2012 2013 2014 2015 2016 1 Sarana sosial seperti pant
2. Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak
Kewenangan pemerintah Kabupaten Batang dalam penyelenggaraan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak telah diamanatkan dalam Undang- Undang Nomor 23 tentang Pemerintahan Daerah. Secara eksplisit, hak-hak asasi manusia (perempuan) merupakan hak fundamental yang tidak boleh dilangggar dan dijamin oleh UUD 1945. Sehingga Negara memiliki peran dan tanggung jawab dalam memenuhi hak- hak yang dimiliki oleh perempuan. Hak-hak yang dimiliki oleh perempuan tersebut diantaranya adalah keterlibatan perempuan dalam penyusunan kebijakan daerah,
keterwakilan perempuan dalam kelompok kepentingan, keadilan dan kesetaraan gender dan perlindungan kekerasan terhadap perempuan.
Kekerasan terhadap perempuan dapat juga disebut dengan kekerasan berbasis gender yang merupakan hambatan bagi perempuan untuk dapat memenuhi hak-hak dan kebebasannya. Sementara itu, perlindungan anak terhadap anak juga termasuk dalam perlindungan terhadap hak anak yang merupakan bagian dari hak asasi manusia. Setiap anak di Negara Republik Indonesia berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta memiliki hak perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.
Gambaran kinerja urusan Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak Kabupaten Batang selama kurun waktu tahun 2012-2016 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.38
Capaian Indikator Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak Kabupaten Batang Tahun 2012-2016
No Indikator Satuan Capaian Kinerja Tahun
2012 2013 2014 2015 2016 1 Partisipasi perempuan di lembaga swasta Orang 178.409 181.058 192.704 141.048 141.069 2 Rasio KDRT % 0.003 0.004 0.00 0.01 0.0006 3 Partisipasi angkatan kerja perempuan Orang 182.086 184.642 196.220 157.048 157.048 4 Penyelesaian pengaduan perlindungan
perempuan dan anak dari tindakan kekerasan
% 100 100 100 100 100
5 Cakupan perempuan
dan anak korban kekerasan yang mendapatkan
penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu
% 46 74 100 100 100
6 Cakupan perempuan
dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit
% 46 74 100 100 100
7 Cakupan layanan
rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban
No Indikator Satuan Capaian Kinerja Tahun
2012 2013 2014 2015 2016
kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu
8 Cakupan layanan
bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu
% 0 0 75 75 75
9 Cakupan penegakan
hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus- kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak
% 46 74 80 80 80
10 Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan bantuan hukum % 0 0 0 0 50 11 Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan
% 0 0 0 0 0
12 Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan
% 0 0 0 0 100
Sumber: DP3AP2KB Kabupaten Batang, 2017
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa kondisi Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak dapat dilihat dari partisipasi perempuan di lembaga swasta yang mengalami fluktuasi dimana tahun 2012 mencapai 178.409 orang, meningkat menjadi 192.704 orang di tahun 2014 dan turun menjadi 141.069 orang pada tahun 2016. Penurunan capaian juga terjadi pada Partisipasi angkatan kerja perempuan dimana tahun 2014 mencapai 196.220 orang dan turun menjadi 157.048 orang pada tahun 2015 dan tahun 2016. Sementara itu Cakupan Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan, Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam unit pelayanan terpadu, Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit, serta Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan seluruhnya telah tercapai 100% pada tahun 2016.
3. Pangan
Urusan Pangan merupakan kebutuhan dasar yang paling utama bagi manusia. Pemenuhan pangan juga merupakan komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk itu, Negara berkewajiban untuk mewujudkan konsumsi pangan yang cukup, bermutu dan bergizi seimbang baik di tingkat Nasional maupun Daerah dan secara merata di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sebagai Negara yang memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumber daya, Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri dan mampu ditopang dengan jumlah penduduk yang besar serta budaya lokal yang beragam sehingga dapat berdaulat dan mandiri.
