BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH
2. TRAYEK ANGKUTAN PERDESAAN JALUR
2.4.1.11 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
a. Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah.
Persentase partisipasi perempuan di Lembaga pemeringtah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Demikian juga jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon IV dan Eselon III, namun untuk eselon II dari Tahun 2011 menuju Tahun 2013 sampai 2015 mengalami penurunan, hal ini disebabkan makin berkurang dan terbatasnya SDM PNS perempuan yang memenuhi persyaratan (Daftar Urut Kepangkatan maupun kompetensi lainnya) untuk dapat menduduki jabatan Esselon II.
b. Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta
Persentase pekerja perempuan di lembaga swasta makin tahun makin bertambah. Hal ini dapat disebabkan semakin meningkatnya peran gender dalam kehidupan sosial dan ekonomi dimana fungsi perempuan yang makin mengalami transformasi dari dahulu sekedar mendampingi dan merawat keluarga telah bergeser menjadi pencari nafkah utama, karena semakin terdesak oleh kebutuhan dasar, psikologis maupun pengembangan yang disadari apabila tanpa peran serta perempuan maka keluarganya akan semakin kesulitan dalam persaingan bagi kehidupan generasi berikutnya.
Persentase partisispasi perempuan di Lembaga pemerintahan dan swasta selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.82 sebagai berikut:
Tabel 2.82
Persentase partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah dan Swasta Tahun 2010-2015
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah pekerja perempuan 67.061 68.878 70.335 70.382 71.743 72.201 Pekerja perempuan di
Lembaga pemerintah 5.539 5.569 5.277 5.250 5.441 5.437 Jumlah perempuan yang
menempati jabatan eselon II 3 5 5 3 3 3
Jumlah perempuan yang 31 27 27 27 31 32
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 99
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
menempati jabatan eselon III Jumlah perempuan yang
menempati jabatan eselon IV 238 224 238 230 240 249
Persentase pekerja perempuan
di lembaga pemerintah 8,26 8,09 7,50 7,46 7,58 7,53 Jumlah perempuan yg bekerja
di lembaga swata 61.522 63.309 64.745 65.132 66.302 66.764
% pekerja perempuan di
lembaga swasta 87,74 91,91 92,05 92,54 92,42 92,47
Sumber: Badan KB dan PP, 2015 c. Rasio KDRT
Rasio KDRT dari Tahun 2013-2015 terus mengalami peningkatan. Semakin kompleksnya permasalahan dalam era milenium, berpengaruh juga dalam kehidupan di segi keluarga. Keluarga yang kurang mempunyai ketahanan yang kuat akan menyebabkan rapunya sendi-sendi kehidupan dari sebuah keluarga..
Kekerasan bisa terjadi pula di luar keluarga tersebut, hal ini karena multidimensi dan multifaktor. Kehidupan yang makin modern dengan kemajuan komunikasi dan informasi dapat pula menjadi pemicu sebuah kekerasan. Faktor ekonomi maupun sosial politik dan budaya juga bisa menyebabkan KDRT. Rasio KDRT Tahun 2010-2015 dapat dilihat pada Tabel 2.83
Tabel 2.83
Rasio KDRT Kabupaten Semarang Tahun 2010-2015
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah KDRT 134 116 131 112 106 188
Jumlah Rumah
Tangga 245.038 244.695 243.033 240.047 263.582 270.645 Rasio KDRT 0,055 0,047 0,054 0,047 0,040 0,069 Sumber: Badan KB dan PP Kabupaten Semarang, 2015
d. Persentase Jumlah Tenaga Kerja Dibawah Umur.
Data tentang jumlah tenaga kerja di bawah umur di Kabupaten tidak ditemukan, baik dari BPS maupun SKPD lainnya yang mengampu pada permasalahan ini.
