• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberian bantuan hukum oleh Advokat terhadap

BAB II : URGENSI PEMBERIAN BANTUAN HUKUM OLEH

C. Urgensi Pemberian Bantuan Hukum Oleh Advokat

1. Pemberian bantuan hukum oleh Advokat terhadap

Pembukaan Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI) menyatakan bahwa Advokat adalah suatu profesi terhormat (officium nobile). Kata officium nobile

mengandung arti adanya kewajiban yang mulia atau yang terpandang dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Sama halnya dengan ungkapan yang kita kenal

noblesse oblige, yaitu kewajiban perilaku yang terhormat (honorable), murah-hati

(generous), dan bertanggung jawab (responsible) yang dimiliki oleh mereka yang ingin dimuliakan. Hal ini berarti bahwa Advokat tidak saja harus berperilaku jujur dan bermoral tinggi, tetapi harus juga mendapat kepercayaan publik, bahwa Advokat tersebut akan selalu berperilaku demikian.112

Dengan diangkatnya seseorang menjadi Advokat, maka ia telah diberi suatu kewajiban mulia melaksanakan pekerjaan terhormat termasuk memberikan bantuan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme, dengan hak eksklusif, yaitu:113

a. Menyatakan dirinya kepada publik bahwa ia adalah seorang Advokat.

112

Forum Solidaritas LKBH Kampus, Menjamin Hak Atas Bantuan Hukum Masyarakat Marginal,

Position Paper RUU Bantuan Hukum dan Peran LKBH Kampus, (Jakarta: The Indonesian Legal Resource Center: 2010), hlm. 30.

113

b. Dengan demikian berhak memberikan nasihat hukum dan mewakili kliennya, dan menghadap di muka sidang pengadilan dalam proses perkara kliennya.

Akan tetapi, hak dan kewenangan istimewa ini juga menimbulkan kewajiban Advokat kepada masyarakat, yaitu: 114

a. Menjaga agar mereka yang menjadi anggota profesi Advokat selalu mempunyai kompetensi pengetahuan profesi dan mempunyai integritas melaksanakan profesi yang terhormat tersebut.

b. Bersedia menyingkirkan mereka yang terbukti tidak layak menjalankan profesi.

Dalam hal kewajiban Advokat untuk memberikan bantuan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme adalah demi terciptanya keadilan.115 Pemberian bantuan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme merupakan bentuk pengabdian Advokat dalam menjalankan profesinya sebagai salah satu unsur aparat penegak hukum. Persyaratan dan tatacara pemberian bantuan hukum diatur dalam Peraturan Pemerintah No.38/2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum. Kemudian u

114 Ibid.

ntuk mengimplementasikan UU Advokat dan Peraturan Pemerintah Tentang Bantuan Hukum, Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) membentuk Pusat Bantuan Hukum (PBH) dengan SK No.016/PERADI/DPN/V/2009 pada tanggal 10 Maret 2009. PBH dibentuk

115

Perhatikan Pasal 3 huruf c Kode Etik Advokat Indonesia, yang menyatakan bahwa Advokat dalam menjalankan tugasnya tidak bertujuan semata-mata untuk memperoleh imbalan materi tetapi lebih mengutamakan tegaknya hukum, kebenaran, dan keadilan.

sebagai wujud komitmen PERADI untuk memenuhi tanggung jawab sosial organisasi kepada tiga penerima manfaat utama, yaitu: masyarakat, Advokat dan negara, melalui penyediaan akses terhadap pelayanan berkualitas bagi masyarakat, peningkatan kapasitas dan kapabilitas Advokat; dan partisipasi aktif dalam pembangunan hukum, keadilan dan kesejahteraan.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, bantuan hukum sebagai bagian dari jalan untuk menuju keadilan (acces to justice), maka Roger Smith mengidentifikasi ada 9 (sembilan) prinsip access to justice, yaitu:116

1. Akses keadilan merupakan hak konsitusional setiap warga Negara. 2. Kepentingan warga negara harus lebih besar dibandingkan dengan

kepentingan penyedia jasa bantuan hukum, dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan akses keadilan.

