan Orang Lain dengan Sistem Sewa 17 41 6. Menggarap Lahan Orang Lain dengan Sistem Bagi

Hasil 8 19

7. Mengarap Lahan Orang Lain dengan Sistem Sewa

dan Bagi Hasil 1 2

Total 42 100

Tabel 17 menunjukkan bahwa kebanyakan dari petani peserta SL-PTT adalah petani yang menggarap sawah orang lain dengan sistem sewa dengan persentase sebesar 42 persen. Untuk petani yang memiliki lahan sendiri dan menggarap lahannya sendiri mencapai persentase sebesar 14 persen. Terdapat petani yang memiliki lahan sendiri dan juga menggarap lahan orang lain dengan menggunakan sistem sewa dengan persentase sebesar 17 persen. Terdapat juga petani yang memiliki lahan sendiri namun digarap oleh orang lain, kemudian petani tersebut menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil dengan persentase 2 persen. Petani yang menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil mencapai 19 persen. Sisanya adalah petani yang memiliki lahan sendiri yang digarap sendiri dan digarap orang lain serta petani ang mengarap lahan orang lain dengan sistem sewa dan sistem bagi hasil dengan persentase masing-masing sebesar 5 persen dan 2 persen.

Petani yang menggarap lahan dengan sistem sewa menentukan perjanjian diawal untuk menentukan berapa banyak padi yang akan didapat oleh pemilik lahan sawah. Besarnya padi yang didapat oleh pemilik lahan harus dipenuhi, tidak bergantung pada hasil padi yang dipanen ke depannya. Jika hasil panen buruk, petani penggarap tetap harus memenuhi bagian padi dari pemilik lahan sesuai dengan jumlah yang ditentukan sebelumnya. Berbeda lagi dengan petani penggarap dengan sistem bagi hasil, modal untuk menanam padi berasal dari pemilik lahan dan penggarap lahan secara adil. Ketika panen tiba, antara pemilik lahan dan pengarap lahan mendapatkan bagian yang sama yaitu 1:1. Berbeda sekali dengan sistem sewa, apabila panen tidak mencapai hasil yang memuaskan, pada sistem bagi hasil antara pemilik lahan dan penggarap lahan menanggung kerugian yang besarnya sama rata. Terdapat juga petani yang memiliki lahan sawah tetapi karena lahannya sempit, mereka biasanya menambah lahan garapan dengan cara menyewa lahan lain. Ada juga petani yang memiliki lahan yang cukup luas tetapi tidak mampu menggarapnya sendiri, sehingga disewakan atau digarap dengan sistem bagi hasil.

5.2 Karakteristik Eksternal

5.2.1 Tingkat Kemampuan Penyuluh

Petani yang mengikuti SL-PTT memiliki penilaian yang berbeda-beda terhadap kinerja penyuluh pertanian. Hal ini tergantung dari seberapa rutin penyuluh melakukan kunjungan ke lapangan, dimana keintensifannya berbeda-beda antara kunjungan ke kelompok tani yang satu dengan kelompok tani yang lain. Adapun untuk mengetahui secara rinci tingkat kinerja penyuluh pertanian dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Tingkat Kemampuan Penyuluh di Desa Kebon Pedes Tahun 2010

Persepsi Petani Jumlah (orang) Persentase (%)

Rendah 8 19,0

Sedang 28 66,7

Tinggi 6 14,3

Total 42 100,0

Sebagian besar dari petani peserta SL-PTT memiliki persepsi yang sedang terhadap kinerja penyuluh pertanian, dengan persentase sebesar 66,7 persen.

Petani yang memiliki penilaian yang sedang terhadap kemampuan penyuluh ini biasanya petani yang keaktifan dalam kelompoknya rendah. Mereka hanya mengikuti pertemuan dengan alasan telah diundang dan jarang memberikan masukan atau kritik terhadap kegiatan penyuluhan. Adapun untuk petani yang memiliki penilaian yang rendah terhadap kemampuan penyuluh, persentasenya sebesar 19 persen, sedangkan sisanya adalah petani yang memiliki persepsi terhadap kinerja penyuluh yang tinggi dengan persentase sebesar 14,3 persen.