Namun demikian pada riil dilapangan disinyalir masih ada, walaupun belum terekam dalam dokumentasi data. Pada kurun Tahun 2010-2014 masih terdapat data mengenai jumlah tenaga kerja dibawah umur, namun hanya secara persentasenya saja karena data kompilasi primernya tidak disebutkan. Namun pada Dari temuan data ini, menjadi penting bahwa masih perlunya program antisipasi terhadap pekerja di bawah umur. Pekerja di bawah umur dapat terjadi misalnya pada sektor pertanian dimana anak-anak petani mungkin membantu orang tua dalam kegiatan pertaniannya, atau sektor informal lainnya yang terlihat namun belum terdeteksi dalam acuan kompilasi data survey maupun sensus.
Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.84
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 100 Tabel 2.84
Persentase Jumlah Tenaga Kerja Dibawah Umur Tahun 2010-2015
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Pekerja anak usia
5-14 tahun - 3.679 - - - -
Jumlah pekerja usia
15 tahun ke atas - 506.384 - - - -
Persentase jumlah naker di bawah
umur 0,97 0,73 - - 0,14 -
Sumber: Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang, 2015.
e. Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan
Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk kegiatan pekerja tidak dibayar yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi. Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran. Partsisipasi angkatan kerja perempuan adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang perempuan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Partisipasi angkatan kerja perempuan di Kabupaten Sermarang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.85
Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Tahun 2010-2015
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah Partisipasi Angkatan Kerja
Perempuan 223.871 230.487 231.396 232.660 296.290 230.249 Jumlah Angkatan
Kerja Perempuan 473.993 476.210 484.060 486.737 427.830 487.496 Prtisipasi Angkatan
Kerja Perempuan 47,23 48,40 47,80 47,80 69,02 47,23 Sumber: BPS Kabupaten Semarang, 2015
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa partisipasi angkatan kerja perempuan di Kabupaten Semarang semakin tahun semakin meningkat, walaupun jumlah partisipasi angkatan kerja dan jumlah angkatan kerjanya menurun. Namun demikian secara prosentase partisipasi angkatan kerja perempuan meningkat. Hal ini dapat dipahami, seperti pada penjelasan sebelumnya, bahwa dalam mencapai kebutuhan diperlukan potensi usia produksi untuk bekerja termasuk perempuan, karena diperlukan dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup rumah tangganya yang dari hari ke hari semakin meningkat pula.
f. Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan Anak dari tindakan kekerasan
Jumlah Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan dari tahun 2010-2014 cederung tetap dan pada Tahun 2015
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 101 menurun lebih dari 50%, tetapi secara prosentase berdifat flutuatif. Kasus pengaduan terhadap KDRT diharapkan dari tahun ke tahun dapat menurun, artinya apabila ini terjadi maka ada peningkatan kesadaran di masyarakat tentang pentingnya persamaan gender (gender equality) dan meningkatnya kesetaraan gender dalam kehidupan masyarakat baik dari segi sosial, ekonomi, politik, budaya maupun hukum. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.86
Penyelesaian Pengaduan Perlindungan Perempuan dan Anak Dari Tindakan Kekerasan Tahun 2010-2015
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Jumlah Pengaduan perlindungan
perempuan dan anak yang
terselesaikan 25 25 25 25 25 10
Jumlah Pengaduan perlindungan
perempuan dan anak 129 113 131 112 106 98
Prosentase Penyelesaian Pengaduan perlindungan perempuan dan anak
dari kekerasan yang terselesaikan 19,38 22,12 19,08 22,32 23,58 10,20 Sumber: Badan KB dan PP Kabupaten Semarang, 2015
Untuk menanganai permasalahan pendagaduan dan perlindungan perempuan dan anak telah dibentuk Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Di tingkat Kabupaten P2TP2A sebagai koordinator penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, sedangkan ditingkat Kecamatan disebut Petugas Pendamping Terpadu (PPT). Sampai dengan dengan Tahun 2015 ada 26 PPT, baik yang ada di Kecamatan, Puskesmas, 2 rumah sakit dan ada di Polres. Kurang optimalnya fungsi P2TP2A ini bisa dilihat dari indikasi jumlah kekerasan terhadap perempuan dan anak yang selalu terjadi. Itu juga dari kelembagaan PPT yang ada, baru 8 (delapan) yang sudah memiliki SK ditingkat kecamatan. Oleh sebab itu kedepan perlu ditingkatkan kembali baik dari segi eksistensinya maupun tugas pokok dan fungsinya.