3. Tujuannya tidak hanya keadilan prosedural, tetapi juga keadilan substantif.

4. Setiap warga negara membutuhkan bantuan hukum untuk kasus perdata maupun pidana.

5. Akses menuju keadilan mensyaratkan untuk melakukan setiap tindakan untuk mencapai pemenuhan tujuannya termasuk reformasi hukum formil dan materil, pembaruan pendidikan, informasi dan pelayanan hukum.

6. Kebijakan atas pelayanan hukum dengan memperkenalkan bantuan hukum yang dibiayai oleh negara (publicly funded) atau

7. Keterbatasan sumber daya (resource) atas bantuan hukum bukan merupakan hal yang mengakhiri akses menuju keadilan, tetapi merupakan pembatasan cara pemberian bantuan hukum.

yang disediakan oleh Advokat.

8. Bantuan hukum harus efektif, terlalu banyak persyaratan untuk mendapatkan bantuan hukum hal yang tidak effektif.

9. Penggunaan teknologi yang potensial membantu bantuan hukum seperti teknologi informasi dll;

116

Roger Smith sebagaimana dikutip Uli Parulian Sihombing (ed) et all dalam, Mengelola Legal Clinic, Panduan Membentuk dan Mengembangkan Kampus Untuk Memperkuat Akses Keadilan, (Jakarta: ILRC, 2009), hlm. 77.

Berdasarkan 9 (sembilan) prinsip acces to justice sebagaimana dipaparkan diatas dalam kaitannya dengan pemberian bantuan hukum oleh Advokat terhadap Pelaku Tindak Pidana Terorisme adalah kewajiban Advokat untuk menegakkan keadilan, dapat disimpulkan bahwa akses keadilan merupakan hak konstitusional setiap warga negara. Oleh karena itu profesi Advokat sebagai officium nobile

mempunyai kewajiban untuk memberikan akses keadilan tersebut sebagai hak konstitusional masyarakat, termasuk juga pelaku tindak pidana terorisme sebagai warga masyarakat.

Selanjutnya Pasal 14 ayat (3) huruf d Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights/ICCPR) meletakan hak atas bantuan hukum. Istilah yang digunakan ICCPR adalah hak atas Advokat yang ditunjuk oleh negara (right to assigned-counsel). Hak ini sama dengan hak-hak yang berkaitan dengan keadilan prosedural lainnya seperti hak atas independensi peradilan dan imparsialitas hakim. Dalam konteks ini, hak bantuan hukum dititik beratkan pada hak-hak tersangka/terdakwa termasuk juga hak-hak tersangka/terdakwa pelaku tindak pidana terorisme dalam proses peradilan yang adil dan tidak memihak (fair trial). Pemberian bantuan hukum terhadap pelaku tindak pidana terorisme menjadi penting terkait dengan prinsip

equality of arms (persamaan kekuasaan) antara pihak tersangka/terdakwa pelaku tindak pidana terorisme dan penuntut umum. Persamaan kekuasaan ini mesti ditaati pada seluruh persidangan, berarti bahwa kedua belah pihak diperlakukan dalam suatu keadaan yang menjamin posisi mereka yang sama secara prosedur

selama jalannya suatu peradilan. Prinsip ini didasarkan pada keadaan ter- sangka/terdakwa pelaku tindak pidana terorisme yang sangat tidak seimbang menghadapi negara. Asas ini menuntut adanya hak bantuan hukum, melalui penyediaan bantuan hukum terdakwa/tersangka pelaku tindak pidana terorisme dapat menyeimbangkan posisinya berhadapan dengan negara. Dengan merujuk pada sembilan prinsip akses keadilan dan pengertian akses keadilan sebagai kemampuan masayarakat untuk mendapatkan pemulihan hak yang dilanggar melalui sarana formal dan non formal dan disesuaikan dengan standar hak asasi manusia, maka hak bantuan hukum tidak dapat dibatasi pada hak tersangka/terdakwa saja, melainkan meliputi hak setiap orang baik dalam kapasitasnya sebagai tersangka /terdakwa/ saksi/ korban/penggugat/tergugat untuk mendapatkan pemulihan hak-hak dasarnya.117

Berdasarkan uraian tersebut diatas, nampak bahwa tujuan bantuan hukum adalah demi terciptanya keadilan (acces to justice), hal ini apabila dikaitkan dengan pembicaraan tentang bantuan hukum, maka tidak terlepas dari hak asasi manusia dan negara hukum. Dalam konteks Indonesia sebagai negara hukum menjadi penting artinya manakala kita mengingat bahwa dalam bangunan negara hukum itu terlekat ciri-ciri yang mendasar, yaitu:118

1. Pengakuan dan perlindungan atas hak-hak asasi manusia yang mengandung persamaan dalam bidang hukum, politik, sosial, kultural, dan pendidikan.