Petani yang jarang dilibatkan dalam kegiatan penyuluhan biasanya memiliki pernilaian yang rendah terhadap kemampuan penyuluh. Hal ini sangat jelas terlihat pada salah satu kelompok tani yang berada di Kampung Pamoyanan, dimana kegiatan penyuluhan tidak berjalan dengan baik. PPL yang bertugas di kampung tersebut tidak pernah hadir karena adanya ketidakakuran dengan ketua kelompok tani kampung tersebut. Kegiatan penyuluhan di kelompok tani ini akhirnya dilakukan oleh penyuluh swasta yang melakukan pendampingan dalam mempromosikan padi organik. Di luar kasus tersebut, kebanyakan dari petani peserta SL-PTT ini merasa bahwa penyuluh yang bertugas di wilayah binaannya belum dapat berkontribusi dalam membangun jaringan kerjasama antara petani dengan pihak lain sebagai mintra usaha.

5.2.2 Akses Petani terhadap Sarana Produksi (Saprodi)

Petani peserta SL-PTT memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mengakses kebutuhan sarana produksi pertanian. Berbeda dengan karakteristik yang lainnya, kemampuan akses terhadap sarana produksi tanaman hanya terbagi ke dalam kategori sedang dan tinggi. Adapun untuk mengetahui secara rinci kemampuan akses petani peserta SL-PTT terhadap sarana produksi pertanian dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Tingkat Kemampuan Akses Petani SL-PTT terhadap Saprodi di Desa Kebon Pedes 2010

Kemampuan Akses Saprodi Jumlah (orang) Persentase (%)

Sedang 10 23,8

Tinggi 32 76,2

Total 42 100,0

Kebanyakan dari petani peserta SL-PTT memiliki akses yang tinggi terhadap sarana produksi pertanian. Kebanyakan petani merasa tidak kesulitan dalam mendapatkan Saprodi. Petani biasa mendapatkan Saprodi dari kios Saprodi yang keberadaannya terjangkau. Sebagian besar (76,2 persen) petani SL-PTT merasa mampu mengakses Saprodi dengan mudah, sedangkan sisanya sebesar 23,8 persen merasa sedikit kesulitan dalam memenuhi Saprodi. Namun pada kenyataannya, tingginya kemampuan akses petani terhadap Saprodi ini mengalami bias. Hal ini disebabkan petani berpikir bahwa ketersediaan Saprodi ini pasti terjamin ketersediaannya di kios Saprodi, sehingga dalam mendapatkannya sangat mudah. Namun, dalam pelaksanaannya tidak semua petani yang memiliki kemampuan akses Saprodi tinggi ini dapat dengan mudah mendapatkan Saprodi karena sebagian dari mereka biasanya meminjam uang ke tengkulak terlebih dahulu untuk kemudian hasil panennya harus dijual kepada tengkulak yang telah meminjamkan modal kepada petani.

Ada juga petani yang harus menjadi buruh tani di lahan orang lain terlebih dahulu, sebelum akhirnya petani tersebut mendapatkan modal untuk melakukan usahatani di lahan garapannya. Oleh karena itu, pengertian kemampuan akses petani terhadap Saprodi ini lebih diartikan sebagai mudahnya petani menjangkau kios bahan-bahan pertanian yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sementara itu, untuk masalah modal usahatani, banyak dari petani yang merasakan kesulitan sehingga harus menjadi buruh tani di lahan orang lain atau mencari modal melalui usaha non pertanian, juga ada yang sampai meminjam modal kepada tengkulak.

5.2.3 Kemampuan Petani dalam Memasarkan Hasil Produksi

Petani peserta SL-PTT memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam memasarkan hasil produksi padi, Adapun untuk mengetahui secara rinci mengenai

kemampuan petani peserta SL-PTT dalam memasarkan hasil produksinya dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Tingkat Kemampuan Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes dalam Memasarkan Hasil Produksi Tahun 2010

Kemampuan Memasarkan Hasil

Produksi Jumlah (orang) Persentase (%)

Rendah 39 92,8

Sedang 2 4,8

Tinggi 1 2,4

Total 42 100,0

Kebanyakan petani peserta SL-PTT adalah petani yang memasarkan hasil produksi pertaniannya kepada tengkulak dan termasuk ke dalam kategori rendah dalam mengakses pasar. Persentase petani yang memiliki kemampuan rendah dalam mengakses pasar mencapai 92,9 persen, sedangkan sisanya masuk ke dalam kategori sedang dan tinggi dengan persentase masing-masing 4,8 persen dan 2,4 persen. Kebanyakan dari peserta SL-PTT tersebut lebih memilih untuk menjual hasil panennya kepada tengkulak karena menurut mereka lebih menguntungkan dan cepat mendapatkan uang. Berbeda dengan petani yang memiliki tingkat kemampuan menjual hasil panen pada kategori sedang, mereka mengeringkan gabahnya terlebih dahulu untuk kemudian dijual kepada tetangga atau distributor beras. Ada juga seorang petani yang sudah memiliki penggilingan beras sehingga dapat mengolah gabahnya sampai menjadi beras dan dipasarkan kepada distributor beras.