Hak anak yang terdiri dari 5 (lima) Hak yaitu: 1) Hak Hidup; 2) Hak Tumbuh Kembang; 3) Hak memperoleh Pelayanan Dasar; 4) Hak memperoleh pendidikan; 5) Hak memperoleh perlindungan tindak kekerasan, pemenuhannya belum optimal, ini bisa dilihat dari capaian pesentase kepemilikan akte kelahiran sebagai bagian dari hak hidup yang masih belum 100% yakni baru 19% pada Tahun 2015. Selain itu bisa juga dilihat dari indikasi selalu terjadinya tindak kekerasan terhadap anak, tercatat pada Tahun 2015 ada 88 kasus.
Indikator capaian kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk bidang Pelayanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan sebagai berikut.
Untuk bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, meskipun belum tersedia data tahun 2015 untuk beberapa indikator, namun secara umum hingga tahun 2014 sebanyak 73,91% indikator bidang pemberdayaan perempuan dan PA telah mencapai SPM (100%). Indikator-indikator tersebut adalah (1) cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih di dalam Unit Pelayan Terpadu, (2) cakupan ketersediaan petugas di Unit Pelayanan Terpadu yg memiliki kemampuan utk menindaklanjuti pengaduan/laporan masyarakat, (3) cakupan perempuan dan
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 102 anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di puskesmas mampu tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di RS, (4) cakupan puskesmas mampu tatalaksana kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (KtP/A), (5) cakupan RSU Vertikal/RSUD/RS Swasta/RS Polri yang melaksanakan pelayanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan, (6) cakupan tenaga kesehatan terlatih tentang tatalaksana kasus korban kekerasan terhadap perempuan dan anak (KtP/A) di puskesmas, (7) cakupan tenaga kesehatan terlatih tentang tatalaksana kasus korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di rumah sakit, (8) cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam Unit Pelayanan Terpadu, (9) cakupan petugas rehabilitasi sosial yang terlatih, (10) cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, (11) cakupan penyelesaian penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di tingkat kepolisian, (12) cakupan ketersediaan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) di Polda dan Polres/ta, (13) cakupan ketersediaan sarana dan prasarana di UPPA, (14) cakupan ketersediaan jaksa yang terlatih dalam penuntutan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, (15) cakupan ketersediaan hakim yang terlatih dalam menanggani perkara kekerasan terhadap perempuan dan anak, (16) cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan bantuan hukum, dan (17) cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan.
Beberapa indikator bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang belum mencapai SPM (100%) ditunjukkan oleh tabel berikut ini:
Tabel 2.87
Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Pelayanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Kabupaten Semarang 2013 – 2015 (%)
Jenis Pelayanan Indikator Tahun (%)
1. Cakupan Layanan Bimbingan Rohani yang Dierikan Oleh Petugas Bimbing an Rohani Terlatih Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan di Dalam Unit Pelayanan Terpadu
100 **) **)
2. Cakupan petugas bimbingan rohani
terlatih dalam melakukan bimbingan 100 **) **)
3. Cakupan ketersediaan polisi yang terlatih dalam memberikan layanan yang sensitif
gender 100 10 **)
4. Cakupan ketersediaan petugas pendam ping hukum atau advokat yg mempunyai kemampuan pendampingan pd saksi dan /atau korban kekerasan thd perempuan dan anak
5. Cakupan Layanan Pemulangan Bagi
Perempuan dan Anak Korban Kekerasan **) 4 - 6. Cakupan ketersediaan petugas terlatih
untuk melakukan reintegrasi sosial 100 - **)
Sumber: Badan KB dan PP Kabupaten Semarang, 2015
**) Data tidak tersedia
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 103 2.1.12. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
Indikator kerja yang berhubungan dengan Kependudukan dan Keluarga Berencana adalah terwujudnya norma keluarga kecil yang berkualitas dan sejahtera yang ditandai dengan pencapaian peserta KB Aktif sebesar 82%, Rasio Akseptor Keluarga Berencana melalui pencapaian Peserta KB Baru sebesar 106% terhadap Perkiraan Permintaan Masyarakat (PPM), rata-rata jumlah anak per keluarga 3,25 orang, prosentase Keluarga Sejahtera Tahap I (KS I) sebesar 25% dan Prosentase Keluarga Pra Sejahtera (Pra KS) sebesar 20%.
