BAB II: LANDASAN TEORI DAN METODE PENELITIAN
D. Pemberhentian dan Pengangkatan Presiden dan wakil
Kata “Pemberhentian”, “Pemakzulan”, dan “Impeachment” selalu dimaknai sama. Hal tersebut telah banyak dijelaskan oleh para akademisi- akademisi bahwa ketiga kata tersebut memiliki arti “pemaknaan” yang berbeda satu dengan lainnya. Kesalahan penafsiran mengenai peristilahan-peristilahan tersebut sering ditemui.
Pertama, kata “Pemberhentian” merupakan kata resmi yang dipergunakan dalam ketentuan UUD NRI Tahun 1945. Dilihat dari sudut bentuk kata “Pemberhentian” berasal dari kata “berhenti” yang mendapat beberapa imbuhan (affic), secara sekaligus (simulfix) berupa awalan (prefix): “pe” dan “pem”, serta akhirnya “sufix an” yang berarti upaya seseorang yang memerintahkan untuk tidak melakukan sesuatu kepada orang lain. Sedangkan apabila dimaknai “berhenti” dapat bersifat timbul dari dalam diri pribadi “otonom” atau timbul karena paksaan dari luar diri pribadi “otonom”. Setidak-tidaknya terdapat sekitar delapan (8) penggunaan kata “berhenti” khusus terhadap jabatan Presiden dan/atau Wakil Presiden dan secara umum terdapat tiga belas (13) penggunaan kata “berhenti” dalam UUD NRI Tahun
1945.63
63 Hamdan Zoelva, Pemberhentian Presiden Di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm. 99. Lihat juga Hamdan Zoelva, Impeachment Presiden Alasan Tindak Pidana Pemberhentian Presiden Menurut UUD 1945, o.p cit., hlm. 13.
Mekanisme pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden sebelumnya diatur dalam TAP MPR No. VI/MPR/1973 tentang Kedudukan dan Hubungan Tata Kerja Lembaga Tinggi Negara dengan/antar LembagaLembaga Tinggi Negara. Dalam perkembangannya aturan itu diubah dengan TAP MPR No. III/MPR/1978. Melalui aturan ini, mekanisme pemberhentian Presiden betul-betul merupakan mekanisme politik. Untuk memberhentikan Presiden, DPR cukup dengan mengusulkan kepada MPR agar mengadakan Sidang Istimewa untuk memberhentikan Presiden. Hal tersebut menyebabkan proses pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden memakan waktu cukup panjang karena melalui memorandum DPR hingga tiga kali sebagai persyaratan digelarnya Sidang Istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Presiden. Model ini sesungguhnya tidak fair dan tidak adil. Sebab dalam Sidang Istimewa MPR, MPR bertindak sebagai jaksa sekaligus sebagai hakim, menuntut Presiden sekaligus menjatuhkan vonis memberhentikan Presiden. Setelah perubahan UUD 1945, mekanisme pemberhentian Presiden melibatkan lembaga negara selain DPR dan MPR, yaitu MK, melalui proses persidangan yang terbuka adil dan fair.
Pemakzulan (bahasa Inggris: impeachment) adalah sebuah proses penjatuhan dakwaan oleh sebuah badan legislatif secara resmi terhadap seorang
pejabat tinggi negara (terutama kepala negara dan/atau kepala pemerintahan).64
Tergantung pada negara yang bersangkutan, pemakzulan dapat berarti proses pendakwaan yang berujung pada pemecatan atau pelepasan jabatan, atau hanya merupakan pernyataan dakwaan resmi semata yang mirip pendakwaan dalam kasus-kasus kriminal sehingga proses pemecatan tidak termasuk pemakzulan. Saat pejabat tersebut telah dimakzulkan, ia harus menghadapi kemungkinan
64 Abdul Rasyid Thalib, 2006, Wewenang Mahkamah Konstitusi dan Implikasinya Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia , Citra Aditya Bakti Bandung, hlm 24
dinyatakan bersalah melalui sebuah pemungutan suara legislatif, yang kemudian menyebabkan pemberhentian jabatan.