BAB VI

TIGKAT PARTISIPASI DA KEMADIRIA PETAI PESERTA SEKOLAH LAPAGA PEGELOLAA TAAMA TERPADU

6.1 Tingkat Partisipasi Petani Peserta SL-PTT

Tingkat partisipasi petani dalam kegiatan SL-PTT dilihat dari keikutsertaan petani dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi. Petani peserta SL-PTT memiliki tingkat partisipasi yang berbeda-beda, untuk melihat tingkat partisipasi petani dalam mengikuti kegiatan SL-PTT dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21. Tingkat Partisispasi Petani Peserta SL-PTT di Desa Kebon Pedes Tahun 2010

Tingkat Partisipasi Jumlah Persen

Rendah 10 23,8

Sedang 21 50,0

Tinggi 11 26,2

Total 42 100,0

Tabel 21 menunjukkan bahwa tingkat partisipasi terbesar (50 persen) berada pada kategori sedang. Sisanya adalah petani dengan tingkat partisipasi tinggi dan rendah dengan persentase masing-masing adalah 26,2 persen dan 23,8 persen. Persentase tersebut merupakan persentase keseluruhan partisipasi dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi. Sebagian besar dari petani peserta SL-PTT memiliki tingkat partisipasi yang rendah dalam kegiatan perencanaan dan evaluasi (lihat Gambar 3 dan Gambar 4) dengan persentase masing-masing 83,3 persen dan 64,3 persen.

Rendahnya partisipasi petani dalam perencanaan disebabkan kurangnya informasi yang diberikan mengenai kegiatan proses perencanaan kegatan SL-PTT.

Kegiatan perencanaan SL-PTT ini hanya dilakukan oleh beberapa calon peserta SL-PTT saja, terutama pengurus kelompok tani bersama penyuluh pertanian.

Begitu juga dengan kegiatan evaluasi, petani peserta SL-PTT yang tidak memiliki lahan pada labolatorium lapangan (sekitar tiga per empat dari jumlah peserta sekolah lapangan) biasanya tidak ikut evaluasi kegiatan disebabkan petani tersebut

tidak merasa harus mengikuti kegiatan tersebut karena mereka berpikir bahwa yang melakukan pemanenan cukup peserta yang memiliki lahan di labolatorium lapangan, sehingga sisanya tidak harus memanen hasil produksi yang telah dipraktekkan selama kegiatan SL-PTT. Itulah sebabnya tingkat partisipasi pada kegiatan SL-PTT didominasi oleh petani dengan tingkat partisipasi yang sedang.

6.1.1 Hubungan Karakteristik Internal dengan Tingkat Partisipasi Petani Karakteristik internal petani yang diukur dalam penelitian ini yaitu: umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, lama usahatani, tingkat kekosmopolitan (keterbukaan responden terhadap berbagai sumber informasi), motivasi petani, dan luas lahan garapan. Hubungan antara karakteristik internal petani dengan tingkat partisipasi dapat dilihat secara lebih jelas pada Tabel 22.

Tabel 22. Korelasi Variabel-variabel Karakteristik Internal Petani Peserta SL-PTT dengan Tingkat Partisipasi Petani di Desa Kebon Pedes

Keterangan: * Signifikansi α= 0,10 (cukup mempengaruhi dan cukup signifikan) ** Signifikansi α=0,05 (memengaruhi dan signifikan)

tidak ada keeratan hubungan antara variabel Umur (X1.1) dengan variabel tingkat partisipasi (Y1). Berdasarkan data tabulasi silang (lihat Lampiran 3), petani dengan kategori umur tinggi memiliki kecenderungan tingkat partisipasi yang rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Hakim (2007) yang menyatakan semakin tua umur responden maka responden tersebut semakin tidak berkontribusi dalam mengembangkan dinamika kelompok dan menumbuhkan partisipasi. Nilai negatif yang ada pada koefisien relasi menunjukkan bahwa semakin tinggi umur peserta SL-PTT maka tingkat

Variabel-variabel Karakteristik

partisipasinya cenderung akan rendah. Hal ini dapat menjelaskan bahwa terdapat hubungan berbanding terbalik antara variabel umur dengan variabel tingkat partisipas, namun hubungannya tidak nyata dengan taraf α>0,1.