Secara umum capaian Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera disajikan pada Tabel berikut:
a. Rata-rata jumlah anak per keluarga
Rata-rata jumlah anak dari tahun ke tahun bersifat fluktuatif namun tidak terlalu jauh berbeda. Hal ini karena pertumbuhan penduduk yang makin besar dapat dikendalikan melalui pengaturan dan penjarangan kelahiran dengan program Keluarga Berencana. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa walaupun terjadi pertambahan rata-rata jumlah jiwa per keluarga, namun relatif kecil dan relatif stabil. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.88
Tabel 2.88
Rata-rata jumlah anak per keluarga Tahun 2010-2015
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah Jiwa 934.993 942.429 947.261 941.023 965.315 970.146 Jumlah keluarga 295.668 278.819 280.353 282.096 286.016 306.731 Rata-rata jumlah
jiwa per keluarga 3,16 3,38 3,38 3,34 3,38 3,16 Sumber: Badan KB dan PP Kabupaten Semarang, 2015
b. Rasio akseptor KB
Rasio Akseptor KB adalah perbandingan antara pencapaian jumlah peserta KB Baru dan KB Aktif dibandingkan dengan pasangan usia subur yang kemudian di persenkan. Adapun rasio akseptor baru dari Tahun 2010-2015 dapat dilihat dalam tabel 2.89 berikut.
Tabel 2.89
Rasio Akseptor KB Tahun 2010-2015
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah akseptor
KB 185.297 184.147 190.352 176.396 178.301 183.557 Jumlah
Pasangan Usia
Subur 190.577 191.447 192.358 182.608 186.112 192.239 Rasio Akseptor
KB 97,23 96,19 98,96 96,60 95,80 95,48
Sumber: Badan KB dan PP Kabupaten Semarang, 2015
Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa dari Tahun 2010-2015 Rasio akseptor KB terhadap pasangan usia subur belum dapat mencapai 100%. Untuk mencapai visi pertumbuhan tumbuh seimbang dengan TFR 2,0 diperkirakan memrlukan rasio KB antara 80-85%. Rasio akseptor KB yang dijadikan indikator tersebut, Kabupaten Semarang telah mencapai TFR 2,02
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 104 (dihitung dengan formulasi Bongart) pada Tahun 2014. Dengan makin tinggi rasio akseptor KB terhadap pasangan usia subur menunjukkan makin menurunnya fertilitas, yang pada muaranya menurunkan total fertility rate (TFR). Seperti disebutkan diatas TFR 2,02 adalah pencapaian di Kabupaten Semarang sebagai dampak rasio akseptor KB yang sudah cukup bagus.