Menurut Asshiddiqie sehubungan dengan keputusan untuk
memberhentikan ini dapat dikembangkan dua kemungkinan pendapat.65
keputusan untuk memberhentikan merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh MPR. MPR wajib menjalankan Kedaulatan Rakyat menurut UUD yang menentukan bahwa sebelum pemberhentian, perlu diputuskan dulu bersalah tidaknya yang bersangkutan oleh MK. Artinya, peran MK diperlukan dalam rangka menjamin agar proses pemberhentian Presiden sebagai akibat pendapat yang berisi penuntutan oleh DPR dapat diputuskan secara hukum dan karena alasan hukum. Dengan demikian, MPR terikat untuk memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya, apabila yang bersangkutan memang terbukti bersalah. Artinya, tidak boleh terjadi MK menyatakan yang bersangkutan bersalah, tetapi Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak memberhentikannya dari jabatan. Jika menurut MK, Presiden / wakil.
Proses “Pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya” di Republik Indonesia menghadirkan mekanisme ikut sertanya Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa, mengadili, memutus pendapat (Impeachment) Dewan Perwakilan Rakyat (atas dasar dukungan sekurang- kurangnya 2/3 jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat) bahwa “Presiden dan/atau Wakil Presiden telah
melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela;
65 Asshiddiqie, Jimly. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan. Keempat, (Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum, 2002), hlm. 33
dan/atau pendapat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden”.
Sistem pemerintahan presidensial karena berpendapat
pertanggungjawaban presiden kepada MPR bukan merupakan
pertanggungjawaban kepada badan legeslatif. dalam hal ini menambahkan, petanggungjawaban Presiden kepada MPR tidak boleh disamakan dengan pertanggungjawaban kabinet kepada parlemen. Khusus di Indonesia sebelum dan setelah amandemen UUD 1945 ada sebuah praktek ketatanegaraan yang berbeda dalam proses pemberhentian Presiden dalam masa jabatan.
Ketika Orde baru, kedudukan Presiden sebagai presiden sangatlah kuat dan sangat sulit untuk dijatuhkan. Ini dapat dilihat dari bunyi UUD 1945 “Jika Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya,ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya”. Dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 angka VII Alinea ketiga, menentukan : “Jika Dewan menganggap bahwa Presiden sungguh melanggar haluan negara yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang Dasar atau oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, maka majelis itu dapat diundang untuk persidangan istimewa agar supaya bisa meminta pertanggungjawaban Presiden.” Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Sidang Istimewa ini diatur dalam ketetapan Majelis Permuswaratan Rakyat Nomor III Tahun 1978 Jo.
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No.VII Tahun 1973. Jadi, berdasarkan ketentuan tersebut, Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya karena alasan “Presiden sungguh melanggar haluan negara yang telah
ditetapkan oleh Undang- Undang Dasar atau oleh Majelis Permusyawaratan
Rakyat. Tetapi persoalannya apakah tindak pidana dapat dianggap sebagai salah satu pelanggaran terhadap haluan negara sebagaimana dimaksud dalam
penjelasan UUD 1945 dan Majelis Permusyawaratan rakyat.66 Ini berbeda setelah Amandemen UUD 1945 dimana sistem Pemberhentian Presiden dalam masa jabatannya telah diubah dan diperbaruhi. Saat ini untuk memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden sangatlah sulit karena harus melalui beberapa tahap yaitu melalui Usul Dewam Perwakilan Rakyat (DPR) apabila menganggap Presidan dan/Wakil Presiden Melakukan Pelanggaran Hukum yang berupa Penghianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/Wakil Presiden, maka dapat mengajukan usul kepada MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) untuk diputus apakah Presiden Melanggar haluan negara ataukah tidak. Tetapi sebelum itu DPR harus meminta kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa, mengadili dan memutus DPR tersebut. Penjelasan soal pelantikan presiden dan wakil presiden, yang sangat sulit untuk bisa dijegal. Ini aturan di Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang memuat soal aturan pelantikan presiden dan wapres. Hajri memaparkan aturan pelantikan presiden dan wapres termaktub dalam UUD 1945 pasal 3 dan 9. Pasal 3 menyebut bahwa MPR melantik presiden dan wakil presiden. Pasal 9 menjelaskan soal jalannya pelantikan itu.
E. Kewenangan Presiden dan Wakil Presiden