117

Abdurrahman Saleh, Aspek-Aspek Bantuan Hukum, (Jakarta: 2009), hlm. 20.

118

Moh. Kusnardi dan Bintan R. Saragih, Susunan Pembagian Kekuasaan Menurut Sistem Undang-Undang Dasar 1945, (Jakarta: PT. Gramedia, 1983), hlm. 27.

2. Peradilan yang bebas dan tidak memihak, tidak dipengaruhi oleh sesuatu kekuasaan lain apapun.

3. Legalitas dalam arti hukum dalam semua bentuknya.

2. Pemberian bantuan hukum oleh Advokat terhadap pelaku tindak pidana terorisme penegakan hak asasi manusia.

Pemahaman akan hak-hak asasi manusia dimaksudkan adalah hak-hak yang dimiliki manusia bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat, jadi bukan berdasarkan hukum positif yang berlaku, melainkan berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Manusia memilikinya karena ia manusia yang dalam pengertian ini juga dapat dipahami bahwa pelaku tindak pidana terorisme juga adalah manusia. Dalam paham hak asasi manusia termasuk bahwa hak itu tidak dapat dihilangkan atau dinyatakan tidak berlaku oleh negara. Melalui hak asasi tuntutan moral yang prapositif dapat direalisasikan dalam hukum positif. Disatu pihak hak-hak asasi manusia mengungkapkan tuntutan-tuntutan dasar martabat manusia. Tetapi dilain pihak, karena tuntutan-tuntutan itu dirumuskan sebagai hak atau kewajiban yang konkret dan operasional, maka tuntutan-tuntutan itu dapat dimasukkan kedalam hukum positif sebagai norma-norma dasar dalam arti bahwa semua norma hukum lainnya tidak boleh bertentangan dengan mereka.119

119

Franz Magnis Suseno, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Kenegaraan Modern, (Jakarta: PT. Gramedia, 1988), hlm. 121.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka prinsip persamaan dihadapan hukum dan pernyataan bahwa Indonesia adalah negara hukum120

Bantuan hukum oleh Advokat terhadap pelaku tindak pidana terorisme merupakan hak asasi manusia yang mempunyai hubungan dengan konstitusionalisme.

menunjukkan bahwa hak untuk mendapatkan bantuan hukum adalah hak konstitusional (hak asasi). Dalam negara hukum (rechtstaat) negara mengakui dan melindungi hak asasi manusia setiap individu, sehingga semua orang memiliki hak untuk diperlakukan sama di hadapan hukum (equality before the law). Persamaan di hadapan hukum harus diimbangi oleh persamaan perlakuan (equal treatment).

121

b. Pasal 28 D.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 jaminan negara untuk menyelenggarakan bantuan hukum diatur dalam Bab tersendiri, yaitu Bab XA Tentang Hak Asasi Manusia. Berikut beberapa pasal dari UUD 1945 yang berkaitan dengan jaminan negara terhadap penyelenggaraan bantuan hukum:

Ayat (1) : Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama didepan hukum.

c. Pasal 28 H.

Ayat (2) : Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.

d. Pasal 28 I.

Ayat (4) : Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi

120

Perhatikan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945.

121

Konstitusionalisme adalah gagasan bahwa pemerintah merupakan suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat, tetapi yang tunduk kepada beberapa pembatasan yang dimaksud untuk memberi jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan itu tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah, pembatasan yang dimaksud termaktub dalam undang-undang dasar. Perhatikan Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia, 1977), hlm. 57.

manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah. Ayat (5) : Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia dengan

prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.