Angka tersebut artinya kemampuan rata-rata seorang ibu melahirkan di Kabupaten Semarang sampai habis masa reprouksinya adalah 2-3 kelahiran.
c. Cakupan Peserta Aktif
Peserta KB Aktif adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang saat ini menggunakan salah satu alat kontrasepsi tanpa diselingi kehamilan. Peserta KB aktif yang makin banyak menggambarkan keberhasilan pengendalian kependudukan dalam menciptakan norma keluarga kecil. Adapun pencapaian Peserta KB Aktif di Kabupaten semarang dari Tahun 2010-2015 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.90
Cakupan Peserta Aktif. Tahun 2010-2015
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah akseptor
KB Aktif (PA) 158.455 159.462 163.160 152.321 154.788 159.904 Jumlah Pasangan
Usia Subur 190.577 191.447 192.358 182.608 186.112 192.239 Cakupan Peserta
KB Aktif 83,14 83,29 84,82 83,41 83,17 83,18
Sumber: Badan KB dan PP Kabupaten Semarang, 2015
Dari tabel 2.90 dapat dilihat bahwa cakupan peserta KB Aktif relatif sama, yaitu berkisar 83%. Hal ini menunjukkan keberhasilan program KB di Kabupaten Semarang dalam menjaga keberlangsungan pemakaian alat kontrasepsi. Konsistensi para akseptor dalam keberlangsungan pemakaian alat kontrasepsi untuk ber KB ini dikarenakan selain terus menerus dilakuan komunikasi Informasi dan Edukasi maupun advokasi oleh jajaran Badan KB dan PP sampai jajaran lini lapangan kepada masyarakat, juga didukung oleh sarana dan prasarana serta dukungan lintas sektoral.
d. Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahera I
Keluarga Sejahtera, adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.
Keluarga Pra Sejahtera yaitu keluarga keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic needs) secara minimal, seperti kebutuhan akan pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan.
Keluarga Sejahtera I yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologisnya (socio psychological needs), seperti kebutuhan ibadah, makan protein hewani, pakaian, ruang untuk interaksi keluarga, dalam keadaan sehat, mempunyai penghasilan, bisa baca
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 105 tulis latin dan keluarga berencana. Berikut pencapaian keluarga pra sejahtera dan sejahtera I di Kabupaten Semarang Tahun 2010-2015.
a. Keluarga Pra Sejahtera
Pada Tahun 2015 keluarga Pra Sejahtera mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan pada variabel luas lantai yang sebagaian besar masih berupa tanah, dinding dan atap yang layak pada sebagaian rumah yang dimiliki oleh keluarga belum terealisir. Kemungkinan kondisi dan situasi perekonomian belum dapat melakukan rehabilitasi tempat tinggalnya atau dapat dimungkinkan keluarga baru yang masih dalam perencanaan untuk membangun atau merehab rumah yang lebih baik. Selain faktor papan, dapat dikatakan pra sejahtera apabila ada salah satu anggota keluarga yang berumur 7-18 tahun (usia SD-SMA) tidak bersekolah. Dari uraian di atas dapat disimpulkan kemungkinan besar faktor ekonomi yang memicu terjadinya keluarga pra sejahtera.
b. Keluarga Sejahtera I
Keluarga Sejahtera I seperti diuraikan definisi diatas telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya. Dari data yang ada bahwa jumlah keluarga sejahtera I mengalami penurunan, ini berarti keluarga-keluarga yang telah berhasil memenuhi kebutuhan dasar dan sosial psykologisnya makin relatif meningkat.
Selengkapnya Jumlah keluarga Pra sejahteradan Sejahtera I selama 2010—2015 dapat dilihat pada tabel 2.91.