Gambaran kinerja urusan Pangan Kabupaten Batang selama kurun waktu tahun 2012-2016 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.39
Capaian Indikator Urusan Pangan Kabupaten Batang Tahun 2012-2016
No Indikator Satuan Capaian Kinerja Tahun
2012 2013 2014 2015 2016 1 Ketersediaan pangan utama - Beras Ton 82.157 92.340 100.422 111.036 115.883 - Jagung Ton 34.347 44.203 44.331 36.254 39.473 2 Produksi hasil ternak: - Daging Kg 9.198.399 9.109.000 4.168.000 9.080.000 9.750.000 - Telur Kg 4.182.577 6.627.000 6.725.000 6.627.000 7.000.000 - Susu Liter 105.500 87.570 89.000 87.600 115.000 3 Persentase ketersediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan % 90 90 100 100 100 4 Persentase harga realisasi dan pasokan pangan komoditas pilihan % 90 90 100 100 100 5 Ketersediaan energi
dan protein per kapita
- Energi per kapita Kal 2.271 2.734 2.892 3.023 3.023
- Protein per kapita G 252 86 92 95 95
6 Skor pola pangan
harapan (PPH)
% 83,10 82,60 85,10 84,80 84,80
7 Penguatan cadangan
pangan
Ton 4,17 6,50 7,60 6,67 6,67
8 Stabilitas harga dan
pasokan pangan % 100 100 100 100 100 9 Pengawasan harga dan pembinaan keamanan pangan % 100 100 100 100 100
No Indikator Satuan Capaian Kinerja Tahun
2012 2013 2014 2015 2016
10 Penanganan daerah rawan pangan
% 43 50 57 57 57
Sumber: Dispaperta Kabupaten Batang, 2017
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa kondisi Pangan di Kabupaten Batang dapat dilihat dari ketersedian pangan utama yang meliputi ketersediaan beras mengalami peningkatan dengan jumlah sebesar 115.883 Ton pada tahun 2016 dan ketersediaan jagung mengalami fluktuasi yang sebelumnya mengalami peningkatan mulai tahun 2012, kemudian menurun di tahun 2015 dan kembali meningkat menjadi 39.473 Ton pada tahun 2016. Kemudian untuk produksi hasil ternak daging, telur dan susu mencapai sebesar 9.750.000 kg, 7.000.000 kg dan 115.000 liter pada tahun 2016.
Persentase ketersediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan, Persentase harga realisasi dan pasokan pangan komoditas pilihan, Stabilitas harga dan pasokan pangan dan Pengawasan harga dan pembinaan keamanan pangan telah tercapai 100% pada tahun 2016. Kemudian ketersediaan energi dan protein per kapita pada tahun 2016 sebesar 3.023 Kal dan 95 G. Sedangkan Skor pola pangan harapan (PPH) mengalami penurunan mulai tahun 2015 sebesar 84,80% yang sebelumnya sebesar 85,10% di tahun 2014. Skor pola pangan harapan digunakan untuk perencanaan konsumsi, kebutuhan dan penyediaan pangan di Kabupaten Batang. Kondisi yang sama terjadi pada penguatan cadangan pangan yang mengalami penurunan mulai tahun 2015 sebesar 6,67 Ton yang sebelumnya di tahun 2014 sebesar 7,6 Ton.
4. Pertanahan
Gambaran kinerja pada urusan Pertanahan di Kabupaten Batang selama kurun waktu tahun 2012-2016 dapat dilihat dari beberapa indikator sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 2.40
Capaian Indikator Urusan PertanahanKabupaten Batang Tahun 2012-2016
No Indikator Satuan Capaian Kinerja Tahun
2012 2013 2014 2015 2016 1 Persentase pemohon sertifikat % 100 100 100 100 50 2 Prona (Program Nasional) % 100 100 100 100 50
Sumber: Bagian Tapem Sekda Kabupaten Batang, 2016
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa kondisi Pertanahan dapat dilihat dari Persentase pemohon sertifikat dan Prona (Program Nasional) dimana kedua capaian tersebut sama-sama mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 100% di tahun 2015 menjadi sebesar 50% pada tahun 2016.