Perumusan mengenai hak untuk mendapatkan bantuan hukum dalam kaitannya dengan hak asasi manusia dapat dibedakan menjadi 4 (empat) bahagian, yaitu:122

1. Hak untuk membela diri secara pribadi atau untuk dibantu oleh penasehat hukum menurut pilihannya sendiri.

2. Hak untuk bantuan hukum secara cuma-cuma dalam hal tidak mampu untuk membayar, untuk itu bila diperlukan demi kepentingan hukum/keadilan.

3. Hak untuk berkomunikasi dengan penasehat hukum.

4. Hak untuk diberitahu mengenai haknya untuk mendapatkan bantuan hukum.

Untuk melaksanakan penegakan hak asasi manusia sebagai mana dikemukakan sebelumnya, pemberian bantuan hukum oleh Advokat terhadap pelaku tindak pidana itu sendiri secara umum dapat dibagi kedalam 3 (tiga) kategori, yaitu:123

3. Legal aid, yang berarti pemberian jasa dibidang hukum kepada seseorang yangt terlibat kedalam sautu kasus atau perkara:

a. Pemberian jasa bantuan hukum dilakukan dengan cuma-cuma.

b. Bantuan jasa hukum dalam legal aid lebih dikhususkan bagi yang tidak mampu dalam lapisan masyarakat miskin.

122

Hart, Mr. A.C. ’t dan Abdul Hakim Garuda Nusantara, op.cit, hlm. 23.

123

c. Dengan demikian, motivasi utama dalam konsep legal aid adalah menegakkan hukum dengan jalan membela kepentingan dan hak asasi rakyat kecil yang tidak mampu dan buta hukum.

4. Legal assistance, yang mengandung pengertian lebih luas dari legal aid. Karena pada legal assistance disamping mengandung makna dan tujuan memberi jasa bantuan hukum, lebih dekat dengan pengertian yang kita kenal dengan profesi Advokat, yang memberi bantuan:

a. Baik kepada mereka yang mampu membayar prestasi.

b. Maupun pemberian bantuan kepada rakyat yang miskin secara cuma- cuma.

5. Legal service, yang berarti pelayanan hukum. Pada umumnya kebanyakan orang lebih cenderung memberi pengertian yang lebih luas kepada konsep dan makna legal service dibanding dengan konsep dan tujuan legal aid atau legal assistance, karena pada konsep dan ide legal service terkandung makna dan tujuan:

a. Memberi bantuan kepada anggota masyarakat yang operasionalnya bertujuan menghapuskan kenyataan-kenyataan diskriminatif dalam penegakan dan pemberian jasa bantuan antara rakyat miskin yang berpenghasilan kecil dengan masyarakat kaya yang menguasai sumber dana dan posisi kekuasaan dan dengan pelayanan hukum yang diberikan kepada anggota masyarakat yang memerlukan, dapat diwujudkan kebenaran hukum itu sendiri oleh aparat penegak hukum dengan jalan

menghormati setiap hak yang dibenarkan hukum bagi setiap anggota masyarakat tanpa membedakan yang kaya dan yang miskin.

b. Disamping untuk menegakkan hukum dan penghormatan kepada hak yang diberikan hukum kepada setiap orang (hak asasi), legal service didalam operadionalnya lebih cenderung untuk menyelesaikan setiap persengketaan dengan jalan menempuh jalan perdamaian.

Berdasarkan pemaparan tentang pemberian bantuan hukum oleh Advokat terhadap pelaku tindak pidana secara umum sebagaimana dikemukakan diatas, maka penulis berpendapat bahwa bantuan hukum yang dapat diberikan oleh Advokat terhadap pelaku tindak pidana terorisme adalah bantuan hukum dalam bentuk legal aid, karena motivasi utama dalam konsep legal aid adalah menegakkan hukum dengan jalan membela kepentingan dan hak asasi rakyat kecil yang tidak mampu dan buta hukum. Hal tersebut dapat diperhatikan dari makna bantuan hukum itu sendiri, yaitu jasa hukum yang diberikan oleh Advokat secara cuma-cuma kepada klien yang tidak mampu.124

3. Gambaran Perlakuan Aparat Penegak Hukum Terhadap Pelaku Tindak

Dokumen terkait