Tabel 2.91
Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I Tahun 2010-2015
URAIAN 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah Keluarga 295.658 278.819 280.353 282.096 286.016 306.731 Jumlah Keluarga Pra
Sejahtera 78.190 70.299 69.952 64.201 73.465 78.164 Prosentase Keluarga
Pra Sejahtera 26,45 25,21 24,95 22,76 25,69 25,48 Jumlah Keluarga
Sejahtera I 44.981 51.682 52.259 70.204 53.114 56.257
% Keluarga Sejahtera 15,21 18,54 18,64 24,89 18,57 18,34 Sumber: Badan KB dan PP Kabupaten Semarang, 2015
Indikator capaian kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera sebagai berikut. Untuk bidang keluarga berencana, hingga Tahun 2015 indikator telah mencapai SPM sesuai dengan yang diharapkan sebesar 55,55%. Indikator-indikator tersebut adalah (1) cakupan sasaran pasangan usia subur menjadi peserta KB aktif (target 65%, tercapai 83,19%), (2) cakupan anggota bina keluarga balita (BKB) ber-KB (target 70%, tercapai: 88,8%), (3) cakupan PUS peserta KB anggota usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS) yang ber-KB (target: 87%, tercapai: 87,27%), (4) rasio Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) 1 (satu) petugas di setiap desa/kelurahan, dan (5) cakupan penyediaan informasi data mikro keluarga di setiap desa/kelurahan 100% setiap tahun.
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 106 Sementara itu, indikator bidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera yang belum mencapai target ditunjukkan oleh tabel berikut ini:
Tabel 2.92
Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Kabupaten Semarang 2013 – 2015 (%)
Jenis Pelayanan Dasar Indikator SPM Tahun
2013 2014 2015 Komunikasi Infor masi dan
Edukasi Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera (KIE KB dan KS
1. Cakupan PUS yang isterinya dibawah
usia 20 tahun (3,5%) 5,06 5,42 5,42
2. Cakupan Pasangan Usia Subur yang ingin ber-KB tidak terpenuhi (unmet
need) 5% 27,07 37,29 16,81
3. Ratio Petugas Lapangan Keluarga Berencana/Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/ PKB) 1 Petugas di setiap 2 (dua) desa/kelurahan
Petugas /Desa
0,23 0,23 0,23 Penyediaan Alat dan Obat
Kontrasepsi 4. Cakupan Penyediaan alat dan obat kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarakat 30% setiap tahun
67 **) **)
Sumber: Badan KB dan PP Kabupaten Semarang, 2015
**) Data Tidak Tersedia
2.4.1.12 Sosial
Capaian kinerja Urusan Sosial dalam kurun waktu Tahun 2010-2015 adalah sebagai berikut:
a. Sarana Sosial, seperti: panti asuhan, panti jompo, dan panti rehabilitasi Capaiannya dari Tahun 2010-2015 telah memenuhi target yang telah ditetapkan dalam RPJMD dan setiap tahunnya juga mengalami kenaikan.
Target yang ditetapkan pada Tahun 2015 sebanyak 40 buah panti, dan capaian Tahun 2015 sejumlah 48 panti, hal ini menunjukan semakin meningkatnya partisipasi masyarakat untuk ikut peduli terhadap penanganan permasalahan kesejahteraan sosial yang ada.
b. Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial
Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) kondisi Tahun 2010 s/d Tahun 2015 mengalami kenaikan, hal ini dikarenakan semakin bertambahnya anggaran untuk penanganan PMKS baik yang bersumber dari APBD Kabupaten Semarang, juga adanya bantuan dari Pemerintah Propinsi, Pemerintah Pusat (Program Keluarga Harapan, Program Simpanan Keluarga Sejahtera) dan Bantuan dari lembaga Swadaya masyarakat/LSM. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel berikut
Tabel 2.93
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 107
PMKS Sat Tahun
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Anak Nakal Jiwa 19 25 45 24 5 -
Anak jalanan Jiwa 6 31 50 30 25 70
Anak cacat Jiwa 212 424 518 212 130 98
Wanita Rawan
Sosial Ekonomi Jiwa 40 100 357 50 0 120
Lanjut Usia Terlantar Jiwa 159 318 325 57 163 272 Penyandang Cacat Jiwa 380 621 748 311 168 139 Penyandang Cacat