Hasil tabulasi silang (lihat Lampiran 3) menunjukkan tidak ada pola kecenderungan hubungan antara variabel tingkat pendidikan formal (X1.2) dengan variabel tingkat partisipasi (Y1). Hal ini diperjelas dengan hasil uji rank Spearman yang menunjukkan tidak adanya hubungan yang nyata antara tingkat pendidikan formal dengan tingkat partisipasi pada taraf α>0,1. Hal ini dapat dijelaskan dengan faktor mata pencaharian ganda yang banyak ditekuni oleh petani peserta SL-PTT. Petani yang berada pada tingkat pendidikan formal sedang dan tinggi memiliki kecenderungan untuk memiliki mata pencaharian ganda. Mereka biasanya melakukan pekerjaan di luar sektor pertanian sebagai cara untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Petani yang berada pada kategori pendidikan formal tinggi adalah petani yang tergolong pada kategori usia sedang, dimana mereka masih memiliki kemampuan lebih untuk melakukan usaha di luar sektor pertanian sehingga partisipasi mereka dalam mengikuti kegiatan SL-PTT terhambat oleh kegiatan petani dalam melakukan usaha di luar sektor pertanian.

Pendidikan non formal (X1.3) merupakan variabel yang memiliki hubungan yang nyata dengan variabel tingkat partisipasi (Y1) pada taraf α=0,1.

Hasil data tabulasi silang (lihat Lampiran 3) menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan formal makan tingkat partisipasinya semakin tinggi. Sebagian besar petani (93 persen) berada pada kategori pendidikan non formal yang rendah (93 persen) dengan kecenderungan tingkat partisipasi sedang, sedangkan pada petani berkategori pendidikan non formal sedang dan tinggi, masing-masing memiliki kecenderungan berpartisipasi tinggi. Petani yang menjadi pengurus kelompok tani sering kali dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan penyuluhan seperti pelatihan PHT dan kegiatan-kegiatan penyuluhan lainnya. Oleh karena itu tingkat pendidikan non formal mereka cenderung lebih tinggi dibandingkan tingkat pendidikan non formal petani lainnya. Karena kedudukan mereka dalam kelompok lebih dekat dengan ketuan dan cenderung menjadi kontak tani, maka partisipasinya dalam kelompok lebih aktif yaitu sebagai penggerak anggota kelompoknya agar aktif berpartisipasi dalam kegiatan SL-PTT. Hal tersebut

mejadi faktor utama adanya hubungan yang nyata antara variabel tingkat pendidikan non formal dengan tingkat partisipasi petani.

Hasil uji korelasi rank Spearman menunjukkan bahwa antara variabel lama usahatani dengan tingkat partisipasi tidak terdapat hubungan nyata dimana taraf α>0,1. Data tabulasi silang menunjukan tidak ada kecenderungan petani yang semakin lama berusahatani akan memiliki tingkat partisipasi yang tinggi. Hal ini berkaitan dengan variabel tingkat kekosmopolitan (X1.5), dimana berdasarkan hasil penelitian Zulvera (2002) menunjukkan adanya kecenderungan petani yang memiliki pengalaman usahatani yang lama memiliki tingkat kekosmopolitan yang rendah sehingga kontribusi dalam melakukan partisipasi dalam SL-PTT tidak terlalu tinggi.

Petani dengan tingkat kekosmopolitan yang tinggi adalah petani yang memiliki keterbukaan terhadap informasi, sehingga petani seperti ini memiliki kecenderungan untuk lebih sering berinteraksi dengan penyuluh pertanian.

Adanya kecenderungan seperti ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat partisipasi dengan tingkat kekosmopolitan, dimana petani yang memiliki tingkat kekosmopolitan tinggi akan lebih sering berpartisipasi dalam kegiatan SL-PTT karena mereka memiliki motivasi lebih tinggi (motivasi internal yang tinggi) untuk mendapatkan informasi baru mengenai pertanian, sehingga mereka berusaha meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan ini. Hal ini diperkuat dengan hasil uji rank Spearman yang menunjukkan terdapat hubungan yang nyata

Adanya kecenderungan seperti ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat partisipasi dengan tingkat kekosmopolitan, dimana petani yang memiliki tingkat kekosmopolitan tinggi akan lebih sering berpartisipasi dalam kegiatan SL-PTT karena mereka memiliki motivasi lebih tinggi (motivasi internal yang tinggi) untuk mendapatkan informasi baru mengenai pertanian, sehingga mereka berusaha meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan ini. Hal ini diperkuat dengan hasil uji rank Spearman yang menunjukkan terdapat hubungan yang nyata