Bekas Penderita Penyakit Kronis (Eks. BK)
Jiwa 0 50 50 5 0 -
Penyandanfg
HIV/Aids Jiwa 33 33 35 4 20 127
Tuna Susila Jiwa 0 0 50 120 52 20
Pengemis Jiwa 8 26 30 31 26 82
Gelandangan dan
Orang Terlantar Jiwa 367 630 412 150 325 296 Pekerja Migran
Bermasalah Jiwa 4 4 5 75 75 20
Korban Penyalah
gunaan Nafsa Jiwa 0 0 25 25 0 -
Keluarga Fakir
Miskin KK 40 9.420 10.280 46.450 46.450 56.095 Keluarga Berumah
Tak Layak Huni KK 113 113 258 0 75 434
Keluarga Bermasa
lah Psikologis KK 22 46 150 200 380 203
Komunitas Adat
Terpencil KK 0 0 119 0 100 -
Korban Bencana alam KK 2 207 126 80 1726 2.175 Jumlah 1.525 12.287 13.992 57.008 51.337 61.264 Sumber: Dinsosnakertrans,2015
Indikator capaian kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk bidang Sosial sebagai berikut. Untuk bidang sosial, sampai dengan tahun 2015, 42,85 persen indikator jenis pelayanan dasar dan sub kegiatan telah melampui target nasional 80 persen, 40% untuk presentase (%) penyandang cacat fisik dan mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial). Indikator-indikator tersebut adalah (1) presentase (%) panti sosial skala kabupaten/kota yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial (100%), (2) presentase (%) wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan social (100%), dan (3) presentase (%) korban bencana skala kabupaten/kota yang menerima bantuan sosial selama masa tanggap darurat (82,13%).
Sedangkan indikator-indikator bidang sosial yang belum mencapai target nasional adalah sebagaimana tercantum dalam Tabel 2.94 pada halaman berikut:
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 108 Tabel 2.94
Standar Pelayanan Minimal Penanganan PMKS Tahun 2010-2015 No Jenis Pelayanan
Dasar & Sub
Kegiatan ndikator Target Nas Capaian Di Kab Semarang ( %) Nilai Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 1 Pelaksanaan prog /kegiatan bidang sosial:
Pemberian
2 Penanggulangan korban Bencana a Bantuan
3 Pelaksanaan dan pengembangan jaminan sosial bagi penyandang cacat fisik dan mental, serta lanjut usia tidak potensial:
Secara umum capaian Urusan Ketenagakerjaan sesuai target pada Tahun 2010- 2015 adalah sebagai berikut:
a. Rasio Penduduk yang bekerja
Sampai dengan akhir Tahun 2015 Rasio Penduduk yang bekerja di Kabupaten Semarang kecenderungannya mengalami peningkatan terutama pada Tahun 2013, kenaikannya cukup signifikan dibanding Tahun 2012, hal ini dikarenakan banyaknya pertumbuhan industri di Kabupaten Semarang baik karena investasi baru maupun adanya relokasi perusahaan dari daerah lain yang dapat menyerap tenaga kerja. Adapun capaian pada akhir Tahun 2015 adalah sebesar 65,93 % mencapai target yang telah ditetapkan dalam RPJMD yakni 52,20%.
Bappeda Kab. Semarang (2016)
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016-2021 II - 109 b. Angka Partisipasi Angkatan Kerja
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Kabupaten Semarang 5 (lima) tahun terakhir masih cukup tinggi/diatas target yang ditetapkan, hanya pada Tahun 2014 mengalami sedikit penurunan hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya taraf hidup masyarakat, penduduk dengan usia angkatan kerja tidak langsung bekerja tetapi melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, sehingga penduduk angkatan kerja semakin menurun. Untuk target 2015 adalah 87,15% dan terealisasi 87,40%.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Kabupaten Semarang 5 (lima) tahun terakhir masih cukup tinggi/diatas target yang ditetapkan, hanya pada Tahun 2014 mengalami sedikit penurunan hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya taraf hidup masyarakat, penduduk dengan usia angkatan kerja tidak langsung bekerja tetapi melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, sehingga penduduk angkatan kerja semakin menurun. Untuk target 2015 adalah 87,15% dan terealisasi 87,40%.